Paradigma. Volume 13. Number 2, 111Ae120, 2024 Motif Ibu Single Parent Dalam Mendidik Kemandirian Anak di Desa Mejoyolosari Kecamatan Gudo Kabupaten Jombang Fitria Dewi Agustin1. Refti Handini Listyani2 Program Studi Sosiologi. Fakultas Ilmu Sosial dan Politik. Universitas Negeri Surabaya 20073@mhs. Abstract This research aims to determine the motives of single parent mothers in educating children's independence in Mejoyolosari Village. Gudo District. Jombang Regency. Using a qualitative approach, this research explores social problems with a qualitative descriptive approach. The qualitative research method was chosen because it focuses on in-depth understanding of naturally occurring phenomena, while a qualitative descriptive approach is used to describe problems in detail. The results of this research show that single parents who work full time tend to educate their children strictly. This stems from the condition of the mother who was tired after work. However, on the other hand, the level of independence of children of single parents who work full time tends to be more independent, not dependent on other people and more ready to move on to life in the future. If related to Alfred Schutz's theory, there are factors that influence the motive for this reason, namely because of the increasing erosion of children's morals nowadays which is caused by the low level of independence and also the desire of parents not to burden other people. There are two goals expected by single parents in educating children's independence, namely . Being able to complete tasks and obligations without involving other people, . Producing a generation that is tough and ready to face life in the future. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui motif ibu single parent dalam mendidik kemandirian anak di Desa Mejoyolosari. Kecamatan Gudo. Kabupaten Jombang. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif, penelitian ini mengeksplorasi masalah sosial dengan pendekatan deskriptif kualitatif. Metode penelitian kualitatif dipilih karena fokus pada pemahaman mendalam terhadap fenomena yang terjadi secara alami, sementara pendekatan deskriptif kualitatif digunakan untuk menggambarkan masalah dengan detail. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa ibu single parent yang bekerja Full time cenderung mendidik anaknya secara tegas. Hal tersebut berangkat dari kondisi sang ibu yang berada dalam kondisi lelah setelah bekerja. Namun di sisi lain, tingkat kemandirian anak dari ibu single parent yang bekerja secara Full time cenderung lebih mandiri, tidak bergantung pada orang lain dan lebih siap untuk melangkah pada kehidupan di masa depan. Jika dikaitkan dengan teori Alfred Schutz terdapat faktor yang mempengaruhi motif sebab tersebut yaitu karena semakin terkikisnya moral anak di zaman sekarang yang disebabkan oleh rendahnya tingkat kemandirian dan juga keinginan orang tua untuk tidak membebani orang lain. Ada dua tujuan yang diharapkan oleh ibu single parent dalam mendidik kemandirian anak yaitu . Dapat menyelesaikan tugas dan kewajiban tanpa melibatkan orang lain, . Mencetak generasi tangguh dan siap menghadapi kehidupan di masa yang akan datang. Keywords: Children's Independence. Single Parent Mothers. Motives Paradigma. Volume 13. Number 2, 111Ae120, 2024 Pendahuluan Menumbuh dan mengembangkan kemandirian anak memang merupakan tugas yang menantang, dimana tiap orang tua harus benar- benar memperhatikan berbagai faktor yang dapat mendorong ataupun menghambat proses tumbuh kembang anak. Salah satu contoh faktor penghambat proses tumbuh kembang anak yaitu ketika anak yang dimanjakan oleh orang tuanya, sehingga mereka menjadi malas untuk belajar sendiri. Kemandirian adalah saat anak telah memiliki kemampuan dan mampu mengemban tanggung jawab yang sesuai dengan perkembangannya pada usia tertentu. Selain itu, kemandirian pada anak juga mencakup kepercayaan diri yang berperan penting dalam membantu anak menjadi pribadi mandiri. Di Desa Mejoyolosari. Kecamatan Gudo. Kabupaten Jombang, terdapat orang tua tunggal yang bekerja dalam waktu yang lama sehingga disini ada ketimpangan waktu dalam mendidik anak. Kebanyakan orang tua tunggal yang bekerja dalam kurun waktu lama akan menjadikan anak lebih mandiri namun juga mengalami kesulitan dalam menjaga keseimbangan antara pekerjaan dan peran sebagai orang tua yang dapat mempengarui pendekatan pengasuhan anak. Orang tua tunggal atau ibu single parent harus kuat dalam memenuhi kebutuhan materi maupun kasih sayang buah hati mereka. Peran ganda ini menyebabkan seorang ibu tidak memiliki banyak waktu untuk anak-anak. Orang tua tunggal dihadapkan pada keterbatasan waktu yang menjadi penghambat dalam proses tumbuh kembang anak. Penanaman kemandirian pada anak merupakan hal sangat krusial dan sangat penting untuk diajarkan sejak anak menginjak usia dini. Hal tersebut berkaitan dengan kesibukan orang tua yang menimbulkan batasan waktu dalam mendidik buah hati mereka. Oleh karena itu, jika sifat kemandirian telah ditanamkan pada diri anak sejak dini, maka mereka akan tumbuh dan berkembang sebagai pribadi yang tangguh baik dari segi jasmani maupun rohaninya meskipun usia mereka sudah menginjak dewasa. Berdasarkan permasalahan diatas penulis tertarik mengambil topik penelitian untuk mengkaji bagaimana motif orang tua single parent dalam menanamkan sifat kemandirian pada anak. Judul yang diangkat oleh peneliti yaitu Au Motif Ibu Tunggal Dalam Mendidik Kemandirian Anak di Desa Mejoyolosari Kecamatan Gudo Kabupaten JombangAy. Kajian Pustaka 1 Penelitian Terdahulu Penelitian sebelumnya dilakukan oleh oleh Atik Yuliani. Achmad Hufad, dan Sardin yang membahas terkait penanaman nilai kemandirian pada anak studi kasus yang digunakan yaitu keluarga di RW 05 Kelurahan Sindangkasih Kecamatan Beber Cirebon. Penelitian ini dilakukan karena adanya variasi kemandirian pada anak di wilayah tersebut, yang disebabkan karena perbedaan pola asuh antar Tujuan dari penelitian ini adalah . mengetahui pola asuh yang diberikan pada anak usia dini Paradigma. Volume 13. Number 2, 111Ae120, 2024 dalam menanam kemandirian diri anak, . ingin mengetahui apakah ada keterlibatan orang lain dala proses penanaman kemandirian tersebut, . dan guna ingin mengetahui hambatan yang dihadapi orang tua saat menanam pola kemandirian pada anak. Hasil dari penelitian ini menyimpulkan bahwa, . pola asuh yang diberikan orang tua terhadap anak cenderung menggunakan pola suh demokratis. Pola asuh demokratis menjadikan anak cenderung memiliki kemandirian yang lebih dibandingkan dengan pola asuh lainnya. dari penelitian ini juga dijelaskan bahwa keterlibatan anggota keluarga lain dapat mempengaruhi tingkat kemandirian anak baik mempercepat maupun memperlambatnya. hambatan pada orang tua saat menamkan kemandirian pada anak disini dijelaskan bahwa terdapat faktor internal dan eksternal. Faktor internalnya yaitu anak enggan melakukan sesuatu jika bersama orang tua karena sikap manja anak terhadap orang tua. Sedangkan faktor eksternalnya yaitu seperti pergaulan yang buruk pada anak, anak akan lebih muda meniru hal baru dalam lingkungannya, sehingga dalam lingkungan yang kondusif sangat penting dalam pembelajaran anak usia dini. (Atik. Hufad. Sardin, 2. 2 Teori Fenomenologi Alfred Schutz Teori ini mengupas tentang tujuan dan sebab ibu single parent dalam mendidik kemandirian anak. Teori ini akan memberikan arah yang jelas terkait alasan sebagai dasar motif ibu single parent dalam mendidik kemandirian anak. Sebab setiap orang tentu memiliki alasan dan tujuan dalam melakukan sesuatu, sehingga pengetahuan terkait motif fenomena ibu single parent dalam mendidik kemandirian anak tergambar sebagai bentuk upaya orang tua dalam mewujudkan generasi tangguh di masa yang akan Dengan terwujudnya generasi tangguh, maka hal tersebut akan menjadi contoh dan akan mempengaruhi motif ibu single parent guna mendidik buah hatinya untuk lebih mandiri kedepannya. Berpijak pada pedoman teori Alfred Schutz, ada dua aspek pembahasan yang akan dikaji oleh peneliti, yaitu motif AusebabAy dan motif Autujuan. Ay Fenomenologi melibatkan pengetahuan ilmiah dengan pengalaman sehari-hari yang didasari oleh: Kesadaran, manusia adalah makhluk sosial, sehingga kesadaran dalam mengambil tindakan dan sikap terhadap kehidupan merupakan kesadaran sosial. begitu juga dengan orang tua yang harus memiliki kesadaran untuk menjalankan tugasnya sebagai pendidik utama bagi anak. Pengalaman, segala sesuatu yang dialami orang tua merupakan pengalaman. Hal tersebut menjadikan orang tua untuk lebih menanamkan positif pada pola pikir anak. Dan mengfilter hal-hal negatif di masa lalu yang tidak diperlukan dalam mendidik anak. Makna, karena menjadi ibu tunggal pola pengasuhan anak menjadi berbeda karena adanya peran ganda yang dilakukan oleh seorang ibu tunggal sehingga memiliki keterbatasan waktu dalam mendidik anak. Paradigma. Volume 13. Number 2, 111Ae120, 2024 Metode Penelitian Dalam penelitian kali ini peneliti mengaplikasikan metode penelitian kualitatif. Penelitian ini memiliki tujuan untuk mengeksplorasi dan memahami arti dari suatu masalah sosial yang dihadapi oleh suatu individu atau kelompok (Creswell, 2. Penelitian menggunakan metode penelitian kualitatif berfokus pada rumusan masalah dan tujuan penelitian serta bersifat sementara. Jenis penelitian ini ialah Field Research yang mempelajari tentang peristiwa atau fenomena yang terjadi secara alami. Dengan begitu pengumpulan data yang didapat di lapangan dapat diperoleh secara langsung dan sesuai dengan kenyataan yang terdapat di lokasi. Selain itu, dengan menggunakan Field Research peneliti dapat mencari data secara detail dengan melakukan wawancara pada narasumber terkait. Adapun pendekatan yang dipakai dalam penelitian ini ialah metode pendekatan deskriptif kualitatif. Hasil dan Pembahasan 1 Because Motif Ibu single parent sering kali dihadapkan pada tanggung jawab ganda, yakni sebagai pencari nafkah dan sebagai pengasuh utama anak-anak mereka. Motif karena . ecause motiv. mereka sering kali didorong oleh kebutuhan untuk memenuhi kebutuhan finansial keluarga. Mereka harus bekerja untuk memastikan bahwa anak-anak mereka memiliki cukup makanan, tempat tinggal, dan pendidikan yang layak. Dalam situasi ini, bekerja menjadi sebuah keharusan yang tidak bisa dihindari, dan ini adalah salah satu alasan utama di balik tindakan mereka. Ibu single parent juga sering kali didorong oleh kekhawatiran terhadap perkembangan moral dan kemandirian anak-anak mereka. Banyak ibu merasa bahwa di era modern ini, kemandirian anakanak semakin terkikis. Mereka khawatir anak-anak mereka tidak akan mampu menghadapi tantangan hidup jika tidak dididik untuk mandiri sejak dini. Rendahnya tingkat kemandirian anak-anak dapat mengarah pada berbagai masalah seperti ketidakmampuan dalam mengambil keputusan, kurangnya rasa tanggung jawab, dan ketergantungan pada orang lain. anak-anak mereka tumbuh menjadi individu yang kuat, mandiri, dan mampu mengatasi berbagai kesulitan hidup. Dalam mendidik kemandirian anak, ibu single parent juga harus mempertimbangkan keterbatasan waktu dan energi yang mereka miliki. Motif karena sering kali mencerminkan realitas sehari-hari yang penuh dengan tekanan. Dengan waktu yang terbatas, mereka harus mencari cara yang efektif untuk mendidik anak-anak mereka. Ini termasuk menetapkan aturan yang jelas, memberikan tanggung jawab yang sesuai dengan usia, dan mengajarkan anak-anak untuk membuat keputusan Paradigma. Volume 13. Number 2, 111Ae120, 2024 Ibu single parent juga harus beradaptasi dengan perubahan sosial dan teknologi yang cepat. Perubahan ini menambah kompleksitas dalam mendidik anak-anak. Motif karena juga mencakup kekhawatiran tentang bagaimana anak-anak mereka dapat menavigasi dunia digital dan sosial yang terus Ibu merasa perlu membekali anak-anak mereka dengan keterampilan dan pengetahuan yang relevan agar mereka bisa tetap mandiri dan bertanggung jawab dalam berbagai situasi. 2 In Order To Motive Konsep "in order to motive" dalam teori Schutz berfokus pada tujuan atau hasil yang diinginkan dari suatu tindakan. Ini berhubungan dengan apa yang diharapkan seseorang akan capai melalui tindakan yang diambilnya. Dalam konteks ibu single parent yang bekerja, motif ini sangat penting karena membantu kita memahami tujuan jangka panjang dan harapan mereka dalam mendidik anakanak mereka. Bagi ibu single parent, salah satu tujuan utama adalah memastikan anak-anak mereka tidak terlalu bergantung pada orang lain dalam menyelesaikan tugas sehari-hari. Mereka ingin anak-anak mereka belajar untuk mandiri, mampu mengurus diri sendiri, dan menyelesaikan masalah tanpa selalu meminta bantuan. Ini adalah keterampilan yang sangat penting untuk kehidupan dewasa, dan ibu single parent berusaha menanamkan nilai-nilai ini sejak dini. Ibu single parent memiliki tujuan untuk membantu anak-anak mereka tumbuh dan berkembang menjadi individu yang matang dan bertanggung jawab. Mereka menginginkan anak-anak mereka untuk memiliki rasa percaya diri dan kemampuan untuk mengambil keputusan yang baik. Dengan mendidik anak-anak untuk mandiri, mereka berharap anak-anak dapat menghadapi tantangan hidup dengan lebih baik dan tidak mudah terpengaruh oleh tekanan dari lingkungan sekitar. Motif "in order to" ini juga mencakup persiapan anak-anak untuk masa depan. Ibu single parent bekerja keras untuk memastikan anak-anak mereka siap menghadapi kehidupan yang penuh dengan ketidakpastian dan perubahan. Mereka ingin anak-anak mereka memiliki keterampilan yang dibutuhkan untuk berhasil dalam karir dan kehidupan pribadi. Ini termasuk kemampuan untuk beradaptasi, berpikir kritis, dan berinovasi. Dalam mendidik kemandirian anak-anak mereka, ibu single parent juga berusaha untuk memberikan contoh yang baik. Mereka ingin anak-anak mereka melihat dan meniru kerja keras dan dedikasi yang mereka tunjukkan dalam pekerjaan dan tanggung jawab keluarga. Dengan menjadi teladan yang baik, ibu berharap anak-anak mereka akan memahami pentingnya nilai-nilai seperti disiplin, tanggung jawab, dan ketekunan. Motif "in order to" juga melibatkan penciptaan lingkungan yang mendukung untuk perkembangan anak-anak. Ibu single parent sering kali harus berupaya keras untuk menyediakan sumber daya dan kesempatan yang diperlukan agar anak-anak mereka bisa belajar dan berkembang. Ini Paradigma. Volume 13. Number 2, 111Ae120, 2024 mungkin termasuk memastikan akses ke pendidikan yang baik, mendukung kegiatan ekstrakurikuler, dan memberikan dorongan emosional. Ibu single parent berharap bahwa dengan mendidik kemandirian anak-anak mereka, mereka dapat membangun hubungan yang lebih kuat dan sehat dengan anak-anak mereka. Dengan anak-anak yang lebih mandiri, ibu mungkin merasa lebih mampu berbagi tanggung jawab dan menikmati waktu berkualitas bersama, tanpa terlalu terbebani oleh tugas-tugas sehari-hari. Secara keseluruhan, motif "in order to" bagi ibu single parent yang bekerja adalah kombinasi dari tujuan untuk memastikan anak-anak mandiri, membantu mereka tumbuh dan berkembang menjadi individu yang matang dan bertanggung jawab, mempersiapkan mereka untuk masa depan, menjadi teladan yang baik, menciptakan lingkungan yang mendukung, dan membangun hubungan yang kuat. Semua ini menunjukkan komitmen mendalam mereka terhadap kesejahteraan dan kesuksesan anak-anak mereka. 3 Mendidik Kemandirian Bagi ibu single parent, kemandirian anak-anak juga berarti mereka tidak perlu bergantung pada orang lain seperti saudara atau tetangga. Situasi ini memberikan kebebasan lebih bagi ibu untuk mengatur waktu dan tanggung jawab mereka. Anak-anak yang mandiri mampu membantu dengan pekerjaan rumah tangga, menyelesaikan pekerjaan sekolah sendiri, dan bahkan merawat adik mereka, yang semuanya meringankan beban ibu dan memungkinkan mereka untuk fokus pada pekerjaan Dalam konteks analisis ini, terlihat bahwa ibu single parent yang bekerja memiliki motif kuat untuk mendidik kemandirian anak-anak mereka. Tekanan waktu dan tanggung jawab finansial sering kali menjadi pendorong utama. Dengan bekerja full-time, ibu tidak selalu memiliki waktu atau energi untuk mengurus setiap detail kehidupan sehari-hari anak-anak mereka. Oleh karena itu, mendidik kemandirian menjadi cara efektif untuk memastikan bahwa anak-anak tetap terawat dan berkembang dengan baik, meskipun ibu memiliki tanggung jawab lain yang menuntut perhatian mereka. Ibu single parent sering kali harus menghadapi tantangan tambahan dalam mendidik anak-anak Mereka harus menyeimbangkan pekerjaan dengan tanggung jawab rumah tangga, dan dalam banyak kasus, mereka melakukannya tanpa dukungan pasangan. Dalam situasi ini, kemandirian anakanak tidak hanya membantu mengurangi tekanan pada ibu, tetapi juga memperkuat hubungan keluarga dengan menciptakan lingkungan di mana setiap anggota keluarga berkontribusi dan saling mendukung. Mengajarkan kemandirian juga melibatkan memberikan anak-anak tanggung jawab yang sesuai dengan usia mereka dan memastikan mereka memiliki alat dan keterampilan yang diperlukan untuk Ini bisa mencakup segala hal mulai dari memasak makanan sederhana, mengatur jadwal belajar, hingga menangani situasi darurat kecil. Dengan bimbingan dan dukungan yang tepat, anak-anak dapat belajar untuk mengambil inisiatif dan merasa bangga atas kemampuan mereka sendiri. Paradigma. Volume 13. Number 2, 111Ae120, 2024 Kemandirian yang diajarkan oleh ibu single parent tidak hanya mempersiapkan anak-anak untuk menghadapi kehidupan sehari-hari, tetapi juga membantu mereka dalam mengembangkan rasa tanggung jawab terhadap diri mereka sendiri dan orang lain. Mereka belajar pentingnya kerjasama, empati, dan kepemimpinan, yang semuanya adalah kualitas penting untuk sukses dalam kehidupan pribadi dan profesional mereka di masa depan. Dalam analisis ini, ibu mendidik kemandirian guna anak tidak bergantung dengan orang lain seperti saudara maupun tetangga. terlihat bahwa Ibu single parent yang bekerja memiliki motif karena yang kuat terkait dengan tekanan waktu dan tanggung jawab finansial. 4 Ibu Single Parent yang Bekerja Pola Asuh Tegas Pola asuh tegas pada ibu single parent yang bekerja dapat dikaitkan dengan teori motif sebab dan motif tujuan menurut Schutz. Motif sebabnya adalah tekanan waktu dan tanggung jawab ganda yang dialami oleh ibu yang bekerja. Mereka mungkin merasa perlu untuk mengambil peran dominan dalam mendidik anak-anak mereka karena keterbatasan waktu dan energi. Motif tujuannya mungkin adalah untuk menjaga disiplin dan kemandirian anak-anak mereka dalam situasi yang sulit. Kesulitan dalam Mengambil Keputusan Anak-anak dari ibu single parent yang bekerja mengalami kesulitan dalam mengambil keputusan karena kurangnya partisipasi dalam proses pengambilan keputusan. Hal ini dapat terkait dengan teori motif sebab, di mana keputusan dibuat secara tegas oleh ibu karena keterbatasan waktu dan tanggung jawab yang dimilikinya. Motif tujuan dari pendekatan ini mungkin adalah untuk memastikan keamanan dan kesejahteraan anak- anak. Kurangnya Kasih Sayang Kurangnya waktu yang dihabiskan bersama anak-anak oleh ibu single parent yang bekerja dapat menyebabkan kurangnya kasih sayang yang diterima oleh anak-anak. Ini dapat dilihat dari sudut pandang teori motif tujuan, di mana ibu mungkin memiliki motif tujuan untuk menyediakan kebutuhan finansial dan materi anak- anak mereka, tetapi kurang memberikan perhatian pada kebutuhan emosional dan psikologis mereka. 5 Kemandirian Anak pada Ibu Tunggal yang Bekerja Waktu yang Disediakan untuk Anak Anak-anak yang diasuh oleh ibu tunggal yang bekerja lebih mandiri dalam melakukan tugas seharihari karena mereka harus belajar mengatasi beberapa hal sendiri saat ibu mereka bekerja. Hal ini dapat memengaruhi perkembangan kemandirian dan kemampuan mereka untuk mengambil inisiatif dalam kehidupan sehari-hari. Schutz menguraikan dua fase dalam menggambarkan tindakan manusia, yakni Paradigma. Volume 13. Number 2, 111Ae120, 2024 "Because of motive" dan "In order to motive". Dalam kasus pola asuh ibu tunggal, motif "Because of" mencakup upaya ibu untuk mendidik anak-anak mereka secara efektif, meskipun terbatas oleh keterbatasan waktu dan sumber daya. Mereka harus mengatur motif yang efisien untuk memastikan bahwa anak-anak mereka mendapatkan perhatian dan bimbingan yang cukup. Sementara itu, motif "In order to" mencakup tindakan masa depan orang tua yang diarahkan pada mendidik anak-anak mereka untuk masa depan yang lebih baik. Ini mencakup pengaturan waktu dengan efisien untuk menjalankan peran ganda sebagai pencari nafkah dan pendidik. Fenomenologi, yang merupakan landasan teori Schutz, menghubungkan pengetahuan ilmiah dengan pengalaman sehari- hari. Kesadaran sosial menjadi penting dalam konteks ini, di mana orang tua harus memiliki kesadaran akan tanggung jawab mereka dalam mendidik anak-anak mereka. Pengalaman orang tua, termasuk pengalaman sebagai ibu tunggal, membentuk pola pikir mereka dalam mendidik anak-anak dengan lebih baik. Selain itu, makna juga menjadi penting karena pola asuh ibu tunggal dapat berbeda karena adanya peran ganda yang mereka jalani, yang memengaruhi keterbatasan waktu mereka dalam mendidik anak- anak. Oleh karena itu, kesadaran, pengalaman, dan makna merupakan elemen penting dalam memahami bagaimana pola asuh ibu tunggal yang bekerja memengaruhi perkembangan anak-anak mereka Pemberian Kasih Sayang dan Perhatian Dalam konteks teori Alfred Schutz, pemberian kasih sayang dan perhatian oleh ibu yang bekerja full time dapat dipahami melalui konsep tindakan manusia yang terkait dengan motif dan tujuan. Meskipun terbatas oleh waktu dan energi, ibu yang bekerja full time tetap bertindak dengan motif yang sama, yaitu ingin memberikan yang terbaik bagi anak-anak mereka. Namun, dalam kenyataannya, keterbatasan sumber daya dan tekanan dari lingkungan sering kali menjadi hambatan dalam mencapai tujuan tersebut. Oleh karena itu, penting bagi masyarakat untuk memahami dan memberikan dukungan kepada ibu yang bekerja full time agar mereka dapat tetap memberikan kasih sayang dan perhatian yang memadai kepada anak-anak mereka. Dalam konteks teori Alfred Schutz, pemberian kasih sayang dan perhatian oleh ibu yang bekerja full time dapat dianalisis melalui konsep tindakan manusia yang terkait dengan motif dan tujuan. Schutz membagi tindakan manusia menjadi dua fase utama: "Because of motive" dan "In order to motive". Dalam konteks ini, ibu yang bekerja full time melakukan tindakan karena motif yang mengarah pada kebutuhan ekonomi dan tanggung jawab Mereka bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan keluarga mereka, termasuk memberikan kasih sayang dan perhatian kepada anak-anak mereka, meskipun dalam keterbatasan waktu dan energi yang dimiliki. Selanjutnya, dalam teori Alfred Schutz, penting untuk memahami bahwa setiap tindakan manusia memiliki alasan atau motif yang mendasarinya. Ibu yang bekerja full time melakukan tindakan untuk mencapai tujuan tertentu, seperti menyediakan kebutuhan finansial bagi keluarga. Namun, tekanan dari pekerjaan dan kebutuhan ekonomi sering kali menghasilkan stres dan kelelahan, yang Paradigma. Volume 13. Number 2, 111Ae120, 2024 dapat memengaruhi kemampuan mereka dalam memberikan perhatian yang memadai kepada anakanak. Pendekatan Pengasuhan Dalam konteks teori Alfred Schutz, pendekatan pengasuhan ibu yang bekerja dapat dianalisis melalui konsep tindakan manusia yang terkait dengan motif dan tujuan. Schutz menekankan bahwa individu bertindak dengan mempertimbangkan tujuan dan motif mereka dalam interaksi sosial. Oleh karena itu, ibu yang bekerja bertindak dengan tujuan untuk memberikan keseimbangan antara kemandirian dan dukungan kepada anak-anak mereka, sementara ibu yang bekerja full time bertindak karena motif yang mengarah pada kebutuhan ekonomi dan tanggung jawab keluarga. Dalam konteks teori Alfred Schutz, pendekatan pengasuhan ibu yang bekerja dapat dianalisis melalui konsep tindakan manusia yang terkait dengan motif dan tujuan. Schutz menekankan bahwa individu bertindak dengan mempertimbangkan tujuan dan motif mereka dalam interaksi sosial. Oleh karena itu, ibu yang bekerja bertindak dengan tujuan untuk memberikan keseimbangan antara kemandirian dan dukungan kepada anak-anak mereka. Mereka memiliki motif yang lebih fokus pada interaksi langsung dengan anak-anak mereka untuk membantu mereka tumbuh dan berkembang dengan baik. Ibu yang bekerja full time bertindak karena motif yang mengarah pada kebutuhan ekonomi dan tanggung jawab keluarga. Mereka merasa terpaksa untuk mencari pekerjaan yang memberikan penghasilan yang mencukupi untuk memenuhi kebutuhan keluarga, termasuk pendidikan dan kesehatan anak- anak. Motif ini dapat memengaruhi pendekatan pengasuhan mereka, karena mereka harus mengutamakan aspek-aspek praktis dalam merawat anak-anak mereka, seperti menyediakan pemenuhan kebutuhan dasar, daripada fokus pada pengembangan pribadi dan emosional anak-anak. Kesimpulan Berdasarkan analisis menggunakan teori Alfred Schutz tentang Sebab dan Tujuan anak-anak yang diasuh oleh ibu tunggal yang bekerja full time cenderung lebih mandiri dalam melakukan tugas sehari-hari. Hal ini disebabkan oleh keterbatasan waktu yang dihabiskan ibu untuk bekerja, sehingga anak-anak harus belajar mengatasi beberapa hal sendiri saat ibu mereka sedang bekerja. Teori Alfred Schutz menguraikan bahwa tindakan manusia memiliki motif dan tujuan, yang dalam konteks ini, ibu yang bekerja full time bertindak karena motif yang mengarah pada kebutuhan ekonomi dan tanggung jawab keluarga. Mereka mungkin merasa terbebani dengan tanggung jawab finansial dan pekerjaan mereka, sehingga memiliki sedikit waktu dan energi yang tersisa untuk memberikan perhatian penuh kepada anak-anak. Dalam konteks teori Alfred Schutz tentang fenomenologi sosial, kesadaran sosial menjadi penting dalam memahami perbedaan ini. Ibu yang bekerja full time memiliki kesadaran tentang peran dan tanggung jawab mereka sebagai orang tua. Pengalaman subjektif mereka dalam mengatasi Paradigma. Volume 13. Number 2, 111Ae120, 2024 keterbatasan waktu dan sumber daya akan memengaruhi persepsi mereka terhadap realitas sosial dalam mengasuh anak- anak. Dengan demikian. Hasil dari penelitian ini ialah ibu single parent yang bekerja Full time cenderung mendidik anaknya secara tegas. Hal tersebut berangkat dari kondisi sang ibu yang berada dalam kondisi lelah setelah bekerja. Namun di sisi lain, tingkat kemandirian anak dari ibu single parent yang bekerja secara Full time cenderung lebih mandiri dan tidak bergantung pada orang lain dan lebih siap untuk melangkah pada kehidupan di masa depan. Daftar Pustaka