Buletin Ilmiah IMPAS Volumen 23 No. 1 Edisi April 2022 p-ISSN : 0853-7771 e-ISSN : 2714-8459 ANALISIS KELAYAKAN FINANSIAL SAYURAN ORGANIK DI EKOPASTORAL KELURAHAN PAGAL KECAMATAN CIBAL KABUPATEN MANGGARAI (Analysis Of Financial Feasibility Of Organic Vegetables In Pagal Ekopastoral Cibal Subdistrict Manggara. Emerensiana Mpaing*. Sondang. Pudjiastuti . Serman Nikolaus Program Studi Agribisnis. Fakultas Pertanian Universitas Nusa Cendana *Email Penulis Korespondensi: emerrensianam@gmail. Diterima : 18 Pebruari 2022 Disetujui : 28 Pebruari 2022 ABSTRAK Penelitian dilakukan pada usaha sayuran organik di Ekopastoral Kelurahan Pagal Kecamatan Cibal. Penelitian bertujuan untuk mengetahui pendapatan dan kelayakan finansial sayuran organik dengan break event point dan revenue cost ratio. Pengumpulan data dengan wawancara menggunakan kuisioner. Data ditabulasi dan dianalisi dengan metode break event point ( BEP) dan revenue Cost ratio (R/C) . Kedua jenis analisis ini dibagi dalam dua bentuk, yaitu menurut jenis sayur dan secara keseluruhan. Berdasarkan perhitungan menggunakan metode BEP produksi dan harga, jenis sayur caisim, pakcoy, sawi putih, kembang kol dan brokoli layak diusahakan atau dikembangkan selanjutnya dimana BEP produksinya sebesar 153,5 kg artinya titik pulang pokok sayuran organik ini terjadi pada saat produksi 153,5 kg, sedangkan BEP harga sayuran organik dicapai pada harga minimum Rp. 3,070 /kg, artinya titik pulang pokok sayuran organik pada harga minimum Rp. 3,070 /kg. Hasil perhitungan R/C Ratio keseluruhan jenis sayur diperoleh nilai 3,25,artinya setiap pengeluaran biaya sebesar Rp. 1, maka petani akan mendapatkan penerimaan sebesar Rp. 3,25. Berdasarkan pada nilai ini menunjukan bahwa penerimaan lebih besar dari biaya produksi sehingga dapat dikatakan bahwa usaha sayuran organik di Ekopastoral berada pada posisi yang menguntungkan dan layak dijalankan. Kata Kunci : Sayuran Organik. Pendapatan. Kelayakan ABSTRACT The research was conducted on organic vegetable business in Pagal Ekopastoral. Cibal Sub-district. The research aims to determine the income and financial feasibility of organic vegetables with break event point and revenue cost ratio. Data collection with interviews using questionnaires. Data tabulated and analyzed with the method of break event point (BEP) and revenue Cost Ratio (R/C). These two types of analysis are divided into two forms, namely by vegetable type and overall. Based on calculations using bep method of production and price, types of vegetables caisim, pakcoy, chicory, cauliflower and broccoli worth trying or developed next where BEP production of 153. 5 kg means the point of return of organic vegetables is occurring at the time of production of 153. 5 kg, while BEP organic vegetable prices achieved at a minimum price of Rp. 3,070 / kg, meaning the point of return of organic vegetables at a minimum price of Rp. 3,070 /kg. The calculation of R/C Ratio of all types of vegetables obtained a value of 3. Meaning that each cost expenditure of Rp. 1, then farmers will get a receipt of Rp. Based on this value shows that the revenue is greater than the cost of production so it can be said that the organic vegetable business in Ekopastoral is in a profitable position and worth running. Keywords: Organic Vegetables. Feasibility. Income Mpaing, et al. Analisis Kelayakan Finansial Sayur Organika Page 52 Buletin Ilmiah IMPAS Volumen 23 No. 1 Edisi April 2022 PENDAHULUAN Pertanian organik adalah sistem produksi pertanian yang holistik dan terpadu, dengan cara mengoptimalkan kesehatan dan produktivitas menghasilkan pangan dan serat yang cukup, berkualitas, dan berkelanjutan. Sistem budidaya sayuran organik sendiri mempunyai ketentuan yang harus dipenuhi yaitu : . benih tidak boleh berasal dari produk hasil rekayasa genetika atau Genetically Modified Organism (GMO) sebaiknya benih berasal dari kebun pertanian organik, . Pengendalian hama, penyakit, dan gulma tidak boleh menggunakan pestisida kimia sintetis, tetapi dilakukan dengan cara mekanik seperti hand picking, membuang bagian tanaman yang sakit, dan menggunakan pestisida nabati bila diperlukan, serta menjaga keseimbangan ekosistem, dan . penanganan pasca panen sesuai dengan persyaratan pasca panen pertanian organik. Pertanian organik modern didefinisikan sebagai sistem budidaya pertanian yang mengandalkan bahan-bahan alami tanpa menggunakan bahan Pengelolaan pertanian organik didasarkan pada prinsip kesehatan, ekologi, keadilan, dan Prinsip kesehatan dalam pertanian organik adalah kegiatan pertanian harus memperhatikan kelestarian dan peningkatan kesehatan tanah, tanaman, hewan, bumi, dan manusia sebagai satu kesatuan karena semua komponen tersebut saling berhubungan dan tidak Menurut Aliansi Organis Indonesia atau (Indonesia, 2. ), total luas area organik di Indonesia Tahun 2015 adalah 261. 147,30 Ha, meningkat sebesar 21,36% dari tahun 2014. Angka tersebut merupakan total luas area organik yang terdiri dari lahan pertanian organik, akuakultur . erikanan dara. dan panen liar, yaitu area organik yang tidak dilakukan perawatan lahan tetapi memanen dari kawasan liar seperti hutan . roduk umum seperti madu hutan dan gula are. Perkembangan pertanian organik ini pun dapat dilihat dari data luas lahan pertanian organik dimana data Statistik Pertanian Organik Indonesia ((SPOI, 2. dalam (Mayrowani, 2. menunjukan Pada tahun 2011 luas area pertanian organik tersertifikat adalah 90. 135,30 hektar. Area tanpa sertifikasi seluas 134. 717,66 hektar, area dalam proses sertifikasi seluas 3,80 hektar. Area p-ISSN : 0853-7771 e-ISSN : 2714-8459 pertanian organik dengan sertifikasi PAMOR seluas 5,89 hektar Luas lahan yang tersedia untuk pertanian organik di Indonesia sangat besar. Dari 188,2 juta ha lahan yang dapat digunakan untuk usaha pertanian, baru sekitar 70 juta ha yang telah digunakan untuk berbagai sistem pertanian (Mulyani, 2. sisanya belum dimanfaatkan dan bisa dimanfaatkan untuk pertanian organik. Usaha sayuran organik juga dilakukan oleh salah satu biara di Kelurahan Pagal Kecamatan Cibal Kabupaten Manggarai yaitu Ekopastoral. Usahatani sayuran organik ini sudah lama dilakukan di Ekopastoral sejak tahun 1999. Luas lahan 1000 m2 dengan jumlah bedengan 20 dengan ukuran 10 m2 dan 5 bedengan dengan ukuran 5 m2 tersebut telah ditanami beberapa jenis sayuran diantaranya sawi putih, brokoli, kangkung, tomat, kol bunga, kubis, wortel, pakcoy dan caisim. Berdasarkan latar belakang tersebut maka dirumuskan identifikasi masalah sebagai berikut Berapa besar pendapatan usahatani sayuran organik di Ekopastoral Kelurahan Pagal Kecamatan Cibal Kabupaten Manggarai. Apakah usahatani sayuran organik secara finansial layak diusahakan di di Ekopastoral Kelurahan Pagal Kecamatan Cibal Kabupaten Manggarai. Berdasarkan identifikasi masalah, maka penelitian ini diharapkan mencapai tujuan sebagai berikut Untuk mengetahui besar pendapatan Untuk mengetahui kelayakan finansial usahatani sayuran organik di daerah penelitian dengan Break Event Points dan R/C Ratio. Adapun manfaat dari penelitian ini adalah sebagai berikut Sebagai bahan informasi bagi petani sayur organik dalam mengembangkan usahataninya. Sebagai bahan informasi dan referensi bagi pihak-pihak yang membutuhkannya. Sebagai bahan masukan bagi pemerintah dalam mengembangkan kebijakan mengenai usahatani sayuran organik. METODE PENELITIAN Tempat dan Waktu Penelitian Penentuan daerah penelitian dilakukan secara purposive atau secara sengaja berdasarkan pertimbangan bahwa tempat ini merupakan salah satu tempat di Kecamatan Cibal yang mengusahakan sayur organik dan belum pernah dilakukan penelitian terkait kelayakan finansial. Mpaing, et al. Analisis Kelayakan Finansial Sayur Organika Page 53 Buletin Ilmiah IMPAS Volumen 23 No. 1 Edisi April 2022 Waktu penelitian dilakukan di Ekopastoral Fransiskan Kelurahan Pagal Kecamatan Cibal Kabupaten Manggarai pada bulan April tahun Metode Pengumpulan Data Teknik pengumpulan data dilakukan dengan wawancara secara langsung dengan pemilik usaha sayuran organik sebagai narasumber dan mewawancarai para pekerja dengan mengisi selain itu juga diterapkan teknik observasi yaitu melakukan pengamatan secara langsung ditempat usaha sayuran organik. Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini yaitu data primer dan sekunder. Metode Analisis Data Metode analisis data yang digunakan untuk memenuhi tujuan penelitian pertama yaitu menganalisis pendapatan usahatani sayuran organik untuk menghasilkan output. Biaya produksi usahatani sayuran organik dihitung dengan rumus berikut ini : TC = FC VC Mengetahui total penerimaan digunakan rumus : TR = Q . Mengetahui pendapatan digunakan rumus : A = TR Ae TC Metode yang digunakan untuk tujuan penelitian yaitu menganalisis kelayakan usahatani sayuran organik secara finansial di daerah Metode yang digunakan yaitu R/Cratio merupakan perbandingan antara penerimaan usahatani dengan biaya usahatani. Rumus yang Aspek Produksi Sarana Produksi Sarana produksi adalah alat atau teknologi yang digunakan untuk mendukung kegiatan proses Sarana produksi yang digunakan dalam proses produksi sayuran organik di Ekopastoral adalah : Handstraktor, keranjang, skop, timbangan, sabit, troli, mesin potong, selang siram, dinamo air, skop gali dan media semai. Biaya tetap Biaya tetap merupakan biaya yang jumlahnya tetap dan tidak bertambah atau berkurang dengan adanya perubahan jumlah p-ISSN : 0853-7771 e-ISSN : 2714-8459 yac/yau = yaayayayayayayayaoyaoya yaAyayaoyayao Dengan ketentuan : Jika R/C > 1, maka layak diusahakan. Jika R/C < 1, tidak layak diusahakan. HASIL DAN PEMBAHASAN Sejarah Ekopastoral Fransiskan Ekopastoral didirikan oleh P. Mikhael Peruhe. OFM pada tahun 1999. Kemudian secara resmi berdiri pada tahun 2002. Pada tahun 2005. Ekopastoral Fransiskan menjadi karya resmi Provinsi St. Mikhael Malaikat Agung-OFM Indonesia sesuai mandat Kapitel Provinsi St. Mikhael. OFM Indonesia. Ekopastoral Fransiskan adalah pelayanan pastoral kategorial yang bekerja dengan dan untuk masyarakat petani dengan tujuan meningkatkan kesejahteraan petani dan melindungi Sejak 1999, beberapa Fransiskan terlibat dalam memberdayakan petani/masyarakat desa di Kabupaten Manggarai. Melihat akibat dari sistem pertanian konvensional yang menggunakan bahan-bahan kesehatan,lingkungan dan kesejahteraan petani, para Fransiskan menawarkan sistem pertanian organik (PO) sebagai sistem pertanian alternatif. Pertanian organik adalah sistem pertanian yang berkelanjutan, tidak membutuhkan pengeluaran yang besar . idak mengakibatkan utang-utang bagi petan. , menjamin ketahanan pangan yang sehat, serta menghargai dan melindungi lingkung. produksi yang dihasilkan (Kotler, 2. Berdasarkan hasil penelitian pada usahatani sayur organik di Ekopastoral, biaya tetap dibagi dalam dua bentuk, yaitu pajak tanah dan biaya Pajak usaha tani sayur organik di Ekopastoral adalah Rp. 000 per tahun dan biaya penyusutan alat sebesar Rp. 000/thun untuk perbulannya sebesar RP. Biaya variabel Biaya variabel merupakan biaya yang dikeluarkan petani yang habis terpakai dalam satu periode produksi dan tidak dapat digunakan berulang kali. Mpaing, et al. Analisis Kelayakan Finansial Sayur Organika Page 54 Buletin Ilmiah IMPAS Volumen 23 No. 1 Edisi April 2022 p-ISSN : 0853-7771 e-ISSN : 2714-8459 Tabel Biaya Variabel Menurut Jenis Sayuran Pada Usahatani di Ekopastoral Bulan April-Juli No Jenis sayuran Harga Bensin Pengairan Tenaga Biaya Benih (R. (R. (R. Kerja (R. Variabel (R. Caisim 40,000 8,000 16,000 120,000 184,000 Pakcoy 60,000 4,000 8,000 60,000 132,000 Sawi Putih 80,000 20,000 40,000 300,000 440,000 Kembang kol 75,000 2,000 4,000 30,000 111,000 Brokoli 80,000 6,000 12,000 90,000 188,000 Sumber: Data Primer . Berdasarkan tabel diatas biaya variabel tertinggi yaitu sawi putih karena dipengaruhi biaya benih dan tenaga kerja dan diikuti oleh jenis sayur caisism, pakcoy dan kembang kol. Pendapatan Usaha Pengeluaran total usahatani . otal farm expens. didefinisikan sebagai nilai semua masukan yang habis terpakai atau dikeluarkan di dalam produksi. Selisih antara pendapatan kotor usahatani dan pengeluaran total usahatani disebut pendapatan bersih usahatani (Soekartawi, 2. Pendapatan merupakan selisih antara total penerimaan dengan total biaya. Untuk lebih jelasnya, berikut disajikan data pendapatan petani pada usahatani sayuran organik di Ekopastoral . Tabel Pendapatan Usahatani Sayuran Organik di Pada Bulan April- Juli 2020 Jenis sayuran Total produksi Harga Jual (R. Total Penerimaan (R. Total Biaya (R. Pendapatan (R. Caisim 10,000 400,000 222,400 177,600 Pakcoy 10,000 500,000 180,000 320,000 Sawi Putih 10,000 3,500,000 776,000 2,724,000 Kembang kol 10,000 300,000 139,800 160,200 10,000 300,000 216,800 83,200 Brokoli Sumber: Data Primer . Tabel diatas menunjukkan bahwa selama melakukan proses produksi sayuran organik di Ekopastoral selama satu musim tanam pendapatan yang diperoleh sebesar Rp. 3,465,000 untuk lima jenis sayur. Jumlah tersebut didapatkan dengan cara yaitu hasil yang diterima Rp. 5,000. 000 dikurangi dengan total biaya Rp. 1,535,000. Jumlah pendapatan yang diperoleh usahatani sayuran organik ini sangat tergantung pada jumlah penerimaan dan besarnya biaya yang dikeluarkan dalam proses Analisis Kelayakan Finansial Analisis finansial adalah studi yang bertujuan sebagai penilaian suatu kegiatan yang dilakukan layak atau tidak layak dilihat dari aspek finansial (Soekartawi, 1. Analisis kelayakan merupakan penilaian sejauh mana manfaat yang didapat dari suatu kegiatan usaha Mpaing, et al. Analisis Kelayakan Finansial Sayur Organika Page 55 Buletin Ilmiah IMPAS Volumen 23 No. 1 Edisi April 2022 dengan tujuan sebagai pertimbangan usaha yang dilaksanakan diterima atau ditolak (Ibrahim. Kelayakan suatu usahatani yang sedang dilaksanakan dapat dikatakan layak atau tidak layak apabila syarat-syarat berikut ini terpenuhi. Analisis Break Event Point Usahatani Sayuran Organik Analisis BEP yaitu suatu keadaan perusahaan dalam melakukan kegiatan tidak memperoleh p-ISSN : 0853-7771 e-ISSN : 2714-8459 keuntungan dan tidak menderita kerugiaan atau keuntungan dan kerugiaan sama dengan nol (Hanafie, 2. Untuk menganalisis berapa tingkat produksi dan harga berapa suatu usaha tidak memberikan keuntungan dan tidak pula mengalami kerugian. Maka analisi yang digunakan adalah dengan menghitung BEP volume produksi dan BEP harga produksi. Tabel Analisis Kelayakan Produksi Menurut Jenis Sayuan Organik di Ekopastoral Pada Bulan April- Juli 2020 No Jenis sayuran Total Harga Jual Total Biaya BEP Produksi (R. (R. (K. Harga Caisim 10,000 222,400 5,560 Pakcoy 10,000 180,000 3,600 Sawi Putih 10,000 776,000 2,217 Kembang kol 10,000 139,800 4,660 10,000 216,800 7,227 5 Brokoli Sumber: Data Primer . Berdasarkan pada tabel di atas menunjukan bahwa BEP produksi pada sayur caisim adalah 22,24 kg, sedangkan BEP harga sayuran caisim dicapai pada harga minimum Rp. 5,560/kg, artinya titik pulang pokok sayuran caisim pada harga minimum Rp. 5,569/kg. Penelitian ini juga tidak jauh berbeda dengan penelitian (Normansyah et , 2. dimana sayuran ini tidak mengalamai untung dan rugi. BEP produksi sayuran pakcoy yaitu 18 kg, artinya titik pulang pokok sayuran pakcoy terjadi pada saat produksi 18 kg, sedangkan BEP harga sayuran pakcoy dicapai pada harga minimum Rp. 3,300 kg, artinya titik pulang pokok sayuran pakcoy pada harga minimum Rp. 3,300/kg. Hasil penelitian ini juga tidak jauh berbeda dengan penelitian yang dilakukan (Laksmi et al. , n. dimana hasil BEP unit dari komoditi pakcoy yang didapat mencapai 51,93 kg. Nilai BEP harga sebesar Rp 2. 335,67/kg memiliki harga yang lebih kecil dari harga yang sudah ditetapkan oleh petani dimana harga jual pakcoy adalah Rp 10. 226,19/kg. Sedangkan, pada BEP produksi sawi putih yaitu 77,6 kg artinya titik pulang pokok sayuran sawi putih terjadi pada saat produksi 77,6 kg, sedangkan BEP harga sayuran sawi putih dicapai pada harga minimum Rp. 2,217 /kg, artinya titik pulang pokok sayuran sawi putih pada harga minimum Rp. 2,217/kg. BEP produksi kembang kol yaitu 13,98 kg artinya titik pulang pokok sayuran sawi putih terjadi pada saat produksi 13,98 kg, sedangkan BEP harga sayuran kembang kol dicapai pada harga minimum Rp. 4,660 /kg, artinya titik pulang pokok sayuran kembang kol pada harga minimum Rp. 4,660/kg. Penelitian ini tidak sejalan dengan (Nurlenawati, 2. Mpaing, et al. Analisis Kelayakan Finansial Sayur Organika Page 56 Buletin Ilmiah IMPAS Volumen 23 No. 1 Edisi April 2022 BEP produksi brokoli yaitu 20,78 kg dengan harga minimum Rp. 6,927 /kg. Hasil penelitian ini juga tidak jauh berbeda dengan penelitian yang dilakukan (Diana, 2. analisis kelayakan ditinjau dari perhitungan BEP(Q) sebesar 184,2Kg dan perhitungan BEP (R. dari usahatani yaitu sebesar Rp. 902/Kg sehingga layak diusahakan. Berdasarkan kriteria BEP produksi dan BEP harga, jenis sayur caisim, pakcoy, sawi putih, p-ISSN : 0853-7771 e-ISSN : 2714-8459 kembang kol dan brokoli layak diusahakan atau BEP produksinya sebesar 153,5 kg artinya titik pulang pokok sayuran organik ini terjadi pada saat produksi 153,5 kg, sedangkan BEP harga sayuran organik dicapai pada harga minimum Rp. 3,070 /kg, artinya titik pulang pokok sayuran organik Rp. 3,070 /kg Analisis R/C Ratio Analisis R/C (Revenue-Cos. ratio merupakan gambaran tentang keberlanjutan usahatani sayuran organik yang dilakukan termasuk kategori layak atau tidak layak. Apabila nilai R/C ratio > 1 maka usahatani layak untuk diusahakan. Menurut (Rizqi, 2. R/C adalah singkatan dari revenue cost ratio atau dikenal sebagai perbandingan atau nisbah antara penerimaan dan biaya. Tabel R/C Ratio Menurut Jenis Sayuran Organik Pada Usahatani Sayuran Organik di Ekopastoral Pada Bulan April- Juli 2020 No Jenis sayuran Total Harga Total Penerimaan R/C Ratio Jual Biaya (R. 1 Caisim 10,000 222,400 400,000 2 Pakcoy 10,000 180,000 500,000 3 Sawi Putih 10,000 776,000 3,500,000 4 Kembang kol 10,000 139,800 300,000 5 Brokoli 10,000 216,800 300,000 Sumber: Data Primer . Berdasarkan tabel di atas menunjukan bahwa R/C Ratio tertinggi terdapat pada usahatani sayuran sawi putih sebesar 4,51 artinya setiap pengeluaran sebesar Rp. maka petani sayuran organik akan mendapatakan penerimaan sebesar Rp. 4,51. Hasil penelitian ini juga tidak jauh berbeda dengan penelitian yang dilakukan (Bano & Herewila, 2. dimana nilai R/C Ratio yang di peroleh petani sebesar Rp6,19. Kemudian diikuti dengan sayuran pakcoy sebesar 2,77 dan sayuran kembang kol sebesar 2,14. Kemudian diikuti dengan jenis sayuran caisim sebesar 1,79 dan brokoli sebesar 1,3. Berdasarkan tabel diatas bahwa kelima jenis sayur ini layak untuk diusahakan atau dilanjutkan. Berdasarkan perhitungan R/C Ratio secara keseluruhan usaha sayuran organik di Ekopastoral diperoleh nilai R/C Ratio yaitu 3,25, artinya setiap pengeluaran sebesar Rp. maka petani sayuran organik akan mendapatakan penerimaan 3,25 KESIMPULAN sayuran organik dicapai pada harga minimum Rp. 3,070 /kg, artinya titik pulang pokok sayuran organik pada harga minimum Rp. 3,070 /kg. Hasil perhitungan R/C Ratio keseluruhan jenis sayur diperoleh nilai 3,25, artinya artinya setiap pengeluaran biaya sebesar Rp. 1, maka petani akan BEP produksi untuk keseluruhan sayuran organik di Ekopastoral sebesar 153,5 kg artinya titik pulang pokok sayuran organik ini terjadi pada saat produksi 153,5 kg, sedangkan BEP harga Mpaing, et al. Analisis Kelayakan Finansial Sayur Organika Page 57 Buletin Ilmiah IMPAS Volumen 23 No. 1 Edisi April 2022 Rp3,25. Berdasarkan pada nilai ini menunjukan bahwa penerimaan lebih besar dari biaya produksi sehingga dapat dikatakan bahwa usaha sayuran organik di Ekopastoral berada pada posisi yang menguntungkan dan layak dijalankan. DAFTAR PUSTAKA