JURNAL BASICEDU Volume 9 Nomor 6 Tahun 2025 Halaman 1700 - 1706 Research & Learning in Elementary Education https://jbasic. org/index. php/basicedu Analisis Profesionalisme Guru Pendidikan Agama Islam dalam Menghadapi Tantangan di Era Society 5. Shodikin1A. Moh. Gusnur Wahid2. Damanhuri3 STAI Darussalam Lampung. Indonesia1,2,3 E-mail: shodikin9391@gmail. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mereview dan menganalisis secara komprehensif konsep profesionalisme Guru Pendidikan Agama Islam (PAI) dalam menghadapi tantangan Era Society 5. 0, yang didahului Revolusi Industri 4. Era ini menuntut pergeseran paradigma pendidikan menjadi serba pragmatis, otomatis, dan teknologis. Metode yang digunakan adalah library research atau kajian pustaka dengan pendekatan kualitatif deskriptif. Sumber data dianalisis menggunakan content analysis . nalisis is. Hasil review menunjukkan bahwa profesionalisme Guru PAI di Era Society 5. 0 tidak hanya didasarkan pada pemenuhan empat kompetensi standar . edagogik, profesional, kepribadian, dan sosia. sesuai peraturan yang berlaku, tetapi juga harus mencakup penguasaan materi PAI terintegrasi. Lebih dari itu. Guru PAI dituntut untuk menjadi capable, innovator, dan developer dalam pembelajaran. Secara spesifik, profesionalisme di era ini harus berfokus pada pendidikan karakter, moral, dan keteladanan . untuk menanggulangi dampak negatif kemajuan teknologi. Peningkatan kualitas pembelajaran PAI dicapai melalui interaksi intensif, pemanfaatan sumber belajar digital, dan pengembangan kompetensi abad ke-21 . eperti educational competence dan technological commercializatio. Guru PAI Era 5. 0 berperan sebagai inovator spiritual berbasis digital yang mampu menjembatani nilai-nilai Islam dengan teknologi. Profesionalismenya tercermin melalui kemampuan menyampaikan ajaran Islam dengan metode modern, mengoptimalkan teknologi positif, dan membangun generasi Muslim yang berakhlak mulia serta adaptif. Kata Kunci: Profesionalisme. Guru PAI. Era Society 5. Abstract This study aims to comprehensively review and analyze the concept of Islamic Religious Education (PAI) teacher professionalism in facing the challenges of the Society 5. 0 era, preceded by the Industrial Revolution 4. This era demands a paradigm shift in education towards a pragmatic, automated, and technological one. The method used was library research with a descriptive qualitative approach. Data sources were analyzed using content analysis. The review results indicate that Islamic Religious Education (PAI) teacher professionalism in the Society 5. 0 era is not only based on fulfilling the four standard competencies . edagogical, professional, personality, and socia. as per applicable regulations, but must also encompass mastery of integrated Islamic Religious Education (PAI) material. Furthermore. Islamic Religious Education (PAI) teachers are required to be capable, innovators, and developers in learning. Specifically, professionalism in this era must focus on character education, morals, and role models . to mitigate the negative impacts of technological advancement. Improving the quality of Islamic Religious Education (PAI) learning is achieved through intensive interaction, the use of digital learning resources, and the development of 21st-century competencies . uch as educational competence and technological commercializatio. PAI teachers in the 5. 0 Era serve as digital-based spiritual innovators capable of bridging Islamic values with technology. Their professionalism is reflected in their ability to convey Islamic teachings using modern methods, optimize positive technology, and build a generation of Muslims with noble and adaptive morals. Keywords: Professionalism. Islamic Religious Education Teacher Professionalism. Society 5. 0 Era Copyright . 2025 Shodikin. Moh. Gusnur Wahid. Damanhuri A Corresponding author : Email : shodikin9391@gmail. DOI : https://doi. org/10. 31004/basicedu. ISSN 2580-3735 (Media Ceta. ISSN 2580-1147 (Media Onlin. Jurnal Basicedu Vol 9 No 6 Tahun 2025 p-ISSN 2580-3735 e-ISSN 2580-1147 1701 Analisis Profesionalisme Guru Pendidikan Agama Islam dalam Menghadapi Tantangan di Era Society 0 Ae Shodikin. Moh. Gusnur Wahid. Damanhuri DOI: https://doi. org/10. 31004/basicedu. PENDAHULUAN Pendidikan adalah tonggak perkembangan sebuah bangsa, melalui pendidikan yang berkualitas tentu berkorelasi dengan daya saing sebuah bangsa. Salah satu elemen penting dalam pendidikan adalah ketersediaan tenaga guru. Sebagai bagian dari elemen penting dalam dunia pendidikan, profesionalitas peran guru dalam proses pembelajaran, pengajaran dan pendidikan memiliki pertalian dengan peningkatan mutu pendidikan. Menanggapi kondisi tersebut, telah ditempuh berbagai upaya pembenahan sistem pendidikan dan perangkatnya di Indonesia terus dilakukan. Akibatnya muncul beberapa peraturan pendidikan untuk saling melengkapi dan menyempurnakan peraturan- peraturan yang sudah tidak relevan lagi dengan kebutuhan saat ini. Termasuk memberlakukannya UU No 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional UU No. 14 Tahun 2014 tentang Guru dan Dosen. Salah satu persyaratan yang harus dimiliki oleh seorang guru / pendidik agar dapat bekerja secara profesional adalah kemampuan guru dalam menguasai materi. Kemampuan guru dalam menguasai materi ini dalam permendiknas nomor 16 tahun 2007 tentang kualifikasi pendidik dan tenaga kependidikan merupakan bahagian dari kompetensi profesional. Pada permen tersebut dijelaskan bahwa salah satu kompetensi profesional yang wajib dikuasai oleh guru berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 16 Tahun 2007 tentang Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Guru adalah menguasai materi struktur, konsep, dan pola pikir keilmuan yang mendukung mata pelajaran yang diampu. Perlu ditegaskan bahwa sebagian besar penelitian terdahulu hanya membahas profesionalisme guru secara umum atau dalam konteks era 4. 0, sedangkan artikel ini fokus pada penguatan profesionalisme guru PAI yang mengintegrasikan nilai-nilai spiritual dengan kecakapan teknologi dalam konteks Society 5. Secara teoritis, guru PAI idealnya menjadi teladan moral dan inovator pembelajaran digital, tetapi kenyataannya masih banyak guru yang belum mampu memanfaatkan teknologi secara maksimal atau menerapkan pendekatan pembelajaran abad ke-21. Interelasi kemajuan abad 21 secara psikologis merubah cara pandang siswa dan guru dalam kehidupan mereka masing-masing. Demikian pula masyarakat sebagai stakeholder pendidikan, mereka telah menyatu dengan masyarakat abad 21. Interkoneksi segala kebutuhan dan hidup manusia masa kini yang serba pragmatis, automatic, dan teknologis serta saling terhubung dan mengglobal, menstimulasi tuntutan pendidikan yang dijalankan oleh guru dan sekolah sejalan dengan kemajuan abad 21. Keadaan tersebut melecut kompetisi ketat dalam kehidupan global (Nadia and Waqfin 2. Menurut Syamsul MaAoarif, kondisi pendidikan Islam saat ini berada dalam keadaan yang sangat Dunia pendidikan Islam mengalami kemunduran yang cukup serius dan tertinggal jauh dibandingkan dengan pendidikan di Barat. Kejayaan seperti pada masa keemasan Islam di Andalusia dan Baghdad ketika pendidikan Islam menjadi pusat peradaban dalam bidang budaya, seni, dan ilmu pengetahuan kini telah memudar. Sebaliknya, pendidikan Islam masa kini justru cenderung mengikuti dan bergantung pada Barat. Dengan dominasi ilmu pengetahuan yang dikuasai oleh negara-negara maju, bangsa-bangsa Muslim masih terus bergantung pada dunia Barat dalam berbagai aspek kehidupan, seperti pertahanan dan persenjataan, komunikasi dan informasi, ekonomi, perdagangan, pendidikan, serta pengembangan ilmu pengetahuan (Aziz and Zakir 2. Sebelum Era Society 5. 0 sudah didahului dengan Era Revolusi Industri 4. elanjutnya: Era 4. membawa dampak yang tidak sederhana. Ia berdampak pada seluruh aspek kehidupan manusia. Termasuk dalam hal ini adalah pendidikan. Era ini ditandai dengan semakin sentralnya peran teknologi cyber dalam kehidupan manusia. Maka tak heran jika dalam dunia pendidikan muncul istilah AuPendidikan 4. 0Ay. Pendidikan 0 (Education 4. adalah istilah umum digunakan oleh para ahli pendidikan untuk menggambarkan berbagai cara untuk mengintegrasikan teknologi cyber baik secara fisik maupun tidak ke dalam pembelajaran. Ini adalah lompatan dari pendidikan 3. Pendidikan 4. 0 adalah fenomena yang merespons kebutuhan munculnya revolusi Jurnal Basicedu Vol 9 No 6 Tahun 2025 p-ISSN 2580-3735 e-ISSN 2580-1147 1702 Analisis Profesionalisme Guru Pendidikan Agama Islam dalam Menghadapi Tantangan di Era Society 0 Ae Shodikin. Moh. Gusnur Wahid. Damanhuri DOI: https://doi. org/10. 31004/basicedu. industri keempat dimana manusia dan mesin diselaraskan untuk mendapatkan solusi, memecahkan masalah dan tentu saja menemukan kemungkinan inovasi baru. Era Society 5. 0 merupakan istilah baru muncul sebagai imbas dari revolusi 4. Menurut Andreja, revolusi Industri 4. 0 dan Sociey 5. 0 merupakan gerakan nyata kecanggihan perkembangan teknologi dan informasi. Hal ini tentunya menjadikan tantangan tersendiri bagi dunia pendidikan dan bahkan seluruh komponen masyarakat, baik di perdesaan maupun di perkotaan. Society 5. 0 atau masyarakat 5. 0 dapat dipahami sebagai konsep masyarakat yang berfokus kepada rakyat dan berdasarkan kepada teknologi yang dikembangkan oleh Jepang sebagai buah dari perkembangan revolusi industri 4. 0, yang dianggap mampu mengurangi peran dari masyarakat (Shahzad et al. Term pendidik atau guru sesungguhnya tidak pernah berubah baik di masa klasik maupun modern. Meskipun pada era modern, persepsi guru sudah mulai goyang dan rapuh. Di antara mereka, banyak yang hanya menjadi seorang petugas semata yang mendapatkan gaji baik dari negara maupun organisasi swasta dan lebih banyak menyentuh aspek kecerdasan aqliyah . spek kogniti. dan kecerdasan jasmaniah . spek psikomotori. dan kurang memperhatikan aspek kecerdasan lainnya. Diantara dampak negatifnya adalah lahirnya siswa yang cerdas dan terampil tetapi masih banyak yang tawuran, berkelahi, memperkosa, pemaksaan kehendak, dan lainlain (Mursalin 2. Guru adalah pendidik profesional yang mempunyai tugas, fungsi, dan peran penting dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Guru profesional diharapkan berpartisipasi aktif dalam pembangunan nasional untuk mewujudkan insan Indonesia yang bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, unggul dalam ilmu pengetahuan dan teknologi, memiliki jiwa, etis, berbudi pekerti luhur, dan berkepribadian. Tidaklah berlebihan kalau dikatakan bahwa masa depan masyarakat, bangsa, dan negara, sebagian besar ditentukan oleh guru. Oleh sebab itu, profesi guru perlu dikembangkan secara terus menerus dan proporsional sesuai tuntutan jabatan fungsional guru (Nadia and Waqfin 2. Peranan guru memiliki posisi sentral dalam proses pembelajaran. Ada tiga faktor yang memengaruhi implementasi kurikulum, yaitu dukungan kepala sekolah, dukungan rekan sejawat guru, dan dukungan dari dalam guru itu sendiri. Dari tiga faktor tersebut guru merupakan faktor penentu di samping faktor-faktor yang Dengan kata lain keberhasilan implementasi kurikulum tingkat satuan pendidikan sangat ditentukan oleh guru karena bagaimanapun baiknya suatu kurikulum ataupun sarana pendidikan jika gurunya tidak memahami dan melaksanakan tugas dan fungsi secara baik, hasil implementasi kurikulum tidak memuaskan. Oleh karena itu, pengembangan profesionalisme guru merupakan keniscayaan dalam menyukseskan implementasi kurikulum tingkat satuan pendidikan (Randa 2. Terlebih guru-guru di madrasah, sangat perlu meningkatkan profesionalitasnya dan kreativitasnya, dalam menghadapi perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, supaya madrasah keberadaannya di dunia modern masih diperhitungkan, karena madrasah merupakan salah satu solusi membekali peserta didik yang berimbang antara ilmu agama, dan ilmu umum. Oleh sebab itu tulisan ini akan mereview profesionalisme guru Pendidikan Agama Islam di Era Society 5. METODE Jenis Penelitian merupakan penelitian library research atau kajian pustaka menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif, sumber data merupakan kumpulan buku, artikel yang membahas mengenai Profesionalisme Guru Pendidikan Agama Islam di Era Society 5. Tehnik pengumpulan data melakukan identifikasi wacana, jurnal, artikel, buku-buku yang berkaitan dengan judul penelitian, database yang digunakan seperti Google Scholar. DOAJ, atau Scopus analisa data menggunakan analisis Isi atau content analiysis yang digunakan, misalnya mengacu pada model Miles & Huberman. Jurnal Basicedu Vol 9 No 6 Tahun 2025 p-ISSN 2580-3735 e-ISSN 2580-1147 1703 Analisis Profesionalisme Guru Pendidikan Agama Islam dalam Menghadapi Tantangan di Era Society 0 Ae Shodikin. Moh. Gusnur Wahid. Damanhuri DOI: https://doi. org/10. 31004/basicedu. HASIL DAN PEMBAHASAN Setiap ilmuan tentu memiliki tingkat wawasan yang berbeda antara seorang ilmuan dengan ilmuan Meskipun berbeda tetapi secara aturan yang lazim berlaku, wawasan keilmuan seseorang itu terbagi ke dalam dua hal yaitu wawasan keilmuan yang terkait dengan lingkup keilmuan itu sendiri dan wawasan keilmuan yang terkait diluar dari lingkup keilmuan itu. Wawasan keilmuan yang terkait dengan lingkup keilmuan itu sendiri umpamanya seorang ilmuan fikih memahami ilmu ushul fikih, ilmu mashailul fikih, ilmu perbandingan mazhab, dan lain sebagainya. Wawasan kelimuan yang terkait diluar lingkup keilmuan itu umpamanya seorang ilmuan fikih memahami ulumul QurAyan, ulumul hadits, ilmu kalam, ilmu tasauf dan lain sebagainya. Sesuai dengan penjelasan permendikbud no 16 tahun 2007 tentang kompetensi profesional guru, maka seorang guru agama Islam baik yang mengajar di madrasah maupun wajib memiliki wawasan keilmuan yang terkait dengan mata pelajaran pendidikan agama Islam yaitu mata pelajaran Al-Quran-Hadits. Fikih. Akidah-Akhlak, dan Sejarah Islam. Tidak bisa seorang guru pendidikan agama Islam khususnya di madrasah mengatakan bahwa dia hanya guru mata pelajaran Fikih dan tidak perlu mengetahui mata pelajaran Al-Quran-Hadits sebab meskipun pada madrasah ke empat mata pelajaran itu berdiri sendiri namun secara konten di dalam proses pembelajaran ke empat mata pelajaran itu merupakan satu kesatuan yang tak dapat dipisahkan satu dengan yang lainnya. Sama halnya dengan guru agama Islam yang mengajar di madrasah, maka guru agama Islam yang ada di sekolah tentu lebih sangat wajib memiliki wawasan keilmuan yang terkait dengan mata pelajaran pendidikan agama Islam karena pada sekolah, mata pelajaran ini merupakan satu kesatuan yang utuh (Aziz and Zakir 2. Di antara para guru khususnya guru PAI sangat berbeda dengan guru yang lainnya. Guru PAI berbeda dengan guru-guru bidang studi lainnya. Di samping melakukan kewajibannya sebagai guru agama, guru PAI juga turut serta membentuk karakter kepribadian serta pembinaan akhlakul karimah anak didiknya. Kompetensi guru PAI tidak hanya unggul dalam kepribadiannya melainkan keutamaan hidup dan nilai-nilai luhur yang dihayati serta amalannya. Seorang guru PAI hendaknya memiliki kemampuan pedagogis mengenai tugas-tugas kependidikan (Zubairi. Almaydza Pratama Abnisa, and Musthofa 2. Indikator guru PAI yang profesional selalu dilihat dari perspektif kinerja dalam menjelaskan, memahamkan dan mengembangkan nilai-nilai ajaran Islam kepada peserta didik dan masyarakat. Guru PAI yang profesional selain mahir dalam memberi motivasi belajar, terampil menggunakan metode dan pendekatan pembelajaran, ahli dalam melakukan gaya mengajar yang bervariasi, rajin melaksanakan pengabdian atau melayani masyarakat juga harus memiliki ketrampilan dan keahlian dalam memahamkan nilai-nilai atau norma agama Islam kepada masyarakat dan peserta didik (Muchith 2. Maka perwujudan kerja profesional guru ditunjang jiwa profesionalisme yang sikap mental yang senantiasa mendorong dirinya untuk mewujudkan diri sebagai guru profesional. Guru yang profesional tentu memiliki pengetahuan dan keterampilan yang langsung menyentuh masalah inti pendidikan, termasuk pengetahuan dan keterampilan mengenal cara-cara mengarahkan proses pertumbuhan yang terjadi dalam diri peserta didik yang sedang mengalami proses kependidikan. Pada dasarnya profesionalisme itu merupakan motivasi pada diri sebagai pendorong untuk mengembangkan dirinya ke arah perwujudan professional (Idhar and Ihwan 2. Guru yang profesional ditunjukkan dengan guru yang sudah mendapat pengakuan formal baik yang berkaitan dengan jabatannya maupun background pendidikan formalnya berdasarkan peraturan yang berlaku. Pengakuan ini diwujudkan dalam bentuk SK, ijazah, akta atau saat ini disebut sertifikat dan sebagainya, baik yang menyangkut kualifikasi maupun kompetensi. Menurut Muchith, tiga dari tanggung jawab utama guru PAI yang profesional adalah pertama, untuk dapat menjelaskan dan menunjukkan Islam kepada semua orang di bumi Kedua, kemampuan untuk melakukan proses pembelajaran yang optimal yang merupakan misi dari Serta, yang ketiga adalah tujuan pendidikan adalah untuk mengembangkan moral dan kepribadian siswa baik di dalam maupun di luar kelas. Efektivitas misi pendidikan seorang guru sangat tergantung pada Jurnal Basicedu Vol 9 No 6 Tahun 2025 p-ISSN 2580-3735 e-ISSN 2580-1147 1704 Analisis Profesionalisme Guru Pendidikan Agama Islam dalam Menghadapi Tantangan di Era Society 0 Ae Shodikin. Moh. Gusnur Wahid. Damanhuri DOI: https://doi. org/10. 31004/basicedu. kemampuan mereka untuk berkembang menjadi suri teladan . bagi siswa dan masyarakat (Efriyanti. Hakim, and Khumaini Umasugi 2. Karakteristik ini menuntut profesionalisme guru PAI makin kompleks lagi. Karena itu, profesionalisme guru PAI paling tidak harus memenuhi sepuluh macam kriteria, yaitu: . kemampuan menguasai materi PAI. kemampuan menguasai rumpun ilmu alat dalam memahami materi PAI. kemampuan menjelaskan materi PAI dengan menggunakan perspektif berbagai bidang keilmuan lainnya yang terkait. kemampuan mendidik dan mengajarkan PAI kepada peserta didik dengan baik. kemampuan menguasai metodologi pemikiran dan pemahaman PAI dengan baik. kemampuan me-manage pembelajaran PAI dengan maksimal. kemampuan mengamalkan kesalehan individual dan kesalehan sosial dalam perilaku keseharian. memiliki pengalaman mendalam dalam mendidik dan mengajar peserta didik. memiliki komitmen memberikan layanan prima kepada peserta didik. memiliki motivasi kerja atas dasar ibadah . (Qomar Peningkatan kemampuan profesionalisme guru dapat diartikan sebagai upaya membantu guru yang belum matang menjadi matang, yang tidak mampu mengelola sendiri menjadi mampu mengelola sendiri, yang belum memenuhi kualifikasi menjadi memenuhi kualifikasi, yang belum terakreditasi menjadi terakreditasi. Peningkatan kemampuan profesional guru dapat juga diartikan sebagai upaya membantu guru yang belum profesional menjadi profesional. Yang mana hal-hal tersebut nantinya juga akan berpengaruh terhadap kualitas pembelajaran guru di sekolah. Guru yang kreatif, profesional dan menyenangkan harus memiliki berbagai konsep dan cara untuk mendongkrak kualitas pembelajaran. Adapun beberapa cara yang dapat digunakan untuk mendongkrak kualitas pembelajaran antara lain dengan mengembangkan kecerdasan emosi . motional quotien. , mengembangkan kreativitas . reativity quotien. dalam pembelajaran, mendisiplinkan peserta didik dengan kasih sayang, membangkitkan nafsu belajar, memecahkan masalah, mendaya gunakan sumber belajar, dan melibatkan masyarakat dalam pembelajaran (Lubis Sarmadhan 2. Era society 5. 0 dalam dunia pendidikan menekankan pada pendidikan karakter, moral, dan keteladanan. Hal ini dikarenakan ilmu yang dimiliki dapat digantikan oleh teknologi sedangkan penerapan soft skill maupun hard skill yang dimiliki tiap peserta didik tidak dapat digantikan oleh teknologi. Dalam hal ini diperlukan kesiapan dalam hal pendidikan berbasis kompetensi, pemahaman dan pemanfaatan IoT (Internet of Thing. , pemanfaatan virtual atau augmented reality dan penggunaan serta pemanfaatan AI (Artifical Intelligenc. Hal ini dapat dilakukan dengan mengembangkan kurikulum. Maka dari itu, guru harus memiliki kompetensi yaitu educational competence, competence for technological commercialization, competence in globalization, competence in future strategies serta counselor competence (Nasrul. Hasnah, and Dzakiah 2. Mencermati uraian dan analisis konsep pendidikan pada masyarakat 5. 0 sebelumnya, diharapkan dapat meningkatkan pembelajaran PAI dengan cara sebagai berikut: . Interaksi antara pendidik dan peserta didik, serta antar peserta didik, telah meningkat. Jumlah sumber belajar yang tersedia tidak dibatasi. Literasi yang dibudayakan dengan benar akan membantu meningkatkan kualitas lulusan serta kualitas lembaga pendidikan. Penciptaan komunitas belajar yang berinteraksi satu sama lain, memberi dan menerima, dan tidak terbatas pada satu lokasi. Dan . peningkatan kualitas karena memungkinkan pencarian informasi yang lebih luas dan bahkan tidak terbatas (Bahri 2. Tantangan yang ditimbulkan oleh munculnya era society 5. 0 harus mampu diatasi oleh pendidikan Islam. Konsekuensinya, setiap komponen harus mampu menyelesaikan berbagai masalah. harus mampu mempertahankan diri terhadap berbagai krisis dan merespon perkembangan zaman, dan apa yang telah dicapai pendidikan Islam tidak boleh hilang. pendidikan Islam harus senantiasa meningkatkan kompetensi dalam segala bidang terutama pendidikan. dan pendidikan Islam harus senantiasa mampu untuk melakukan inovasi ke arah yang lebih baik dan jangan sampai tertinggal dan tergerus oleh zaman yang semakin berkembang dan kemajuan teknologi saat ini, bahkan teknologi haruslah mampu menunjang kebutuhan manusia sebagaimana tujuan dari Jurnal Basicedu Vol 9 No 6 Tahun 2025 p-ISSN 2580-3735 e-ISSN 2580-1147 1705 Analisis Profesionalisme Guru Pendidikan Agama Islam dalam Menghadapi Tantangan di Era Society 0 Ae Shodikin. Moh. Gusnur Wahid. Damanhuri DOI: https://doi. org/10. 31004/basicedu. era society 5. 0 suatu gagasan masyarakat yang berpusat pada manusia . uman centere. dan berbasis teknologi . echnology base. (Mursalin 2. Pengembangan media pembelajaran berbasis AI juga menjadi topik yang penting. Maulana dan Rahman . menyoroti efektivitas media interaktif berbasis AI dalam meningkatkan keterlibatan siswa, sedangkan Andryan dkk. menekankan integrasi AI dalam media pembelajaran digital sebagai strategi modernisasi pendidikan Islam. Sementara itu, penelitian Hasan dan Arif . membahas pengembangan aplikasi AlQurAoan berbasis AI yang dirancang untuk membantu siswa memahami teks suci secara lebih mendalam (Salim and Aditya 2. Penggunaan media digital bila digunakan dengan baik dapat membantu program pendidikan dan proses pengajaran berjalan dengan lancar dan efisien. Media digital harus digunakan untuk pendidikan agama Islam. Di era digital, siswa lebih memilih informasi yang baik dari YouTube. Google daripada membaca buku, ceramah atau mendengarkan penjelasan guru. Siswa sekarang dapat menggunakan perpustakaan online untuk membantu mereka mengatasi tantangan yang mereka hadapi. Justru pendidikan yang baik di era society 5. memungkinkan pelajar atau mahasiswa belajar berdampingan dalam suatu sistem yang dirancang untuk menggantikan pekerjaan mengajar. Oleh karena itu, tujuan pendidikan bukanlah masalah waktu tetapi kenyamanan dan keselarasan dengan apa yang akan dihadapi siswa di masa depan. Pendidikan juga merupakan hal yang paling penting, karena pendidikan adalah kemajuan peradaban. Pendidikan publik akan melatih generasi warga negara yang unggul. Dalam aplikasi Exambro ini, siswa harus mampu mengoperasikan aplikasi Para guru mata pelajaran berperan penting dalam pembuatan soal, sedangkan pengawas hanya memberikan barcode agar peserta didik dapat mengakses dan mengerjakan ujian melalui aplikasi tersebut. KESIMPULAN Guru yang profesional ditunjukkan dengan guru yang sudah mendapat pengakuan formal baik yang berkaitan dengan jabatannya maupun background pendidikan formalnya berdasarkan peraturan yang berlaku. Konsep pendidikan pada masa masyarakat 5. 0 sebelumnya, diharapkan dapat meningkatkan pembelajaran PAI dengan cara sebagai berikut: . Interaksi antara pendidik dan peserta didik, serta antar peserta didik, telah . Jumlah sumber belajar yang tersedia tidak dibatasi. Literasi yang dibudayakan dengan benar akan membantu meningkatkan kualitas lulusan serta kualitas lembaga pendidikan. Penciptaan komunitas belajar yang berinteraksi satu sama lain, memberi dan menerima, dan tidak terbatas pada satu lokasi. Dan . peningkatan kualitas karena memungkinkan pencarian informasi yang lebih luas dan bahkan tidak terbatas bahwa profesionalisme guru PAI bukan hanya pada aspek kompetensi formal, tetapi juga kemampuan adaptif terhadap teknologi berbasis nilai Islam sebagai respon terhadap Society 5. 0 yang menempatkan manusia sebagai pusat inovasi. DAFTAR PUSTAKA