Pharmaceutical and Biomedical Sciences Journal Volume 7. , 2025, 80-91 ________________________________________________________________ Pengaruh Beberapa Jenis Praperlakuan Terhadap Peningkatan Rendemen Hidrodistilasi Minyak Atsiri Gaharu Hendri Aldrat1*. Khoerunnisa 1. Karina Wandani 1. Supandi1,2. Yanis Musdja1,3 Department of Pharmacy. Faculty of Health Sciences. UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Jl. Kertamukti No. Pisangan. Ciputat. Tangerang Selatan 15419. Indonesia Department of Pharmacy. Faculty of Pharmacy and Science. Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. HAMKA, Jakarta 13460. Indonesia Department of Clinical and Community Pharmacy. STIKes Widya Darma Husada. Jl. Pajajaran No. Pamulang Barat. Kota Tangerang Selatan 15417. Indonesia *Corresponding author: hendri@uinjkt. Received: 20 May 2025. Accepted: 18 June 2025 Abstract: Agarwood essential oil . inyak atsiri gaharu or minyak gahar. has the potential to be developed as aromatherapy to help reduce stress, but its availability in nature is not abundant, so effective efforts are needed to get optimal results. Although various pretreatments before hydrodistillation are known to enhance the yield of agarwood oil, no comparative study using the same sample has been reported to date. This research aims to compare the yield and profile of agarwood oil compounds obtained from maceration, microwave, ultrasonic and fermentation using ragi tapai and ragi tempe pretreatments. The research was carried out by pretreatment extraction, distillation of agarwood powder, identification of essential oil compounds via Gas Chromatography Mass Spectrometry (GC-MS), and hedonic tests. The distillation results showed that pretreatment yeast tapai fermentation had the highest percentage yield of agarwood oil at 0. 050% followed by Fusarium sp fermentation. 036%), ultrasonic . 034%), microwave . 030%), maceration . 024%), control . 018%) and ragi tempe . 002%). Six compounds were consistently found in each sample, such as -agarofuran, neoisolongifolene, santalol, -guaiene, dihydrocolumellarin, and hexadecanoic acid. The most sesquiterpene compounds were obtained from pretreatment using tempeh yeast. Based on the research results, it is known that maceration, microwave, ultrasonic and fermentation pretreatments can increase the yield and influence the compound profile of agarwood oil. Keywords: fermentation. GC-MS, maceration, microwave. Fusarium sp. , pretreatment, ragi tapai, ragi tempe. Abstrak: Minyak atsiri gaharu . inyak gaharu, agarwood oi. memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai aromaterapi namun ketersediaannya di alam tidak melimpah sehingga diperlukan upaya yang efektif untuk mendapatkan hasil optimal. Salah satu cara untuk meningkatkan rendemen minyak gaharu adalah dengan memberikan perlakuan tertentu sebelum pelaksanaan hidrodistilasi yang disebut dengan praperlakuan . seperti perendaman, microwave, ultrasonik dan fermentasi menggunakan mikroba (Fusarium sp, ragi tapai, ragi temp. Sejauh ini belum ada laporan mengevaluasi penggunaan berbagai praperlakuan menggunakan sampel yang sama agar hasilnya dapat dibandingkan. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan rendemen dan profil senyawa minyak gaharu yang diperoleh dari praperlakuan maserasi, microwave, ultrasonik, dan fermentasi sebelum pelaksanaan hidrodislasi. Selanjutnya dilakukan identifikasi senyawa minyak atsiri melalui Gas Chromatography Mass Spectrometry (GCMS), serta uji hedonik. Hasil distilasi menunjukkan bahwa praperlakuan fermentasi ragi tapai memiliki persentase rendemen minyak gaharu tertinggi sebesar 0,050% diikuti fermentasi Fusarium sp. ,036%), penggunaan ultrasonik . ,034%), microwave . ,030%), maserasi . ,024%), kontrol . ,018%) dan ragi tempe . 002%). Ada enam senyawa yang konsisten muncul dalam semua perlakuan yakni -agarofuran, neoisolongifolene, -santalol, -guaiene, dihydrocolumellarin, hexadecanoic acid. Kandungan seskuiterpen yang terbanyak diperoleh dari praperlakuan 80 | A l d r a t e t a l Pharmaceutical and Biomedical Sciences Journal, 2025. Vol. menggunakan ragi tempe. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa praperlakuan maserasi, microwave, ultrasonik dan fermentasi dapat meningkatkan rendemen dan mempengaruhi profil senyawa minyak gaharu. Kata kunci: Fermentasi. GCMS, maserasi, microwave, minyak gaharu, praperlakuan . , ragi tapai, ragi tempe, ultrasonik DOI: 10. 15408/pbsj. PENDAHULUAN Gaharu merupakan produk hutan bukan kayu yang terjadi akibat adanya respon patologis dari pohon yang berada di dalam famili Thymelaeaceae yang bernilai tinggi sepanjang zaman. Indonesia merupakan salah satu dari beberapa negara penghasil dan pengekspor gaharu di samping negara lain seperti Thailand. Kamboja. Malaysia. Cina dan Vietnam (Lypez-Sampson and Page, 2. Aroma gaharu yang unik telah menjadikan resin wangi ini tidak hanya sebagai pewangi tetapi aroma bernilai budaya dan religi selama ribuan tahun sehingga kebutuhannya sinambung sepanjang zaman dan bahkan meningkat pada beberapa dekade ini. Eksplorasi yang besar-besaran dari sumber alamiah gaharu di hutan mengakibatkan ketersediaan gaharu ini semakin lama semakin langka. Tidak semua pohon liar ada gaharunya, oleh karena itu penebangan pohon bisa saja sia-sia dilakukan oleh pencari gaharu (Liu et al. , 2. Aroma wangi gaharu berasal dari resin yang dihasilkan akibat respon patologis genus Aquilaria. Gyrinops dan Gonystylus (LypezSampson and Page, 2. Pada awalnya, hanya Aquilaria yang masuk ke dalam CITES Appendix II, namun sekarang sudah masuk Gyrinops dan Gonystylus (Thompson. Lim and Turjaman, 2. Setiap tanaman yang masuk ke dalam list CITES tersebut perlu diawasi perdagangannya secara internasional agar tidak punah. Tidak hanya sebagai pewangi, gaharu tradisional dalam pengobatan Tiongkok kuno sebagai obat untuk gangguan pencernaan dan ginjal (Peeraphong, 2. Kajian aktivitas farmakologi juga telah dilaporkan yang menunjukkan bahwa kandungan benzylacetone dan jincoheremol dilaporkan memiliki efek penenang atau sedatif sehingga di masa mendatang dapat berpotensi sebagai kandidat obat psikotropika baru (Chen et al. , 2. Tidak hanya itu, efek antiinflamasi, antioksidan dan antibakteri dari gaharu juga telah dilaporkan pada penelitian terbaru (Xie et al. , 2. Berbagai efek farmakologis yang telah dilaporkan tentunya akan membuka pintu untuk penggunaan gaharu di masa mendatang sebagai salah satu pilihan terapi yang berdasarkan pada bukti-bukti ilmiah. Oleh karena nilai gaharu ini tinggi di pasaran dunia, maka diperlukan strategi agar kuantitas minyak atsirinya dapat meningkat selama proses hidrodistilasi. Strategi yang dikembangkan sejauh ini adalah adanya pretreatment atau praperlakuan sebelum proses pelaksanaan distilasi (Jok et al. , 2. Proses perendaman sampai berbulan-bulan adalah salah satu contoh praperlakuan klasik yang sudah dikenal ratusan tahun yang lalu (Hai. Truc and Trung, 2. Proses terkini yang dikembangkan untuk praperlakuan untuk meningkatkan rendemen minyak atsiri seperti ultrasonik dan microwave (Yu et al. Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa penambahan Fusarium sp. (Hardiansyah. Afghani and Arreneuz, 2. , ragi tapai (Fauziah. Satria and Yuniarti, 2. Rhizopus sp. (Jabbar. Jayuska and Burhanuddin, 2. ke dalam serbuk gaharu ternyata dapat merubah komponen kimiawinya setelah difermentasi dibandingkan dengan kontrol. Praperlakuan terhadap gaharu menggunakan microwave sebelum hidrodistilasi telah dilakukan oleh penelitian sebelumnya pada daya 800 W (Radzi and Kasim, 2. dan 300 W oleh tim kami (Adelia, 2. selama masing-masing tiga menit dapat meningkatkan rendemen dari hidrodisilasi. Akan tetapi perbedaan sampel gaharu tentu saja akan memengaruhi jumlah rendemen minyak gaharu. Sejauh ini belum dilaporkan bagaimana hasilnya jika praperlakuan menggunakan microwave, ultrasonik dan mikroba digunakan pada satu jenis sampel saja sehingga memudahkan untuk evaluasi karakteristik komponen dan rendemennya. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan efek dari perbedaan proses praperlakuan sebelum pelaksanaan hidrodistilasi serbuk gaharu terhadap rendemen minyak 81 | A l d r a t e t a l Pharmaceutical and Biomedical Sciences Journal, 2025. Vol. gaharu yang dilanjutkan dengan analisa perbandingan komponen minyak gaharu menggunakan GCMS. Tidak hanya itu, uji hedonik juga dilakukan untuk mengetahui apakah perbedaan proses praperlakuan memberikan aroma yang berbeda terhadap responden. METODE 1 Bahan dan peralatan Bahan yang digunakan pada kajian ini adalah gaharu mutu kemedangan yang telah diserbuk berasal dari penyuling dan eksportir gaharu di Desa Bukit. Kabupaten Banyuasin. Sumatera Selatan pada bulan Januari 2023. Media PDA (Merc. dan PDB (Himedi. steril disiapkan mengikuti prosedur standar pada kemasannya. Fusarium sp. diperoleh dari Balittro Bogor, ragi tapai . erk Kereta Kencan. dan ragi tempe . erk Raprim. diperoleh dari pedagang di Pasar Ciputat. Tangerang Selatan, air untuk perendaman dan penyulingan digunakan AquaTM. Bahan-bahan pelarut seperti metanol, etanol digunakan kualitas p. a atau HPLC grade dari Merck Millipore. Peralatan yang digunakan adalah timbangan berbagai ukuran, microwave (Cosmo. , ultrasonik (Elmasonic S100H). Clevenger Apparatus set yang dimodifikasi, pH meter (Sartorius PB-. , mantel pemanas (Barnstead Electrotherma. , berbagai ukuran vial dan peralatan gelas lainnya, sentrifus (Eppendrof 5417R), aneka jenis tube . ,5 Ae 1,5 mL). GCMS (Agilent Technologies 7890A dan 5975 C). GCMS dijalankan dengan kondisi mengikuti penelitian sebelumnya (Defiza et al. , 2. 2 Persiapan sampel Sampel gaharu yang diperoleh dari eksportir gaharu dihaluskan ditimbang masing-masing 500 gram dan menggunakan volume total 2,5 liter air untuk setiap perlakuan dalam botol berwarna kuning tua. Sampel dibagi menjadi enam kelompok yang masing-masing kelompok terdiri dari dua kali percobaan . 3 Praperlakuan sampel Sampel dibagi menjadi enam kelompok yang masing-masing kelompok terdiri dari dua kali percobaan . Adapun pembagian kelompoknya adalah kelompok kontrol (GK), praperlakukan maserasi (GM), praperlakuan menggunakan microwave (GMV), praperlakuan menggunakan ultrasonik (GUS), praperlakuan fermentasi menggunakan Fusarium sp. (GFU), praperlakuan fermentasi menggunakan ragi tempe (GTE), praperlakuan fermentasi menggunakan ragi tapai (GTA). Sampel kontrol (GK) hanya direndam semalaman sebelum dilakukan hidrodistilasi. Kontrol (GK) Sampel direndam dengan air semalam, lalu pada esok pagi sampel tersebut disuling menggunakan Clevenger Apparatus selama 24 jam. Minyak atsiri yang ada pada distilat dipisahkan dan disimpan dalam wadah kedap tertutup cahaya untuk selanjutnya dianalisa. Praperlakuan maserasi (GM) Serbuk gaharu direndam dengan air selama 4 minggu pada suhu ruang. Selanjutnya dilakukan hidrodistilasi mengikuti protokol selanjutnya pada artikel ini. Praperlakuan menggunakan microwave (GMV) Serbuk gaharu direndam dengan air dimasukkan ke dalam microwave dan diberikan daya 800 kW selama 3 menit dan diulangi 3 kali. Selanjutnya didinginkan dan disimpan selama 4 minggu sebelum dilakukan hidrodistilasi. 82 | A l d r a t e t a l Pharmaceutical and Biomedical Sciences Journal, 2025. Vol. Praperlakuan menggunakan ultrasonik (GUS) Serbuk gaharu dimasukkan ke dalam gelas kimia kemudian dilakukan ultrasonikasi dengan frekuensi 44-48 KHz, selama 30 menit pada suhu 30EE diberi kode GUS. Kemudian dipindahkan ke dalam botol maserasi, disimpan selama 4 minggu pada suhu kamar sebelum dilakukan hidrodistilasi (GUS). Praperlakuan fermentasi dengan Fusarium sp. (GFU) Biakan Fusarium sp. diperoleh dari Bapak Dr. Soekamto. Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat (BALITTRO) Bogor. Selanjutnya biakan jamur itu digoreskan ke cawan Petri yang berisi media PDA dan diinkubasi selama 5 hari pada suhu ruang. Kemudian, inokulan tersebut dipindahkan ke 100 mL media PDB dan dikultur selama 48 jam dengan kecepatan 150 rpm pada suhu ruang. Setelah itu, semua kultur dimasukkan ke dalam botol kaca gelap yang telah berisi 250 gram serbuk kayu gaharu dan diisi air sampai hampir penuh dan dilakukan fermentasi selama empat minggu pada suhu ruang (Hardiansyah. Afghani, & Arreneuz, 2. Praperlakuan menggunakan ragi tempe (GTE) Serbuk gaharu direndam dengan air ditaburi dengan ragi tempe sebanyak 50 gram . % dari berat sampe. (Hardiansyah. Afghani and Arreneuz, 2. , diaduk rata dan kemudian disimpan dalam keadaan tertutup selama 4 minggu pada suhu kamar. Praperlakuan menggunakan ragi tapai (GTA) Serbuk gaharu direndam dengan air ditaburi dengan ragi tapai sebanyak 50 gram . % dari berat sampe. (Jabbar. Jayuska and Burhanuddin, 2. , diaduk rata kemudian disimpan dalam keadaan tertutup selama 4 minggu pada suhu kamar. 3 Pengukuran pH Nilai pH diperoleh dari pengukuran pH air rendaman sampel pada minggu ke 0 sampai ke 4 tiap-tiap Pengukuran dilakukan dengan menggunakan pH meter (Jok. Che Radzi, & Ku Hamid, 2. 4 Penyulingan serbuk gaharu Penyulingan dengan metode hidrodistilasi dilakaukan setelah empat minggu dengan menggunakan Clevenger apparatus selama 24 jam. Kemudian diukur rendemen setiap perlakuan setelah dipisahkan dari air. Organoleptik minyak gaharu diamati dan dicatat sebagai data (Huda et al. , 2. 5 Analisa komponen penyusun minyak gaharu dengan GCMS Komponen-komponen yang ada pada minyak gaharu merupakan komponen yang mudah menguap, oleh karena itu untuk analisanya digunakan GCMS. Sejumlah 1L minyak gaharu digunakan untuk analisis dengan kondisi peralatan sebagaimana dideskripsikan pada penelitian sebelumnya (Umar et al. , 2. 6 Uji hedonik Uji hedonik dilakukan terhadap 40 panelis, baik panelis tidak terlatih maupun panelis terlatih . enjual parfu. , dipilih secara acak, laki-laki atau perempuan berusia 17-50 tahun (Surjanto et al. , 2. Semua minyak atsiri hasil hidrodistilasi di atas . da tujuh jenis termasuk kontro. diujikan ke panelis untuk dicium aromanya. Uji hedonik ini telah mendapatkan persetujuan Komite Etik (Ethical Approva. FIKES UIN Syarif Hidayatullah no. Un. 01/F. 10/KP. 1/KE. SP/ 10. 007/2023 sebelum dilakukan kepada panelis. 83 | A l d r a t e t a l Pharmaceutical and Biomedical Sciences Journal, 2025. Vol. Uji hedonik dilakukan dengan meminta panelis mencium aroma minyak gaharu yang diberikan kepada mereka dan kemudian respon kesukaan mereka terhadap aroma tersebut diukur menggunakan skala Likert 1-5 dari sangat tidak suka sampai kepada sangat suka sesuai dengan kriteria yang ditetapkan oleh penelitian sebelumnya (Surjanto et. , 2. Nilai signifan dari data tersebut diuji dengan analisis univariat dan kemudian diteruskan dengan uji Post Hoc Duncan untuk mencari tahu sampel yang disukai oleh responden. Analisis ini dikerjakan dengan perangkat lunak SPSS versi 23. Batas penolakan pada skala numerik O 3, yaitu sejauh mana sampel dianggap tidak disukai oleh panelis (Surjanto et al. HASIL DAN DISKUSI Hasil pengamatan yang dilakukan terhadap minyak gaharu yang dihasilkan selama penelitian ini menunjukkan bahwa minyak gaharu yang dihasilkan berorama khas kayu, berwarna dari kecoklatan sampai kehijauan. Minyak gaharu yang mengalami proses praperlakuan selama 4 minggu umumnya beraroma sedikit asam dibandingkan dengan direndam semalam lalu difermentasi (GK). Aroma itu segera menghilang setelah dioleskan beberapa menit. Aroma setelah itu tercium wangi sebagaimana layaknya aroma minyak gaharu. pH air rendaman sampel Pengukuran pH perendaman sampel gaharu dilakukan pada minggu 0, 1, 2, 3 dan 4 setelah sampel dimaserasi atau difermentasi kecuali sampel kontrol (GK). Hasil pengukuran pH yang diperoleh dari tiga kali pengukuran berulang ditunjukkan pada tabel dan grafik di bawah ini. Tabel 1. pH hasil rendaman serbuk gaharu dengan berbagai variasi praperlakuan. Sampel Minggu ke- . H) 6,64 6,68 7,17 7,56 7,59 GMV 7,44 7,08 7,17 7,54 GUS 6,73 7,35 7,52 7,47 7,08 GFU 6,54 7,09 7,52 7,45 7,64 GTE 6,09 4,32 4,39 4,27 4,41 GTA 6,15 4,19 5,18 4,51 3,79 Keterangan: GM: praperlakuan maserasi. GMV: praperlakuan menggunakan microwave. GUS: praperlakuan menggunakan ultrasonik. GFU: praperlakuan fermentasi menggunakan Fusarium sp. GTE: praperlakuan fermentasi menggunakan ragi tempe. GTA: praperlakuan fermentasi menggunakan ragi tapai. Hasil pengukuran pH rendaman sampel menggunakan praperlakuan maserasi, microwave, ultrasonik dan fermentasi menggunakan Fusarium sp. menunjukkan bahwa kondisi pHnya condong ke arah basa. Seharusnya kultur Fusarium menjadi lebih asam karena kultur tersebut akan menghasilkan asam-asam organik seperti asam sitrat, asam tartarat, asam suksinat tergantung kandungan mineral dari medianya (Bhattacharjee et al. , 2. Fermentasi dengan menggunakan mikroba ragi tapai dan ragi tempe cenderung berada pada kondisi asam oleh karena terjadi pelepasan asam-asam organik ke lingkungan kultur yang mengakibatkan terjadinya penurunan pH (Ary Yusen Pratama and Rima Nur Febriani. Mohamed and Yusof, 2. Praperlakuan dengan perendaman menunjukkan terjadi peningkatan pH rendaman serbuk gaharu pada minggu ke-2, 3, dan 4. Peningkatan pH pada rendaman gaharu erat kaitannya dengan pembentuk basa dari mineral seperti ion K atau Na yang berinteraksi dengan ion hidroksi dari air (Jok. Che Radzi and Ku Hamid, 2. 84 | A l d r a t e t a l Pharmaceutical and Biomedical Sciences Journal, 2025. Vol. Rendemen minyak atsiri gaharu Pembentuk resin gaharu terjadi pada interxylary phloem dan jari-jari xylem (Liu et al. , 2. Proses pembentukan resin ini berasal dari butir pati . tarch grai. sel parenkim yang menghasilkan produk intermediet fenol dan polisakarida sebelum terbentuk resin gaharu. Adanya proses praperlakuan menyebabkan proses ekstraksi minyak atsiri gaharu dengan hidrodistilasi lebih mudah dan cepat. Proses hidrodistilasi merupakan proses ekstraksi minyak atsiri menggunakan pemanasan yang mengakibatkan minyak atsiri menguap bersama air. Jika proses penguapan itu terhalang oleh sel-sel kayu tentunya minyak atsiri akan tertahan dan tidak berhasil disuling. Proses praperlakuan yang dilakukan merupakan bagian dari upaya untuk menghilangkan hambatan tersebut selama proses hidrodistilasi sehingga rendemennya dapat diperoleh lebih tinggi. Hasil perhitungan rendemen . /b, w/. dari berbagai praperlakuan dalam kajian kali ini dapat dilihat pada Gambar 1 yang menunjukkan bahwa praperlakuan dapat mempengaruhi rendemen minyak atsiri gaharu berturut-turut dari yang tertinggi yakni menggunakan ragi tapai . ,050%), fermentasi menggunakan Fusarium sp. ,036%), penggunaan microwave . ,034%). Fusarium sp. ,030%), ,024%), kontrol . dan ragi tempe . Hasil ini konsisten dengan penelitian sebelumnya yang menunjukkan bahwa praperlakuan dapat meningkatkan rendemen minyak gaharu seperti yang dilaporkan sebelumnya untuk praperlakuan (Navarrete et al. , 2011. Radzi and Kasim. Defiza et al. , 2. , ultrasonikasi dari kulit jeruk (Yu et al. , 2. , dan penggunaan ragi tapai (Fauziah. Satria and Yuniarti, 2. Praperlakuan menggunakan ragi tempe ternyata sebaliknya, rendemennya menjadi lebih rendah dibandingkan dengan kontrol menyarankan kemungkinan ada mikroorganisme tertentu dalam tempe yang dapat menurunkan rendemen minyak gaharu. Gambar 1. Rendemen minyak gaharu hasil hidrodistilasi dengan berbagai praperlakuan. Keterangan: GK: kontrol tanpa praperlakuan. GM: praperlakuan maserasi. GMV: praperlakuan menggunakan microwave. GUS: praperlakuan menggunakan ultrasonik. GFU: praperlakuan fermentasi menggunakan Fusarium sp. GTE: praperlakuan fermentasi menggunakan ragi tempe. GTA: praperlakuan fermentasi menggunakan ragi tapai. Praperlakuan menggunakan ragi tapai memperlihatkan hasil tertinggi rendemen hidrodistilasi minyak gaharu dibandingkan yang lain. Ragi tapai dalam hal ini dapat membuat serbuk kayu menjadi lebih lunak karena adanya kemampuan amiolitik dari mikroba-mikroba yang ada pada ragi tersebut seperti Aspergillus oryzae. Saccharomyces cerevisiae (Yamane et al. , 2002. Liu et al. , 2. Proses fermentasi dapat meningkatkan rendemen minyak gaharu mungkin erat kaitannya dengan penghancuran dinding sel lignoselulosa secara enzimatis (Dyrsam et al. , 2. Dinding sel kayu gaharu dapat menjadi carbon source bagi Fusarium sp. (Ali et al. , 2016. Dyrsam et al. , 2. dan ragi tapai karena Fusarium juga yang memiliki kemampuan memetabolisme selulosa dan lignin (Hikam. Yulianti and Ginanjar, 2. sehingga membantu membuat kayu menjadi lunak dan menyebabkan minyak atsiri lepas ke air dan menguap bersama uap air dalam dalam proses hidrodistilasi. Rendemen yang diperoleh dari praperlakuan Fusarium kali ini hasilnya lebih rendah dari penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa perbedaan sampel gaharu yang digunakan akan memengaruhi rendemen hidrodistilasi (Defiza et al. 85 | A l d r a t e t a l Pharmaceutical and Biomedical Sciences Journal, 2025. Vol. Penggunaan ragi tempe dalam proses praperlakuan menunjukkan bahwa terjadi penurunan rendemen minyak gaharu dibandingkan dengan kontrol. Penurunan rendemen ini boleh jadi ada kaitannya dengan komposisi mikroba yang ada pada ragi tempe yang dapat mengakibatkan degradasi senyawa-senyawa atsiri yang dalam hal ini khususnya dari seskuiterpen. Ragi tempe yang ada di pasaran secara umum terdiri dari Rhizopus yang khususnya dari Jawa teridentifikasi sebagai R. delemar, dan R. microsporus (Sjamsuridzal et al. , 2. Tidak hanya Rhizopus, ragi tempe tentu saja mengandung mikroba-mikroba lain yang boleh jadi berperan mendegrasi minyak atsiri tersebut. Praperlakuan lain dengan perendaman merupakan metode klasik untuk meningkatkan rendemen minyak gaharu. Meskipun tidak ada mikroba yang dimasukkan ke dalam rendaman, secara alamiah mikroba tertentu akan hidup jika lingkungan dan nutrisinya sesuai. Oleh karena itu proses perendaman boleh dikatakan sebagai fermentasi alami yang dalam hal ini rendemennya masih lebih tinggi dibandingkan dengan tanpa praperlakuan sama sekali. Proses praperlakuan menggunakan microwave dan ultrasonik juga dapat meningkatkan rendemen minyak gaharu jika dibandingkan dengan kontrol. Praperlakuan dengan menggunakan gelombang mikro dapat mendorong proses pemecahan dinding sel melalui getaran gelombang mikro (Veggi. Martinez and Meireles, 2. , sedangkan penggunaan ultrasonik mengakibat kerusakan tekstur sistim seluler sehingga dapat meningkatkan penetrasi cairan pelarut ke dalam membran (Liu et al. , 2. Temuan ini juga konsisten dengan penelitian terdahulu yang menunjukkan bahwa penggunaan gelombang mikro . (Taharuddin. Yusuf and Dewi, 2. , dan ultrasonik (Yu et al. , 2. dapat meningkatkan proses ekstraksi minyak atsiri dibandingkan dengan kontrol. Hasil kajian ini menunjukkan bahwa praperlakuan perendaman, menggunakan mikroba . agi tapai. Fusarium sp. ) dan fisika . icrowave, ultrasoni. dapat meningkatan rendemen minyak gaharu dibandingkan dengan kontrol. Metode praperlakuan menggunakan mikroba di atas, akan lebih praktis digunakan oleh penyuling dengan skala UMKM dibandingkan dengan menggunakan alat-alat seperti microwave dan ultrasonik. Komponen volatil minyak gaharu Komponen-komponen yang ada pada minyak atsiri gaharu dianalisa menggunkan GCMS. Adapun hasil analisa yang diambil adalah yang memiliki nilai quality Ou80% dan minimal 0. 1% persentase kadar relatif sebagaimana yang disarankan pada kajian sebelumnya (Jok. Radzi and Hamid, 2. Bau harum yang muncul pada minyak gaharu tak lepas dari kontribusi senyawa-senyawa volatile . udah mengua. seperti seskuiterpenoid yang terdeteksi menggunakan GCMS. Komponen-komponen senyawa-senyawa terpen yang ada pada gaharu, juga bisa dijumpai pada spesies tanaman lain yang menandakan bahwa senyawa-senyawa terpen ini penting dalam evolusi tumbuhan mulai dari tingkat rendah sampai tinggi bahkan sampai kepada mikroba (Avalos et al. , 2022. Hoshino, 2. Aktivitasaktivitas biologis komponen volatile seperti antimikroba seskuiterpen lumut hati (Komala et al. , 2. antiviral dan antimalaria telah dilaporkan dalam berbagai penelitian sebelumnya. Pada penelitian ini, meskipun rendemen minyak atsiri dari tempe itu rendah, ternyata jumlah senyawa terpen yang dihasilkan justru tinggi . , kemudian, maserasi . , fermentasi menggunakan Fusarium sp. , microwave . , fermentasi menggunakan ragi tapai . , ultrasonik . , dan kontrol . Beragamnya kandungan seskuiterpenoid dari senyawa dari fermentasi ragi tempe mungkin ada kaitan dengan kemampuan ragi tersebut melakukan biotransformasi senyawa-senyawa yang terkandung pada serbuk gaharu. Hasil dari analisis GCMS menunjukkan bahwa ada enam senyawa yang konsisten dijumpai pada setiap perlakuan yakni -agarofuran, neoisolongifolene, -santalol, -guaiene, dihydrocolumellarin, dan hexadecanoic acid. Senyawa -agarofuran yang muncul dalam analisis GCMS kajian ini juga dilaporkan konsisten muncul pada gaharu yang berasal dari Vietnam (A. Indonesia. Malaysia, 86 | A l d r a t e t a l Pharmaceutical and Biomedical Sciences Journal, 2025. Vol. Myanmar, dan Kamboja (Ma et al. , 2. Senyawa -santalol yang terdeteksi dalam kajian ini konsisten dengan laporan sebelumnya untuk gaharu dari Indonesia (Faizal et al. , 2. , pada laporan yang sama hanya terdapat pada gaharu dari Vietnam dan Myanmar (Ma et al. , 2. , menyarankan bahwa keragaman komponen senyawa gaharu bisa bervariasi satu sama lainnya. walaupun berbeda lokasi dan spesies. Senyawa dihydrocolumellarin belum pernah dilaporkan pada penelitian sebelumnya terdapat pada Aquilaria ataupun Gyrinops. Adapun senyawa -agarofuran. A-guaiene, dan -santalol dilaporkan dijumpai juga pada A. crassna di kawasan Vietnam (Jung and Lee, 2. dan asam hexadecanoic acid dilaporkan pada A. sinensis dari Vietnam (Wang et al. , 2. Senyawa dihydrocolumellarin dan longifolene terdeteksi pada Aquilaria di Malaysia (Sun et al. , 2. Senyawa monoterpen ocimene dijumpai pada sampel dengan praperlakuan maserasi (GM). Fusarium (GFU) dan kontrol saja. Ada dua senyawa khas dari gaharu yakni kelompok seskuiterpen dan senyawa-senyawa turunan 2-. -phenylethy. chromone (Liao et al. , 2. , namun senyawa dari chomone ini tidak terdeteksi pada semua perlakuan yang menunjukkan bahwa gaharu yang digunakan berkualitas kemedangan. Akan tetapi dideteksi senyawa N-. hroman-7-y. acetamide pada praperlakuan ragi tapai yang senyawa ini belum pernah dilaporkan diproduksi secara alamiah oleh tumbuhan. Keberadaan senyawa tersebut terjadi bisa diakibatkan karena proses biotransformasi yang disebabkan oleh enzim-enzim yang terdapat ragi tempe atau kontaminan dari ragi tempe tersebut. Kajian lebih lanjut diperlukan untuk memastikan mekanisme terjadinya senyawa tersebut. Tabel 2. Komponen-komponen minyak gaharu yang konsisten muncul pada seluruh praperlakuan gaharu Senyawa Persentase Relatif Area (%) GMV GUS GFU GTE GTA -Agarofuran 1,55 1,42 1,13 1,55 1,45 1,53 1,17 Neoisolongifolene 6,34 7,64 5,97 6,53 6,96 8,75 8,56 -Santalol 0,98 1,59 1,79 1,58 1,06 0,87 1,48 -Guaiene 1,93 1,69 1,96 0,48 Dihydrocolumellarin 8,78 7,88 7,28 5,52 7,87 7,83 7,68 Hexadecanoic acid 3,29 3,24 7,76 5,04 6,57 3,68 8,49 Keterangan: GK: kontrol tanpa praperlakuan. GM: praperlakuan maserasi. GMV: praperlakuan menggunakan microwave. GUS: praperlakuan menggunakan. GFU: praperlakuan fermentasi menggunakan Fusarium sp. GTE: praperlakuan fermentasi menggunakan ragi tempe. GTA: praperlakuan fermentasi menggunakan ragi tapai. Senyawa-senyawa dari asam-asam lemak juga terdeteksi pada minyak gaharu, ada tiga jenis yang terdeteksi yakni asam tetradekanoat . etradecanoid aci. , asam heksadekanoat, dan asam oleat sebagaimana pada Tabel 3. Aktivitas dari lipase mikroorganisme ini dapat menyebabkan terjadinya hidrolisis trigliserida dan membentuk asam lemak bebas (Chandra et al. , 2. Praperlakuan menggunakan ragi tapai menunjukkan hasil yang tinggi. Keberadaan mikroba seperti Rhizopus. Aspegillus. Lactobacillus, dan Fusarium dalam fermentasi serbuk gaharu tentu saja ada andilnya terhadap peningkatkan jumlah asam lemak pada minyak gaharu (Hasan. Shah and Hameed, 2. , terkecuali dalam hal ini pada ragi tempe. Proses pembebasan asam lemak juga bisa terjadi dengan menggunakan praperlakuan cara fisika . icrowave dan ultrasoni. yang hasilnya juga lebih tinggi dibandingkan dengan kontrol dengan mekanisme yang berbeda. Teknik microwave menyebabkan terjadinya pemanasan yang cepat yang diiringi dengan kerusakan sel-sel tanaman sehingga mengakibatkan terjadinya pelepasan komponen-komponen dari sistim seluler (Chemat et al. , 2. Sementara itu ultrasonik bekerja dengan cara deteksturasi matriks tanaman sehingga terjadi peningkatan pelepasan massa dari sistim seluler. Asam tetradekanoat dilaporkan juga dijumpai pada gaharu dari spesies Gyrinops walla di India (Subasinghe, 2. Asam heksadekanoat konsisten muncul dalam setiap perlakuan juga telah dilaporkan terdeteksi pada A. crassna (Ngan et al. , 2. sinensis (Wang et al. , 2. , daun A. malaccensis dari Indonesia (Misrahanum. Zahira and Saidi, 2. dan Malaysia (Zainurin et al. , 2. 87 | A l d r a t e t a l Pharmaceutical and Biomedical Sciences Journal, 2025. Vol. Tabel 3. Perbandingan kandungan asam lemak minyak gaharu dengan berbagai praperlakuan Asam Lemak Persentase Relatif Area (%) GMV GUS GFU Tetradecanoid acid GTE GTA 2,15 Hexadecanoic acid 3,92 3,24 7,76 5,04 6,57 3,68 8,49 Oleic acid 1,72 1,85 1,32 Octadecanoic acid 1,23 Keterangan: GK: kontrol tanpa praperlakuan. GM: praperlakuan maserasi. GMV: praperlakuan menggunakan microwave. GUS: praperlakuan menggunakan ultrasonik. GFU: praperlakuan fermentasi menggunakan Fusarium sp. GTE: praperlakuan fermentasi menggunakan ragi tempe. GTA: praperlakuan fermentasi menggunakan ragi tapai. Hasil uji hedonik minyak gaharu dari berbagai praperlakuan Uji hedonik dilakukan untuk mengetahui apakah perbedaan praperlakuan akan mengakibatkan terjadinya perbedaan kesukaan responden terhadap variasi praperlakuan minyak gaharu. Hasil yang diperoleh ternyata uji hedonik dengan ANOVA tidak menunjukkan hasil yang signifikan yakni 0,086 yang artinya nilai tersebut besar dari 0,05. Hal tersebut menyarankan bahwa praperlakuan tidak mengakibatkan terjadinya perbedaan kesukaan pada responden. Tentu saja ini berarti bahwa variasi praperlakuan tidak mempengaruhi kualitas aroma dari minyak gaharu itu sendiri. Ketika dilanjutkan dengan Post Hoc Test Duncan, ternyata praperlakuan dengan menggunakan ragi tapai lebih disukai oleh Responden memberikan tanggapan bahwa aromanya meskipun sedikit berbau asam tapi memiliki aroma manis ketika dibiarkan beberapa lama. KESIMPULAN Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa bahwa praperlakuan menggunakan microwave, ultrasonik, fermentasi dengan menggunakan Fusarium sp. , dan ragi tapai dapat meningkatkan rendemen hidrodistilasi minyak gaharu tanpa kehilangan kualitas aromanya setelah diuji hedonik. Meskipun tidak memengaruhi aroma, penggunaan ragi tempe dapat menurunkan rendemen minyak gaharu. Senyawa yang paling beragam dijumpai pada minyak gaharu dengan praperlakuan menggunakan ragi tempe. Penelitian berikutnya disarankan untuk menggunakan sampel yang lebih besar dan berasal dari wilayah lain di Indonesia agar diperoleh data yang lebih mewakili secara nasional. Aroma minyak gaharu fermentasi beraroma sedikit asam ketika pertama kali dicium, oleh karena itu disarankan juga dilakukan modifikasi perlakuan untuk gaharu fermentasi agar aromanya menjadi lebih baik. UCAPAN TERIMA KASIH Penelitian ini disokong oleh Travel Grant BOPTN LP2M UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Tahun Anggaran 2023 atas nama Hendri Aldrat. Terima kasih kepada Bapak Dr. Soekamto atas pemberian biakan Fusarium sp. Terima kasih kepada Walid Rumblat atas bantuan pengukuran GCMS di Lab Farmasi FIKES UINJKT. Terima kasih diucapkan kepada Bapak Habib Budi Alim dari Palembang untuk sampel gaharunya. REFERENSI