2515 J-Abdi Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. No. 8 Januari 2026 MEMBANGUN KONEKSI DAN KOLABORASI GENERASI Z DAN ALPHA: PRAKTIK MANAJEMEN KELAS Oleh Iwan Perdana1. Yuliana Nurhayati2. Maulidha3 1Universitas Islam Kalimantan MAB Banjarmasin 2,3 STKIP Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin E-mail: 1Iwanperdana. ansmid@gmail. com, 2ana@stkipismbjm. 3maulidha@stkipismbjm. Article History: Received: 14-11-2025 Revised: 28-11-2025 Accepted: 17-12-2025 Keywords: Generation Z. Generation Alpha. Class Management. Connections. Collaboration Abstract: This community service activity aims to enhance the understanding and skills of teachers at SMK Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin in managing Generation Z and Alpha students through lecture-based instruction and interactive Participants comprised 23 teachers who attended a lecture on generational characteristics, pedagogical challenges, and principles of classroom management grounded in connection and collaboration, followed by interactive discussions to explore classroom experiences and how teachers address them. The evaluation results showed an increase in participants' understanding of identifying the learning needs of the new generation and in designing collaborative and valuable learning The combination of lecture methods and interactive discussions is effective in building awareness, critical reflection, and the preparation of contextual action plans. PENDAHULUAN Generasi Z dan Alpha merupakan generasi yang lahir dan tumbuh di era digital. Mereka memiliki karakteristik belajar yang menuntut pendekatan pedagogis yang lebih interaktif, kolaboratif, dan personal. Generasi Z lahir rentang tahun 2001 sampai dengan tahun 2010. Generasi Z atau penduduk asli era digital lahir di dunia digital dengan teknologi lengkap Personal Computer (PC), ponsel, perangkat gaming dan internet. Mereka menghabiskan waktu luang untuk menjelajahi web, lebih suka tinggal di dalam ruangan dan bermain online dari pada pergi keluar dan bermain di luar ruangan (Qurniawati & Nurohman, 2. Hasil penelitian Palley 2012 dalam Turner . memperlihatkan bahwa 60% responden Generasi Z memulai kehidupan sosial mereka secara online, 50% Generasi Z lebih menyukai berkomunikasi secara online dari pada berbicara langsung di kehidupan nyata, bahkan 70% Generasi Z lebih nyaman berkomunikasi dengan temannya secara online. Generasi Alpha didefinisikan sebagai individu yang lahir antara 2010 dan 2025, mewakili kohort generasi tertentu (Nil & Nil, 2. Terminologi dan rentang tanggal yang awalnya diusulkan oleh Santos dan Yamaguchi menekankan bahwa generasi ini terdiri dari mereka yang lahir setelah 2010 (Adnan, 2. Generasi ini mempunyai koneksivitas kuat terhadap teknologi yang menjadikannya dari separuh kehidupan mereka sehari-hari. Pada majalah Family Guide disebutkan bahwa generasi ini adalah generasi yang paling familier dengan http://bajangjournal. com/index. php/J-ABDI ISSN: 2797-9210 (Prin. | 2798-2912(Onlin. J-Abdi Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. No. 8 Januari 2026 teknologi digital dan generasi yang diakui paling cerdas dibandingkan dengan generasi Definisi guru menurut UU No. 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah. Kata-kata Auguru sebagai pendidik yang profesionalAy mengindikasikan bahwa tidak semua orang bisa diangkat atau ditempatkan tugas menjadi guru, karena guru adalah sebagai suatu profesi yang menuntut keahlian khusus dalam melaksanakan tugas dan perannya. Menurut Sidiq . , guru adalah orang yang memiliki penguasaan dalam bidang ilmu pengetahuan, keterampilan dan keahlian yang diperolehnya melalui pelatihan dan pendidikan tertentu. Pada praktiknya, guru sering kali menghadapi tantangan mengajar generasi Z dan generasi Alpha. Kegiatan ini dirancang untuk memberikan pemahaman konseptual sekaligus ruang refleksi praktis melalui metode ceramah dan diskusi interaktif agar guru SMK Islam Sabilal Muhtadin Banjrmasin dapat mengembangkan strategi manajemen kelas yang lebih adaptif dan berbasis koneksi dan kolaborasi. Sasaran Kegiatan Sasaran kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini adalah para Guru SMK Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin yang ingin mengimplementasikan strategi manajemen kelas berbasis koneksi dan kolaborasi yang adaptif, bernilai Islami, serta responsif terhadap karakteristik dan kebutuhan belajar Generasi Z dan Alpha, sehingga tercipta lingkungan pembelajaran yang aman, inklusif, dan mendorong prestasi siswa secara optimal. Masalah yang ingin dipecahkan Hasil identifikasi identifikasi karakteristik dan tantangan pembelajaran Generasi Z dan Alpha di SMK Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin, menunjukkan beberapa permasalahan mendasar dalam pengelolaan kelas, yaitu: Keterampilan guru SMK Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin harus lebih dioptimalkan dalam membangun koneksi emosional dan pedagogis dengan siswa Generasi Z dan Generasi alpha yang cenderung lebih responsif terhadap konten visual, media sosial, dan umpan balik instan, sehingga interaksi pembelajaran tatap muka sering kali kurang menarik dan bermakna. Minimnya strategi kolaboratif yang efektif dan adaptif dalam pembelajaran, padahal siswa Gen Z dan Alpha memiliki gaya belajar multitasking, pragmatis, dan lebih mudah terlibat melalui pendekatan partisipatif dan berbasis proyek. Kurang terintegrasinya nilai-nilai IslamiAiseperti rahmat . asih sayan. , syura . , al-Aoadl . , dan amar maAoruf nahi munkarAidalam praktik manajemen kelas modern, sehingga iklim belajar belum sepenuhnya mencerminkan identitas keislaman sekolah. Dengan memfokuskan pada tiga permasalahan tersebut, kegiatan pengabdian masyarakat ini diharapkan dapat memberikan solusi praktis dan kontekstual bagi guru dan kepala sekolah dalam mengelola kelas yang lebih efektif, bernuansa Islami, dan selaras dengan karakter generasi baru. ISSN: 2797-9210 (Prin. | 2798-2912(Onlin. http://bajangjournal. com/index. php/J-ABDI J-Abdi Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. No. 8 Januari 2026 METODE Materi Materi yang diberikan dimulai dengan memaparkan karakteristik Generasi Z dan Alpha, mengapa penting bagi guru untuk memahami gaya belajar, kebutuhan psikologis, serta tantangan pedagogis yang dihadapi dalam mengelola kelas di era digital. Selain itu, juga dilakukan diskusi interaktif mengenai pengalaman nyata guru dalam menghadapi dinamika pembelajaran generasi terkini. Perkembangan teknologi digital dan budaya internet telah membawa perubahan signifikan dalam perilaku belajar, pola komunikasi, dan harapan siswa terhadap proses Generasi Z dan Alpha sebagai kelompok yang lahir dan tumbuh di lingkungan digital yang matang menghadapi berbagai tantangan seperti ketergantungan pada gawai, kebutuhan validasi instan, serta kesulitan dalam konsentrasi dan interaksi sosial langsung. Guru di SMK Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin dituntut tidak hanya mampu menguasai materi ajar, tetapi juga membangun koneksi emosional dan mendorong kolaborasi aktif di dalam kelas. Metode Pelaksanaan Kegiatan dilaksanakan pada hari Selasa, 4 November 2025, pukul 09. 00 WITA, dan berakhir pukul 11. 30 WITA bertempat di aula pertemuan guru SMK Islam Sabilal Muhtadin Banrjarmasin. Pelaksanaan dibagi ke dalam tiga tahap menggunakan metode ceramah dan diskusi interaktif. Adapun tahapannya sebagai berikut Ceramah/pemaparan dan Diskusi Interaktif . Ae materi tentang: Karakteristik dan kebutuhan belajar Generasi Z & Alpha . Tantangan manajemen kelas di era digital . Prinsip koneksi dan kolaborasi dalam pembelajaran . Integrasi nilai Islam dalam praktik mengajar Guru berbagi pengalaman / kasus di kelas dan cara mengatasinya . HASIL Kegiatan pengabdian masyarakat ini berlangsung secara interaktif melalui tiga tahapan utama yang tidak hanya bersifat satu arah, tetapi juga memberikan ruang bagi partisipasi aktif, refleksi, dan pemecahan masalah. Hasil kegiatan dan pembahasan disajikan dalam satu bab hasil dan pembahasan. Gambar 1 Kepala SMK Islam Sabilal Muhtadin membuka kegiatan Komunitas Belajar (Kombe. http://bajangjournal. com/index. php/J-ABDI ISSN: 2797-9210 (Prin. | 2798-2912(Onlin. J-Abdi Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. No. 8 Januari 2026 Diskusi Interaktif Diskusi interaktif dipandu dengan pendekatan partisipatif, di mana guru tidak hanya mendengarkan tetapi juga aktif menyampaikan pengamatan, pertanyaan, dan ide berdasarkan empat pilar materi. Karakteristik dan kebutuhan belajar Generasi Z & Alpha Para guru menyepakati bahwa siswa mereka adalah digital natives yang mahir teknologi tetapi seringkali kesulitan mengelola perhatian dalam pembelajaran tatap muka. Terdapat kesepahaman kolektif bahwa siswa Generasi Z dan Alpha memiliki profil belajar yang berbeda secara fundamental. Sebagai digital natives, generasi ini memiliki keterampilan pencarian informasi yang luar biasa, kemampuan multitasking yang terlatih, dan preferensi yang kuat terhadap pembelajaran visual dan interaktif (Buzzetto-Hollywood & Quinn, 2. Penelitian menunjukkan bahwa siswa Generasi Z memiliki keakraban yang tinggi dengan teknologi umum seperti smartphone, pencarian web, media sosial, dan email (Kumar, 2. Tantangan manajemen kelas di era digital Tantangan yang paling sering dikemukakan guru adalah mengelola penggunaan gawai di kelas. Seorang guru mengatakan. AuSaya perhatikan mereka bisa menyimak video tutorial rumit di YouTube, tetapi sulit fokus pada saat saya menerangkan di depan kelas lebih dari 15 Ay Diskusi mengerucut pada kesimpulan bahwa kebutuhan belajar utama generasi Z dan Alpha adalah materi yang visual, interaktif, relevan dengan dunia digital, dan disertai umpan balik yang cepat. Penelitian menunjukkan bahwa tantangan ini bukan sekadar anekdot, melainkan fenomena sistemik yang didukung oleh data empiris. Pishchik dan Molokhina menemukan bahwa generasi Z menunjukkan tingkat gangguan perhatian yang tinggi, konsentrasi berkurang, dan ketergantungan tinggi pada permainan elektronik, dengan orientasi visual yang kuat dalam proses pembelajaran (Pishchik & Molokhina, 2. Konsep Google First dan haus validasi bukan lagi teori, tetapi realitas sehari-hari yang harus direspons dengan strategi yang tepat. Konsep ini bukan sekadar refleksi dari ketergantungan teknologi, melainkan indikasi dari perubahan fundamental dalam cara generasi ini membangun pemahaman dan kepercayaan diri mereka. Siswa generasi Z menunjukkan preferensi yang kuat untuk pembelajaran visual dan interaktif, dimulai dari era awal penggunaan smartphone dan perangkat pintar (Annu et al. , 2. Prinsip koneksi dan kolaborasi dalam pembelajaran Beberapa guru telah mencoba pendekatan kolaboratif seperti project-based learning, namun mereka mengaku terkendala manajemen waktu dan penilaian. Melalui diskusi, dihasilkan beberapa solusi praktis, seperti penggunaan platform kolaborasi sederhana (Google Docs. Canv. dan teknik pembentukan kelompok yang heterogen. Pentingnya koneksi emosional ditekankan oleh seorang guru wali kelas melalui kolaborasi dan patuh pada kesepakatan kelas. Hubungan yang kuat antara guru dan murid telah terbukti menjadi faktor kunci dalam menciptakan lingkungan pembelajaran yang positif dan produktif. Hilda . melaporkan bahwa koneksi emosional membantu menciptakan lingkungan yang aman dan nyaman di kelas: murid merasa didengarkan, dihargai, dan termotivasi untuk belajar. Koneksi ini juga dapat meningkatkan rasa percaya diri dan mengurangi kecemasan sosial pada murid, sehingga memfasilitasi partisipasi yang lebih aktif dan kolaboratif dalam proses ISSN: 2797-9210 (Prin. | 2798-2912(Onlin. http://bajangjournal. com/index. php/J-ABDI J-Abdi Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. No. 8 Januari 2026 Integrasi nilai Islam dalam praktik mengajar Nilai-nilai Islami menjadi kerangka operasional, bukan sekadar teori. Contoh, penerapan musyawarah . dalam menentukan deadline tugas kelompok, menegakkan keadilan . lAoad. dalam partisipasi dan penilaian, serta mengintegrasikan semangat amar maAoruf nahi munkar dengan saling mengingatkan tentang etika di kelas. Gambar 2 Narasumber Menjelaskan Materi Guru Berbagi Pengalaman Sesi ini menjadi inti dari kegiatan karena mengungkap realitas di lapangan dan strategi yang sudah diuji. Berikut adalah ringkasan pengalaman dan solusi yang dibagikan: Pengalaman Guru 1 Guru membagikan pengalamannya mengajar di kelas yang siswanya pasif dan tidak responsif dalam diskusi kelas. Untuk mengatasinya, dia menggunakan aplikasi Mentimeter. Siswa yang biasanya diam ternyata aktif memberikan jawaban melalui ponselnya. Hal ini membuka jalan bagi diskusi lebih lanjut. Pengalaman Guru 2 Guru menerapkan Auperjanjian kelompokAy di awal tugas, yang berisi pembagian peran spesifik yang disepakati bersama. Pada praktiknya, terjadi konflik dalam kelompok kerja akibat pembagian tugas yang tidak merata. Dia mengatasinya dengan cara melakukan checkin mingguan untuk memantau progres dan menengahi masalah sejak dini. Prinsip syura dan al-Aoadl diterapkan dalam proses ini. Pengalaman Guru 3 Guru mempraktikkan pendekatan Auassessment for learningAy. Tidak sekadar menilai produk akhir, tetapi juga merancang penilaian proses, seperti presentasi lisan singkat http://bajangjournal. com/index. php/J-ABDI ISSN: 2797-9210 (Prin. | 2798-2912(Onlin. J-Abdi Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. No. 8 Januari 2026 tentang langkah pengerjaan, portfolio draft, atau tugas refleksi tentang apa yang dipelajari. Gambar 3 Para Guru Memperhatikan Penjelasan Pemateri Dengan Seksama Kegiatan pengabdian masyarakat ini telah memberikan ruang refleksi dan pembelajaran kolektif bagi guru-guru SMK Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin dalam menghadapi tantangan pengelolaan kelas di era digital. Pembahasan berikut menyoroti temuan utama dari diskusi interaktif dan berbagi pengalaman terhadap praktik pedagogis ke depan. Kesadaran terhadap perubahan paradigma pembelajaran Hasil diskusi mengonfirmasi bahwa guru menyadari sepenuhnya pergeseran paradigma dari teacher-centered menuju student-centered learning. Karakteristik Generasi Z dan Alpha yang AuGoogle FirstAy dan haus validasi menuntut guru untuk tidak lagi menjadi satu-satunya sumber pengetahuan, tetapi sebagai fasilitator, motivator, dan desainer pengalaman belajar. Hal ini sejalan dengan tuntutan abad 21 di mana keterampilan kolaborasi, komunikasi, dan berpikir kritis menjadi kompetensi utama. Tantangan terbesar yang dihadapi guru bukan pada penolakan terhadap perubahan, tetapi pada kesiapan teknis dan psikologis untuk beradaptasi dengan kecepatan perubahan teknologi dan budaya siswa. Koneksi emosional sebagai fondasi disiplin dan kolaborasi Pengalaman guru menunjukkan bahwa manajemen kelas efektif berawal dari hubungan yang kuat antara guru dan siswa. Guru yang berhasil mengatasi kasus seperti konflik kelompok atau penyalahgunaan gawai umumnya adalah mereka yang telah membangun koneksi emosional dan rasa saling percaya. Praktik sederhana seperti mengenal nama siswa, menunjukkan ketertarikan pada minat mereka, dan memberikan umpan balik personal terbukti meningkatkan keterlibatan dan kepatuhan siswa terhadap kesepakatan kelas. Dalam konteks Islam, pendekatan ini merefleksikan kasih sayang yang menjadi dasar interaksi edukatif. Integrasi nilai Islam sebagai kerangka etis dalam ruang digital Pembahasan mengenai integrasi nilai Islam dalam praktik mengajar menghasilkan kesepakatan bahwa nilai-nilai IslamiAiseperti syura . , al-Aoadl . , dan amar maAoruf nahi munkarAidapat berfungsi sebagai kerangka etis dan operasional yang Misalnya, syura diterjemahkan dalam penyusunan classroom agreement secara ISSN: 2797-9210 (Prin. | 2798-2912(Onlin. http://bajangjournal. com/index. php/J-ABDI J-Abdi Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. No. 8 Januari 2026 partisipatif, sementara al-Aoadl diwujudkan dalam sistem penilaian kelompok yang Nilai-nilai ini menjadi penyeimbang dari budaya digital yang sering kali instan dan individualistik, sekaligus memperkuat identitas keislaman sekolah dalam setiap interaksi pembelajaran. Kolaborasi sebagai strategi mengatasi keterbatasan konsentrasi Pembelajaran kolaboratif dapat menjadi solusi terhadap masalah rendahnya konsentrasi Adanya tugas kelompok menuntut siswa berinteraksi, bernegosiasi, dan mempertanggungjawabkan peran masing-masing. Hal ini mengurangi kecenderungan untuk terdistraksi oleh gawai, karena perhatian mereka dialihkan pada tanggung jawab sosial dalam kelompok. Keterlibatan siswa dalam tugas kelompok menciptakan lingkungan pembelajaran yang secara fundamental berbeda dari pembelajaran individual. Penelitian menunjukkan bahwa ketika siswa bekerja dalam kelompok kecil dengan tujuan yang jelas, mereka mengalami peningkatan signifikan dalam fokus dan konsentrasi (Lin et al. , 2. Penelitian tentang digital distraction menunjukkan bahwa masalah utama dengan penggunaan gawai di kelas bukan hanya tentang self-regulation individual, tetapi tentang konteks sosial yang mendorong atau mencegah penggunaan tersebut (Mondal, 2. Dalam kelompok yang berfungsi dengan baik, peer pressure menjadi faktor positif yang secara alami membatasi penggunaan device yang tidak produktif. Namun, guru perlu merancang kolaborasi dengan tujuan yang jelas, peran yang terdiferensiasi, dan mekanisme evaluasi proses yang adil. Teknologi sebagai alat, bukan tujuan Para guru sepakat bahwa teknologi harus diposisikan sebagai alat bantu pedagogis, bukan tujuan utama pembelajaran. Penyalahgunaan gawai dan ketergantungan pada informasi instan terjadi ketika teknologi digunakan tanpa integrasi yang mendalam dengan tujuan pembelajaran. Evaluasi Kegiatan Berdasarkan hasil observasi dan catatan partisipatif selama kegiatan, evaluasi kualitatif dilakukan untuk mengukur dampak kegiatan terhadap pemahaman dan kesiapan guru dalam mengelola kelas di era digital. Evaluasi ini berfokus pada tiga aspek utama: partisipasi dalam diskusi, pengungkapan pengalaman nyata, dan kemampuan merumuskan solusi praktis. Tabel 1. Evaluasi Kualitatif Hasil Diskusi Interaktif dan Berbagi Pengalaman Aspek yang Dievaluasi Deskripsi Hasil Temuan Kunci Pemahaman karakteristik Gen Z & Alpha Guru secara kolektif menyadari perbedaan mendasar dalam profil belajar siswa. Siswa adalah digital natives yang mahir teknologi tetapi sulit mengelola perhatian dalam pembelajaran tatap Identifikasi tantangan manajemen kelas Guru mampu tantangan seperti pengelolaan gawai dan tekanan berinovasi. Tantangan utama: distraksi digital, kebutuhan umpan balik instan, dan beban administratif yang tinggi. http://bajangjournal. com/index. php/J-ABDI ISSN: 2797-9210 (Prin. | 2798-2912(Onlin. J-Abdi Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. No. 8 Januari 2026 Aspek yang Dievaluasi Deskripsi Hasil Temuan Kunci Penerapan prinsip koneksi & Guru merespons positif prinsip koneksi & kolaborasi dan mulai merancang strategi Solusi yang dihasilkan: penggunaan platform kolaboratif (Google Docs. Canv. dan penekanan pada koneksi Integrasi nilai Islam dalam praktik mengajar Guru melihat nilai Islam sebagai kerangka operasional, bukan sekadar teori. Penerapan syura dalam kesepakatan kelas, al-Aoadl dalam penilaian, dan amar maAoruf nahi munkar . Kemampuan Berbagi Pengalaman & Solusi Guru aktif berbagi kasus nyata dan strategi yang telah diujicobakan. Tiga pengalaman guru dibahas dengan solusi berbasis teknologi dan pendekatan humanis. Kesiapan Menerapkan Paradigma Baru Guru menyadari pergeseran dari teachercentered ke studentcentered. Guru bersedia berperan sebagai fasilitator, motivator, dan desainer pengalaman belajar. KESIMPULAN Kombinasi ceramah dan diskusi interaktif terbukti efektif dalam meningkatkan pemahaman kognitif dan keterampilan reflektif guru terkait manajemen kelas generasi baru. Pendekatan ini tidak hanya transfer pengetahuan, tetapi juga membangun komunitas belajar antar guru yang saling mendukung. Gambar 4 Pemateri dan Guru SMK Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin ISSN: 2797-9210 (Prin. | 2798-2912(Onlin. http://bajangjournal. com/index. php/J-ABDI J-Abdi Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. No. 8 Januari 2026 SARAN