ISSN: 2614-6754 . ISSN: 2614-3097. Halaman 29817-29823 Volume 9 Nomor 3 Tahun 2025 Strategi Meningkatkan Motivasi Anak dalam Mengikuti Pendidikan di Lembaga Pembinaan Khusus Anak Kelas I Blitar Hafizh Anshori1. Ali Muhammad2 Politeknik Pengayoman Indonesia e-mail: bkahafizhanshori@gmail. com1, alimnrekap@gmail. Abstrak Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui strategi dalam meningkatkan motivasi belajar anak didik pemasyarakatan di Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA) Kelas I Blitar. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan sumber data primer dan sekunder. Subjek penelitian adalah anak didik pemasyarakatan yang sedang mengikuti program pendidikan di LPKA Kelas I Blitar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa motivasi belajar anak di LPKA dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik internal maupun eksternal. Strategi yang dilakukan untuk meningkatkan motivasi belajar antara lain melalui pendekatan personal oleh petugas pembina, penyediaan fasilitas belajar yang memadai, pemberian penghargaan atas pencapaian belajar, serta penerapan metode pembelajaran yang menyenangkan dan partisipatif. Selain itu, dukungan emosional dari pembina dan tenaga pendidik juga menjadi faktor penting dalam membangun semangat belajar Temuan ini menunjukkan bahwa pendekatan yang holistik dan manusiawi dapat membantu mengatasi hambatan psikologis dan sosial yang dihadapi anak didik pemasyarakatan dalam proses belajar. Kata Kunci: Motivasi Belajar. Anak Didik Pemasyarakatan. LPKA. Strategi Pembinaan Abstract This study aims to explore strategies for increasing the learning motivation of juvenile inmates at the Special Child Development Institution (LPKA) Class I Blitar. The research employs a descriptive qualitative approach, utilizing both primary and secondary data sources. The research subjects are juvenile inmates currently participating in educational programs at LPKA Class I Blitar. Data collection techniques include in-depth interviews, direct observation, and documentation. The instruments used consist of interview guides, observation sheets, and supporting documents. Data analysis is conducted qualitatively through the stages of data reduction, data display, and conclusion drawing. The results indicate that the learning motivation of juveniles in LPKA is influenced by various internal and external factors. Strategies to enhance motivation include personalized approaches by mentoring officers, the provision of adequate learning facilities, the use of rewards for academic achievement, and the application of engaging and participatory learning methods. In addition, emotional support from mentors and educators plays a crucial role in fostering students' enthusiasm for learning. These findings suggest that a holistic and humane approach can help overcome the psychological and social barriers faced by juvenile inmates in their educational process. Keywords: Learning Motivation. Juvenile Inmates. LPKA. Development StrategiesMethods PENDAHULUAN Dalam kerangka pembangunan nasional, pendidikan memiliki peran strategis dalam mencetak manusia Indonesia yang berkualitas, tangguh, kreatif, mandiri, serta mampu bersaing secara global dalam berbagai bidang kehidupan. Hal ini menjadi sangat penting terutama dalam menghadapi era globalisasi dan persaingan bebas yang ditandai dengan perubahan cepat dan tidak menentu. Oleh karena itu, pendidikan dituntut untuk tidak hanya berorientasi pada penguasaan materi, tetapi juga pada pembentukan karakter dan motivasi belajar peserta didik, termasuk bagi anak didik pemasyarakatan di Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA). Jurnal Pendidikan Tambusai ISSN: 2614-6754 . ISSN: 2614-3097. Halaman 29817-29823 Volume 9 Nomor 3 Tahun 2025 Kualitas sumber daya manusia sangat dipengaruhi oleh kualitas pendidikan, sementara kualitas pendidikan sangat bergantung pada kualitas proses pembelajaran yang berlangsung. Dalam konteks pembinaan anak di LPKA, tantangan pembelajaran menjadi lebih kompleks karena berkaitan erat dengan latar belakang sosial, psikologis, dan hukum yang dialami anak didik. Oleh sebab itu, tenaga pendidik dan pembina dituntut untuk memahami secara menyeluruh potensi, minat, kebiasaan, kondisi emosional, hingga latar belakang keluarga anak binaan. Interaksi yang terbangun antara pembina, guru, dan anak binaan memerlukan pendekatan yang humanis dan adaptif agar pembelajaran dapat berjalan efektif. Menurut Sardiman . , belajar merupakan suatu proses perubahan tingkah laku yang terjadi melalui pengalaman dan interaksi dengan lingkungan. Dalam hal ini, motivasi memegang peranan penting dalam mendorong anak untuk belajar dan berperilaku sesuai dengan nilai-nilai positif yang ditanamkan melalui pendidikan di LPKA. Pembelajaran yang dirancang secara menyenangkan, partisipatif, dan bermakna akan membantu meningkatkan motivasi belajar anak Metode pembelajaran seperti diskusi, tanya jawab, praktik langsung, maupun kegiatan kelompok terbukti dapat merangsang keterlibatan aktif anak didik dalam proses belajar. Menurut Syaodih . , diskusi merupakan sarana untuk bertukar pikiran dan memperoleh pemahaman bersama terhadap suatu topik atau permasalahan. Dalam konteks LPKA, metode pembelajaran semacam ini dapat disesuaikan untuk menciptakan suasana belajar yang demokratis dan komunikatif, sehingga anak binaan merasa dihargai dan termotivasi. Pendidikan Kewarganegaraan, sebagai salah satu mata pelajaran penting di LPKA, mengajarkan nilai-nilai demokrasi, tanggung jawab, dan kesadaran hukum. Hal ini sejalan dengan upaya pembinaan karakter anak didik agar siap kembali ke masyarakat dengan bekal moral dan pengetahuan yang memadai. Oleh karena itu, proses pembelajaran tidak boleh hanya berorientasi pada hasil akhir, melainkan harus memperhatikan juga proses internalisasi nilai-nilai dan perubahan sikap anak binaan secara kognitif, afektif, dan psikomotorik. Dalam pelaksanaannya, strategi untuk meningkatkan motivasi belajar anak binaan di LPKA harus mencakup berbagai pendekatan, mulai dari dukungan emosional, pemberian penghargaan, penciptaan iklim belajar yang positif, hingga keterlibatan aktif anak dalam proses pembelajaran. Seperti yang diungkapkan oleh Sudjana . , penilaian terhadap pembelajaran tidak hanya berfokus pada hasil, tetapi juga pada proses yang dilalui siswa. Oleh karena itu, keberhasilan pembelajaran di LPKA dapat dilihat dari perubahan sikap, semangat belajar, serta peningkatan partisipasi aktif anak dalam kegiatan pendidikan. METODE Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Subjek dalam penelitian ini adalah anak didik pemasyarakatan di Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA) Kelas I Blitar yang mengikuti program pendidikan formal di dalam lembaga. Jumlah subjek ditentukan secara purposive, berdasarkan keterlibatan aktif dalam kegiatan pembelajaran serta kesediaan untuk diwawancarai. Data penelitian diperoleh dari sumber primer dan sekunder. Sumber primer diperoleh melalui wawancara mendalam dengan anak didik, guru, dan petugas Sementara itu, sumber sekunder diperoleh dari dokumen lembaga seperti program pembelajaran, catatan kehadiran, dan laporan evaluasi pembelajaran. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara, observasi langsung terhadap kegiatan belajar mengajar, dan dokumentasi. Instrumen yang digunakan meliputi pedoman wawancara, lembar observasi aktivitas belajar anak didik, serta dokumen pendukung lainnya yang Analisis data dilakukan secara deskriptif kualitatif dengan langkah-langkah reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Data dianalisis berdasarkan temuan lapangan dan dikaitkan dengan teori motivasi belajar untuk melihat sejauh mana strategi yang diterapkan mampu memengaruhi peningkatan motivasi anak dalam mengikuti pendidikan di dalam LPKA. Strategi yang diidentifikasi antara lain pendekatan personal oleh pembina, metode pembelajaran yang partisipatif, pemberian penghargaan, serta penciptaan suasana belajar yang kondusif dan suportif. Tujuan dari penelitian Jurnal Pendidikan Tambusai ISSN: 2614-6754 . ISSN: 2614-3097. Halaman 29817-29823 Volume 9 Nomor 3 Tahun 2025 ini adalah untuk mengetahui dan mengkaji strategi peningkatan motivasi belajar anak didik pemasyarakatan dalam mengikuti pendidikan di LPKA Kelas I Blitar. HASIL DAN PEMBAHASAN Penelitian ini dilaksanakan dalam dua siklus di Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA) Kelas I Blitar dengan tujuan untuk meningkatkan motivasi anak binaan dalam mengikuti kegiatan pendidikan formal. Setiap siklus terdiri atas tahapan: perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi. Strategi yang digunakan dalam penelitian ini berfokus pada pendekatan personal, pembelajaran partisipatif, serta penguatan motivasi intrinsik melalui kegiatan yang kontekstual dan menyenangkan. Berikut disajikan hasil pelaksanaan tiap siklus: Siklus I Perencanaan tindakan dilaksanakan pada awal bulan Maret 2024. Peneliti bersama guru pamong dan staf pembinaan menyusun rencana tindakan berupa pemberian pembelajaran kontekstual dan dialog inspiratif menggunakan media visual dan cerita motivasional. Fokus materi pembelajaran adalah pendidikan kewarganegaraan dan literasi dasar. Pembelajaran dirancang untuk membangun kepercayaan diri anak binaan dan mengaktifkan keterlibatan mereka secara Pelaksanaan Tindakan I Tindakan dilakukan dalam 4 kali pertemuan selama dua minggu yang dirancang untuk menciptakan suasana belajar yang menyenangkan, memotivasi, dan relevan dengan kehidupan anak binaan. Pada pertemuan pertama, guru mengawali kegiatan dengan ice breaking dan membangun komunikasi yang hangat, kemudian dilanjutkan dengan diskusi terbuka bertema "Siapa Aku dan Apa Mimpiku". Anak binaan diajak untuk berbagi harapan, cita-cita, serta tantangan yang mereka hadapi dalam meraih masa depan. Pertemuan ini diperkuat dengan penayangan video inspiratif tentang tokoh-tokoh yang pernah mengalami masa sulit namun mampu bangkit dan sukses. Sesi ini mendorong anak untuk berpikir positif, membangun kembali semangat belajar, dan merasa dihargai atas cerita hidup mereka. Pada pertemuan kedua, diskusi dilanjutkan dengan pembahasan seputar pentingnya pendidikan sebagai jalan menuju perubahan hidup yang lebih baik. Guru juga menyisipkan materi pendidikan karakter dan nilai-nilai tanggung jawab serta kerja keras, yang dikemas melalui kisah nyata dan media visual. Pada pertemuan ketiga, fokus kegiatan adalah kerja kelompok. Anak binaan dibagi ke dalam kelompok kecil dan diminta untuk membuat poster yang menggambarkan cita-cita dan langkah konkret yang bisa mereka ambil untuk mencapainya. Kegiatan ini bertujuan untuk melatih kerja sama, berpikir kreatif, dan menumbuhkan rasa kepemilikan terhadap masa depan mereka. Suasana kelas menjadi aktif, penuh diskusi, dan antusiasme terlihat dari keterlibatan sebagian besar anak dalam menyampaikan ide serta menghias hasil karya kelompoknya. Poster-poster yang dibuat kemudian dipajang di dinding kelas sebagai bentuk apresiasi. Pertemuan keempat digunakan sebagai sesi refleksi bersama, di mana setiap anak diberi kesempatan menyampaikan perasaan dan pengalaman selama mengikuti rangkaian pembelajaran. Guru juga mengadakan kuis ringan yang berkaitan dengan materi pembelajaran dan nilai-nilai kehidupan yang telah Kegiatan ini tidak hanya memperkuat pemahaman, tetapi juga memberi ruang bagi anak untuk menunjukkan peningkatan semangat dan kepercayaan diri dalam suasana yang mendukung dan penuh penghargaan. Observasi dan Hasil Siklus I Berdasarkan hasil observasi pada siklus I, diperoleh gambaran bahwa tingkat keterlibatan dan motivasi anak binaan dalam kegiatan pembelajaran masih tergolong sedang. Dari 25 anak binaan yang mengikuti pembelajaran, hanya 12 anak . %) yang aktif dalam bertanya maupun menjawab pertanyaan selama proses belajar berlangsung. Sebanyak 13 anak . %) mampu menyelesaikan tugas secara mandiri dan tepat waktu, sedangkan 10 anak lainnya . %) tampak pasif, kurang percaya diri, serta cenderung menyendiri dan tidak terlibat aktif dalam dinamika Hasil angket motivasi menunjukkan bahwa hanya 56% anak yang menyatakan tertarik mengikuti kegiatan pembelajaran, sementara 44% lainnya merasa jenuh dan kurang termotivasi untuk belajar. Hal ini diperkuat dengan hasil observasi keterlibatan siswa yang menunjukkan ratarata skor 2,8 dalam skala 1Ae5, yang berada pada kategori sedang. Jurnal Pendidikan Tambusai ISSN: 2614-6754 . ISSN: 2614-3097. Halaman 29817-29823 Volume 9 Nomor 3 Tahun 2025 Refleksi dari pelaksanaan siklus I menunjukkan bahwa terdapat sejumlah kendala yang perlu segera diperbaiki agar proses pembelajaran lebih efektif dalam membangkitkan motivasi anak binaan. Salah satu permasalahan utama adalah kurangnya komunikasi personal yang intens antara guru dan siswa, sehingga anak kurang mendapatkan perhatian dan penguatan positif secara individual. Selain itu, media pembelajaran yang digunakan belum bervariasi dan kurang menyentuh aspek keseharian yang relevan dengan kehidupan anak binaan. Oleh karena itu, pada siklus II dirancang perbaikan melalui beberapa strategi, yaitu dengan menggunakan media praktik seperti role-play untuk meningkatkan partisipasi aktif siswa, memperkuat interaksi interpersonal antara guru dan siswa serta antar siswa, serta memberikan penugasan reflektif secara personal guna mendorong anak untuk lebih memahami dan menginternalisasi nilai-nilai pembelajaran dalam kehidupan mereka. Siklus II Berdasarkan hasil refleksi pada siklus I maka dilakukan perencanaan untuk pelaksanaan tindakan pada siklus II. Pada siklus II ini materi yang diberikan adalah indikator yang belum mencapai ketuntasan pada siklus I. Setiap anak diberi kesempatan untuk berbicara secara personal tentang harapan hidupnya melalui kegiatan "surat untuk diri sendiri". Pembelajaran dilakukan secara partisipatif, dan tugas dikerjakan secara berpasangan. Guru juga lebih aktif dalam memberikan umpan balik positif dan dukungan emosional. Tindakan pada siklus II pada umumnya sama dengan tindakan pada siklus I, tetapi lebih difokuskan untuk penyempurnaan dan perbaikan terhadap kendala-kendala yang muncul pada siklus I. Adapun tindakan yang dimaksud adalah sebagai berikut, pertama, pada siklus I siswa belum terbiasa mengikuti pembelajaran dengan metode Diskusi selanjutnya guru memberikan arahan kembali kepada siswa bagaimana seharusnya mereka dalam mengikuti pembelajaran. Kedua, dengan berbagai strategi guru berusaha membangkitkan kesadaran dan memotivasi siswa untuk belajar dengan sungguh-sungguh dan dalam hal ini guru memberikan perhatian lebih kepada siswa yang mengalami kesulitan. Ketiga, guru menegaskan kembali bahwa tugas kelompok harus dilakukan secara bersama-sama. Keempat, mendorong siswa yang masih enggan dan malu dalam mengajukan maupun menjawab pertanyaan serta masih kurang berpartisipasi aktif dalam melakukan kegiatan diskusi untuk lebih aktif lagi sebelum turnamen berlangsung. Perencanaan Tindakan II Pelaksanaan pembelajaran pada siklus II merupakan kelanjutan dari siklus I Pelaksanaan tindakan pada siklus II menunjukkan adanya peningkatan yang signifikan dalam keterlibatan anak binaan selama proses pembelajaran. Hal ini tercermin dari jumlah anak yang aktif bertanya dan menjawab selama kegiatan pembelajaran, yang meningkat dari sebelumnya hanya 12 anak menjadi 19 anak atau setara dengan 76% dari total peserta. Keterlibatan ini juga tampak pada aspek penyelesaian tugas, di mana anak yang mampu menyelesaikan tugas secara mandiri dan tepat waktu naik menjadi 21 anak atau sekitar 84%. Peningkatan ini menunjukkan bahwa strategi pembelajaran yang diterapkan pada siklus II lebih efektif dalam mendorong kemandirian dan partisipasi aktif anak binaan dalam kegiatan belajar. Selain itu, peningkatan juga tercermin dari hasil angket motivasi belajar, yang menunjukkan bahwa rata-rata skor motivasi anak meningkat dari 56% pada siklus I menjadi 82% pada siklus II. Jumlah anak yang menyatakan senang mengikuti kegiatan pembelajaran pun bertambah menjadi 80%, menunjukkan adanya pergeseran sikap dari rasa jenuh menjadi lebih antusias dan Rata-rata keterlibatan siswa dalam pembelajaran, yang sebelumnya hanya berada pada angka 2,8 dalam skala 1Ae5, meningkat menjadi 4,1 dan masuk dalam kategori tinggi. Capaian ini menunjukkan bahwa penerapan pendekatan pembelajaran yang lebih variatif, komunikatif, dan reflektif pada siklus II berhasil menciptakan lingkungan belajar yang lebih positif dan mendorong motivasi anak binaan untuk aktif terlibat dalam pendidikan. Observasi Tindakan II Dalam pembelajaran pada siklus II, anak binaan sudah mulai terbiasa mengikuti kegiatan belajar dengan strategi yang diterapkan peneliti. Hasil nyata yang dapat diamati dari pelaksanaan tindakan ini adalah adanya peningkatan keterlibatan dan motivasi belajar anak. Peneliti sebagai fasilitator sekaligus pengajar mengamati proses pembelajaran yang berlangsung di kelas Jurnal Pendidikan Tambusai ISSN: 2614-6754 . ISSN: 2614-3097. Halaman 29817-29823 Volume 9 Nomor 3 Tahun 2025 pendidikan LPKA dengan menekankan strategi peningkatan motivasi melalui pendekatan partisipatif, pemberian penghargaan, serta pembelajaran yang lebih interaktif. Berdasarkan hasil pengamatan, terlihat bahwa sebagian besar anak binaan mampu menyelesaikan tugas yang diberikan secara lebih mandiri, berani bertanya maupun menjawab pertanyaan guru, serta menunjukkan ekspresi antusias dalam mengikuti pelajaran. Dari hasil angket motivasi, diperoleh peningkatan skor rata-rata dari 56% pada siklus I menjadi 82% pada siklus II. Selain itu, jumlah anak binaan yang menyatakan senang mengikuti pembelajaran juga meningkat hingga 80%. Keterlibatan anak dalam proses pembelajaran, jika diukur dengan skala 1Ae 5, mencapai rata-rata 4,1 yang termasuk dalam kategori tinggi. Berdasarkan analisis hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa strategi yang digunakan terbukti mampu meningkatkan motivasi anak dalam belajar, yang ditunjukkan melalui indikator keterlibatan, kemandirian, rasa percaya diri, serta peningkatan hasil belajar. Refleksi Tindakan II Hasil refleksi menunjukkan bahwa strategi peningkatan motivasi belajar yang diterapkan pada anak binaan LPKA Kelas I Blitar memberikan dampak positif yang signifikan. Pendekatan yang menggabungkan aspek humanistik, kontekstual, dan partisipatif mampu menciptakan suasana belajar yang lebih nyaman, menyenangkan, dan bermakna. Guru berhasil membangun interaksi yang hangat dengan anak binaan, sehingga mereka merasa dihargai, diperhatikan, dan didukung dalam proses belajar. Selain itu, metode pembelajaran reflektif yang diterapkan membantu anak binaan menyadari pentingnya pendidikan sebagai bekal masa depan. Hal ini tampak dari meningkatnya rasa percaya diri, keberanian dalam berpendapat, serta tumbuhnya motivasi internal untuk terlibat aktif dalam setiap kegiatan belajar. Dengan demikian, strategi yang dilakukan dalam siklus II dapat dikatakan berhasil mencapai target yang diharapkan, baik dalam meningkatkan keterlibatan maupun dalam memperkuat motivasi anak binaan untuk terus mengikuti pendidikan di LPKA. Hasil Refleksi Berdasarkan hasil pengamatan terhadap pelaksanaan proses belajar mengajar tampak bahwa aktivitas belajar anak binaan menunjukkan peningkatan yang cukup signifikan dibandingkan dengan siklus sebelumnya. Seluruh anak binaan memperlihatkan sikap yang lebih antusias, santai, dan percaya diri dalam mengikuti proses pembelajaran. Suasana kelas yang lebih terbuka dan interaktif, serta pendekatan pembelajaran yang bersifat personal dan menyentuh pengalaman hidup mereka, turut mendorong perubahan sikap tersebut. Peningkatan ini tercermin dari keterlibatan aktif anak dalam diskusi, kemauan untuk menyampaikan pendapat, serta kesungguhan mereka dalam menyelesaikan tugas yang diberikan oleh guru. Selain itu, hasil angket dan evaluasi belajar menunjukkan bahwa motivasi anak binaan untuk mengikuti pendidikan mengalami perkembangan yang positif. Rata-rata nilai motivasi belajar berdasarkan angket meningkat dari 56% menjadi 82%. Anak binaan yang menyatakan senang belajar bertambah menjadi 80% dari jumlah total peserta. Rata-rata keterlibatan anak dalam skala 1Ae5 meningkat menjadi 4,1, yang menunjukkan bahwa sebagian besar anak telah terlibat secara aktif dan bermakna dalam kegiatan pembelajaran. Anak yang aktif dalam bertanya dan menjawab meningkat menjadi 76%, sementara anak yang mampu menyelesaikan tugas secara mandiri mencapai 84%. Capaian ini menunjukkan bahwa strategi pembelajaran yang diterapkan dalam siklus II telah berhasil mendorong motivasi, partisipasi, dan tanggung jawab anak binaan terhadap pendidikan, serta dapat menjadi model yang relevan untuk diterapkan secara berkelanjutan dalam konteks pembinaan di LPKA. Pembahasan Menurut Menurut Sardiman . 2: . , motivasi belajar merupakan dorongan internal dan eksternal pada diri seseorang yang sedang belajar untuk mengadakan perubahan tingkah laku secara umum, dengan beberapa indikator yang mendukung seperti minat, perhatian, tekad, dan semangat dalam mencapai tujuan belajar. Dalam konteks pembelajaran di LPKA, strategi meningkatkan motivasi anak sangat diperlukan karena kondisi psikososial mereka berbeda dari siswa pada umumnya. Strategi ini digunakan manakala: Guru atau pendidik menginginkan agar Jurnal Pendidikan Tambusai ISSN: 2614-6754 . ISSN: 2614-3097. Halaman 29817-29823 Volume 9 Nomor 3 Tahun 2025 anak binaan dapat membangun kesadaran akan pentingnya pendidikan bagi masa depan mereka. Guru menghendaki agar pembelajaran tidak hanya bersifat transfer pengetahuan, tetapi menjadi proses internalisasi nilai dan harapan, sehingga anak binaan mampu menetapkan tujuan hidup dan berkomitmen mencapainya. Guru ingin menciptakan ruang belajar yang mampu merangsang keterlibatan emosional dan sosial anak, membangun kepercayaan diri, serta membina rasa tanggung jawab dan solidaritas di antara sesama anak binaan. Jika guru atau pembina pendidikan di LPKA menginginkan agar anak binaan termotivasi mengikuti pembelajaran dengan sungguh-sungguh, maka dibutuhkan strategi yang mempertimbangkan kondisi, karakteristik, dan latar belakang mereka secara menyeluruh. Dalam hal ini, terdapat beberapa faktor penting yang memengaruhi strategi pembelajaran yang tepat untuk meningkatkan motivasi anak, yaitu: Tujuan yang hendak dicapai menjadi arah dari seluruh kegiatan pendidikan. Dalam konteks anak binaan, tujuan tidak hanya berorientasi pada pencapaian akademik, tetapi juga pemulihan psikologis dan sosial. Oleh karena itu, strategi yang digunakan harus selaras dengan kebutuhan mereka dan mendorong tumbuhnya motivasi internal untuk berubah dan . Kemampuan yang bagaimana yang dikehendaki oleh tujuan maka metode harus mendukung sepenuhnya. SIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, setelah dilakukan evaluasi dan analisis dapat disimpulkan bahwa penerapan strategi peningkatan motivasi belajar secara optimal mampu meningkatkan kualitas proses pendidikan anak binaan di LPKA Kelas I Blitar. Hal ini terlihat dari meningkatnya partisipasi, keterlibatan aktif, serta motivasi internal anak binaan dalam mengikuti kegiatan pembelajaran. Setiap aspek yang menjadi indikator motivasi belajar mengalami peningkatan pada siklus II, baik dari segi keaktifan, keberanian bertanya dan berpendapat, maupun dalam hal menyelesaikan tugas belajar. Anak binaan menunjukkan sikap lebih percaya diri, mampu bekerja sama dalam kegiatan kelompok, serta bersemangat mengikuti proses pembelajaran yang difasilitasi melalui pendekatan partisipatif dan reflektif. Hasil angket motivasi juga menunjukkan peningkatan signifikan, dengan sebagian besar anak mencapai kategori motivasi tinggi. Dengan demikian, strategi yang diterapkan berhasil menjawab permasalahan rendahnya motivasi belajar anak binaan, serta mampu memberikan kontribusi positif terhadap peningkatan kualitas pendidikan di LPKA Kelas I Blitar. DAFTAR PUSTAKA