EKOKRITIK PASCAKOLONIAL: KAJIAN POSTHUMANISMEBERORIENTASI LINGKUNGAN Rahmi Rahmayati Universitas Negeri Surabaya rahmirahmayati@unesa. Abstrak: Menurut beberapa ahli, kajian ekokritik sejak kemunculannya di Amerika dan sekitarnya dianggap lebih didominasi oleh Amerika Barat, orang-orang kulit putih, dan anglophone Ae penutur berbahasa Inggris Ae dan hanya terfokus pada teks-teks Barat. Selain itu, kajian ekokritik mengabaikan metodologi dan konteks pascakolonial. Bahkan kajian ekokritik gagal dalam memfaktorkan perbedaan budaya serta mengabaikan kemanusiaan, kolonialisme, dan eksploitasi serta diskriminasi rasial. Tulisan ini membahas tentang teori ekokritik pascakolonial sebagai kajian posthumanisme berorientasi lingkungan yang sedang berkembang. Artikel ini menggunakan metode penelitian kualitatif yang bersifat studi pustaka . ibrary researc. yang menggunakan buku-buku dan sumber referensi lainnya sebagai objek yang utama. Hasil analisis studi pustaka mencakup empat hal: . alasan yang melatarbelakangi kemunculan kajian ekokritik pascakolonial. perkembangan ekokritik pascakolonial. kaitan ekokritik pascakolonial dan posthumanisme. karya-karya sastra yang pernah dikaji menggunakan kajian ekokritik pascakolonial, baik di Indonesia maupun di luar Indonesia . arya fiksi India berbahasa Inggri. Kata kunci: ekokritik pascakolonial, kajian posthumanisme, lingkungan PENDAHULUAN Isu tentang lingkungan menjadi isu yang banyak dibahas dalam berbagai bidang. Bahkan, menjadi topik utama dalam berbagai penelitian. Hal ini sebagaimana diungkapkan Buell . 5, p. bahwa lingkungan menjadi perhatian publik yang semakin menonjol dan menjadi topik utama penelitian di bidang ilmu sains, ekonomi, hukum, dan kebijakan publik serta bidang humaniora tertentu, terutama sejarah dan etika. Penelitian atau kajian lingkungan dalam bidang ilmu sastra dikenal dengan ekokritik sebagaimana diungkapkan Garrard . 4, p. istilah studi sastra-lingkungan memiliki beberapa istilah lain yang dapat dipilih secara bebas oleh environmentalist seperti kritik lingkungan, studi hijau, dan ekopoetika tetapi yang paling dikenal adalah ekokritik. Barry . 2, p. mengemukakan bahwa ekokritik sebagai sebuah konsep pertama kali muncul pada akhir 1970-an, pada pertemuan-pertemuan WLA (Asosiasi Sastra Barat, sebuah badan yang bidang minatnya adalah sastra Amerika Bara. Sementara itu. Glotfelty . 6, p. menyatakan bahwa istilah ekokritik mungkin pertama kali diciptakan pada tahun 1978 oleh William Rueckert dalam esainya AuLiterature and Ecology: An Experiment in EcocriticismAy. Pada tahun 1980 muncul artikel yang menerapkan ekokritik dalam karya sastra yang berkaitan dengan alam dan masalah Pada awal 1990-an, ekokritik banyak digunakan sebagai pendekatan dalam penelitian sastra, khususnya di Amerika (Garrard, 2. Dari sudut pandang akademisi, ekokritik didominasi oleh Association for the Study of Literature and the Environment (ASLE), sebuah asosiasi profesional yang dimulai di Amerika tetapi sekarang memiliki cabang yang signifikan di Inggris dan Jepang. Asosiasi ni menyelenggarakan konferensi reguler dan menerbitkan jurnal yang mencakup analisis sastra, penulisan kreatif, dan artikel tentang pendidikan lingkungan dan aktivisme. Banyak karya awal ekokritik dicirikan oleh minat eksklusif pada puisi Romantis, narasi hutan belantara dan penulisan alam, tetapi dalam beberapa tahun terakhir ASLE telah beralih ke ekokritik budaya yang lebih umum, dengan studi penulisan ilmiah populer, film. TV, seni, arsitektur dan artefak budaya lainnya seperti taman hiburan, kebun binatang, dan pusat perbelanjaan (Garrard, 2004, p. Kajian ekokritik sejak kemunculannya di Amerika dan sekitarnya dianggap lebih didominasi oleh Amerika Barat, orang-orang kulit putih, dan anglophone Ae penutur berbahasa Inggris Ae dan hanya terfokus pada teks-teks Barat (Murphy, 1. Selain itu, kajian ekokritik mengabaikan metodologi dan konteks pascakolonial (DeLoughrey, 2011. Bahkan kajian ekokritik gagal dalam memfaktorkan perbedaan budaya (Huggan dan Tiffin, 2007, p. serta mengabaikan kemanusiaan, kolonialisme, dan eksploitasi serta diskriminasi rasial (Isiguzo, 2017, p. Berbagai pendapat dan kritikan tersebut setidaknya melatarbelakangi kemunculan ekokritik pascakolonial. Bidang kajian multidisipliner ini pada awalnya diragukan (Slovic, 2007, p. v-vi. dan dipertentangkan sebagai sebuah konsep teori serta sulit untuk didefinisikan (Huggan, 2017, p. Hal ini karena masalah ideologis, perbedaan mendasar dalam pendekatan dan metodologi, dan perpecahan di antara para praktisi kedua teori tersebut. Masing-masing teori dikembangkan secara terpisah dari yang lain sambil berfokus pada perhatian khusus. Pascakolonialisme adalah antroposentris, dan melihat perpecahan permasalahan antara manusia dan ras, sementara ekokritik berfokus pada alam. Pascakolonialisme adalah teori dan konsep negasi yang mengeksplorasi dampak dan warisan imperialisme dan rasisme terhadap bekas jajahan dan budak, dan bagaimana melalui penemuan kembali kolonialisme, bekas jajahan masih bergantung pada masyarakat dan negara asing melalui hubungan ekonomi dan politik yang tidak merata . pa yang disebut neo-kolonialism. Pascakolonialisme mengabaikan sejarah panjang eksploitasi lingkungan bekas jajahan dan keprihatinan ekologis yang menopang, baik yang terjajah maupun yang menjajah (Isiguzo, 2017, p. Ekokritik, di sisi lain, adalah penemuan environmentalisme kawasan dunia utara . stilah lain yang lebih dikenal seperti negara-negara maju/dunia pertam. Ini menargetkan "peradaban materialistis . menjadikan manusia sebagai penjagal bumi" (Guha, 1989, . , berusaha memulihkan alam Eden dan mengekang eksploitasi yang sama. Namun, sebagaimana dibahas sebelumnya, ekokritik Augagal memfaktorkan perbedaan budayaAy dan mengabaikan kemanusiaan, kolonialisme, dan eksploitasi serta diskriminasi rasial (Huggan dan Tiffin, 2007, p. Alasan lain adalah adanya anggapan bahwa menggabungkan pascakolonialisme dan ekokritik bagi beberapa orang adalah tidak praktis. Klaim ini didasarkan pada asumsi bahwa pascakolonialisme berpusat pada manusia dan bukan alam/lingkungan, sedangkan ekokritik berpusat pada laki-laki kulit putih, sehingga kedua bidang tersebut saling bertentangan. Graham Huggan dan Helen Tiffin dalam Postcolonial Ecocriticism: Literature. Animals. Environment menyatakan bahwa klaim ini dapat dengan mudah dibalas dengan banyak contoh yang bertentangan. Mereka menyarankan bahwa "jalan keluar dari kekacauan ini adalah dengan bersikeras bahwa subjek pascakolonialisme yang tepat adalah kolonialisme, dan untuk mencari dasar-dasar kolonial/imperial dari praktik-praktik lingkungan, baik dalam masyarakat 'penjajah' maupun masyarakat 'terjajah' saat ini dan masa laluAy. Bagi Huggan dan Tiffin, menggabungkan pascakolonialisme dan ekokritik adalah kenyataan bahwa penindasan lingkungan terjadi karena ideologi kolonial dan imperial yang sama, yang menindas manusia . 7, p. EKOKRITIK PASCAKOLONIAL: KAJIAN POSTHUMANISME BERORIENTASI LINGKUNGAN Ekoritik pascakolonial gelombang pertama yang muncul setelah publikasi Intenational Source Book karya Murphy, dalam hal waktu dan pendekatan, melampaui konsep sekadar yang memperluas jangkauan ekokritik ke teks-teks non-Barat dan mulai menginterogasi apa artinya, secara politik dan budaya, membaca tulisan alam dan karya sastra lingkungan oleh penulis minoritas atau pascakolonial. Para kritikus ini bergulat dengan pertanyaan apakah bidang-bidang yang tumpang tindih ini benar-benar kompatibel secara intelektual. Ekokritik pascakolonial gelombang kedua mencerminkan titik awal yang berbeda dari tulisan gelombang pertama. Dalam tiga atau empat tahun terakhir, ekokritik pascakolonial telah mencerminkan rasa percaya diri yang lebih besar sebagai sebuah bidang kajian. Pemikir saat ini telah mendapat manfaat dari perdebatan gelombang pertama dan sekarang dapat mengembangkan bidang kajian mereka dari premis bahwa ekokritik dan pascakolonialisme tidak antagonistik, melainkan dialogis (Mount, 2012, p. Huggan dan Tiffin berhasil mengajukan pertanyaan tentang kategori alam, budaya, manusia, dan non-manusia secara bersamaan. "Definisi 'kemanusiaanAoAy menurut mereka memang, "tergantung - dan masih bergantung - pada kehadiran non-manusia, yang tidak beradab, buas, hewan . ihat, misalnya. Derrida, 1. Dengan demikian, kritik mereka tidak hanya menunjuk pada asal-usul spesifik dari pandangan dunia lingkungan tertentu, tetapi juga mengaitkannya dengan kritik pascakolonial terhadap kekuasaan. Huggan dan Tiffin melihat pascakolonialisme dan ekokritik bersatu: berbicara kebenaran kepada AuNamun, pascakolonialsme hijau,Ay menurut mereka. Autidak hanya kritis. juga perayaan. Baik pascakolonialisme maupun ekokritik, setidaknya sebagian, merupakan wacana utopis yang ditujukan untuk memberikan kemungkinan konseptual bagi transformasi material duniaAy . Mereka berpendapat bahwa konsep keadilan adalah mesin di balik keinginan untuk transformasi ini. Dalam mendefinisikan konsep keadilan yang bekerja dalam karya sastra lingkungan pascakolonial, mereka menyatakan: Autidak ada keadilan sosial tanpa keadilan lingkungan. dan tanpa keadilan sosial Ae untuk semua makhluk ekologis Ae tidak ada keadilan sama sekaliAy. alam Mount, 2012, p. Analisis Huggan dan Tiffin tersebut berkaitan dengan kajian posthumanisme sebagaimana penelitian disertasi yang dilakukan oleh Dana C. Mount yang mengaitkan ekokritik pascakolonial dengan posthumanisme. Westling . alam Mount, 2012, p. mencatat sejumlah pemikir pascamodern yang karyanya telah berkontribusi pada posthumanisme, termasuk Jacques Derrida. Jean-Francois Lyotard. Donna Haraway, dan Cary Wolfe. Untuk tujuan ekokritik, karya Derrida. Haraway dan Wolfe mungkin paling menarik, karena karya mereka secara langsung berhubungan dengan bidang-bidang seperti studi hewan yang sudah tumpang tindih dengan ekokritik dan studi lingkungan. Kontribusi yang lebih baru untuk pemikiran posthumanis berorientasi lingkungan datang melalui artikel berpengaruh yang ditulis oleh Dipesh Chakrabarty yang menguraikan dampak "Efek Al Gore"Aiartinya, pengakuan atas peran manusia dalam perubahan iklimAipada studi sejarah. Konsep ini merupakan paradigma baru untuk membaca karya sastra lingkungan. Eksplorasi posthuman mempertanyakan sekaligus menantang kategori manusia. Ini menanyakan, misalnya, apakah manusia benar-benar merupakan kategori yang terpisah dari hewan, atau dari alam. Investigasi terhadap posthuman mengungkapkan dasar-dasar kotor dari peran kita yang dibuat dengan hati-hati sebagai makhluk yang otonom dari dunia tempat kita berada. Pergeseran pemikiran ini adalah tanda pemikiran posthumanis. Kontribusi Haraway pada rekonseptualisasi pembagian manusia/hewan tidak dapat dilebih-lebihkan. Dari karya awalnya tentang primatologi hingga esainya tentang anjing dan AuCyborg ManifestoAy-nya yang terkenal. Haraway telah menyusun teori kekerabatan antara manusia dan hewan non-manusia yang memperhitungkan dinamika kekuasaan dan yang mengedepankan konsep keadilan sosial yang luas. Fokus Haraway pada primata diilhami oleh posisi unik mereka sebagai makhluk "yang menurut cerita ilmiah dan populer barat berada di perbatasan antara alam dan budaya". Adapun Wolfe lebih berfokus pada manusia politik daripada mode ilmiah itu sendiri. Dia melihat sosok humanis liberal sebagai penghalang hubungan kita dengan hewan: Au'manusia' dicapai dengan melarikan diri atau menekan tidak hanya asal-usul hewannya di alam, biologis, evolusioner, tetapi lebih umum dengan melampaui ikatan materialitas dan perwujudan sama sekali. Ay(Mount, 2012, pp. 12Ae. Esai Chakrabarty "The Climate of History: Four Theses" memperkenalkan gagasan Anthropocene, sebuah zaman geologis "baru" yang mencerminkan dampak pascaindustri yang parah dari manusia di planet ini, kepada audiens studi budaya. Esai ini merupakan upaya untuk membaca budaya melalui lensa ilmu iklim. Apa yang unik bagi Chakrabarty tentang pendekatan ini adalah bahwa ilmu iklim memajukan konsep waktu baru yang panjang dan pendek. Untuk mengukur perubahan iklim secara komparatif, seseorang harus berpikir dalam kerangka waktu geologis. Untuk memahami sumber perubahan iklim, seseorang harus berpikir dalam kerangka waktu manusia. Antroposen adalah cara yang berguna untuk mendamaikan masa-masa ini karena menempatkan kisah manusia dalam pandangan panjang sejarah geologis. manusia ditugaskan untuk suatu zaman. Sebaliknya, jika dinyatakan dengan benar, manusia telah menciptakan zaman karena dampak kita yang tidak disengaja pada suhu bumi. Namun, inti dari argumen Chakrabarty adalah karena konsep Antroposen memainkan pandangan sejarah yang lebih panjang ini . ang mendahului manusia, setidaknya dalam hal menyediakan analisis suhu komparati. , kita perlu mengganti kategori "manusia" dengan "spesies". (Mount, 2012, p. Kajian ekokritik pascakolonial dengan perspektif posthumanisme dapat diaplikasikan pada karya sastra, baik novel, cerpen, pusi, maupun drama yang mengangkat isu ekokritik pascakolonial dan posthumanisme. Saat ini, karya sastra yang sudah dianalisis menggunakan kajian dan perspektif tersebut lebih banyak dalam bentuk genre prosa. Hal ini sebagaimana yang telah dilakukan oleh Dana C. Mount dalam disertasinya yang menganalisis novel-novel penulis India yang sudah diterjemahkan dalam bahasa Inggris, di antaranya novel Kamala Markandaya yang berjudul Nectar in Sieve, cerita adaptasi Amitav Ghosh dan Salman Rushdie. Selain itu, novel yang ditulis oleh penulis Jamaika-Amerika. Michelle Cliff, yang berjudul No Telephone to Heaven dan novel The Pickup yang ditulis oleh penulis Afrika Selatan. Nadine Gordimer. Penelitian lain yang menggunakan kajian ekokritik pascakolonial dengan perspektif posthumanisme belum dieksplorasi lebih jauh. Akan tetapi, analisis/kajian karya sastra yang menggunakan kajian ekokritik pascakolonial sudah banyak dilakukan, tidak hanya di luar Indonesia tetapi juga di Indonesia pun ada. Karya-karya di luar Indonesia lebih banyak mengkaji novel-novel dengan penulis dari India yang cukup dikenal di antaranya Arundhati Roy. Amitav Ghosh. Kamala Markandaya, dan lain-lain. Adapun karya-karya sastra Indonesia yang pernah dianalisis menggunakan kajian ekoritik pascakolonial di antaranya novel Hana Rambe yang berjudul Mirah dari Banda dan Aimuna dan Sobori, novel Yuni Nurmalia yang berjudul Anak Bakumpai Terakhir, dan lain-lain. SIMPULAN Kemunculan kajian ekokritik sejak kemunculannya di Amerika dan sekitarnya disinyalir lebih didominasi oleh Amerika Barat, orang-orang kulit putih, dan anglophone Ae penutur berbahasa Inggris Ae dan hanya terfokus pada teks-teks Barat (Murphy, 1. Selain itu, kajian ekokritik mengabaikan metodologi dan konteks pascakolonial (DeLoughrey, 2011, p. Bahkan kajian ekokritik gagal dalam memfaktorkan perbedaan budaya (Huggan dan Tiffin, 2007, p. serta mengabaikan kemanusiaan, kolonialisme, dan eksploitasi serta diskriminasi rasial (Isiguzo, 2017, p. Perkembangan ekokritik pascakolonial gelombang pertama yang muncul setelah publikasi Intenational Source Book karya Murphy, dalam hal waktu dan pendekatan, melampaui konsep sekadar yang memperluas jangkauan ekokritik ke teks-teks non-Barat dan mulai menginterogasi apa artinya, secara politik dan budaya, membaca tulisan alam dan karya sastra lingkungan oleh penulis minoritas atau pascakolonial. Ekokritik pascakolonial gelombang kedua mencerminkan titik awal yang berbeda dari tulisan gelombang pertama. Dalam tiga atau empat tahun terakhir, ekokritik pascakolonial telah mencerminkan rasa percaya diri yang lebih besar sebagai sebuah bidang kajian. Pemikir saat ini telah mendapat manfaat dari perdebatan gelombang pertama dan sekarang dapat bidang kajian mereka dari premis bahwa ekokritik dan pascakolonialisme tidak antagonistik, melainkan dialogis (Mount, 2012, p. Huggan dan Tiffin berpendapat bahwa konsep keadilan adalah mesin di balik keinginan untuk transformasi. Dalam mendefinisikan konsep keadilan yang bekerja dalam karya sastra lingkungan pascakolonial, mereka menyatakan: Autidak ada keadilan sosial tanpa keadilan lingkungan. dan tanpa keadilan sosial Ae untuk semua makhluk ekologis Ae tidak ada keadilan sama sekaliAy. alam Mount, 2012, p. Analisis tersebut berkaitan dengan kajian posthumanisme sebagaimana penelitian disertasi yang dilakukan oleh Dana C. Mount yang mengaitkan ekokritik pascakolonial dengan Westling . alam Mount, 2012, p. mencatat sejumlah pemikir pascamodern yang karyanya telah berkontribusi pada posthumanisme, termasuk Jacques Derrida. JeanFrancois Lyotard. Donna Haraway, dan Cary Wolfe. Untuk tujuan ekokritik, karya Derrida. Haraway dan Wolfe mungkin paling menarik, karena karya mereka secara langsung berhubungan dengan bidang-bidang seperti studi hewan yang sudah tumpang tindih dengan ekokritik dan studi lingkungan. Kontribusi yang lebih baru untuk pemikiran posthumanis berorientasi lingkungan datang melalui artikel berpengaruh yang ditulis oleh Dipesh Chakrabarty yang menguraikan dampak "Efek Al Gore"Aiartinya, pengakuan atas peran manusia dalam perubahan iklimAipada studi sejarah. Konsep ini merupakan paradigma baru untuk membaca karya sastra lingkungan. Eksplorasi posthuman mempertanyakan sekaligus menantang kategori manusia. Ini menanyakan, misalnya, apakah manusia benar-benar merupakan kategori yang terpisah dari hewan, atau dari alam. Penulisan tentang ekokritik pascakolonial berperspektif posthumanism dalam tulisan ini masih belum tereksplorasi secara komprehensif dan hal ini bisa dijadikan bahan untuk pengembangan penulisan berikutnya yang membahas tentang isu ini. DAFTAR PUSTAKA