Jurnal AssyifaAo Ilmu Kesehatan. Vol 9 No. Januari-Juni 2024 Jurnal AssyifaAo Ilmu Kesehatan. Vol 9 No. : Januari-Juni 2024 ISSN 2528-3391 (Prin. ISSN 2776-3153 (Onlin. DOI: http://doi. org/10. Tersedia online di https://jurnalassyifa. Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Hygiene dan Sanitasi Pada Pekerja Pada Pabrik Roti di Kabupaten Pidie Factors Related to Hygiene and Sanitation among Workers at a Bakery Factory in Pidie Regency Maifrizal1*. Muhammad Shalahuddin2. Sri Amalia3. Nurnarita Laila4 D-i Sanitasi/Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Jabal Ghafur D-i Sanitasi/Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Jabal Ghafur Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Medika Nurul Islam D-i Fisioterapi/Universitas Muhammadiyah Aceh *Email: maifrizal. skm@gmail. ABSTRAK Sanitasi merupakan hal terpenting dalam industri pengolahan bahan pangan untuk memperoleh produk pangan yang aman dan sehat. berhubungan dengan suplai makanan dimana usaha-usaha pengawetan makanan telah dilakukan seperti penggaraman, pengasinan, dan lain-lain. Dalam industri roti, sanitasi meliputi kegiatan-kegiatan secara aseptik dalam persiapan, pengolahan dan pengkemasan produk pangan. pembersihan dan sanitasi lingkungan pabrik serta kesehatan pekerja. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan hygiene dan sanitasi pada pekerja di pabrik roti di Desa Ceurih Kecamatan Delima Kabupaten Pidie. Penelitian ini bersifat deskriptif analitik dengan desain cross sectional, dengan jumlah Sampel penelitian ini adalah pekerja pabrik sebanyak yaitu 34 orang. Analisis yang digunakan adalah analisa univariat dan bivariat. Hasil penelitian menunjukan bahwa ada hubungan antara pendidikan (P-Value=0,. , masa kerja (P-Value=0,. sikap (P-Value=0,. fasilitas sanitasi (P-Value=0,. APD (P-Value=0,. dengan hygiene dan sanitasi Diharapkan kepada karyawan untuk bisa lebih fokus dalam memperhatikan proses produksi roti, dan juga lebih memperhatikan cara penggunaan APD yang benar. Bagi tenaga kesehatan lebih meningkatkan promosi dalam hal pencegahan penyakit yang di sebabkan oleh makanan. Kata Kunci: Hygiene. Sanitasi. Pendidikan. ABSTRACT Sanitation is the most important thing in the food processing industry to obtain safe and healthy food products. It is related to the supply of human food. where food preservation efforts have been carried out such as salting, salting, and others. In the bakery industry, sanitation includes aseptic activities in the preparation, processing and packaging of food cleaning and sanitation of the factory environment as well as worker health. This study aims to find out the factors related to hygiene and sanitation in workers in a bakery in Ceurih Village. Delima District. Pidie Regency. This study is descriptive analytical with a cross sectional design, with the number of samples in this study being Jurnal AssyifaAo Ilmu Kesehatan. Vol 9 No. Januari-Juni 2024 factory workers as many as 34 people. The analysis used was univariate and bivariate The results of the study showed that there was a relationship between education (P-Value=0. , working period (P-Value=0. attitude (P-Value=0. facilities (P-Value=0. PPE (P-Value=0. with hygiene and sanitation. It is expected that employees can be more focused in paying attention to the bread production process, and also pay more attention to how to use PPE properly. For health workers, increase promotion in terms of preventing diseases caused by food. Keyword: Hygiene. Sanitation. Education. PENDAHULUAN Roti merupakan salah satu produk makanan yang terbuat dari tepung terigu yang diberi ragi dan kemudian dipanggang. Pada masa sekarang ini roti menjadi salah satu produk pangan yang digemari oleh masyarakat Indonesia (Wibowo. Sanitasi pangan merupakan hal terpenting dari semua ilmu sanitasi karena kondisi lingkungan baik secara langsung maupun tidak langsung berhubungan dengan suplai makanan manusia. Hal ini sudah disadari sejak awal sejarah kehidupan manusia dimana usaha-usaha pengawetan makanan telah dilakukan seperti penggaraman, pengasinan, dan lain-lain. Dalam industri pangan, sanitasi meliputi kegiatan-kegiatan secara aseptik dalam persiapan, pengolahan dan pengkemasan produk pangan, sanitasi pabrik dan lingkungan pabrik serta kesehatan pekerja. Kegiatan yang berhubungan dengan produk pangan meliputi pengawasan mutu bahan mentah, penyimpanan bahan mentah, penyediaan air, pencegahan kontaminasi pada semua tahap pengolahan dari berbagaisumber kontaminasi, serta pengkemasan dan penggudangan produk akhir (Setiadi, 2. Berdasarkan hasil observasi dari Dinas Kesehatan Kabupaten Pidie Tahun 2018 jumlah home industri pangan di Kecamatan Delima Kabupaten Pidie sebanyak 6 industri yang terdaftar. Pengawasan dan pembinaan hygiene dan sanitasi yang dilakukan oleh petugas setiap dua kali dalam setahun dalam bentuk survei lapangan dan penyuluhan hygiene dan sanitasi. Pabrik Roti di Desa Ceurih Kecamatan Delima Kabupaten Pidie merupakan salah satu tempat pengolahan roti terbesar di Kecamatan Delima dengan jumlah karyawan sebanyak 34 orang. Sebagian besar dari pedagang di beberapa Kecamatan di Kabupaten Pidie mengambil roti di pabrik tersebut untuk dijual Kembali (Dinas Kesehatan Kabupaten Pidie, 2. Menurut survei yang penulis lakukan pada industri roti di Desa Ceurih Kecamatan Delima Kabupaten Pidie. Seluruh pekerja di tempatkan pada beberapa bagian diantaranya yaitu. penjamah roti . pengemasan roti, . cleaning service dan . Berdasarkan survei awal tentang sikap pekerja dipabrik roti di Kecamatan Delima Kabupaten Pidie ada beberapa karyawan yang bersikap baik dalam mencuci tangan sebelum bekerja dan sesudah bekerja, sedangkan pekerja dengan masa kerja dalam katagori lama, lebih banyak dari pada dengan pekerja dengan masa kerja baru atau masih di bawah 1 tahun masa kerja, dan dari survei awal yang dilakukan penulis ada beberapa para pekerja yang mengunakan alat pelindung diri (APD) saat bekerja. Berdasarkan uraian diatas maka penulis tertarik ingin melakukan penelitian yang berjudul faktorAefaktor yang berhubungan dengan hygiene dan Jurnal AssyifaAo Ilmu Kesehatan. Vol 9 No. Januari-Juni 2024 sanitasi pada pekerja di pabrik roti di Desa Ceurih Kecamatan Delima Kabupaten Pidie Tahun 2019Ay. METODE Penelitian ini bersifat deskriptif analitik, dengan pendekatan cross sectional untuk mengetahui faktorAefaktor yang berhubungan dengan hygiene dan sanitasi pada pekerja di pabrik roti di desa Ceurih Kecamatan Delima Kabupaten Pidie Tahun 2019. Populasi pada penelitian ini adalah semua pekerja sebanyak 34 orang di Pabrik Roti secara total sampling. Analisis data yang digunakan untuk melihat distribusi frekwensi variabel-variabel yang diteliti, baik variabel dependen maupun variabel independen. Analisis ini digunakan untuk menguji hipotesis yang diolah dengan komputerisasi HASIL Analisis Univariat Tabel 1. Distribusi frekuensi berdasarkan karakteristik responden Karakteristik Umur 20-25 tahun 26-30 tahun 31-40 tahun > 40 Pendidikan SD/SLTP SLTA D-i Masa Kerja < 3 Tahun Ou 3 Tahun Jumlah Tabel 2. Distribusi Frekuensi Hygiene Dan Sanitasi Pada Pekerja di Pabrik Roti Hygiene dan Sanitasi Baik Tidak Baik Jumlah Jumlah Berdasarkan tabel diatas menunjukkan bahwa dari 34 responden yang menyatakan hygiene dan sanitasi yang baik sebanyak 32 responden . ,1%) dan 2 responden . ,9%) yang menyatakan Hygiene dan sanitasi yang tidak baik. Tabel 3. Distribusi Frekuensi Sikap Pekerja di Pabrik Roti Positif Sikap Jumlah Jurnal AssyifaAo Ilmu Kesehatan. Vol 9 No. Januari-Juni 2024 Negatif Jumlah Berdasarkan tabel diatas menunjukkan bahwa dari 34 responden yang memiliki sikap positif yaitu sebanyak 29 responden . ,3%). Tabel 4. Distribusi Frekuensi Fasilitas Sanitasidi Pabrik Roti Simas Fasilitas Sanitasi Lengkap Tidak Lengkap Jumlah Jumlah Berdasarkan tabel diatas menunjukkan bahwa dari 34 responden yang menyatakan fasilitas sanitasi lengkap yaitu sebanyak 23 responden . ,6%) dan 11 responden Tabel 5. Distribusi Frekuensi APD Pekerja di Pabrik Roti APD Jumlah Dipakai Tidak Dipakai Jumlah Berdasarkan tabel diatas menunjukkan bahwa dari 34 responden yang menyatakan APD dipakaiyaitu sebanyak 21 responden . ,8%) Analisis Bivariat Tabel 6. Hubungan antara Pendidikan dengan Hygiene Dan Sanitasi Pada Pekerja di Pabrik Roti Pendidikan SD/SLTP SMA Akademi Jumlah Hygiene dan Sanitasi Tidak baik Baik 1 7,7 13 13 65 20 1 100 1 55,9 15 44,1 34 P Value 0,003 0,05 Berdasarkan tabel diatas hubungan hygiene dan sanitasi dengan pendidikan menunjukkan bahwa dari 13 responden dengan pendidikan SD/SLTP, hygiene dan sanitasi tidak baik sebanyak 12 responden . ,3%) dan yang baik sebanyak 1 responden . ,7%), responden dengan tingkat pendidikan SMA, yang hygiene dan sanitasi tidak baik sebanyak 7 responden . %) dan yang baik sebanyak 13 responden . %), sedangkan responden dengan tingkat pendidikan diploma sebanyak 1 responden . ,7%) dengan hygiene dan sanitasi baik. Hasil Jurnal AssyifaAo Ilmu Kesehatan. Vol 9 No. Januari-Juni 2024 analisa statistik menggunakan uji Chi-Square dengan nilai P value = 0,003< 0,05 hal tersebut berarti Ho ditolak dan Ha diterima, maka ada hubungan antara hygiene dan sanitasi pada pekerja di pabrik roti dengan Pendidikan. Tabel. 7 Hubungan antara Masa Kerja dengan Hygiene Dan Sanitasi Pada Pekerja di Pabrik Roti . Masa Kerja C 3 tahun >3 tahun Jumlah Hygiene dan Sanitasi Tidak baik Baik 13 81,3 3 18,8 16 33,3 12 66,7 18 19 55,9 15 44,1 34 P Value 0,014 0,05 Berdasarkan tabel diatas hubungan hygiene dan sanitasi dengan masa kerja menunjukkan bahwa dari 16 responden dengan masa kerja < 3 tahun, yang hygiene dan sanitasi tidak baik sebanyak 13 responden . ,3%) dan yang hygiene dan sanitasi baik sebanyak 3 responden . ,8%), sedangkan dari 18 responden dengan masa kerja > 3 tahun, yang hygiene dan sanitasi tidak baik sebanyak 6 responden . ,3%) dan hygiene sanitasi baik sebanyak 12 responden . ,7%). Hasil analisa statistik menggunakan uji Chi-Square dengan nilai P value = 0,014< 0,05 hal tersebut berarti Ho ditolak dan Ha diterima, maka ada hubungan antara hygiene dan sanitasi dengan masa kerja di pabrik roti di Desa Cuerih Kecamatan Delima Kabupaten Pidie. Tabel 8. Hubungan antara Sikap dengan Hygiene Dan Sanitasi Pada Pekerja di Pabrik Roti . Sikap Negatif Positif Jumlah Hygiene dan sanitasi Tidak baik Baik 13 86,7 2 13,3 15 31,6 13 68,4 19 19 55,9 15 44,1 34 P Value 0,004 0,05 Berdasarkan tabel atas hubungan hygiene dan sanitasi dengan sikap menunjukkan bahwa dari 15 responden dengan sikap negatif, yang hygienedan sanitasi tidak baik sebanyak 13 responden . ,7%) dan hygiene dan sanitasi baik sebanyak 2 responden . ,3%), sedangkan dari 19 responden dengan sikap negatif, yang hygiene dan sanitasi tidak baik sebanyak 6 responden . ,6%) dan yang hygiene dan sanitasi baik sebanyak 13 responden . ,4%). Hasil analisa statistik menggunakan uji Chi-Square dengan nilai P value = 0,004< 0,05 hal tersebut berarti Ho ditolak dan Ha diterima, maka ada hubungan antara hygiene dan sanitasi dengan sikap pekerja dipabrik roti di Desa Ceurih Kecamatan Delima Kabupaten Pidie. Jurnal AssyifaAo Ilmu Kesehatan. Vol 9 No. Januari-Juni 2024 Tabel 9. Hubungan antara Fasilitas Sanitasi dengan Hygiene Dan Sanitasi Pada Pekerja di Pabrik Roti . Fasilitas sanitasi Tidak lengkap Lengkap Jumlah Hygiene dan Sanitasi Tidak Baik Baik 1 9,1 11 39,1 14 60,9 23 55,9 15 44,1 34 P Value 0,008 0,05 Berdasarkan tabel atas hubungan hygiene dan sanitasi dengan fasilitas sanitasi menunjukkan bahwa dari 11 responden dengan fasilitas sanitasi tidak lengkap, yang hygiene dan sanitasi tidak baik sebanyak 10 responden . ,9%) dan yang baik sebanyak 1 responden . ,1%), sedangkan dari 23 responden yang fasilitas sanitasi lengkap, yang hygiene dan sanitasi tidak baik sebanyak 9 responden . ,1%) dan yang baik sebanyak 14 responden . ,9%). Hasil analisa statistik menggunakan uji Chi-Square dengan nilai P value = 0,008< 0,05 hal tersebut berarti Ho ditolak dan Ha diterima, maka ada hubungan antara hygiene dan sanitasi dengan fasilitas sanitasi di pabrik roti di Desa Ceurih Kecamatan Delima Kabupaten Pidie. Tabel 10. Hubungan antara APD dengan Hygiene Dan Sanitasi Pada Pekerja di Pabrik Roti . APD Tidak dipakai Di Pakai Jumlah Hygiene dan sanitasi Tidak baik Baik 9,1 11 14 60,9 23 19 55,9 15 44,1 34 P Value 0,008 0,05 Berdasarkan Tabel hubungan hygiene dan sanitasi denganpenggunaan APD menunjukkan bahwa dari 11 responden yang tidak mengunakan APD, yang hygiene dan sanitasi tidak baik sebanyak 10 responden . ,9%) dan yang baik sebanyak 1 responden . ,1%), sedangkan dari 23 responden yang mengunakan APD, hygiene dan sanitasi tidak baik sebanyak 9 responden . ,1%) dan yang hygiene dan sanitasi baik sebanyak 14 responden . ,9%). Hasil analisa statistik menggunakan uji Chi-Square dengan nilai P value = 0,008< 0,05 hal tersebut berarti Ho ditolak dan Ha diterima, maka ada hubungan antara hygiene dansanitasi dengan APD pada pabrik roti di DesaCeurih Kecamatan Delima Kabupaten Pidie. Jurnal AssyifaAo Ilmu Kesehatan. Vol 9 No. Januari-Juni 2024 PEMBAHASAN Hubungan antara Pendidikan dengan Hygiene dan sanitasi pada pekerja di Pabrik Roti Kabupaten Pidie Hasil analisa statistik menggunakan uji Chi-Square dengan nilai P value = 0,003 < 0,05 maka ada hubungan antara hygiene dan sanitasi pada pekerja di pabrik roti dengan Pendidikan. Penelitian yang dilakukan oleh Slamet . menyebutkan bahwa pendidikan adalah suatu proses perubahan perilaku menujukedewasaan dan penyempurnaan kehidupan manusia, dan usaha lembaga - lembaga tersebut dalam mencapai tujuan pendidikan merupakan tingkat kemajuan masyarakat dan kebudayaan sebagai suatu kesatuan (Slamet, 2. Pendidikan dapat dilakukan secara formal maupun tidak formal untuk memberipengertian dan mengubah perilaku atau praktek seseorang dalam hal iniadalah pendidikan pekerja dapat mempengaruhi praktek hygiene dan sanitasi makanan (Mutiara & Rahmi, 2. Pendidikan pekerja dalam pekerja dalam mengolah roti diperoleh melalui pendidikan dan pengetahuan serta kegiatan pengelolaan dengan baik. Semakin tinggi pendidikan pekerja maka semakin baik tingkah laku serta bertambah wawasan terhadap pengelolaan usaha industri roti (Suryana, 2. Tingkat pendidikan berkaitan erat dengan pengelolaan pabrik roti, bagi yang berpendidikan tinggi mempunyai wawasan dan pengetahuan terhadap pengelolaan usahanya yang baik. Semakin tinggi pendidikan seseorang maka semakin tinggi kesadaran yang berperan serta dalam upaya meningkatlan kualitas dalam bekerja disuatu industri. Kategori pendidikan berdasarkan Keputusan Menteri Pendidikan Nasional yaitu tingkat dasar pendidikan sekolah dasar dan sekolah menengah pertama, tingkat menengah yaitu sekolah menengah atas dan tingkat pendidikan tinggi yaitu akademi dan perguruan tinggi (Hartono, 2. Peneliti berasumsi bahwa ada hubungan tingkat pendidikan dengan hygiene dan sanitasi pada pekerja di pabrik roti di Desa Ceurih Kecamatan Delima Kabupaten Pidie, yaitu semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang maka cenderung semakin banyak pengetahuan dan pengalaman yang di perolehnya sehingga semakin tinggi pula dukungannya terhadap lingkungan khususnya terhadap hygiene dan sanitasi pada pabrik roti Hubungan antara Masa Kerja dengan Hygiene dan sanitasi pada pekerja di Pabrik Roti Kabupaten Pidie Hasil analisa statistik menggunakan uji Chi-Square dengan nilai P value = 0,014 < 0,05 maka ada hubungan antara hygiene dan sanitasi dengan masa kerja di pabrik roti di Desa Cuerih Kecamatan Delima Kabupaten Pidie. Masa kerja adalah jangka waktu yang telah dilalui seseorang sejak menekuni pekerjaan. Masa kerja dapat menggambarkan pengalamannya dalam menguasai bidang tugasnya. Pada umumnya, petugas dengan pengalaman kerja yang banyak tidak memerlukan bimbingan dibandingkan dengan petugas yang pengalamannya sedikit. Semakin lama seseorang bekerja pada suatu organisasi maka semakin berpengalaman orang tersebut sehingga kecakapan kerjanya semakin baik (Rachmawati & Kp, 2. Masa kerja penelitian ini dihitung dari awal pekerja bekerja sampai pada saat dilakukan penelitian dan ini sesuai dengan UU ketenaga kerjaan pasal 50 Jurnal AssyifaAo Ilmu Kesehatan. Vol 9 No. Januari-Juni 2024 yaitu masa kerja ada karena adanya hubungan kerja, oleh karenanya perhitungan masa kerja dihitung sejak terjadinya hubungan kerja antara pekerja dan pengusaha atau sejak pekerja pertama kali mulai bekerja di perusahaan tertentu dengan berdasarkan pada perjanjian kerja (Putra, 2. Ukuran tentang lama waktu atau masa kerja yang telah ditempuh seseorang dapat memahami tugasAetugas suatu pekerjaan dan telah melaksanakan dengan Mengatakan bahwa masa kerja adalah banyaknya waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan suatu pekerjaan tanpa memperhitungkan waktu yang dipergunakan untuk misalnya istirahat menunggu bahan mentah datang dan Sedangkan lama bekerja adalah lama waktu antara untuk melakukan suatu kegiatan. Lama kerja merupakan lamanya karyawan berkarya pada pekerjaan yang sedang di jalani saat ini. Lamanya suatu masa kerja dapat menimbulkan pengalaman berusaha, dimana pengalaman dapat mempengaruhi pengamatan seseorang dalam bertingkah laku (Prasetyo & Huda, 2. Peneliti berasumsi bahwa Masa kerja dapat mengambarkan pengalamannya dalam menguasai bidang tugasnya. Pada umumnya, petugas dengan pengalaman kerja yang banyak tidak memerlukan bimbingan dibandingkan dengan petugas yang pengalamanya sedikit. Semakin lama seseorang bekerja pada suatu tempat atau suatu industri maka akan semakin berpengalaman orang tersebut sehingga kecakapan kerjanya semakin baik. Hubungan antara Sikap dengan Hygiene dan sanitasi pada pekerja di Pabrik Roti Kabupaten Pidie Hasil analisa statistik menggunakan uji Chi-Square dengan nilai P value = 0,004 < 0,05 maka ada hubungan antara hygiene dan sanitasi dengan sikap pekerja dipabrik roti di Desa Ceurih Kecamatan Delima Kabupaten Pidie. Setiap Individu mempunyai alasan tertentu mengapa harus bekerja, dorongan jiwa yang membawa seseorang untuk bekerja adalah motivasi kerja, karena bagi seseorang yang terpaksa bekerja pada sesuatu pekerjaan yang tidak disukainya, maka hanya dengan melihat pekerjaan yang demikian banyak, orang tersebut akan merasakan lelah terlebih dahulu sebelum melakukan pekerjaan itu (Mohtar, 2. Sikap yang menggambarkan suatu kumpulan keyakinan yang selalu mencakup aspek evaluatif, sehingga sikap selalu dapat diukur dalam bentuk positif dan negatif. Setiap individu mempunyai alasan tertentu mengapa harus bekerja, dorongan jiwa yang membawa seseorang untuk bekerja adalah motivasi kerja, karena bagi seseorang yang terpaksa bekerja pada sesuatu pekerjaan yang tidak disukainya, maka hanya dengan melihat pekerjaan yang demikian banyak, orang tersebut akan merasakan lelah terlebih dahulu sebelum melakukan pekerjaan itu (Zainuddin, 2. Suatu perusahaan berkewajiban mengusahakan agar karyawan memiliki kesadaran turut dalam bertanggung jawab atas kelancaran, kemajuan, dan kelangsungan hidup perusahaan. Maka dari itu setiap pekerja harus memiliki komitmen sebagai suatu sikap yang menggambarkan orientasi karyawan terhadap industri yang ditunjukkan dengan kesetiaan terhadap industri, mengidentifikasikan diri dan melibatkan diri dalam kegiatan industri. Komitmen karyawan lebih dipandang sebagai suatu sikap, memandang komitmen sebagai sesuatau yang bersifat afektif emosional (Zein , 2. Jurnal AssyifaAo Ilmu Kesehatan. Vol 9 No. Januari-Juni 2024 Menurut asumsi peneliti bahwa sikap adanya hubungan dengan hygiene dan sanitasi. Apabila sikap pekerja tidak loyal dan profesional dalam bekerja maka hygiene industri tidak baik. Sehingga pada saat bekerja karyawan kurang waspada dan hati-hati dalam bekerja sehingga mengakibatkan kecelakaan kerja, maka perlu adanya kebijakan kepatuhan mengenai sikap disaat berada dilingkungan kerja. Dan semua itu juga tergantung pada kondisi industri tersebut serta tujuan yang ingin dicapai. Sikap pekerja yang kurang baik seperti tidak mencuci tangan pada saat hendak bekerja, sikap yang merokok saat mengolah roti, dan tidak memakai celemek saat bekerja dapat menyebabkan terkontaminasinya roti dan menurunkan kualitas daya tahan roti. Hubungan antara Fasilitas Sanitasi dengan Hygiene dan sanitasi pada pekerja di Pabrik Roti Kabupaten Pidie Hasil analisa statistik menggunakan uji Chi-Square dengan nilai P value = 0,008 < 0,05 maka ada hubungan antara hygiene dan sanitasi dengan fasilitas sanitasi di pabrik roti di Desa Ceurih Kecamatan Delima Kabupaten Pidie Fasilitas sanitasi adalah sarana fisik bangunan dan juga mengenai perlengkapannya dipakai untuk memelihara kualitas dari lingkungan atau mengendalikan faktor-faktor lingkungan fisik yang mampu merugikan kesehatan manusia antara lain sarana air bersih, jamban, peturasan . , saluran limbah, tempat cuci tangan, bak sampah, kamar mandi, lemari pakaian kerja . , peralatan pencegahan terhadap lalat, tiksu dan juga mengenai hewan serta peralatan kebersihan (Nasution, 2. Bekerja dalam ruangan kerja yang sempit, panas, yang cahaya lampunya menyilaukan mata ataupun redup, kondisi kerja yang tidak mengenakkan . akan menimbulkan keengganan untuk bekerja. Perusahaan perlu menyediakan ruang kerja yang nyaman untuk para pekerjanya. Seperti ruang kerja yang terang, sejuk, peralatan kerja yang enak untuk digunakan, meja dan kursi kerja yang berfungsi dengan baik. Kondisi kerja yang memperhatikan prinsipprinsip ergonomic (MaAoarif, 2. Dalam kondisi kerja yang seperti itu kebutuhan fisik dipenuhi dan memuaskan tenaga kerja (Tajuddin, 2. Untuk dapat tetap mempertahankan kebersihan sarana pengolahan, industry roti harus memiliki fasilitas hygiene dan sanitasi. Selain itu, industry roti harus juga mempunyai kegiatan rutin hygiene dan sanitasi. Fasilitas hygiene dan sanitasi yang dibutuhkan seperti suplai air bersih yang cukup, baik untuk kebutuhan pengolahan maupun untuk kebutuhan pencucian dan pembersihan (Amaliyah, 2. Suplai air bersih dapat barasal dari air PAM atau dari sumur termasuk sumur bor. Air yang mengalami kontak langsung dengan pangan atau digunakan untuk pengolahan harus memenuhi persyaratan bahan baku air minum. Oleh karena itu, air yang berasal dari sumur harusnya diberi perlakuan penjernihan terlebih dahulu. Fasilitas pencucian atau pembersihan seperti sapu lidi, sapu ijuk, sikat, selang air, kain lap, dan sejenisnya harus ada dan digunakan secara rutin untuk membersihkan sarana pengolahan. Dan industry roti harus mempunyai juga fasilitas hygiene karyawan seperti tempat cuci tangan dan Hendaknya pintu jamban tidak berhadapan langsung dengan ruang pengolahan (Trisna, 2. Berdasarkan asumsi peneliti, bahwa fasilitas sanitasi merupakan segala sesuatu yang ada di sekitar karyawan pada saat bekerja, baik yang berbentuk fisik Jurnal AssyifaAo Ilmu Kesehatan. Vol 9 No. Januari-Juni 2024 ataupun non fisik, langsung atau tidak langsung, yang dapat mempengaruhi dirinya dan pekerjaanya saat bekerja. Fasilitas Sanitasi juga berhubungan dengan hygiene industri. Di lingkungan kerja yang terlalu bising dan bergetar serta area yang terlalu padat/sempit sehingga juga dapat menghilangkan konsentrasi dan berakibat kepada terjadinya kecelakaan, apabila fasilitas sanitasi yang tidak memenuhi syarat maka kemungkinan besar hygiene industri tidak baik. Hubungan antara APD dengan Hygiene dan sanitasi pada pekerja di Pabrik Roti Kabupaten Pidie Hasil analisa statistik menggunakan uji Chi-Square dengan nilai P value = 0,008 < 0,05 maka ada hubungan antara hygiene dan sanitasi dengan APD pada pabrik roti di Desa Ceurih Kecamatan Delima Kabupaten Pidie Alat Pelindung Diri (APD) berperan penting terhadap kesehatan dan keselamatan kerja dalam pembangunan nasional, tenaga kerja memiliki peranan dan kedudukan yang penting sebagai pelaku pembangunan (Solichah, 2. Menurut Setiawathi . , sebagian besar industri makanan terutama roti pada proses produksinya menggunakan tepung gandum, yang dapat menimbulkan dampak dari debu tepung gandum. Perlindungan keselamatan pekerja melalui upaya teknis pengamanan tempat, mesin peralatan dan lingkungan kerja wajib Namun kadang-kadang risiko terjadinya kecelakaan masih belum sepenuhnya dapat dikendalikan, sehingga digunakan Alat Pelindung Diri . lat proteksi dir. (Fauzan, 2. Jadi pengguna APD adalah alternatif terakhir yaitu kelengkapan dari segenap upaya teknis pencegahan kecelakaan (Fauzan, 2. Menurut asumsi peneliti, bahwa peralatan kerja juga berhubungan dengan terjadinya kecelakaan kerja, apabila ada peralatan yang tidak layak lagi digunakan namun masih juga digunakan maka kemungkinan besar akan terjadinya kecelakaan kerja. Apabila alat pelindung diri tidak dipakai maka sangatlah berhubungan dengan higine industri tidak baik karena dengan dipakainya APD juga menentukan kualitas roti yang akan diproduksi. Untuk itu industri wajib melaksanakan upaya yang menyangkut keamanan dan keselamatan alat, proses serta hasil produksinya termasuk pengangkutannya. Kondisi pabrik roti di Kecamatan Delima Kabupaten Pidie secara umum sudah bisa dikatakan baik dari segi hygiene dan sanitasi akan tetapi perlu di tingkatkan lagi pada penggunaan APD, sedangkan dari beberapa aspek seperti pemilihan bahan makanan, penyimpanan, pengolahan, dan pengangkutan sampai dengan penyajian bahan makanan belum mempunyai hygiene dan sanitasi yang baik pada pabrik roti. Kebersihan peralatan memang harus diperhatikan karena bak yang kotor memungkinkan terjadinya kontaminasi silang antara bak dan Seperti pencucian peralatan makan yang terpenting adalah tersedianya sarana pencucian peralatan dengan memiliki tiga bagian, yaitu bagian pencucian, bagian pembersihan/ pembilasan dan bagian desinfeksi. Bak pertama berisi air sabun, bak kedua berisi air bersih untuk membilas, dan bak ketiga berisi air yang diberi desinfektan yang sesuai dengan standar, dan tempat pengolahan yang tidak begitu luas seperti dapur dapat menyebabkan ketidak nyamanan pekerja dalam mengolah roti, seharusnya dapur tempat pengolahan roti dilakukan renovasi sesuai standar kesehatan yang baik. Untuk meningkatkan kualitas makanan yang disajikan maka perlu adanya Jurnal AssyifaAo Ilmu Kesehatan. Vol 9 No. Januari-Juni 2024 peningkatan pengetahuan melalui pemberian pelatihan/ kursus dan praktik lapangan terhadap pengelola, pengolah, penyaji makanan, serta para pembina dan pengawas kebersihan makanan di lapangan. Selain itu, peningkatan pengetahuan penjamah makanan melalui pemberian pelatihan/kursus dapat menurunkan angka kesakitan dan kematian karena makanan. SIMPULAN Dari hasil penelitian dan pembahasan yang telah dilakukan maka penulis mengambil kesimpulan sebagai berikut, ada hubungan pendidikan dengan hygiene dan sanitasi pada pekerja dengan hasil uji statistik diperoleh P-value = 0,003, ada hubungan masa kerja dengan hygiene dan sanitasi dengan hasil uji statistik diperoleh P-value = 0,014, ada hubungan sikap dengan hygiene dan sanitasi dengan hasil uji statistik diperoleh P-value = 0,004, ada hubungan fasilitas sanitasi dengan hygiene dan sanitasi dengan hasil uji statistik diperoleh P-value = 0,008, ada hubungan APD dengan hygiene dan sanitasi dengan hasil uji statistik diperoleh P-value = 0,008. DAFTAR PUSTAKA