SAINTEKES Ae VOLUME 03 NOMOR 02 . 127 - 134 PENGARUH SIFAT BIJI JARAK SEBAGAI BAHAN BAKAR ALTERNATIF PENGANTI MINYAK TANAH UNTUK PENGERINGAN TEMBAKAU VIRGINA LOMBOK Ahmad Multazam1*. Khairul Rizal2 Prodi Teknik Pertambangan FSTT UNDIKMA Article Information Article history: Received Maret 23, 2024 Approved April 29, 2024 Keywords: castor bean properties, alternative fuel, drying Lombok Virginia ABSTRACT Virginia tobacco is the largest agro-industry component in West Nusa Tenggara (NTB). The lack of subsidized kerosene quotas for tobacco extraction, even the central government decided that in 2018 the sub-oil kerosene quota will be abolished, brings its own problems. Based on this problem, research was carried out with the title how to characterize castor beans as an alternative fuel to replace kerosene as a substitute for tobacco extraction fuel with the aim of proving that castor beans can be used as an alternative fuel for drying tobacco. Process without reducing the quality and economy of tobacco. This research was carried out From the research results it can be concluded that castor bean fuel can be used as a fuel substitute for kerosene for tobacco production as proven by the results of the characteristic test, namely the calorific value produced in this research has met the national standard (SNI), namely 5288. 844 cal/gr based on the standard. Which meets American standards, namely 4000-6500 (Source: Hendra, 1999 in Sunyata and Wulur, 2. Economic value aspect of fuel consumption / 1 kg of dry castor beans consumes 6. 7 kg of castor beans at a price of Rp. 6,700 lower than kerosene. LPG and bioethanol. Variable standard drying temperature with a drying rate of 1 m/s produces tobacco compost with the best quality color and aroma. A 2022 SAINTEKES *Corresponding author email: azam. ub@gmail. PENDAHULUAN Tembakau komponen agroindustri terbesar di Nusa Tenggara Barat dengan produksi tembakau virginia pada tahun 2009 ditargetkan sebanyak org/10. 55681/saintekes. 534 ton karena ada perluasan areal tanam dari 019 hektare pada tahun 2008 menjadi 24. 123 hektare pada tahun 2009 yang tersebar di Kabupaten Lombok MULTAZAM ET AL - VOLUME 03 NOMOR 02 . 127 - 134 Timur. Lombok Tengah. Lombok barat atau terjadi penambahan areal tanam seluas 10 Oven tembakau yang tersebar di tiga kabupaten tersebut pada tahun 2009 berjumlah 509 unit dengan kuoata minyak tanah bersubsidi sebanyak 18 juta liter dari 45 juta liter kebutuhan omprongan tembakau (Berita Daerah. com, 2. Kurangnya kuota minyak tanah bersubsidi untuk omprongan tembakau, bahkan pemerintah pusat telah memutuskan bahwa pada tahun 2012 kuota minyak tanah bersubdi akan dihapuskan, mendatangkan masalah tersendiri. Untuk mengantisipasi masalah terburuk dari penghentian subsidi minyak tanah bagi pengomprongan tembakau. Pemda NTB bekerja sama dengan Distamben untuk pengembangan pengering tembakau dengan mengaitkan faktor ketersediaan energi. Pada skala pilot projet di Nusa Tenggara Barat telah pula diujicobakan pengering hibrid dengan energi yang berasal dari surya, ranting kayu bakar, sekam dan minyak tanah (Cahyawan, 2. Juga pengering dengan bahan bakar batu bara yang dimotori oleh PT. Sadhana Arifnusa serta pengering berbahan bakar minyak jarak yang salah satunya diprakarsai oleh Pemda Nusa Tenggara Barat. Namun, demikian terjadi kendala non teknis berupa keengganan petani untuk menerapkan teknologi yang ditemukan. Hal ini terjadi karena timbulnya berbagai pertimbangan dari pihak petani, baik dari segi Dalam menggunakan pengering berbahan bakar batu bara, petani merasa tidak nyaman dengan bau batu bara yang sedang terbakar. Petani pengering berbahan bakar minyak jarak karena masih belum tersedianya minyak jarak yang langsung pakai. Meskipun telah banyak dibuat alat pemeras minyak jarak, tetapi masih perlu dilakuakan suatu perlakuan brikutnya, sebelum minyak jarak bisa digunakan pada kompor org/10. 55681/saintekes. minyak tanah yang telah dimiliki petani. Sedangkan menggunakan pengering tembakau dengan cahaya matakari, petani harus merubah disain pengering yang telah Berbagai pertimbangan tersebut menggunakan kayu sebagai bahan bakar Mengingat bahwa menggunakan kayu sebagai bahan bakar merupakan sesuatu yang sangat berpotensi menimbulkan kerusakan lingkungan, maka diusulkan penelitian untuk mengkaji potensi penggunaan biji jarak sebagai bahan merupakan lanjutan penelitian yang telah dilakukan sebelumnya. Penelitian mengenai penggunaan biji jarak sebagai bahan bakar pengering tembakau telah dilakukan di lingkungan Fakultas Teknik Universitas Mataram dalam skala laboratorium. Dalam penelitian tersebut dilakukan penentuan kualitas tembakau dengan metode kualitatif yaitu dengan bantuan seorang tester tembakau. Berdasarkan data dari penelitian tersebut, tembakau hasil omprongan dengan bahan bakar biji jarak sama dengan tembakau hasil omprongan dengan bahan bakar batu bara. Penerepan biji jarak sebagi bahan bakar omprongan tembakau, diharapkan penelitian ini selesai mampu memberikan solusi tepat bagi kebijakan pemerintah untuk mengkonversi minyak tanah ke bahan bakar alternatif. METODE PENELITIAN Pada penelitian ini akan diperoleh suatu bukti bahawa biji jarak bisa menjadi bahan bakar alternatif untuk pengering tembakau virginia tanpa merngurangi kualitas tembakau dan lebih ekonomis dibanding dengan bahan bakar alternatif lain. Peroses pengeringan yang meliputi laju dan pola temperatur udara pengering juga akan diteliti. Sehingga dapat diputuskan penggunaannya bila terbukti lebih baik dari bahan bakar lain, disertai oleh teknik pengeringan yang terbaik untuk pengering MULTAZAM ET AL - VOLUME 03 NOMOR 02 . 127 - 134 berbahan bakar biji jarak. Bagan alir penelitian dapat dilihat pada gambar 1 dan 3. Rancangan Penelitian Tahap I : Pencarian karaktristik pembakaran biji jarak memperoleh hasil yang tidak biasa, pada penelitian ini akan dipergunakan tiga orang tester tembakau. Proses pengeringan tembakau yang terkait dengan semua variasi teknik pengeringan akan dicatat konsumsi bahan bakar yang digunakan sehingga akan diketahui massa bahan bakar yang digunakan untuk mengeringakan daun tembakau per kilogramnya. Penjelasan luara yang dicapai Uji Lama Nyala Penelitian difokuskan pada karakteristik biji jarak pagar dan hasil pengomprongan Biji jarak pagar diambil dari Desa Bayan. Kabupaten Lombok Utara. Sedangkan daun tembakau virginia diambil dari Desa Rensing. Kabupaten Lombok Timur. Pembakaran biji jarak dilakukan untuk mengetahui lama nyala suatu bahan bakar dan untuk mengetahui nilai kalor biji jarak pagar melalui analisa data sampai selesai. Setelah itu daun tembaku virginia akan dilakukan proses pengeringan didalam oven dengan bahan bakar biji jarak, dalam proses pengeringan akan dilakukan 2 jenis manipulasi pengeringan yaitu pariasi laju udara dan variasi pola temperatur udara pengering. Manipulasi pengeringan dilakukan dengan tiga variasi laju yaitu laju nol . anya konveksi alam bias. , laju 0,5m/s dan laju 1 m/s. Pola temperatur udara pengering dilakukan dengan tiga variasi yaitu Pola suhu sama dengan pengeringan standar Pola suhu 5% lebih rendah dari suhu standar di tiaptiap tahap pengeringan dan Pola suhu 5% lebih rendah dari suhu standar di tiap-tiap tahap Analisis pengopenan dengan bahan bakar biji jarak dapat diuji kualitasnya berdasarkan warna dan aroma oleh seorang tester tembakau. Untuk org/10. 55681/saintekes. Grafik Uji Lama Nyala Biji Jrak Lama Nyala . HASIL DAN PEMBAHASAN SIMPULAN Kesimpulan menyajikan ringkasan dari uraian mengenai hasil dan pembahasan. Series1 mengacu pada tujuan penelitian. Berdasarkan 50hal tersebut dikembangkan pokok-pokok 0 baru yang merupakan esensi dari temuan Berat . Bahan bakar alternatif yang digunakan adalah biji jarak pagar. Uji lama nyala biji jarak dilakukan untuk mengetahui lama nyala suatu bahan bakar, bahan bakar yang memiliki daya nyala lama memiliki nilai kalor yang tinggi dan bisa digunakan sebagai bahan bakar alternatif. Lama nyala bahan bakar biji jarak dipengaruhi oleh beberapa paktor diantaranya jumlah biji Dalam penelitian ini dilakukan 9 percobaan uji lama nyla. Biji jarak dibagi menjadi 3 kelompok dengan berat yang berbeda yaitu: berat 0,3, 0,6 dan 0,9 kg. Masing-masing berat biji jarak dilakukan uji lama nyala sebanyak 3 kali kemudian lama nyala dirataratkan dengan hitngan menit sehingga muncul grafik diatas. Jika dilihat Grafik 4. 1 biji jarak dengan berat 0,3 kg memiliki lama nyala 85 menit, biji jarak dengan berat 0,6 memiliki lama nyala 153 menit dan biji jarak dengan berat 0,9 memiliki lama nyala 205 menit dapat dijelskan bahwa MULTAZAM ET AL - VOLUME 03 NOMOR 02 . 127 - 134 dengan meningkatnya jumlah biji jarak disaat dilakukan uji lama nyala maka waktu terjadi pembakaran biji jarak Akan Semakin Lama. Uji Kalor Nilai kalor sangat menentukan kualitas bahan bakar. Semakin tinggi nilai kalor, semakin baik kualitas bahan bakar yang Nilai kalor yang didapatkan dari bahan bakar biji jarak pagar dapat dilihat pada tabel dibawah. Tabel 5. 5 Tabel hasil uji kalor Berdasarkan data yang diperoleh dan melalui perhitungan uji kalor bahan bakar biji jarak dapat disimpulkan bahwa nilai kalor yang didapat yaitu 5288,8438 kal/gr Hasil dari nilai kalor ini juga sesuai dengan teori apabila dibandingkan dengan nilai kadar air dan kadar abu yaitu dimana semakin rendah nilai kadar air dan kadar abu yang dihasilkan maka semakin tinggi nilai kalor yang dihasilkan begitupun dengan sebaliknya. Nilai kalor yang dihasilkan pada penelitian ini telah memenuhi standar nasional (SNI) yaitu 5288,844 kal/gr tetapi untuk komposisi yang lain telah memenuhi standar USA yaitu 40006500 (Sumber: Hendra, 1999 dalam Sunyata dan Wulur, 2. Uji Kualitatif Secara visual hasil pengopenan tembakau yang teridentifikasi dapat dilihat berdasarkn 3 variabel penelitian dari 9 variasi/variabel penelitian yaitu hasil pengopenen tembakau berdasarkan Variasi pola temperatur udara Gambar hasil pengopenen tembakau berdasarkan Variasi pola temperatur udara org/10. 55681/saintekes. Pola suhu 5% lebih rendah dari suhu standar di tiap-tiap tahap Gambar 5. 4 hasil pengopenan suhu 5% dibawah Pola suhu sama dengan pengeringan Gambar 5. 5 hasil pengopenan suhu standar Pola suhu 5% lebih tinggi dari suhu standar di tiap-tiap tahap MULTAZAM ET AL - VOLUME 03 NOMOR 02 . 127 - 134 Gambar 5. 6 hasil pengopenan suhu 5% diatas Warna tembakau umumnya digunakan sebagai penentu mutu yang pertama sebelum ditentukan aromanya. Kriteria mutu warna yang dinilai terlebih dahulu adalah warna, meliputi warna dasar . dan tingkat kecerahannya . yang ditentukan secara visual. Dari warnanya tembakau dapat diperkirakan tingkat kemasakan daun sewaktu panen, baik buruknya proses pemeraman, tingkat kemasakan daun, sempurna atau tidaknya proses pengeringan, serta posisi daun pada batang. Makin tinggi mutu tembakau warnanya makin cerah dan Menurut Le Complete dalam Tso . pada masing- masing tingkat umum tembakau terdapat perbedaan kandungan jumlah pigmen, terutama pigmen kuning dan hijau. daun Tembakau posisi tengah ke atas memiliki karakter mutu lebih baek dari pada posisi daun tembkau paling bawah. Pada penelitian ini posisi daun tembakau yang digunakan adalah posisi tengah yang berarti kandungan pigmennya bagus, namun variasi pola temperatur udara pengering yang digunakan berbeda yaitu pola suhu 5% lebih rendah dari standar. pola suhu standar dan pola suhu lebih tinggi dari standar. Pada gambar 5. 4 merupakan hasil pengopenan tembakau dengan Pola temperatur 5% lebih rendah dari standar terlihat krosok berwarna kehijauan memucat, itu artinya proses pengopenan yang terjadi kurang sempurna. org/10. 55681/saintekes. Penyebab terjadinya pengopenan kurang sempurna adalah termpratur pemananasan yang terlalu rendah sehingga dalam melewati proses pengiktan warna tidak terjadi reaksi yang Pada gambar 5. 5 merupakan hasil pengeringan tembakau dengan temperatur standar yang biasa digunakan oleh para petani. Warna yang dihasilkan dengan pengopenan temperatur standar yaitu warna kuning Warna tembakau tersebut terjadi akibat pengikatan warna dengan sempurna karena temperatur sesuai dengan tahapan proses yang dibutuhkan. Kemudian pada gambar 5. hasil pengomprongan tembakau dengan temperatur pengering 5% di atas temperatur Warna yang dihasilkan dengan pengopenan 5% lebih tinggi dari temperatur standar adalah warna kuning kemerahan. Warna kemerahan pada hasil omprongan terjadi karena terlalu tinggi temperatur pengopenan yang mengakibatkan dalam proses pengikatan warna terjadi over heating reaksi kimia didalam daun Dari ketiga hasil percoban/experimen tersebut sudah di lakukan pengujian kualitatif oleh tester tembakau dari salah satu distributor tembakau oven di Lombok Timur bahwa yang memiliki kualitas warna tembakau terbaik adalah hasil pengomprongan tembakau dengan temperatur pengering standar yaitu : secara bertahap 20-70 Ac warna tembakau terlihat kuning keemasan di seluruh bagian daun tembakau dan mengeluarkan aroma yang MULTAZAM ET AL - VOLUME 03 NOMOR 02 . 127 - 134 Uji Konsumsi Bahan Bakar Pada gambar 5. 7 diatas merupakan grafik konsumsi bahan bakar berdasarkan variasi tempratur pengopenan. Pada pecobaan ini dilakukan 3 kali pengopenan tembakau dengan 3 variasi suhu yang berbeda yaitu suhu 5 % lebih rendah dari suhu standar, suhu setandar dan suhu 5 % lebih tinggi dari standar, dari ketiga percobaan tersebut dapat diamati perbedaan konsumsi bahan bakar yaitu suhu 5 % lebih rendah dari standar konsumsi bahan bakar 2 kg. suhu standar konsumsi bahan bakar adalah 6,7 kg, suhu 5 % lebih tinggi dari standar konsumsi bahan bakar adalah 9,5 kg. Konsumsi bahan bakar terendah adalah terdapat pada suhu pengopenan terendah. Pada suhu tersebut bahan bakar yang terbakar sedikit sehingga autput suhu yang dihasilkan rendah sedangkan konsumsi bahan bakar tertinggi adalah terdapat pada suhu pengopenan tertinggi. Pada suhu tersebut bahan bakar yang dihabiskan jauh lebih banyak dari 2 variasi sebelumnya, autput suhu yang dihasilkan tinggi. Semakin tinggi konsumsi bahan bakar maka akan semakin meningkat suhu yang dihasilkan dan org/10. 55681/saintekes. Gambar 5. 8 Uji Konsumsi Bahan Bakar berdasarkan laju udara pengering Pada Gambar 5. 8 diatas merupakan grafik konsumsi bahan bakar berdasarkan variasi laju udara pengering temakau. Pada pecobaan ini dilakukan 3 kali pengopenan tembakau dengan 3 variasi laju udara yang berbeda yaitu laju 0 m0/s . , laju 0,5 m/s dan laju 1 m/s, dari ketiga percobaan tersebut dapat diamati perbedaan konsumsi bahan bakar yaitu pada laju 0 m/s . konsumsi bahan bakar 3,5 kg/s. laju 0,5 m/s konsumsi bahan bakar 10,3 kg/s. laju 1 m/ konsumsi bahan bakar 6,9 kg/s. lebih rendah dari standar konsumsi bahan bakar 2 kg. Konsumsi bahan bakar terendah adalah terdapat pada laju pengopenan terendah yaitu dengan laju 0 m/s. Pada laju tersebut bahan bakar yang terbakar sedikit akibat adanya pembakaran yang alamiah tanpa ada paksaan pembakaran sehingga autput suhu yang dihasilkan rendah sedangkan konsumsi bahan bakar tertinggi adalah terdapat pada laju pengopenan tertinggi yaitu laju 0,5 m/s karena udara yang dihembuskan dari tiik api sangat Pada laju tersebut bahan bakar yang dihabiskan jauh lebih banyak dari 2 variasi laju sebelumnya, autput suhu yang dihasilkan sangat Semakin dekat laju udara yang diberikan pada titik api maka nyala api aan semakain besar sehingga konsumsi bahan bakar akan semakin meningkat begitu pula sebaliknya Berdasarkan hasil penelitian diatas dan informasi yang telah kami gali dari petani MULTAZAM ET AL - VOLUME 03 NOMOR 02 . 127 - 134 tembakau virginia di lombok timur disampaikan pengalaman yang telah dilakukan bertahuntahun oleh petani tembakau menggunakan bahan bakar minyak tanah, dibutuhkan lebih kurang 500 liter minyak tanah untuk satu batch Pada pengomprongan dikeringkan daun basah sekitar 000 kg dengan produk akhir sekitar 300 kg . asil sangat relatif terhadap berbagai fakto. Dari data tersebut bisa diperoleh kebutuhan minyak tanah untuk pengomprongan sebesar 1,67 liter/kg krosok . ,34 kg minyak tanah/kg kroso. atau setara dengan 61,7 Mj/Kg krosok. Nilai ini selanjutnya dijadikan sebagai basis kebutuhan energi untuk perhitungan bahan bakar lainnya. Rangkuman perhitungan untuk berbagai bahan bakar lainnya dapat dilihat pada Tabel 5. Table 5. 6 Perbandingan nilai ekonomis bahan bakar alternatif untuk pengopenan No Bahan Kebutuhan Harga (Rp/M. 1 Mnyak 9,373 Tanah Non Sbsidi LPG Bio Etanol Biji Jarak 8,25 Berdasarkan data pada Tabel 5. 6 jika dibandingkan dengan minyak tanah bersubsidi LPG dan bio Etanol sebagai pembanding, dapat dilihat bahwa bahan bakar konvensional . iji jara. yang cukup kompetitif. KESIMPULAN Pada penelitian ini sudah dilakukan percobaan dan pengamatan terkait pemanfaatan biji jarak sebagai bahan bakar utama dalam proses pengopenan tembakau virgia lombok. org/10. 55681/saintekes. Hasil penelitian membuktikah bahwa biji jark bisa digunakan sebagai bahan alternatif pada proses pengeringan tembakau tanpa mengurangi kualitas tembakau melalui variasi percobaan, jika kita lihat hasil uji karaktristik bahan bakar biji jarak sangat memenuhi syarat sebagai pengganti bahan bakar lainnya. Pada uji nyala bahan bakar, biji jarak menyala dengan warna kemerahan dengan tanpa asap, dalam 0,30 kg biji jarak dapat rata-rata menyala selama 85 menit, semakin lama nyala bahan bakar dengan massa yang rendah maka dapat meningkatkan efisiensi penggunaan bahan bakar. Nilai kalor yang dihasilkan pada penelitian ini telah memenuhi standar nasional (SNI) yaitu 5288,844 kal/gr dengn berpatokan pada standar yang telah memenuhi standar USA yaitu 40006500 (Sumber: Hendra, 1999 dalam Sunyata dan Wulur, 2. Jika dilihat dari aspek nilai ekonomis konsumsi bahan bakar/ 1 kg krosok kering menghabiskan 6,7 kg biji jarak dengan harga Rp 6,700 lebih rendah dari bahan bakar minyak tanah. LPG maupun bio etanol. Untuk mendapatkan formula dari hasil pengopenan berdasarkan kualitas tembakau kering yang dihasilkan adalah variasi suhu yang pas untuk digunakan adalah suhu pengopenan standar dengan jarak laju pengeringan 1 m/s. Variabel tersebut dapat menjadi acuan/ refrensi kepada petani atau peneliti selanjutnya untuk mendaptkan hasil pengomprongan tembakau dengan kualitas warna dan aroma yang terbaik sesuai hasil pengujian yang dilakukan oleh tester SARAN Bagi Tim Peneliti: Sebagai ketua dan anggota harus melakukan kerja sama dan koordinasi dengan lebih baik lagi supaya penelitian berjalan dengan baik. Bagi Universitas: Agar memberikan motivasi sepenuhnya agar pelaksanaan MULTAZAM ET AL - VOLUME 03 NOMOR 02 . 127 - 134 penelitian dapat berjalan sesuai dengan jadwal yang sudah ditentukan. Bagi Pemberi Hibah: Memperhatikan manfaat hasil penelitian bagi masyarakat dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi informasi khususnya di bidang ilmu keteknikan. DAFTAR PUSTAKA