PARADOKS Jurnal Ilmu Ekonomi Vol. 9 No. Mei - Juli e-ISSN: 2622-6383 doi: 10. 57178/paradoks. Peran Pembangunan Manusia melalui Pendidikan dalam Pembentukan Upah Minimum Kabupaten/Kota di Jawa Tengah Herlambang Bima Setya 1*. Putri Patria Kusuma 2 seyasbima@students. id 1*, putripatria98@mail. Fakultas Ekonomika dan Bisnis. Program Studi Ekonomi Pembangunan. Universitas Negeri Semarang. Indonesia1*. Fakultas Ekonomika dan Bisnis. Program Studi Ekonomi Pembangunan. Universitas Negeri Semarang. Indonesia 2 Abstrak Perbedaan Upah Minimum Kabupaten/Kota (UMK) antarwilayah di Provinsi Jawa Tengah menggambarkan adanya variasi karakteristik sosial ekonomi dan ketenagakerjaan yang memengaruhi kebijakan pengupahan daerah. Penelitian ini dilakukan bertujuan menganalisis bagaimana pengaruh rata-rata lama sekolah (RLS), tingkat pengangguran terbuka (TPT), dan rasio ketergantungan (DR) terhadap UMK di kabupaten/kota Provinsi Jawa Tengah. Penelitian menggunakan metode regresi data panel 35 kab/kota di Jawa Tengah dengan 170 observasi kurun waktu 2020 hingga 2024. Hasil uji data panel menunjukkan bahwa Rata-rata lama sekolah serta tingkat pengangguran berpengaruh terhadap UMK sedangkan rasio ketergantungan tidak berpengaruh pada UMK Kabupaten/Kota di Jawa Tengah. Rata-rata lama sekolah berpengaruh positif yang menunjukkan bahwa kualitas SDM yang didukung dengan pendidikan mendorong peningkatan upah, sedangkan tingginya angka pengangguran menekan tingkat upah minimum Secara keseluruhan, ketiga variabel mampu menjelaskan variasi UMK di Jawa Tengah. Temuan ini menegaskan pentingnya peningkatan kualitas pendidikan dan penciptaan lapangan kerja sebagai upaya mendukung kebijakan pengupahan yang lebih berkeadilan dan berorientasi pada pembangunan ekonomi daerah. Kata Kunci: Upah Minimum Kota/Kabupaten (UMK). Rata-Rata Pengangguran Terbuka (TPT). Rasio Ketergantungan. Panel Data Lama Sekolah. Tingkat Pendahuluan Pembangunan ekonomi regional merupakan salah satu strategi utama dalam penyelesaian permasalahan terutama dalam mendorong pemerataan pembangunan serta mengurangi ketimpangan antar wilayah. Hal ini dilakukan melalui pengoptimalan sumber daya atau potensi lokal serta peningkatan kapasitas ekonomi daerah secara Keberhasilan pembangunan daerah tidak hanya dilihat oleh pertumbuhan ekonomi suatu wilayah, namun juga ditentukan oleh bagaimana kemampuan suatu daerah dalam menciptakan kesempatan kerja yang produktif serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Berkaca dengan konteks tersebut, pasar tenaga kerja memiliki peranan penting dalam penentuan distribusi pendapatan, tingkat serapan tenaga kerja, serta produktivitas ekonomi regional. Dalam teori pembangunan regional menjelaskan bahwa, kualitas serta dinamika pasar tenaga kerja memiliki hubungan yang cukup erat dengan kinerja ekonomi suatu wilayah, dimana hal ini disebabkan keduanya berpengaruh terhadap daya saing serta kemampuan daerah dalam menarik investasi di daerahnya (Storper, 2. Paradoks: Jurnal Ilmu Ekonomi 9. | 360 Salah satu instrumen kebijakan yang memiliki pengaruh langsung terhadap kondisi pasar tenaga kerja adalah kebijakan upah minimum. Upah minimum tidak hanya berfungsi sebagai jaring pengaman untuk melindungi pekerja dari tingkat upah yang tidak layak, namun upah minimum menjadi salah satu instrument yang digunakan oleh pemerintah dalam menjaga stabilitas sosial dan ekonomi. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa penetapan upah minimum yang diberikan di setiap daerah sesuai dengan kondisi ekonomi dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat, memberikan pemerataan, serta mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih inklusif (Feriyanto. El Aiyubbi & Nurdany. Belman & Wolfson, 2. Berbagai penelitian lain juga menjelaskan bahwa kebijakan upah minimum dibentuk secara tepat dapat meningkatkan pendapatan kelompok yang memiliki upah rendah tanpa memberikan dampak negatif yang signifikan terhadap kesempatan kerja. Dalam perspektif pembangunan ekonomi regional, upah minimum tidak hanya dipahami sebagai instrumen perlindungan tenaga kerja, tetapi juga merupakan hasil dari proses kebijakan yang melibatkan berbagai pertimbangan ekonomi, sosial, dan Di Indonesia, penetapan Upah Minimum Kabupaten/Kota (UMK) dilakukan berdasarkan regulasi pengupahan yang berlaku dengan mempertimbangkan sejumlah indikator penting, seperti tingkat inflasi, pertumbuhan ekonomi, produktivitas tenaga kerja, serta kondisi ketenagakerjaan di masing-masing daerah. Faktor-faktor tersebut digunakan untuk menjaga keseimbangan antara perlindungan kesejahteraan pekerja dan keberlangsungan kegiatan usaha. Oleh karena itu, perbedaan UMK antarwilayah tidak hanya mencerminkan variasi kondisi ekonomi daerah, tetapi juga menggambarkan karakteristik pasar tenaga kerja, kualitas sumber daya manusia, serta kapasitas pembangunan yang dimiliki oleh masing-masing wilayah. Dengan demikian, analisis mengenai faktor-faktor yang memengaruhi upah minimum menjadi penting untuk memahami bagaimana kebijakan pengupahan dapat mendukung pembangunan ekonomi daerah yang berkelanjutan, inklusif, dan berkeadilan. Dalam konteks tersebut, upah minimum tidak hanya berfungsi sebagai standar perlindungan pendapatan pekerja, tetapi juga dapat digunakan sebagai indikator yang mencerminkan tingkat perkembangan ekonomi dan kualitas pembangunan suatu daerah. Perbandingan Rata-rata Lama Sekolah Daerah SEMARANG CILACAP BANJARNEGARA Gamber 1. Perbandingan Rata-rata Lama Sekolah Daerah Sumber: BPS, 2020-2024. ata diola. Paradoks: Jurnal Ilmu Ekonomi 9. | 361 Berdasarkan grafik perbandingan rata-rata lama sekolah di Kabupaten Cilacap. Banjarnegara, dan Kota Semarang selama periode 2020Ae2024, terlihat adanya perbedaan capaian pendidikan yang cukup signifikan antarwilayah. Kota Semarang secara konsisten menunjukkan rata-rata lama sekolah yang lebih tinggi dibandingkan daerah lainnya, yaitu meningkat dari 10,53 tahun pada 2020 menjadi 11,05 tahun pada 2024. Sementara itu. Kabupaten Banjarnegara mengalami peningkatan yang relatif lambat, dari 6,9 tahun menjadi 7,4 tahun. Kabupaten Cilacap menunjukkan peningkatan yang cukup tajam pada dua tahun terakhir, meskipun perlu dilakukan verifikasi lebih lanjut terhadap data tersebut karena lonjakannya relatif besar dibandingkan tren sebelumnya. Secara umum, kondisi ini mengindikasikan bahwa akses dan keberlanjutan pendidikan masih berbeda antarwilayah di Jawa Tengah. Temuan pada grafik tersebut memberikan gambaran bahwa daerah dengan capaian pendidikan yang lebih tinggi cenderung memiliki kualitas tenaga kerja yang lebih baik sehingga berpotensi mendukung tingkat upah minimum yang lebih tinggi. Kota Semarang, misalnya, memiliki rata-rata lama sekolah yang relatif tinggi dibandingkan daerah lain, yang menunjukkan kualitas modal manusia yang lebih baik. Kondisi ini sejalan dengan temuan Firdaus dan Udjianto . yang menyatakan bahwa peningkatan kualitas sumber daya manusia melalui aspek pendidikan menjadi faktor penting dalam mendorong pembangunan manusia dan memperkuat kapasitas tenaga kerja. Peningkatan pendidikan memungkinkan tenaga kerja memperoleh pengetahuan, keterampilan, dan kompetensi yang lebih baik sehingga mampu meningkatkan produktivitas kerja. Selanjutnya. Afin . menjelaskan bahwa produktivitas tenaga kerja memiliki keterkaitan dengan tingkat upah dalam sistem penetapan upah minimum, di mana pekerja dengan tingkat produktivitas yang lebih tinggi cenderung memperoleh upah yang lebih tinggi. Oleh karena itu, pendidikan sebagai salah satu dimensi pembangunan manusia berperan penting dalam meningkatkan kualitas dan produktivitas tenaga kerja yang pada akhirnya dapat mendukung peningkatan upah minimum di suatu Salah satu faktor yang memiliki peran penting dalam pembentukan upah salah satunya dalah kualitas sumber daya manusia, terutama bidang pendidikan. Menurut teori pembangunan manusia . uman Capital Theor. yang dijelaskan oleh Becker, menjelaskan bahwa investasi pendidikan dapat meningkatkan keterampilan, produktivitas, hingga kapasitas individu dalam meningkatkan nilai tambah ekonomi. Tenaga kerja dengan tingkat pendidikan yang lebih tinggi cenderung memberikan produktivitas yang lebih baik sehingga di masa depan dapat memilki peluang memperoleh upah yang lebih tinggi dibandingkan dengan tenaga kerja yang memiliki tingkat pendidikan yang rendah. Dalam konteks penelitian ini rata-rata lama sekolah digunakan menjadi indikator yang menunjukkan kualitas modal manusia yang memengaruhi tingkat upah suatu daerah (Becker, 1993. Mincer, 1. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa penetapan upah minimum dipengaruhi oleh faktor ekonomi makro, seperti inflasi, pertumbuhan ekonomi, produktivitas tenaga kerja, dan kebutuhan hidup layak, yang menjadi bagian penting dalam mekanisme pengupahan di Indonesia. Namun, variasi upah minimum antarwilayah tidak hanya ditentukan oleh faktor-faktor tersebut, melainkan juga dipengaruhi oleh karakteristik sosial ekonomi daerah. Kualitas sumber daya manusia, kondisi pasar tenaga kerja, dan struktur demografi dapat turut memengaruhi dinamika pengupahan melalui perubahan produktivitas dan ketersediaan tenaga kerja. Oleh karena itu, penelitian ini memfokuskan analisis pada rata-rata lama sekolah, tingkat pengangguran terbuka, dan rasio ketergantungan sebagai faktor yang diduga berkontribusi terhadap perbedaan Upah Minimum Kabupaten/Kota (UMK) di Provinsi Jawa Tengah. Dalam pandangan Human Capital Theory, dijelaskan bahwa pendidikan merupakan salah satu faktor yang menentukan produktivitas dan kapasitas individu dalam pasar kerja. Pendidikan tidak hanya akan meningkatkan kemampuan teknis saja atau hard skill yang Paradoks: Jurnal Ilmu Ekonomi 9. | 362 dimiliki oleh seseorang, namun pendidikan juga akan memperkuat kemampuan berpikir secara kritis, pemecahan masalah, komunikasi, adaptasi, serta inovasi terhadap perubahan teknologi maupun kebutuhan pasar tenaga kerja. Hubungan antara pendidikan dengan tingkat upah sudah lama dijelaskan oleh Jacob Mincer . , menjelaskan bahwa semakin tinggi tingkat pendidikan yang dilalui oleh seseorang akan meningkatkan produktivitas seseorang yang nantinya akan berdampak pada semakin tingginya pendapatan yang diterima. Maka dalam hal itu dalam penelitian ini pendidikan merupakan determinan utama yang dapat memengaruhi struktur pengupahan. Menurut George & Harry . menjelaskan bahwa pendidikan merupakan investasi paling berharga di masa depan. Dalam penelitiannya dijelaskan bahwa pendidikan memberikan returns to education yang signifikan terhadap pendapatan tenaga kerja di berbagai Berdasarkan argumentasi teoritis dan temuan empiris tersebut, rata-rata lama sekolah dapat dipandang sebagai salah satu faktor penting yang memengaruhi variasi UMK Daerah dengan tingkat pendidikan yang lebih baik umumnya memiliki kualitas modal manusia yang lebih tinggi, produktivitas tenaga kerja yang lebih besar, serta struktur ekonomi yang lebih kompetitif. Oleh karena itu, peningkatan rata-rata lama sekolah tidak hanya berkontribusi terhadap pembangunan sumber daya manusia, tetapi juga berpotensi mendorong peningkatan tingkat upah dan kesejahteraan masyarakat secara lebih luas. Dalam penelitian ini pendekatan panel digunakan untuk menganalisis bagaimana pengaruh utama dari pendidikan yang digambarkan oleh rata rata lama sekolah dan diikuti oleh variabel kontrol yakni tingkat pengangguran serta rasio ketergantungan suatu wilayah. Penelitian ini memberikan kontribusi teoritis dan empiris dalam kajian ekonomi tenaga kerja dan pembangunan daerah dengan mengintegrasikan rata-rata lama sekolah, tingkat pengangguran terbuka (TPT), dan rasio ketergantungan sebagai determinan Upah Minimum Kabupaten/Kota (UMK) dalam satu kerangka analisis yang komprehensif. Berbeda dengan penelitian sebelumnya yang cenderung berfokus pada indikator ekonomi makro atau menguji faktor-faktor penentu upah secara parsial, penelitian ini menekankan pentingnya peran kualitas modal manusia, kondisi pasar tenaga kerja, dan karakteristik demografi dalam menjelaskan variasi UMK antarwilayah. Metode Analisis Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif untuk mengkaji pengaruh kualitas sumber daya manusia, kondisi pasar tenaga kerja, dan karakteristik demografi terhadap Upah Minimum Kabupaten/Kota (UMK) di Provinsi Jawa Tengah. Pendekatan ini dipilih karena mampu memberikan gambaran yang lebih terukur dan objektif mengenai hubungan antarvariabel melalui pengolahan data numerik. Analisis dilakukan dengan menggunakan regresi data panel, yaitu metode yang menggabungkan data antarwilayah . ross-sectio. dan data runtut waktu . ime serie. (Baltagi, 2. Melalui pendekatan ini, penelitian dapat mengamati perbedaan kondisi antar kabupaten/kota sekaligus melihat perubahan yang terjadi dari tahun ke tahun selama periode Data diperoleh dari Badan Pusat Statistik di Jawa Tengah dengan objek observasi kabupaten atau kota di Jawa Tengah dengan kurun waktu 2020 hingga 2024. Analisis data dilakukan melalui beberapa tahapan, yaitu analisis statistik deskriptif, estimasi model regresi data panel, serta pemilihan model terbaik melalui uji Chow dan uji Hausman. Estimasi dilakukan menggunakan pendekatan Fixed Effect Model (FEM) dan Random Effect Model (REM) untuk mengidentifikasi pengaruh rata-rata lama sekolah, tingkat pengangguran terbuka, dan rasio ketergantungan terhadap UMK dengan mempertimbangkan karakteristik spesifik masing-masing kabupaten/kota. Adapun model persamaan data panel yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: Paradoks: Jurnal Ilmu Ekonomi 9. | 363 Tabel 1. Definisi Operasional Variabel Variabel Jenis Upah Minimum Kota/Kabupaten (UMK) Dependen Rata-rata Sekolah (RLS) Independen Lama Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Independen Rasio Ketergantungan (DR) Independen Definisi Operasional Standar upah terendah yang ditetapkan oleh kebutuhan hidup layak kabupaten/kota. Rata-rata jumlah tahun yang telah ditempuh penduduk berusia 15 tahun ke atas dalam Persentase penganggur terhadap total angkatan kerja mencari pekerjaan. dan sosial yang harus dipikul oleh kelompok pekerja dalam suatu populasi pada periode waktu tertentu. Satuan Sumber Data Rupiah (R. Badan Pusat Statistika (BPS) Tahun Badan Pusat Statistika (BPS) Persen (%) Badan Statistik Pusat Persen (%) Badan Statistik Pusat Upah Minimum Upah Minimum Kabupaten/Kota (UMK) merupakan variabel dependen dalam penelitian ini yang digunakan untuk menggambarkan tingkat standar upah minimum yang berlaku pada masing-masing kabupaten/kota. UMK ditetapkan oleh pemerintah sebagai bentuk perlindungan terhadap pekerja agar memperoleh pendapatan yang mampu memenuhi kebutuhan hidup layak sesuai dengan kondisi sosial dan ekonomi daerah setempat. Besaran UMK ditentukan melalui berbagai pertimbangan, antara lain tingkat inflasi, pertumbuhan ekonomi, produktivitas tenaga kerja, serta kondisi pasar kerja di masing-masing wilayah. Dalam konteks penelitian ini. UMK diukur dalam satuan rupiah (R. dan diperoleh dari publikasi resmi Badan Pusat Statistik (BPS). Variabel ini dipilih karena mencerminkan kebijakan pengupahan daerah yang dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor ekonomi maupun sosial, sehingga relevan untuk dianalisis dalam rangka memahami dinamika penetapan upah minimum di kabupaten/kota Provinsi Jawa Tengah. Rata-rata Lama Sekolah Rata-rata Lama Sekolah (RLS) merupakan variabel independen yang menunjukkan tingkat pencapaian pendidikan penduduk berusia 15 tahun ke atas yang dinyatakan dalam jumlah tahun pendidikan formal yang telah ditempuh. Indikator ini digunakan untuk menggambarkan kualitas sumber daya manusia suatu daerah karena semakin tinggi nilai RLS, semakin tinggi pula tingkat pendidikan masyarakat yang dimiliki. Peningkatan pendidikan umumnya berkaitan dengan peningkatan keterampilan, produktivitas, dan kompetensi tenaga kerja sehingga dapat meningkatkan nilai ekonomi tenaga kerja di pasar kerja. Dalam penelitian ini. RLS diukur dalam satuan tahun dan datanya diperoleh dari Badan Pusat Statistik (BPS). Variabel ini digunakan karena tingkat pendidikan masyarakat merupakan salah satu faktor yang dapat memengaruhi struktur pasar tenaga kerja dan menjadi pertimbangan dalam proses penetapan upah minimum di suatu wilayah. Tingkat Pengangguran Terbuka Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) merupakan variabel independen yang Paradoks: Jurnal Ilmu Ekonomi 9. | 364 menggambarkan proporsi penduduk yang termasuk dalam angkatan kerja tetapi belum memperoleh pekerjaan dan sedang aktif mencari pekerjaan. Indikator ini digunakan untuk menilai kondisi pasar tenaga kerja suatu daerah karena mencerminkan tingkat ketidakseimbangan antara ketersediaan lapangan pekerjaan dengan jumlah tenaga kerja yang tersedia. Nilai TPT yang tinggi menunjukkan bahwa kesempatan kerja yang tersedia belum mampu menyerap seluruh angkatan kerja secara optimal. Dalam penelitian ini. TPT diukur dalam satuan persen (%) dan bersumber dari data Badan Pusat Statistik (BPS). Keberadaan variabel ini penting karena tingkat pengangguran dapat memengaruhi posisi tawar tenaga kerja, kondisi penawaran tenaga kerja, serta kebijakan pengupahan yang diterapkan oleh pemerintah daerah dalam menetapkan besaran upah minimum. Rasio Ketergantungan Rasio Ketergantungan (Dependency Ratio/DR) merupakan variabel independen yang menunjukkan perbandingan antara jumlah penduduk usia tidak produktif dengan jumlah penduduk usia produktif dalam suatu wilayah. Indikator ini mencerminkan besarnya beban ekonomi yang harus ditanggung oleh penduduk usia kerja untuk memenuhi kebutuhan kelompok usia yang belum atau tidak lagi produktif secara ekonomi. Semakin tinggi nilai rasio ketergantungan, semakin besar pula tekanan ekonomi yang dihadapi oleh kelompok produktif dalam mendukung kehidupan rumah tangga dan masyarakat secara keseluruhan. Dalam penelitian ini, rasio ketergantungan diukur dalam satuan persen (%) dan datanya diperoleh dari Badan Pusat Statistik (BPS). Variabel ini dipilih karena struktur demografi suatu daerah dapat memengaruhi kondisi sosial ekonomi masyarakat, produktivitas tenaga kerja, serta menjadi salah satu faktor yang berpotensi memengaruhi kebijakan pengupahan dan tingkat upah minimum yang ditetapkan pemerintah daerah. Wageit = 0 1RLSit 2Unempit 3Drit Ait Keterangan : Wageit 3 RLSit 4 Unempit 5 Drit Ait : Upah Minimum Kota/kabupaten : Rata-rata Lama Sekolah : Tingkat Pengangguran Terbuka : Rasio Ketergantungan : Konstanta : Error term : Kabupaten/Kota se-Jawa Tengah : Tahun . 0Ae2. Penelitian ini merumuskan hipotesis yang tepat diuji secara empiris. Hipotesis tersebut disusun untuk mengetahui bagaimana korelasi setiap variabel independen terhadap Upah Minimum Kota/kabupaten (UMK). Oleh karena itu hipotesis penelitian disusun sebagai berikut: Paradoks: Jurnal Ilmu Ekonomi 9. | 365 Gamber 2. Model Penelitian H1: Rata-rata Lama Sekolah berpengaruh terhadap Upah Minimum Kota/kabupaten H2: Tingkat Pengangguran Terbuka berpengaruh terhadap Upah Minimum Kota/kabupaten H3: Rasio Ketergantungan berpengaruh terhadap Upah Minimum Kotakabupaten Hasil dan Pembahasan Hasil Penelitian Analisis data untuk menganalisis bagaiamana determinasi antara produk domestik bruto, tingkat partisipasi angkatan kerja, tingkat pengangguran terbuka, rata-rata lama sekolah, rasio ketergantugan terhadap upah minimum kota/kabupaten di jawa tengah pada tahun 2020-2024. Uji Kriteria Pemilihan Model Uji chow Uji Chow merupakan pengujia yang dilakukan untuk mengetahui model mana yang terbaik antara model Common Effect Model (CEM) atau Fixed Effect Model (FEM) yang akan digunakan dalam penelitian. Penentuan model ini melalui angka probabilitas yang dihasilkan pada estimasi model. Apabila H0 diterima, maka model Common Effect Model (CEM) akan dipilih sebagai model terbaik, dan begitupun sebaliknya apabila H1 diterima, maka model FEM akan dipilih sebagai model terbaik. Apabila nilai probabilitas yang dihasilaka lebih besar dari alpha signifikansi 5% . rob > 0,. maka model common effect model adalah yang terbaik, namun apabila signifikansi kurang dari 5% . rob < 0,. maka model terbaik yang dipilih adalah fixed effect model (FEM). Berdasarkan hipotesis tersebut maka didapatkan hasil uji chow di dalam penelitian ini ada pada tabel berikut: Tabel 2. Uji Chow Effects Test f-statistic Probability Chow test 50,62 Sumber: olah data stata, 2026. ata diola. Berdasarkan hasl Uji Chow pada table 2 didapatkan angka probabilitas sebesar 0,0000 < alpha 5% . Hasil ini menjelaskan bahwa pada uji chow didapatkan hasil menolak Ho dan menerima H1, artinya adalah model terbaik yang dipilih pada uji ini untu penelitian adalah Fixed Effect Model (FEM). Paradoks: Jurnal Ilmu Ekonomi 9. | 366 Uji Hausman Setelah melakukan uji Chow untuk mendapatkan hasil terbaik, maka langkah selanjutnya adalah melakukan uji Husman untuk memilih model terbaik antara Fixed Effect Model (FEM) dengan Random Effect Model (REM). Adapun hipotesis dalam pengujian ini Ho: Random Effect Model (REM) H1: Fixed Effect Model (FEM) Apabila H0 diterima, maka model REM ialah model terbaik yang dipiih, dan apabila H1 diterima, maka model Fixed Effect Model (FEM) ialah model yang dipilih. Ketentuannya yaitu dengan nilai probability, jika p>0,05 . %) model terbaik yang terpilih ialah model REM, sedangkan jika nilai probability p<0,05 . %) model yang terpilih ialah model FEM. Hasil uji hausman di dalam penelitian ini disajikan pada tabel 3: Tabel 3. Uji Hausman Effects Test Chi2-statistic Probability Hausman test 112,79 Sumber: olah data stata17, 2026. ata diola. Berdasarkan Uji Hausman yang telah dilakukan maka didapatkan hasil bahwa nilai probabilitas yang dihasilkan sebesar 0,000 lebih kecil dibandingkan alpha 5% . rob < 0,. Artinya bahwa hasil tersebut menolak Ho dan menerima H1, sehingga dapat diketahui bahasa model terbaik dan paling cocok digunakan adalah Fixed Effect Model (FEM) dibandingan Random Effect Mode (REM)l. Dikarenakan sudah didapatkan model terbaik dari kedua uji tersebut maka, tidak perlu dilakukan pengujian lanjutan Lagrange Multiplier Test (LM Tes. Uji Asumsi Klasik Setelah dilakukan estimasi menggunakan Fixed effect model, maka diperlukan serangkaian uji asumsi klasik guna memastikan bahwa estimasi yang dilakukan pada model tidak bias dan baik digunakan dalam penelitian. Uji Normalitas Uji normalitas merupakan salah satu pengujian statistic yang dilakukan untuk mengetahui apakah data atau residual dalam penelitian terdistribusi atau mendekati distribusi normal. Pengujian ini sangat penting dilakukan karena hasilnya akan mendukung ketepatan dalam proses estimasi hasil penelitian. Dalam peneltian ini uji normalitas akan dilakukan dengan menggunakan uji Shapiro-Wilk, hal ini dikarenakan metode memiliki kemampuan dalam mendeteksi penyimpangan distribusi normal. Pengambilan keputusan pada uji Shapiro Wilk dilihat berdasarkan nilai probabilitasnya . -valu. Adapun hipotesis untuk distribusi normal tersebut adalah: : Data terdistribusi normal : Data tidak terdistribusi normal Apabila nila probabilitas yang dihasilkan lebih besar dari tingkat signifikasi 5% . , maka Ho diterima sehingga data dapat dinyatakan terdistribusi normal. Sebaliknya, apobila bnilai probabilitas yang dihasilkan lebih kecil dari alpha 5% . , maka Ho ditolak yang artinya bahwa data tidak terdistribusi normal. Maka dari itu, hasil uji normalitas digunakan utnuk memberikan Gambaran mengenai karakteristik dari dari serta mendukung validitas analisis statistic. Tabel 4. Uji Normalitas Variable Obs Prob>z 0,659 Sumber: olah data Stata17, 2026. ata diola. Paradoks: Jurnal Ilmu Ekonomi 9. | 367 Gambar 2. Histogram Normalitas Sumber: Stata17, 2026 . Berdasarkan dari uji normalitas yang dilakukan dengan uji Shapiro-Wilk ditemukan bahwa angka Prob>z sebesar 0. 25840 sehingga dapat disimpulkan bahwa data terdistribusi Dapat dilihat bahwa pada gambar 1 yang menunjukkan hasil histogram bahwa distribusi data berbentuk lonceng dan masih berada dalam kurva normal meskipun sedikit skewness kearah kanan. Uji Multikolinearitas Uji multikolinearitas dilakukan untuk mengetahui bagaimana keterkaitan antar variabel independent dalam penelitian atau model regresi. Dalam konteks pengujian pada regresi, setiap variabel independent diharapkan mampu untuk menjelaskan variasi variabel dependen secara unik sehingga tidak saling menjelaskan satu sama lain. Adanya permasalahan multikolinearitas nantinya dapat menimbulkan permasalahan statistik hingga membuat hasil koefisien regresi menjadi kurang stabil dan akan sensitive terhadap perubahan data. Hal ini akan menyebabkan, variabel yang seharusnya memberikan hasil beroengaruh terhadap variabel dependen dapat menjadi tidak signifikan secara statistic karena tingginya korelasi dengan variabel independent lainnya (Kim, 2. Untuk melihat apakah hasil regresi terkenama masalah multikolinearitas atau tidak, maka digunakanlah nilai variance inflation factor (VIF). VIF akan menunjukkan seberapa besar varians dalam koefisien regresi meningkat akibat dari adanya korelasi dengan variabel independennya. Hasil model regresi dapat dikatakan terkena multikolinearitas apabila nilai VIF yang dihasilkan pada uji tersebut lebih dari 10 (VIF > . , sedangkan pada saat nilai VIF yang dihasilkan kurang dari 10 (VIF < . menjelaskan bahwa model atau hasol regresi tidak terkena permasalahan multikolinearitas. Hal ini selaras dengan penelitian yang dilakukan oleh OAobrien . yang menjelaskan bahwa model dikatakan terbebas dari masalah multikolinearitas apabila nilai VIF masing masing variabel kurang dari 10. Tabel 5. Uji Multikolinearitas Variable VIF RLS Unemp Mean VIF Sumber: olah data Stata 17, 2026 . ata diola. Berdasarkan uji multikolinearitas yang tertulis pada table 5 didapatkan hasil bahwa Paradoks: Jurnal Ilmu Ekonomi 9. | 368 keseluruhan variabel independent yang digunakan memiliki nilai di bawah 10, maka dapat disimpulkan bahwa model regresi yang digunakan tidak terkena masalah Selain itu, hasil pada mean VIF juga menunjukkan angka 1,29 yang mana kebih kecil dibandingkan angka 10 yang mendukung hasil regresi bahwa model yang terbentuk tidak mengandung permasalahan multikolinearitas. Uji Heterokedastisitas Uji heterokedastisitas dilakukan untuk mengetahui varians eror atau residual dalam model regresi. Adanya permasalahan heterokedastisitas akan mengakibatkan standart eror yang dihasilkan tidak akurat sehingga pengujian statistic menjadi kurang reliable (Wooldridge 2. Pengujian heterokedastisitas ini menggunakan modified wald test for groupwise heterokedasticity setelah dilakukan pengujian fixed effect model (FEM) di awal Adapun hipotes yang diberikan pada uji ini adalah: Ho: tidak terdapat heterokedastisitas H1: terdapat heterokedastisitas Hasil pengujian ini dilihat melalui Prob > chi2, apabila nilai probabilitas lebih besar dibandingkan tingkat signifikansi 5% . , maka hipotesis nol dapat diterima artinya bahwa model tersebut tidak memiliki permasalahan heterokedastisitas. Namun, apabila nilai probablitias Prob > chi2 lebih kecil dari alpha 5% maka dapat dikatakan bahwa model mengalami permasalahan heterokedastisits. Oleh karena itu, apabila dalam regresi ditemukan permasalahan heterokedastisitas, makan perlu dilakukan penyesuaian regresi dengan cara menggunakan robust standart error (Greene, 2. Tabel 6. Uji Heterokedastisitas Modified Wald heteroskedasticity in fixed effect regression chi2 . 1745,45 Prob > chi2 Sumber: olah data Stata17, 2026 . ata diola. Berdasarakan pengujian yang dilakukan, didapatkan hasil pada prob > chi2 sebesar 0000 yang dapat diartikan bahwa pada model regresi ditemukan permasalahan Permasalahan heterokedastisitas meruoakan permasalahan yang sering dijumpai pada analisis data panel yang merupakan data gabugan dari data time series dan data cross section. Menurut Hsiao . keunggulan data panel dalam menangkap heterogenitas data individu dan dinamika antar waktu dapat meningkatkan kemugkinan terjadinya permasalahan asumsi klasik salah satunya adalah Maka dari itu, untuk memperoleh hasil yang lebih reliable dilakukan pengujian dengan menggunakan robust standart error (Wooldridge, 2. Uji Autokorelasi Uji autokorelasi dilakukan untuk mengetahui apakh terdapat atau tidaknya korelasi antar residual pada periode saar ini dengan periode sebelunua. Dalam penelitian ini uji autokorelasi dilakukan degan menggunakan Wooldridge test dengan indicator yang digunakan adalah prob > F. Apabila nilai Prob > F lebih besar dibandingkan angka signifikansi sebesar 5% . maka dapat diartikan bahwa model regresi terbebas dari permaslaahan autokorelasi. Namun, apabila nilai Prob > F lebih kecil dibandingkan angka signifikasi 5% . maka dapat diartikan bahwa model regresi ditemukan permasalahan Adapun perhitungan wooldrige test ditemukan hasil sebagai berikut: Tabel 7. Uji Autokorelasi Wooldridge test for autocorrelation in panel data F . , . Prob > F Sumber: olah data Stata17, 2026 . ata diola. Paradoks: Jurnal Ilmu Ekonomi 9. | 369 Berdasarkan hasil pada table 7, ditemukan hasil prob > F pada Wooldridge test 000 hal ini menjelaskan bahwa pada model terdapat permasalahan Menurut Wooldridge . menjelaska bahwa permasalahan autokorelasi merupakan fenomena yang sering ditemukan dalam analisis data panel terutama pada saat menggunakan komponen variabel makro ekonomi. Hal ini dikarenakan data tersebut memiliki kecenderungan untuk melakukan pergerakan mengikti pola trend tertentu. Hasil Estimasi Akhir dengan menggunakan Robust Standard Errors Berdasarkan hasil uji asumsi klasik yang sudah dilakukan pada tahapan sebelumnya dan ditemukan permasalahan heterokedastisitas serta autokorelasi maka untuk mengatasinya dilakukan estimasi yang lebih robust untuk mengoreksi permasalahan Wooldridge . menjelasakan bahwa penggunaan robust standart eror merupakan salah satu Solusi yang direkomendasikan dalam data panel. Sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Hoechle . adanya pengujian robust mampu menhatasi permasalaham dalam data panel terutama permasalahan asumsi klasik. Oleh karena itu, berdasarkan pertimbangan teoritis dan empiris tersebut, penelitian ini melakukan estimasi ulang menggunakan robust standard errors agar hasil pengujian parameter regresi lebih akurat dan dapat dijadikan dasar dalam penarikan kesimpulan Tabel 8. Hasil Estimasi Fixed Effect Model dengan Robust Standard Error Variable Coef. RLS Unemp _cons Sumber: data diolah Stata17, 2026 Dependent Variable = lnUMK Robust Std. Error 1,71 P>. Uji T (Parsial tes. Dalam bagian ini akan diuji pengaruh atar variabel secara tersendiri dan bersama Ae sama, dengan menggunakan Fixed Effect Model (FEM). Hasil dari uji T pada penelitian ini ialah sebagai berikut: Tabel 9. Uji T (Parsial tes. Variable t-statistic p-value RLS Unemp 1,71 Sumber: olah data Stata17, 2026 . ata diola. Dari hasil regresi pada table 9 tersebut didapati bahwa: Rata-rata lama sekolah (X. memiliki nilai probabilitas 0,097 < 0,1, nilai p-value yang dihasilkan lebih kecil dibandingan angka signifikasi 10% . Maka dapat diartikan bahwa rata-rata lama sekolah berpengaruh positif dan signifikan terhadap upah minimum (UMK) Unemp (X. memiliki nilai probabilitas 0,000 < 0,1, nilai p-value lebih kecil dibandingkan signifikasi atau alpha 1%, 5%, atau 10%. Maka dapat diartikan bahwa tingkat pengangguran berpengaruh negative dan signifikan terhadap upah minimum (UMK). DR (X. atau dependency ratio atau ratio ketergantungan memiliki nilai probabilitas 0,562 > 0,1, nilai p-value yang dihasilkan lebih besar dibandingkan angka signifikasi Paradoks: Jurnal Ilmu Ekonomi 9. | 370 1%, 5%, atau 10%. Maka dapat diartikan bahwa rasio ketergantungan tidak pberpengaruh terhadap upah minimum (UMK). Uji F dan Koefisien determinan (R. Uji F (SImultant tes. Uji F dilakukan untuk mengetahui apakah keseluruhan variabel independent yang digunakan memiliki pengaruh secara simultan pada model regresi tersebut. Uji ini diukur dengan melihat besarnya angka prob > f yang dihasilkan pada estimasi, berdasarkan uji tersebut maka diperoleh hasil sebagai berikut: Tabel 10. Hasil Uji F (Simultant Tes. Prob > F Sumber: olah data Stata17, 2026 . ata diola. Berdasarkan hasil regresi pada table 10, pada estimasi regresi diperoleh nilai F 39 sedangkan prob > F sebesar 0. 0000, hasil probabilitas ini lebih kecil dibandingkan angka signifikasi atau alpha 1%, 5%, atau 10%. Sehingga dapat disimpulkan bahwa variabel rata-rata lama sekolah . ari sisi Pendidika. , tingkat pengangguran, hingga rasio ketergantungan secara keseluruhan memengaruhi upah minimum Kabupaten/Kota di Jawa Tengah. Koefisien Determinasi Uji koefisien determinan (R. adalah indikator yang dapat mengetahui kemampuan suatu model dalam menjelaskan variasi pada variabel terikat. Uji ini dilakukan untuk melihat seberapa besar pengaruh variabel independent terhadap variabel dependen dalam Dalam hasil regresi Fixed Effect Model (FEM) robust dapat dilihat hasil koefisien determinasi menggunakan angka R-squared within. Tabel 11. Uji dan Koefisien determinan (R. R-squared Hasil Within Between Overall Sumber: olah data Stata17, 2026 . ata diola. Berdasarkan hasil estimasi koefisien determinasi yang disajikan pada Tabel 11, diketahui bahwa nilai r-squared within sebesar 0. sehingga dapat diartikan bahwa 53,31% hasil dipengaruhi oleh ketiga variabel independent yakni rata rtaa lama sekolah . ari sisi Pendidika. , tingkat pengangguran, serta rasio ketergantungan suatu wilayah. Namun, sisanya 46,79% dipengaruhi oleh variabel lain di luar model. Pembahasan Berdasarkan hasil dari pengujian yang telah dilakukan sebelumnya maka dapat diketahui bahwa metode yang diambil dalam penelitian ini adalah Fixed Effect Model (FEM) dan dilakukan estimasi robust standart error untuk mengatasi permasalahan pada uji asumsi klasik. Berdasarkan hasl estimasi didapatkan hasil bahwa dari ketiga variabel yang digunakan terdapat dua variabel yang memberikan pengaruh yakni rata rata laFEMma sekolah . ari sisi Pendidika. serta tingkat pengangguran. Namun, variabel rasio ketergantungan wilayah tidak berpengaruh terhadap perubahan upah minimum (UMK) di wilayah tersebut. Adapun pembahasan dari ketiga variabel akan dijelaskan pada point Paradoks: Jurnal Ilmu Ekonomi 9. | 371 Pengaruh rata-rata lama sekolah terhadap upah minimum Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata lama sekolah berpengaruh positif terhadap Upah Minimum Kabupaten/Kota di Jawa Tengah. Temuan ini menunjukkan bahwa pembangunan manusia yang tercermin melalui pendidikan berperan dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Semakin tinggi tingkat pendidikan masyarakat, semakin baik pengetahuan, keterampilan, dan kompetensi yang dimiliki tenaga kerja sehingga mampu meningkatkan produktivitas dan nilai tambah ekonomi. Dalam konteks Jawa Tengah, hubungan tersebut dapat dipahami melalui karakteristik perekonomian daerah yang didukung oleh perkembangan sektor industri dan jasa di beberapa wilayah, seperti Kota Semarang. Kabupaten Kendal. Kabupaten Demak. Kabupaten Jepara, dan Kabupaten Batang. Perkembangan aktivitas ekonomi di wilayah tersebut meningkatkan kebutuhan terhadap tenaga kerja yang memiliki keterampilan dan kompetensi yang lebih baik. Kondisi ini menyebabkan daerah dengan tingkat pendidikan yang relatif lebih tinggi cenderung memiliki tenaga kerja yang lebih kompetitif dan lebih mampu memenuhi kebutuhan dunia usaha. Selain itu, kualitas sumber daya manusia yang baik juga dapat meningkatkan daya tarik investasi karena perusahaan umumnya membutuhkan tenaga kerja yang produktif dan adaptif terhadap perubahan teknologi maupun proses produksi. Oleh karena itu, peningkatan rata-rata lama sekolah tidak hanya berkontribusi terhadap produktivitas tenaga kerja, tetapi juga dapat mendukung pertumbuhan aktivitas ekonomi yang pada akhirnya mendorong peningkatan tingkat upah minimum di suatu wilayah. Kondisi ini sejalan dengan temuan Riana dan Khafid . yang menunjukkan bahwa peningkatan kualitas pendidikan merupakan salah satu faktor penting dalam mendorong pembangunan manusia karena pendidikan berkontribusi terhadap peningkatan kapasitas dan kualitas individu. Selanjutnya, peningkatan kualitas sumber daya manusia tersebut dapat mendorong produktivitas tenaga kerja yang lebih tinggi, yang kemudian berimplikasi pada peningkatan tingkat upah. Temuan ini juga sejalan dengan Afin . yang menjelaskan bahwa produktivitas tenaga kerja memiliki keterkaitan dengan tingkat upah, di mana peningkatan produktivitas cenderung diikuti oleh peningkatan tingkat pengupahan. Pengaruh Tingkat Pengangguran terhadap upah minimum Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat pengangguran terbuka berpengaruh negatif terhadap Upah Minimum Kabupaten/Kota di Jawa Tengah. Temuan ini mengindikasikan bahwa peningkatan pengangguran cenderung menurunkan kemampuan daerah dalam mencapai tingkat upah minimum yang lebih tinggi. Kondisi tersebut mencerminkan ketidakseimbangan antara jumlah pencari kerja dan kesempatan kerja yang tersedia, sehingga posisi tawar tenaga kerja dalam memperoleh upah menjadi lebih lemah. Dalam perspektif pasar tenaga kerja, tingginya tingkat pengangguran menunjukkan adanya kelebihan penawaran tenaga kerja dibandingkan dengan permintaan tenaga kerja yang tersedia. Kondisi ini memberikan lebih banyak pilihan bagi perusahaan dalam merekrut pekerja sehingga tekanan untuk meningkatkan tingkat pengupahan menjadi relatif lebih rendah. Dalam konteks Jawa Tengah, kondisi tersebut dapat dikaitkan dengan masih adanya kabupaten/kota yang berperan sebagai daerah pemasok tenaga kerja dengan jumlah angkatan kerja yang besar, sementara pertumbuhan kesempatan kerja belum sepenuhnya mampu menyerap tambahan tenaga kerja yang tersedia. Akibatnya, peningkatan jumlah pencari kerja dapat memperlemah posisi tawar pekerja dan mengurangi dorongan kenaikan upah minimum di beberapa Temuan ini sejalan dengan Lazuardi dan Santoso . yang menunjukkan bahwa tingkat pengangguran terbuka memiliki keterkaitan dengan dinamika upah Paradoks: Jurnal Ilmu Ekonomi 9. | 372 minimum, di mana perubahan kondisi pasar tenaga kerja dapat memengaruhi pembentukan tingkat upah di suatu wilayah. Selain itu, tingginya tingkat pengangguran juga dapat mencerminkan belum optimalnya aktivitas ekonomi daerah yang berdampak pada terbatasnya kemampuan dunia usaha dalam meningkatkan tingkat pengupahan. Dalam konteks yang lebih luas, perbaikan kondisi ketenagakerjaan dan perluasan kesempatan kerja menjadi faktor penting dalam menekan pengangguran serta mendukung peningkatan kesejahteraan tenaga kerja, sebagaimana ditunjukkan oleh REffendy . yang menemukan bahwa kebijakan pengupahan memiliki keterkaitan dengan upaya pengurangan tingkat pengangguran terbuka. Pengaruh rasio ketergantungan terhadap Upah Minimum Hasil penelitian menunjukkan bahwa rasio ketergantungan tidak berpengaruh signifikan terhadap Upah Minimum Kabupaten/Kota di Jawa Tengah. Temuan ini mengindikasikan bahwa proporsi penduduk usia nonproduktif terhadap penduduk usia produktif belum menjadi faktor utama dalam menjelaskan variasi upah minimum antarwilayah selama periode penelitian. Hal tersebut dapat dipahami karena rasio ketergantungan lebih mencerminkan struktur demografi penduduk, sedangkan penetapan upah minimum pada umumnya lebih dipengaruhi oleh kondisi ketenagakerjaan, produktivitas tenaga kerja, dan kemampuan ekonomi daerah. Dalam konteks Jawa Tengah, pengaruh rasio ketergantungan terhadap upah minimum cenderung tidak terlihat secara langsung karena variabel tersebut tidak termasuk dalam indikator utama yang digunakan dalam pertimbangan penetapan upah minimum. Selain itu, perbedaan rasio ketergantungan antar kabupaten/kota belum tentu diikuti oleh perbedaan kondisi pasar kerja maupun produktivitas tenaga kerja yang menjadi dasar pembentukan tingkat upah. Temuan ini sejalan dengan Ridho. Razzaq, dan Kusnadi . yang menunjukkan bahwa karakteristik demografi, termasuk komposisi penduduk usia kerja, tidak selalu memberikan pengaruh langsung terhadap tingkat upah karena hubungan tersebut dipengaruhi oleh berbagai faktor ekonomi dan ketenagakerjaan. Oleh karena itu, variasi upah minimum di kabupaten/kota Jawa Tengah lebih banyak dipengaruhi oleh kualitas tenaga kerja dan kondisi ketenagakerjaan dibandingkan karakteristik demografi daerah. Kondisi ini didukung oleh temuan Andriani dan Wijaya . yang menegaskan bahwa produktivitas tenaga kerja lebih ditentukan oleh kualitas sumber daya manusia dan faktor ekonomi yang mendukung kemampuan tenaga kerja dalam menghasilkan output yang lebih tinggi. Simpulan dan Saran Berdasarkan hasil penelitian, rata-rata lama sekolah sebagai indikator pembangunan manusia berpengaruh positif dan signifikan terhadap Upah Minimum Kabupaten/Kota di Jawa Tengah periode 2020Ae2024. Temuan ini menunjukkan bahwa peningkatan kualitas pendidikan berperan dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia melalui penguatan pengetahuan, keterampilan, dan kompetensi tenaga kerja. Kondisi tersebut mendorong peningkatan produktivitas dan daya saing tenaga kerja yang pada akhirnya berkontribusi terhadap peningkatan upah minimum. Sementara itu, tingkat pengangguran terbuka berpengaruh negatif terhadap upah minimum, sedangkan rasio ketergantungan tidak menunjukkan pengaruh yang signifikan. Upaya peningkatan upah minimum perlu didukung oleh penguatan pembangunan manusia, terutama melalui peningkatan kualitas dan akses pendidikan. Pemerintah daerah perlu mendorong peningkatan capaian pendidikan masyarakat agar kualitas tenaga kerja semakin baik dan mampu meningkatkan produktivitas serta daya saing di pasar kerja. Dengan meningkatnya Paradoks: Jurnal Ilmu Ekonomi 9. | 373 kualitas sumber daya manusia, peluang untuk memperoleh tingkat upah yang lebih tinggi juga akan semakin besar. Referensi