110 ___ Pengaruh Edukasi Dengan. Mery Solon. Oktovia L. Putri. Patriani M. Naing PENGARUH EDUKASI DENGAN PENDEKATAN TEORI MODEL BEHAVIORAL SYSTEM DOROTHY E. JOHNSON TERHADAP PENURUNAN TEKANAN DARAH PADA PASIEN HIPERTENSI DI PUSKESMAS JONGAYA KECAMATAN TAMALATE KOTA MAKASSAR (The Effect Of Education Using Theory Behavioral System Approach By Doroty E. Johnson To The Decrease Of Blood Pressure To Hypertense Patients In Jongaya Clinic In Tamalate Subdistrict Makassar Cit. Oleh: Mery Solon. Oktovia L. Putri. Patriani M. Naing Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Stella Maris Makassar ABSTRAK: Hipertensi merupakan penyakit yang sudah menjadi masalah global dan sering disebut sebagai AuSilent KillerAy. Banyak cara yang bisa digunakan untuk menangani hipertensi mulai dari terapi farmakologis sampai pada modifikasi pola hidup. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh pemberian edukasi menggunakan teori Dorothy E. Johnson yang dikenal dengan model Behavioral system terhadap penurunan tekanan darah pada penderita Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen dengan rancangan one group pretest post-test, dengan 18 responden. Edukasi diberikan sebanyak 5 kali baik secara berkelompok maupun secara individu melalui kunjungan rumah. Data dikumpulkan dengan pengukuran tekanan darah dan observasi kemudian dianalisis menggunakan uji statistik T paired test. Tekanan darah sistolik nilai A = 0,001 dan diastolik A = 0,007 dimana nilai = 0,05. Hal ini menunjukkan bahwa nilai A C , artinya ada pengaruh edukasi dengan pendekatan teori model behavioral system Dorothy E. Johnson terhadap perubahan tekanan darah pada pasien hipertensi. Pemberian edukasi dapat memotivasi pasien sehingga dapat menurunkan tekanan darah sistolik maupun diastolik. Diharapkan pada pasien hipertensi dapat menjalankan modifikasi gaya hidup untuk membantu menurunkan tekanan darah, juga berguna untuk mengontrol serta mencegah terjadinya komplikasi akibat hipertensi. Serta. Petugas kesehatan diharapkan ikut memberikan edukasi modifikasi perilaku kepada pasien hipertensi guna mencapai keberhasilan terapi pada pasien hipertensi. Kata kunci : Edukasi. Behavioral System. Dorothy E. Johnson. Tekanan Darah ABSTRACT Hypertense is a disease that which has been global issue today is called Ausilent killerAy. The handling of hypertense is not only from pharmacology but also needed from non pharmacologies are life style modification so that can be reached a good blood pressure. The purpose of this research is to know the influence of blood pressure by giving education about behavior modification such as exercise, diet, and stress management using behavioral system theory by Dorothy E. Johnson. This research is experimental research using one groups pretest post-test design with 18 respondents. Education is given for 5 times, 2 times in group and 3 times home visits for three weeks. The data is collected by measuring the blood pressure and observation and then analyse it using T paired samples test. Systolic blood pressure score is A = 0,001 and diastolic blood pressure score is A = 0,007 which the score = 0,05. shows A C . It means that there is effect of education using theory behavioral system approach by Dorothy E. Johnson to the changing of blood pressure to the hypertense patients. By giving education, it can motivate the patients and it can decrease systolic and diastolic blood pressure. Hopefully hypertense patients can apply the changing of life style to help them decrease their blood pressure, control and prevent complication illness that is caused by Furthermore, health workers can give the education to the hypertense patients so that can be reached the success of the therapy. Keywords : Education. Behavioral System. Dorothy E. Johnson. Blood Pressure PENDAHULUAN Hipertensi sering kali menjadi penyakit yang tidak disadari oleh sipenderita karena tidak merasakan adanya suatu gejala yang nyata atau asimptomastis sampai penyakit tersebut menimbulkan komplikasi pada berbagai organ vital tubuh seperti otak, jantung dan ginjal sehingga sering disebut Ausilent killerAy. Penderita baru menyadari bahwa dirinya menderita hipertensi pada saat sudah memasuki stadium yang lebih (Triyanto, 2. Penyakit ini telah menjadi suatu masalah global. Prevalensi tertinggi hipertensi terdapat di wilayah Afrika sebesar 46%, sedangkan yang terendah dengan prevalensi 35% ditemukan di Amerika (WHO. Di Indonesia berdasarkan hasil Riskesdas 2013 didapatkan bahwa hipertensi yang terdiagnosis tenaga kesehatan sebesar 9,4 %, yang didiagnosis tenaga kesehatan atau sedang minum obat sebesar 9,5 %. Jadi, ada 0,1 % yang beli obat sendiri tanpa konsultasi ke dokter ahli. Selanjutnya dengan menggunakan unit menunjukkan bahwa secara nasional 25,8% penduduk Indonesia menderita penyakit Jika saat ini penduduk Indonesia 458 jiwa maka terdapat 110 jiwa yang menderita hipertensi (Infodatin, 2. Salah satu puskesmas yang ada di Makassar yaitu Puskesmas Jongaya juga menyatakan bahwa Hipertensi menjadi masalah kesehatan utama di puskesmas tersebut. Berdasarkan data kunjungan pada tahun 2015 tercatat 1. kasus hipertensi dan pada tahun 2016 017 kasus hipertensi. Pada kedua tahun ini hipertensi merupakan urutan ketiga dari 10 besar penyakit di Puskesmas Jongaya (Puskesmas Jongaya, 2. Dampak yang bisa ditimbulkan akibat adanya penyakit hipertensi merupakan masalah yang sangat serius (Andria , 2. , sehingga dibutuhkan penanganan yang serius pula. Algoritme mengenai penanganan hipertensi dengan terapi nonfarmakologis diantaranya modifikasi gaya hidup termasuk merupakan langkah awal yang harus Penanganan nonfarmakologis dengan menurunkan obesitas, menciptakan keadaan rileks, mengurangi asupan garam (Triyanto, 2. Dorothy E. Johnson dalam konsep behavioral system menyatakan bahwa perawat merupakan faktor yang mempunyai peran penting dalam merubah perilaku pasien. Intervensi yang digunakan untuk merubah perilaku pasien dengan behavioral system model yaitu regulasi eksternal, misalnya dengan cara membatasi perilaku dan menghambat respon perilaku yang tidak efektif, merubah element structure dengan tujuan untuk memotivasi pasien dengan cara memberikan edukasi dan konseling dan memenuhi kebutuhan subsistem dengan cara nurture, protect dan stimulate (Alligood, 2. Salah satu penelitiann yang dilakukan pada tahun 2017 dengan berjudul AyPengaruh pendidikan kesehatan tentang hipertensi terhadap perubahan perilaku gaya hidup klien hipertensi di Puskesmas Dau Kabupaten MalangAy mengatakan bahwa pendidikan kesehatan akan mampu meningkatkan perilaku gaya hidup yang lebih baik bagi klien hipertensi dalam proses penyembuhan penyakitnya (Rendi dkk. Penelitian lain juga telah dilakukan Jurnal Mitrasehat. Volume Vi Nomor 1. Mei 2018 ISSN 2089-2551 112 ___ Pengaruh Edukasi Dengan. Mery Solon. Oktovia L. Putri. Patriani M. Naing dengan judul AuHubungan antara perilaku olahraga, stres dan pola makan dengan tingkat hipertensi pada lanjut usia di Posyandu lansia kelurahan Gebang Putih kecamatan Sukolilo kota SurabayaAy. Hasil penelitian menunjukkan jumlah lansia yang menderita hipertensi dengan tingkat olahraga yang kurang sebesar 45,79%, dan kurang kebal terhadap stres sebesar 39,25%. Pengujian dengan Chie-square menunjukkan perilaku olahraga dan stres mempunyai hubungan bermakna dengan terjadinya hipertensi pada lansia, diperoleh p = 0,000 . < 0,. untuk perilaku olahraga dan p = 0,047 . < 0,. untuk perilaku stres (Andria . Penerapan teori model Dorothy E. Johnson belum pernah diterapkan pada pasien hipertensi, oleh karena itu peneliti ingin mengadakan penelitian tentang pengaruh edukasi perilaku olahraga/aktivitas fisik, pola makan dan stres dengan pendekatan teori model behavioral system Dorothy E. Johnson terhadap penurunan tekanan darah pada pasien hipertensi yang dilihat dari penurunan tekanan darah sistolik dan diastolik sebelum dan sesudah pemberian edukasi. Penelitian ini dilakukan dengan cara mengukur tekanan darah terlebih dahulu sebelum diberikan intervensi berupa edukasi secara kelompok kemudian diikuti edukasi perorangan dengan 3 kali kunjungan rumah dalam waktu tiga minggu pengamatan. Setelah diberikan intervensi kemudian dilakukan posttest pada minggu ke tiga yaitu pengukuran tekanan darah pada akhir Data kemudian diolah menggunakan uji statistik T Paired test. Populasi dan Sampel Populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah semua penderita hipertensi yang terdaftar di Prolanis (Program Pengelolaan Penyakit Kroni. tahun 2017 yaitu 36 orang yang berada di wilayah kerja Puskesmas Jongaya. Teknik pengambilan sampel yang digunakan dengan cara non probability sampling dengan melalui metode purposive sampling, yaitu pengambilan sampel berdasarkan tujuan dan maksud tertentu karena dianggap memiliki informasi yang diperlukan untuk Sampel pada penelitian ini adalah pasien hipertensi yang terdaftar di Prolanis tahun 2017 di wilayah kerja Puskesmas Jongaya Makassar yaitu sebanyak 18 BAHAN DAN METODE Jenis penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah penelitian pre eksperimen design dengan pendekatan one group pre test - post test design. Responden pada penelitian ini adalah pasien hipertensi yang berobat ke Puskesmas Jongaya yang kemudian diberikan edukasi menggunakan Teori Behavioral System Dorothy E. Johnson meliputi modifikasi pola makan, aktifitas fisik serta manajemen stres. Lokasi dan Rancangan Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Puskesmas Jongaya yang berlokasi di jl. Andi Tonro No. 49 Makassar, mencakup 3 . wilayah kelurahan, yaitu : Kelurahan PaAobaeng-baeng. Kelurahan Jongaya, dan Kelurahan Bongaya yang merupakan bagian dari Kecamatan Tamalate Kota Makassar. HASIL PENELITIAN Jumlah responden yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebanyak 18 Bila diamati berdasarkan rentang usia maka mayoritas responden berada pada masa lanjut usia tahap akhir yaitu pada kisaran usia 56-65 tahun . 6%), berjenis kelamin perempuan . ,3%), dengan tingkat pendidikan SD . 7%) dan bekerja sebagai Ibu Rumah Tangga/IRT . 7%). Dapat disimpulkan bahwa pada penelitian ini penderita hipertensi di Puskesmas Jongaya terbanyak diderita oleh kaum perempuan yang sudah memasuki masa lanjut usia tahap akhir dengan tingkat pendidikan yang sangat minim (SD), tidak melakukan pekerjaan selain sebagai ibu rumah tangga. Data demografi responden disajikan pada tabel berikut : Tabel 2 menunjukkan bahwa tekanan darah sistolik sebelum intervensi 17 mmHg dan setelah intervensi 137,44 mmHg. Sedangkan untuk tekanan darah diastolik sebelum intervensi rerata 72 mmHg dan setelah intervensi turun menjadi 86. 39 mmHg. Tabel 3 menunjukkan bahwa berdasarkan uji paired t test untuk tekanan darah sistolik sebelum dan sesudah intervensi menunjukkan perbedaan yang bermakna . =0. , untuk tekanan darah diastolik sebelum dan sesudah intervensi juga terdapat perbedaan yang bermakna . =0. Dari hasil uji tersebut dapat disimpulkan bahwa terdapat penurunan tekanan darah yang signifikan baik tekanan sistolik maupun diastolik setelah diberikan edukasi dengan menggunakan pendekatan Teory Model Behavioral System Dorothy E. Johnson. PEMBAHASAN Teori behavioral system dari Dorothy Johnson memandang individu sebagai sistem perilaku yang selalu ingin mencapai keseimbangan dan stabilitas, baik di lingkungan internal atau eksternal, juga memiliki keinginan dalam mengatur dan Intervensi yang digunakan untuk merubah perilaku pasien dalam behavioral system Model yaitu regulasi eksternal, misalnya dengan cara membatasi perilaku dan menghambat respon perilaku yang tidak efektif, merubah elemen struktur dengan tujuan untuk memotivasi pasien dengan cara memberikan pendidikan kesehatan dan konseling dan memenuhi kebutuhan subsistem dengan cara nurture, protect dan stimulate (Alligood, 2. Pemberian motivasi dan edukasi dapat memperbaiki perilaku pasien karena dalam hal ini perawat menanamkan kesadaran individu untuk memperbaiki perilaku didasarkan adanya keinginan yang timbul dari dirinya sendiri. Hal ini sesuai dengan konsep yang diciptakan Johnson bahwa untuk merubah perilaku seseorang dapat dilakukan dengan cara memotivasi drive menjadi action. Edukasi dalam arti formal adalah suatu proses penyampaian bahan atau materi pendidikan oleh pendidik kepada sasaran pendidikan guna mencapai perubahan perilaku . Edukasi kesehatan sangat penting untuk menunjang program-program kesehatan yang lain. Untuk memperhatikan subjek edukasi apakah itu masyarakat/massa (Notoatmodjo, 2. Perawat merupakan faktor yang mempunyai peran penting dalam merubah perilaku pasien sehingga terjadi kondisi keseimbangan . dalam diri pasien. Hal ini sesuai penelitian yang dilakukan Phillippa Lally dari University College London yang dipublikasikan dalam European Journal of Social Psychology, rata-rata beradaptasi dengan perilaku barunya dalam waktu 18-254 hari, sedangkan menurut dr. Maxwell . hli bedah plasti. manusia memerlukan waktu sekitar 3 minggu untuk beradapatasi terhadap perubahan (Risandi. Dalam penelitian ini dapat diketahui bahwa edukasi tentang modifikasi perilaku berpengaruh terhadap penurunan tekanan darah pada pasien hipertensi. Hal ini ditunjukkan dari hasil perhitungan perbedaan rata-rata tekanan darah sistolik sebelum dilakukan edukasi 145. 17 mmHg lebih tinggi daripada tekanan sistolik sesudah dilakukan 44 mmHg, dan rerata tekanan darah diastolik sebelum dilakukan edukasi 72 mmHg, lebih tinggi daripada tekanan diastolik sesudah dilakukan edukasi 86. mmHg. Dari data tersebut menunjukan ada penurunan mean rank setelah dilakukan edukasi dengan pendekatan teori model behavioral system Dorothy E. Johnson tentang perilaku olahraga dalam hal ini Jurnal Mitrasehat. Volume Vi Nomor 1. Mei 2018 ISSN 2089-2551 114 ___ Pengaruh Edukasi Dengan. Mery Solon. Oktovia L. Putri. Patriani M. Naing dengan melakukan jalan cepat (Brisk walking exercis. , merubah pola makan yaitu diet rendah garam, dan managemen stres salah satunya dengan terapi tawa dan tehnik relaksasi tarik nafas dalam. Menurut pendapat peneliti bahwa ada perbedaan tekanan darah yang signifikan baik sistolik maupun diastolik sesudah pemberian edukasi secara kelompok dan secara perorangan dengan melakukan kunjungan rumah dalam waktu 21 hari karena penderita hipertensi dalam penelitian ini sudah merubah prilaku sesuai dengan edukasi yang telah diberikan. Brisk walking exercise . alan cepa. merupakan salah satu bentuk latihan aerobik yang merupakan bentuk latihan aktivitas sedang pada pasien hipertensi dengan menggunakan tehnik jalan cepat selama 2030 menit dengan rerata kecepatan 4-6 km/jam. Kelebihan dari latihan ini cukup efektif untuk meningkatkan kapasitas maksimal denyut jantung, merangsang kontraksi otot, pemecahan glikogen dan peningkatan oksigen jaringan. Latihan ini juga dapat mengurangi pembentukkan plak melalui peningkatan penggunaan lemak dan peningkatan penggunaan glukosa yang pada akhirnya akan menyebabkan tahanan perifer sehingga tekanan darah bisa menurun (Sukarmin dkk, 2. Garam mengandung 40% sodium dan 60% klorida. Orang yang peka pada sodium lebih mudah meningkat sodiumnya, yang menimbulkan retensi cairan dan mengalami peningkatan tekanan darah. Garam berhubungan erat dengan terjadinya tekanan darah tinggi. Garam mempunyai sifat menahan air. Mengonsumsi garam yang berlebih atau makanan yang diasinkan dapat menaikkan tekanan darah. Oleh sebab itu sebaiknya jumlah garam yang dikonsumsi Dalam pengolahan makanan boleh menggunakan A sdt garam . dan diit rendah garam i diberikan untuk pasien dengan odema, asites dan hipertensi ringan. Dalam menggunakan 1 sdt garam . (Sari, 2. Stres merupakan mekanisme yang bersifat individual, daya tahan atau penyesuaian individu terhadap stres akan berbeda satu sama lain. Respon fisiologis dari stres akan meningkatkan frekuensi nadi, tekanan darah, pernafasan, dan aritmia. Selain itu pelepasan hormon adrenalin sebagai akibat stress berat akan menyebabkan naiknya tekanan darah dan meningkatkan kekentalan darah yang membuat darah mudah membeku dan menggumpal sehingga meningkatkan risiko serangan jantung. Adrenalin juga akan mempersempit pembuluh darah koroner. Stres yang bersifat konstan dan terus menerus mempengaruhi kerja kelenjar adrenal dan tiroid dalam memproduksi hormon adrenalin, tiroksin, dan kortisol sebagai hormon utama stres akan naik jumlahnya dan berpengaruh secara signifikan pada system homeostasis. Adrenalin yang bekerja secara sinergis dengan system saraf simpatis berpengaruh terhadap kenaikan denyut jantung, dan tekanan darah. Tiroksin selain meningkatkan Basal Metabolisme Rate (BMR), juga menaikkan denyut jantung dan frekuensi nafas, peningkatan denyut jantung inilah yang akan memperberat aterosklerosis (Saleh, 2. Terdapat banyak cara untuk mengurangi stres salah satunya dengan terapi tawa yang dapat merelaksasi tubuh dan bertujuan untuk melepaskan za tendorphin ke dalam pembuluh darah sehingga apabila terjadi relaksasi maka vasodilatasi sehingga tekanan darah dapat turun (Tage, 2. Mengatur nafas . ara peregangan otot tubuh yang dapat membuat tubuh menjadi relaks. sehingga produksi hormon adrenalin menurun hal tersebut dapat menurunkan tekanan darah. Relaksasi tarik napas dalam juga berpengaruh terhadap penurunan tekanan darah, hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Ardini Werdyastri, dkk . , dalam penelitiannya yang berjudul Perbedaan Efektifitas Aromaterapi Lemon Dan Relaksasi Nafas Dalam Terhadap Penurunan Tekanan Darah Pada Pasien Hipertensi Di RSUD Tugurejo Semarang. Penurunan tekanan darah ini juga dapat terjadi karena timbulnya motivasi dari dalam diri responden untuk memodifikasi gaya hidupnya karena adanya edukasi yang diberikan oleh peneliti. Hal ini sejalan dengan teori dari Dorothy E. Johnson bahwa dalam memberikan edukasi atau konseling kepada seseorang itu sangat dipengaruhi oleh motivasi dalam diri orang tersebut untuk merubah prilaku atau pola hidup menjadi lebih sehat sehingga tujuan yang ingin dicapai bisa terwujud secara maksimal. Hasil dari penelitian ini sejalan dengan penelitian sebelumnya yang berjudul AyPengaruh pendidikan kesehatan tentang hipertensi terhadap perubahan perilaku gaya hidup klien hipertensi di Puskesmas Dau Kabupaten MalangAy yang memperoleh hasil bahwa pendidikan kesehatan akan mampu meningkatkan perilaku gaya hidup yang lebih baik bagi klien hipertensi dalam proses penyembuhan penyakit hipertensi. Dimana hasil uji statistik menunjukkan ada pengaruh pendidikan kesehatan tentang hipertensi dengan p Value = 0. 001 (Rendi dkk, 2. KESIMPULAN DAN SARAN Dari disimpulkan bahwa pemberian edukasi dengan menggunakan pendekatan teori model Behavioral System Dorothy E. Johnson yang meliputi olahraga dengan gerak jalan cepat, modifikasi pola makan dengan diet rendah garam serta manajemen stres melalui terapi tawa dan tarik nafas dalam dalam mampu menurunkan tekanan darah penderita hipertensi. Disarankan bahwa perlu dilakukan penelitian lebih lanjut dan dengan mengontrol semua faktor-faktor lain yang bisa mempengaruhi hasil penelitian sehingga hasilnya lebih akurat. Jurnal Mitrasehat. Volume Vi Nomor 1. Mei 2018 DAFTAR PUSTAKA