Jurnal Kesehatan Marendeng http://e-jurnal. id/index Vol IX. No. II. Month Juli 2025, pp 202-209 p-ISSN:2850-0329 dan e-ISSN: 2809-2813 DOI:https://doi. org/jkm. STUDI KUALITATIF. PENGALAMAN REMAJA DALAM MENGHADAPI PERUBAHAN SOSIAL BUDAYA DAN TANTANGAN KESEHATAN REPRODUKSI DI ERA DIGITAL. Aswar1. Arlin Adam2. Andi Alim3. Munadhir4,Yudhi Adnan5 1,2,3Program Megister Kesehatan Masyarakat. Universitas Mega Buana Palopo Email : aswar161marendeng@gmail. 4Kesehatan Masyarakat. Universitas Pejuang Republik Indonesia Email : munadhir. ado@gmail. 5Kesehatan Masyarakat. Universitas Islam Negeri Alauddin Email : yudi. adnan@uin-alauddin. Artikel info Artikel history: Received. 08 Juli 2025 Revised: 11 Juli 2025 Accepted. 22 Juli 2025 Keyword: Socio-cultural change reproductive health Abstrak. Socio-cultural changes driven by the development of digital technology have significantly impacted adolescents' lives, particularly in terms of social interaction, cultural values, and understanding of reproductive health. This study aims to explore in depth the subjective experiences of adolescents in facing socio-cultural changes and reproductive health challenges in the digital era. A qualitative approach with a phenomenological study design was employed, involving adolescent informants aged 15Ae19 years in Banggae Timur Subdistrict. Majene Regency. West Sulawesi. Data were collected through in-depth interviews, observation, and document analysis, and were examined using thematic analysis techniques. The findings reveal a shift in communication patterns from face-to-face interaction to social media-based communication, which affects social closeness and interpersonal skills. Adolescents also face challenges in understanding reproductive health due to limited education from schools and families, leading them to rely heavily on digital media sources that may not be reliable. Nevertheless, some adolescents demonstrated critical attitudes in filtering digital cultural influences and relied on parents as trusted sources of information. Social support from the environment, particularly families, plays a vital role in shaping adolescentsAo perceptions and behaviors. Adolescents expressed the need for improved reproductive health education in schools and the provision of safe, accessible, and stigma-free counseling This study recommends the integration of reproductive health education into the school curriculum, teacher training. Jurnal Kesehatan Marendeng | 201 Kata Kunci: Remaja Perubahan Sosial budaya Kesehatan Reproduksi enhancement of adolescentsAo digital literacy, and the development of policies based on contextual needs. Abstract. Perubahan sosial budaya yang dipicu perkembangan teknologi digital telah memberikan dampak besar terhadap kehidupan remaja, khususnya dalam hal interaksi sosial, nilainilai budaya, dan pemahaman mengenai kesehatan reproduksi. Penelitian ini bertujuan untuk menggali secara mendalam pengalaman subjektif remaja dalam menghadapi perubahan sosial budaya serta tantangan kesehatan reproduksi di era digital. Pendekatan yang digunakan adalah kualitatif dengan jenis studi fenomenologis, melibatkan informan remaja berusia 15Ae19 tahun di Kecamatan Banggae Timur. Kabupaten Majene. Sulawesi Barat. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi, dan studi dokumen, lalu dianalisis menggunakan teknik analisis tematik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa remaja mengalami pergeseran dalam pola komunikasi dari tatap muka ke komunikasi berbasis media sosial, yang berdampak pada kedekatan sosial dan keterampilan Mereka menghadapi tantangan dalam memahami kesehatan reproduksi akibat minimnya edukasi dari sekolah maupun keluarga, sehingga banyak bergantung pada informasi dari media digital yang belum tentu valid. Meskipun demikian, sebagian remaja menunjukkan sikap kritis dalam menyaring pengaruh budaya digital serta menjadikan orang tua sebagai sumber informasi yang terpercaya. Remaja berharap adanya peningkatan pendidikan kesehatan reproduksi di sekolah serta penyediaan layanan konseling yang aman, mudah diakses, dan bebas stigma. Penelitian ini merekomendasikan perlunya integrasi pendidikan reproduksi dalam kurikulum sekolah, pelatihan guru, peningkatan literasi digital remaja, dan pengembangan kebijakan berbasis kebutuhan kontekstual. Coresponden author: Email:aswar161marendeng@gmail. artikel dengan akses terbuka dibawah lisensi CC BY -4. PENDAHULUAN Perkembangan era digital telah membawa dampak besar terhadap dinamika kehidupan sosial masyarakat, terutama di kalangan remaja. Di Kecamatan Banggae Timur. Kabupaten Majene. Sulawesi Barat, remaja menghadapi perubahan sosial budaya yang berlangsung begitu cepat akibat masifnya arus informasi, globalisasi, serta penetrasi teknologi digital. Transformasi ini tidak hanya mengubah cara remaja berinteraksi, berkomunikasi, dan mengekspresikan diri, tetapi juga mempengaruhi nilai-nilai, norma, dan perilaku mereka, termasuk dalam hal pemahaman dan sikap terhadap kesehatan reproduksi (St Syahrah. Mustadjar, and Agustang Remaja merupakan kelompok usia yang sedang berada dalam masa transisi menuju kedewasaan, di mana mereka mulai membentuk identitas diri, mengeksplorasi relasi sosial, dan mengalami perubahan biologis yang signifikan. Di tengah perubahan sosial budaya yang dibentuk oleh media digital, mereka dihadapkan pada berbagai tantangan baru dalam Jurnal Kesehatan Marendeng | 202 memahami isu-isu kesehatan reproduksi, seperti seksualitas, pubertas, kehamilan yang tidak direncanakan, serta infeksi menular seksual. Minimnya literasi kesehatan reproduksi yang kontekstual dan terbuka membuat sebagian remaja rawan terpapar informasi yang keliru atau menyesatkan dari media digital, yang belum tentu sesuai dengan nilai dan norma lokal (Simangunsong et al. Di sisi lain, peran lingkungan sosial seperti keluarga, sekolah, dan media digital juga menjadi faktor penting dalam membentuk persepsi dan perilaku remaja terhadap kesehatan reproduksi. Dukungan yang kurang dari orang tua, keterbatasan materi pendidikan reproduksi di sekolah, serta paparan konten daring yang tidak terfilter dapat memperburuk kerentanan remaja terhadap risiko kesehatan reproduksi. Namun, media digital juga dapat menjadi ruang edukatif jika dimanfaatkan secara tepat dan didampingi oleh pendekatan budaya yang sesuai (Aseri 2. Penelitian ini menjadi relevan untuk menggali secara mendalam bagaimana remaja di Kecamatan Banggae Timur mengalami dan merespons perubahan sosial budaya serta tantangan kesehatan reproduksi di era digital. Dengan pendekatan kualitatif, studi ini berupaya memahami perspektif subjektif remaja, termasuk faktor-faktor yang memengaruhi persepsi dan perilaku mereka, serta peran lingkungan sosial dalam membantu mereka menghadapi tantangan tersebut. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi masukan bagi pengembangan intervensi yang sensitif budaya dan berbasis kebutuhan remaja dalam konteks lokal. METODE (Times New Roman 12. Bol. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis studi fenomenologis, yang bertujuan untuk menggali secara mendalam pengalaman subjektif remaja dalam menghadapi perubahan sosial budaya serta tantangan kesehatan reproduksi di era digital. Pendekatan ini dipilih karena mampu menangkap makna yang dibentuk oleh remaja atas pengalaman hidup mereka dalam konteks sosial dan budaya yang sedang berubah, khususnya terkait isu-isu reproduksi yang mereka alami dan pahami di tengah penetrasi teknologi digital (Fathurokhmah Lokasi penelitian ditetapkan di Kecamatan Banggae Timur. Kabupaten Majene. Provinsi Sulawesi Barat, dengan pertimbangan bahwa wilayah ini merupakan salah satu kawasan yang mulai terdampak oleh kemajuan digitalisasi namun masih memiliki akar budaya lokal yang Informan penelitian dipilih secara purposive dengan kriteria inklusi, yaitu remaja berusia 15Ae19 tahun, berdomisili di wilayah penelitian, aktif menggunakan media digital, serta bersedia berbagi pengalaman terkait perubahan sosial budaya dan kesehatan reproduksi. Jumlah informan ditentukan berdasarkan prinsip kecukupan informasi . ata saturatio. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam . n-depth intervie. menggunakan pedoman wawancara semi-terstruktur, yang dirancang berdasarkan rumusan masalah Proses wawancara dilakukan secara langsung dan tatap muka di lingkungan yang aman dan nyaman bagi informan, dengan memperhatikan aspek etika, kerahasiaan, dan persetujuan setelah penjelasan informasi . nformed consen. Selain wawancara, teknik observasi non-partisipatif dan kajian dokumen juga digunakan untuk memperkaya pemahaman konteks sosial dan budaya setempat (Judijanto et al. Data yang diperoleh dianalisis secara tematik . hematic analysi. , mengikuti tahapan: transkripsi data, pembacaan berulang, pengkodean, kategorisasi tema, dan interpretasi makna. Validitas data dijaga melalui teknik triangulasi sumber dan metode, member check, serta Jurnal Kesehatan Marendeng | 204 refleksivitas peneliti. Dengan pendekatan ini, penelitian diharapkan dapat menghasilkan pemahaman yang mendalam, holistik, dan kontekstual tentang bagaimana remaja merespons perubahan sosial budaya dan isu kesehatan reproduksi di era digital, serta peran lingkungan dalam mendukung mereka menghadapi tantangan tersebut (Karya et al. HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL Perubahan Pola Interaksi Sosial Remaja Informan menunjukkan bahwa saat ini terjadi pergeseran dari interaksi sosial secara langsung ke penggunaan media sosial dan komunikasi daring. Beberapa responden menyatakan merasa lebih nyaman berbicara tentang isu kesehatan reproduksi dengan orang tua mereka, yang menunjukkan adanya relasi komunikasi yang cukup terbuka dan konstruktif dalam keluarga. Seorang responden mengungkapkan: "Kalau bicara tentang kesehatan reproduksi, aku merasa lebih nyaman kalau cerita sama orang tua. Mereka tidak menghakimi dan bisa beri penjelasan yang aku butuhkan. " (Responden an AuAAy, 10/06/2. Selain itu, mereka memperoleh informasi mengenai kesehatan reproduksi melalui media sosial dan internet, menunjukkan inisiatif dan kemandirian dalam memenuhi kebutuhan pengetahuan mereka, terutama untuk topik-topik tabu. Responden lain menyatakan: "Aku sering mencari info tentang kesehatan reproduksi di media sosial, tapi kadang bingung mana yang benar dan mana yang hoaks. " (Responden an AuWAy, 08/06/2. Kebutuhan Literasi Digital dan Kesehatan Reproduksi Remaja menyadari bahwa literasi digital dan literasi kesehatan reproduksi sangat penting. Namun, mereka merasa kurang dilengkapi dengan alat dan sumber yang memadai untuk memilah informasi yang benar dari yang salah. Mereka bergantung pada internet dan media sosial sebagai sumber utama, namun menyadari bahwa kualitas informasi bisa saja dipengaruhi oleh tren dan algoritma, sehingga berpotensi menyebabkan disinformasi. Seorang responden mengungkapkan kekhawatirannya: "Kadang aku mendapatkan info yang bikin bingung, apalagi di media sosial yang banyak berita hoaks soal reproduksi. " (Responden an AuWAy, 08/06/2. Peran Teknologi dan Media Digital Media sosial dan internet menjadi media utama dalam mencari informasi tentang kesehatan Pergeseran dari sumber tradisional seperti keluarga dan sekolah ke platform digital menunjukkan adanya perubahan budaya dalam komunikasi dan penyebaran informasi. Responden an AuWAy menyatakan: "Sekarang lebih gampang cari info di internet, tapi harus hatihati karena tidak semua info benar. " . /06/2. Jurnal Kesehatan Marendeng | 205 Perubahan Nilai Sosial dan Budaya Transformasi digital menimbulkan perubahan nilai-nilai sosial dan norma interaksi. Banyak remaja mengaku lebih suka bermain game online daripada berpartisipasi dalam permainan tradisional, sebagai bagian dari perubahan pola sosial mereka. Responden an AuAAy menyampaikan: "Kadang, aku lebih suka main game online daripada main permainan tradisional sama teman. " (Responden an AuAAy, 10/06/2. Transformasi Relasi Sosial Budaya tatap muka yang dulunya dominan mulai bergeser ke budaya daring yang lebih efisien dan fleksibel. Meskipun tetap dapat menjaga hubungan sosial, pola ini sering kali mengurangi kualitas kedekatan emosional dan kemampuan membaca ekspresi langsung, sehingga berpotensi menimbulkan misunderstanding. Seorang responden menyatakan: "Dulu aku suka ngobrol langsung sama teman tentang masalah, sekarang lebih sering chat lewat media sosial, jadi kadang sulit tahu perasaan mereka sebenarnya. " (Responden an AuDAy, 02/06/2. Pembahasan Pengaruh Perubahan Interaksi Sosial terhadap Keterampilan Sosial Transformasi dari interaksi langsung menjadi interaksi digital merepresentasikan perubahan budaya sosial remaja yang signifikan. Penggunaan media sosial seperti WhatsApp dan platform daring lainnya memungkinkan remaja untuk tetap terhubung, tetapi berisiko menurunkan kemampuan empati, menyelesaikan konflik secara langsung, dan membangun hubungan emosional yang mendalam. Hal ini menuntut perlunya pendidikan karakter dan literasi sosial yang dapat membantu remaja menyeimbangkan penggunaan teknologi dan pengembangan keterampilan sosial . Peran Keluarga dan Sekolah dalam Mendukung Kesehatan Reproduksi dan Literasi Digital Keluarga berperan penting sebagai sumber informasi dan pendidikan kesehatan reproduksi yang dipercaya, serta sebagai pendukung komunikasi terbuka yang dapat membantu remaja menyaring informasi dari media digital. Di sisi lain, sekolah perlu meningkatkan sosialisasi dan kurikulum terkait kesehatan reproduksi serta literasi digital agar remaja mendapatkan pengetahuan yang benar dan mampu memilah informasi yang valid dari berbagai platform Risiko Disinformasi dan Pentingnya Literasi Digital Ketergantungan remaja terhadap media sosial dan internet meningkatkan risiko disinformasi, terutama mengenai isu sensitif seperti seksualitas dan kesehatan reproduksi. Maka dari itu, pendidikan berbasis bukti dan pelatihan literasi digital kritis sangat diperlukan agar remaja mampu mengidentifikasi dan menggunakan sumber informasi yang terpercaya. Penyediaan kanal informasi yang aman dan resmi dari lembaga pendidikan dan kesehatan juga sangat penting untuk mendukung upaya ini . Jurnal Kesehatan Marendeng | 206 Dampak Budaya Digital terhadap Nilai Sosial dan Budaya Lokal Perubahan dari budaya tradisional ke budaya digital mengancam kelestarian nilai-nilai lokal seperti gotong royong dan kebersamaan. Hilangnya permainan tradisional dan adopsi gaya hidup yang dipromosikan media sosial bisa memengaruhi perkembangan sosial-emosional remaja dalam jangka panjang. Oleh karena itu, perlu adanya integrasi nilai budaya lokal dalam pendidikan dan kegiatan sosial untuk menjaga keseimbangan antara kemajuan teknologi dan pelestarian budaya . KESIMPULAN DAN SARAN Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa remaja mengalami perubahan signifikan dalam pola interaksi sosial akibat perkembangan teknologi digital, yang mendorong pergeseran dari komunikasi tatap muka ke komunikasi berbasis media sosial. Di tengah perubahan ini, remaja menunjukkan pemahaman awal tentang kesehatan reproduksi, terutama terkait aspek biologis dan risiko penyakit menular seksual, meskipun informasi yang diperoleh masih parsial dan sering kali menimbulkan kebingungan. Teknologi digital menjadi sumber informasi utama, namun juga membuka potensi paparan misinformasi. Dukungan sosial dari keluarga dan sekolah sangat bervariasi. sebagian remaja memperoleh bimbingan yang baik, sementara lainnya tidak memiliki ruang edukatif yang memadai karena isu reproduksi masih dianggap tabu. Oleh karena itu, remaja berharap adanya peningkatan pendidikan kesehatan reproduksi di sekolah serta tersedianya layanan konseling yang aman, terbuka, dan mudah Sejalan dengan temuan tersebut, disarankan agar sekolah dan lembaga pendidikan mengintegrasikan pendidikan kesehatan reproduksi dalam kurikulum secara partisipatif dan berbasis usia, serta melatih guru dan konselor agar mampu menyampaikan materi secara netral dan sensitif terhadap budaya. Keluarga juga diharapkan mengadopsi pola asuh yang terbuka dan memperkuat literasi reproduksi agar mampu menjadi sumber informasi yang tepercaya. Pemerintah dan lembaga kesehatan perlu menyediakan layanan konseling remaja yang ramah dan mudah dijangkau, serta menyelenggarakan program sosialisasi berkala di sekolah dan Selain itu, peneliti dan akademisi perlu melakukan studi lanjutan yang melibatkan perspektif budaya dan gender yang lebih luas, serta mengembangkan pendekatan interdisipliner untuk merumuskan kebijakan pendidikan reproduksi yang kontekstual, inklusif, dan responsif terhadap perkembangan zaman. UCAPAN TERIMA KASIH Penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah berkontribusi dalam penyusunan artikel ini. Ucapan terima kasih secara khusus ditujukan kepada para remaja yang telah bersedia menjadi partisipan dalam studi ini dan berbagi pengalaman pribadinya dengan penuh keterbukaan. Penulis juga menyampaikan apresiasi kepada keluarga besar SMAN 2 Majene yang telah memberikan dukungan penuh selama proses penelitian ini. Tidak lupa, penulis berterima kasih kepada Bapak Prof. DR. Arlin Adam. KM M. Kes dan Dr. Andi Alim. ,S. KM. ,M. Kes atas masukan dan bimbingan yang sangat berarti dalam proses analisis dan penulisan artikel ini. Jurnal Kesehatan Marendeng | 207 Akhir kata, penulis menyampaikan terima kasih kepada keluarga dan rekan-rekan atas dukungan moral dan motivasi yang tak henti-hentinya selama proses penyusunan karya ilmiah DAFTAR PUSTAKA Agustina. Yumita. AuPelaksanaan Layanan Informasi Tentang Kesehatan Reproduksi Remaja (Studi Di BKKBN Provinsi Bengkul. Ay IAIN BENGKULU. Akbar. Ilham. Syamsul Rizal, and Febriansyah Febriansyah. AuPeran Guru Bimbingan Dan Konseling Dalam Meningkatkan Pengetahuan Dan Pemahaman Tentang Perubahan Perilaku Pubertas Di SMAN 1 Kepahiang. Ay Institut Agama Islam Negeri Curup. Andriani. Lusi. Demsa Simbolon, and Frensi Riastuti. Kesehatan Reproduksi Remaja Dan Perencanaan Masa Depan. Penerbit Nem. Annah. Itma. Promosi Kesehatan Remaja. Unisma Press. Arif. Mohammad. Individualisme Global Di Indonesia (Studi Tentang Gaya Hidup Individualis Masyarakat Indonesia Di Era Globa. IAIN Kediri Press. Aseri. Mukhsin. AuPeran Keluarga Dan Lingkungan Sosial Dalam Mencegah Perkawinan Usia Dini Di Kecamatan Banjarmasin Selatan. Ay Management of Education: Jurnal Manajemen Pendidikan Islam 9. : 267Ae76. Dewi. Nurma et al. Promosi Kesehatan: Teori Dan Praktik Dalam Keperawatan. PT. Sonpedia Publishing Indonesia. Fathurokhmah. Fita. Metodologi Penelitian Komunikasi Kualitatif. Bumi Aksara. Feranda. Rio Bayu. AuPergeseran Nilai Etika Di Kalangan Remaja (Studi Kasus Degradasi Nilai Penghormatan Terhadap Orang Tua Di Kemukiman Lubuk. Aceh Besa. Ay UIN ArRaniry Fakultas Ushuluddin dan Filsafat. Grijns. Mies et al. Menikah Muda Di Indonesia: Suara. Hukum. Dan Praktik. Yayasan Pustaka Obor Indonesia. Hakim. Faisol, and Harapandi Dahri. AuIslam Di Media Sosial Sebagai Komodifikasi Dan Implikasinya Terhadap Pendidikan Islam. Ay Andragogi: Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran 5. : 187Ae206. Hasanah. Zumroh et al. Kesehatan Reproduksi Pada Masa Remaja Dan Klimakterium Dengan Pendekatan Kesehatan Olahraga. Penerbit: Kramantara JS. Judijanto. Loso et al. Research Design: Pendekatan Kualitatif Dan Kuantitatif. PT. Sonpedia Publishing Indonesia. Karya. Detri et al. Metodologi Penelitian Kualitatif. Takaza Innovatix Labs. Kusumaningrum. Puput Risti et al. Peran Pendidikan Seks Dalam Membangun Kesadaran Seksual Remaja. Mega Press Nusantara. Meilan. Nessi. Maryanah, and Willa Follona. Kesehatan Reproduksi Remaja: Implementasi PKPR Dalam Teman Sebaya. Wineka Media. Melani. Margareta. Ni Putu Gita Prastita. Ratu Tasya Dwiana Putri, and Qorinah Estiningtyas Sakilah Adnani. Promosi Kesehatan Remaja Dengan Pendekatan KIPK. Sarana