Mimbar Agribisnis: Jurnal Pemikiran Masyarakat Ilmiah Berwawasan Agribisnis P-ISSN: 2460-4321. E-ISSN: 2579-8340 Volume 11. Nomor 2. Juli 2025: 2510-2523 Potensi Produk Organik Kabupaten Lumajang: Studi Komoditas Salak Organic Product Potential of Lumajang District: Study of Salak Commodity Djoko Soejono1. Ayu Puspita Arum2. Ratih Apri Utami1. Dimas Bastara Zahrosa1. Ariq Dewi Maharani1. Amam3,4* Program Studi Agribisnis. Fakultas Pertanian. Universitas Jember. Indonesia Program Studi Ilmu Perkebunan. Fakultas Pertanian. Universitas Jember. Indonesia Program Studi Peternakan. Fakultas Pertanian. Universitas Jember. Indonesia Kelompok Riset Agribisnis dan Agroindustri Peternakan (A2P) *Email: amam. faperta@unej. (Diterima 14-03-2025. Disetujui 01-07-2. ABSTRAK Kabupaten Lumajang berencana mengembangkan pembangunan sektor pertanian organik dengan tujuan untuk menjaga keseimbangan alam demi keberlanjutan pertanian di masa depan. Salak merupakan salah satu komoditas unggulan Kabupaten Lumajang dengan potensi pengembangan sistem organik. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui pemetaan potensi, penerapan sistem agribisnis, nilai ekonomi, serta strategi pengembangan produk organik komoditas salak di Kabupaten Lumajang. Lokasi penelitian di wilayah Kabupaten Lumajang. Metode pengambilan sampel yaitu dengan purposive sampling dan snowball sampling. Pengumpulan data menggunakan metode observasi, wawancara, dan Focus Group Discussion (FGD). Jenis data yang digunakan dalam penelitian ialah data primer dan sekunder. Hasil penelitian menunjukkan bahwa komoditas salak organik sangat sesuai untuk dikembangkan di Kecamatan Candipuro. Gucialit. Jatiroto. Kedungjajan. Klakah. Kunir. Padang. Pasirian. Pasrujambe. Randuagung. Ranuyoso. Senduro. Sukodono. Tempeh. Tempusari, dan Yosowilangun. Berbagai kendala dalam penerapan sistem agribisnis tanaman salak organik antara lain: . bibit hasil perbanyakan dari kebun petani tidak/belum terjamin kualitasnya. bahan baku pembuatan pupuk dan pestisida alami tidak terjamin bebas dari kontaminasi zat kimia. peralatan budidaya, panen, dan pascapanen juga digunakan untuk berkegiatan anorganik. belum ada fasilitas khusus . segmentasi pasar belum terbentuk sebab konsumen tidak membedakan produk organik dan serta . lemahnya manajemen kelembagaan kelompok tani maupun gabungan kelompok tani . Analisis Revenue per Cost (R/C) usaha pertanian salak organik sebesar 1,55. Pilihan prioritas strategi pengembangan produk salak organik adalah penguatan kelembagaan petani. Kata kunci: komoditas, organik, pertanian, salak. Kabupaten Lumajang ABSTRACT Lumajang District plans to develop the development of the organic agricultural sector with the aim of maintaining the balance of nature for the sustainability of agriculture in the future. Salak is one of the leading commodities of Lumajang District with the potential for developing an organic system. The purpose of this study was to determine the mapping of potential, implementation of agribusiness systems, economic value, and strategies for developing organic products of salak commodities in Lumajang District. The location of the study was in Lumajang District, the sampling method was purposive sampling and snowball Data collection used observation, interview, and Focus Group Discussion (FGD) methods. The types of data used in the study were primary and secondary data. The results of the study showed that organic salak commodities were very suitable for development in Candipuro. Gucialit. Jatiroto. Kedungjajan. Klakah. Kunir. Padang. Pasirian. Pasrujambe. Randuagung. Ranuyoso. Senduro. Sukodono. Tempeh. Tempusari, and Yosowilangun Districts. Various obstacles in implementing the organic salak plant agribusiness system include: . seeds from propagation from farmers' gardens are not/have not been guaranteed in quality. raw materials for making natural fertilizers and pesticides are not guaranteed to be free from chemical contamination. cultivation, harvesting, and post-harvest equipment are also used for inorganic activities. there are no special packaging facilities. market segmentation has not been formed because consumers do not differentiate between organic and inorganic products. weak institutional management of farmer groups and farmer group associations . Revenue per Cost (R/C) analysis of organic snake fruit farming business is 1. The priority choice of organic snake fruit product development strategy is strengthening farmer institutions. Keywords: commodity, organic, agriculture, snake fruit. Lumajang District Potensi Produk Organik Kabupaten Lumajang: Studi Komoditas Salak Djoko Soejono. Ayu Puspita Arum. Ratih Apri Utami. Dimas Bastara Zahrosa. Ariq Dewi Maharani. Amam PENDAHULUAN Sektor pertanian memiliki peran penting dalam ekonomi negara (Amam & Rusdiana, 2. , seperti menyediakan bahan baku untuk industri (Soetriono et al. , 2. , menciptakan lapangan kerja (Soejono et al. , 2021a. , dan memberikan sumbangan dalam penghasilan devisa (Suwandari et al. , 2. Indonesia merupakan salah satu negara dengan mata pencaharian penduduk di sektor pertanian yang cukup besar. Data Badan Pusat Statistik (BPS) . menyebutkan bahwa jumlah petani terbanyak berkisar 29 juta dengan karakteristik Usaha Pertanian Perseorangan (UTP) dimana petani mengusahakan kegiatan bertani dilakukan secara mandiri mulai dari pengelolaan teknis sampai ekonomi. Pembangunan sektor pertanian bukan hanya tentang meningkatkan produktivitas (Soejono et al. Zahrosa et al. , 2. , tetapi juga menjaga keseimbangan alam demi keberlanjutan pertanian di masa depan (Amam & Saputra, 2021. Setyawan & Amam, 2. Hal tersebut dapat dilakukan melalui upaya penegakan Prinsip-prinsip pertanian organik (Amam. Widodo, et al. , 2023. Jadmiko et al. , 2. , seperti pengendalian hama yang berkelanjutan (Yulianto et al. , 2020. Zahrosa et al. , penggunaan pupuk kandang (Amam et al. , 2019a, 2019b, 2019. , pengelolaan sumber daya secara terintegrasi (Amam et al. , 2019d, 2019e, 2019. , dan pertimbangan terhadap pelestarian lingkungan harus diterapkan dalam konsep pembangunan sektor pertanian (Amam & Harsita. Amam & Soetriono, 2022. Fadli et al. , 2022. Yaqin et al. , 2. Tujuannya adalah agar pembangunan sektor pertanian dapat berkelanjutan secara ekonomi, sosial, dan lingkungan di masa depan (Amam. Asepriyadi, et al. , 2023. Amam. Rusdiana, et al. , 2023. Amam & Rusdiana, 2. Penggunaan input yang bersumber dari limnbah-limbah kegiatan budidaya di lahan pertanian merupakan bentuk praktik-praktik manajemen dari pertanian organik (Widiyanto et al. , 2024. Widodo et al. , 2024. Winarto et al. , 2. , sesuai level adaptasi pada kondisi dan keadaan setempat (Shobirin et al. , 2023. Soejono et al. , 2024. Soetriono & Amam, 2020. Supriono et al. , 2. Dalam kondisi tertentu, dapat dilakukan dengan metode biologi dan mekanik (Romadhon et al. Rusdiana et al. , 2022, 2. Penerapan sistem pertanian organik dalam konteks budidaya tanaman salak mencakup penggunaan pupuk kandang (Rokhani et al. , 2. , agen hayati untuk pengendalian hama (Amam. Nasution, et al. , 2023. Ramadhan et al. , 2. , serta teknik pengelolaan tanah yang mendukung kesuburan jangka panjang (Amam. Setyawan, et al. , 2021a. Amam. Rusdiana, et al. , 2. Sistem ini tidak hanya meningkatkan kualitas buah, tetapi juga menjaga keseimbangan ekosistem disekitar lahan pertanian (Amam. Harsita, et al. , 2021. Amam & Harsita, 2019a, 2019. Salak (Salacca zalacc. merupakan salah satu jenis tanaman buah tropis yang memiliki nilai ekonomi tinggi dengan potensi pasar yang bagus sehingga layak jika dikembangkan di Provinsi Jawa Timur, khususnya di Kabupaten Lumajang (Amam et al. , 2024. Amam. Soejono, et al. , 2. Buah salak dikenal karena cita rasanya yang khas, tekstur renyah, serta kandungan gizinya yang meliputi vitamin C, serat, kalsium, dan zat besi. Kabupaten Lumajang yang terletak di Jawa Timur merupakan salah satu daerah penghasil salak dengan kualitas unggul (Baene et al. , 2024. Triansyah et al. , 2. Varietas salak di Lumajang seperti salak Pondoh Lumajang memiliki keunikan dalam rasa dan aroma yang telah menarik perhatian pasar lokal maupun nasional (Amam et al. , 2016. Amam & Harsita, 2017. Harsita & Amam, 2019. Kabupaten Lumajang memiliki potensi besar dalam pengembangan salak organik (Fadli et al. Kondisi agroklimatnya yang sesuai dengan tanah yang subur dan curah hujan yang cukup mendukung pertumbuhan tanaman salak secara optimal (Candra et al. , 2024. Diningrat et al. Produk salak pondoh di Kabupaten Lumajang banyak dipasarkan dibeberapa daerah di Jawa Timur. Hal tersebut dikarenakan minat konsumen untuk mengkonsumsi buah salak. Peluang tersebut perlu dilakukan tindak lanjut secara nyata supaya usahatani salak dapat meluas dan Upaya tersebut dapat dilakukan melalui salah satunya inovasi produk olahan salak, seperti keripik salak, dodol salak, sirup salak, madu salak, kurma salak, sari salak, dan olahan buah salak dapat dijadikan dalam bentuk olahan lainnya (Firmansyah et al. , 2022. Fitriah et al. , 2. Pengembangan salak organik di Kabupaten Lumajang perlu dikaji lebih lanjut untuk mengetahui aspek-aspek mana yang perlu diperbaiki dari hulu hingga hilir (Harsita et al. , 2018. Harsita & Amam, 2019b, 2021. Irfan et al. , 2. Potensi yang terdapat pada wilayah tersebut sangat disayangkan apabila tidak dimanfaatkan dengan maksimal karena akan berdampak buruk bagi usahatani hortikultura dimasa depan (Kahfi et al. , 2022, 2024. Prihatin & Amam, 2. Tujuan Mimbar Agribisnis: Jurnal Pemikiran Masyarakat Ilmiah Berwawasan Agribisnis P-ISSN: 2460-4321. E-ISSN: 2579-8340 Volume 11. Nomor 2. Juli 2025: 2510-2523 penelitian ini yaitu untuk mengetahui pemetaan potensi, penerapan sistem agribisnis, nilai ekonomi, serta strategi pengembangan produk organik komoditas salak di Kabupaten Lumajang. METODE PENELITIAN Lokasi kegiatan penelitian ditetapkan secara purposive di wilayah Kabupaten Lumajang, berdasarkan pertimbangan bahwa: . petani yang tergabung dalam kelompok tani sudah menerapkan sistem pertanian organik. produk organik sudah dihasilkan oleh petani, baik komoditas pangan, komoditas hortikultura, maupun komoditas perkebunan. produk organik bersertifikasi dan berpotensi untuk sertifikasi. potensi biofisik yang mendukung pengembangan pertanian organik. Metode yang digunakan dalam penelitian ini merupakan metode analitik dan deskriptif. Metode analitik digunakan dengan menerapkan beberapa analisis yang berkaitan dengan bidang kajian dengan cara menyusun data terlebih dahulu, kemudian dianalisis dan mengadakan interprestasi yang lebih dalam (Kuntadi & Amam, 2024. RifaAoi et al. , 2. Metode pengambilan data dengan menggunakan 2 . teknik, yaitu teknik purposive sampling dan snowball sampling. Kelompok responden yang di wawancarai secara sengaja . urposive samplin. adalah pemangku jabatan meliputi: . Bidang Tanaman Pangan. Bidang Hortikultura. Bidang Perkebunan Dinas Pertanian Kabupaten Lumajang. Bidang Konsumsi dan Keamanan Pangan. Bidang Ketersediaan, dan Distribusi Pangan Dinas Ketahanan Pangan. Bidang Perindustrian dan Bidang Perdagangan Dinas Perdagangan. Bidang Penelitian dan Pengembangan Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah. Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang. Dinas Koperasi dan UM. Dinas informasi dan komunikasi. Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa. Bagian Perekonomian dan ESDA. PD. Semeru. Kelompok responden yang di wawancarai secara berantai . nowball samplin. adalah: . petani produsen produk organik. petani pelaku usaha salak. petani salak yang tergabung dalam kelompok tani/gabungan kelompok tani. Selanjutnya, untuk memperkuat dan melengkapi informasi, maka dilakukan Focus Group Discussion (FGD). Sumber data dalam penelitian ini adalah data primer dan sekunder. Sumber data berasal dari BPS. Dinas Pemerintah Kabupaten/Kota, dan dokumen lembaga dan instansi-instansi lain yang dapat memberikan data dan informasi yang berhubungan dengan penelitian. Metode Pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini meliputi observasi dan wawancara. Terkait penelitian ini, fokus observasi terstruktur diarahkan pada petani yang tergabung maupun belum tergabung di kelompok tani, sedangkan observasi non partisipan adalah pemangku jabatan pemerintah Kabupaten Lumajang. Peneliti menggunakan teknik wawancara yang semiterstruktur, wawancara ini menggunakan pedoman wawancara yang telah tersusun secara sistematis. Wawancara ini masuk dalam kategori wawancara mendalam . n-dept intervie. yang pelaksanaannya lebih bebas serta terbuka dengan meminta pendapat dan ide-ide dari informan. Penentuan kelas Indeks Potensi Lahan (IPL) dengan melakukan perhitungan pada masing-masing area yang telah diharkatkan menggunakan formula sebagai berikut : IPL = ( R L Li Ts Tt H ) * B Keterangan: IPL = Nilai kelas Indeks Potensi Lahan R = Harkat relief atau topografi L = Harkat kemiringan lereng Li = Harkat litologi Ts = Harkat kedalaman solum tanah Tt = Harkat tekstur tanah H = Harkat hidrologi B = Harkat kerawanan bencana . Area pertanian organik potensial prioritas pertama terletak di cekungan air zona perlindungan, daerah-daerah ini terletak di sekitar potensi pertanian organik. Daerah yang tidak cocok untuk pertanian konvensional karena kontaminasi pupuk dan polusi pestisida. Area pertanian organik potensial prioritas kedua terletak di sekitar hutan desa-desa, jauh dari kawasan pertanian Potensi Produk Organik Kabupaten Lumajang: Studi Komoditas Salak Djoko Soejono. Ayu Puspita Arum. Ratih Apri Utami. Dimas Bastara Zahrosa. Ariq Dewi Maharani. Amam konvensional, dan hutan lebat dan lahan pertanian yang tidak mencukupi. Fungsi utama area ini adalah: untuk melestarikan keanekaragaman hayati, mencegah penyalahgunaan lahan pertanian dan memperbaiki kondisi sosial ekonomi di wilayah pedesaan. Area pertanian organik potensial prioritas ketiga terletak di sekitar pesisir Desa. Dalam penentuan daerah-daerah ini, area konvensional yang lebih cocok juga dievaluasi untuk berubah menjadi pertanian organik potensial Proses evaluasi lahan dan arahan penggunaannya dilakukan dalam beberapa tahap, yaitu: Penyusunan karakteristik lahan Penyusunan persyaratan tumbuh tanaman/penggunaan lahan (LUR. Proses evaluasi kesesuaian lahan . Kesesuaian lahan terpilih/penentuan arahan penggunaan lahan untuk tanaman tahunan HASIL DAN PEMBAHASAN Pemetaan Potensi Produk Salak Organik Berdasarkan Karakteristik Kewilayahan di Kabupaten Lumajang Pemetaan dilakukan menggunakan metode spasial melalui aplikasi SIG (Sistem Informasi Geografi. berdasarkan hasil penghitungan Indeks Potensi Lahan (IPL). Indeks potensi lahan merupakan pendekatan menggunakan beberapa parameter sesuai dengan pengaruhnya terhadap potensi suatu lahan, sehingga dapat diketahui lokasi dan luas area dalam bentuk peta. Gambar 1. Peta Hasil Kesesuaian Lahan Tanaman Salak Organik Data pemetaan serta karakteristik lahan selanjutnya dievaluasi dengan tujuan mengetahui kesesuaian lahan dan arahan penanaman komoditas. Hasil kesesuaian lahan untuk komoditas salak di Kabupaten Lumajang diperoleh bahwa tanaman salak sangat sesuai di kecamatan Candipuro. Gucialit. Jatiroto. Kedungjajang. Klakah. Kunir. Padang. Pasirian. Pasrujambe. Randuagung. Ranuyoso. Senduro. Sukodono. Tempeh. Tempusari, dan Yosowilangun. Tabel 1. Arahan Komoditas Salak di Setiap Kecamatan Kecamatan Kesesuaian Lahan Candipuro Gucialit Jatiroto Kedungjajang Klakah Kunir Hutan Lindung. S1. S2 . c, rc & e. Hutan Lindung. S1. S2 . c & e. Hutan Lindung. S1. S2 . c & e. Hutan Lindung. S1. S2 . c & e. Hutan Lindung. S1. S2 . c, rc & e. S1. S2 . Luas 4546,74 8,93 2034,88 4,00 1837,56 3,61 1635,87 3,21 2094,29 4,11 1790,36 3,52 Mimbar Agribisnis: Jurnal Pemikiran Masyarakat Ilmiah Berwawasan Agribisnis P-ISSN: 2460-4321. E-ISSN: 2579-8340 Volume 11. Nomor 2. Juli 2025: 2510-2523 Padang Hutan Lindung. S1. S2 . c & e. Pasirian Hutan Lindung. S1. S2 . c & e. Pasrujambe Hutan Lindung. S1. S2 . c, rc & e. Pronojiwo Hutan Lindung. S1. S2 . c, rc & e. Randuagung Hutan Lindung. S1. S2 . c, rc & e. Ranuyoso Hutan Lindung. S1. S2 . c, rc & e. Rowokangkung S2 . Senduro Hutan Lindung. S1. S2 . c, rc & e. Sukodono S1. S2 . Sumbersuko S2 . c & r. Tekung S2 . Tempeh S1. S2 . Tempursari Hutan Lindung. S1. S2 . c & e. Yosowilangun S1. S2 . Sumber: Data Sekunder diolah . 1389,27 3696,16 4508,33 6074,81 2680,36 3105,78 1882,14 4039,38 911,97 921,01 939,95 2490,75 2214,01 2124,95 2,73 7,26 8,85 11,93 5,26 6,10 3,70 7,93 1,79 1,81 1,85 4,89 4,35 4,17 Agribisnis Produk Salak Organik Pengusahaan produk salak, terpenting bagi petani di wilayah Pronojiwo bahwa areal pertanaman salak yang ideal adalah berdekatan dengan sumber air dan akses terhadap transportasi guna mempermudah pengangkutan dan distribusi. Pada awal budidaya, lahan yang ditanami salak adalah lahan tegalan maupun pekarangan yang persiapannya terdiri dari pembersihan berbagai gulma pengganggu tanaman dan menghancurkan bongkahan-bongkahan tanah. Secara komprehensif, agribisnis pertanian salak organik ditampilkan pada Tabel 2. Tabel 2. Agribisnis Produk Salak Organik Sub Sistem Agribisnis Aktivitas Pengadaan sarana produksi C Bibit diperoleh dengan cara vegetatif atau anakan pohon induk C Pupuk menggunakan kotoran ternak yang mayoritas berasal dari kandang kambing milik petani. C Pestisida hayati diperoleh dengan cara membeli dari kios Kendala C Bahan pupuk tidak terjamin berasal dari ternak organik Usahatani C Pengolahan lahan menggunakan cangkul C Penanaman dan pemeliharaan berdasarkan pengelaman petani secara turun temurun C Kebutuhan air tanaman salak diperoleh dari air hujan atau tadah C Untuk menjaga serangan hama dilakukan dengan membuat pagar dan menggunakan umpan makanan yang dicampur bahan Kendala C Alat pengolahan lahan digunakan juga di lahan anorganik Panen dan Pasca panen C Peralatan yang digunakan sabit C Alat angkut menggunakan motor roda 2 dan sepeda C Petani melakukan pengepakan produk dengan sangat hati-hati agar tidak merusak buah hasil panen Kendala C Peralatan pasca panen digunakan pada anorganik C Gapoktan belum pernah memiliki sertifikasi organik C Belum ada tempat khusus untuk melakukan pengepakan Pemasaran C Produk dijual dalam bentuk segar di pasarkan di berbagai kota melalui pedagang/tengkulak Kendala C Pasar tidak membedakan produk organik dan an organik karena dianggap sama C Penentu harga adalah pedagang C Konsumen belum mampu membedakan produk organik dan Potensi Produk Organik Kabupaten Lumajang: Studi Komoditas Salak Djoko Soejono. Ayu Puspita Arum. Ratih Apri Utami. Dimas Bastara Zahrosa. Ariq Dewi Maharani. Amam C Petani tergabung dalam kelompok tani maupun Gapoktan dengan berbagai aktivitas rutin C Permodalan modal sendiri/keluarga, lembaga formal dan non formal serta kelompok tani Kendala C Tidak semua petani memiliki catatan usahatani C Kelompok tani/Gapoktan belum optimal memainkan perannya terkait pemasaran produk Sumber: Data Primer diolah . Kelembagaan dan permodalan Sub sistem pengadaan sarana produksi Karakteristik pengusahaan tanaman salak, terpenting bagi petani di wilayah Kecamatan Pronojiwo bahwa areal pertanaman salak yang ideal adalah berdekatan dengan sumber air dan akses terhadap transportasi guna mempermudah pengangkutan dan distribusi. Umumnya, petani menerapkan pembibitan secara vegetatif, hal tersebut dipandang lebih mudah dan harapannya hasil buah tidak berbeda jauh dari induk tanaman. Hasil informasi di lapang menunjukkan bahwa sistem kelembagaan pengadaan dan penyaluran sarana produksi input, baik bibit, pupuk, maupun obatobatan dinilai mendukung keberhasilan pengusahaan produk organik. Khususnya pupuk organik yang bisa diperoleh petani dengan mudah, karena mayoritas petani memelihara ternak kambing. Tantangan dan kendala yang dihadapi petani salak, yaitu terkait pemanfaatan bahan-bahan alami untuk membuat pupuk organik. Bahan tersebut tidak/belum terjamin terbebas dari unsur kimia, baik limbah tanaman maupun kotoran ternakkambing. Sub sistem usahatani Pada awal budidaya, lahan yang ditanami produk salak adalah lahan tegalan maupun pekarangan yang persiapannya terdiri dari pembersihan berbagai gulma pengganggu tanaman dan menghancurkan bongkahan-bongkahan tanah. Bagi sebagian petani, menanan produk salak sebaiknya berada di bawah tanaman peneduh karena pertumbuhan akan bagus jika tidak terkena matahari langsung. Pemeliharaan pada produk salak juga dilakukan kegiatan penjarangan dan Penjarangan dilakukan apabila tandan sudah mulai rapat, penjarangan tanaman salak umumnya dilakukan pada bulan ke-4 dan ke-5, selanjutnya pada tanaman muda dan/atau tanaman yang baru ditanam dilakukan penyulaman. khususnya pada tanaman salak yang memiliki pertumbuhan kurang baik, misal kerdil atau bahkan terlalu banyak tanaman betina. Tanaman cadangan umumnya selalu disiapkan petani salak untuk mengantisipasi kondisi iklim dan musim, sedangkan kondisi yang ideal untuk melakukan penyulaman umumnya dilakukan pada awal musim Penyiangan, yaitu upaya untuk membersihkan gulma, seperti rumput liar atau tanaman pengganggu yang turut tumbuh di area perkebunan salak. Gulma yang tidak diberantas suatu hari nanti akan menjadi pesaing bagi tanaman salak, gulma turut memperebutkan air dan unsur-unsur hara. Secara umum, bibit yang baru tanam dan telah berumur 2 . bulan dilakukan penyiangan pertama, dan selanjutnya, penyiangan dilakukan setiap 3 . bulan sekali sampai tanaman salak berumur 1 . tahun, dan selanjutnya penyiangan dapat dilakukan 2 . kali selama 1 . Namun, untuk memaksimalkan kinerja petani, atas dasar efisiensi, proses penyiangan dapat dilakukan bersamaan dengan proses penggemburan dan pembumbunan tanah. Dua kegiatan dilakukan hampir bersamaan bertujuan untuk menghemat ongkos kerja juga untuk efisiensi Pemangkasan penting dilakukan dengan tujuan agar produk salak tidak terlalu rimbun sehingga sirkulasi udara lebih lancar. Selain itu, pemangkasan bertujuan untuk menolong distribusi makanan . ir dan unsur-unsur har. agar tidak hanya ke daun atau bagian vegetatif, namun juga ke proses pertumbuhan bunga, buah, atau bagian generatif secara seimbang dan berkelanjutan. Secara umum, pemangkasan dilaksanakan setiap 2 . bulan sekali, namun dapat dilakukan minimal 1 . bulan sekali saat tanaman salak mendekati masa berbunga atau berbuah. Pemupukan, banyak petani yang masih menggunakan pemupukan anorganik dengan harapan produksi yang dihasilkan meningkat. Akan tetapi beberapa petani tidak mengunakan pupuk anorganik dan beralih ke pupuk organik. Penggunaan pupuk organik, dinilai petani selain mampu menekan biaya produksi, juga memperbaiki kualitas buah. Tanaman salak juga membutuhkan air yang cukup, terutama saat musim kemarau. Di musim penghujan, petani harus mampu mengatur air dengan baik, karena Mimbar Agribisnis: Jurnal Pemikiran Masyarakat Ilmiah Berwawasan Agribisnis P-ISSN: 2460-4321. E-ISSN: 2579-8340 Volume 11. Nomor 2. Juli 2025: 2510-2523 kelebihan air juga akan menggangu pertumbuhan tanaman salak. Kegiatan usahatani salak menggunakan berbagai peralatan kerja, baik untuk pengolahan tanah maupun pemeliharaan tanaman, namun peralatan tersebut tidak hanya digunakan untuk sistem organik, melainkan sistem anorganik juga. Sub sistem panen dan pasca panen Umumnya, petani melakukan pemanenan dengan cara petik pilih. Artinya bahwa pemetikan dilakukan pada buah yang benar-benar bermutu dan memiliki tingkat kemasakan yang baik, karena yang belum masak akan terasa sepet dan tidak manis. Berbagai peralatan sederhana yang dipakai petani untuk melakukan pemanenan produk salak, termasuk alat angkut hasil panen dengan menggunakan motor roda 2 dan gerobak. Tahapan pasca panen produk salak adalah pengepakan yang dilakukan dengan sangat hati-hati agar tidak merusak kualitas buah. Bentuk kehati-hatian adalah hal penting dilakukan petani, mengingat produk salak sangat rentan terlepas dari tangkainya. Kendala dan tantangan utama yang dihadapi petani salak, antara lain: . peralatan pascapanen digunakan pada produk salak anorganik. pemerintah pernah memfasilitas sertifikasi organik untuk Gapoktan, akan tetapi tidak berlanjut karena ketidaktertarikan petani mengembangkan produk organik dengan alasan: . belum ada insentif dari pemerintah. harga jual salak tidak membedakan produk organik maupun anorganik. produktivitas tanaman salak lebih rendah jika dibandingkan dengan sistem anorganik. Sub sistem pemasaran Produk salak umumnya dalam bentuk buah segar, karena dinilai lebih praktis untuk memperoleh pendapatan langsung. Saluran pemasaran produk salak dilakukan melalui pedagang/tengkulak yang langsung transaksi di kebun petani. Produk salak yang dihasilkan petani di wilayah Kecamatan Pronojiwo masuk di berbagai segmen pasar di wilayah Provinsi Jawa Timur, termasuk Kota Surabaya. Namun demikian, kendala utama yang dihadapi adalah: . lemahnya petani produsen dalam menetapkan harga, karena penetapan diputusakan oleh para pedagang/tengkulak. belum ada tuntutan konsumen untuk mengkonsumsi produk salak organik, sehingga di pasar tidak terdapat perbedaan antara produk organik dan anorganik. Sub sistem kelembagaan dan permodalan usaha Petani salak tergabung dalam kelompok tani maupun Gapoktan dengan berbagai aktivitas rutin yang dilakukan. Terkait permodalan usaha, terdapat beberapa sumber, yaitu: . modal yang berasal dari sendiri/pribadi/keluarga, baik dalam bentuk warisan maupun bantuan dari anggota keluarga. modal bersumber dari pedagang/tengkulak yang diperoleh di awal atau pra usahatani dan dilakukan dengan sistem kemitraan . Kendala dan tantangan yang dihadapi petani dalam pengusahaan produk pertanian organik, antara lain: . belum memiliki catatan usahatani, sehingga kesulitan untuk mengevaluasi dan menilai seberapa besar keuntungan yang diperoleh dalam setiap transaksi yang dilakukan. kelompok tani sebagai wadah pembelajaran hanya berperan dalam adopsi inovasi tetapi belum optimal terkait pemasaran produk organik, sehingga akses pasar dilakukan oleh setiap petani produsen. Nilai Ekonomi Dalam Pengusahaan Produk Organik Salak di Tingkat Lokalita Secara umum, masyarakat internasional tumbuh kesadaran terhadap bahaya dan risiko penggunaan bahan sitensis dan kimia dalam kegiatan usahatani. Back to nature, merupakan slogan pola hidup sehat yang saat ini menjadi tren baru untuk meninggalkan pola hidup gaya lama yang cenderung menggunakan bahan sistensis, non alami, bahkan bahan kimia, seperti pupuk siap pakai . , pestisida kimia sintesis, dan hormon-hormon pertumbuhan dalam poses produksi usahatani. Oleh karena itu, pengembangan produk organik memiliki prospek ekonomi dan sosial, utamanya bagi masyarakat petani di Kabupaten Lumajang. Pemerintah Kabupaten Lumajang melalui Dinas Pertanian memiliki rencana strategis dengan program peningkatan ketahanan pangan, pengembangan agribisnis dan peningkatan kesejahteraan petani. Salah satu program pengembangan agribisnis dengan adanya produk unggulan yang dimiliki Kabupaten Lumajang yang salah satunya adalah salak pondoh. Salak pondoh hampir di setiap wilayah namun sentra kebun salak pondoh berada di Kecamatan Pronojiwo. Budidaya salak pondoh merupakan salah satu usaha budidaya masyarakat di Kecamatan Pronojiwo yang potensial untuk meningkatkan pendapatan. Adapun analisis usahatani salak organik di Kabupaten Lumajang ditunjukkan pada Tabel 3. Potensi Produk Organik Kabupaten Lumajang: Studi Komoditas Salak Djoko Soejono. Ayu Puspita Arum. Ratih Apri Utami. Dimas Bastara Zahrosa. Ariq Dewi Maharani. Amam No. Tabel 3. Rata-rata Pendapatan Petani Salak Organik di Kabupaten Lumajang Uraian Jumlah Rata-rata Produksi . g/h. Harga (R. 500,00 Rata-rata Biaya Produksi (Rp/h. 000,00 Rata-rata Penerimaan (Rp/h. 000,00 Rata-rata Pendapatan (Rp/h. 000,00 Rata-rata R/C 1,55 Sumber: Data primer diolah . Berdasarkan Tabel 3, ditunjukkan bahwa rata-rata besarnya penerimaan usahatani salak organik di Kabupaten Lumajang per hektar sebesar Rp 5. Penerimaan yang diperoleh pada usahatani salak organik di Kabupaten Lumajang per hektar berasal dari rata-rata produksi per hektar dikali dengan harga salak organik per kilogram. Rata-rata produksi usahatani salak organik di Kabupaten Lumajang per hektar sebesar 2. 000 per kg dengan rata-rata harga salak organik sebesar Rp. per kg. Besarnya biaya produksi usahatani salak organik per hektar adalah sebesar Rp. Semakin kecil biaya yang dikeluarkan oleh petani, akan semakin besar pendapatan yang diperoleh petani salak organik di Kabupaten Lumajang. Berdasarkan rata-rata penerimaan dan rata-rata biaya produksi, diperoleh rata-rata besarnya pendapatan usahatani salak organik di Kabupaten Lumajang. Rata-rata pendapatan usahatani salak organik di Kabupaten Lumajang per hektar adalah sebesar Rp. Besarnya tingkat pendapatan tersebut menunjukkan nilai positif berarti total penerimaan yang diperoleh pada usahatani salak organik di Kabupaten Lumajang tersebut lebih besar dari total biaya produksi yang dikeluarkan pada usahatani salak organik di Kabupaten Lumajang. Hal demikian dapat dikatakan bahwa secara umum kegiatan usahatani salak organik di Kabupaten Lumajang adalah menguntungkan dan layak untuk diusahakan. Usahatani dapat dikatakan efisien bila dapat menekan biaya produksi seminimal mungkin dan memperoleh pendapatan yang semaksimal Berdasarkan Tabel 3 diketahui bahwa nilai rata-rata efisiensi pendapatan (R/C rati. usahatani salak organik di Kabupaten Lumajang sebesar 1,55. Hal tersebut menunjukkan bahwa usahatani salak organik di Kabupaten Lumajang sudah efisien dan menguntungkan. Nilai R/C ratio sebesar kapulaga berarti setiap penggunaan biaya sebesar Rp. 1,00 maka dapat menghasilkan keutungan sebesar Rp. 1,55. Nilai R/C ratio yang lebih dari 1 menunjukkan bahwa penerimaan yang dihasilkan oleh petani salak organik di Kabupaten Lumajang lebih tinggi dari biaya yang Faktor penerimaan tersebut dipengaruhi oleh jumlah produksi dan harga komoditas salak organik. Komoditas salak organik di Kabupaten Lumajang sangat berpeluang untuk dikembangkan. Hal tersebut dapat dilihat dari pendapatan dan keuntungan petani salak, serta efisiensi untuk Terdapat beberapa keuntungan budidaya produk salak dengan sistem organik, antara lain: . Penggunaan pupuk dan pestisida kimia yang selama ini diterapkan oleh petani dalam pengusahaan produk salak dinilai efektif meningkatkan produktivitas dalam jangka pendek. Akan tetapi dalam waktu jangka panjang akan merusak kelestarian lingkungan, salah satunya adalah menggangu keseimbangan kimiawi tanah. Maka, upaya petani untuk mempertahankan kondisi lingkungan adalah menerapkan budidaya produk salah secara organik. Dengan lingkungan yang sehat, petani terjamin mengembangkan budidaya salak secara berkelanjutan. Produk salak dengan sistem organik menghasilkan buah yang lebih berkualitas, yaitu: . buah salak lebih kuat atau tidak mudah lepas dari tangkainya. kulit buah salak tidak mudah pecah. daging buah lebih renyah dan manis. Produk berkualitas akan berpengaruh terhadap harga dan perolehan pendapatan petani. Prioritas Strategi Pengembangan Produk Salak Organik Sebagai Upaya Mendukung Pertanian Berkelanjutan di Kabupaten Lumajang Tiga strategi (Gambar . yang digunakan dalam penelitian ini adalah penyediaan sarana produksi, penguatan sumberdaya manusia, dan penguatan kelembagaan petani. Mimbar Agribisnis: Jurnal Pemikiran Masyarakat Ilmiah Berwawasan Agribisnis P-ISSN: 2460-4321. E-ISSN: 2579-8340 Volume 11. Nomor 2. Juli 2025: 2510-2523 Gambar 2. Diagram Analysis Hierarchy Process (AHP) Untuk mengetahui Strategi Pengembangan Produk Organik dilakukan dengan menyebar kuesioner kepada para pemangku jabatan atau dinas pemerintah terkait dan BUMD berjumlah sekitar 12 responden guna memperoleh informasi yang peneliti perlukan. Kuesioner yang terkumpul dari responden kemudian dilakukan tabulasi, selanjutnya dilakukan analisis menggunakan software Expert Choice. Berdasarkan hasil pengolahan data diperoleh informasi seperti tampak pada Gambar 3. Gambar 3. Hasil AHP Pemilihan Strategi Pengembangan Produk Organik Mayoritas responden sepakat bahwa prioritas utama dalam pengembangan produk organik adalah penguatan kelembagaan petani. penguatan kelembagaan petani merupakan salah satu faktor penting yang menentukan keberhasilan membangun sistem dan usaha agribisnis di satu wilayah. Sistem dan usaha agribisnis dapat tumbuh dan berkembang dengan baik apabila kelembagaan petaninya Pemberdayaan kelembagaan kelompok tani merupakan serangkaian upaya yang sistematis, konsisten, dan berkelanjutan untuk meningkatkan daya adaptasi dan inovasi petani guna memanfaatkan teknologi secara optimal dalam bingkai aturan main yang ada untuk mencapai tujuan bersama secara lebih efisien. Terkait penguatan kelembagaan petani, maka pilihan yang memungkinkan untuk diimplemetasikan pada masyarakat petani salak organik adalah melalui pembentukan Badan Usaha Milik Petani (BUMP). Badan tersebut pada prinsipnya bergerak pada kegiatan bidang pertanian, baik usaha penyediaan sarana produksi, penyediaan alat dan mesin pertanian, maupun penciptaan nilai tambah . dded valu. melalui usaha pengolahan hasil/agroindustri. Keberadaan Badan Usaha Milik Petani (BUMP) tidak hanya mampu memberikan pelayanan yang prima bagi anggota petani, akan tetapi mampu meningkatkan jiwa entrepreneur/wirausaha, sekaligus memperkuat posisi tawar Potensi Produk Organik Kabupaten Lumajang: Studi Komoditas Salak Djoko Soejono. Ayu Puspita Arum. Ratih Apri Utami. Dimas Bastara Zahrosa. Ariq Dewi Maharani. Amam . argaining positio. dalam mekanisme pasar produk organik. Semangat pembentukan Badan Usaha Milik Petani (BUMP) produk organik adalah memandirikan, memajukan petani dalam konteks modernisasi yang ditunjang ilmu pengetahuan dan teknologi. KESIMPULAN Berdasarkan penghitungan metode evaluasi dan arahan penggunaan lahan persebarahan lahan produk salak organik sangat sesuai di kecamatan Candipuro. Gucialit. Jatiroto. Kedungjajan. Klakah. Kunir. Padang. Pasirian. Pasrujambe. Randuagung. Ranuyoso. Senduro. Sukodono. Tempeh. Tempusari, dan Yosowilangun. Penerapan sistem agribisnis tanaman salak yakni budidaya produk salak yang dusahakan di kebun pernah memiliki sertfikasi organik, akan tetapi tidak berlanjut karena ketidaktertarikan petani akibat belum adanya insentif harga. Kendala yang dialami petani salak antara lain, bibit hasil perbanyakan dari kebun petani tidak terjamin kualitasnya, bahan pembuatan pupuk dan pestisida tidak terjamin bebas dari kontaminasi zat kimia, peralatan budidaya dan panen digunakan untuk kegiatan anorganik, belum ada fasilitas khusus pengepakan, konsumen tidak membedakan produk organik dan anorganik dan lemahnya manajemen kelembagaan kelompok tani maupun Gapoktan. Dari hasil perhitungan ekonomi pengusahaan produk organik salak diperoleh: . keseimbangan ekosistem terjaga. buah berkualitas karena buah salak lebih kuat atau tidak mudah lepas dari tangkainya, kulit buah salak tidak mudah pecah dan daging buah lebih renyah dan manis, sehingga berpengaruh terhadap harga dan perolehan pendapatan petani. Pilihan prioritas strategi pengembangan produk salak organik adalah pentingnya penguatan kelembagaan petani. Bentuk implementasinya di masa mendatang adalah inisiasi pembentukan Badan Usaha Milik Petani (BUMP) agar keberadaannya tidak hanya mampu memberikan pelayanan yang prima bagi anggota petani, akan tetapi mampu meningkatkan jiwa entrepreneur /wirausaha, sekaligus memper-kuat posisi tawar . argaining positio. dalam mekanisme pasar produk organik yang dilandasi ilmu pengetahuan dan teknologi. DAFTAR PUSTAKA