Jurnal Pepadu e-ISSN: 2715-9574 Vol. No. April 2024 https://journal. id/index. php/pepadu/index PELATIHAN KOMUNIKASI EMPATIK UNTUK MENINGKATKAN ATTACHMENT DI PANTI ASUHAN AMANAH KOTA PEKANBARU Alma Yulianti*. Cipto Hadi Fakultas Psikologi Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau Jl. HR. Soebrantas No. Km. RW. Simpang Baru. Kota Pekanbaru. Riau 28293 *Alamat korespondensi: yulianti. psikologi@gmail. Artikel history : Received Revised Published : 28 Maret 2024 : 15 April 2024 : 30 April 2024 DOI : https://doi. org/10. 29303/pepadu. ABSTRAK Remaja memiliki periode yang penuh tantangan, disisi lain remaja memiliki tugas yang tidak mudah menyesuaikan diri tinggal dan menjalani kehidupan di Panti Asuhan, mengalami kesulitan menghasilkan hambatan psikologis yang mempengaruh fisik dan mental. Remaja yang tinggal di Panti Asuhan cenderung mendapatkan kekerasan verbal dari pengasuh dan mengarah pada perkataan yang Perilaku yang berupa kekerasan secara verbal yang dilakukan oleh pengasuh, cenderung muncul sebagai reaksi terhadap ketidakpatuhan remaja atau penampilan perilaku baik bersikap maupun bertutur kata yang dirasa kurang tepat dan tidak beretika oleh pengasuh serta munculnya labelling negatif kepada remaja penghuni panti dihadapan remaja lainnya. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara skor attachment sebelum pelatihan . dan sesudah pelatihan . dengan z=-1,861 dan p=0,034 . <0,. , dengan rerata peningkatan skor 16,6. Hal ini berarti bahwa pelatihan yang diberikan dapat meningkatkan skor attachment sampai pada tahap postest. Selanjutnya tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara skor attachment sebelum pelatihan . dan saat tindak lanjut . ollow u. dengan z=- 1,342 dan p=0,082 . >0,. dengan rerata peningkatan 6,8. Kata Kunci: komunikasi empatik, attachment, remaja panti asuhan PENDAHULUAN Masa remaja memiliki periode masa yang paling bahagia, namun remaja memiliki tugas yang tidak mudah dalam menyesuaikan diri dengan kehidupan di Panti Asuhan, mengalami kesulitan menghasilkan hambatan psikologis yang mempengaruh fisik dan mental, termasuk berpengaruh pada sifat-sifat kepribadian seperti big five, harga diri, narsisme dari teman sebaya (Surcinelli, 2. Perilaku berisiko berpotensi terjadi pada remaja selama menyesuaikan diri dengan lingkungan baru antara lain beresiko terhadap penggunaan drug abuse, perilaku bunuh diri, academic dishonesty, depresi dan stress, perilaku seksual pranikah (Stanhope & Lancester, 2004. Wang et al. , 2. Kenyataannya, tidak semua remaja dapat melewati pengasuhan dengan orang tua, tinggal terpisah dari keluarga dan harus tinggal di Panti Asuhan. Perpisahan dengan orangtua yang terjadi pada remaja di Panti Asuhan menimbulkan kehilangan dan perasaan kesepian (Brenning. Katrijin. Soenens. Bart. Beyers, 2. Kehilangan orang tua sebagai figur lekat mempengaruhi attachment atau keterikatan pada diri remaja (Eroglu, 2. Van Petegem. Vansteenkiste. Beyers. Breening. Maarten et, all . menjelaskan attachment pada remaja merupakan salah satu isu penting untuk dikaji lebih dalam dengan perkembangan identitas saat ini. Penelitian mengenai permasalahan perkembangan terkait attachment pada remaja selama ini dikaitkan dengan fenomena perkembangan di masyarakat, khususnya budaya di masyarakat Timur seperti Indonesia, dan seringkali disalahpahami (Yulianti, 2. Misalnya pada kenyataannya, attachment dapat diartikan sebagai kendala karena remaja yang mulai melakukan attachment seringkali pada awalnya menunjukkan perilaku yang tidak sesuai dengan aturan keluarga (Steinberg, 1. Jurnal Pepadu e-ISSN: 2715-9574 Vol. No. April 2024 https://journal. id/index. php/pepadu/index Pengamatan yang dilakukan penulis di Panti Asuhan Amanah pada tanggal 1, 8 November dan 1 Desember 2022 terjadi kecenderungan kekerasan verbal yang dilakukan oleh pengasuh sehingga menimbulkan kata-kata yang menyakitkan, dan anak-anak panti asuhan merasa terancam dengan situasi Kekerasan verbal yang dilakukan oleh pengasuh sering kali terjadi sebagai respons terhadap ketidaktaatan remaja atau hasil perilaku yang membuat pengasuh tidak puas. Artinya, pengasuh sering menggunakan label negatif, memberikan komentar negatif terhadap remaja yang tinggal di panti asuhan di depan remaja lainnya, dan kecil kemungkinannya menerima dukungan dari pengasuh. Hal ini sejalan dengan pengamatan bahwa rendahnya motivasi, dan hal ini terus berlanjut. Salah satunya kata-kata negatif masih digunakan untuk cepat menyelesaikan tugas atau permasalahan di panti asuhan (Yulianti. Dalam konteks pengasuhan di Panti asuhan, kekerasan verbal yang muncul dalam interaksi pengasuh dengan remaja penghuni panti asuhan berada dalam pembahasan attachment. Temuan ini diperkuat dengan penelitian Borelli et all . yang menemukan bahwa ketidakberadaan keluarga, kurangnya komunikasi, perilaku kekerasan pada remaja mempunyai risiko tinggi terjadinya rendahnya Sikap yang menunjukkan rendahnya attachment berupa tingkah laku gejala kejiwaan yang menghambat perilaku seperti mudah curiga, cemas, gelisah, menghindar, kurang inisiatif, mudah putus asa, tidak berani tampil dihadapan banyak orang, depresi, bunuh diri, anoreksia nervosa, keterlambatan, masalah penyesuaian khususnya pada remaja perempuan (Borelli. Sommers et all, 2. Meskipun hubungan dengan pengasuh merupakan salah satu unsur penguat kehidupan sosial remaja, namun perlakuan kekerasan terhadap remaja yang tinggal di panti asuhan dapat memberikan dampak negatif, dan fenomena kekerasan memerlukan perhatian yang serius dan masalah emosional sebagai remaja yang tidak memiliki orang tua kandung. Remaja yang men dapat kekerasan mengalami gangguan psikologis seperti perasaan cemas dan takut, kurang percaya diri, rendah diri, dan merasa tidak berarti di lingkungannya, yang pada akhirnya menyebabkan tidak adanya motivasi untuk mengembangkan potensi diri (Yulianti, 2022 ). Pengasuh yang menyoroti bagaimana proses keterikatan/attachment yang terjadi antara pengasuh dengan remaja di panti asuhan, meningkatkan pemahaman diri pengasuh, dan memberikan perspektif baru yang membantu dalam pengambilan keputusan ketika menyelesaikan masalah, maka diperlukan Pelatihan yang diberikan berisi modul yang dibuat berdasarkan prinsip dari Pelatihan Komunikasi Empati yang disusun oleh Solichah . Penelitian ini mengangkat problema komunitas di Panti Asuhan khususnya pada periode remaja, sehingga peningkatan skor yang dicapai diharapkan dapat menjawab pertanyaan penelitian berikut: Apakah penelitian ini dapat berdampak positif terhadap tingkat retensi pengasuh/attachment yang dilakukan oleh pengasuh?. Dalam hal ini, apakah peningkatan tersebut akan dipertahankan hingga tindak lanjut? Perlu strategi khusus yang dilakukan oleh pihak- pihak terkait untuk meningkatkan attachment pengasuhan remaja perempuan di Panti Asuhan. Pihak terkait yang dapat membantu adalah konselor dan psikolog yang memiliki keahlian khusus dalam bidang psikologi, khususnya dalam membantu penyelesaian permasalahan remaja. Penelitian ini diharapkan dapat berkontribusi pada Agenda Riset Keagamaan Nasional (ARKAN) 2018-2028 pada Kementerian Agama dan RIRN (Rencana Induk Riset Nasiona. yang dikeluarkan oleh Dewan Riset Nasional tahun 2016. METODE KEGIATAN Tiga orang pengasuh dari Panti Asuhan Amana Pekanbaru dipilih sebagai partisipan dalam penelitian ini. Intervensi . ini akan mencakup semua pengasuh yang terus berpartisipasi dalam pelatihan dengan harapan dapat menciptakan situasi pelatihan yang dinamis dan mengurangi potensi perilaku tidak wajar dan dampak psikososial oleh peserta penelitian. Nama Tabel 1. Data Partisispan Penelitian Usia Jenis Lama sebagai Pengasuh Kelamin 50 Tahun 10 Tahun 54 Tahun 6 Tahun Jurnal Pepadu e-ISSN: 2715-9574 Vol. No. April 2024 https://journal. id/index. php/pepadu/index 43 Tahun 6 Tahun Desain yang digunakan adalah one-group pretest-postest and follow-up design (Shaughnessy et all. Follow up Keterangan: Pretest/before Intervention Postest/After Follow Up : observasi sebelum diberi pelatihan : Pelatihan Komunikasi Empatik : Observasi setelah mendapatkan pelatihan : Observasi setelah mendapatkan pelatihan dan dilihat 3 minggu setelah pelatihan Alat pengumpul data yang digunakan adalah Panduan Observasi Attachment yang telah dihitung reliabilitasnya yaitu 0,86 dan Skala Attachment . ebagai manipulasi ce. dengan reliabilitas 0,89. Analisis data kuantitatif menggunakan aplikasi pengolah data/tools JASP (Jeffreys's Amazing Statistics Progra. Pada saat pretest, 3x20 menit pada sat postest, dan 3x20 menit pada saat follow Hal ini dilakukan dengan pertimbangan untuk mendapatkan data valid dan mendapatkan situasi panti yang diharapkan terdapat interaksi intens antara pengasuh dengan remaja panti . isalnya pada saat pulang sekola. HASIL DAN PEMBAHASAN Data kuantitatif merupakan hasil skor attachment pasrtisipan yang tertinggi dari 3x pengamatan disetiap fase. Berikut deskripsi rerata skor attachment ke empat partisipan, sebagai Tabel 2. Deskripsi Skor Attachment Partisipan Partisipan Pretest Postest Follow-Up BS . F . YE . Berikut adalah gambar yang menunjukkan perubahan skor attachment tiap pasrtisipan dimulai dari pretest, postest hingga follow up. Jurnal Pepadu e-ISSN: 2715-9574 Vol. No. April 2024 https://journal. id/index. php/pepadu/index Diagran Rerata Skor Tiap Partisipan Partisipan BS Partisipan F Pretest Postest Partisipan YE Follow Up Gambar 1. Diagram Perubahan Skor Attachment Tiap Partisipan Gambar di pada partisipan BS atas menunjukkan penigkatan dari fase pretest dan postest sebesar 16,5 poin, partisipan F mengalami peningkatan 5 poin, dan partisipan YE mengalami peningkatan sebesar 20 poin, hal ini tampak menonjol peningkatannya. Tabel 3. Ringkasan Nilai Rerata Skor Attachment disetiap Fase Pengukuran Sumber Selisih Rerata Pretest dengan Postest -1,861 0,034 Pretest dengan Follow Up 6,8 -1,342 0,082 Pretest dengan Follow Up 10,5 -2,031 0,017 Berdasarkan tabel di atas dapat dilihat bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara skor attachment sebelum pelatihan . dan sesudah pelatihan . dengan z=-1,861 dan p=0,034 . <0,. , dengan rerata peningkatan skor 16,6. Hal ini berarti bahwa pelatihan yang diberikan dapat meningkatkan skor attachment sampai pada tahap postest. Selanjutnya tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara skor attachment sebelum pelatihan . dan saat tindak lanjut . ollow u. dengan z=- 1,342 dan p=0,082 . >0,. dengan rerata peningkatan 6,8. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa pelatihan tidak memberikan pengaruh dalam peningkatan skor attachment pada saat follow up. Dari Uji yang dilakukan juga menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara skor attachment setelah pelatihan . dan saat tindak lanjut . ollow u. dengan z=-2,031 dan p=0,017 . <0,. yang berarti terdapat penurunan yang signifikan dari fase postest ke follow up. Hal tersebut menunjukkan skor attachment partisipan mengalami penurunan setelah pelatihan berlangsung. Selanjutnya dilakukan analisis uji wiloxon terhadap hasil skala attachment pada saat sebelum dan sesudah pelatihan terhadap 3 partisipan. Hasilnya sebagai berikut: Tabel 4. Hasil Penghitungan dengan Uji Wiloxon Skor Skala Attachment Postest Pelatihan Sig. Asimp. -eko. Pretest Pelatihan Berdasarkan tabel 3 di atas dapat dicermati bahwa Z=-1,682 dan p=0,045 . <0,. , maka pelatihan Komunikasi Empatik meningkatkan skor skala attachment pada partisipan. Hal ini berarti bahwa pelatihan tersebut dapat meningkatkan pengetahuan, kepekaan, kelekatan secara emosi para partisipan penelitian mengenai attachment. Jurnal Pepadu e-ISSN: 2715-9574 Vol. No. April 2024 https://journal. id/index. php/pepadu/index Penelitian dari Kivlighan dan Dennis M . berjudul AuAttachment Anxiety and Attachment Avoidance: Members Attachment Fit with Their Group and Group RelationshipsAy, menguraikan fokus pada attachment dimana kelompok sebagai keseluruhan hubungan dengan fungsi antar pribadi yang matang, hal ini mengarahkan pada persepsi mereka terhadap attachment serta menunjukkan dimensi keterikatan agregat dari anggota grup sebagai prediktor dalam iklim kelompok. Penelitian ini menegaskan bahwa kelompok memberikan peranan besar dalam pembentukkan attachment dan bagaimana individu mempersepsikan kelekatan dengan kelompok sebagai bentuk interaksi dengan menggunakan metode kuantitatif dan kualitatif. Penelitian berikut dari Surcinelli dkk, . , berjudul AuAdult Attachment Styles and Psychological Disease: Examining the Mediating Role Of Personality TraitsAy, menjelaskan kehadiran disosiasi pada attachment styles dan kepribadian, attachment dilihat sebagai teori umum pengembangan kepribadian serta memiliki hubungan dengan dimensi kepribadian. Konsistensi dan pengasuhan yang peka seperti attachment mengarah pada sifat-sifat kepribadian yang terkait dengan mediasi hubungan orang dewasa, depresi dan kecemasan yang lebih dalam. Pengalaman utama dengan pengasuh diinternalisasi oleh anak-anak dalam bentuk model kerja internal yaitu struktur kognitif yang bertindak sebagai prototype dalam hubungan di luar keluarga. Relevansi penelitian ini terletak sama-sama merancang program meningkatkan attachment dan objek ukur yaitu remaja, namun potensi kebaharuan . terdapat pada perbedaan dalam intervensi yang diajukan dan perlunya upaya-upaya menemukan dan mengembangkan program-program penanganan dan pencegahan yang efektif. Attachment pengasuhan diukur berdasarkan dimensi kelekatan dalam Adolescent Attachment Questionnaire (AAQ) sebagaimana juga telah dilakukan oleh Guarnieri. Ponti, dan Tani . Adapun indikator yang diukur dalam aspek dari Adolescent Attachment Questionnaire (AAQ) yaitu: Angry Distress yaitu menggambarkan kemarahan yang bersumber dari system emosi individu sebagai reaksi dari frustasi pengasuhan antara kebutuhan dan respon pada remaja terhadap pengasuh. Availability yaitu kepercayaan remaja terhadap figure attachment baik berupa perilaku responsif dalam memenuhi kebutuhan emosi dan kepercayaan remaja terhadap pengasuh mengacu pada rasa saling memahami dan menghormati kebutuhan serta keinginan remaja. Individu dilahirkan dengan attachment yang mendorong mereka untuk mendekat dengan significant other . igur leka. Tujuan sistem ini adalah untuk mendapat perlindungan dan rasa aman yang merupakan kebutuhan dasar seseorang, menurut Ainsworth, 1978 . alam Bee, 1. Goal-Corrected Parthership merupakan persepsi dan respon pada figure attachment yang terlibat dalam perencanaan dan tujuan-tujuan masa depan remaja. Jadi, terdapat tiga aspek-aspek dalam attachment pengasuhan yaitu angry distress, availability dan goal-corrected Adapun upaya meningkatkan attachment pengasuhan remaja telah dilakukan Upaya peningkatkan attachment pengasuhan secara psikologis dilakukan dengan membangun harapan, kepercayaan, optimisme, dan ketenangan terhadap hubungan emosi (Kivlighan & Dennis, 2. Penelitian ini fokus masalah komunitas pada aspek komunikasi empatik pengasuh pada remaja panti asuhan dan dengan pendekatan kuantitatif melalui analisis regresi dan analisis data demografi subjek. Sikap pengasuh dalam proses sosial, termasuk isolasi sosial dan remaja putus sekolah menegaskan bahwa attachment yang rendah serta berdampak negatif terhadap perkembangan psikologis remaja dan membatasi aktivitas sosial. Kenyataannya, lingkungan panti asuhan dimaksudkan untuk fokus pada perkembangan remaja, mendukung kegiatan sosial, dan menyediakan lingkungan interaksi positif antar pengasuh untuk mencegah remaja terkucil di panti asuhan (Borelli, 2. Kekerasan mengancam salah satu kebutuhan paling mendasar manusia, yaitu kebutuhan untuk memiliki dan dimiliki (Mikulincer, 1. Dari perspektif adaptasi evolusioner, manusia berkeinginan untuk berinteraksi dengan orang lain dan mencari kedekatan (Mikulincer 1. Perilaku mencari kedekatan ini terbentuk pada masa kanak-kanak melalui interaksi dengan pengasuh yang dikenal dengan istilah Teori attachment berasal dari karya John Bowlby . 9, 1. , yang mengemukakan prinsip dasar bahwa bayi pada dasarnya cenderung menjaga kedekatan dengan pengasuhnya. Karakteristik pengasuh pada saat stres, rasa tidak aman, dan ketakutan akan menghasilkan gaya keterikatan yang berbeda. Ketika figur keterikatan tidak ada, lalai, atau tidak responsif, strategi Jurnal Pepadu e-ISSN: 2715-9574 Vol. No. April 2024 https://journal. id/index. php/pepadu/index keterikatan digunakan untuk membantu mengatasi tekanan. Teori attachment telah dipelajari menggunakan sampel orang dewasa di berbagai bidang seperti hubungan romantis (Mikulincer & Shaver, 2007. Pietromonaco & Beck, 2. dan hubungan kerja (Borelli, 2. KESIMPULAN DAN SARAN Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan dan kelemahan yang ditemukan oleh penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa pelatihan komunikasi empatik dapat meningkatkan skor attachment . eningkatkan pengetahuan, kepekaan, kelekatan termasuk interaksi positi. Hal ini berarti pelatihan tersebut meningkatkan intesitas kelekatan yang lebih pada pengasuh dan remaja panti dan menurunkan kemunculan perilaku negatif pengasuh panti terutama terjadinya kekerasan verbal. Mengacu pendapat Silberman . yang mengatakan bahwa efektifitas suatu pelatihan dapat dilihat dalam rentang waktu 3-4 minggu setelah dilakukan pelatihan, maka pelatihan ini kurang efektif karena perubahan perilaku yang terjadi sebagai efek dari pelatihan tidak bertahan hingga 3-4 minggu setelah pelatihan, hal ini disebabkan oleh salah satu pengasuh panti berusia lebih dari 50 tahun dan dengan pengalaman tinggal di Panti Asuhan yang lama 15 tahun membentuk karakteristik pribadi yang akhirnya mempengaruhi pengasuhan dan cara berkomunikasi di panti. Secara ringkas pelatihan komunikasi empatik dapat meningkatkan perilaku partisipan dalam menciptakan attachment atau kelekatan dengan anak asuh di Panti Asuhan, meskipun efektifitasnta harus dilakukan kajian lebih dalam lagi. UCAPAN TERIMA KASIH Penulis mengucapkan rasa terima kasih kepada pihak Fakultas Psikologi dan Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) UIN Sultan Syarif Kasim Riau yang telah mendukung proses pelaksanaan kegiatan riset ini. DAFTAR PUSTAKA