Vol. No. 02 Juli 2024. Hal. P-ISSN 2964-5. E-ISSN 2987-2014 Perilaku Seks Bebas Melalui Friends with Benefits (FWB) di Media Sosial Mustaqim1*. Noor Afy Shovmayanti2 1Fakultas Ilmu Budaya. Universitas Gadjah Mada 2Fakultas Sosial dan Humaniora. Universitas Muhammadiyah Klaten Email: mustaqimibnuadam@gmail. com, noorafyshov@umkla. Abstract The study of social media and how young people's social behavior is formed is very interesting to study at this Many aspects have changed due to the presence of social media which is increasingly easy to access with a variety of phenomena occurring in it. One of them is the free sexual behavior among young people through Friends With Benefits which is trending lately. This happens because social media networks are increasingly liberalized, especially in the aspect of relationships between men and women. Social media and online dating apps are increasingly creating a strong space for free sexual behavior. Free sexual behavior that starts from social media will certainly create many problems, especially among women who are often victims of sexual The research aims to enrich the study of social science and humanities based on behavior in cyberspace that has an impact on activities in the real world, especially among young people as the biggest users of social media. This research tries to read the behavior of free sex based on social media, which is common among children referred to as FWB using a phenomenological approach with the netnography The fact that social media behavior is increasingly uncontrolled in relationships between men and women makes the FWB phenomenon more widespread. In this study, we found free sexual behavior that originated from activities in cyberspace. Keyword: free sex. FWB, social media, netnography Abstrak Kajian tentang media sosial dan bagaimana perilaku sosial anak muda terbentuk sangat menarik untuk dikajian untuk saat ini. Banyak aspek yang berubah karena kehadiran media sosial yang semakin mudah untuk diakses dengan berbagai macam fenomena yang terjadi di dalamnya. Salah satunya adalah perilaku seks bebas di kalangan anak muda melalui Friends With Benefits yang sedang trend belakangan ini. Hal ini terjadi karena jaringan media sosial yang semakin liberal, terutama dalam aspek hubungan antar pria dan Media sosial dan aplikasi kencan online semakin menciptakan ruang yang kuat bagi perilaku seks Perilaku seks bebas yang berawal dari media sosial tentu saja akan melahirkan banyak persoalan, terutama di kalangan wanita yang kerap menjadi korban kekerasan seksual. Tujuan penelitian untuk memperkaya kajian ilmu sosial dan humaniora yang berbasis pada perilaku di dunia maya yang berdampak pada aktivitas di dunia nyata, terutama di kalangan anak muda sebagai pengguna terbesar media sosial. Penelitian ini mencoba membaca perilaku seks bebas yang berbasis di media sosial yang lazim di kalangan anak disebut sebagai FWB dengan menggunakan pendekatan fenomenologi dengan metode netnografi. Fakta kian tidak terkontrolnya perilaku media sosial dalam hubungan antar pria dan wanita membuat fenomena FWB semakin meluas. Dalam penelitian ini temukan perilaku seks bebas yang berawal dari aktivitas di dunia Kata Kunci: seks bebas. FWB, media sosial, netnografi Pendahuluan Laporan dari BKKBN menyatakan bahwa pada remaja usia 16-17 tahun ada sebanyak 60% remaja yang melakukan hubungan seksual, usia 14-15 tahun ada sebanyak 20%, dan pada usia 19-20 sebanyak 20% . Salah sebab mengapa angka seks bebas ini semakin hari meningkat karena pengaruh media sosial Media sosial telah menciptakan konstuksi sosial baru dalam Melalui media sosial masyarakat dengan mudahnya terkoneksi satu sama lain dengan sangat mudah. Hal ini melahirkan banyak dampak positif maupun negatif. Berbagai temuan dan riset menunjukkan bagaimana akses terhadap konten pornografi sangat mudah diakses di berbagai platform seperti Telegram. Tiktok, dan Youtube, bahkan beberapa games yang dimainkan anak anak mengandung unsur pornografi . Liberalisasi media sosial tanpa batas membuat para penggunanya bebas mengakses apa saja dan bisa terhubungan kepada siapa Salah satu fenomena sosial yang lahir dari dampak massifnya media sosial adalah fenomena Vol. No. 02 Juli 2024. Hal. P-ISSN 2964-5. E-ISSN 2987-2014 Friends With Benefits atau di kalangan anak muda dikenal istilah FWB. Fenomena ini dikenal di kalangan anak muda sebagai hubungan dua orang yang terlibat hubungan seksual tanpa ikatan emosional yang serius. Fenomena FWB ini adalah perilaku seksual yang dibangun untuk urusan kesenangan semata tanpa perlu membangun komitmen serius. Hubungan FWB ini adalah solusi alternatif mereka yang ingin melakukan hubungan seksual tanpa harus terjebak pada ikatan. Sudah ada beberapa penelitian yang dilakukan terkait fenomena FWB ini, salah satunya dilakukan oleh Scott dan Rivera, menurut mereka FWB terjadi karena keinginan akses yang mudah untuk melakukan seks bebas, menghindari komitmen akan hubungan, dan tanpa perlu banyak drama . Fenomena FWB ini banyak muncul di media-media sosial, terutama di aplikasi Twitter . ini berganti nama dengan aplikasi X). Informasi tentang fenomena FWB ini mulai banyak diketahui masyarakat umum, terutama mereka yang aktif dalam media sosial. Meskipun begitu, fenomena ini masih dianggap tabu dan bertentangan dengan norma yang ada masyarakat umum . FWB dianggap sebagai ajang untuk melanggengkan seks bebas, terutama di kalangan anak muda. Tulisan ini hadir untuk melengkapi berbagai studi yang telah dilakukan terkait fenomena sosial yang muncul di masyarakat dengan adanya akses media sosial yang kian bebas tanpa batas. Dalam tulisan ini fokus mengkaji terkait fenomena yang beberapa tahun terakhir marak jadi perbincangan di media sosial terkait perilaku seks bebas di kalangan anak muda dengan model baru yang lazim disebut sebagai Friends With Benefits. Meskipun persoalan seks bebas sudah menjadi fenomena klasik masyarakat umum, namun melalui perkembangan yang pesat di bidang teknologi dan informatika perilaku seks bebas juga mengalami transormasi bentuk. Dalam penelitian ini penulis memunculkan 2 rumusan masalah. Pertama, mengapa fenomena FWB ini bisa tersebar di media sosial. Kedua, bagaimana proses FWB ini berlangsung di kalangan masyarakat, terutama di kalangan anak muda pengguna media sosial aktif. Melalui kajian ini, diharapkan bisa melahirkan temuan baru yang bisa lebih melengkapi studi tentang fenomena FWB. Penelitian ini didasarkan pada asumsi awal bahwa fenomena FWB ini hadir sebagai bentuk baru dari perilaku seks bebas yang basis utamanya berawal dari interaksi media sosial. Fenomena ini muncul kian massif karena kontrol terkait aktivitas di media sosial kian tidak terkendali. Tulisan ini juga menganggap bahwa persoalan FWB ini adalah bagian dari persoalan sosial yang sangat berbenturan dengan tradisi masyarakat di Indonesia. Hal ini tentu menjadi kekhawatiran bersama ketika fenomena FWB ini menjadi kebudayaan baru di kalangan anak muda. Tentu hal itu sangat tidak sesuai dengan kebudayaan yang ada di Indonesia. Kemunculan internet telah memicuh para develover untuk terus membuat kreatifitas produk digital baru. Beragam aplikasi hadir untuk memenuhi pasar akan kebutuhan interaksi tanpa batas antar manusia. Aplikasi-aplikasi yang jejaring sosial online diciptakan dengan menduplikasi pola jejaring di kehidupan nyata hanya saja dalam cakupan yang lebih luas. Hal ini misalnya terjadi di aplikasi Facebook. Twitter (Kini namanya X). Instagram. WhatsApp. Youtube, dan lain sebagainya membuat manusia saling terhubung satu sama lain . Melalui media sosial seseorang bisa memantau aktivitas keseharin seseorang hanya dengan mengunjungi timelinenya. Melalui media sosial jaringan perkenalan semakin meluas, terutama dalam hubungan perempuan dan laki-laki. Di facebook ada grup khusus untuk mencari jodoh, begitu pun di aplikasi sosial media lainnya. Khusus untuk aplikasi yang menghubungkan antara pria dan wanita, ada aplikasi khusus diciptakan untuk kebutuhan itu. Misalnya aplikasi Tinder. Bumble, dan Tantan. Ada pula aplikasi yang sangat terkenal untuk urusan prostitusi Michat. Ada juga aplikasi yang khusus digunakan untuk menjual atau mendistribusikan konten dewasa, seperti Onlyfans dan Telegram. Tidak hanya untuk mereka yang memiliki orientasi seksual yang umum, media sosial juga digunakan untuk mereka yang memiliki orientasi seksual yang tidak umum, misalnya LGBT. Melalui media sosial, mereka membangun relasi, hubungan, bahkan bertemu dengan pasangan baru melalui media sosial . Melalui media sosial, jaringan pertemuan yang berorientasi seksualitas dapat dilakukan dengan mudah. Tidak hanya sebagai tempat untuk menjalin relasi seksualitas, media sosial juga kerap menjadi tempat kekerasan, terutama bagi kalangan wanita. Studi yang dilakukan Harmony Tavakoli, media sosial dalam hal ini aplikasi kencan menjadi alat pemerasan. Sistem kerjanya Vol. No. 02 Juli 2024. Hal. P-ISSN 2964-5. E-ISSN 2987-2014 dengan mengajak korban berkenalan melalui chat. Melakukan tipu rayu dan pelaku mulai meminta foto tak senonoh korban. Jika berhasil mendapatkan foto korban, pelaku laku melakukan pemerasan . Ada banyak fenomena yang terjadi dimana media sosial dijadikan tempat berkenalan yang tujuannya untuk menjalin hubungan seksual dengan orang baru. Misalnya fenomena FWB semakin populer karena adanya bantuan jaringan koneksi pengguna media sosial yang saling terhubung. Perilaku seks bebas merupakan salah satu penyimpangan sosial di Indonesia. Fenomena ini kian massif di kalangan anak muda sejalan dengan perkembangan teknologi dan informasi. Perilaku seks bebas di kalangan anak muda pada dasarnya bukan semata-mata persoalan yang muncul dari dalam diri anak muda, akan tetapi ada faktor lain yang mendukung di luar dirinya. Sudah banyak hasil studi yang menggambarkan buramnya potret remaja Indonesia akibat dampak dari kasus-kasus beraroma pornografi dari mulai seks bebas, aborsi, sampai terpapar HIV/AIDS. Apalagi perilaku seks bebas yang banyak dinormalisasi di media sosial melalui berbagai konten. Perilaku seks bebas merupakan suatu tingkah laku yang didorong oleh hasrat seksual, baik dengan lawan jenisnya maupun dengan sesama jenisnya. Bentuk-bentuk tingkah laku ini biasanya bermacam-macam, mulai dari perasaan tertarik hingga tingkah laku berkencan, bersenggama dan bercumbu . Di Indonesia, ada sekitar 4,5% remaja laki-laki sementara 0,7% remaja perempuan usia 15-19 tahun yang mengaku pernah melakukan seksual pranikah. Pada remaja usia 15-19 tahun, proporsi terbesar berpacaran pertama kali pada usia 15-17 tahun. Sekitar 33,3% remaja perempuan dan 34,5% remaja laki-laki yang berusia 15-19 tahun mengaku mulai berpacaran pada saat mereka belum berusia 15 tahun. Pada usia tersebut mereka dikhawatirkan masih sangat labil dari berbagai aspek, sehingga beresiko berperilaku pacaran yang tidak sehat antara lain melakukan hubungan seksual pra nikah. Faktanya setiap tahun sekitar 2,3 juta ditemukan kasus aborsi di Indonesia, yang dimana 20% diantaranya adalah kasus aborsi yang dilakukan oleh remaja. Dari segi aspek kesehatan, perilaku seksual pranikah remaja, khususnya berciuman berat dan berhubungan kelamin, menimbulkan beberapa kerentangan, seperti menyebarnya berbagai penyakit kelamin termasuk HIV/AIDS serta kehamilan yang tidak Khusus persoalan kehamilan yang tidak diinginkan ini dapat menimbulkan masalah baru lainnya yaitu aborsi dengan segala dampaknya, tingginya angka morbiditas dan mortalitas persalinan, kelahiran bayi prematur dan berat bayi yang tidak ideal . Terjadi kenaikan perilaku seks bebas seiring dengan akses informasi di media sosial yang semakin meluas. Komunitas yang rentang menjadi korban dari dampak liberalisasi media sosial adalah para remaja dan anak muda. Mereka adalah mayoritas yang aktif dalam interaksi dunia Perilaku seks bebas juga diperkuat dengan makin banyaknya konten pornografi yang sangat mudah di akses di media sosial. Misalnya untuk konteks Indonesia, meskipun ada aturan yang jelas terkait larang konten pornografi, namun faktanya Indonesia berada di posisi tiga sebagai negara terbesar yang mengakses konten pornografi . Studi menyebutkan bahwa pola FWB lazim ditemui di kalangan anak-anak muda. Kesimpulan itu diambil dari survey yang dilakukan kepada 125 mahasiswa di dua kampus di Amerika Serikat. Hasilnya sepertiiga dari responden mengatakan bahwa mereka melakukan FWB dengan mengerucut karena dua hal. Pertama tidak adanya komitmen, dan yang kedua karena dorongan Dua aspek ini yang menjadi alasan mengapa seseorang memutuskan untuk melakukan FWB . Metode Penelitian Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan netnografi. Pembahasan utama penelitian ini mengenai perilaku seks bebas yang terjadi pada fenomena Friend With Benefits atau akrab disebut FWB. Fenomena pertemanan yang kebanyakan diawali dengan interaksi di media sosial dengan tujuan membangun hubungan seksual tanpa ikatan yang jelas dan tidak melibatkan perasaan. Fenomena FWB ini banyak ditemukan di media sosial, maka penelitian ini menggunakan pendekatan netnografi. Sebuah pendekatan yang membaca sebuah Vol. No. 02 Juli 2024. Hal. P-ISSN 2964-5. E-ISSN 2987-2014 fenomena sosial melalui internet, menggunakan informasi yang tersedia secara publik di mana semua orang bebas berbagi melalui media sosial . Berbagai hasil temuan yang relevan dikumpulan dari sumber internet, mulai dari postingan, curhat, sampai hasil wawancara dari sumber lain. Hasil dari berbagai data ini kemudian dibaca dengan pendekatan fenomenologi, sebuah pendekatan yang menjadikan pengalaman subjektif sebagai bagian penting dari penelitian. Hasil data kemudian direduksi menjadi sebuah hasil penelitian lalu kemudian ditarik sebuah kesimpulan. Netnografi dalam penelitian kualitatif adalah sebuah metode untuk mengungkapkan dan menganalisis presentasi diri yang digunakan oleh masyarakat secara digital dalam interaksi daring yang dirancang untuk memadukan penelitian antara internet dan etnografi . Netnografi sebagai metode penelitianjuga memiliki, salah satunya tidak mengganggu dan terganggu jika ingin melakukan penelitian sedetail mungkin atau ke bagian terkecil . yang ada di dunia internet . Penelitian netnografi difokuskan pada studi tentang media sosia, digunakan untuk memahami relasi sosial pada jaringan sosial . Langkah awal pada penelitian netnografi adalah merumuskan permasalahan, kemudian menemukan objek penelitian atau komunitas online. Melakukan pengumpulan data secara online dan mengkontektualisasi fenomena perilaku seks bebas yang berkembang di masyarakat. Setiap individu pelaku FWB memiliki pemaknaan tersendiri sebagai makna subjetif. Pemaknaan antar subjektif ini kemudian berkumpul dan membentuk pemaknaan kolektif. Hasil dari pemaknaan subjektif yang berkumpul kemudian membentuk objektifikasi melalui bantuan media sosial yang berasal dari proses antar individu . Setiap individu yang terpapar oleh fenomena FWB akan memiliki pemaknaan subjektif, ada yang menolak ada pula yang menerima. Mereka yang menerima akan berkumpul untuk menciptakan realitas sosial berupa FWB sebagai sebuah solusi, atau sebagai jalan keluar untuk melakukan hubungan seksual yang mudah tanpa harus terlibat dengan banyak komitmen. Hasil dan Pembahasan Perilaku seks bebas di kalangan remaja saat ini sangat berhubungan dengan perkembangan teknologi dan informasi melalui media sosial. Apalagi pengguna terbesar media sosial adalah kalangan remaja. Fenomena FWB yang menjadi trend perilaku seksual kalangan remaja dengan memanfaatkan jaringan sosial adalah salah satu bentuk bagaimana perilaku seks bebas sangat mudah tersebar. Hal lain yang memperkuat fenomena ini adalah tumbuh suburnya konten porno yang tersebar di berbagai media sosial dan sangat mudah diakses . Hasil Normalisasi Seks Bebas Di Media Sosial Media sosial berkontribusi dalam membangun relasi pria dan wanita semakin intens. Melalui media sosial, seseorang bisa dengan mudah melakukan komunikasi dengan lawan jenis. Selain itu, di kalangan muda media sosial juga berhasil membangun standar nilai mereka sendiri. Ada banyak aspek yang berubah karena adanya media sosial. Pengaruh media sosial merubah hampir semua tatanan yang selama ini ada di masyarakat. Salah satu aspek yang berubah adalah terkait perbincangan seks yang kian terbuka di media sosial. Tidak hanya itu, media sosial juga menjadi media propoganda terkait aktivitas seks bebas. Konten media sosial yang mengandung seksualitas memang sangat diminati di Indonesia. Hal yang kemudian membuat para kreator membuat banyak konten sejenis. Penulis menemukan salah satu channel youtube yang sering menampilkan perbincang mengenai seks dan kehidupan. Vol. No. 02 Juli 2024. Hal. P-ISSN 2964-5. E-ISSN 2987-2014 Gambar 1. Podcast Youtube Tentang Kehidupan Seks Pada gambar tangkap layar yang ditampilkan di atas mengambarkan potongan percakapan 3 wanita terkait aktivitas seks bebas. Mereka memakai istilah Hoe Phase, dimana seorang perempuan berada di fase melakukan aktivitas seksual di beberapa laki-laki dengan berbagai alasan, terutama alasan kepuasan dan eksistensi diri. Berikut ini beberapa poin yang dimuncul dalam percakapan di youtube Jakarta Uncensored. Postingan obrolan ringan yang diunggah di channel youtube ini cukup viral dan ditonton banyak pengguna dengan variasi umur yang tidak terkontrol. Mereka mengklaim sebagai obrolan pendidikan seks, namun sepanjang video hanya menceritakan pengalaman pribadi mereka melakukan seks di banyak tempat dengan beberapa pria. Video yang berisi pengalaman dalam aktivitas seksual ini bisa jadi menjadi media yang bisa mempengaruhi alat pikiran, terutama mereka yang remaja yang masih dalam proses pencarian jati diri. Bisa jadi video di atas bisa menjadi pembenaran dan diikuti oleh mereka. Konten-konten sejenis itu banyak ditemukan dalam postingan di youtube. Video yang dibuat dengan mengangkat tema terkait kehidupan seks Tujuannya adalah untuk mendatangkan penonton yang banyak dan di ujung adalah perkara adsense atau uang dari iklan mengingat penonton yang membahasan tentang seksualitas sangat laris di Indonesia. FWB Sebagai Ajang Seks Bebas dan Dampak Negatifnya Sebuah pengakuan yang diterbitkan dalam aplikasi Quora terkait fenomena FWB ada juga yang mengatakan bahwa pernah menjalin hubungan yang dia anggap pacaran namun di sisi lakilakinya hanya menganggap hubungan FWB semata. Dia mengutarakan secara anonim sebagai AyAku pernah pacaran dengan cowok yang level nya di atasku, dia tampan, tinggi, orang berkecukupan, tp agama dan status sosial kami berbeda, itu juga alasan kami putus karna tidak direstui orang tuanya. Setelah putus banyak maju mundur dalam hubungan kami, dia bilang ingin tetap seperti dulu saat pacaran tp status tetap teman. Kami tetap nonton, jalan, cek in hotel. Cudle, hingga HS, saat dia tidur di dadaku aku selalu mengusap rambutnya, mencium nya. Saat itu aku masih sayang padanya tp aku sadar kami ga akan bisa bertahan dia juga melakukan yg terbaik utk ku dan menunjukkan rasa sayangnya padaku. Dia pintar, berpikiran luas, suka beri afirmasi, dia meyakini aku utk membuka hati utknya, dia tipe ku bgt tapi dia suka melakukan gaslighting, saat dia salah dia akan mencari kesalahan ku jg. Lalu tibalah saat kami cekcok, saling beradu argumen. Dia bilang kalau aku memanfaatkannya agar menemani ku jalan jalan dan makan, padahal aku berani keluar sendiri dan aku sering memaksa utk mentraktir. Lalu aku tanya balik "gmn kalau aku bilang ko manfaatin tubuh Vol. No. 02 Juli 2024. Hal. P-ISSN 2964-5. E-ISSN 2987-2014 aku?"Dia mengaku iyaa dengan alasan tidak memaksa. Aku sakit hati sekali dengarnya, aku pikir dia benar benar sayang padaku, ternyata dia menganggap aku FWB. Sekarang, kami hanya sebatas cht cht biasa, aku menghindari bertemu, kalaupun bertemu aku memaksa bayar sendiri makanan ku, aku tidak akan merepotkannya lagi. Ay (Quora, 2. Fenomena FWB hampir mayoritas memanfaatkan untuk tujuan hubungan seks semata tanpa ikatan, tanpa ada komitmen. Hal ini juga bisa menjadi ajang kekerasan psikis, ketika ada satu yang mengangap ini hubungan serius namun di sisi lain pasangannya hanya menganggap hubungan ini sebatas hubungan seksual semata melalui FWB. Jebakan orientasi seks semata ini yang bisa melahirkan kekerasan lain. Bahkan dalam beberapa kasus FWB menjadi media penularan berbagai macam penyakit yang didapat dari hubungan seksual dengan banyak orang. Di bawah ini . dalam pengakuan melalui pesan pribadi di aplikasi X ada yang mengaku terkena HIV dari kenalannya di aplikasi kencan, padahal dia sendiri memiliki istri. Gambar 2. Pengakuan seseorang positif HIV karena FWB Gambar 3. Terkena HIV dari kenalan di Tinder padahal memiliki istri Vol. No. 02 Juli 2024. Hal. P-ISSN 2964-5. E-ISSN 2987-2014 Kerentangan yang dihasilkan FWB sangat banyak, terutama dalam hal penularan penyakit menular akibat hubungan seksual yang tidak sehat. Belum lagi dampak kehamilan yang tidak Problem FWB ini tentu saja banyak merugikan pihak perempuan yang hanya dijadikan objek seksual semata. Kasus penularan HIV karena FWB bisa jadi menjadi efek bola salju karena pihak laki-laki terus menjalin hubungan FWB dengan perempuan baru hasil kenalan di media sosial dan kemudian akan ada lagi perempuan-perempuan baru yang tertularkan. Tahun 2011 rilis sebuah film berjudul Friend With Benefits dan setelah rilis istilah FWB semakin popular di kalangan anak muda. Di dalam filmnya ada kutipan dialog sepeti di bawah ini. Gambar 4. Cuplikan Film Friend with benefits Secara sederhana film ini bercerita tentang hubungan dua orang yang tidak terikat komitmen apa-apa entah itu menikah atau pun berpacaran. Orientasi utama mereka hanya berhubungan untuk kepuasan seks semata. Mereka yang menjalani FWB kebanyakan sudah sadar dari awal akan kontruksi sosial yang ada di kepala mereka bahwa seks ada tujuan utama. Aspek hubungan seks semata ini yang di belakang hari akan melahirkan banyak persoalan yang dialami oleh mereka yang memilih FWB. Tentu saja fenomena ini di mayoritas keluarga yang hidup dalam tradisi ketimuran Indonesia tidak banyak menerimanya. Makanya mayoritas menyembunyikan hubungan FWBnya dari lingkungan keluarga. Media Sosial Sebagai Saran Mempertemukan Pasangan FWB FWB berkembang di media sosial, dia menjadi ajang mempertemukan kepentingan hubungan seksual seseorang dengan orang lain. Aplikasi yang digunakan sangat beragam, mulai dari aplikasi yang berbasis media sosial seperti Twitter, maupun aplikasi yang memang diperuntukkan untuk kepentingan kencan seperti Tinder. Biasanya mereka yang hanya menggunakan media sosial sebagai tempat mencari pasangan FWB langsung menulis di bionya FWB tanpa basa-basi. banyak kasus, ada juga yang menggunakan aplikasi kencan untuk menjalin hubungan serius tanpa ada istilah FWB. Dengan mencantumkan kata FWB akan menciptakan efektifitas interaksi dengan sesama mereka yang sedang mencari FWB. Vol. No. 02 Juli 2024. Hal. P-ISSN 2964-5. E-ISSN 2987-2014 Gambar 5. Pengguna Tinder yang menulis FWB di bionya Para pengguna media sosial yang tujuannya untuk mencari partner FWB biasa hidup dalam komunitas underground. Di aplikasi Twitter biasa mereka menggunakan akun-akun Alter. Akun alter sendiri dipahami sebagai second account pengguna yang mencoba mengeksplor sisi lain yang tidak muncul di akun utama. Melalui akun alter ini mereka berinteraksi untuk mencari FWBan. Biasanya ada komunitas FWB yang dibedakan berdasarkan wilayah, di Twitter sendiri lazim disebut akun menfess atau base. Di bawah ini adalah beberapa contoh komunitas atau group untuk kepentingan FWB. Gambar 6. Komunitas FWB Jogja Berdasarkan temuan peneliti, komunitas FWB ini berkembangan bahkan terpecah menciptakan regional masing-masing karena ada media sosial, terutama aplikasi Twitter . ini namanya aplikasi X). Setiap orang bisa mempromosikan diri sendiri melalui DM akun twitter yang nantinya diposting otomatis oleh komunitas FWB dengan bantuan bot. Mereka biasanya mengidentifikasi dirinya di bagian like, setiap orang yang tertarik bisa langsung melakukan Vol. No. 02 Juli 2024. Hal. P-ISSN 2964-5. E-ISSN 2987-2014 respon terhadap orang-orang yang sudah menyukai postingan tersebut. Jika cocok, biasanya pemilik postingan akan membalas DM dan akan berlanjut ke interaksi yang lebih mendalam. 2 Pembahasan Berdasarkan hasil yang ditemukan di penelitian ini yang menyatakan bahwa pengaruh media sosial sangat penting dalam membentuk perilaku seks bebas. Hal ini kalau dilihat dalam perspektif fenomenologi bisa dijelaskan bahwa realitas seseorang dibentuk dari hasil internalisasi yang diambil dari kehidupan media sosialnya. Seseorang yang secara terus menerus mengonsumsi konten-konten yang mengandung pornografi dan ajakan untuk menormalisasi seks bebas akan mencoba mengaktulkannya melalui proses eksternalisasi dalam studi fenomenologi. Realitas yang terbentuk di media sosial akan berpindah dalam diri seseorang dan membentuk kesadaran diri. Apalagi di media sosial, anak remaja maupun anak muda adalah pengguna Pengaruh media sosial ini yang kemudian mereka jadikan sebagai jalan untuk menemukan jati dirinya yang masih dalam proses pembentukan diri. Fenomena FWB ini adalah bentuk lain dari perilaku seks bebas yang sistem kerjanya melalui pemanfaatan konektivitas media sosial. Tentu saja dampak dari FWB ini sangat berisiko bukan hanya dalam sudut pandang kesehatan. FWB kerap menjadi sarana kekerasan seksual bagi kelompok rentang. Aturan yang tidak tertulis dalam FWB tentang hubungan seks semata tanpa komitmen apa-apa ini akhirnya menjadi ajang seks bebas semata dan menjadi sarana penyebaran penyakit menular, dan bahkan terjadi kehamilan yang tak diinginkan. Ini tentu saja sangat berbahaya bagi kelangsungan hidup seseorang, terutama di kalangan remaja yang masih dalam proses pembentukan diri. Kesimpulan Melalui hasil penelitian yang telah dijelaskan sebelumnya, maka ada beberapa hal bisa dijadikan kesimpulan. Salah satunya adalah bahwa Fenomena FWB merupakan dampak dari semakin luas dan tidak terkontrolnya sistem kerja media sosial. Setiap orang bisa dengan mudah menunjukkan ketertarikkan dengan seseorang. Melalui media sosial orang bisa mengajak berkenalan dan melakukan ajakan FWB lalu berlanjut ke hubungan yang mengarah ke hubungan seksual dan fenomena FWB ini banyak bermula dari interaksi sosial. Selain itu, fenomena FWB ini adalah bentuk baru dari fenomena seks pra nikah yang marak di kalangan remaja. Seks bebas adalah fenomena sosial yang berlangsung sudah sangat lama, namun seiring berjalanannya waktu bentuk dari seks bebas mengalami transformasi sosial sesuai konteks yang berlaku saat ini. Penelitian ini diharapkan memberi sumbangsih atas fenomena-fenomena baru yang muncul dari dampak cyber society, terutama dalam hal kajian tentang realitas sosial anak muda dalam kehidupannya bersama perkembangan teknologi dan informasi yang kian massif. Meskipun begitu, penelitian ini masih memiliki banyak kekurang, mulai dari masih kurangnya data netnografi yang ditampilkan dan penelitian ini belum mampu memotret fenomena FWB yang dilakukan oleh mereka yang memiliki orientasi seks yang berbeda dengan kebanyakan. Olehnya itu dibutuhkan kajian yang lebih banyak dan mendalam lagi terkait fenomena ini. Daftar Pustaka