Dangeubun. et al. /Barakuda 45 7 . , 205-216 e-ISSN: 2656-7474 DOI:https://doi. org/10. 47685/barakuda45. PENGARUH KEDALAMAN TANAM TERHADAP PERTUMBUHAN VEGETATIF CAULERPA RACEMOSA PADA SISTEM BUDIDAYA BAK TERPAL The Effect of Planting Depth on the Vegetative Growth of Caulerpa racemosa in a Tarpaulin Tank Cultivation System Usman Madubun. Jane Lulinda Dangeubun2*). Santi Penina Tua Rahantoknam. Irwan Ismail. 1,2,3,4 Program Studi Manajemen Rejayasa Budidaya Laut Politeknik Perikanan Negeri Tual. Indonesia Korespondensi: linda@polikant. Received: 28 Juli 2025. Received in revised form: 29 September 2025. Accepted: 24 Oktober 2025 ABSTRAK Caulerpa racemosa merupakan salah satu jenis makroalga hijau bernilai ekonomi tinggi yang potensial dibudidayakan secara intensif. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh variasi kedalaman tanam terhadap pertumbuhan vegetatif Caulerpa racemosa dalam sistem budidaya bak terpal. Perlakuan yang diuji terdiri atas tiga kedalaman tanam, yaitu 20 cm, 40 cm, dan 60 cm. Parameter pertumbuhan yang diamati meliputi pertumbuhan mutlak berat, pertumbuhan mutlak panjang stolon, dan pertumbuhan mutlak panjang ramuli selama periode pemeliharaan tertentu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kedalaman tanam 60 cm menghasilkan pertumbuhan vegetatif terbaik, dengan nilai rata-rata berat tertinggi sebesar 137,67A3,21 g, panjang stolon 30,04A0,54 cm, dan panjang ramuli 25,29A2,90 cm. Secara statistik, perbedaan signifikan hanya terdeteksi pada panjang stolon antara kedalaman 60 cm dan 40 cm, sedangkan parameter lainnya menunjukkan perbedaan yang tidak Tren data menunjukkan bahwa kedalaman 60 cm memberikan lingkungan mikro yang lebih stabil dalam hal intensitas cahaya, suhu air, dan perlindungan dari gangguan mekanis, yang berkontribusi pada peningkatan pertumbuhan biomassa dan struktur vegetatif Caulerpa racemosa. Dengan demikian, kedalaman tanam 60 cm direkomendasikan sebagai kedalaman optimal dalam budidaya Caulerpa racemosa pada sistem bak terpal. Kata kunci: Caulerpa racemosa, kedalaman tanam, pertumbuhan vegetatif, budidaya bak terpal, biomassa ABSTRACT Caulerpa racemosa is a type of green macroalgae with high economic value that has the potential to be cultivated intensively. This study aimed to evaluate the effect of planting depth on the vegetative growth of Caulerpa racemosa cultivated in a tarpaulin tank system. Three planting depths were tested: 20 cm, 40 cm, and 60 cm. Vegetative growth parameters observed included Absolute Growth in Weight. Absolute Growth in Stolon Length, and Absolute Growth in Ramuli Length over a defined cultivation period. The results indicated that the 60 cm planting depth yielded the highest vegetative growth, with mean weight 67A3. 21 g, stolon length 30. 04A0. 54 cm, and ramuli length 25. 29A2. 90 cm. Statistical analysis revealed a significant difference only in stolon length between the 60 cm and 40 cm treatments, while differences in weight and ramuli length were not statistically Dangeubun. et al. /Barakuda 45 7 . , 205-216 e-ISSN: 2656-7474 DOI:https://doi. org/10. 47685/barakuda45. Overall, the data suggest that a 60 cm planting depth provides a more stable microenvironment in terms of light intensity, water temperature, and protection from physical disturbances, thereby enhancing biomass accumulation and vegetative structure development in Caulerpa racemosa . Therefore, a planting depth of 60 cm is recommended as the optimal depth for cultivating Caulerpa racemosa in tarpaulin-based culture systems. Keywords: Caulerpa racemosa, planting depth, vegetative growth, pond-based cultivation. PENDAHULUAN Caulerpa racemosa merupakan jenis alga hijau tropis yang memiliki nilai strategis sebagai bahan pangan fungsional karena kandungan gizinya yang melimpah, seperti serat, protein, berbagai mineral, serta senyawa bioaktif seperti fenolik dan flavonoid yang diketahui memiliki aktivitas antioksidan dan anti-diabetes (Aroyehun et al. , 2020. Pangestuti et al. Namun demikian, ketersediaan alga ini di alam semakin menurun akibat tekanan lingkungan seperti kerusakan habitat, prubahan iklim, dan tingkat eksploitasi yang tinggi. Ironisnya, hingga saat ini belum terdapat program restorasi yang memadai untuk menyeimbangkan laju pemanenan di alam. Kondisi ini tentu mengancam keberlanjutan produksi C. racemosa dari sumber alami. Oleh karena itu, diperlukan upaya pengembangan sistem budidaya yang berkelanjutan sebagai alternatif untuk menjamin kontinuitas pasokan di masa mendatang (Safitri & Rachmadiarti, 2. Pengembangan budidaya Caulerpa racemosa secara terkontrol menjadi langkah penting untuk mengurangi ketergantungan pada stok alam. Sistem bak terpal . arpaulin pond. menjadi pilihan utama untuk budidaya Caulerpa racemosa skala kecil hingga menengah, karena lingkungan dan nutrisi (Harwanto et al. Sistem ini memungkinkan kontrol terhadap faktor lingkungan mikro sehingga pertumbuhan alga dapat dioptimalkan. Parameter lingkungan seperti intensitas cahaya, suhu air, sirkulasi, salinitas, dan pH merupakan faktor krusial yang secara signifikan memengaruhi laju pertumbuhan Caulerpa budidaya berbasis bak terpal, karena metabolisme dan fisiologi alga (Lideman et al. , 2. Meskipun teknologinya menuntut ketelitian tinggi. Pengelolaan sistem budidaya Caulerpa racemosa menuntut ketelitian tinggi, terutama dalam pengaturan kedalaman tanam yang menjadi salah satu faktor teknis krusial. Kedalaman tanam terbukti berpengaruh signifikan terhadap kondisi mikro di sekitar tanaman, seperti intensitas cahaya yang diterima, suhu substrat, serta stabilitas terhadap gangguan mekanis maupun aktivitas fauna. Studi budidaya di perairan Tual menunjukkan bahwa kedalaman 3 m dapat meningkatkan pertumbuhan panjang stolon dan ramuli (Dangeubun et al. , 2. , sementara penelitian lain di Takalar menemukan bahwa kedalaman optimal 50 cm mampu menghasilkan biomassa tertinggi, yakni sekitar 197 gram (Darmawati & Jayadi. Sebaliknya, kedalaman tanam yang melebihi batas tersebut justru menurunkan performa pertumbuhan. Perbedaan kondisi lingkungan yang dipengaruhi oleh kedalaman ini berimplikasi langsung terhadap efektivitas proses fotosintesis, aktivitas enzimatik, serta kestabilan lingkungan perairan. Dalam sistem budidaya berbasis bak terpal, intensitas gangguan fisik seperti percikan air atau interaksi dengan hewan pengganggu Dangeubun. et al. /Barakuda 45 7 . , 205-216 e-ISSN: 2656-7474 DOI:https://doi. org/10. 47685/barakuda45. bahkan dapat lebih dominan. Oleh karena itu, pemilihan kedalaman tanam yang tepat menjadi kunci untuk menciptakan kondisi lingkungan yang optimal guna mendukung Caulerpa Bagian vegetatif utama Caulerpa pertumbuhan meliputi berat biomassa, panjang stolon, dan panjang ramuli. Namun, kedalaman tanam terhadap parameterparameter ini dalam sistem bak terpal masih sangat terbatas. Studi yang ada lebih banyak fokus pada faktor umum lingkungan perairan terbuka. Keterbatasan data ini menjadi hambatan dalam penyusunan panduan teknis budidaya yang berbasis bukti ilmiah. Pembudidaya pengalaman empiris tanpa referensi yang Padahal, optimasi teknik budidaya sangat penting untuk efisiensi dan hasil produksi yang stabil. Oleh karena itu, penelitian tentang aspek ini perlu segera Penelitian mengevaluasi dampak kedalaman tanam pada pertumbuhan vegetatif Caulerpa racemosa dalam sistem bak terpal. Parameter yang diamati meliputi berat biomassa, panjang stolon . , dan Data menunjukkan bahwa interaksi kedalaman tanam dan jenis pupuk memengaruhi berat biomassa dan survival rate secara signifikan (Astuti et al. , 2. Hasil ini kedalaman tanam ideal yang mendukung pertumbuhan optimal. Temuan tersebut sangat dibutuhkan sebagai panduan teknis berbasis bukti ilmiah untuk pembudidaya, terutama dalam meningkatkan efisiensi dan stabilitas produksi, serta menekan biaya operasional di skala kecil pesisir. Sistem bak terpal menawarkan solusi memungkinkan penggunaan ruang dan pengelolaan air yang efisien. Namun stabilitas lingkungan mikro seperti intensitas cahaya, suhu substrat, dan kualitas air tetap merupakan tantangan (Muyoz et al. , 2. Pengaturan kedalaman tanam menjadi bagian penting dari strategi mitigasi terhadap variabilitas Selain mendukung pertumbuhan, hal ini juga mempermudah pengelolaan sistem secara keseluruhan. Pendekatan budidaya ini pun memberikan kontribusi terhadap keberlanjutan sumber daya lokal. Di tengah isu perubahan iklim dan degradasi kualitas lingkungan laut, sistem budidaya yang efisien dan ramah lingkungan makin diperlukan. Sebagai alga fotosintetik. Caulerpa racemosa memiliki potensi menyerap karbon dan memanfaatkan nutrien berlebih dari budidaya ikan atau udang, sehingga ideal untuk dikembangkan dalam sistem IMTA dan biofiltrasi. Dalam hal ini, pengaturan kedalaman tanam tidak hanya merupakan aspek teknis operasional, tetapi juga bagian dari strategi budidaya hijau dan (Yuniarsih et al. , 2. Caulerpa racemosa dalam mengikat nitrogen dan fosfor sisa di sistem IMTA, menjadikan pendekatan ini dapat berkontribusi secara ilmiah dan praktis terhadap konsep akuakultur berkelanjutan dengan biaya produksi efisien dan nilai ekologi yang tinggi bagi pembudidaya pesisir. Berdasarkan uraian diatas, tujuan dari penelitian ini adalah Apakah variasi Caulerpa racemosa dalam sistem bak terpal. Bagaimana pengaruh kedalaman tanam terhadap pertumbuhan morfologi stolon dan ramuli Caulerpa racemosa dan memberikan kondisi lingkungan paling optimal untuk mendukung pertumbuhan vegetatif Caulerpa racemosa. Dangeubun. et al. /Barakuda 45 7 . , 205-216 e-ISSN: 2656-7474 DOI:https://doi. org/10. 47685/barakuda45. METODE PENELITIAN Keempat sudut kerangka bambu diikat tali gantungan dan diberi pemberat di bagian bawah (Gambar 2 dan . 60 cm Penelitian ini berlangsung dari bulan Maret sampai Juni 2024 yang bertempat di Laboratorium Budidaya Laut. Politeknik Perikanan Negeri Tual (Gambar . Gambar 2. Wadah Bambu Tampak Atas Sumber: Hasil Penelitian, 2024 Gambar 1. Lokasi Penelitan (Sumber: google earth, 2. Alat dan bahan Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah Timbangan digital. Mister / kaliper. Buku, pena. Toples. Baki. Parang. Gunting. Kamera. Refraktometer dan Selang dan batu Aerasi. Bahannya penelitian adalah Caulerpa racemosa. Gambar 3. Frame Bambu Yang Siap Digunakan Sumber: Hasil Penelitian, 2024 Bibit dan penempatan dalam wadah Bibit Caulerpa racemosa yang digunakan dalam penelitian ini berasal dari nelayan lokal di Desa Letman. Kabupaten Maluku Tenggara, dengan bobot 500 gram per frame. Bibit ditebar secara merata di atas anyaman daun kelapa pada setiap frame bambu, kemudian dimasukkan ke dalam bak pemeliharaan. Penempatan frame dilakukan secara acak secara vertikal di dalam bak terpal bulat (Orcit A. berkapasitas 3 ton, yang berlokasi di Laboratorium Budidaya Laut. Politeknik Perikanan Negeri Tual. Sebelum digunakan, bak dibersihkan dan diisi dengan air laut sebanyak 2. 617 liter. Ilustrasi penempatan frame dalam bak disajikan pada Gambar 4. Prosedur Penelitian Konstruksi wadah budidaya Wadah menggunakan bahan lokal yaitu bambu, daun kelapa, dan jaring ikan. Potongan bambu berukuran 1 x 1 m dirangkai membentuk kerangka persegi . y 60 c. , kemudian diberi bilah bambu tambahan dengan jarak antar bilah A2,5 Di atas susunan bambu tersebut, daun kelapa dianyam secara berlawanan arah untuk membentuk alas budidaya. Bibit Caulerpa racemosa disebar merata di atas anyaman daun kelapa Selanjutnya, jaring ikan dipasang pada bagian atas untuk membungkus alga agar tidak terlepas. Dangeubun. et al. /Barakuda 45 7 . , 205-216 e-ISSN: 2656-7474 DOI:https://doi. org/10. 47685/barakuda45. Pengukuran panjang stolon dan panjang ramuli dilakukan seminggu sekali dalam waktu penelitian. Panjang dinyatakan dalam satuan centimeter . Berat tallus diukur dua kali, yakni saat awal dan akhir penelitian . Berat dengan satuan gram . Parameter kualitas air Parameter kualitas air yg diukur dalam penelitian ini adalah suh dan Gambar 4. Ilustrasi Penempatan Sumber: Hasil Penelitian, 2024 Analisis Data Pertumbuhan Mutlak Pengukuran pertumbuhan mutlak Caulerpa racemosa dihitung dengan rumus (Effendie, 1. ycOyco = ycOyc Oe ycO0 Keterangan: Wm = Pertumbuhan Mutlak Wt = Berat Caulerpa racemosa pada akhir penelitian . W0 = Berat Caularpa sp pada awal penelitian . Perlakuan Perancangan Percobaan Penelitian Rancangan Acak Lengkap satu faktor . on Perlakuan penempatan vertikal wadah budidaya Caulerpa racemosa terdiri atas 3 taraf perlakuan yaitu kedalaman 20 cm, 40 cm, dan 60 cm dan masing-masing perlakuan diulang 4 kali, sehingga ada 12 unit Variabel terpengaruh yaitu laju Caulerpa Sedangkan variabel bebas yaitu jarak vertikal/kedalaman penempatan wadah budidaya dalam bak. Laju Pertumbuhan Harian Pengukuran laju pertumbuhan harian (DGR) penimbangan bobot rumput laut pada setiap minggu, dengan rumus sebagai berikut (Dawes et al. , 1994. Hurtado et , 2. ln ycOycOe ln ycO0 DGR = ycU 100% yc DGR = Laju pertumbuhan harian (%/har. Wt = Bobot sampel . ata/rat. pada waktu t . W0 = Bobot sampel awal . t = Lama pemeliharaan . Pelaksanaan Kegiatan ini meliputi penebaran bibit pada frame bambu dan pemeliharaan rumput menggunakan metode gantung dengan 3 kedalaman berbeda: kedalaman A . , kedalaman B . , dan kedalaman C . Berat bibit Caulerpa racemosa pada tiap wadah adalah 500 g. Kualitas air diperhatikan dan diukur untuk menunjang keberhasilan budidaya rumput laut. Parameter Penelitian Pengukuran C. Parameter yang diambil dalam penelitian meliputi panjang stolon, panjang ramuli, dan berat tallus. Pengujian anova Untuk kedalaman tanam terhadap pertumbuhan Caulerpa racemosa, digunakan analisis sidik ragam (ANOVA) dengan taraf kepercayaan 95% . ji F). Jika F hitung > F Dangeubun. et al. /Barakuda 45 7 . , 205-216 e-ISSN: 2656-7474 DOI:https://doi. org/10. 47685/barakuda45. tabel 5%, maka terdapat perbedaan nyata antar perlakuan (*), sedangkan jika F hitung < F tabel, maka tidak terdapat perbedaan nyata . Apabila hasil menunjukkan perbedaan nyata atau sangat nyata, maka dilanjutkan dengan uji Beda Nyata Terkecil (BNT) atau Uji Duncan. Uji lanjutan ini bertujuan untuk mengetahui perlakuan kedalaman tanam yang memberikan HASIL DAN PEMBAHASAN Pertumbuhan Mutlak Berat (PM Bera. Pertumbuhan mutlak berat Caulerpa racemose pada penelitian ini terdapat pada Tabel 1. Tabel 1. Pertumbuhan Mutlak Berat Caulerpa racemose Parameter Pertumbuhan Mutlak Berat . Kedalaman Tanam A . B . C . 120,33A1,60b 131,67A2,52a 137,67A3,21a Sumber: Hasil Penelitian, 2024 Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertumbuhan berat mutlak Caulerpa Nilai tertinggi diperoleh pada kedalaman 60 cm sebesar 137,67A3,21 gram, disusul 40 cm . ,67A2,52 gra. , dan 20 cm . ,33A19,60 gra. Meskipun terdapat perbedaan nilai ratarata antar perlakuan, hasil uji statistik menunjukkan perbedaan tidak signifikan. Hal ini ditunjukkan oleh notasi huruf yang sama . pada ketiga perlakuan. Artinya, kedalaman tanam 20Ae60 cm belum menunjukkan pengaruh nyata secara Meski peningkatan berat seiring bertambahnya Kedalaman 60 cm secara tertinggi, menandakan kondisi lingkungan yang lebih mendukung. Kedalaman lebih dangkal sering kali mengalami fluktuasi lingkungan yang lebih tinggi. Hal ini dapat menyebabkan stres fisiologis pada organisme budidaya. Secara teoritis, kedalaman tanam berpengaruh terhadap intensitas cahaya, suhu substrat, arus, dan kestabilan Lyning, . menyatakan bahwa cahaya yang optimal bergantung pada adaptasi spesies terhadap kondisi Di kedalaman dangkal, intensitas cahaya tinggi namun fluktuasi suhu juga besar. Hal ini dapat menyebabkan gangguan fisiologis yang menghambat pertumbuhan. Sebaliknya, kedalaman lebih dalam cenderung menawarkan lingkungan yang lebih stabil bagi makroalga. Temuan ini sejalan dengan hasil kajian tentang Gracilaria verrucosa, yang menunjukkan bahwa pertumbuhan terbaik terjadi pada kedalaman tanam antara 40Ae 60 cm, dengan stabilitas suhu dan penyerapan nutrien secara efisien (Hendri et al. , 2. Hal ini memungkinkan organisme mengalokasikan lebih banyak energi untuk pertumbuhan. Faktor-faktor lingkungan ini berperan penting dalam sistem tertutup seperti bak terpal. Karena itu, kedalaman tanam menjadi variabel penting dalam desain budidaya. Meskipun menunjukkan bahwa Caulerpa racemosa mampu tumbuh secara stabil pada rentang kedalaman 20Ae60 cm selama kualitas lingkungan tetap terjaga, hal ini mencerminkan kemampuan adaptasi yang cukup tinggi dari spesies tersebut terhadap variasi kondisi budidaya. Sebaliknya. Dangeubun. et al. /Barakuda 45 7 . , 205-216 e-ISSN: 2656-7474 DOI:https://doi. org/10. 47685/barakuda45. penelitian terhadap Kappaphycus alvarezii mengindikasikan tingkat sensitivitas yang lebih besar terhadap perubahan kedalaman Kasnir et al. mencatat bahwa pertumbuhan terbaik dicapai pada kedalaman 1,5 meter menggunakan metode vertikultur. Sementara itu, hasil studi oleh Tiwa et al. menunjukkan bahwa laju pertumbuhan relatif tertinggi sebesar 302,9% terjadi pada kedalaman hanya 25 cm. Perbedaan ini kemungkinan dipengaruhi oleh karakteristik spesies dan teknik budidaya yang digunakan. Dengan demikian, meskipun tidak ditemukan perbedaan signifikan antar kecenderungan ekologis yang selaras dengan teori dan studi terdahulu. Hasil ini mempertimbangkan variabel lingkungan lain dalam budidaya tertutup. Faktor seperti kualitas air, substrat, dan nutrien berperan besar dalam menentukan hasil Penelitian lanjutan dengan waktu Hal ini penting untuk memperkuat pemahaman dan penerapan teknik budidaya yang efisien. Pertumbuhan Mutlak Panjang Stolon Hasil penelitian menunjukkan bahwa kedalaman tanam berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan panjang stolon Caulerpa racemosa. Kedalaman 60 cm menghasilkan stolon terpanjang . ,04A0,54 c. , diikuti oleh 40 cm . ,91A0,35 c. , dan 20 cm . ,13A1,13 Uji statistik menunjukkan perbedaan signifikan antara perlakuan A dengan B dan C, ditandai oleh notasi huruf berbeda. Hal peningkatan kedalaman tanam hingga 60 cm dapat meningkatkan pertumbuhan Kondisi lingkungan yang lebih stabil pada kedalaman lebih dalam diduga mendukung pemanjangan stolon secara optimal (Tabel Tabel 2. Pertumbuhan Mutlak Panjang Stolon Parameter Pertumbuhan Stolon . Mutlak Kedalaman Tanam Panjang A . B . C . 26,13A1,13b 28,91A0,35a 30,04A0,54a Sumber: Hasil Penelitian, 2024 Pertumbuhan Caulerpa racemosa menunjukkan respon berbeda terhadap variasi kedalaman tanam. Kedalaman 60 cm menghasilkan stolon ,04A0,54 c. , diikuti 40 cm ,91A0,35 c. , dan terendah pada 20 cm ,13A1,13 Uji menunjukkan perbedaan signifikan antara perlakuan 20 cm dengan dua kedalaman Hal ini mengindikasikan bahwa kedalaman tanam lebih besar mendukung pertumbuhan stolon secara signifikan. Stabilitas suhu, arus, dan substrat di kedalaman yang lebih dalam menjadi faktor penentu utama. Secara stolon dipengaruhi secara signifikan oleh faktor lingkungan seperti intensitas cahaya, suhu air, dan stabilitas kondisi Hal ini sesuai dengan temuan bahwa pertumbuhan horizontal . Caulerpa racemosa berkorelasi dengan variasi iradiasi cahaya dan suhu laut, yang lingkungan dalam budidaya (Ruitton et al. Teori ini sejalan dengan Lyning. Dangeubun. et al. /Barakuda 45 7 . , 205-216 e-ISSN: 2656-7474 DOI:https://doi. org/10. 47685/barakuda45. mengenai adaptasi alga terhadap cahaya sedang di lingkungan stabil. Lingkungan pada kedalaman sekitar 20 cm yang sering terkena gelembung menimbulkan stres mekanik sehingga memperpendek stolon, sementara kondisi lebih tenang pada kedalaman sekitar 60 cm mendukung perkembangan stolon yang lebih panjang dan lurus. Ini sejalan dengan temuan Piazzi et al. , bahwa shear stress dari arus di atas Caulerpa racemosa dapat menghambat pertumbuhan stolon. Selain itu, studi oleh Sitorus et al. pencahayaan dan suhu dalam menunjang pertumbuhan stolon C. racemosa secara Hasil ini memiliki relevansi tinggi untuk diterapkan dalam budidaya skala kecil atau rumah tangga, karena tidak memerlukan lahan yang luas, melainkan hanya membutuhkan pengaturan teknis kedalaman yang tepat. Panjang stolon sendiri dapat digunakan sebagai indikator lingkungan mikrohabitat. Dalam kondisi optimal, stolon akan tumbuh memanjang sebagai respons metabolik terhadap ketersediaan ruang dan nutrien. Lebih jauh, temuan ini juga memberikan kontribusi penting dalam konteks restorasi ekosistem pesisir. Kemampuan Caulerpa racemosa untuk beradaptasi pada kedalaman sedang menunjukkan potensinya untuk digunakan dalam rehabilitasi padang lamun atau area pesisir yang terdegradasi. Pendekatan budidaya sederhana yang memanfaatkan spesies lokal yang toleran juga mendukung Dengan demikian, studi ini tidak hanya bernilai praktis dalam pengembangan sistem budidaya, tetapi juga berkontribusi secara ekologis terhadap pemulihan habitat Pertumbuhan Mutlak Panjang Ramuli Penelitian menunjukkan bahwa variasi kedalaman tanam memengaruhi pertumbuhan panjang ramuli Caulerpa Rata-rata panjang ramuli tertinggi tercatat pada kedalaman 60 cm . ,29A2,90 c. , diikuti 40 cm . ,83A2,08 c. , dan 20 cm . ,52A3,41 Meskipun terdapat tren peningkatan, uji statistik menunjukkan perbedaan tidak memberikan pengaruh nyata terhadap pertumbuhan panjang ramuli Tabel 3. Tabel 3. Pertumbuhan Mutlak Panjang Ramuli Parameter Pertumbuhan Ramuli . Mutlak Kedalaman Tanam Panjang A . B . C . 20,52A3,41a 22,83A2,08a 25,29A2,90a Sumber: Hasil Penelitian, 2024 Kondisi ini lebih mudah tercapai pada kedalaman yang lebih dalam, yang cenderung terlindung dari fluktuasi Hasil ini sejalan dengan Fitriana et al. , yang menemukan bahwa ramuli tumbuh lebih panjang dan rapat pada kedalaman 50Ae60 cm di bak terpal karena lingkungan yang lebih stabil. Hartati & Ramuli Caulerpa dipengaruhi oleh cahaya, suhu, dan kestabilan lingkungan. Menurut Lyning . , pertumbuhan struktur fotosintetik akan optimal jika lingkungan memiliki pencahayaan cukup dan suhu stabil. Dangeubun. et al. /Barakuda 45 7 . , 205-216 e-ISSN: 2656-7474 DOI:https://doi. org/10. 47685/barakuda45. Khairunnisa . juga menyatakan bahwa panjang ramuli berhubungan dengan kualitas air dan pencahayaan yang Stabilitas mendukung efisiensi fotosintesis dan perkembangan morfologi ramuli. Meskipun demikian, hasil berbeda ditemukan oleh Lestari et al. dalam sistem terbuka, di mana variasi kedalaman tidak signifikan karena faktor cahaya alami dan kualitas air lebih dominan. Dalam sistem tertutup seperti bak terpal, mengurangi efek kedalaman, sementara Caulerpa racemosa sendiri memiliki toleransi yang cukup lebar terhadap variasi 20Ae60 Secara praktis, tren peningkatan panjang ramuli pada kedalaman 60 cm tetap penting sebagai dasar pengelolaan Mengingat ramuli adalah bagian bernilai ekonomi tinggi, pengaturan kedalaman tanam minimal 40 cm dapat dipertimbangkan dalam sistem budidaya semi-intensif. Pendekatan ini dapat meningkatkan kualitas hasil panen meskipun tanpa perbedaan signifikan secara statistik. Laju Pertumbuhan Harian Berat Laju Pertumbuhan Harian Berat (LPH Bera. dapat dilihat pada Tabel 4. Tabel 4. Tabel analisa Laju Pertumbuhan Harian Berat (LPH Bera. Kedalaman Tanam Parameter A . B . C . Laju Pertumbuhan Harian Berat (%/har. 1,68A0,05b 1,86A0,05a 1,86A0,03a Hasil Penelitian, 2024 Berdasarkan hasil uji statistik pada Tabel di atas menunjukkan bahwa kedalaman tanam yang berbeda memberikan perbedaan yang signifikan terhadap laju pertumbuhan harian berat rata-rata rumput laut Caulerpa racemosa selama 28 hari pemeliharaan (P<0. Dimana Perlakuan B dan C menghasilkan laju pertumbuhan harian berat rata-rata tertinggi1,86 %/hari dan terkecil adalah perlakuan A yakni sebesar 1,68 %/hari. dengan baik, serta tidak diganggu oleh predator lainnya termasuk manusia. Selain itu pula kualitas air yang dipertahankan dengan cara pergantian air dapat mempengaruhi pertumbuhan C. Pengukuran bobot hanya dilakukan pada saat awal dan akhir. Perlakuan kedalaman 40 cm dan 60 cm memiliki bobot yang tinggi bila dibandingan dengan perlakuan jarak kedalaman 20 cm. Kualitas Air Dalam penelitian ini pertumbuhan C. racemosa berkembang dengan baik sehingga memperoleh yang tinggi. Hal ini diduga karena faktor sabut kelapa yang dapat menyerap nutrien atau unsur hara Data kuliatas air budidaya Caulerpa racemosa pada bak terpal dapat dilihat pada Tabel di 5. Dangeubun. et al. /Barakuda 45 7 . , 205-216 e-ISSN: 2656-7474 DOI:https://doi. org/10. 47685/barakuda45. Tabel 5. Data Pengukuran Kualitas Air di lokasi penelitian Parameter Suhu (OC) Salinitas . Sumber: Hasil Penelitian, 2024 Nilai pengukuran Menurut Setiaji . , kisaran suhu optimal untuk pertumbuhan rumput laut jenis latoh (Caulerpa racemos. berada pada rentang 20Ae32 AC. Hasil penelitian ini menunjukkan suhu perairan berada pada kisaran 27Ae28 AC, sehingga kondisi tersebut masih termasuk dalam rentang optimal bagi pertumbuhan Caulerpa Hasil penelitian menunjukkan bahwa salinitas perairan berkisar antara 28Ae35 Menurut Alamsjah et al. kisaran salinitas yang sesuai untuk pertumbuhan rumput laut adalah 20Ae40 Dengan demikian, kondisi salinitas dalam penelitian ini masih berada pada kisaran yang mendukung pertumbuhan Caulerpa racemosa. And Salinity On The Growth And Chlorophyll A From Sargassum SP. Jurnal Ilmiah Perikanan dan Kelautan, 5. , 99-104. Aroyehun. Razak. Palaniveloo. Nagappan. Rahmah. Jin. Chellappan. Chellian. , & Kunnath, . Bioprospecting cultivated tropical green algae, caulerpa racemosa: a perspective on nutritional properties, antioxidative capacity and antidiabetic potential. Foods, 9. https://doi. org/10. 3390/foods9091313 Astuti. Cokrowati. , & Mukhlis, . Cultivation of seagrapes (Caulerpa lentillifer. in controlled containers with the addition of different doses of fertilizers. Journal of Coastal and Ocean Sciences, 2. , 1Ae6. https://doi. org/10. 31258/jocos. Dangeubun. Madubun. Tjoanda. & Letsoin. Pertumbuhan Caulerpa racemosa Pada Metode Long Line Dengan Kedalaman Berbeda. Jurnal Perikanan Kamasan: Smart. Fast, & Professional Services, 5. , 1Ae16. https://doi. org/10. 58950/jpk. Darmawati. , & Jayadi. Optimasi pertumbuhan caulerpa sp kedalaman yang berbeda di perairan laguruda kabupaten takalar. Octopus. Jurnal Ilmu Perikanan, 5, 435Ae442. Dawes. Lluisma. , & Trono Gavino, . Laboratory and field growth studies of commercial strains of Eucheuma denticulatum and Kappaphycus alvarezii in the Philippines. Journal of Applied Phycology - J APPL PHYCOL, 6, 21Ae KESIMPULAN Penelitian ini menunjukkan bahwa pertumbuhan vegetatif Caulerpa racemosa dalam sistem bak terpal. Kedalaman 60 cm menghasilkan nilai tertinggi pada semua parameter . erat, panjang stolon, dan ramul. , meskipun hanya pertumbuhan stolon yang berbeda signifikan secara Tren data menunjukkan bahwa kondisi lingkungan pada kedalaman 60 cm lebih stabil dan mendukung pertumbuhan. Dengan demikian, kedalaman tanam 60 cm direkomendasikan sebagai kedalaman Caulerpa racemosa secara efisien. DAFTAR PUSTAKA