K&K_JURNAL MANAJEMEN. VOL. NO. FEBRUARI 2022 ISSN 2808-4667 CELEBRITY WORSHIP DAN PERILAKU KONSUMTIF REMAJA PENGGEMAR GIRL GROUP TWICE Velicia Program Studi Manajemen. Fakultas Bisnis dan Akuntansi Universitas Katolik Musi Charitas e-mail: velitjia@gmail. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh dari celebrity worship yang terdiri dari entertainment social, intense personal, dan borderline pathological terhadap perilaku konsumtif remaja penggemar girl group TWICE. Populasi penelitian adalah remaja penggemar girl group TWICE yang melakukan pembelian album/merchandise TWICE, sedangkan sampel pada penelitian ini adalah 100 responden yang memenuhi kriteria yang telah ditetapkan dengan pendekatan purposive sampling. Teknik analisis dalam penelitian ini menggunakan regresi berganda dan untuk menguji hipotesis digunakan uji t dan uji F. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa intense personal dan borderline pathological berpengaruh positif dan signifikan terhadap perilaku konsumtif remaja penggemar girl group TWICE, sedangkan entertainment social berpengaruh negatif dan tidak signifikan terhadap perilaku konsumtif remaja penggemar girl group TWICE. Kata Kunci: celebrity worship, perilaku konsumtif ABSTRACT This study aims to find out the influence of Celebrity Worship consisting of entertainment social, intense personal, and borderline pathological on the consumptive behavior of adolescent fans of girl group TWICE. The population in this study was teenage fans of girl group TWICE who purchased twice albums/merchandise, while the sample in this study was 100 respondents who met the criteria set by purposive sampling approach. The analysis techniques used in this study is multiple regressions. t test and F test are employed to test the hypothesis . The results of this study showed that intense personal and borderline pathological positive and significant effect on the consumptive behavior of adolescent fans of girl group TWICE, while social entertainment negatively and insignificantly affect the consumptive behavior of adolescent fans of girl group TWICE. Keywords: celebrity worship, consumptive behavior UNIVERSITAS KATOLIK MUSI CHARITAS K&K_JURNAL MANAJEMEN. VOL. NO. FEBRUARI 2022 PENDAHULUAN Di dewasa ini, perkembangan internet semakin mengagumkan. Dengan kemajuan yang luar biasa, internet membuat berbagai aspek kehidupan manusia menjadi lebih mudah. Internet dapat memenuhi berbagai kebutuhan manusia tanpa harus terhalang oleh jarak dan waktu, mulai dari berbelanja, mencari penghiburan, sampai pada mengakses informasi. Tidak bisa dipungkiri, perkembangan teknologi dan media sosial juga merupakan salah satu faktor utama dalam penyuksesan penye- baran budaya Korea. Dalam beberapa tahun terakhir. Korea Selatan telah berhasil menye- barkan budayanya secara inter- nasional. Hallyu atau Hanryu (Korean Wav. adalah fenomena patikular yang merujuk pada dampak dari produk spesifik budaya Korea Selatan yang populer . ilm, musik, game, fashio. di tiap wilayah di dunia (Dator dan Seo. K-pop adalah salah satu aspek yang paling berpengaruh dalam penyebaran budaya Korea. Menarik nya. Indonesia adalah salah satu negara dengan jumlah penggemar K-pop yang terbilang banyak. Dikutip dari Indozone. Indonesia masuk ke dalam posisi kedua AuNegara dengan penggemar K-pop terbanyakAy (Marianti, 2. Dari survei yang dilakukan oleh IDN Times . , penggemar Korea di Indonesia didominasi oleh pelajar dan mahasiswa di usia 10 sampai ISSN 2808-4667 20 tahun. Yue dan Cheung . menyatakan bahwa anak muda cenderung memiliki idola maupun model yang disenangi. Anak-anak dan remaja sering menghormati para selebriti seperti figur olahraga, atau penyanyi pop (Greene dan Adam-Price, 1. dalam (Raviv, et al, 1. Namun, pemujaan terhadap selebriti ini biasanya semakin menurun intensitasnya seiring bertambahnya usia (Raviv, et al, 1. Antusiasme terhadap orang terkenal dapat dianggap sebagai rangkaian, mulai dari dari apresiasi yang sehat hingga obsesif dengan selebriti yang dapat mengganggu beberapa aspek kehidupan seseorang. Ketika paparan media membiasakan konsumen dengan kehidupan tokoh-tokoh yang terkenal secara publik atau yang biasa dikenal sebagai selebriti, konsumen dapat membentuk hubungan para sosial satu arah dengan selebriti. Rasa cinta dan keterikatan pada idola yang terlalu tinggi dapat menyebabkan perilaku menyimpang dan bahkan bisa berujung pada pemujaan berlebihan pada sang idola yang dikenal juga sebagai Celebrity Worship. McCutcheon et. mensugestikan tiga aspek yang berbeda dari Celebrity Worship untuk mengelompokkan orang yang terobsesi pada selebriti, yaitu: entertainment social, intense personal, dan borderline pathological. Pada dimensi pertama, entertainment social berarti konsumen UNIVERSITAS KATOLIK MUSI CHARITAS K&K_JURNAL MANAJEMEN. VOL. NO. FEBRUARI 2022 memiliki minat pada selebriti. perilaku ini mencakup menonton, membaca, dan belajar tentang Dimensi selanjut nya adalah intense-personal, di mana orang tersebut memiliki perasaan lebih intensif dan kompulsif terhadap selebriti dan biasanya menunjukkan hal ini pada beberapa teman, atau penggemar lainnya. Dimensi terakhir dari Celebrity Worship pathological yang menunjuk kan bahwa orang tersebut merasa memiliki ikatan khusus dengan selebriti yang ia sukai dan mau melakukan apa saja untuk orang yang ia idolakan. Orang-orang ekstrem mendapatkan AukedekatanAy dengan selebriti dengan cara mengumpulkan benda-benda personal dari selebriti tersebut (Houran et. , 2. TWICE merupakan salah satu girl group asal Korea Selatan yang paling terkenal saat ini. Cukup populer di Indonesia. TWICE termasuk ke dalam salah satu dari 10 artis K-pop yang paling banyak disebut di tweet masyarakat Indonesia selama satu dekade terakhir (Riandi, 2. TWICE juga merupakan girl group pertama dan satu-satunya yang berhasil melakukan penjualan album sebanyak lebih dari 9 juta copy yang membawa mereka menduduki title AuBest Selling Girl Group All the TimeAy. Dengan kepopuleran mereka yang mendunia. TWICE juga menghadapi masalah fan yang ISSN 2808-4667 terlalu obsesif. Ada begitu banyak aksi tak wajar dari penggemar yang merasa bahwa ia memiliki hubungan khusus dengan idolanya. Perasaan sesat satu arah itu dapat semakin meningkat secara signifikan ketika penggemar menyaksikan reality show tanpa naskah yang menampilkan bagaimana kehidupan selebriti setiap harinya yang dapat membuat penggemar semakin merasa mengenal selebriti secara akrab. Mereka yang merasa memiliki keterikatan dengan idolanya tentunya akan rela untuk menyisihkan sebagian dari pendapatan untuk membeli barangbarang yang idola keluarkan, meskipun barang tersebut tak dibutuhkan. Dengan banyaknya hal yang dikeluarkan oleh idola mulai dari tiket konser, album, sampai dengan merchandise, hal ini tentu dapat mendorong para penggemar untuk melakukan perilaku konsumtif karena mereka merasa harus terus mendukung para idolanya dengan membeli dan ikut men-support produk- produk yang idola keluarkan. Perilaku konsumtif menurut Sumartono . adalah suatu perilaku yang tindakannya tidak lagi didasarkan pada pertimbangan rasional melainkan karena adanya keinginan yang sudah mencapai taraf yang tak lagi Perilaku melekat pada seseorang apabila orang tersebut membeli sesuatu di luar kebutuhan . dan pembelian lebih didasarkan oleh faktor keinginan . UNIVERSITAS KATOLIK MUSI CHARITAS K&K_JURNAL MANAJEMEN. VOL. NO. FEBRUARI 2022 Berdasarkan latar belakang yang telah dijabarkan, maka perumusan masalah yang akan diteliti Apakah entertainment-social dalam celebrity worship berpengaruh secara positif dan signifikan terhadap perilaku konsumtif remaja penggemar girl group TWICE? Apakah intense-personal dalam celebrity worship berpengaruh secara positif dan signifikan terhadap perilaku konsumtif remaja penggemar girl group TWICE? Apakah borderline pathological dalam celebrity worship berpengaruh secara positif dan signifikan terhadap perilaku konsumtif remaja penggemar girl group TWICE? LANDASAN TEORI Perilaku Konsumen Firmansyah mendefinisikan perilaku konsumen sebagai suatu proses yang berkaitan erat dengan adanya suatu proses pembelian yang di mana pada saat itu konsumen melakukan aktivitas seperti melakukan pencarian, penelitian, dan pengevaluasian dari produk dan jasa . roduct and service. Perilaku konsumen merupakan sesuatu yang mendasari konsumen untuk membuat keputusan dalam pembelian. Firmansyah menyatakan bahwa perilaku ISSN 2808-4667 konsumen pada dasarnya dibagi menjadi dua yaitu perilaku konsumen yang bersifat rasional dan Perilaku konsumen yang bersifat rasional adalah tindakan perilaku konsumen dalam pembelian suatu barang dan jasa yang mengedepankan aspek- aspek konsumen secara umum, yaitu tingkat kebutuhan mendesak, kebutuhan utama, serta manfaat produk itu sendiri untuk konsumen. Sedangkan perilaku konsumen yang bersifat irasional adalah perilaku konsumen yang mudah terbujuk oleh rayuan marketing dari suatu produk tanpa mengedepankan aspek kebutuhan dan kepentingan. Korean Wave Secara garis besar, dapat dikatakan bahwa popularitas musik pop dan drama televisi Korea di China dan Taiwan telah memicu Korean Wave di negara Karena sejak itu. Korean Wave mulai menyebar ke negara Asia tetangga dengan sangat Menariknya, meskipun setiap negara di Asia memiliki reaksi yang sama terhadap korean wave pada awalnya, tetapi masing-masing memiliki pandangan yang sedikit Hal ini disebabkan oleh karena setiap negara memiliki etos yang berbeda dan berdasarkan ini audiens merespons produk budaya dengan cara yang berbeda-beda pula. Tren ini UNIVERSITAS KATOLIK MUSI CHARITAS K&K_JURNAL MANAJEMEN. VOL. NO. FEBRUARI 2022 menyebar dari Taiwan, ke Hongkong, dan mempengaruhi etnis Tionghua di negara-negara Asia lainnya dan hingga akhirnya menuju ke Jepang. Semua orang asia ini untuk tidak hanya tertarik pada musik dan drama Korea saja, melainkan juga tertarik ke bagian film, makanan, dan juga fesyen. Oleh sebab itu, produk budaya Korea telah menjadi jembatan untuk rasa ingin tahu masyarakat luar tentang budaya Korea dan Korea itu sendiri. Khususnya drama Korea yang telah menjadi jembatan penting bagi berbagai negara untuk mempelajari dan tentang budaya Korea (Lee S. Celebrity Worship McCutcheon, et al. mengusulkan sebuah model worship berdasarkan penyerapan psikologis dan juga unsur Model ini dinamakan Aoabsorption-addiction modelAo yang menjelaskan bahwa orangorang dengan struktur identitas yang lemah dan kurangnya berusaha untuk membangun identitas yang solid dan mendapatkan kepuasan dengan menjadi AoterserapAo secara psikologis dengan selebriti favorit Maltby, et al. , . membagi celebrity worship menjadi tiga dimensi. Dimensi ISSN 2808-4667 sosial hiburan adalah ketertarikan terhadap selebriti karena sosoknya yang menarik dan Dimensi personal berkaitan dengan perasaan mendalam dan bersifat subyektif Sedangkan dimensi patologis garis batas . dikatakan sebagai dimensi ekstrim dimana ketertarikan terhadap seorang selebriti berada pada tingkatan yang tidak lagi rasional, diwujudkan melalui tindakan-tindakan yang merugikan diri sendiri maupun orang Konsumtif Pernyataan dari perilaku konsumtif yang digunakan pada penelitian ini disusun oleh Faradila . berdasarkan teori perilaku konsumtif Fromm . di mana peneliti akan dengan kondisi subjek pada penelitian ini. Terdapat empat aspek dalam perilaku konsumtif Melakukan impulsif . mpulse buyin. Perilaku dalam membeli produk yang lebih didasarkan oleh keinginan yang kuat dan hasrat tiba-tiba yang dilakukan tanpa ada pertimbangan panjang Pemborosan (Wasteful Pembelian dilakukan bukan atas dasar kebutuhan melainkan atas dasar keinginan yang menimbulkan pera- UNIVERSITAS KATOLIK MUSI CHARITAS K&K_JURNAL MANAJEMEN. VOL. NO. FEBRUARI 2022 saan senang. Tidak bernilai (Non Rational Buyin. Perilaku konsumsi dengan kecenderungan untuk mengkonsumsi barang tanpa memikirkan jumlah uang yang Ingin lebih dari (Satisfaction Seekin. Karena sebuah keinginan untuk menjadi lebih dari orang lain dalam memiliki sebuah produk maka ketidakpuasan akan selalu hadir dan ditemani oleh rasa bersaing yang tinggi. Pengembangan hipotesis Pengaruh Celebrity Worship terhadap Perilaku Konsumtif Remaja Penggemar Girl Group TWICE Celebrity worship merupa kan bentuk dari keterlibatan obsesional di mana seorang individu mengidolakan idola favorit mereka hingga mencapai tahap pemujaan. Entertainment social merupakan dimensi pertama dari celebrity worship, di mana dimensi ini terdiri dari sikap seperti AuSaya dan teman saya senang berdiskusi mengenai hal-hal apa saja yang telah selebriti lakukanAy dan AuSaya senang menonton dan mendengarkan hal-hal tentang selebriti favorit Ay Biasanya seseorang yang berada pada dimensi ini merasa tertarik dengan selebriti karena selebriti dianggap menghibur sehingga cukup ISSN 2808-4667 menarik perhatian. Dimensi kedua merupakan intense personal, pada dimensi ini biasanya penggemar telah searah dengan selebriti yang pada awal mulanya hanya sekadar tertarik menjadi lebih intim yang menggambarkan perasaan individu yang intens terhadap idolanya. Contoh sikap dari dimensi ini adalah AuSaya menganggap selebriti sebagai soulmate sayaAy dan AuSaya terobsesi terhadap detail kehidupan dari selebriti favorit sayaAy. Dimensi terakhir dari borderline pathological, seseorang yang berada pada dimensi ini biasanya tidak lagi memiliki pikiran yang rasio Seseorang pada dimensi ini kemungkinan memiliki fantasi tersendiri terhadap selebriti yang dapat mendorong mereka untuk melakukan tindak kriminal yang merugikan selebriti seperti: teror, penguntilan, serta pencurian barang, atau bahkan pembunuhan. Contoh sikap dari dimensi ini adalah. AuJika saya cukup beruntung untuk bertemu dengan idola favorit saya dan dia meminta saya untuk melakukan hal illegal, maka saya mungkin akan melakukannyaAy. Ketika seseorang merasa bahwa dirinya terikat pada idolanya, maka ia akan mengor UNIVERSITAS KATOLIK MUSI CHARITAS K&K_JURNAL MANAJEMEN. VOL. NO. FEBRUARI 2022 bankan banyak hal untuk mendukung idola tersebut. Pengorbanan itu bisa berupa banyak hal, mulai dari energi, pikiran, materi, sampai pada Rasa cinta dan keterikatan pada idola ini perlahan akan mendorong penggemar ke arah perilaku konsumtif. Perilaku konsumtif menurut Sumartono . adalah suatu perilaku yang tindakannya tidak lagi didasarkan pada pertimbangan rasional melain kan karena adanya keinginan yang sudah mencapai taraf yang tak lagi rasional. Perilaku konsumtif melekat pada seseorang apabila orang tersebut membeli sesuatu di luar kebutuhan . dan pembelian lebih didasarkan oleh faktor keinginan . Akan tetapi, ketika penggemar memiliki keterikatan yang tinggi terhadap selebriti yang ia sukai, maka akan semakin besar pula keinginan untuk mendukung segala yang penggemar bisa. Terus melakukan pembelian terhadap barang-barang K-pop bukanlah termasuk ke dalam kebutuhan, melainkan keinginan. Orang-orang dengan celebrity worship cenderung melakukan pembelian secara komplusif sehingga menimbulkan perilaku konsumtif dengan terus melakukan pembelian terhadap barang-barang idola untuk merasa bahagia dan ISSN 2808-4667 menjadi lebih dekat dengan Berdasarkan penjelasan dan penelitian di atas maka penulis mengajukan hipotesis sebagai berikut : H1 : Entertainment social dalam celebrity worship memiliki pengaruh yang positif dan signifikan terhadap perilaku konsumtif remaja penggemar girl group TWICE H2 : Intense personal dalam celebrity worship memiliki pengaruh yang positif dan signifikan terhadap perilaku konsumtif remaja peng gemar girl group TWICE H3 : Borderline pathological dalam celebrity worship memiliki pengaruh yang positif dan signifikan terhadap peri laku konsumtif remaja penggemar girl group TWICE METODE PENELITIAN Jenis Penelitian Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah jenis penelitian studi lapangan . ield Menurut Kartono . dalam Hartati . penelitian studi lapangan . ield researc. adalah metode untuk menemukan secara khusus dan realistis tentang apa yang tengah terjadi di tengah Ukuran Populasi dan Teknik Pengambilan Sampel Menurut Kuncoro . UNIVERSITAS KATOLIK MUSI CHARITAS K&K_JURNAL MANAJEMEN. VOL. NO. FEBRUARI 2022 elemen yang lengkap, yang biasanya berupa orang, objek, transaksi, atau kejadian di mana kita tertarik untuk mempelajarinya atau menjadi objek Populasi pada penelitian ini adalah remaja penggemar girl group TWICE yang pernah melakukan pembelian album/merchandise TWICE. Pengambilan sampel pada penelitian ini menggunakan teknik non probability sampling dengan pendekatan purposive sampling. Berikut merupakan kriteria sampel yang dipakai dalam penelitian ini: Responden berusia 11-21 Responden menyatakan diri sebagai bagian dari fandom girl group TWICE yang dikenal dengan nama ONCE Responden follower dari Instagram/ Facebook/Twitter fanbase TWICE (ONCE) Responden pernah melakukan pembelian album /merchandise TWICE setidak nya satu kali dalam satu tahun terakhir Responden Indonesia Jenis Data Penelitian Berdasarkan cara pengumpulan data untuk penelitian, maka penelitian ini menggunakan data ISSN 2808-4667 Teknik Pengumpulan Data Kuesioner pada penelitian ini dibuat dengan menggunakan Google Forms dan peneliti menyebarkan kuisioner di media sosial dengan menggunakan fan account pribadi peneliti yang memang didedikasikan untuk TWICE sehingga mutual ONCE sehingga hasil yang didapat lebih tepat sasaran, peneliti membuat tweet yang kemudian diretweet sehingga kuisioner tersebut dapat tersebar ke ONCE lainnya. Instrumen Penelitian Celebrity Worship Pengukuran setiap dimensi di dalam Celebrity Worship dilakukan dengan menggunakan Celebrity Attitude Scale yang dikembangkan oleh McCutcheon. Lange, dan Houran . terdiri dari 34 pertanyaan skala Likert yang terbagi pada setiap dimensi. Namun, pada penelitian ini, peneliti menggunakan Celebrity Attitude Scale yang telah direvisi menjadi 22 item oleh Maltby, et al. dari 34 item skala original dikembang kan oleh McCutcheon. Lange, dan Houran . engan total pertanyaan untuk setiap dimensi: Entertainment Social . Intens Personal . dan Borderline Pathological . UNIVERSITAS KATOLIK MUSI CHARITAS K&K_JURNAL MANAJEMEN. VOL. NO. FEBRUARI 2022 Perilaku Konsumtif Pernyataan di dalam perilaku konsumtif yang digunakan pada penelitian ini disusun oleh Faradila . berdasarkan teori perilaku konsumtif From . di mana peneliti akan dengan kondisi subjek pada penelitian ini. Terdapat empat aspek dalam perilaku konsumtif di mana setiap aspek memiliki pernyataannya masingmasing: Impluse buying . Wasteful buying . Non rational Buying . Seeking satisfaction . Model Penelitian Teknik Analisa Data Eo Uji Validitas dan Reliabilitas Kedua pengujian ini dilakukan untuk memastikan instrument penelitian yang telah disebarkan telah layak untuk digunakan dalam penelitian. Hasil uji dari validitas data dipe- ISSN 2808-4667 roleh menggunakan perhitungan r tabel dan r Apabila r hitung positif dan > dari r tabel dengan tingkat signifikasi 5% maka variabel tersebut valid (Kuncoro, 2013:. Uji reliabilitas dilihat dari metode CronbachAos Alpha yang di mana suatu kuisioner/angket dianggap reliable apabila CronbachAos Alpha > 0,60 (Kuncoro, 2013:. Eo Uji Asumsi Klasik Pada uji asumsi klasik pene liti melakukan uji normalitas, multikolinieritas, dan uji heteroskedastisitas. Pengujian normalitas menggunakan ujia statistik nonparametrik Kolmogorov Smirnov sebagai dasar penetuan apakah data terdistribusi secara norma dilihat dari nilai pada pendekatan Exact, yaitu data terdistribusi normal jika nila Exact Sign. > 0. Dasar pengambilan keputusan dari uji multikolinieritas angka Variance Inflation factor (VIF) dan tolerance. Nilai cut off yang umum dipakai untuk menunjuk kan adanya multikolinieritas adalah nilai tolerance 1 dan VIF 10, jika nilai tolerance > 0. 1 dan VIF < 1 tolerance < 0. 1 dan VIF UNIVERSITAS KATOLIK MUSI CHARITAS K&K_JURNAL MANAJEMEN. VOL. NO. FEBRUARI 2022 10 maka terdapat multikolinieratias. Dasar pengambilan keputusan dari uji ini adalah apabila dengan pengujia Glejser nilai dari Sig > 0. 05 maka tidak terjadi gejala heteroskedastisitas. Eo Analisis Regresi Linear Berganda Analisis linear berganda digunakan untuk menganalisa pengaruh beberapa variabel bebas atau variabel independen (X) terhadap variabel dependen (Y). Analisis ini untuk memprediksi nilai dari variabel dependen apabila nilai variabel independen mengalami kenaikan atau penurunan dan untuk mengetahui arah hubungan antara variabel independen dan variabel depen independen berhubungan positif atau negatif. Pengujian Hipotesis Eo Uji t Pada dasarnya uji t menunjukkan seberapa jauh pengaruh satu variabel independen secara individual dalam menerangkan variabel dependen (Ghozali, 2013:. Jika nilai signifikan > 0. 05 maka hipotesis ditolak karena karena variabel indepen10 ISSN 2808-4667 den secara individual tidak dependen dan sebaliknya. Eo Uji F Menurut Ghozali . , uji F pada dasarnya digunakan untuk menunjukkan apakah semua variabel independen yang dimasukkan dalam model pengaruh simultan atau bersama-sama terhadap variabel dependen. Jika nilai signifikansi < 0. 05 dan F hitung > F tabel, maka dapat disimpulkan terdapat pengaruh secara bersama-sama antara varia bel independen (X) terhadap variabel dependen (Y). Uji Koefisien Determinasi Koefisien determinasi digunakan untuk mengukur seberapa jauh kemampuan model dalam menerangkan variasi dari variabel dependen yang dapat dijelaskan oleh variabel independen (Ghozali, 2013: Nilai R2 berkisar dari antara angka 0 sampai Jika nilai R2 mendekati angka 1 maka semakin besar pengaruh variabel independen terhadap variabel dependen. HASIL DAN PEMBAHASAN Sebelum menguji dengan keseluruhan sampel, peneliti terlebih UNIVERSITAS KATOLIK MUSI CHARITAS K&K_JURNAL MANAJEMEN. VOL. NO. FEBRUARI 2022 dahulu melakukan pre-test pada 30 Uji validitas dilakukan untuk mengukur sah atau valid tidaknya penyataan dalam suatu Hal ini dilihat dengan cara memban- dingkan r hitung dan r tabel. R hitung diperoleh dari pearson correlation, sedangkan r tabel diperoleh dengan menggunakan rumus df = N-2, sehingga pada pre-test, df = 30-2 = 28. Nilai signifikansi 5% sehingga diperoleh nilai r tabel 0. Apabila r hitung lebih besar daripada r tabel maka pernyataan dianggap valid. Dengan uji yang peneliti lakukan pada pretest, didapatkan bahwa semua item pada keempat variabel yang ada di dalam penelitian ini baik itu dependen adalah valid karena semua r hitung lebih besar daripada nilai r tabel. Semua item dalam penelitian ini juga memiliki nilai Cronbach Alpha > 0. 60 yang berarti bahwa semua item di dalam kuisioner adalah reliabel. Analisis statistik deskriptif juga dilakukan untuk meninjau respons dari responden terhadap pernyataan yang ada di dalam Dari hasil analisis statistik deskriptif entertainment social didapatkan bahwa nilai ratarata dari variabel entertainment social adalah 4,24 yang berarti ratarata dari responden setuju terhadap pernyataan-pernyataan yang ada di dalam item ini. Pada hasil intense personal, nilai ratarata untuk variabel intense personal 3,44 ISSN 2808-4667 kebanyakan responden merasa netral dan hampir setuju terhadap pernyataan yang ada di dalam variabel ini. Borderline pathological memiliki nilai rata-rata 2,53 yang berarti sebagian besar responden merasa kurang setuju dengan pernyataan-pernyataan yang ada di dalam variabel ini. Lalu untuk perilaku konsumtif memiliki nilai rata-rata 3,01 yang berarti responden merasa netral terhadap pernyataan-pernyataan yang ada di dalam variabel ini. Pada uji asumsi klasik, peneliti melakukan uji normalitas, multikolineritas, dan heteroskedastisitas. Hasil pengujian norma litas menunjukkan bahwa nilai exact sig. 0,175 yang > 0. 05 sehingga disimpulkan data berdistribusi normal. Lalu pada uji multikolineritas, didapatkan nilai tolerance untuk variabel Entertainment social (X. 794, variabel Intense Personal (X. variabel Borderline pathological (X. 668, sedangkan nilai VIF yang diperoleh untuk variabel Entertainment social (X. Intense Personal (X. 804, dan variabel Borderline pathological (X. sebesar Artinya, semua variabel independen bebas dari masalah tolerance Ou 0. 1 dan VIF O 10. Hasil uji heteroskedastisitas menunjukkan bahwa semua variabel yang ada di dalam penelitian ini bebas dari heteroskedastisitas karena semua variabel memiliki nilai Sig > 0. UNIVERSITAS KATOLIK MUSI CHARITAS K&K_JURNAL MANAJEMEN. VOL. NO. FEBRUARI 2022 Setelah uji asumsi klasik, peneliti kemudian melakukan analisis regresi linear berganda dan mendapatkan persamaan sebagai Y = 6. 795 Ae 0. 081X1 0. 276X2 0. 812X3 e Dari persamaan di atas, dapat ditarik Nilai Konstanta () bernilai Hal variabel independen (X) yang terdiri dari Entertainment Social. Intense Personal, dan Borderline Pathological di Celebrity Worship bernilai konstan, maka variabel dependen (Y), yakni Perilaku Konsumtif Remaja Penggemar Girl Group TWICE bernilai Nilai koefisien variabel entertainment social (X. 081 artinya jika variabel entertainment social (X. mengalami kenaikan sebesar 1, maka akan menurunkan Perilaku Konsumtif (Y) sebesar -0. Nilai koefisien variabel intense personal (X. artinya jika variabel intense personal (X. mengalami kenaikan sebesar 1, maka akan meningkatkan Perilaku Konsumtif (Y) sebesar 0. Nilai koefisien variabel borderline (X. 812 artinya jika variabel borderline path-o logical (X. mengalami kenai12 ISSN 2808-4667 kan sebesar 1, maka akan meningkatkan Perilaku Konsumtif (Y) sebesar 0. Untuk hasil uji F, didapatkan hasil bahwa Sig 0. 000 yang lebih kecil dari 0. 05, sehingga hipotesis diterima, yang artinya Entertainment Social. Intense Personal, dan Borderline Pathological di dalam Celebrity Worship secara positif dan signifikan terhadap perilaku konsumtif remaja penggemar girl group TWICE. Dan hasil uji koefisien determinasi menunjukkan bahwa nilai Adjusted R square sebesar 403 . 3%). Sehingga, variabel personal, dan borderline pathological di dalam Celebrity Worship mempengaruhi perilaku konsumtif remaja penggemar girl group TWICE sebesar 0. 3%), 7% lainnya dipengaruhi oleh variabel lain di luar variabel yang diteliti. Berikut hasil uji t yang telah Pengaruh Entertainment Social dalam Celebrity Worship ter hadap Perilaku Konsumtif Remaja Penggemar Girl group TWICE. Pada variabel ini, nilai Sig. didapat adalah sebesar 0. yang di mana angka tersebut > Sehingga, hipotesis pertama (H. yang berbunyi AuEntertainment social dalam UNIVERSITAS KATOLIK MUSI CHARITAS K&K_JURNAL MANAJEMEN. VOL. NO. FEBRUARI 2022 Celebrity Worship memiliki pengaruh yang positif dan signifikan terhadap perilaku konsumtif remaja penggemar girl group TWICEAy, ditolak. Pengaruh Intense Personal Celebrity Worship terhadap Perilaku Konsumtif Remaja Penggemar Girl group TWICE. Pada variabel ini, nilai Sig. yang didapat adalah 003 yang di mana Sehingga, hipotesis kedua (H. AuIntense Personal Celebrity Worship memiliki pengaruh yang positif dan signifikan terhadap perilaku konsumtif remaja penggemar girl group TWICEAy, diterima. Pengaruh Borderline Pathological dalam Celebrity Worship terhadap Perilaku Konsumtif Remaja Penggemar Girl group TWICE. Pada variabel ini, nilai Sig. yang didapat adalah 000 yang di mana Sehingga, hipotesis ketiga (H. yang berbunyi AuBorderline Pathological dalam Celebrity Worship memiliki pengaruh yang positif dan signifikan terhadap perilaku konsumtif remaja penggemar girl group TWICEAy, diterima. KESIMPULAN Berdasarkan pembahasan yang telah dibahas maka simpulan yang dapat ditarik ISSN 2808-4667 dari penelitian ini, terdapat pengaruh yang negatif dan tidak signifikan antara variabel entertainment social di dalam celebrity worship terhadap perilaku konsumtif remaja penggemar girl group TWICE. Terdapat pengaruh yang positif dan signifikan antara variabel intense personal di dalam celebrity worship terhadap perilaku konsumtif remaja penggemar girl group TWICE. Terdapat pengaruh yang positif dan signifikan antara variabel borderline pathological di dalam celebrity worship terhadap perilaku konsumtif remaja penggemar girl group TWICE. Berdasarkan hasil penelitian ini, celebrity worship dapat menjadi bahan pertimbangan bagi para pemasar dalam menentukan target pasar, karena individu yang melakukan celebrity worship dapat menjadi calon konsumen yang potensial sebab mereka akan menunjukkan sikap yang positif dan antusias terhadap apa pun yang terkait dengan idola favorit TWICE menjadi girl group dengan penjualan tertinggi album tertinggi di mana hal ini dapat terjadi karena dukungan dari penggemar mereka (ONCE). Hal ini dapat menjadi pertimbangan oleh para pemasar lainnya untuk memilih idola dengan popularitas yang tinggi sebagai brand ambassador atau model iklan karena idola yang populer memiliki banyak anggota di dalam fandomnya dan seorang penggemar senang berbagi informasi terbaru mengenai UNIVERSITAS KATOLIK MUSI CHARITAS K&K_JURNAL MANAJEMEN. VOL. NO. FEBRUARI 2022 idola favorit ke penggemar lainnya, sehingga mereka akan ikut meramaikan sebuah brand apabila brand tersebut bekerja sama dengan idola favoritnya dan hal ini dapat digunakan sebagai alat bantu promosi untuk menyebarkan informasi mengenai produk yang dipasarkan secara lebih luas. Sebaiknya pemasar juga memberikan bonus di setiap pembelian produk berupa barang yang berhubungan dengan idola . eperti photocar. agar para penggemar merasa terpacu untuk melakukan Kuesioner penelitian ini dibagikan secara online sehingga ada kemungkinan bahwa responden kurang memahami pernyataan dari kuisioner yang peneliti bagikan. Penelitian ini hanya menggunakan 3 variabel independen yang merupakan pecahan dimensi dari celebrity worship, tanpa memasukan variabel yang memungkinkan dapat membuat hasil lebih baik, di mana dari hasil koefisien determinasi, ada variabel lain di luar tiga variabel . ntertainment social, intense personal, dan borderline pathologica. yakni 7% yang mempengaruhi perilaku konsumtif. Untuk penelitian selanjutnya dapat menggunakan wawancara kuisioner untuk mendapatkan hasil yang berbeda dan lebih akurat. Bagi penelitian selanjutnya diharapkan dapat mem berikan tambahan variabel yangmendukung sehingga dapat mem14 ISSN 2808-4667 berikan gambaran baru, khususnya mengenai hubungan celebrity worship dan teori pemasaran. DAFTAR PUSTAKA