Jayapangus Press Jurnal Penelitian Agama Hindu Volume 9 Nomor 1 . ISSN : 2579-9843 (Media Onlin. Trans Memori Imajinasi Dalam Pewarisan Nilai Monumental Pertunjukan Wayang Kulit Bagi Masyarakat Hindu di Bali I Dewa Ketut Wicaksandita*. Hendra Santosa. Saptono. I Wayan Sutirtha. I Dewa Ketut Wicaksana Institut Seni Indonesia Denpasar. Indonesia wicaksandita@isi-dps. Abstract Memory transfer . emory tranc. conceptually involves actively remembering, realizing, and inheriting values of greatness, survival, and stability in performing arts. Imagination, used to affirm memory transfer, creates mental images that emphasize large, impressive objects, ideas, or concepts, significantly influencing the inheritance of the monumental value of Balinese traditional wayang kulit performances. This research aims to first identify memory trance based on imagination in inheriting Balinese wayang kulit's monumental value. second, analyze the significance of memory trances in this A phenomenological approach . sychology-imaginatio. and instrumental aesthetic theory support the qualitative research. Findings include: first, imagination memory trance reveals action phases based on imagination behavior, such as 'imagination' . ransmutation of objects by the subjec. Aocreativity and mental imageryAo . ransformation through metacognitio. Aocultural contextAo . alue clarification and internalizatio. , and 'monumental value' . nderstanding the majestic valu. Second, the significance of imaginary memory transience impacts active behavior in inheriting Balinese wayang kulit's monumental value. It examines the audience's aesthetic experience from imaginary images presented by the puppeteer and transforms artistic sources into aesthetic elements involving socio-cultural trends, creating 'dialectics' and 'catharsis' for audience appreciation. Additionally, it involves internalizing socioreligious values, building involvement, and vertical-horizontal existence, and forming the image of wayang as monumental art. Keywords: Memory Trance. Imagination. Monumental Value. Appreciation. Balinese Wayang Abstrak Transfer memori diejawantahkan secara konseptual sebagai upaya aktif dan persuasif dalam mengingat, menyadari, mewarisi nilai-nilai keagungan, kebertahanan, yang ajeg dalam konteks seni pertunjukan. Laku khas imajinasi sebagai alat afirmasi transfer ingatan mengacu pada pembentukan citra mental yang menonjolkan objek, gagasan, atau konsep-konsep yang besar dan berkesan serta memiliki pengaruh aprsiatif dalam pewarisan nilai monumental pertunjukan wayang kulit tradisi Bali. Tujuan penelitian ini pertama, mengetahui trans memori yang didasarkan pada alat imajinasi dalam pewarisan nilai monumental wayang kulit Bali kedua, menganalisis signifikasi trans memori dalam pewarisan nilai monumental wayang kulit Bali. Pendekatan fenomenologi . sikologi-imajinas. dan teori estetika instrumental menunjang penelitian berbasis riset kualitatif pada penelitian ini. Temuan penelitian yaitu pertama, trans memori imajinasi menunjukkan fase-fase tindakan yang didasarkan pada laku imajinasi, imajinasi . ransmutasi objek oleh subje. kreativitas dan citra mental serta pengaruh emosional dalam imajinasi . rasformasi dan restrukturisasi objek melalui alam metakognitif subje. konteks budaya objek . larifikasi dan internalisasi nilai ke dalam https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH obje. nilai monumental objek . emahaman nilai keagungan dari obje. Kedua. Signifikasni trans memori imajinasi berdampak pada perilaku aktif dalam pewarisan nilai monumental pertunjukan wayang kulit tradisi Bali. Pertama, telaah sumber pengalaman estetik audiens sebagai ide penghadiran citra imajiner oleh dalang. Kedua. Sumber seni yang ditrasformasi dalam ragam elemen estetis pertunjukan wayang dengan melibatkan isu trending/populer dari ruang sosial-budaya audiens dan dalang, sehingga menciptakan dialektika dan katarsis sebagai ruang apresiasi audiens. Ketiga, internalisasi nilai-nilai sosial-religius audiens dalam membangun stigma keterlibatan dan keberlanjutan eksistensi vertikal-horizontal. Keempat, pembentukan citra wayang sebagai wujud seni Kata Kunci: Trans Memori. Imajinasi. Nilai Monumental. Apresiasi. Wayang Bali Pendahuluan Seni merupakan manifestasi ekspresi manusia yang beragam. Salah satu dari banyak wujud seni yang masih eksis dan memperoleh perhatian serta apresiasi dari masyarakat adalah seni pertunjukan wayang. Wayang sebagai bentuk seni tradisional telah ada dan diposisikan sebagai objek penting di tengah dinamika kebudayaan khsusunya aspek sosio-religius, seperti halnya wayang sebagai tontonan, tuntunan, bahkan hingga tatanan yang mempengaruhi tindakan dalam keyakinan beragama masyarakat Bali. Hal ini ditegaskan oleh Sidemen . sebagaimana dikutip oleh Seramasara bahwa. Pementasan wayang dirancang sebagai sarana komunikasi, informasi, dan pendidikan agar masyarakat Bali dapat lebih bermoral, etis, dan normatif dalam menghadapi perkembangan zaman. Pada akhirnya. Seni Pewayangan Bali lahir sebagai produk seni dari interaksi yang kondusif dan autentik antara seniman dan masyarakat Bali, yang penuh nilai-nilai Budaya Bali (Seramasara, 2. Namun demikian, faktanya seni pedalangan di Bali dianggap sebagai salah satu cabang ilmu yang sulit untuk di pelajari, bahkan tak banyak yang beranggapan bahwa seni pedalangan Bali hanya diperuntukkan untuk kalangan tertentu saja, dikarenakan kompelsitas kelimuan dan besarnya sumberdaya yang dibutuhkan untuk proses Wayang sebagai karya seni kolektif menggabungkan tradisi, inovasi, partisipasi, dan profesi, di mana hal ini menunjukkan bahwa keberadaan wayang dan dalang terhubung dengan berbagai aspek kehidupan (Wicaksana, 2. Terdapat indikasi bahwa pertunjukan wayang kulit Bali dengan segenap nilai-nilai di dalamnya memiliki peluang besar untuk dapat terus eksis di tengah-tengan dinamika budaya masyarakat Bali, di mana eksisteninya ini bertitik tolak dari upaya-upaya reka makna dan nilai yang di susun dalam sebuah struktur pemahaman dan perilaku subjek pendukunya. Dalam hal ini subjek pendukung yang dimaksud adalah dalang, apresiator, penggiat seni pedalangan, dan masyarakat Bali, yang kemudian muncul sebagai subjek pelaku atas segala dinamika yang terjadi pada seni pertunjukan wayang tersebut. Sejalan dengan itu. Marajaya menekankan bahwa masyarakat Bali di era global saat ini masih mengharapkan munculnya dalang-dalang wayang kulit yang berkualitas. Sebab, para dalang tersebut diharapkan dapat melanjutkan warisan budaya leluhur yang terbukti mengandung nilai-nilai humanisme dan lainnya (Marajaya, 2. Dapat dilihat bahwa peran subjek . asyarakat dan dalan. sebagai pelaku memiliki peran dalam dialektika dalam dinamika pertunjukan wayang, di mana dalam eksistensinya kini mengacu pada kebutuhan subjek akan keinginan akan kelepasan/penikmatan . keindahan melalui media wayang yang adaptif. https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH Fakta bahwa pertunjukan wayang eksis sebagai benda budaya yang terwariskan hingga saat ini, tidak terlepas dari pengaruh psikologi . emampuan reflektif, daya imajinasi, dan esensi dari imajinas. alang, audiens, segenap masyarakat pendukungny. yang terlibat secara inheren, sejalan dengan terminologi monumentalitas sebagai suatu kondisi atau keadaan yang sering dilekatkan pada keabadian Wiyoso. Murwonugroho & Wahjudi . yang mana secara etimologi berakar dari kata latin monere yaitu, segala sesuatu yang selalu mengingatkan. Fungsi memori . dipengaruhi oleh budaya dan supremasi politik, seperti budaya populer, kebijakan pemerintah, norma-norma dan peraturan sosial, yang berpengaruh pada bagaimana situasi diingat (Candraningrum, 2. Disinilah arti memori . dalam koteks budaya popular di maknai sebagai kemampuan untuk menyimpan, mempertahankan, dan mengingat informasi, pengalaman, dan pengetahuan yang berkaitan dengan aspek retentif dari proses belajar dan pewarisan budaya. Zeffri, melalui orasi ilmiahnya Studi Memori. Politik Memori, dan Rekonstruksi Nation Building . mengutip pernyataan Struken yang mendefinisikan memori sebagai entitas yang dinamis serta dapat dibuat ulang dalam dialog dengan kuasa politik, sosial, dan budaya (Zeffry, 2. Zeffri menuliskan bahwa Politisi sering memanfaatkan pemahaman kolektif tentang masa lalu untuk memobilisasi ingatan sebagai alat politik masa kini, menggunakan dan memanipulasi ingatan strategis untuk melegitimasi tindakan mereka dengan merujuk pada peristiwa formatif dalam kesadaran kolektif komunitas. Dalam konteks pewarisan nilai monumental seni pertunjukan wayang, istilah politisi sendiri dipinjam sebagai padanan terhadap subjek pendukung dengan perannya sebagai agen-agen budaya yang memiliki pengaruh dan pengetahuan untuk mengarahkan, melestarikan, dan mempromosikan nilai-nilai budaya wayang, baik melalui pendidikan, pertunjukan, maupun kebijakan budaya. Lebih lanjut Felix Levenson dalam Wiyoso dkk memperkuat aspek ingatan ini sebagai ingatan yang harus diperbaiki, sebagai struktur, ruang, dan tempat yang tetap dalam lingkup monumental, di mana kondisi ini dapat ditelaah melalui indikator yang tersebar dalam 4 fase pembentukannya dalam menciptakan eksistensi objek monumen yaitu fase ide, ekspresi, komunikasi, apresiasi, dan pengembangan wacana (Wiyoso et al. , 2. Dari hal tersebut, istilah trans memori imajinasi dalam konteks pewarisan nilai monumental seni pertunjukan wayang kulit Bali dalam penelitian ini dibatasi secara definitif pada proses dan praktik yang melibatkan penggunaan dan pengaturan ingatan kolektif masyarakat melalui pertunjukan wayang kulit untuk mempertahankan dan menguatkan identitas budaya, serta menyampaikan nilai-nilai sosial dan religius yang dianggap penting. Ini termasuk pemilihan cerita, penggambaran tokoh-tokoh kepahlawanan, dan penggunaan simbol-simbol budaya yang dapat menginspirasi dan membimbing masyarakat dalam menghadapi tantangan kontemporer. Hipotesis awal pewarisan nilai monumental, terindikasi terjadi akibat pengaruh transfer memori dalam ingatan kolektif subjek yang didasari oleh perilaku imajinasi mengenai hal-hal yang berhubungan dengan tindakan sosial, pendidikan, dan agama, sebagai alat dalam bertindak, memilih, mengeliminasi, dan membangun wacana agung wayang kulit Bali yang bermuara pada pengejawantahan eksistensi nilai-nilai monumental seni pertunjukan Basis argumentasi mengenai keterlibatan laku imajinasi ini, berakar dari karakteristik fenomena kesadaran inter-personal subjek dalam mengamati objek nyata dan mempersepsikanya ke dalam bentuk yang lebih abstrak yaitu imaji. Imaji sebagai kesadaran subjek mengalami internalisasi nilai melalui persepsi-tindakan baru yang merubah tataran objek secara terus-menerus dalam dinamika pengalaman subjek. Hal ini diperkuat oleh gagasan Jean Paul Sartre yang merupakan seorang filsuf beraliran https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH fenomenologi-eksistensialisme-marxsisme dalam bukunya The Psychology of Imagination . yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia berjudul Pisikologi Imajinasi . , di mana salah satu analisisnya mengenai karateristik imaji menyatakan kesimpulanya bahwa imaji merupakan sebuah tindakan yang mempersatukan gagasan konkret yang nonimajinatif engan elemen-elemen yang sesungguhnya lebih representatif (Sartre, 2. Dalam perspektifnya tentang seni. Sartre melalui karya awalnya LAoimaginaire . sebagaimana dikutip oleh Suryajaya mengungkapkan bahwa Karya seni bergantung pada imajinasi artistik dari penciptanya. Karena imajinasi merupakan salah satu bentuk kesadaran, maka analisis terhadap karya seni harus dimulai dengan analisis fenomenologis mengenai kesadaran tersebut. (Suryajaya, 2. Tujuan penelitian ini, pertama, untuk menguraikan trans memori yang di landasakan pada laku imajinasi dalam pewarisan nilai monumnetal seni pertunjukan wayang kulit Bali. Kedua, menganalisis signifikansi trans memori dalam pewarisan nilai monumental. Metode Penelitian berjenis kualitatif ini memilih pendekatan fenomenologis yang menempatkan objek pertunjukan wayang beserta dalang dan pengamat seni sebagai variabel dan instrumen penelitianya. Data primer penelitian ini bersumber dari pola perilaku penciptaan seni, penikmatan seni, cara pandang atau persepsi serta berbagai fenomena terkait yang diindikasikan sebagai bentuk internalisasi ingatan kolektif dalam menginternalisasi dan mewariskan nilai monumental pertunjukan wayang Kulit Bali yang di peroleh melalui wawancara, kepustakaan, serta observasi partisipatoris sehingga diperoleh akurasi dan ketepatan dalam analisis. Dalam penelitian fenomenologi ini, kami menggunakan Purposive Sampling untuk memilih informan berdasarkan relevansi. Snowball Sampling untuk menemukan informan tambahan melalui rekomendasi, serta Maximum Variation Sampling untuk memastikan beragam pengalaman dan perspektif Peneliti sebagai instrumen utama menggunakan segenap perangkat dan tindakan dan pendekatan dalam menunjang perolehan data, analisis dan interpretasi. Pendekatan fenomenologi . sikologi-imajinas. dipergunakan untuk memahami bagaimana ingatan kolektif direkayasa secara imajinatif untuk diejawantahkan dalam memahami objek pertunjukan wayang kulit Bali, untuk selanjutnya diinternalisisikan ke dalam satu paradigma nilai monumental yang diwariskan secara turun-temurun. Pendekatan fenomenologi yang berfokus pada asas filosofis telaah psikologi eksitensialisme berkontribusi memberikan ruang objektifkikasi . wayang sebagai benda, di mana wayang dalam keberadaanya dipandang murni sebagai objek. Teori estetika instrumental dipergunakan untuk memahami dan menjelaskan berbagai argumentasi mengenai kesan psikologis berupa kelepasan . bagi penonton dari pertunjukan wayang kulit Bali, dari laku imajiner oleh dalang sebagai agen budaya dalam membangkitkan kesadaran bersama akan nilai monumental pertunjukan wayang yang diwariskan melalui seni pertunjukan. Hasil dan Pembahasan Secara histori, masih terlintas dalam benak sebagaian besar generasi yang kian menua di Bali saat ini, bahwa sebelum masyarakat Bali mengenal film melalui siaran televisi seperti saat ini, seni pertunjukan, salah satunya wayang kulit, memegang peran signifikan dalam merekonstruksi dan mereproduksi berbagai pengetahuan kognitif bertema sosial dan agama yang mendominasi saat itu. Para dalang dengan lakon-lakon bertema kerakyatan dan upacara yadnya, yang diadaptasi dari tafsir isi weda . tihasa dan puran. , menjadi tontonan yang ditunggu-tunggu oleh masyarakat. Masyarakat tidak https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH hanya memperoleh pencerahan rohani tetapi juga menikmati hiburan dari banyolan Dalang benar-benar memainkan emosi penonton dengan kemampuan dan teknik pertunjukan wayang kulit yang pada saat itu dianggap sangat canggih. Ingatan dan romantisisme semacam itu masih melekat dalam benak masyarakat Bali hingga kini. Secara tekstual, intensitas dan popularitas wayang kulit Bali sebagai medium tuntunan, tatanan, dan tontonan yang bermain pada narasi-narasi transendental yang disajikan secara tradisional mulai menurun seiring terbukanya ruang keterlibatan ilmu pengetahuan dan teknologi. Hal ini dibernarkan oleh Suyanto melalui penelitianya. mengingatkan bahwa di era milenial ini, para seniman dan pelaku seni teater musikal, serta penonton, tampaknya sudah tidak begitu memperhatikan konsep musik yang Sebaliknya, mereka lebih tertarik pada seni yang vulgar dan glamor. Fenomena ini, umum yang terjadi di masyarakat, baik di kalangan pelaku maupun penggemar seni pertunjukan (Suyanto, 2. Hal ini memicu terjadinya kesenjangan antara penikmat seni wayang konservatif yang mengenal dan menyukai wayang dengan format tradisinya, di mana generasi ini didominasi oleh masyarakat berusia lanjut. Di sisi lain wayang dengan format modern dengan membawakan cerita-cerita carangan dengan membawa narasi-narasi budaya populer mulai dikenal dan disukai oleh seluruh usia. Muncul pandangan bahwa generasi yang tidak mengenal wayang tradisi cenderung tidak menyukai jenis wayang dengan narasi-narasi transendental yang justru mengandung lebih banyak arti dan makna yang relevan dalam konteks penguatan nilainilai budaya dalam narasi modern. Generasi ini mengalami apa yang secara eksterem disebut sebagai amnesia sosial, yang oleh Max DePree dalam Zeffry dicontohkan melalui hilangnya sejarah dan nilai-nilai penting yang dapat menumbuhkan semangat kebersamaan, bahkan akan melupakan identitas beberapa suku-suku di Afrika akibat hilangnya kebisaan menceritakan sejarah dalam tradisi api unggun oleh tetua suku mereka (Zeffry, 2. Zeffri menambahkan pandangan ilustratif dari Neuhauser . yang menekankan pentingnya penceritaan dalam perusahaan modern, di mana cerita naratif mengingatkan sejarah keramat dan nilai-nilai perusahaan kepada anggota baru serta mengungkapkan kepahlawanan dan prestasi pendiri dalam ritual tahunan, berfungsi sebagai warisan simbolis yang menjembatani masa lalu hingga masa depan sebuah Ilustrasi ini menggambarkan upaya pencegahan terhadap amnesia sosial. Sebagaimana hal tersebut terjadi dalam konteks pewarisan nilai monumental wayang. Mencermati hal tersebut, pemetaan perkembangan wayang Bali penting dilakukan guna memberikan gambaran potensi dari medium laku imajinasi. Pemetaan terhadap wayang kulit Bali sebagai objek eksistensial bermula pada tahun 1971 yang diselenggarakan melalui Seminar Seni Sakral dan Profan bidang Seni Tari, yang menghasilkan keputusan berpengaruh pada kontekstualisasi dari eksistensi seni pertunjukan Bali yang ada. Secara umum pengaruh klasifikasi tersebut tertuang ke dalam tiga diksi yang umum dipergunakan mengklasifikasikan konteks seni di Bali sampai saat ini yaitu, seni balih-balihan . eni sekule. , seni bebali . eni upacar. , seni wali . eni sakra. (Yudabakti & Watra, 2. Sementara itu secara tekstual. Dibia melalui bukunya Geliat Seni Pertunjukan Bali . mengklasifikasikan pertunjukan wayang kulit Bali berdasarkan acuan wayang tradisi yang muncul sebelum tahun 1980an, di mana Dibia mengajukan sintesisnya bahwa telah terjadi dinamika perubahan estetik pada tataran perwajahan . , wujud fisik dan struktur . hingga ke perubahan konsep secara keseluruhann . pada wayang kulit Bali, yang dimana perubahan tersebut terklasifikasi ke dalam tiga model pertunjukan wayang kulit Bali. Penelitianya sekaligus memetakan wayang-wayang yang masih eksis keberadaanya dari sejak penelitianya dilakukan pada tahun 1980-2010 . dekade/30 https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH tahu. Adapun ketiganya yaitu Wayang Tradisi (Wayang Cupak. Wayang Ramayana. Wayang Calonarang. Wayang Parw. Wayang Garapan Baru terbagai menjadi dua yaitu Wayang Kreasi dan Wayang Inovasi, dan wayang lainya yang masih menggunakan cerita tradisi parwa-ramayana dengan format pertunjukan yang diinovasikan. Wayang Eksperimental (Wayang Layar Lebar. Wayang Listrik, dan segenap wayang lainya yang telah mecangkokkan berbagai-ragam wujud seni, dengan konsep garap dan format pertunjukan yang sama-sekali berbeda dengan wayang tradisi maupun wayang garapan bar. (Dibia, 2. Pemetaan ini sekaligus menjadi fakta kualitas estetis ragam jenis wayang Bali. Hal tersebut ditandai adanya dinamika kuantitas pementasan yang tidak konstan pada masing-masing jenis wayang dari rentang tahun 1980-2010 . Tahu. akhir penelitianya mengenai geliat seni wayang. Dibia menyatakan bahwa perubahan paling menonjol dalam seni pewayangan Bali terlihat pada aspek estetik, dengan beberapa pergeseran pada aspek sosio-kulturalnya (Dibia, 2. Imajinasi Sebagai Alat Trans Memori Dalam Pewarisan Nilai Monumental Wayang Kulit Bali Djelantik dalam bukunya Estetika Instrumental . mejelaskan bahwa seni yang utuh secara umum dapat dipetakan melalui adanya tiga unsur kunci objek yang mencakup struktur fisik atau wujud subjek yang merujuk pada seniman dan dorongannya dan bobot yang melibatkan ide dan gagasan, di mana secara spesifik Djelantik menguraikan keindahan yang dapat dipersepsikan dengan permulaan pertama. Memahami konsep tentang keindahan yang menurutnya secara umum berarti memunculkan perasaan senang, puas, aman, nyaman, dan bahagia, di mana jika perasaan tersebut sangat kuat, akan menimbulkan rasa kagum, haru, pesona, serta keinginan untuk mengalaminya kembali. Kedua. Peran panca indra, yaitu rasa kenikmatan akan keindahan, muncul karena manusia memiliki kemampuan untuk menerima rangsangan dari luar dan mengirimkannya ke dalam, sehingga rangsangan tersebut menjadi sebuah kesan (Djelantik, 2. Rumusan estetika oleh Djelantik memperkuat analisis bahwa laku imajinasi sebagai sikap kesenimanan dalang bermuara menghasilkan wujud pertunjukan wayang dengan mengakomodasi konsep estetika sebagai medium penghadiran memori-memori sejarah dan dan identitas budaya Bali untuk menarik dan memicu kesadaran kolektif masyarakat akan nilai monumental pada pertunjukan wayang kulit Bali. Pendekatan fenomenologi yang dipergunakan berkaitan tentang perspetif personal berkenaan dunia serta tafsiran tentang ragam kejadian yang dialaminya, di mana kejadian yang dialami individu, mencoba untuk dipahami tanpa mengetengahkan asumsi yang mendahului yang meliputi pertama pengamatan, kedua imajinasi, ketiga berpikir secara abstrak, keempat merasa/menghayati (Nuryana. Pawito & Utari, 2. Sejalan dengan hal tersebut, dapat ditelaah bagaimana imajinasi terlibat membentuk suatu paradigma dalam ingatan kolektif masyarakat berkenaan keadiluhungan dan nilai monumental dari pertunjukan wayang kulit Bali. Untuk mengembangkan pemahaman terhadap trans memori, dengan imajinasi sebagai alat untuk mentrasnposisikan pengalaman interpersonal yang diproduksi, perlu dikonstruksi sebuah pemahaman yang menggambarkan struktur pembentukan nilai-nilai monumental dari fase-fase yang menjadi pola laku imajinasi yang terjadi dan berlaku di tengah uapaya pembentukan ingatan kolektif masyarakat tentang pertunjukan wayang kulit Bali berikut implikasinya dalam bentuk diagram piramida hierarki. https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH Gambar 1. Diagram Piramida Hierarki Trans Memori Imajinasi Dalam Pewarisan Nilai Monumental Wayang Kulit Bali Sumber: Peneliti, . Imajinasi (Transmutasi Objek Oleh Subje. Imajinasi merupakan tingkatan dasar dalam piramida, yang melibatkan kemampuan subjek untuk mengubah dan menciptakan gambaran mental dari objek. Keberadaan karya seni bagi Sartre bertumpu pada imajinasi artistik sang pencipta (Suryajaya, 2. Murdowo menambahkan memvisualisasikan kenyataan merupakan bahwa keunggulan imajinasi. Jika intelek adalah kemampuan untuk mengabstraksi, maka intelek dan imajinasi bersama-sama memungkinkan terciptanya abstraksi yang nyata (Murdowo, 2. Mengenai perilaku imajinasi sebagai proses transmutasi objek oleh subjek. Sartre mengungkapkan 3 . kemungkinan oprasional imajinasi, pertama objek ditempatkan sebagai entitas yang ada namun tidak hadir, kedua meletakkan objek sebagai sesuatu yang tidak ada, ketiga menempatkan objek sebagai suatu kemungkinan (Suryajaya, 2. Imajinasi, sebagai alat pewarisan nilai monumental, melibatkan kemampuan subjek untuk mentransmutasi objek melalui aktivitas mental. Pembentukan ingatan akan nilai monumental pertunjukan wayang dilakukan melalui kontruksi nilai yang menghadirkan gambaran imajiner dari objek nyata menjadi objek nir-nyata, serta mengintegrasikannya dengan pengalaman indrawi yang dikomunikasikan secara interpersonal. Hal ini memediasi terjadinya trasfer nilai dari proses kreativitas sebagai wujud originalitas daya berfikir oleh subjek dalam memaknai objek yang telah mengalami peluruhan struktur dan bentuk sepenuhnya, dengan kata lain subjek mereproduksi dan memperbaharui nilai-nilai yang sepenuhnya relevan dengan konteks yang dianggapnya Imajinasi pada seniman melibatkan proses mengubah wujud, konsep, dan fungsi dari objek nyata . dengan cara dan hasil yang mengindikasikan adanya originalitas dari sang seniman. Sebagai perwujudan kreativitas dan ekspresi diri, seniman menggunakan imajinasinya untuk mentransformasikan objek melalui pemanfaatan berbagai faktor kreativitas yaitu faktor internal . engetahuan, pengalaman, dan tindaka. dan faktor eksternal . ukungan, penghargaan, media ungkap, dan lain-lai. Ruang imajinasi yang dimanfaatkan seniman memungkinkannya mengkonstruksi ingataningatan kolektif masyarakat mengenai wayang untuk diejawantahkan secara visualverbal. Merancang karya seni yang bersumber dari eksistensi sebuah objek, tetapi juga mengekspresikan esensi objek melalui teknik reinterpretasi dan kreativitas dalam proses transmutasi tersebut. Dengan kata lain imajinasi menjadi faktor utama sekaligus cara bagaimana seniman tersebut mewariskan makna dan nilai objek nyata yang https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH diejawantahkan dengan harapan dapat memberikan sensasi baru dan ketertarikan terhadap objek. Dari sisi penonton dan masyarakat, imajinasi terjadi saat seniman menghadirkan kembali bernuansa baru dari fenomena sosial penonton. Penonton atau masyarakat mengalami proses imajinasi . ransmutasi objek oleh subje. ketika mereka menginterpretasikan kembali pengalaman indrawi secara komparatif dengan karya seni yang disaksikannya. Imajinasi dalam hal ini melibatkan kemampuan individu atau kelompok untuk membentuk gambaran mental dari objek berdasarkan pengamatan, pengalaman, pengetahuan, dan perspektif masing-masing terhadap objek seni. Proses ini menciptakan ruang untuk variasi makna dan pengalaman yang sangat subjektif dalam menghadapi karya seni. Kreativitas Dan Citra Mental Serta Pengaruh Emosional Dalam Imajinasi (Trasformasi Dan Restrukturisasi Objek Melalui Alam Metakognitif Subje. Pada tingkat ini, imajinasi tidak hanya berhenti pada tahap penciptaan mental dari objek, tetapi lebih lanjut melibatkan aspek kreatif, dan pengaruh emosional dari subjek. Faktanya karya seni yang ada saat ini banyak dipengaruhi oleh cara pandang dan teknik mencipta seni oleh seniman. Ketika mengapresiasi sebuah karya seni, tidak dapat terlepas dari adanya pengaruh emosional . emampuan menakar sebuah objek, daya komparatif, dan pengalama. sang apresiator . eniman dan publik sen. Menurut Nietzsche dalam Hariansyah Imajinasi kreatif meliputi pemikiran abstrak, intuisi bawah sadar, serta ideologi, dan secara berkelanjutan menciptakan karya inovatif yang mendapatkan legitimasi melalui perantara tubuh dalam memanifestasi proses pemapanan kekuasaan (Hariansyah, 2. Lebih lanjut, ditegaskan bahwa simbol pemapanan kekuasaan merupakan tanda dari hasil produksi imajinasi kreatif, di mana ini merupakan bukti bahwa keyakinan merupakan pengemabangan dari kekuatan tubuh. Menurut Nietzsche, kategori logis dan kebenaran yang bebas dari apriori terkandung dalam pengetahuan yang berkaitan dengan salah satu keyakinan tersebut, dengan kata lain objek karya seni mengalami transformasi wujud yang lebih bervariasi mengikuti kedalaman dan keluasan daya tafsir subjek. Objek karya seni muncul sebagai representasi subjektif yang tercitrakan dan berkembang sejauh yang mampu di artikan oleh subjek . engamat, seniman, dan apresiato. Secara mendasar proses ini menggambarkan langkah lanjutan dalam basis fenomenologi, dalam menelaah bagaimana suatu karya seni muncul dan tercitrakan sebagai sebuah bentuk penting . ignificant for. Kreativitas dan citra mental menjadi fokus utama, mengeksplorasi bagaimana subjek memproduksi gambaran mental objek, tetapi juga bagaimana emosional memengaruhi persepsi dan manipulasi objek dalam kerangka imajinatif yang bersifat sangat privat, sebagaimana dikatakan Nietzsche bahwa karya kreatif yang muncul dari imajinasi kreatif merupakan simbol . pemapanan kekuasaan yang dibuktikan dari kekuatan tubuh . lam metagokniti. Dalam tataran keberlanjutan, perilaku ini memicu suatu sensasi keterhubungan antara sumber karya seni dengan seniman/apresiator, hal ini juga menimbulkan adanya kinginan subjek untuk mengeksplorasi lebih dalam sumber objek seni hingga memunculkan apa yang disebut sebagai muse/mousai . Dewi kesenian yang di adaptasi dari mitologi yunani kun. Himawan. Sabana & Kusmara . & Suryajaya . yang mana muse/mousai dalam pemahaman saat ini dapat berarti inspirasi. Tidak hanya itu, inspirasi sekaligus muncul sebagai tolak ukur penilaian laku kreatifitas dalam mencipta suatu gambaran kreatif baru. Konteks Budaya Objek (Klarifikasi Dan Internalisasi Nilai Ke Dalam Obje. Dalam mencapai tujuannya sebagai agen yang merawat nilai-nilai budaya, subjek tidak hanya mengkonstruksi imajinasi berdasarkan pengalaman dan kreativitas pribadinya tetapi juga mengiternalisasi nilai-nilai budaya ke dalam objek yang Budaya memiliki serangkaian kriteria yang berhubungan dengan norma https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH dan etika, yang melekat pada perilaku mendasar subjek dalam hal ini adalah seniman dan apresiator seni. Hal-hal yang menyangkut kebenaran, keindahan, dan kebaikan selalu melekat sebagai unsur yang diadopsinya ke dalam bentuk pengetahuan baru. Sama halnya sebagaimana subjek memberlakukan sebuah informasi baru yang tidak diterima begitu saja, melainkan akan dijernihkan terlebih dahulu dengan memperbandingkan kriteria . ebenaran, kebaikan, dan keindaha. dalam tataran budaya yang dianutnya. Secara literer, budaya dalam penelitian ini diartikan sebagai suatu kearifan lokal yang ditandai dengan eksisnya elemen-elemen seperti bahasa, seni, pengetahuan, teknologi, ekonomi, agama, hukum, dan sosial. Sumber inspirasi sebuah objek budaya yang memantik daya kreatifitas, haruslah mencapai penilaian yang baik, benar, dan indah dari sekian unsur kearifan lokal yang ada, untuk dapat membangkitkan ingatan yang kuat dan mengikat individu agar bergantung Hal ini dipertegas oleh Atmaja yang mengemukakan bahwa seni pertunjukan dan penontonnya terikat pada sistem sosiokultural yang terdiri dari unsur-unsur seperti ideologi, struktur sosial, dan infrastruktur material (Atmadja, 2. Sistem sosio kultural yang bersifat mengikat inilah yang kemudian menjadi kerangka kerja/ kebiasaan dalam membentuk sebuah identitas budaya, sebagai hasil dari diinternalisasikannya kriteriakriteria dari apa yang baik, benar, dan indah dari sumber inspirasi objek budaya. Yang mana, elemen-elemen budaya ini telah diseleksi dan direkonstruksi secara adaptif, sehingga dapat dikontekstualisasi sebagai wadah produksi nilai dan makna baru. Proses seleksi dan rekonstruksi ini dilakukan oleh agen-agen budaya . pada instrumeninstrumen karya seni pertunjukan wayang untuk menciptakan pengalaman dan ingatan yang melekat dengan tujuan membentuk dan mewariskan perasaan akan kepemilikian sebuah identitas budaya yaitu karya seni pertunjukan wayang kulit Bali dengan esensi nilai monumental di dalamnya. Sebuah karya seni melibatkan tiga instrumen utama yaitu Wujud . entuk dan struktu. , penampilan . edia, bakat, dan tekni. , bobot . esan, ide, dan suasan. Argumentasi filosofis yang mendasari keterlibatan pengaruh budaya dapat ditelaah dari sumber inspirasi . yang tertuang pada masing-masing detail intrumen karya seni yang dipetakan oleh Djelantik. Contohnya wayang, yang ditelaah dari aspek bentuk. Argumentasi filosofis mengenai bentuk dalam rangkaian estetika instrumental oleh Djelantik, didasarkan pada teori significant form . entuk pentin. oleh Clive Bell . di mana dalam setiap karya seni terdapat kekhasan yang dapat membangkitkan emosi estetis pada subyek . ignificant for. Adanya hubungan antara emosi estetis dan significant form kemudian di anggap sebagai esensi . akna, sifat dasa. karya seni (Djelantik, 1. Seperti halnya instrumen penampilan yang di dukung oleh teknik, serta instrumen bobot yang mengetengahkan ide dari dewa-dewi pada pertunjukan wayang, bersumber dari esensi sublimasi dalang ke dalam ajaran weda yang memuat dewa-dewi yang menyetanai berbagai elemen yang diyakini mengaruhi kehidupan manusia. Seperti dewa-dewi yang muncul dan berstana dalam alam kemampuan reka cipta, retorika, dan pengetahuan dalang yang kerap tertulis dan disebut baik dalam pustaka suci dalang maupun di pertunjukan wayang. Adapun di antaranya Dewi Saraswati yang berstana dalam ilmu pengetahuan muncul dalam pustaka suci dalang yaitu Lontar Dharma Pawayangan Wicaksana & Wicaksandita . serta Sang Hyang Guru Reka dan Sang Hyang Kawiswara dalam prolog pertunjukan wayang legendaris Cenk Blonk (Winaja, 2. Bahkan ketiga dewa-dewi tersebut menjadi inti/pusat dari satu model konseptual reka cipta seni teater yang terinspirasi dari analogi atom oleh Sedana melalui penelitianya bertema transformasi sastra dalam pertunjukan teater . Sedana menyebutkan bahwa . the trinity of Sanghyang Gurureka-Aji Saraswati-Kawiswara in the center of the mandala is quite the same as the role of neutron-nucleus-proton in the https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH center of electron's orbit. Sedana . yang artinya trinitas Sang Hyang Gurureka-Aji Saraswati-Kawiswara merupakan inti mandala yang dapat disamakan dengan peran neutron-nukleus-proton di dalam orbit elektron. Kondisi di atas secara umum menggambarkan betapa kearifan lokal Bali diwujudkan oleh dalang melalui wayang yang dipertontonkan di hadapan publik dengan mengejawantahkan isi dari Weda. Weda beserta segenap konten yang berpotensi diwujudkan dalam bentuk rupa-rupa di dalamnya menjadi sumber inspirasi dalang, yang diklarifikasikan kedalam klasifikasi perwajahan lengkap dengan atribut wayang dan Sementara itu ajaran-ajaran yang bersifat etik dan normatif diinternalisasi menjadi wujud dialog serta perilaku religius dalang. Dalam konteks fenomenologi, tahapan ini mengklarifikasi dan menginternalisasi nilai-nilai budaya ke dalam objek yang Subjek . tidak hanya menciptakan gambaran mental, tetapi juga mengakomodasi elemen-elemen budaya yang memengaruhi dan membentuk interpretasi mereka terhadap objek tersebut. Asas filosofis yang melandasi terpetakannya instrumen estetik, sebagaimana diungkapkan oleh Djelantik dalam Estetika Instrumentalnya, membantu membentuk struktur pemahaman nilai budaya yang ditanamkan dalam kreativitas subjektif guna membangkitkan nostalgia dan ingatan sebagai upaya pewarisan nilai monumental dari seni pertunjukan wayang tradisi Bali. Monumentalisme Objek (Pemahaman Nilai Keagungan Dari Obje. Pada tingkat puncak piramida, subjek memiliki pemahaman mendalam tentang nilai-nilai keagungan yang terkandung dalam objek. Wiyoso, dkk menyebutkan bahwa terdapat empat indikator monumentalitas yaitu pertama, idea phase . ahap gagasan/id. , kedua expression phase . ahap ekspres. , ketiga communication phase . ahap komunikas. , keempat appreciation & discourse phase . ahap apresiasi dan perencanaa. , di mana keempat indikator ini dibedakan menjadi 2, pertama paradigma lama dan kedua ke dalam 2 paradigma baru (Wiyoso et al. , 2. Pada penelitian yang dilakukan oleh Wiyoso dkk, dapat dikemukakan komparasi hipotesis persamaan dan perbedaan antara paradigma lama dan baru, bahwa persamaan kedua paradigma mengakui peran penting karya seni dalam masyarakat, meskipun ada evolusi dalam pendekatan dan nilai-nilai yang mendasarinya, nilai-nilai inti seni sebagai medium komunikasi dan pemersatu tetap Sementara itu perbedaan paradigma dalam tahapan komunikasi karya seni monumental dapat mencerminkan perubahan dalam cara manusia berinteraksi dengan karya seni, di mana paradigma baru lebih menekankan pada pengalaman yang mengundang refleksi dan imajinasi, sementara paradigma lama lebih menekankan pada pengaruh yang memukau dan mengangkat. Hipotesis kedua paradigma di atas muncul sebagai basis argumentasi dalam memahamai perbedaan kedudukan dari nilai monumental, di mana objek telah ditempatkan sebagai sebuah mentalitas konstruktif pada diri subjek yang ditopang oleh segenap nilai-nilai yang mengakar dan didukung oleh kultur budaya di mana subjek Tingkatan puncak, monumentalisme objek, didukung argumentasi teoritis estetika instrumental. Estetika intrumental menekankan adanya objek sebagai wujudstruktur, subjek sebagai seniman-dorongan, dan bobot sebagai ide-gagasan. Dalam tataran objek yang mencakup bentuk fisik dan strukturnya, kesadaran akan nilai monumental tidak hanya membangkitkan minat yang berimplikasi menghasilkan keahlian teknis sebagai bentuk apresiasi, tetapi juga secara implisit mewariskan nilai-nilai tersebut ke dalam perilaku yang lebih konkret. Dalam aspek dimensi, bentuk, ukuran, dan visualnya mencerminkan status atau kekuatan karakter yang diwakilinya, sementara struktur yang rumit menunjukkan kompleksitas dan kedalaman karakter tersebut. Media tradisional seperti kulit sapi yang diproses dengan cermat menciptakan efek visual yang unik dan memukau. Bakat seniman sebagai subjek dalam menghidupkan https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH karakter-karakter dalam cerita, serta penggunaan teknik seperti vokal . gelur, ngerak, ngore, dan nemban. yang beragam dan teknik tatikesan . abet wayan. yang kompleks, diinternalisasi oleh penonton ke dalam kehidupan sebagai tuntunan dalam tontonan yang membangiktkan pengalaman nikmat indah. Selain itu, bobot pesan, ide, dan suasana sebagai komponen nilai estetik hasil dari konstruksi nilai moral, mitologis, dan sejarah, memberi kesan kebermanfaatan yang membangkitkan ingatan bersama masyarakat Bali akan wujud identitas budaya yang dimilikinya dan diwariskan dari generasi ke generasi. Indikator pewarisan nilai monumental ini menghasilkan dua paradigma. Pertama, paradigma lama dalam pertunjukan wayang kulit yang menekankan nilai monumental pada autentisitas, kekuatan simbolis, dan peran penting dalam masyarakat. Kedua, paradigma baru yang menekankan di mana nilai monumental terletak pada inovasi dalam penampilan dan penyampaian pesan dalam pertunjukan wayang kulit, dengan memperhatikan aspirasi dan perspektif kontemporer yang lebih luas dalam diri subjek. Pada titik ini imajinasi telah terbentuk sebagai sebuah keyakinan akan realitas nilai-nilai yang patut subjek tanggapi melalui perilaku yang lebih konstruktif, dalam hal ini menganggap objek/sumber imajinasi sebagai sebuah ilmu yang mengandung segenap kemanfaatan dan kebertahanan yang ajeg. Signifikansi Trans Memori Imajinasi Dalam Pewarisan Nilai Monumental Seni Pertunjukan Wayang Kulit Bali Dua aradigma dalam pemahaman trans memori imajinasi, memicu perilaku budaya yang bermuara pada terbangunya kesadaran bersama akan pentingnya nilai-nilai monumental pada pertunjukan wayang kulit Bali. Signifikasni ini menggambarkan sekurang-kurangnya 4 . perilaku aktif yang bermuara pada meningkatnya daya apresiasi sebagai pengejawantahan dari pewarisan nilai monumental terhadap pertunjukan wayang kulit Bali yaitu Pertama, telaah sumber pengalaman estetik audiens sebagai ide penghadiran citra imajiner oleh dalang. Kedua. Sumber seni yang ditrasformasi dalam ragam elemen estetis pertunjukan wayang dengan melibatkan isu trending/populer dari ruang sosial-budaya audiens dan dalang, sehingga menciptakan dialektika dan katarsis sebagai ruang apresiasi audiens. Ketiga, internalisasi nilai-nilai sosial-religius audiens dalam membangun stigma keterlibatan dan keberlanjutan eksistensi vertikal-horizontal. Keempat, pembentukan citra wayang sebagai wujud seni Telaah Sumber Pengalaman Estetik Audiens Sebagai Ide Penghadiran Citra Imajiner Oleh Dalang. Dalam pertunjukan wayang kulit, sumber pengalaman estetik audiens sangat penting dalam menciptakan ide penghadiran citra imajiner oleh dalang. Pengalaman estetik audiens terbentuk melalui interaksi antara elemen-elemen pertunjukan, seperti visual dari bayangan wayang, suara dari dialog dan musik, serta narasi yang disampaikan oleh dalang. Ketika audiens menyaksikan pertunjukan, mereka terlibat dalam proses reinterpretasi yang kompleks, di mana citra imajiner dari cerita dan karakter wayang terbentuk dalam pikiran mereka, sebagaimana hal ini dijelaskan sebagai bentuk oprasional dari imajinasi sebelumnya oleh Sartre. Ini merupakan hasil dari imajinasi yang dipicu oleh pengalaman sensorik dari pertunjukan wayang, yang melibatkan visual, auditori, dan rangsang sentuhan ketika mereka menyaksikan pertunjukan. Dengan demikian, sumber pengalaman estetik audiens dapat dilihat sebagai ide penghadiran citra imajiner, di mana audiens menciptakan gambaran mental melalui respons mereka. Contohnya, ketika Dalang Wija yang menghadirkan adegan barong-rangda dan adegan joged. Dalam pementasan Wayang Tantri-nya yang berjenis wayang kreasi berjudul Sang Aji Dharma Kepastu. Dalang Wija menampilkan tokoh-tokoh raksasa https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH sebagai penari dalam adegan joget yang memberikan kesan transfer memori yang bersumber dari ingatan akan pengalaman audiens dalam menyaksikan pertunjukan seni yang riil dari adegan joged. Komparasi antara wujud yang tervisualisasi dalam pertunjukan wayang oleh Dalang Wija dengan pertunjukan joged dapat disimak pada gambar berikut. Tari Joget Sebagai Sumber Penghadiran Citra Imajiner Wayang Gambar 2. Ilustrasi Oprasioanal Imajinasi (Tarian Menjadi Bentuk Wayan. Dalam Wayang Tantri Oleh Dalang Wija Sumber: Wicaksandita, . Dalang Wija ingin menampilkan adegan yang sangat dikenal oleh penonton sehingga menimbulkan reaksi positif berupa tawa dan tepuk tangan. Meskipun adegan tersebut sebenarnya merupakan kombinasi dari wayang dua dimensi, cerita dari dalang, dan musik dari penabuh, namun ada faktor tertentu yang membuat penonton merasa seolah-olah mereka sedang menikmati tarian tradisional Bali seperti joged dan janger (Wicaksandita, 2. Kemunculan tokoh-tokoh raksasa tersebut oleh Dalang Wija nampak sebagai pemunculan kreativitas dimana ia menekankan melalui bahasanya ampunang wayang icena ngolah dalang, sepatutne dalang ngolah wayang. jangan wayang dibiarkan mengolah dalang, sepantasnya dalang mengolah wayang. (Wawancara 21 Desember, 2. Hal ini mengejawantahkan pola laku imajinasi, sekaligus membuktikan bahwa adegan joged merupakan sebuah imajinasi berkenaan dengan operasional konsep Sartre yang berpandangan menganggap obyek intensional sebagai obyek yang nyata tetapi tidak hadir (Wicaksandita, 2. Penelitian lainnya juga mengemukakan bahwa daya kreatifitas Dalang Wija yang mengejawantahkan perilaku dan operasional imajinasi, mampu mengemas wujud imaterial seperti dewa-dewi ke dalam wujud wayang. Menurut Dalang Wija. Wayang Kaca diciptakan karena dia merenungkan tentang bentuk para dewata. Etimologi kata dev yang berarti sinar dalam bahasa India, oleh Dalang Wija dihadirkan ke dalam bentuk yang lebih konkret menggunakan bahan mika dengan pantulan sinar yang menghasilkan visualisasi menyerupai figur acintya yang merupakan sosok dewa dalam interpretasi wayang kulit Bali (Wicaksandita, 2. Gambar 3. Figur Acintya Sebagai Interpretasi Dewata Sumber: Wicaksandita, . https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH Dalang menggunakan kemampuan kognitif dan afektifnya untuk menghidupkan karakter-karakter wayang dan menyampaikan cerita dengan penuh emosi dan makna. Penonton, di sisi lain, juga memasuki ruang imajinasi ketika mereka terlibat dalam pertunjukan, mengaitkan cerita dan karakter dalam pertunjukan dengan pengalaman dan pemahaman mereka sendiri. Penggiat seni pedalangan dan peneliti memiliki peran yang serupa dalam memahami dan menganalisis pertunjukan wayang, menggunakan kemampuan kognitif dan afektif mereka untuk meresapi dan menginterpretasikan nilainilai yang terkandung dalam pertunjukan. Sementara itu, apresiator pertunjukan wayang juga memasuki ruang imajinasi saat mereka mengapresiasi karya seni tersebut, melibatkan emosi dan intelektualitas mereka dalam merespon karya seni yang mereka Dengan demikian, ruang imajinasi dalam seni pertunjukan wayang menjadi tempat di mana objek wayang bertransformasi menjadi pengalaman estetik yang mendalam bagi semua subjek yang terlibat. Transformasi Sumber Imajinasi Seni Ke Dalam Ragam Elemen Estetis Objek (Pertunjukan Wayang Kulit Bal. Dengan Melibatkan Isu Trending/Populer Dari Ruang Sosial-Budaya Subjek (Audiens Dan Dalan. Sehingga Terncipta Dialektika Dan Katarsis Sebagai Ruang Apresiasi Audiens. Dapat digambarkan sebelumnya bahwa sumber imajinasi yaitu fenomena dalam kehidupan riil telah tertransmutasikan ke dalam objek imajiner yang lebih abstrak yaitu pertunjukan wayang kulit Bali. Sebagai objek dengan nilai monumental, pertunjukan wayang kulit Bali berfungsi sebagai ruang apresiasi bagi subjek, di mana pertunjukan wayang kulit Bali dipergunakan sebagai media pelepasan permasalahan, beban psikis, dan media refleksi dari berbagai fenomena yang menekan kebebasan ekspresi estetis seorang individu. Pertunjukan wayang kulit Bali menghadirkan ingatan-ingatan akan fenomena yang berdampak buruk bagi peningkatan kualitas hidup manusia, di mana rekonstruksi terhadap permasalahan yang dihadapi manusia, diproduksi oleh dalang dengan menghadirkan citra tokoh-tokoh wayang sebagai personifikasi manusia lengkap dengan lingkungan hidup berikut isu-isu populer yang bergulat di dalamnya. Seperti contohnya nilai monumental wayang tradisi yang ditrasformasikan melalui wayang kontemporer, sebagai bentuk refleksi amnesia sosial masyarakat terhadap bahaya sampah plastik rumah tangga oleh Sanggar Bajra Jenyana Music Theatre dan Kitapoleng Bali dalam teaser Pahayu Gumine, dalam rangka hari Bumi Sedunia 22 April. Gambar 4. Visual Dalang Sekaligus Narator I Gusti Putu Sudarta Memainkan Wayang Berbahan Sampah Daur Ulang Dengan Latar Alami Dikelilingi Sampah Plastik Pada Teaser Sinematografi Pahayu Gumine Sumber: Kitapolengbali, . Dalam teaser video tersebut ditampilkan 2 tokoh wayang berjenis wayang eksperimental yang terimajinasi dari wayang tradisi Bali, yaitu tokoh Sangut dan Raksasa. Tokoh Sangut, yang diilustrasikan sebagai manusia, mewakili peran manusia https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH sebagai abdi atau pelayan yang mungkin lalai dalam menjaga lingkungan. Di sisi lain, tokoh Raksasa yang melambangkan kemarahan dan kehancuran adalah representasi dari sifat negatif manusia dalam penggunaan plastik berlebihan. (Senopati & Wicaksandita. Alih-alih memberi petuah dan hiburan dalam jargon wayang sebagai media tuntunan dan tontonan, dalang justru berdialektika dalam benaknya untuk menghadirkan berbagai permasalahan dan isu populer sedang berkembang di lingkunganya. Dengan menampilkan dialog dan permainan diksi yang dikemas secara retoris, dalang menyampaikan kritik, lelucon, dan perspektifnya terhadap isu, dalam ruang apresiasi Audiens sebagai apresiator membutuhkan ruang pelepasan dan perbandingan perspektif terhadap isu, di mana dalang dengan secara terus-menerus menggali isu dan mengemasnya secara kreatif ke hadapan audiens. Dalang menerima dan mengolah isu sebagai modal kreatifitas, kemudian di terima sebagai perspektif baru yang dibicarakan serta dikembangkan oleh apresiator dalam lingkup sosialnya, dan begitu seterusnya hingga terbangun suatu bentuk komunikasi interpersonal antara dalang dan audiens. Fenomena tersebut dilakukan Dalang Nardayana dalam pertunjukan wayang inovatif dengan wayang Cenk-Blonk-nya. Gumana menyimpulkan bahwa variasi retorika wayang Cenk Blonk mencakup gaya bahasa dan penggunaan diksi meliputi tingkatan tutur bahasa Bali, alih kode, campur kode, serta singkatan dan abreviasi. Gaya bahasa yang digunakan mencakup Gaya Bahasa Simile dan Gaya Bahasa Ironi. Dari hal ini, terbangun kesatuan retoris sehingga menghasilkan cerita yang tidak hanya sarat dengan nilai-nilai penting bagi masyarakat, namun tetap menarik (Gumana Putra, 2. Hal ini dipertegas oleh Marajaya dan Hendro yang menyatakan bahwa Cenk-Blonk dibandingkan dengan seni pertunjukan lainnya, dianggap sebagai yang paling unggul dalam hal wacana. Salah satunya adalah wayang Cenk Blonk, yang dikenal karena wacananya yang cerdas serta kemampuannya menghibur masyarakat. (Hendro & Marajaya, 2. Dengan melibatkan isu-isu trending atau populer, pertunjukan wayang menjadi sarana untuk berdialog dengan realitas sosial-budaya yang aktual, menciptakan dialektika antara tradisi dan tren kontemporer. Transfer memori yang dibasisikan dari kemampuan imajinasi dalang menghasilkan apa yang disebut tuntunan dalam tontonan sebagai nilai monumental yang diwariskan kepada audiens. Hal ini berdampak pada tergerakknya keinginan untuk menanggapi dan bertindak sebagai audiens cerdas sebagai partisipan aktif dalam proses meningkatkan kualitas hidup dengan memposisikan pertunjukan wayang sebagai tuntunan yang bernilai monumental terlepas dari perwajahan tradisi atau modern wayang itu ditampilkan. Internalisasi Nilai-Nilai Sosial-Religius Dalam Membangun Stigma Keterlibatan Dan Keberlanjutan Eksistensi Vertikal-Horizontal Objek Pertunjukan Wayang Kulit Bali. Saratnya filosofi dan nilai sosio-religius dalam pertunjukan seni wayang, meletekkanya sebagai media pendidikan yang ideal dan secara konsisten menghadirkan ruang jelajah norma-norma etis bagi masyarakat. Hal ini tidak telepas dari daya adaptif yang disajikan dalang wayang kulit secara kreatif (Wicaksandita. Santosa & Sariada. Internalisasi adalah usaha untuk meresapi dan menanamkan hingga menyatukan nilai-nilai tertentu dalam diri individu, berfungsi sebagai pedoman dan pendorong dalam semua pernyataan dan perilakunya Husna . di mana dalam konteks pertunjukan wayang hal ini dilakukan oleh subjek . alang, audiens, penggemar, pemerhati, dan apresiator lainy. dalam mencapai dan mengkomunikasikan kepada audiens titik puncak dari nilai sosial-religius, yang mana Husna meyebutkan nilai sosial berpuncak pada kasih sayang antar sesama, dan Tuhan sebagai sumber kebenaran tertinggi merupakan puncak dari nilai religius. https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH Eksistensi tekstual dan upaya mengontekstualisasi wayang telah menjadi kajian dan catatan penting dalam usaha bersama yang dilakukan oleh para seniman, cendekiawan, dalang, dan Masyarakat. Mereka berupaya menginternalisasi nilai sosialreligius ke dalam wayang kulit Bali dan berbagai bentuk kesenian yang ada, menjadikannya objek fundamental yang berpotensi menghubungkan aspek ketuhanan dan alam . serta manusia dengan sesama manusia . dalam sistem kebudayaan masyarakat Hindu di Bali. Sebagaimana diagram berikut memvisualisasikan hubungan-hubungan yang terjadi: Gambar 5. Diagram Visualisasi Keterhubungan Vertikal-Horizontal Pertunjukan Wayang Kulit Bali Hal ini memunculkan sebuah stigma positif bahwa pertunjukan wayang kulit Bali memiliki tingkat fleksibilitas dan adaptasi yang tinggi. Sehingga secara langsung menjadi wahana bagi eksistensi, pengembangan, pembelajaran, dan medium keyakinan transendental yang selaras dan seiring dengan perilaku sosial-keagamaan masyarakat Bali. Signifikannya keterlibatan wayang kulit Bali dalam upacara keagamaan, memposisikan kesenian ini sebagai wali atau sakral karena fungsi ritualnya. (Danaswara & Purnamawati, 2. Danaswara & Purnamawati menyimpulkan bahwa status sebagai utameng lungguh . osisi istimew. disematkan pada pertunjukan wayang di Bali karena oleh masyarakat Bali sering dijadikan rujukan. Kontekstualisasi wayang menempatkan wayang wali . sebagai pertunjukan yang memvisualisasikan lakon-lakon yang bertujuan mengejawantahkan nilai-nilai sakral dalam keyakinan mistis dan kegiatan sosial-keagamaan masyarakat Bali. Contohnya adalah lakon Sapuh Leger. Bima Swarga, dan Kunti Yadnya, yang merupakan lakon tradisi pewayangan di luar cerita pokok Mahabharata/Bharatayuda. Lakon-lakon ini tetap mengadaptasi tokoh-tokoh terkenal seperti Panca Pandawa yang mencerminkan nilai-nilai keutamaan. Meskipun narasi-narasi dan tema materialitis membayangi era globalisasi saat ini. Wayang Sapuh Leger, sebagai bagian dari kebudayaan Bali, tetap eksis dan lestari. Hal ini menunjukkan kekokohan sistem nilai yang terinternalisasi dalam seni dan ritual sebagai simbol budaya masyarakat Bali (Wicaksana & Wicaksandita, 2. Adapun lakon lainya seperti Bima Swarga dalam penampilanya mengindikasikan upaya-upaya dalam menginternalisasi dan pencapai pucak dari nilai-nilai sosial religius, sebagaimana Sugita dan Pastika menyatakan bahwa pertunjukan wayang dengan menampilkan lakon Bima Swarga dalam konteks upacara yadnya . urban suc. memiliki fungsi antara lain sebagai pelengkap dalam sarana ritual, pendidikan agama, ekspresi kreativitas seni, hiburan, dan fungsi ekonomi (Sugita & Tilem Pastika, 2. https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH Sementara itu terdapat jenis pertunjukan wayang kulit Bali yang cukup unik dan sering terlibat muncul dalam pelaksanaan upacara wali . , yaitu Wayang Gedog atau Wayang Lemah. Khusus format pertunjukan ini ditampilkan pada posisi saat sinar matahari masih masih tampak . dengan tanpa menggunakan kelir . Disebabkan karena konteksnya sebagai bagian dari pelaksanaan upacara ritual masyarakat Hindu dalam tradisi budaya Bali, interval pementasan wayang ini dapat dikatakan lebih sering ditampilkan, seiring dengan terselenggaranya upacara ritual yang sering dilaksanakan di Bali. Intensitas Wayang Lemah ini kemudian banyak dimanfaatkan oleh dalang dalam menginternalisasi nilai-nilai religius dalam lakon yang cukup dikenal di kalangan para dalang di Bali yaitu lakon Kunti Yadnya. Gambar 6. Penampilan Lakon Kunti Yadnya Dalam Format Wayang Lemah Dengan Dalang I Dewa Ketut Wicaksandita Sumber: Wicaksandita, . Berkenaan dengan upacara wali, kisah Kunti Yadnya memiliki makna penting bagi masyarakat Hindu di Bali dalam menghubungkan aspek sosio-religius masyarakat. Cerita ini mengisahkan Dewi Kunti melaksanakan upacara bersama putra-putranya Panca Pandawa. Bertema utpeti . , stiti . , dan pralina . , lakon ini memberikan pemahaman kepada masyarakat Hindu Bali tentang ritual memurnikan dan mensucikan roh pasca kelepasaanya dari tubuh wadag (Wicaksandita, 2. Dari eksistensi penampilan wayang kulit Bali berformat Wayang Lemah berlakon Kunti Yadnya pada konteks ruang sakral ini, telah dapat dianalisis signifikansinya, bahwa narasi-narasi religius oleh dalang melalui wayang terjadi bersamaan dalam wilayah audiens yang berada di ruang sakral . elaksanaan upacara yadny. , di mana audiens memperoleh pemahaman mengenai isi dari yadnya yang digelar, dengan menginternalisasi langsung pemahamann menjadi tindakan konstruktif dalam meningkatkan kualitas yadnya yang mereka warisi secara turun temurun. Pembentukan Citra Wayang Sebagai Wujud Seni Monumental. Pada tataran terakhir trans memori imajinasi signifikan membentuk citra wayang sebagai wujud seni monumental. Bangkitnya kesadaraan akan identitas budaya akibat internalisasi nilai-nilai secara historis dalam lingkup teks dan kontekstual wayang kulit Bali, menghadirkan dua paradigma. Paradigma baru yang merepresentasikan peran seni dalam masyarakat yang didukung, menekankan pengalaman reflektif dan imajinatif, serta paradigma lama yang menekankan intensionalitas objek yang berfokus pada pengaruh yang memukau. Signifikasninya adalah kedua paradigma tersebut mengakui peran penting karya seni dalam masyarakat baik dalam format tradisinya atau modern, dengan intensitas dan relevasi nilai-nilai inti dari format masing-masing dibasiskan sebagai medium komunikasi ajaran ketuhanan dan pemersatu sosial. https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH Imajinasi dalam pandangan paradigma baru dan lama dalam konteks monumentalitas pertunjukan seni, salah satunya tergambar pada kutipan terkenal dari Kakawin Arjuna Wiwaha karangan Empu Kanwa, . 9-1042 Masehi/ abad ke XI), menggambarkan betapa imajinasi terbentuk dan terinternalisasi dalam budaya/ kultur penikmatan seni oleh subjek sebagai apresiator. Dampaknya signifikan dalam mempengaruhi psikis, ekspresi, dan keyakinan subjek terhadap realitas objek seni Adapun kutipannya sebagai berikut: Hana nonton ringgit manangis sesekal muda hidepam/ Huwus wruh towin yan walulang inukir molah angucap/ Haturning wang tresneng wisaya malaha tar wwihikana/ Ritatwa yan maya sehana-haning bhawa-siluman (Sudana, 2. Kutipan tersebut dapat berarti Beberapa penonton menangis menonton wayang, ada yang tersedu-sedu dan tergila-gila. Meskipun mereka sadar, bahwa yang mereka lihat hanyalah tulang berukir yang bisa bergerak dan berbicara. Mereka begitu terpikat oleh kesenangan, sampai-sampai tidak menyadari bahwa setiap gerakan hanyalah ilusi belaka. Agaknya tidak berlebihan jika mengatakan bahwa, pada saat itu wayang bagaikan film movie modern saat ini dengan berbagai efek realistis yang mampu mempengaruhi setiap Puncaknya penonton mengalami apa yang disebut sebagai sublimasi . , antara visual realiti yang disaksikanya dan realitas imajinasi yang terbentuk atas pengetahuan yang dipengaruhi kultur yang berkembang. Secara terstruktur, telaah pengalaman estetik audiens, transformasi seni dalam konteks sosial-budaya, internalisasi nilai-nilai sosial-religius, dan pembentukan citra wayang sebagai seni monumental membantu subjek memahami dan mengapresiasi wayang sebagai medium seni yang mencerminkan kehidupan sosial, nilai keagamaan, serta identitas budaya Bali yang agung dan abadi. Dengan demikian, pemahaman dan apresiasi sebagai bentuk pewarisan nilai monumental pertunjukan wayang kulit Bali terjadi secara berkesenimabungan dan dinamis di tengah masyarakat Bali yang semakin modern, sebagaimana keterhubungan tersebut tergamabar dalam bagan berikut. Gambar 7. Bagan Keterhubungan Konsep dan Siginifikansi Trans Memori Dalam Pewarisan Nilai Monumental Pertunjukan Wayang Kulit Bali. Kesimpulan Trans memori imajinasi merupakan satu upaya untuk mengetahui dan memahami, nilai monumental yang diwariskan berdasarkan laku imajinasi. Wujud seni pertunjukan wayang kulit sebagai representasi nilai budaya warisan secara turun temurun, muncul sebagai objek eksistensial sekaligus medium dari nilai monumental. Fase-fase dalam membangun ingatan kolektif akan kepemilikin identitas yang diekspresikan dalam bentuk seni pertunjukan wayang tradisi Bali, dibangun dari hubungan interpersonal subjek https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH melalui rekonstruksi sumber pengalaman estetik, transformasi sumber seni dalam ragam elemen estetis, internalisasi nilai-nilai sosial-religius, dan pembentukan citra wayang sebagai wujud seni monumental. Menginternalisasi trans memori tidak hanya merawat ingatan kolektif masyarakat akan nilai sejarah dari pertunjukan wayang dan berbagai makna yang terkandung dalam sumber-sumber sastra lakonnya, tetapi juga membangun satu mekanisme sistem pewarisan dengan bentuk keterlibatan secara aktif subjek pelaku budaya melalui pendidikan, agama, bahasa, adat dan sosial. Monumentalisme seni pertunjukan wayang berdampak secara psikologis, dalam membangitkan minat-apresiasi, rasa hormat, rasa memiliki, dan kekaguman terhadap seni pertunjukan wayang, di mana subjek tidak lagi melihat wayang hanya hiburan, melainkan sarana memperkuat identitas budaya dan spiritual masyarakat. Hal ini mengubah cara subjek berinteraksi dengan pertunjukan wayang dan mampu menempatkan aspek teks dan kontekstual dari pertunjukan sesuai pada ruang-ruang dan gaya penikmatan estetik dari berbagai jenis dan Temuan penelitian yaitu trans memori imajinasi dalam pertunjukan wayang kulit Bali, berpotensi menghantarkan subjek . alang, penonton, peneliti dan apresiator sen. untuk meletakkan pemahaman terhadap wayang sebagai sebuah objek eksistensial yang kemudian membentuk citra wayang dalam paradigma seni sebagai sebuah wujud yang mengandung nilai-nilai monumental. Citra wayang dalam paradigma seni menjadi simbol dari kekayaan budaya dan spiritual masyarakat Bali, yang dipelihara dan dilestarikan sebagai bagian integral dari identitas budaya mereka. Dapat dipetakan fasefase sebelumnya, saling berperan membentuk landasan pemahaman yang kuat bagi subjek untuk menganggap wayang sebagai objek eksistensial. Dengan cara ini, ingatan kolektif tentang sejarah dan tradisi terus diperkuat dan diperbarui, memastikan bahwa nilai-nilai tersebut tetap relevan dan dihargai oleh generasi penerus, sekaligus menciptakan kesadaran akan identitas budaya yang kuat di tengah perubahan zaman. Daftar Pustaka