JURNAL DEVELOPMENT VOL. 13 NO. 1 JUNI 2025 pISSN: 2338-6746 eISSN: 2615-3491 MODEL DAN STRATEGI INKLUSI BUDAYA SUKU ANAK DALAM DI ERA MODERN DI PROVINSI JAMBI Siswoyo . Universitas Muhammadiyah Jambi . siswoyosis91@gmail. Ahmad Soleh2 Universitas Jambi . soleh@yahoo. Esti susilawati . Universitas Muhammadiyah Jambi . susilawati@umjambi. Hendra Kurniawan . Universitas Muhammadiyah Jambi . kurniawan@umjambi. Yunie Rahayu . Universitas Muhammadiyah Jambi . rahayu@umjambi. ABSTRAK Moderenisasi peradapan dunia berjalan dengan begitu cepat dan dinamis, pesatnya perkembangan tersebut akan memberikan efek pada tatanan kehidupan umat manusia. Kondisi ini berdampak pada Suku Anak Dalam (SAD) sehingga semakin tertinggal karena ketidakmampuannya dalam mengikuti perubahan yang Fokus penelitian ini membahas masalah internal dan eksternal yang menjadi faktor penghambat dan pendorong dalam proses inklusi budaya pada Suku Anak Dalam (SAD). Selanjutnya menganalisis strategi dan kebijakan agar proses inklusi budaya pada kehidupan Suku Anak Dalam (SAD) dapat dilaksanakan dengan baik. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif yang bersifat eksploratif. Pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan pendekatan purposive sampling dan snowball sampling dengan metode wawancara secara mendalam, kuisioner, dan dokumentasi pada responden dan yang terkait pada secara langsung. Ruang lingkup objek dalam penelitian ini dibatasi pada satu kelompok Suku Anak Dalam (SAD) dan masyarakat yang berdomisili di Desa Dwi Karya Bakti. Kec. Pelepat. Kabupaten Bungo. Pemilihan objek pada kelompok Suku Anak Dalam (SAD) ini, didasarkan pada prilaku kehidupan Suku Anak Dalam (SAD) yang sudah beralih dari kehidupan primitive ke kehidupan pra modern dan telah beragama . namun kehidupannya belum modern. Ruang lingkup dalam penelitian ini mencakup aspek ekonomi, kehidupan sosial dan keagamaan. Alat analisis menggunakan analisis deskriptif kualitatif dan analisis SWOT. Hasil Penelitian ini menyatakan bahwa Model inklusi sosial untuk Suku Anak Dalam di Desa Dwikarya Bakti harus mencakup pendekatan holistik yang menggabungkan pendidikan, pemberdayaan ekonomi, layanan kesehatan, pelestarian lingkungan, dialog komunitas, kampanye kesadaran budaya, dan penguatan hukum. Dengan kolaborasi multi-pihak dan partisipasi aktif dari komunitas SAD, model ini dapat UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JAMBI Page 45 of 202 JURNAL DEVELOPMENT VOL. 13 NO. 1 JUNI 2025 pISSN: 2338-6746 eISSN: 2615-3491 membantu mengatasi tantangan transisi dan inklusi sosial, memastikan keberlanjutan budaya SAD sambil meningkatkan kesejahteraan dan integrasi sosial mereka dalam masyarakat yang lebih luas. Kata Kunci : Strategi. Inklusi. Suku Anak Dalam. PENDAHULUAN Suku Anak Dalam (SAD), yang juga dikenal sebagai Suku Kubu atau Orang Rimba, merupakan salah satu kelompok masyarakat terasing di Provinsi Jambi. Istilah "Orang Rimba" mulai muncul sekitar tahun 1970 dan kemudian menjadi populer setelah diperkenalkan oleh Departemen Sosial pada tahun 1974 . Berdasarkan pandangan Edwin dan Hagen, pola kehidupan Suku Anak Dalam dapat dikategorikan ke dalam dua tipe, yaitu SAD yang masih hidup secara liar . elum berada. dan SAD yang telah beradaptasi dengan kehidupan yang lebih beradab . idak lia. Hasil pengamatan dan penelitian menunjukkan bahwa terdapat beberapa kelompok Suku Anak Dalam yang telah hidup menetap, memeluk agama, dan mampu membedakan perilaku yang baik dan buruk dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Salah satu contohnya adalah kelompok SAD yang tinggal di Desa Dwi Karya Bakti. Kecamatan Pelepat. Kabupaten Bungo. Kelompok ini terdiri atas 92 jiwa, yang terbagi menjadi 39 kepala keluarga, berada di bawah kepemimpinan Temenggung Hari, sebutan untuk kepala rombong Suku Anak Dalam yang berada Tantangan mendasar yang dihadapi oleh Suku Anak Dalam terletak pada bagaimana proses inklusi dapat berjalan di tengah pesatnya perubahan peradaban, sementara kesiapan internalnya untuk beradaptasi masih sangat terbatas. Kondisi ini diperburuk oleh faktor eksternal berupa persepsi masyarakat yang cenderung memandang Suku Anak Dalam (SAD) sebagai kelompok yang belum setara dan sering kali memarjinalkan keberadaanya. Transformasi yang dimaksud mencakup perubahan menyeluruh dalam aktivitas sosial. Menurut Himes dan Moore . , perubahan sosial terdiri atas tiga dimensi utama, yaitu dimensi struktural, kultural, dan instruksional. Ketiga dimensi ini berkembang melalui inovasi kebudayaan . aktor interna. , difusi budaya . aktor eksterna. , dan integrasi, yang saling berinteraksi dan menghasilkan kebudayaan baru. Sejalan dengan pandangan UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JAMBI Page 46 of 202 JURNAL DEVELOPMENT VOL. 13 NO. 1 JUNI 2025 pISSN: 2338-6746 eISSN: 2615-3491 tersebut, transformasi yang terjadi pada Suku Anak Dalam disebabkan oleh masuknya pengaruh budaya luar yang membawa kemajuan, termasuk ilmu Penelitian ini memiliki signifikansi penting karena dapat menjadi landasan dalam proses inklusi budaya Suku Anak Dalam menuju kehidupan yang lebih modern. Penelitian didasarkan pada dua teori utama yaitu teori inklusi sosial dan teori moderenisasi. Kedua teori tersebut menjelaskan bahwa untuk menurunkan kesenjangan inklusi dan budaya menuju moderenisasi budaya diperlukan keterlibatan semua kelompok, nilai dan sistem sosial. Disamping itu dalam banyak penelitian hanya membahas tentang Suku Anak Dalam (SAD) dan sebagian besar masih bersifat eksploratif dan belum mengarah pada pengembangan model atau strategi kebijakan yang konkret. Seperti penelitian yang dilakukan oleh beberapa peneliti . berfokus pada budaya dan perilaku dalam kehidupan SAD. Sementara itu, kajian yang dilakukan oleh Hakim et al. Ahad. Ahat & Auliahadi. serta Hakim. Yanuarti, & Warsah lebih menyoroti aspek keagamaan dalam kehidupan Suku Anak Dalam . , 10, 11, . Selanjutnya, penelitian yang dilakukan oleh Nahri Idris. Yanto. Isyaturriyadhah. serta Ridwan & Lesmana membahas isu pemberdayaan Suku Anak Dalam (SAD) . , 14, 15, . Di sisi lain, kajian yang dilakukan oleh Perawati. Haris. Fitri, & Kalsum. serta Izhar & Putri menyoroti masalah kesehatan dan pengobatan yang dihadapi oleh Suku Anak Dalam . , 17, . Meskipun berbagai penelitian tentang Suku Anak Dalam (SAD) telah dilakukan, hingga saat ini belum ada studi yang secara spesifik membahas dan mengeksplorasi kendala yang dihadapi dalam proses inklusi budaya SAD. Oleh karena itu, penelitian ini menjadi sangat penting untuk dilakukan, karena hasilnya dapat menjadi landasan dalam merumuskan strategi yang lebih efektif dan efisien bagi SAD, masyarakat, dan pemerintah. Strategi ini diharapkan dapat mendukung proses inklusi budaya SAD menuju kehidupan yang lebih modern, sejalan dengan upaya mencerdaskan kehidupan UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JAMBI Page 47 of 202 JURNAL DEVELOPMENT VOL. 13 NO. 1 JUNI 2025 pISSN: 2338-6746 eISSN: 2615-3491 METODOLOGI Metode Dan Tehnik Pengumpulan Data Penelitian ini menggunakan metode analisis deskriptif kualitatif yang merupakan pendekatan penelitian yang bertujuan menggambarkan, memahami dan menafsirkan suatu fenomena secara mendalam, berdasarkan persepsi dan pengalaman subjek penelitian. Selanjutnya penelitian ini menggunakan teknik pengumpulan data dengan metode purposive sampling dan snowball sampling. Objek penelitian mencakup tiga kelompok pemangku kepentingan, yaitu komunitas Suku Anak Dalam (SAD) dan masyarakat di Desa Dwi Karya Bakti, pemerintah daerah (Dinas Sosial Kabupaten Muara Bung. , serta pendamping SAD dari LSM Pundi Sumatera. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan Penelitian ini memanfaatkan data primer dan sekunder, di mana data primer diperoleh melalui kuesioner, wawancara, dan dokumentasi dengan pendekatan eksploratif. Instrumen penelitian berupa pertanyaan esai yang dirancang untuk mendapatkan penjelasan secara mendalam. Metode Analisis Data Metode analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis deskriptif kualitatif dengan pendekatan eksploratif. Pendekatan ini dipilih untuk menggali dan menjelaskan berbagai permasalahan internal dan eksternal yang dihadapi oleh Suku Anak Dalam (SAD), yang menjadi hambatan dalam proses inklusi Tujuan utamanya adalah untuk memahami faktor-faktor yang menghalangi SAD dalam beradaptasi dan hidup berdampingan secara setara dengan masyarakat umum, seiring dengan perkembangan zaman. Objek Dan Ruang Lingkup Penelitian Objek utama penelitian ini adalah kelompok Suku Anak Dalam (SAD) dan masyarakat yang tinggal di Desa Dwi Karya Bakti. Dinas Sosial Kabupaten Bungo, dan LSM Pundi Sumatera. Pemilihan objek penelitian ini didasarkan pada beberapa pertimbangan: pertama, kelompok SAD ini telah melakukan transisi dari pola hidup primitif ke tradisional. SAD sudah memeluk agama Islam . SAD menunjukkan keinginan untuk memperbaiki kehidupannya, yang tercermin dalam keterbukaan dalam berinteraksi. UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JAMBI Page 48 of 202 JURNAL DEVELOPMENT VOL. 13 NO. 1 JUNI 2025 pISSN: 2338-6746 eISSN: 2615-3491 Alat Analisis Data Untuk menjawab permasalahan pertama, yang bertujuan menganalisis dan mengeksplorasi permasalahan internal dan eksternal yang dihadapi oleh Suku Anak Dalam (SAD) dalam proses inklusi budaya, penelitian ini menggunakan analisis deskriptif kualitatif. Analisis ini akan mengungkapkan data dan fakta mengenai berbagai permasalahan yang menjadi hambatan dalam proses inklusi budaya pada Suku Anak Dalam (SAD), serta strategi-strategi yang dapat mempercepat proses inklusi tersebut. Untuk menjawab pertanyaan kedua, yang berfokus pada menganalisis strategi dan kebijakan dalam mendukung inklusi budaya pada kehidupan Suku Anak Dalam (SAD), penelitian ini menggunakan alat analisis SWOT. Analisis SWOT akan diterapkan untuk mengembangkan solusi atas permasalahan yang dihadapi dengan mempertimbangkan faktor Strengths (S). Weaknesses (W). Opportunities (O), dan Threats (T) secara sistematis. Pendekatan ini bertujuan untuk mengidentifikasi langkah-langkah yang dapat membantu Suku Anak Dalam (SAD) dalam proses inklusi budaya, sehingga dapat mencapai kehidupan yang lebih baik dan sejajar dengan kehidupan masyarakat umum. HASIL Kondisi Dan Permasalahan Dalam Proses Transisi Dan Inklusi Sosial Pada Suku Anak Dalam Desa Dwikarya Bakti Desa Dwi Karya Bakti, yang terletak di Kecamatan Pelepat. Kabupaten Bungo, merupakan salah satu desa yang induk desanya berada di Dusun Pasir Putih. Kecamatan Pelepat. Sejarah berdirinya Desa Dwi Karya Bakti bermula pada tahun 1955, dengan penduduk aslinya yang berasal dari Suku Anak Dalam (SAD), yang juga dikenal dengan sebutan suku Kubu atau suku Rimba. Mereka awalnya berasal dari daerah Sungai Kelukup atau Lubuk Paying. Pada tahun 1989. Kampung Sungai Kelukup resmi menjadi Desa Dwi Karya Bakti yang dipimpin oleh seorang Temenggung. Seiring dengan perkembangan zaman. Dinas Sosial telah membantu menetapkan pemukiman Suku Anak Dalam di desa ini, dengan luas wilayah mencapai 6,8 hektar, dan mengganti status mereka menjadi Komunitas Adat Terpencil (KAT). Saat ini. Suku Anak Dalam di Desa Dwi Karya UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JAMBI Page 49 of 202 JURNAL DEVELOPMENT VOL. 13 NO. 1 JUNI 2025 pISSN: 2338-6746 eISSN: 2615-3491 Bakti telah mengalami transformasi signifikan dalam fase kehidupan baru, dengan mata pencaharian yang meliputi bercocok tanam, beternak, serta usahausaha lainnya. Hal ini menandakan bahwa Suku Anak Dalam di desa ini telah berkembang menjadi kelompok yang mandiri, menyatu, dan mampu beradaptasi dengan lingkungan sekitar. Dari segi pendidikan. Pundi Sumatera telah berperan penting dalam memfasilitasi layanan identitas kependudukan bagi Suku Anak Dalam (SAD) rombong Hari dan Badai, yang merupakan langkah awal dalam memenuhi persyaratan administratif untuk mengakses layanan pendidikan. Sejak itu, setiap tahun antara 2 hingga 5 anak mendapatkan kesempatan untuk didaftarkan di Sekolah Dasar dan melanjutkan pendidikan formal. Hingga saat ini, sekitar 22 anak SAD di Desa Dwi Karya Bakti sedang menjalani pendidikan mereka. Namun, pandemi COVID-19 telah menambah tantangan besar bagi anak-anak ini, karena sistem pembelajaran dilakukan secara daring. Kendala utama muncul akibat terbatasnya akses terhadap ponsel, karena tidak adanya sumber energi listrik di pemukiman mereka, sehingga menyulitkan pengisian daya baterai ponsel. Mengandalkan panel tenaga surya tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan energi seluruh warga, terutama karena daya yang disimpan sangat tergantung pada kondisi cuaca. Akibatnya, banyak anak SAD terpaksa menumpang di rumah warga desa terdekat untuk mengisi daya ponsel guna keperluan pembelajaran Ketiadaan listrik telah menjadi masalah yang dialami oleh warga Suku Anak Dalam (SAD) selama 8 tahun. Pada tahun 2020, pihak PLN bersama tim teknisnya sempat mengunjungi beberapa warga dan memasang kabel listrik dengan kapasitas 1 ampere di balai pertemuan. Namun, hingga saat ini, ampere tersebut belum berfungsi. Berkat kepedulian Pundi Sumatera, usaha perbaikan dilakukan agar ampere yang terpasang tersebut dapat difungsikan. Setelah mengadakan rapat dengan warga SAD, disepakati bahwa ampere tersebut akan disalurkan ke beberapa fasilitas penting, seperti musholla, rumah belajar, balai pertemuan, dan beberapa rumah warga. Hasilnya, setelah ampere tersebut difungsikan, dampak positif mulai dirasakan. Anak-anak yang sedang bersekolah kini dapat memanfaatkan fasilitas tersebut dengan lebih baik, penggunaan UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JAMBI Page 50 of 202 JURNAL DEVELOPMENT VOL. 13 NO. 1 JUNI 2025 pISSN: 2338-6746 eISSN: 2615-3491 musholla menjadi lebih aktif, dan rumah belajar pun dapat digunakan untuk kegiatan pembelajaran alam pada malam hari. Permasalahan yang dialami warga SAD dalam proses transisi dan inkusi sosial ditinjau dari permasalah internal dan permasalahan eksternal adalah: Permasalahan internal Kurang bersosialisasi dengan masyarakat luar, sehingga mengalami perubahan yang lambat. Hal ini disebabkan oleh kurangnya pengetahuan Suku Anak Dalam (SAD) tentang perkembangan masyarakat lain yang dapat memperkaya kebudayaan mereka sendiri. Mereka cenderung terperangkap dalam kebudayaan mereka yang sudah ada dan pola pikir yang masih bersifat sederhana. Masyarakat SAD masih sangat memegang teguh adat istiadat yang ada, sehingga sulit untuk menerima perubahan atau hal baru yang berkaitan dengan kehidupan sosial. Kecintaan yang berlebihan terhadap adat dan kebiasaan mereka menjadi penghambat dalam proses kemajuan dan adaptasi terhadap perkembangan zaman. Tingkat pendidikan masyarakat SAD yang masih rendah menyebabkan kesulitan dalam menerima hal-hal baru. Pola pikir dan cara pandang mereka yang masih sederhana membuat mereka enggan untuk mengikuti perkembangan dan perubahan yang terjadi di luar komunitas mereka. Adanya kepentingan yang tertanam kuat pada sekelompok orang . ested interes. menyebabkan terhambatnya perubahan. Kelompok-kelompok yang telah menikmati posisi atau kedudukan tertentu cenderung menolak segala bentuk perubahan, karena mereka khawatir perubahan tersebut akan mempengaruhi kedudukan dan status mereka dalam masyarakat. Mereka lebih memilih untuk mempertahankan sistem yang ada demi menjaga keuntungan yang sudah mereka peroleh. Adanya prasangka buruk terhadap unsur budaya dari luar menyebabkan mereka menolak segala bentuk perubahan, meskipun perubahan tersebut dapat membawa dampak positif bagi kehidupan mereka. Ketakutan terhadap pengaruh luar membuat mereka enggan menerima hal-hal baru yang berpotensi untuk meningkatkan kualitas hidup mereka. UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JAMBI Page 51 of 202 JURNAL DEVELOPMENT VOL. 13 NO. 1 JUNI 2025 pISSN: 2338-6746 eISSN: 2615-3491 Pandangan masyarakat SAD yang menganggap bahwa hidup mereka sudah pada hakikatnya buruk dan tidak mungkin diperbaiki lagi menciptakan rasa putus asa dan keputusasaan. Perasaan ini mendominasi, membuat mereka enggan untuk berusaha bangkit dan mencoba hal-hal Sikap pesimis ini menjadi penghambat utama dalam proses perubahan sosial, karena mereka tidak melihat adanya kemungkinan untuk perbaikan atau kemajuan. Terdapat hambatan ideologis karena masyarakat SAD memegang teguh keyakinan dan ideologi yang mereka anut selama ini. Mereka menganggap ideologi tersebut sebagai pedoman hidup yang paling mendasar, sehingga perubahan ideologis dalam kehidupan sosial mereka sulit dilakukan. Keyakinan yang kuat terhadap tradisi dan nilai-nilai yang telah lama dipercaya membuat mereka enggan untuk menerima atau mengadaptasi ideologi baru. Terdapat ketakutan akan terjadinya kegoyahan dalam integrasi sosial yang merupakan harapan dan cita-cita masyarakat SAD. Oleh karena itu, mereka cenderung menolak segala hal baru untuk menghindari gangguan atau perubahan yang dapat mengancam kesatuan dan keharmonisan dalam komunitas mereka. Keinginan untuk mempertahankan integrasi yang sudah ada membuat mereka enggan menerima perubahan yang dianggap dapat merusak stabilitas sosia. Perilaku masyarakat SAD yang sangat bergantung pada bantuan eksternal untuk menopang kehidupan sehari-hari menjadi salah satu hambatan dalam proses perubahan. Ketergantungan ini mengurangi inisiatif untuk mandiri dan mengembangkan potensi diri, sehingga memperlambat kemampuan mereka untuk beradaptasi dengan perubahan yang ada. Sebagian Komunitas Adat Terpencil (SAD) mempertahankan sifat primitif, yang membuat mereka merasa bahwa beberapa program kesehatan yang diperkenalkan tidak sesuai dengan norma dan budaya mereka. Ketidaksesuaian ini menyebabkan penolakan terhadap intervensi kesehatan tertentu, karena dianggap bertentangan dengan kebiasaan dan nilai-nilai yang telah lama mereka anut. UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JAMBI Page 52 of 202 JURNAL DEVELOPMENT VOL. 13 NO. 1 JUNI 2025 pISSN: 2338-6746 eISSN: 2615-3491 Permasalahan eksternal Program pemberdayaan yang dilaksanakan oleh Dinas Sosial Kabupaten Bungo telah berjalan secara berkesinambungan, namun intensitas pelaksanaannya tidak teratur setiap tahunnya. Hal ini sangat bergantung pada anggaran yang tersedia untuk kegiatan tersebut di Dinas Sosial Kabupaten Bungo, sehingga frekuensi dan kelangsungan program bisa Tenaga pendamping yang tidak berlatar belakang pendidikan yang sesuai, misalnya bidang kesehatan sehingga harus melatih khusus tentang pelatihan pendampingan bidang kesehatan. Sarana dan prasarana yang masih terbatas menjadi hambatan dalam pelaksanaan kegiatan, seperti belum tersedianya fasilitas cuci tangan, peralatan dapur sehat, tempat sampah, lemari pakaian, dan posyandu sebagai akses pelayanan kesehatan. Keterbatasan ini menyulitkan upaya untuk mendorong perubahan perilaku sehat di masyarakat, karena kurangnya infrastruktur yang mendukung kebiasaan hidup sehat secara Dukungan dari masyarakat lokal atau dusun yang tinggal di kawasan tersebut masih belum menunjukkan perubahan signifikan menuju kehidupan yang lebih baik, seperti dalam hal perubahan perilaku hidup Terdapat pula konflik-konflik yang menghambat integrasi dan perubahan perilaku sehat, salah satunya adalah pandangan negatif masyarakat lokal terhadap masyarakat SAD, seperti anggapan bahwa mereka memiliki kebiasaan buruk, seperti bau badan, yang menciptakan kesenjangan sosial dan menghalangi upaya perubahan perilaku yang Petugas kesehatan, kader, dan LSM sering menghadapi hambatan dalam memberikan pelayanan kesehatan kepada Komunitas Adat Terpencil (SAD), terutama terkait dengan keterbatasan dana, sumber daya manusia (SDM), dan waktu. Selain itu, koordinasi antara Dinas Kesehatan Provinsi Jambi dan Dinas Kesehatan Kabupaten juga menjadi masalah, karena keduanya sering turun ke lapangan pada waktu yang tidak bersamaan. UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JAMBI Page 53 of 202 JURNAL DEVELOPMENT VOL. 13 NO. 1 JUNI 2025 pISSN: 2338-6746 eISSN: 2615-3491 sehingga mengurangi efektivitas pelayanan kesehatan yang dapat diberikan kepada masyarakat SAD. Masih minimnya dukungan Puskesmas melakukan pembinaan terhadap masyarakat SAD Kurangnya dukungan yang kuat dari tokoh agama atau pendamping yang memiliki pemahaman mendalam tentang pentingnya perilaku hidup bersih dan sehat menjadi salah satu hambatan. Tanpa keterlibatan aktif mereka dalam mengedukasi masyarakat, terutama dalam konteks budaya dan nilai-nilai agama, upaya perubahan perilaku sehat akan sulit tercapai. Masyarakat SAD masih bergantung pada program-program yang diberikan, karena seringkali terlalu banyak kegiatan yang dilaksanakan tanpa fokus yang jelas. Hal ini mengakibatkan tidak terjadinya perubahan yang signifikan, karena masyarakat cenderung menunggu bantuan eksternal tanpa ada dorongan untuk berinisiatif atau mandiri dalam mengembangkan kehidupan mereka Sementara itu faktor pendukung keberhasilan proses transisi dan inkusi sosial ditinjau dari pendukung internal dan pendukung eksternal adalah Pendukung Internal Adanya adat dan kebiasaan yang tidak efektif lagi untuk dilaksanakan oleh masyarakat SAD saat ini, misalnya dalam pemenuhan kebutuhan pokok. Selama ini mereka memenuhi kebutuhan pokok dengan cara berburu, dll, namun seiring dengan berkurangnya jumlah hutan maka kebutuhan pokoknya sulit terpenuhi dan akhirnya akan mengalami krisis bahan makanan. Kondisi ini yang memaksa mereka harus berubah. Pendukung Eksternal Terdapat kesungguhan dari pemerintah maupun masyarakat dalam pelaksanaan program pemberdayaan Komunitas Adat Terpencil (SAD) untuk membantu dalam proses memandirikan komunitas tersebut. Komitmen yang kuat dari berbagai pihak sangat penting untuk memastikan bahwa program pemberdayaan tidak hanya bersifat sementara, tetapi dapat memberikan dampak jangka panjang dalam meningkatkan kemandirian masyarakat SAD. Terjalinnya komunikasi yang baik dan melibatkan Komunitas Adat Terpencil UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JAMBI Page 54 of 202 JURNAL DEVELOPMENT VOL. 13 NO. 1 JUNI 2025 pISSN: 2338-6746 eISSN: 2615-3491 (SAD) secara partisipatif dalam pelaksanaan kegiatan pemberdayaan kesehatan merupakan faktor penting dalam kesuksesan program. Keterlibatan aktif komunitas dalam setiap tahap kegiatan, mulai dari perencanaan hingga evaluasi, dapat meningkatkan rasa memiliki dan memperkuat keberhasilan perubahan perilaku sehat di kalangan masyarakat SAD Tingkat partisipasi masyarakat sangat mempengaruhi keberhasilan suatu program, terutama dalam konteks ruang lingkup yang dituju. Partisipasi yang tinggi dari masyarakat akan meningkatkan peluang keberhasilan program, karena masyarakat merasa memiliki dan terlibat dalam proses Sebaliknya, rendahnya partisipasi dapat menghambat pencapaian tujuan program, karena kurangnya dukungan dan komitmen dari masyarakat dalam pelaksanaannya. Dari uraian di atas, inisiatif dan kemampuan swadaya warga SAD, serta kemampuan mereka dalam mempertimbangkan hal-hal penting, merupakan indikator keberhasilan dan kemandirian suatu komunitas. Hal ini menunjukkan bahwa mereka telah mampu berdaya dan mengoptimalkan peluang meskipun dalam keterbatasan. Dengan memberikan ilmu dan keterampilan kepada warga SAD, ini merupakan langkah awal yang krusial untuk memastikan bahwa mereka dapat bertahan dan berkembang, bahkan ketika sumber daya alam seperti hutan tidak lagi dapat memenuhi kebutuhan mereka di masa depan. Strategi Atau Model Terbaik Dalam Membantu Mengatasi Transisi Dan Inklusi Sosial Pada Suku Anak Dalam Di Desa Dwikarya Bakti Upaya transisi dan inklusi sosial bagi Suku Anak Dalam (SAD) di Desa Dwi Karya Bakti yang belum berjalan optimal perlu dianalisis dengan mengidentifikasi faktor-faktor internal dan eksternal yang memengaruhi. Faktor internal terdiri dari kekuatan . dan kelemahan . , sementara faktor eksternal meliputi peluang . dan ancaman . Selanjutnya, setiap faktor diberi skor dan bobot untuk menghitung total nilai yang akan membantu dalam merumuskan strategi yang lebih efektif. Berikut adalah analisis SWOT kuantitatif yang dapat digunakan untuk menggambarkan kondisi tersebut: UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JAMBI Page 55 of 202 JURNAL DEVELOPMENT VOL. 13 NO. 1 JUNI 2025 pISSN: 2338-6746 eISSN: 2615-3491 Tabel 1 SWOT Strenght sudah mulai hidup menetap telah memiliki legalitas diri tidak lagi menganggap hutan sebagai sumber kehidupan telah memanfaatkan tenaga kesehatan ketika berobat Total Weakness infrastruktur jalan rusak sarana prasarana MCK kurang memadai masih tergantung pada program pemerintah pendidikan rendah masih kuat memegang adat istiadat kurangnya berhubungan dengan masyarakat lain Total Opportunity Adanya kesungguhan dari pemerintah dan masyarakat dalam pelaksanaan program pemberdayaan SAD Tingginya kepedulian lembaga non pemerintah terhadap proses transisi suku SAD Adanya jadwal rutin pemeriksaan kesehatan bagi SAD Total Threat pelaksanaan program pemberdayaan tidak menentu mengikuti anggaran yang ada rendahnya dukungan masyarakat lokal terhadap upaya transisi SAD ketidaksesuaian pendidikan tenaga pendamping misalnya tenaga Total Skor Bobot 0,29 0,29 0,18 0,25 1,00 Total 2,29 2,29 0,89 1,75 7,21 0,19 0,16 0,14 0,19 0,19 0,14 1,00 1,49 1,14 0,84 1,49 1,49 0,84 7,28 0,33 2,33 0,33 0,33 1,00 2,33 2,33 7,00 0,40 3,20 0,35 2,45 0,25 1,25 = Selisih Strenght (Kekuata. Ae Weakness (Kelemaha. = 7,21 Ae 7,28 = -0,07 = Selisih Opportunity . Ae Threats (Ancama. = 7,00 Ae 6,90 = 0,10 UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JAMBI Page 56 of 202 JURNAL DEVELOPMENT VOL. 13 NO. 1 JUNI 2025 pISSN: 2338-6746 eISSN: 2615-3491 Grafik 1 SWOT Karena nilai x menunjukkan angka negatif dan y positif, posisi ini berada pada kuadran II. Oleh karena itu, strategi yang direkomendasikan adalah diversifikasi, yang mengindikasikan pentingnya penerapan strategi pengembangan lebih lanjut dari yang telah diterapkan sebelumnya. Terkait dengan model yang paling efektif dalam mendukung proses transisi serta inklusi sosial pada Suku Anak Dalam (SAD) di Desa Dwi Karyabakti, beberapa strategi yang tepat untuk diimplementasikan Menyusun Roadmap Pemberdayaan Suku Anak Dalam (SAD) sebagai landasan bagi semua pihak yang terlibat, guna memperjelas arah pengembangan kegiatan serta memastikan kontribusi masing-masing pihak dalam mendukung keberhasilan program tersebut. Memberikan kesetaraan hak, pengakuan, dan penerimaan dari semua pihak. UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JAMBI Page 57 of 202 JURNAL DEVELOPMENT VOL. 13 NO. 1 JUNI 2025 pISSN: 2338-6746 eISSN: 2615-3491 serta memastikan keterlibatan masyarakat KAT, khususnya suku Anak Dalam, dalam berbagai proses pembangunan baik di tingkat desa maupun daerah. Hal ini diharapkan dapat menjadi terobosan baru dalam konsep pembangunan yang Mengembangkan kegiatan usaha produktif untuk meningkatkan pendapatan masyarakat KAT Suku Anak Dalam, seperti melalui budidaya ikan lele dan nila, serta pengolahan ikan asap, sebagai alternatif sumber ekonomi yang Memfasilitasi anak-anak usia sekolah untuk mengakses pendidikan formal dan mendukung kelangsungan pendidikan mereka dengan mencari dukungan beasiswa, khususnya bagi anak-anak KAT Suku Anak Dalam. Hal ini dapat dilakukan melalui program kolaboratif dengan lembaga pemerintah dan swasta, seperti BAZNAS, untuk memastikan kesempatan pendidikan yang lebih baik. Menyediakan anggaran yang memadai untuk pembangunan akses jalan ke wilayah masyarakat KAT Suku Anak Dalam, sehingga memungkinkan interaksi yang lebih terbuka antara masyarakat SAD dengan komunitas luar, serta meningkatkan aksesibilitas dan mobilitas Suku Anak Dalam. KESIMPULAN Model inklusi sosial untuk Suku Anak Dalam di Desa Dwikarya Baktiharus mencakup pendekatan holistik yang menggabungkan pendidikan, pemberdayaan ekonomi, layanan kesehatan, pelestarian lingkungan, dialog komunitas, kampanye kesadaran budaya, dan penguatan hukum. Dengan kolaborasi multi-pihak dan partisipasi aktif dari komunitas SAD, model ini dapat membantu mengatasi mengatasi tantangan transisi dan inklusi sosial, memastikan keberlangsungan budaya SAD sambil meningkatkan kesejahteraan dan integrasi sosial mereka dalam masyarakat yang lebih luas. SARAN