Jurnal Kajian Budaya dan Humaniora Ae ISSN 2656-7156 Vol. No. Februari 2024: 6-11 KRITIK SOSIAL DALAM NOVEL IZRAIL KARYA YUSUF AS SIBAAoI Ade Kosasih1. Ooh Hodijah2. Yuni Riyanti3 Universitas Padjadjaran. Sumedang. Indonesia, 3Universitas Indonesia. Depok. Indonesia Email: a. kosasih@unpad. id, ooh. hodijah@unpad. id, yuni. riyanti@ui. ABSTRAK: Karya sastra erat kaitannya dengan realita sosial. Kehidupan sosial kerap kali mengilhami pengarang untuk melahirkan karya sastra. Karya sastra tersebut terkadang juga diciptakan sebagai kritik terhadap kehidupan Penelitian ini hendak membahas bagaimana novel Izrail karya Yusuf As-SibaAoi hadir sebagai kritik terhadap Dalam penelitian ini metode yang digunakan adalah metode deskriptif kualitatif. Sedangkan untuk menemukan hubungan antara karya sastra dan realita sosial menggunakan pendekatan sosiologi sastra. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa novel Izrail berusaha untuk menyampaikan dua kritik sosial. Kritik pertama disampaikan kepada manusia pada umumnya yang diperlihatkan suka berbohong, hidup mementingkan hal-hal duniawai dan memberi makan hawa nafsunya, manusia seringkali manipulatif, dan sering bergunjing. Kritik sosial kedua ditujukan khusus kepada pemerintah, bagaimana pemerintah yang seharusnya mengayomi masyarakat seringkali malah mengadu domba dan menjadikannya boneka atas kepentingannya sendiri. Novel Izrail yang ditulis bertahun-tahun yang lalu ternyata masih relevan sampai saat ini. Kata Kunci: Izrail. Sosiologi Sastra. Kritik Sosial ABSTRACT: Literary works are closely related to social reality. Social life often inspires authors to produce literary These literary works are sometimes also created as criticism of social life. This research will discuss how the novel Izrail by Yusuf As-Siba'i appears as a criticism of humans. In this research the method used is a qualitative descriptive method. Meanwhile, to find the relationship between literary works and social reality, we use a literary sociology approach. The results of this research indicate that the novel Izrail attempts to convey two social criticisms. The first criticism is conveyed to humans in general who are shown to like to lie, live by caring for worldly things and feeding their desires, humans are often manipulative and often gossip. The second social criticism is aimed specifically at the government, how the government, which is supposed to protect the community, often pits people against each other and makes them puppets for its own interests. Izrail's novel, written many years ago, is still relevant today. Keywords: Izrail. Literary Sociology. Social Criticism PENDAHULUAN Karya sastra tidak dapat lahir begitu saja, ada proses yang saling berhubungan antara pengarang dengan sosial masyarakat yang menjadi dasar dalam menulis karya sastra tersebut. Karya sasra sendiri merupakan gambaran kehidupan manusia yang tidak pernah terlepas dari ruang lingkup Manusia dalam menjalani kehidupan ini tidak lepas keterkaitannya dengan hubungan antarmasyarakat, antarmanusia, antarperistiwa yang terjadi dalam batin seseorang (Damono, 2002,. Karya sastra dengan sendirinya tidak akan dapat dimengerti secara konprehensif tanpa menghadirkan lingkungan dan kebudayaan yang menjadi latar belakangnya (Damono 2002, . Pengarang sesungguhnya tidak serta merta menjadikan peristiwa yang terjadi di masyarakat sebagai sebuah karya sastra, terdapat proses kreatif yang dilakukan pengarang dalam memilahnya dan dijadikan cerita yang menarik tetapi juga menggambarkan bagaimana realitas sosial dalam karya tersebut. Salah satu karya sastra yang biasanya memotret realitas sosial dituangkan dalam bentuk penceritaan seperti cerpen atau novel. Namun, ketika menjadikannya sebuah cerita realitas itu ditulis ulang dan disesuaikan dengan keseluruhan cerita yang diinginkan. Salah satu cerita yang menulis tentang realitas sosial masyarakat adalah novel Izrail karya Yusuf As SibaAoi. SibaAoi adalah seorang novelis, jurnalis, dan negarawan yang berasal dari Mesir. SibaAoi lahir di tengah keluarga yang dekat dengan Ayahnya merupakan seorang penulis dan memiliki peran yang cukup penting dalam perkembangan sastra modern di Mesir. Tak heran jika SibaAoi mewarisi bakat menulis dari ayahnya, tulisan pertamanya dimuat dalam Al-Megala pada tahun 1933 ketika dia masih berada di bangku sekolah menengah. SibaAoi telah menulis lebih dari 50 novel dan kumpulan cerpen. Beberapa karyanya yaitu Ard al-Nefaq (Land of Hipocris. Saqqa mat (Matinya sang Sak. Bain el-Atlal (Di antara Dindin. Tareek al-AoAwda (The Way Bac. Aqwa Kritik Sosial dalam Novel Izrail Karya Yusuf As SibaAoi (Ade Kosasih. Ooh Hodijah. Yuni Riyant. Jurnal Kajian Budaya dan Humaniora Ae ISSN 2656-7156 Min el-Zaman (Stronger Than Tim. Nahnu La NazraAoa al-Shawk (Kami tidak Menanam Dur. Inni Rahela (Aku Perg. Umm Ratiba (Mother of Ratib. Yaa Ummatun Dahekat (Oh Nation that Laughe. , dan masih banyak lagi karya-karya lainnya (Mulyana, 2. Pada novel Izrail. SibaAoi mencoba memperlihatkan bagaimana sifat manusia kebanyakan di hadapan pembaca karya sastranya. Novel Izrail bercerita tentang tokoh aku yang menjadi korban kekeliruan malaikat Izrail dalam mencabut nyawa karena kemiripan nama. Atas kekeliruan tersebut. Izrail bermaksud untuk mengembalikan nyawa tokoh aku dan mencabut nyawa yang seharusnya. Namun, ketika di perjalanan dari akhirat menuju bumi. Izrail menyadari bahwa pada hari tersebut dia harus menemui suatu pertemuan, sedangkan dia masih harus mengembalikan nyawa si aku dan mencabut beberapa nyawa lainnya. Untuk memudahkan semua urusan. Izrail meminta tolong agar tokoh aku membantunya mencabut nyawa yang terdapat dalam daftar tugasnya pada hari itu, sementara Izrail menghadiri pertemuan yang telah Dalam perjalanannya menuju bumi, tokoh aku berfikir banyak hal. Salah satunya tentang memperhitungkan banyak hal. Misal, orang yang sudah sakit dan renta sudah seharusnya mati terlebih dahulu dibanding anak muda yang segar bugar, atau misalnya pejabat korup lebih pantas untuk mati agar tidak merugikan banyak orang. Dari pikiran-pikiran inilah tokoh aku mengambil keputusan untuk menyelamatkan orang-orang yang ada dalam daftar kematian, kemudian mencabut nyawa yang menurutnya pantas unntuk mati. Beberapa nyawa berhasil dia selamatkan, tetapi kemudian Izrail turun ke bumi dan mengambil alih pekerjaan yang sebelumnya telah dilakukan oleh tokoh aku. Izrail mencabut nyawa orang-orang yang ada di dalam daftar dan menyelesaikannya sesuai jadwal. Setelah itu. Izrail mengembalikkan nyawa aku ke dalam jasadnya, namun kematian tokoh aku ternyata menjadi berkah bagi keluarganya, hal tersebut membuat tokoh aku meminta untuk tetap mati. Izrail mengabulkan keinginan aku dengan mencabut nyawanya dua hari kemudian, dengan memberi kesempatan tokoh aku berbuat kebaikan agar bisa masuk surga. Dalam perjalanan tokoh aku ini, pembaca dapat menemukan bagaimana kritik sosial yang ingin disampaikan oleh As SibaAoi melalui tokoh aku, atau tokoh lain yang ditemui dan digambarkan oleh tokoh aku. METODE Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif dengan pendekatan sosiologi sastra. Menurut Ahmadi . penelitian kualitatif merupakan penelitian yang berdasarkan pada penafsiran dan pendeskripsian Metode kualitatif merupakan langkah penelitian yang bertujuan untuk mendapatkan data deskriptif berupa kata-kata atau gambar. Hal tersebut juga diungkapkan oleh Lexy J. Moleong . bahwa data yang digunakan dalam penelitian kualitatif berupa kata-kata, gambar, dan ditekankan oleh Lexy bukan berupa angka-angka yang harus dihitung. Sedangkan teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah sosiologi sastra. Sosiologi sastra berarti telaah tentang manusia di dalam sebuah masyarakat, telaah tentang lembaga dan proses sosial yang disampaikan secara objektif dan Sosiologi mencoba melihat kemungkinan kelangsungannya, dan bagaimana ia tetap eksis. Kita dapat melihat gambaran tentang bagaimana manusia menyesuaikan diri dengan lingkungannya, tentang mekanisme sosialisasi di tengah masyarakat, dan proses budaya yang menempatkan anggota masyarakat di tempatnya masing-masing melalui lembaga-lembaga sosial dan segala masalah perekonomian, keagamaan, politik, dan lain sebagainya. Seperti halnya sosiologi, sastra berhubungan dengan manusia di dalam masyarakat. Maksudnya adalah bagaimana usaha manusia untuk menyesuaikan diri dan usahanya untuk mengubah masyarakat itu sendiri. Terdapat kesamaan antara sosiologi dan sastra dalam segi permasalahannya. Oleh karena itu, genre utama sastra dalam industri ini dapat dianggap sebagai usaha untuk menciptakan kembali dunia sosial, termasuk lingkungannya, politik, negara, dan sebagainya. Perbedaannya, sosiologi melakukan analisis ilmiah yang objektif, sedangkan karya sastra menyusup menembus permukaan kehidupan sosial dan berusaha mengungkapkan cara-cara manusia menghayati masyarakat dengan perasaannya (Damono, 2020, . Kritik Sosial dalam Novel Izrail Karya Yusuf As SibaAoi (Ade Kosasih. Ooh Hodijah. Yuni Riyant. Jurnal Kajian Budaya dan Humaniora Ae ISSN 2656-7156 Karya sastra sendiri merupakan gambaran kehidupan manusia yang mana tidak pernah terlepas dari ruang lingkup sosial. Manusia dalam menjalani kehidupan ini tidak lepas keterkaitannya dengan hubungan antarmasyarakat, antarmanusia, antarperistiwa yang terjadi dalam batin seseorang (Damono, 2002: . Karya sastra mampu mengungkapkan hampir seluruh aspek kehidupan Melalui sebuah karya, pengarang dapat melukiskan sikap dan pandangan tentang berbagai gejala kehidupan yang disaksikannya. HASIL DAN PEMBAHASAN Kritik Terhadap Manusia Manusia Gemar Berbohong As-SibaAoi dalam novel Izrail ini ingin memperlihatkan bagaimana manusia pada umumnya sangat gemar berbohong. Berbohong dianggap sesuatu yang biasa dan dapat dilakukan apabila dalam keadaan yang diperlukan. Selama hal tersebut mempunyai pembenaran menurut sudut pandang seseorang, maka orang tersebut beranggapan bahwa mereka diperbolehkan untuk Hal tersebut digambarkan dalam kutipan berikut: AuBetapa banyak kujumpai dalam kehidupan, bohong lebih baik seribu kali dari pada jujur dan lugu. Ay (As SibaAoi, 2008: . Ungkapan di atas menunjukkan bahwa orang-orang biasanya akan merasa lebih baik ketika berbohong dan menutupi kenyataan buruk pada dirinya. Kebohongan dianggap lebih baik dan seolah dapat menyelamatkan dirinya dari pada harus menyampaikan kebenaran dengan berkata Namun, hal tersebut disindir langsung oleh SibaAoi dengan diaolog yang disampaikan oleh Izrail ketika tokoh aku mengusulkan untuk tetap mati dan kekeliruan yang dilakukan Izrail dapat dianggap tidak pernah terjadi. AuDi sini, setiap kesalahan tidak bisa dibiarkan dan dimaafkan, apalagi dilupakan begitu saja. Mungkin hal ini bisa dilakukan di dunia, tapi tidak untuk di akhiratAy (As SibaAoi, 2008: . SibaAoi menunjukkan bagaimana kebohongan yang dilakukan manusia selama hidup di dunia tidak berlaku di akhirat. Kebohongan yang dilakukan ketika di akhirat tidak akan menguntungkan manusia. Sebaliknya, kebohongan yang dilakukan manusia selama di dunia akan mendapatkan pengadilan atas kebohongan yang telah dilakukannya. Manusia Sibuk dengan Dunia Manusia adalah makhluk yang pada hakikatnya akan mati dan meninggalkan dunia ini tanpa membawa sesuatu apapun. Namun, manusia banyak yang merasa kematian itu bergantung pada hal-hal yang menurutnya mungkin. Seorang yang sakit kemungkinan lebih cepat meninggal dari pada orang yang masih sehat, masih mudah, dsb. Sehingga, manusia banyak yang terlalu sibuk dengan urusan duniawi, memperkaya diri sendiri dengan mengumpulkan harta atau dengan foyafoya dengan kenikmatan dunia lainnya. Hal tersebut digambarkan oleh SibaAoi dari sudut pandang tokoh aku. AuManusia enggan mengakui kematian sebagai sebuah kenyataan yang suka atau tidak suka pasti tidak bisa dihindari. Lalu, manusia pun bekerja demi memupuk kebahagiaan dunia seolah ia akan hidup Soal ia besok akan meninggal misalnya, sama sekali tidak dipikirkan. Manusia sudah menganggap diri mereka akan kekal abadiAy (As SibaAoi, 2008: . Penggalan cerita di atas memperlihatkan bagaimana manusia biasanya lupa bahwa kematian adalah sesuatu yang pasti, sesuatu yang akan dialami setiap manusia. Manusia lebih senang mengumpulkan sesuatu yang dapat membuatnya bahagia selama hidup di dunia, manusia merasa bahwa dirinya akan hidup selamanya. Penggalan tersebut memperlihatkan bagaimana manusia terlalu sibuk dan tamak dengan dunia. SibaAoi bahkan memperlihatkan bagaimana manusia masih sibuk dengan dunia bahkan setelah dikenalkan dengan kematian. Maksudnya adalah tokoh aku yang sudah mati akibat kesalahan malaikat Izrail, di saat mengerjakan tugas masih sibuk memikirkan dunia. Hal tersebut terlihat dari penggalan cerita berikut. AuMati aku! Aku masih saja seperti dulu. Kupikir maut akan membuatku menjadi seorang hamba yang taqwa dan santun, serta mengajarkanku sifat malu pada dosa dan mengekang diri. Tapi tidak! Demi Tuhan, maut tidak mengajarkanku apa-apa padaku. Aku tetap saja seperti dulu. Haus akan dunia dan takut akan akhirat. Masih saja kulihat Kritik Sosial dalam Novel Izrail Karya Yusuf As SibaAoi (Ade Kosasih. Ooh Hodijah. Yuni Riyant. Jurnal Kajian Budaya dan Humaniora Ae ISSN 2656-7156 diriku tergila-gila pada setiap pesona harta dan wanita cantikAy (As SibaAoI, 2008: . Penggalan tersebut menunjukkan bahwa tokoh aku yang berada antara hidup dan mati masih merasa dirinya seperti dulu, maut yang berada di depan mata tidak dapat serta-merta mengubah SibaAoi menyindir manusia bahwa manusia pada umumnya hampir sama, haus akan dunia dan takut akan akhirat. Manusia menghabiskan banyak waktu untuk mengumpulkan harta dan memikat wanita cantik. Bahkan kematian orang terdekat tidak dapat memberi pelajaran tentang kematian, orang yang ditinggalkan justru berebut untuk mendapatkan manfaat berupa harta dari orang yang Hal tersebut diperlihatkan pada penggalan cerita berikut. AuBesar mengambil polis asuransi atas kematianmu. Karena inilah yang sedang hangat mereka bicarakan saat ini. Bahkan sempat terlintas olehku, ada sedikit ganjalan dalam hati mereka karena jumlah nominal asuransimu tidak begitu banyak. Kudengar juga mereka sedang membicarakan tuntutan yang mereka ajukan atas jawatan trem. Mereka bilang, seharusnya mereka mendapatkan 10. pound sebagai ganti rugi kehilangan dirimu yang tercinta. Ay (As SibaAoI, 2008: . Manusia adalah makhluk yang dibekali akal dan perasaan. Kematian biasanya meninggalkan rasa kehilangan dan duka yang cukup mendalam bagi orang-orang yang ditinggalkan terutama Namun, pada kenyataannya manusia yang masih hidup tetap harus melanjutkan hidup. Meski demikian. SibaAoi memperlihatkan ada sebagian dari manusia yang sibuk dengan harta ketika anggota keluarganya meninggal. Manusia dan Hawa Nafsunya Dikatakan bahwa perang terbesar bagi manusia adalah melawan hawa nafsunya sendiri. Hal tersebut sangat relevan, karena ketika manusia dihadapkan dengan apa yang menggoda dan menyilaukan matanya, maka kebanyakan manusia akan dengan mudah tergoda. Seperti digambarkan oleh tokoh aku pada penggalan cerita berikut. AuHasrat pertama yang menggumpal dalam dadaku adalah memegang rambutnya. Akan kubelai rambut ini, lalu kutelusuri ketebalannya dengan jari-jarikuAy (As SibaAoi, 2008: . Tokoh aku diperlihatkan sebagai lelaki yang sangat lemah atas perempuan, hasratnya menggebu-gebu ketika dihadapkan dengan Dia kesempatan dalam kesempitan. Tokoh aku mendapatkan tugas dari malaikat Izrail untuk mencabut nyawa. Namun, dia merasa orang yang harus dicabut nyawa tidak pantas untuk mati, sehingga tokoh aku berusaha menyelamatkan orang-orang tersebut. Adegan di atas terjadi saat tokoh aku memasuki tubuh kekasih dari perempuan yang nyawanya dia selamatkan, tokoh aku berusaha membelai rambut dan mencumbu perempuan tersebut. Pada kejadian lain, ketika dia memasuki tubuh seorang perempuan tokoh aku meremas dada perempuan tersebut. SibaAoi menggambarkan hawa nafsu manusia tidak dapat diredam bahkan ketika mereka di akhir hidupnya dan berhadapan dengan maut. SibaAoi juga menyindir melalui tokoh aku bagaimana watak dan hawa nafsu laki-laki melalui penggalan cerita AuTujuan hidup laki-laki ini ada dua, wanita dan hartaAy (Al SibaAoI, 2008: . Gambaran tokoh aku yang tergila-gila dan disimpulkan oleh kalimat di atas yang menunjukkan bahwa tujuan hidup laki-laki adalah wanita dan harta. Kegilaan terhadap perempuan membuat tokoh aku merasa harus memanfaatkan kesempatan ketika dia berada di tubuh perempuan yang seksi. Hal tersebut terlihat pada penggalan cerita berikut. AuTidak adil sedikitpun jika aku masuk ke tubuh gadis seksi ini, lalu meninggalkannya tanpa sedikitpun menikmati keindahan tubuhnya, meski sekedar meraba-rabanya. Ay (As SibaAoI, 2008: . Tokoh aku merasa kesempatan yang diberikan kepada dirinya ketika dapat memasuki tubuh perempuan harus dimanfaatkan dengan baik. Dalam hal ini, tokoh aku meraba tubuh perempuan Keimanan dan ketaqwaan seseorang tidak datang begitu saja, kematian hanya akan memperlihatkan sisi dirinya yang sesungguhnya. Manusia dengan Sifat Manipulatifnya Ketika keadaan tersudut, manusia cenderung berperan menjadi korban dan mencoba membalikkan keadaan dengan menyalahkan pihak lain agar dia terlepas dari kesalahan tersebut. Hal Kritik Sosial dalam Novel Izrail Karya Yusuf As SibaAoi (Ade Kosasih. Ooh Hodijah. Yuni Riyant. Jurnal Kajian Budaya dan Humaniora Ae ISSN 2656-7156 itu terlihat seperti yang digambarkan oleh tokoh aku, di awal dia yang menawarkan diri kepada Izrail agar tetap mati dan membersihkan nama baik Izrail dari kekeliruannya. Namun, ketika dia tersudut dia membalikkan keadaan dan bersungut kepada Izrail seperti pada penggalan cerita berikut. AuKamu renggut aku dari kehidupan dunia tanpa alasan yang benar. Kamu buat aku bingung dan Lelah. Kamu buat keluarga yang kutinggal bersedih dan berduka. Kamu paraukan suara mereka dengan isak tangis tanpa sebab apapun. Kamu ciptakan hutang baru bagi keluargaku hanya untuk keperluan kenduri, kafan, sewa, kendaraan jenazah, peti mati dan upah tukang gali kuburAy (As SibaAoI, 2008: . Tidak ada manusia yang mau disalahkan, ketika dalam keadaan tersebut manusia cenderung berkelit dan menyelamatkan diri. Kemalangan yang menimpa manusia dianggap sebagai sebuah kesalahan orang lain. SibaAoi menyindir sifat manusia yang demikian lewat tokoh aku. Manusia Suka Bergunjing Tidak ada satu pun manusia yang luput dari Tetapi, mengunjingkannya adalah perbuatan tercela. Sayangnya, kegiatan bergunjing atau bergosip ini merupakan sesuatu yang sering dijumpai. SibaAoi ingin memperlihatkan bagaimana manusia dengan mulut jahatnya ketika menemukan satu objek gunjingan pada kutipan berikut. AuKamu lihat, ibu-ibu tinggi semampai yang mengenakan tuxedo biru itu? Au(As SibaAoI, 2008: . Penggalan cerita di atas memperlihatkan bagaimana manusia dapat menggunjing siapapun bahkan orang yang tidak dikenal sekalipun. Selain itu, manusia sering sekali lupa atas keburukan dan kesalahan diri sendiri. Seperti kata pepatah semut di ujung lautan terlihat, tetapi gajah di pelupuk mata tidak terlihat. Manusia senang sekali mengkritik tetapi jika dia dihadapkan dengan keadaan yang sama dia pura-pura lupa pada Hal tersebut terlihat pada penggalan cerita berikut. AuSoalnya sering kali kita mengkritik orang dengan sangat pede, namun begitu nasib meletakkan kita di posisi seperti mereka, kita sendiri sering menjadi lebih jelek serta melakukan kejelekan yang pernah kita kritikAy (As SibaAoI, 2008: . Manusia gemar mengkritik tetapi tidak mau Bahkan ketika dia mendapat kritik yang pernah lontarkan sebelumnya, manusia lupa bahwa dirinya kemungkinan akan melakukan perbuatan salah, tetapi dia tidak mau menempatkan diri sebagai orang yang salah dan tidak mau menerima kritik orang lain. Kritik Sosial Terhadap Pemerintah Mengadu Domba Rakyat Orang-orang yang mengaku sebagai wakil rakyat justru sangat sering mengadu domba rakyat demi kepentingan dirinya sendiri. Rakyat hanya dijadikan alat politik yang akan memperlancar jalan menuju apa yang diinginkannya. Hal tersebut terlihat pada penggalan cerita berikut. AuSebagai gantinya, aku akan mencabut nyawa sejumlah penjahat-penjahat gila yang menyebut diri mereka 'pemimpin', yang suka membuat kerusakan di muka bumi dan menghasut manusia untuk saling bunuh dan menghancurkan dunia dengan dalih keutuhan dan stabilitas nasionalAy (As Sibai, 2008: . Melalui penggalan cerita di atas. SibaAoi hendak mengkritik sikap para pemimpin yang mementingkan dirinya sendiri. SibaAoi melihat bahwa sebagian banyak pemimpin adalah penjahat. Mereka tidak segan untuk mengadu domba rakyat demi kepentingan sendiri. Mereka merasa sebagai pemimpin tugasnya adalah menjaga keutuhan dan stabilitas nasional. Namun, cara yang mereka lakukan adalah membunuh dan membuat perang. Pemimpin juga digambarkan sebagai orang-orang yang berbahagia atas penderitaan rakyatnya. Hal tersebut terlihat pada kutipan berikut. AuDi sana-sini, orang-orang gila ini hanya bersedekap laksana badut, menyaksikan pembantaian umat manusia. Mereka asyik menonton rakyat yang saling membunuh sama lain. Jika tontonan mereka mulai agak lesu, merekapun akan berteriak memberi semangat dan menghasut, "Kamu akan celaka jika musuhmu tidak kau celakai. Orang-orang gila ini menipu rakyat dengan cara yang sangat halus, hingga tak seorang pun sampai sekarang ini mampu membuka kedok penipuan, kecurangan dan makar Ay (As SibaAoI, 2008: . Kritik Sosial dalam Novel Izrail Karya Yusuf As SibaAoi (Ade Kosasih. Ooh Hodijah. Yuni Riyant. Jurnal Kajian Budaya dan Humaniora Ae ISSN 2656-7156 SibaAoi hendak memperlihatkan bagaimana sikap pemimpin pada umumnya. Pemimpin digambarkan sebagai penonton yang senang melihat penderitaan rakyat. Terkadang pemimpin inilah yang menghasut rakyat untuk saling menyerang dan bertahan diri. Pemimpin dianggap seperti ular yang licik dan liar. Pemimpin yang Mementingkan Diri Sendiri Pemimpin, sebagaimana pengertiannya adalah orang yang memimpin. Pemimpin membawahi beberapa orang-orang, tugasnya adalah mengatur dan melindungi orang-orang yang Namun, kebanyakan pemimpin justru mementingkan diri sendiri. Menurut SibaAoi hal tersebut bahkan sudah terjadi pada masa abad pertengahan dahulu. Hal tersebut terlihat pada kutipan berikut. Pada masa-masa abad pertengahan, banyak pasukan perang yang terdiri dari barisan yang disebut, 'tentara bayaran. Mereka tentara yang berperang hanya demi meraup bayaran uang dan keuntungan duniawi. Berperang, bagi mereka hanyalah profesi dan keahlian. Tidak penting bagi mereka mengalahkan musuh, karena yang terpenting berapa banyak rampasan perang yang dapat dikantongi, berapa banyak larangan yang telah mereka langgar, dan berapa cacian telah mereka muntahkan (As SibaAoi, 2008: Penggalan cerita di atas ditujukan untuk mencontohkan bagaimana seorang pemimpin seringkali tidak pernah mempedulikan rakyat, tujuan utamanya adalah seberapa besar sesuatu yang mereka dapatkan. Selain itu. SibaAoi melihat segala sesuatu yang dilakukan oleh pemerintah berdasarkan kepentingan tertentu. Seperti pada kutipan berikut. AuPikiranku melayang-layang membayangkan bencana besar yang akan menimpa negeri ini dengan segala proyekproyek pembangunan yang penuh pamrih Setiap kegiatan sosial di negeri ini tidak boleh dipahami begitu saja sebagai amal sosial, pasti ada pamrih dan kepentingan di balik segala kebaikan iniAy (As SibaAoI, 2008: 155. Pembangunan yang dilakukan pemerintah diperlihatkan dengan mengatasnamakan proyek sosial biasanya justru mempunyai kepentingan Kegiatan tersebut tidak sepenuhnya dilakukan demi kepentingan rakyat, namun lebih banyak demi kepentingan pribadi. SIMPULAN Penelitian ini menunjukkan bahwa karya sastra dapat memotret realita sosial. Novel Izrail yang mengisahkan tokoh aku yang mempunyai kesempatan untuk berperan sebagai malaikat Izrail untuk mencabut nyawa, justru digambarkan sebagai manusia pada umumnya yang melupakan akhirat dan berusaha sedemikian rupa untuk mendapatkan harta dunia. Dalam penelitian ini terdapat dua kritik sosial utama yang disampaikan oleh novel Izrail. Kritik pertama disampaikan kepada manusia pada umumnya yang diperlihatkan suka berbohong, hidup mementingkan hal-hal duniawai dan memberi makan hawa nafsunya, manusia seringkali manipulatif, dan sering bergunjing. Kritik sosial kedua ditujukan khusus kepada seharusnya mengayomi masyarakat seringkali malah mengadu domba dan menjadikannya boneka atas kepentingannya sendiri. Novel Izrail yang ditulis bertahun-tahun yang lalu ternyata masih relevan sampai saat ini. DAFTAR PUSTAKA