Jurnal Pendidikan dan Penciptaan Seni, 1. 2021: 9-17. Jurnal Pendidikan dan Penciptaan Seni Available online: https://journal. org/index. php/jipsi Diterima: April 2021. Direview April 2021. Disetujui: April 2021 DOI: 10. 34007/jipsi. Penciptaan Patung Gerabah Bercitra Tokoh Hanoman sebagai Penguatan Nilai Budaya Lokal di Malang Creation of Pottery Statues with Hanoman Characters as Reinforcement of Local Cultural Values in Malang Muhammad AoAfaf Hasyimy Mahasiswa Program Studi Keguruan Seni Rupa. Jurusan Seni dan Desain. Fakultas Sastra. Universitas Negeri Malang. Indonesia Abstrak Artikel peciptaan seni gerabah yang bersumber dari lakon wayang, khususnya lakon Ramayana. Malang Jawa Timur sudah mulai mencari identitas penguat citra budaya lokal. Citra budaya lokal di Malang mulai mengarah pada pengalian sumber penciptaan lakon wayang. Peneliti sejak tahun 2013 mulai menggali kemungkinan menciptakan seni gerabah, mengingat penelitian juga mengeksplor sentra gerabah di Pagelaran dan Gelanggang. Sentra ini memungkinkan untuk dipadukan, bahkan beberapa penelitian penciptaan yang telah dilakukan juga terarah pada diversifikasi bentuk dan fungsi. Hal ini dikuatkan dengan penelitian penulis yang menggunakan metode pengembangan, yang meliputi observasi, perencanaan, dan pembuatan produk keramik. Rancangan penelitian itu menggunakan kualitatif, data-data yang dihimpun melalui wawancara, observasi, dan kajian dokumen. Hasilnya menunjukan, terbentuknya 3 jenis penciptaan keramik berkarakter Hanoman (Ker. sebagai pengembangan teknik penciptaan seni gerabah. Hasil gerabah menjadi media yang optimal untuk mengekspresikan citra tokoh lakon Ramayana, khususnya tokoh Kumbakarna sebagai penguatan nilainilai lokal di Malang Jawa Timur. Kata Kunci: Lokal Kultural. Ramayana. Hanoman. Gerabah Abstract Articles on pottery art creation originate from wayang plays, especially the Ramayana play. In Malang. East Java has started looking for an identity that reinforces the local cultural image. The image of local culture in Malang began to lead to the exploration of the source of the creation of wayang plays. Researchers since 2013 have begun to explore the possibility of creating pottery art, bearing in mind that research has also explored pottery centers in Pagelaran and Gelanggang. This center allows for integration, and even some creation research that has been carried out has also focused on the diversification of forms and functions. This is confirmed by the author's research using development methods, which include observation, planning, and manufacturing of ceramic products. The research design used qualitative data collected through interviews, observation and document review. The results show, 3 types of ceramic creation with Hanoman (Ker. character were formed as a development of pottery art creation techniques. The results of the pottery become the optimal medium for expressing the image of the characters from the Ramayana play, especially the Kumbakarna figures as a strengthening of local values in Malang. East Java. Keywords: Local Culture. Ramayana. Hanoman. Pottery How to Cite: Hasyimy. Penciptaan Patung Gerabah Bercitra Tokoh Hanoman sebagai Penguatan Nilai Budaya Lokal di Malang. Jurnal Pendidikan dan Penciptaan Seni 1. : 9-17 *E-mail: m. 1902518@students. ISSN 2550-1305 (Onlin. Muhammad AoAfaf Hasyimy. Penciptaan Patung Gerabah Bercitra Tokoh Hanoman sebagai Penguatan Nilai Budaya Lokal di Malang PENDAHULUAN Artikel ini berawal dari eksplorasi penguatan nilai-nilai lokal di Malang Jawa Timur. Sejak tahun 2013-an, peneliti mengamati pertumbuhan sentra kerajinan keramik, di Dinoyo, dan gerabah di Gelanggang. Kecamatan Pakisasji, dan Pagelaran di Kecamatan Gondanglegi. Pencarian identitas citra budaya lokal ini digunakan untuk modal untuk mendalami penciptaan seni patung gerabah. Seiring daripada itu, pertumbuhan citra budaya lokal di Malang mulai mengarah pada lakon wayang (Putra, 2. , khususnya digali dari unsur Aolakon Ramayana. Ao Penggalian tema Ramayana masih jarang dilakukan para perajin gerabah di Malang Jawa Timur. Peneliti berusaha untuk melakukan penggalian, eksperimentasi, dan inovasi pada produk-produk benda seni murni berjenis patung gerabah, khususnya yang dikembangkan oleh para perajin di sentra gerabah di Malang. Peneliti menyadari, melakukan hal itu sudah barang tentu harus penggalian, mengobservasi, menggali, dan mempelajari secara mendalam dari potensi yang menjadi subjek penciptaan (Jamaludin, 2. , yaitu seni gerabah dan lakon wayang Ramayana. Pada awal peneliti belum terkuasi secara mendalam, hanya bertolak dari referensi. Peneliti memperdalam dan mengembangkan referensi dengan melalukan wawancara tentang kondisi dan situasi para perajin keramik di Dinoyo, dan gerabah Gelanggang, dan Pagelaran. Selain dari pada itu juga mencari kemungkinan daya tarik yang berasal dari wayang topeng berlakon Ramayana melalui referensi literatur. Bahkan peneliti merasa yakin dapat mewujudkan karya seni patung gerabah ini karena mendapatkan bimbingan dari keramikus Internasional. Ponimin. Seniman ini memiliki studio Kreasi Kriya Nusantara di Batu. Jawa Timur. Ada berberapa kelemahan penciptaan patung gerabah bersumber dari budaya wayang berlakon Ramayana, yaitu menurunnya minat masyarakat terhadap wayang (Sari. Sehingga figur patung ini menjadi akan kurang dikenali secara langsung oleh Sehingga akan kurang komunikatif. Masyarakat lebih memilih berbagai jenis benda yang secara jelas dapat dan jelas dikenali secara langsung, misalnya jenis gerabah yang bersifat fungsional (Pratiwi et al. , 2. Sungguhpun demikian, upaya ini merupakan langkah awal, yang memiliki tantangan tersendiri. Tekat yang kuat ini termotivasi mengenali citra tokoh tokoh Hanoman melalui lakon Ramayana sebagai patung gerabah yang memiliki nilai lokal yang kuat. Hal itu tentunya dapat menjadi sumber apresiasi bagi para pelajar, dan masyarakat pada umumnya (Tarsa, 2. Berangkat dari pada itu, peneliti berusaha mencari kemungkinan potensi citra tokoh Hanoman pada lakon Ramayana yang tersimpan dalam wayang kulit Jawa Timur. Penggalian nilai-nilai lokal pada wayang dapat digunakan sebagai tema penciptaan patung Bahkan tema lokal itu dapat memberikan penguatan pada produk karya keramik tradisional (Ponimin, 2. Mengingat di Malang memiliki sentra pengembangan seni keramik yang cukup besar, bahkan ada sekolah kejuruan kerajinan, yaitu SMK Negeri 5 Malang. Sekolah ini mempelajari berbagai produk seni keramik. Oleh karna itu, upaya pengembangan seni gerabah melalui citra tokoh Hanoman pada lakon Ramayana, dimaksudkan untuk dilakukan melalui pengembangan kreativitas, sudah barang tentu agar mampu mempertimbangkan aspek potensi budaya lokal di Malang (Iriaji, 2. METODE PENCIPTAAN Metode penciptaan ini menggunakan pengembangan, artinya menggali dan memaknai untuk menghasilkan temuan yang dapat mengarah pada pembentukan produk seni gerabah. Melalui observasi dan mendiskripsikan gejala-gejala pada sentra produk Jurnal Pendidikan dan Penciptaan Seni, 1. 2021: 9-17 gerabah lokal dan lakon wayang yang saling memiliki kaitan satu dengan yang lain. Proses penelitian ini menggunakan data-data yang dihimpun melalui wawancara, obeservasi, dan kajian dokumen. Adapun narasumber yang diyakini dapat memberikan keterangan yang valid dan meyakinkan adalah para perajin yang ada pada sentra gerabah Pagelaran, yaitu . Sutrisno . , . Rusmin . , . Yatmono . , dan . Sukirno . mereka merupakan para pengusaha dan juga pekerja gerabah yang berpengalaman. Pada awalnya mereka membuat gerabah, dan sekarang juga masih ada yang tetap menekuni gerabah untuk berbagai jenis, misalnya belanga, kenci, layah . iring geraba. , atau tempayan air (Ponimin et al. , 2. Namun sudah lebih bagus, karena menggunakan teknologi dan sistem pembakaran yang lebih baik. Sementara perajin-perajin yang lain sudah melaju beralih menekuni keramik bakaran tinggi untuk menghasilkan produk keramik suovenir (Akbar & Fawzi, 2. Observasi yang peneliti lakukan adalah ada pada dua sentra. Sentra ini juga penulis gunakan sebagai subjek ide untuk penciptaan gerabah penciptaan karya studi di Universitas Negeri Malang. Bahkan untuk memberikan hasil pendalaman yang dapat menguatkan penelitian ini, penulis juga menggunakan data-data dokumentasi pribadi atau pun dokumentasi dari narasumber. Teori analisis data yang digunakan pada penelitian ini adalah interpertasi, yaitu memahami dan memaknai berdasarkan kemampuan menghubungkan antar data dan fenomena yang diamati, serta menekankan pada akal sehat (Mariono & Puji, 2. Bahkan untuk menguatkan keyakinan tersebut digunakan semiotika, yaitu menekanan pada proses empati yang mendalam dan menafsirkan secara paradigmatik serta sintakmatik dari fokus tema-tema yang diangkat sebagai sumber penciptaan (Qulub & Arif, 2. PAPARAN DATA Sejak tahun 2013-an, peneliti sudah mulai mencari identitas penguat citra budaya lokal sebagai sumber penciptaan. Hal itu dikarenakan juga oleh menguatnya. Pencarian identitas lokal dari berbagai daerah di Indonesia, para gubenur terdorong untuk memamerkan produk-produk unggulannya ke ibukota negara Republik Indonesia. Termasuk ingin menguatkan potensinya di sentra-sentra wisata, sebagai sentra wisata itu membutukan penguatan yang bersifat edukatif memberikan penguatan (Fytania, 2. Seiring dari pada itu, pertumbuhan citra budaya lokal di Jawa Timur, khususnya di Malang mulai mengarah pada produk-produk seni pertunjukan. Sementara produkproduk yang bersifat kerajinan atau kriya belum menonjol, sungguhpun ada beberapa yang telah berhasil digali. Di Malang, setelah tahun 1976. Ibu Negara: Tien Soeharto memesan kerajinan dari Malang sebanyak 3 kotak yang masing-masing berisi 65 buah topeng (Hida, 2. Selanjutnya juga mulai dikenal bentuk-bentuk kerajinan ukir yang lain kayu yang menonjolkan ciri etnik, seperti bentuk ukiran dari Madura. Berikutnya tahun 1980-an juga mulai menguat bentuk kerajian dan ciri khas batik yang tumbuh diberbagai daerah, diantaranya adalah batik Gajah Mada dari Tulungagung dan batik dari Banyuwangi (Avroditha et al. , 2. Seiring pertumbuhan kerajinan-kerajian yang dianggap potensial, seni keramik belum tampak potensinya. Sungguhpun mulai tahun 1950-an di Malang Jawa Timur sudah dikenal produk unggulan keramik Dinoyo (Widyarthara, 2. Pada sentra ini diproduksi benda-benda fungsional dan souvenir. Keramik Dinoyo pada waktu itu lebih dikenal dengan hasil benda-benda yang berupa cangkir minum, piring, mangkok, dan benda pecah belah yang lain (Susanto, 2. Produk dari Dinoyo banyak dikenal diberbagai daerah, bahkan hingga ke pulau Bali dan Muhammad AoAfaf Hasyimy. Penciptaan Patung Gerabah Bercitra Tokoh Hanoman sebagai Penguatan Nilai Budaya Lokal di Malang Jakarta. Walaupun demikian kerajinan keramik di Dinoyo tidak atau belum memberikan ciri khas kedaerahan yang kuat (Ilmiyah, 2. Karena benda-benda keramik yang dihasilkan tidak jauh berbeda dengan produk di tempat lain. Bahkan lambat laun juga tersaingi dengan hasil produk keramik dari Tuban. Surabaya. Probolinggo, dan Yogyakarta. Keramik di Dinoyo mulai beralih ke bentuk-bentuk yang lain, yaitu mengkonsentrasikan diri pada hasil produksi berupa souvenir (Puspita, 2. Berbagai jenis yang hingga kini menjadi sangat marak dan menjadi produk masal. Pada tahun 2000, di Jawa Timur, khususnya di Malang mulai memunculkan isu lokal yang dipandang potensial, yaitu Aowayang. Ao Peneliti mulai memfokuskan diri untuk ikut serta menguatkan isu tentang tokoh-tokoh pada wayang. Sunggupun waktu itu masih belum terfokus secara langsung karena wayang di Malang sudah mulai menurun Pertimbangan ini dikarenakan oleh apresiator yang belum terkondisikan. Peneliti masih mengembangkan teknik-teknik gerabah untuk benda fungsional. Karena pada benda fungsional ini memiliki teknik-teknik khusus, baik menggunakan manual atau teknik putar (Ponimin, 2. Perihal teknik, peneliti mendapatkan bimbingan secara langsung dari keramikus internasional. Ponimin, seniman ini mengembangkan keramik figuratif di studio Kreas Kriya Nusantara di Batu. Jawa Timur. Berawal dari keyakinan peneliti yang semakin kuat, bahwa menggali budaya sastra lakon Ramayana memiliki dampak positif, utamanya sebagai upaya penggalian nilai-nilai Oleh karena itu proses kerja kreatif dapat berlanjut, yaitu mulai mencoba untuk melakukan penelitian dan eksperimentasi terhadap kemungkinan yang dapat diangkat sebagai karya patung figuratif bertema tokoh Hanoman. Peneliti terus melakukan proses di studio. Penggalian aspek tematiknya pada seniman wayang kulit, seorang dalang di Padepokan Seni Mangundharmo Tumpang. Soleh Adi Pramana merupakan dalang wayang tradisional. Banyak nilai-nilai lokal yang mampu diungkapkan sebagai modal pemahaman untuk memberikan isi karya patung gerabah figuratif. Bahkan prediksi ke depan, dimungkinkan dapat ikut serta mengembangkan tema potensial ini menjadi produk unggulan. Banyak hal yang mampu di gali, yaitu bentuk patung figuratif yang dapat dibuat dengan cetakan, sehingga dapat dengan mudah diproduksi. Namun peneliti baru memulai dengan karya grabah figuratif yang dikerjakan secara manual. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil yang telah menunjukan bahwa gerabah menjadi media yang optimal untuk mengekspresikan bentuk tokoh Hanoman, baik secara kultural atau secara kreatif. Produk gerabah figuratif yang tampak dari berbagai jenis penggambaran tokoh figuratif sastra lakon Ramayana, khususnya yang menunjukan karakteristik Hanoman. Perhatikan bentuk yang dapat dikembangkan melalui patung figuratif tersebut. Gerabah bentuk patung figuratif yang bertema tokoh Hanoman belum digarap oleh para pematung. Peneliti mulai menekuni bidang ini untuk menciptakan potensi yang lebih kuat dan berkualitas. Rancangan dalam bentuk sket, menjadi perjalanan awal dalam memproses karya patung figuratif tokoh Hanoman. Kemudian melakukan konstruksi patung yang dilakukan dengan teknik pilin dan pinching untuk membuat konstruksi tubuh Jurnal Pendidikan dan Penciptaan Seni, 1. 2021: 9-17 Gambar 1 Pembuatan sketsa . oto dokumentasi Afa. Gambar 2 Pembuatan konstruksi tubuh patung . oto dokumentasi Afa. Peneliti juga mulai mendalami kemungkinan-kemungkinan untuk mengembangkan bentuk patung figuratif dengan berbagai tema yang ada pada sastra lakon Ramayana. Bentuk figur tema tokoh Hanoman ini dapat dikembangkan dalam berbagai pola, yang bertolak dari tema-tema dalam episode lakon. Hal ini dibutuhkan metode penggalian yang Dalam proses produksi, peneliti menggali tematik dari karakteristik asli dari Hanoman, yaitu nafsu binatang. Sehingga peneliti memberikan judul: Luapan Nafsu Amarah. (Ukuran: 50x28x37 cm/ Media: Keramik earthenwar. Muhammad AoAfaf Hasyimy. Penciptaan Patung Gerabah Bercitra Tokoh Hanoman sebagai Penguatan Nilai Budaya Lokal di Malang Gambar 3 Patung gerabah figuratif berjudul: Luapan Nafsu Amarah . oto dokumentasi Afa. Pada karya yang berjudul AuLuapan Nafsu AmarahAy tersebut menggunakan media tanah liat jenis earthenware. Pada bentuk utama karya berupa figur Hanoman dengan posisi duduk dengan kaki kiri menyangga tangan kiri yang memegang bulatan dengan geliatan ke arah atas. Selain itu juga objek tersebut divisualkan dengan gaya dekoratif dan Bentuk figur kepala dideformasi dengan mulut terbuka lebar seakan-akan hendak memakan bulatan geliatan tersebut agar terkesan dramatis. Selain itu juga terdapat tekstur diseluruh tubuh objek dengan garis-garis vertikal untuk menimbulkan kesan bulubulu Hanoman. Karya Hanoman tersebut memiliki ciri khas mengenakan gelung pada kepala, pelung, kalung, gelang bahu dan gelang kaki. Pada bagian gelung divisualkan dengan gaya khas Hanoman dengan dekorasi yang berbeda-beda untuk menimbulkan kesan tidak monoton. Pada bagian pelung divisualkan dengan lipatan-lipatan kain . terlihat untuk memunculkan kesan kain yang alami yang kenakan Hanoman di bagian bawah perut. Warna yang terdapat pada karya ini merupakan warna merah kecokelatan natural dari hasil pembakaran dengan finishing semir lantai agar terkesan karya lebih menarik dan mengkilat. Konsep Karya Luapan Nafsu Amarah Pada konsep karya keramik tersebut, yakni kejadian Hanoman ketika memakan Hal tersebut divisualkan Hanoman memegang bulatan berapi-api yang dilambangkan matahari yang panas. Selain itu karya tersebut dideformasi dengan mulut yang terbuka lebar yang dilambangkan Hanoman mengamuk dengan wajah yang seram. Konsep karya ini terinspirasi pada epos Ramayana ketika pada saat itu Hanoman mengamuk menanyakan nama ayahnya kepada para dewa. Para dewa tidak tau siapa ayah Hanoman. Wakil dewa yang bernama Batara Narada menganggap bahwa Hanoman ini merupakan penganggu kahyangan dan patut untuk dimusnahkan, tidak lama kemudian Hanoman mengamuk dan mempora porandakan kahyangan. Para dewa kalang kabut karena tidak ada yang sanggup menandingi Hanoman. Jurnal Pendidikan dan Penciptaan Seni, 1. 2021: 9-17 Berita tentang rusaknya kahyangan sampai ditelinga Bahtara Guru, kemudian Bahtara Guru turun untuk menemui Hanoman. Batara Guru sesungguhnya mengetahui bahwa Hanoman adalah anaknya dengan Dewi Anjani sewaktu ia tidak sengaja menumpahkan kamanya ke mulut Dewi Anjani. Batara Guru kemudian mengakui Hanoman sebagai puteranya. Isi dan pesan yang ingin disampaikan pencipta pada karya keramik yang berjudul AuMemakan MatahariAy ini adalah keberanian Hanoman ketika mengamuk dihadapan para Dewa dengan memporah-porahndakan kahyangan untuk mencari bukti kebenaran. Pencipta merasa empati sehingga membuat karya untuk memotivasi diri dan pengamat untuk memiliki jiwa keberanian ketika mencari kebenaran. Bersadarkan karya tersebut, maka peneliti dapat memungkinkan untuk dikemukakan pengalaman kongrit, bahwa nilai-nilai lokal yang memiliki makna edukatif. Bahkan mampu digunkan untuk melakukan instopeksi diri. Berikutnya peneliti terus melakukan proses kreatif, dengan menggali lebih mendalam karya patung figuratif yang bersumber dari karakteristik tokoh Hanoman. Karya ini bertolak dari patriotism Hanoman dengan judul: Urubing Geni Lelabuhan (Ukuran: 55x37x59/Media: Keramik earthenwar. Gambar 4 Karya berjudul AuUrubing Geni LelabuhanAy Pada karya yang berjudul AuUrubing Geni LelabuhanAy tersebut menggunakan media tanah liat jenis earthenware. Pada bentuk utama karya seni keramik berupa figur Hanoman. Pada bagian kaki karya tersebut dideformasi dengan kaki kanan ke depan dan kaki kiri ke arah belakang, selain itu pada kedua kaki tersebut disetiap ujung kaki terdapat geliatan dekorasi ke arah atas. Pada bagian tangan objek memegang gada dipundak bagian kiri dengan geliatan ke arah atas. Pada bentuk figur kepala dideformasi dengan mulut terbuka dengan gigi taring Pada bagian bawah karya tersebut terdapat banyak geliatan dengan ukuran yang berbeda-beda ke arah atas yang memenuhi semua bagian bawah objek, sehingga geliatan yang berbeda-beda menimbulkan kesan irama yang terkesan tidak membosankan. Selain itu juga terdapat tekstur diseluruh tubuh objek dengan garis-garis vertikal untuk menimbulkan kesan bulu-bulu Hanoman. Muhammad AoAfaf Hasyimy. Penciptaan Patung Gerabah Bercitra Tokoh Hanoman sebagai Penguatan Nilai Budaya Lokal di Malang Karya tersebut memiliki ciri khas mengenakan gelung, kalung, gelang bahu dan gelang kaki. Pada bagian gelung divisualkan dengan gaya khas Hanoman dengan dekorasi yang berbeda-beda untuk menimbulkan kesan tidak monoton. Warna yang terdapat pada karya ini merupakan warna merah kecokelatan natural dari hasil pembakaran dengan finishing semir lantai agar terkesan karya lebih menarik dan mengkilat. Konsep Karya Urubing Geni Lelabuhan Pada konsep keramik tersebut, yakni kejadian ketika Hanoman dibakar ekornya dan Hal tersebut divisualkan Hanoman memegang gada yang berapi-api melambangkan keberanian dan semangat berapi-api. Pada bagian kaki yang divisualkan seperti lari dilambangkan ketika ia memporak-porakndakan bagian tubuhnya yang terbakar ikut membakar Alengka. Konsep karya ini terinspirasi pada epos Ramayana Hanoman yang sedang mengamuk karena merasa terpojok ketika akan dibunuh oleh Rahwana. Hal itu bermula ketika Hanoman tertangkap oleh prajurit Alengka, kemudian dihadapkan kepada Rahwana. Dihadapan Rahwana. Hanoman tidak merasa takut. Ia menantang Rahwana untuk mengadu kesaktian. Maka dari itu, terbakarlah emosi Rahwana. Ia kemudian memerintahkan Indrajid untuk membakar Hanoman di tengah alun-alun kerajaan. Ketika dibakar. Hanoman mengeluarkan kesaktian yaitu Aji Maundri yang mengubah wujudnya menjadi kera raksasa. Ia mengamuk di tengah alun-alun. Amukan Hanoman ini berhasil memporak porandakan hampir seluruh Kerajaan Alengka. Banyak raksasa yang mati karena amukan Hanoman termasuk dua putra Rahwana sendiri yaitu Trimurda dan Trikaya. Sang raja Rahwana hanya bisa tercengang dan meratapi kerajaannya yang telah hangus terbakar. Isi dan pesan yang ingin disampaikan pencipta pada karya keramik yang berjudul AuHanoman TerbakarAy ini adalah kepatuhan ketika ia kepada Rama dan keberanian Hanoman memasuki Alengka yang terkenal dengan ketatnya penjagaan. Pencipta merasa empati sehingga membuat karya untuk memotivasi diri dan pengamat untuk memiliki jiwa keberanian ketika membela kebenaran. SIMPULAN Malang sebagai kota yang memiliki potensi historis dapat dikuatkan dengan tumbuhnya sentra keramik yang memiliki kekuatan lokal. Mengingat wayang sebagai seni pertunjukan yang memiliki potensi dalam mengekapresikan sastra lakon. Daripada itu, sastra lakon Ramayana yang mulai tidak diminati generasi muda, menjadi sumber inspiratif untuk menggali nilai-nilai lokal yang potensial sebagai media edukatif. Karya patung figuratif bersumber dari sastra lakon Ramayana dengan menggali karakteristik figur Hanoman memungkinkan sebagai media apresiasi bagi pelajar dan masyarakat pada Peneliti telah mencoba dan mengembangkan bentuk-bentuk karya kreatif yang potensial dalam mengembagkan spirit karakteristik figur tokoh Hanoman. Bentuk-bentuk karya figuratif tenunya masih mampu dikembangkan menjadi daya tarik yang tidak hanya bersifat lokal, namun sudah dapat dikomunikasikan secara internasional. UCAPAN TERIMAKASIH Peneliti mengucapkan terima kasih, kepada berbagai pihak, utamanya pada narasumber: M. Soleh Adi Pramono dari Padepokan Seni Mangun Darmo Tumpang, dan Jurnal Pendidikan dan Penciptaan Seni, 1. 2021: 9-17 pada seniman keramik Ponimin. Daripadanya telah mampu menggali potensi teknik seni keramik bakaran rendah. Tentunya karya ini masih memungkinkan untuk dikembangkan lebih lanjut sebagai media belajar para siswa dalam matapelajaran seni budaya. DAFTAR PUSTAKA