JURNAL SATYA WIDYA - VOL. 39 NO. 1 (JUNI, 2. Available online at: https://ejournal. edu/satyawidya PERSEPSI GURU TERHADAP PERUBAHAN KARAKTER SOPAN SANTUN SISWA PASCA PEMBELAJARAN DARING Atika Damayanti Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta. Indonesia. E-mail: 19107010062@student. uin-suka. INFORMASI ARTIKEL A B S T R A C T Submitted Review Accepted Published The transition from online to offline learning after the pandemic requires good adjustment. The impact of online learning has caused changes in the education sector, including a shift in character This study aims to see how the teacher's perception of changes in the polite character of students after online learning. This study used a descriptive qualitative research method in the form of interviews. The subjects in this study were 3 teachers at SMA X. This study found that the character education of polite students seen in schools after the Covid-19 pandemic was quite Based on the teacher's observations, it turns out that there are quite a number of changes in the character of politeness that can be seen at school. Changes in the character of politeness such as not greeting when meeting a teacher, daring to answer when advised or reprimanded by the teacher, speaking in a fairly high tone, not being friendly with teachers or educators at . Character changes can occur due to lack of supervision from both parents and teachers, rapid technological developments and outside cultural influences. The impact is a feeling of discomfort that is felt either from the teacher or the surrounding In addition, it affects the image of the school and so . So far the strategies carried out by both the teacher and the school in dealing with or overcoming changes in the character of manners are by giving reprimands/punishments and providing good modeling or examples related to polite behavior. : 2023-01-01 : 2023-04-06 : 2023-06-13 : 2023-06-30 KEYWORDS Karakter. Sopan Santun. Pembelajaran KORESPONDENSI Phone: 081228148126 E-mail:19107010062@student. Peralihan dari pembelajaran daring ke luring setelah masa pandemi Covid-19 membutuhkan adaptasi yang efektif. Salah satu dampak dari perubahan tersebut adalah pergeseran nilai-nilai karakter dalam konteks pendidikan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menggali persepsi guru terhadap perubahan karakter sopan santun siswa pasca pembelajaran daring. Metode penelitian yang digunakan dalam studi ini adalah kualitatif deskriptif dengan pengumpulan data melalui wawancara. Tiga orang guru di SMA X dijadikan subjek dalam penelitian ini. Analisis menunjukkan bahwa pendidikan karakter sopan santun siswa di sekolah setelah pandemi Covid-19 menimbulkan kekhawatiran. Melalui observasi guru, ditemukan adanya beberapa perubahan dalam karakter sopan santun siswa. Bentuk perubahan tersebut meliputi kurangnya salam saat berpapasan dengan guru, perilaku berani dalam menanggapi nasihat atau teguran dari guru, penggunaan nada bicara yang tinggi, serta kurangnya sikap ramah terhadap guru dan tenaga Satya Widya | 1 Persepsi Guru Terhadap Perubahan Karakter A pendidik di sekolah. Faktor-faktor yang berkontribusi terhadap perubahan karakter ini meliputi kurangnya pengawasan dari orang tua dan guru, perkembangan teknologi yang pesat, dan pengaruh budaya eksternal. Dampaknya meliputi rasa ketidaknyamanan yang dirasakan oleh guru dan lingkungan sekitar, serta pengaruh negatif terhadap citra sekolah. Untuk mengatasi perubahan karakter sopan santun ini, guru dan sekolah telah menerapkan strategi berupa teguran atau hukuman, serta memberikan contoh perilaku sopan santun yang baik kepada siswa. PENDAHULUAN Sejak awal tahun 2020, organisasi kesehatan dunia atau yang dikenal sebagai WHO menetapkan bahwa Coronavirus Disease (Covid-. sebagai pandemi, karena virus tersebut melanda lebih dari 200 negara di seluruh dunia. Di Indonesia mengantisipasi penyebaran Covid-19 dengan melakukan berbagai macam tindakan, mulai dari wajib memakai masker, work from home, study from home, social dan physical distancing, pembatasan sosial berskala besar (PSBB) (Arum & Susilaningsih. Pandemi dan lockdown memberikan dampak yang sangat besar bagi kehidupan masyarakat Indonesia, salah satunya adalah dalam sektor pendidikan. Akibat pandemi Covid-19, semua sekolah baik tingkat Sekolah Dasar (SD). Sekolah Menengah Pertama (SMP). Sekolah Menengah Atas (SMA), dan bahkan tingkat Perguruan Tinggi terpaksa ditutup secara fisik namun dan kegiatan pembelajaran dilakukan secara dalam jaringan/online (Massie & Nababan, 2. Setelah kurang lebih dua tahun penerapan pembelajaran daring, pada bulan April terjadi penurunan kasus Covid-19 yang signifikan. Kabar ini memberikan harapan baru terutama bagi dunia pendidikan. Berdasarkan situasi tersebut, tidak lama setelahnya. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbu. mengeluarkan kebijakan yang memungkinkan dilakukannya pembelajaran tatap muka. Hal ini berarti semua lembaga pendidikan, termasuk TK. SD. SMP. SMA, dan perguruan tinggi dapat menyelenggarakan pembelajaran secara langsung. Tentu perubahan pembelajaran daring ke pembelajaran luring membutuhkan proses adaptasi. Peserta didik harus mulai beradaptasi dengan kondisi yang seperti ini dengan bantuan orang tua, belajar memanfaatkan waktu luang untuk senantiasa mengikuti kegiatan belajar, memahami materi, serta mengerjakan tugas yang diberikan (Arum & Susilaningsih, 2. Adapun sikap-sikap serta perilaku siswa baik kebiasaannya saat belajar mulai terlihat saat pembelajaran luring diterapkan. Berbagai perbedaan kerap kali diperlihatkan oleh siswa baik pada saat pembelajaran maupun saat di dalam lingkungan sekolah (Yuangga et al. Dilansir pada Kompas. com 23/09/2022 bahwa terdapat seorang siswa yang pukul gurunya di Kupang akibat saat guru itu sedang mengajar, siswa itu asyik bercerita dengan temannya yang duduk sebangku. Setelah ditegur, ternyata pelaku masih Lalu guru melempar spidol dan siswa tersebut tidak terima lalu memukul gurunya dengan spontan. Baru-baru ini juga pernah viral di tik tok yang mana terdapat seorang siswa yang tidak terima saat ditegur gurunya karena bermain HP saat Salah satu contohnya yaitu berkurangnya perilaku kesopanan murid terhadap guru dalam proses belajar mengajar. Dengan kondisi yang berubah setelah dilakukannya pembelajaran daring selama kurang lebih selama 2 tahun. Kini pembelajaran dapat dilakukan kembali secara tatap muka atau luring, ditemukan beberapa perubahan yang dapat dirasakan. Perubahan sikap siswa guru kepada cukup 2 | Satya Widya Jurnal Satya Widya Ae Vol. 39 No. 1 (Juni, 2. 1 Ae 10 Saat ini banyak peserta didik di tengah masyarakat, tidak menunjukan perilaku sopan santun seperti tidak menghargai orang lain, tidak menghormati orang yang lebih tua, berbicara kasar, bahkan ada peserta didik menganiaya guru hingga cedera parah (Imran. Rustiyarso, 2. Berdasarkan contoh di atas, perilaku sopan santun di sekolah terbilang cukup Perilaku sopan santun adalah suatu sikap, tingkah laku atau perbuatan yang dilakukan individu untuk menghormati dan menghargai orang lain di sekitarnya (Pertiwi, 2. Untuk mencapai karakter yang baik pada siswa seperti halnya memiliki perilaku sopan santun yang baik, maka dibutuhkan perhatian khusus terkait implementasi pendidikan karakter di sekolah. Pendidikan karakter adalah suatu sistem penamaan nilai-nilai karakter yang meliputi komponen pengetahuan, kesadaran atau kemauan, dan tindakan untuk melaksanakan nilai-nilai tersebut, baik terhadap Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama, lingkungan, maupun kebangsaan (Omeri, 2. Oleh karena itu, pendidikan karakter dikenal dengan sebutan pendidikan nilai, pendidikan budi pekerti, pendidikan moral, dan pendidikan watak. Tujuannya adalah untuk membekali siswa dengan keterampilan yang mereka butuhkan untuk memberikan nasihat kepada orang lain, mengidentifikasi apa yang baik, dan menindaklanjuti nasihat itu dalam kehidupan sehari-hari mereka dengan penuh integritas. Kita bisa melihat bahwa pendidikan karakter dalam konteks pendidikan merupakan hal yang sangat penting, sehingga untuk mewujudkan hal ini diperlukan strategi pendidikan karakter dalam membentuk karakter yang baik bagi anak bangsa. Pendidik memiliki peran penting dalam mencerdaskan dan membentuk generasi yang berkarakter (Sirait. Azyana Alda, 2. Upaya pemaksimalan pendidikan karakter sopan santun perlu ditingkatkan kembali. Adapun upaya yang bisa dilakukan oleh guru pada saat kegiatan pembelajaran di kelas . Guru selalu memberikan senyuman dan salam ketika bertemu peserta didik baik di lingkungan sekolah maupun luar sekolah. mencontohkan tata krama serta sopan santun dalam kelas, seperti tersenyum ketika mengajar, berdoa ketika memulai dan mengakhiri pembelajaran, . tidak melakukan tindakan kekerasan, diskriminasi, dan bullying, supaya anak dapat mengembangkan potensi yang dimiliki (Kholifah, 2. Penelitian sebelumnya juga menemukan bahwa ternyata setelah dilakukannya pembelajaran daring dengan intensitas penggunaan HP yang tinggi, maka berpengaruh pada perilaku kesopan santunan anak anak di wilayah Jl Tamansari (Prasrihamni et al. Padahal idealnya murid ketika berhadapan dengan guru, sang murid harus senantiasa menghormat. Sekali seseorang menjadi murid dari seorang guru, selamanya status itu tidak akan bisa dilepas (Nandya, 2. Dalam bukunya Ahmad Tafsir . , menyatakan bahwa interaksi dan relasi antara guru dan murid sangatlah erat sekali sehingga guru dianggap sebagai bapak spiritual . piritual fathe. , karena berjasa dalam memberikan santapan jiwa dengan ilmu. Dilihat dari permasalahan yang terjadi di atas, guru merupakan salah satu komponen penting dalam melaksanakan penanaman sopan Untuk melaksanakan penanaman sopan santun tersebut, maka pandangan guru sebagai pembimbing dan pendidik sangatlah penting (Diren Oktrima. Adelina Hasyim. Namun tidak bisa dipungkiri seiring dengan berjalannya waktu isu-isu menurunnya karakter sontak sering terdengar. Hilangnya karakter pada generasi muda ini tentu menjadi tantangan serius dalam dunia pendidikan. Secara spesifik bahwa etika dalam dunia pendidikan terutama etika murid terhadap guru saat ini sudah mulai pudar dan bahkan telah hilang, walaupun etika itu sendiri masih ada namun seringkali banyak kesalahan dalam penempatannya (Nandya, 2. Satya Widya | 3 Persepsi Guru Terhadap Perubahan Karakter A Oleh karena itu melalui penelitian ini akan menggali data mengenai masalahmasalah yang terjadi yang berkaitan dengan pendidikan karakter sopan santun. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bentuk perubahan karakter sopan santun pasca pandemic, mengetahui mengapa perubahan karakter sopan santun bisa terjadi, mengetahui dampaknya terhadap pembelajaran atau kehidupan di sekolah serta menganalisis bagaimana strategi atau solusinya. Masih sedikit penelitian yang mengkaji perubahan dalam sikap sopan santun setelah mengikuti pembelajaran daring. Meskipun demikian, beberapa penelitian sebelumnya telah dilakukan untuk mengevaluasi dampak pembelajaran daring terhadap pembentukan karakter siswa. Dalam penelitian yang dilakukan oleh Massie dan Nababan (Massie & Nababan, 2. , ditemukan bahwa karakter siswa mengalami penurunan selama masa pembelajaran daring. Penelitian tersebut menyiratkan adanya perhatian yang kurang terhadap pengembangan nilai-nilai sopan santun saat siswa belajar secara online. Namun, penting untuk dicatat bahwa masih diperlukan penelitian lebih lanjut guna memperdalam pemahaman tentang perubahan karakter tersebut. Dengan adanya penelitian lebih lanjut, kita dapat memahami secara lebih komprehensif dampak pembelajaran daring terhadap sikap dan perilaku siswa, termasuk perubahan dalam karakter sopan santun. Pada penelitian ini menggunakan teori pendidikan karakter, teori sopan santun, dan teori perubahan sosial. Pendidikan karakter merupakan sebuah upaya yang dirancang secara sengaja dan sungguh-sungguh untuk memperbaiki karakter dengan cara membantu seseorang memahami, peduli dan bertindak dengan landasan nilai-nilai etis (Lickona, 1991,2. Pendidikan karakter sopan santun adalah suatu proses pendidikan yang bertujuan guna menjadikan pribadi individu ke dalam arah yang jauh lebih baik yakni dengan pendidikan budi pekerti yang nantinya dapat dicerminkan dalam etika, perbuatan secara nyata yakni tingkah laku yang mulia (Putra et al. , 2. Sopan santun merupakan sikap dan perilaku yang terkait dengan aturan atau normanorma yang berlaku dalam masyarakat. Karakter sopan santun harus diperhatikan oleh setiap tenaga pendidik agar dapat menciptakan peserta didik yang memiliki tata perilaku yang baik (Imran. Rustiyarso, 2. Menurut Hartono sopan santun adalah kebiasaan yang baik dan disepakati dalam lingkungan pergaulan antar manusia setempat. Sopan santun terdiri atas AusopanAy dan AusantunAy yang berarti adat, aturan, norma, peraturan. Santun berarti norma, bahasa yang taklim . mat horma. , kelakuan, tindakan, perbuatan (Hartono, 2. Mac Iver, perubahan sosial merupakan perubahan-perubahan dalam interaksi sosial . ocial relatio. atau perubahan terhadap keseimbangan . hubungan sosial (Lorentius, 2. Persepsi merupakan suatu proses yang diawali oleh proses penginderaan, yaitu merupakan proses diterimanya stimulus oleh individu melalui alat indera atau juga disebut proses sensoris (Bimo, 2. Persepsi dari guru mencerminkan sikap atau perilaku mereka berasal dari pengamatan. Hasil pengamatan tersebut akan memunculkan sebuah persepsi dimana persepsi tersebut bisa ke arah positif atau ke arah negatif tergantung dari pengamatan setiap individunya (Wood, 2. Persepsi guru mengenai perilaku siswa di sekolah amatlah penting, hal ini sebagai bentuk perhatian dan kepedulian guru akan sikap dan perilaku para siswanya. Begitupun dengan Pendidikan karakternya baik di sekolah maupun di kehidupannya sehari-hari. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan Metode deskriptif adalah metode yang digunakan untuk menggambarkan 4 | Satya Widya Jurnal Satya Widya Ae Vol. 39 No. 1 (Juni, 2. 1 Ae 10 atau menguraikan kejadian dan fakta yang ditemukan oleh peneliti selama penelitian (Imran. Rustiyarso, 2. Data dalam penelitian ini diperoleh dari sumber data primer, yang diperoleh secara langsung melalui wawancara semi terstruktur. Peneliti melakukan wawancara dengan tiga orang guru di sebuah SMA di Kabupaten Banyumas. Jawa Tengah, yang terdiri dari satu guru BK dan dua guru yang juga bertugas dalam bidang Subjek penelitian ini adalah guru-guru yang aktif mengajar di sekolah, khususnya di tingkat menengah atas. Dalam prosedur analisis data yang telah ditentukan, langkah terakhir adalah menentukan hubungan antara tindakan yang dilakukan, bagaimana tindakan tersebut dilakukan, mengapa tindakan tersebut dilakukan, serta dampak atau pengaruh dari tindakan tersebut. Data primer dari hasil wawancara digunakan sebagai sumber data untuk analisis selanjutnya. Penelitian ini bertujuan untuk menggali informasi yang relevan dan mendalam tentang perubahan karakter sopan santun siswa pasca pembelajaran daring. Dengan menggunakan metode penelitian kualitatif dan pendekatan deskriptif, data primer diperoleh melalui wawancara semi terstruktur dengan tiga orang guru di SMA X di Kabupaten Banyumas. Jawa Tengah. Guru-guru yang diwawancarai termasuk satu guru BK dan dua guru yang juga berperan dalam bidang kesiswaan. Data primer tersebut akan dianalisis dengan mengidentifikasi tindakan yang dilakukan, cara pelaksanaannya, alasan di balik tindakan tersebut, dan dampaknya terhadap perubahan karakter sopan santun siswa. Proses analisis data akan memberikan pemahaman yang lebih mendalam tentang perubahan karakter tersebut dan hubungannya dengan pembelajaran daring. HASIL DAN PEMBAHASAN Penelitian sebelumnya juga pernah dilakukan terkait dengan dampak pembelajaran daring terhadap perubahan pendidikan karakter siswa. Hasilnya adalah karakter siswa selama pembelajaran daring selama pembelajaran daring di masa Covid19 cenderung menurun (Massie & Nababan, 2. Khususnya dalam penelitian ini, peneliti memfokuskan pada perubahan karakter sopan santun pada peserta didik. Berdasarkan hasil penggalian data yang diperoleh melalui wawancara kepada 3 guru di SMA X di daerah Kabupaten Banyumas Jawa Tengah. Ditemukan bahwa setelah diberlakukannya pembelajaran tatap muka di masa pasca pandemi ini ditemukan banyak perubahan karakter sopan santun. Bentuk Perubahan Karakter Sopan Santun Berdasarkan hasil wawancara dengan 3 guru di SMA X ditemukan perubahan karakter yang terlihat saat siswa berada di sekolah pasca pembelajaran daring. Salah satu guru menyebutkan bahwa terdapat perubahan yang signifikan pada siswa, adapun kutipannyaAuAda perbedaannya mba, misalnya sekarang sopan santun anak2 mulai berkurang, ada yang berbicara dengan guru seperti berbicara dengan teman sendiri, kalau bertemu dengan guru di luar kelas diam saja . idak senyum, tidak menyap. Ay. Sesuai dengan kutipan wawancara sebelumnya ditunjukan bentuk-bentuk perubahan karakter sopan santun yang ditemukan guru seperti, tidak menyapa ketika berpapasan dengan guru, berani menjawab ketika dinasehati atau diberi teguran oleh guru, berbicara dengan nada yang cukup tinggi dengan guru, tidak ramah atau murah senyum dengan guru atau tenaga pendidik di sekolah. Selain itu guru lain juga menyebutkan bentuk perubahan lain Audi kelas X saat saya lewat untuk ke kelas yang saya ajar ada anak yang duduk di meja memakai sandal, di kelas X yang saya ajar ada anak yang duduk dengan Satya Widya | 5 Persepsi Guru Terhadap Perubahan Karakter A menaikkan kedua kakinya di kursiAy. Dari kutipan wawancara tersebut dapat diketahui ditemukan juga siswa-siswa yang duduk-duduk di meja, ketika pembelajaran ada anak yang duduk dengan menaikkan kedua kakinya. Tidak jarang banyak juga guru yang mengeluhkan penggunaan kata-kata yang kurang sopan dan terkesan kasar juga seringkali terdengar di telinga para guru. Dari berbagai contoh maupun bentuk perubahan karakter sopan santun, hal tersebut tidak jauh dari adanya perubahan sosial. Perubahan sosial muncul begitu signifikan akibat adanya perubahan kondisi sosial akibat pandemi Covid-19. Wilbert Moore misalnya mengartikan perubahan sosial sebagai suatu perubahan penting yang terjadi dalam keseluruhan struktur sosial, pola-pola perilaku dan sistem interaksi sosial, termasuk di dalamnya perubahan norma, nilai, dan fenomena kultural (Lorentius, 2. Berdasarkan hal ini perubahan karakter diakibatkan karena adanya perubahan fenomena kultural yang telah terjadi serta sistem interaksi sosialnya. Pembelajaran daring adanya pandemi covid-19 menjadi salah satu faktor penyebab terjadinya perubahan sosial yang cukup berdampak besar ini. Perubahan sosial yang telah dirasakan hingga di bidang pendidikan ini dibutuhkan upaya dan peran-peran dari berbagai pihak. Hal ini dibutuhkan agar nilai-nilai maupun ciri khas Bangsa Indonesia seperti budaya sopan santun, tidak hilang begitu saja seiring berkembangnya zaman. Penyebab Perubahan Karakter Sopan Santun Perubahan karakter siswa pasca pembelajaran daring disebabkan oleh beberapa Menurut penjelasan dari persepsi guru, penurunan perubahan karakter dapat disebabkan oleh kurangnya pengawasan dan arahan dari orang tuanya selama pembelajaran daring. Seperti halnya berdasarkan wawancara dari salah satu guru bahwa mengenai tentang pengawasan orang tua memanglah bukan suatu perkara yang Salah satu guru tersebut mengatakan Aukalo pengawasan orang tua ya sudah pasti sih ya mba pengaruhnya, memang sudah sulit juga mba, tidak semua orang tua ngerti juga kan anaknya bagaimana, ada juga orang tua yang istilahnya hanya tau anaknya megang HP ya buat sekolah gitu mbaAy. Kedua, kurangnya pengawasan dari guru selama pembelajaran daring dikarenakan adanya keterbatasan interaksi. AuSejujurnya saya sebagai guru juga cukup sulit mba untuk melakukan pengawasan sewaktu daring, istilahnya untuk tahu siswa saya seperti apa juga terhambat, soalnya kalo disini kan tidak pakai tatap muka online terus mbaAy. Berdasarkan dari kutipan wawancara sebelumnya dapat dimengerti bahwa peran guru untuk mengawasi perilaku-perilaku siswanya sangatlah terbatas, bahkan sangatlah sulit. Terlebih tidak semua sekolah melakukan tatap muka secara online secara terus menerus. Adapun menurut penjelasan ketiga guru tersebut mengatakan bahwa tidak bisa dipungkiri penggunaan teknologi gadget dan internet cukup berpengaruh. Penggunaan gadget atau internet yang berlebihan menjadikan siswa benar-benar merdeka belajar sampai melunturkan adab dan tata krama yang harus dilakukan. AuTapi yg paling terlihat ya pengaruhnya terhadap karakter siswa yg menurun. benar-benar merdeka belajar". Penyebab lain yakni pengaruh budaya luar. Seringkali pengaruh budaya luar baik dari gaya hidup, cara berpakaian dan berbicara kurang sesuai dengan budaya Indonesia. Tidak jarang siswasiswa secara tidak langsung mengikuti perkembangan budaya tersebut. Dampak Perubahan Karakter Sopan Santun Dari hasil wawancara terdapat dampak perubahan karakter sopan santun terhadap pembelajaran cukup terlihat. Adapun salah satu guru menyampaikan AuKalo jaman dulu diplirik dah takut mba, sekarang di plirik tok gak cukup, sekarepe dewek kalo di kelas, saya juga yang jadinya ngadepin harus banyak-banyak bersabar, biar ngga 6 | Satya Widya Jurnal Satya Widya Ae Vol. 39 No. 1 (Juni, 2. 1 Ae 10 emosi mbaAy. Ketiga dari guru di SMA X mengeluhkan hal yang sama terkait dampak yang ditimbulkan saat pembelajaran salah satunya, kelas semakin tidak kondusif karena banyak siswa yang berperilaku semaunya sendiri, kurang tertib saat pembelajaran, perubahan suasana karena lunturnya rasa hormat antara siswa dengan guru. Tidak hanya itu juga, guru akan mudah terpancing emosi ketika melihat hal-hal atau perilaku siswa yang kurang terpuji dan kerap kali menjengkelkan guru. Siswa saat ini cenderung lebih berani kepada guru, berniat friendly dengan gurunya namun terlewat batas. Dengan kata lain, siswa cenderung kurang dapat menempatkan diri ketika berperilaku. Hal ini cukup berpengaruh pada keadaan psikologis guru saat mengajar. Selain itu menurunnya karakter sopan santun juga akan berpengaruh pada citra sekolah. Nama baik sekolah juga ditentukan dari perilaku siswanya di luar sekolah. Selain itu dampak lain yang muncul yakni, tidak bisa menghargai orang lain, minimnya empati atau kepedulian satu sama lain, tidak bisa menjaga nama baik dirinya maupun keluarganya serta kurangnya Strategi atau Upaya Mengatasi Perubahan Karakter Sopan Santun Berdasarkan hasil wawancara dari ketiga guru, secara garis besar mengatakan hal yang sama bahwa strategi atau upaya untuk mengatasi perubahan karakter sopan santun yang telah dilakukan guru yakni dengan peneguran dan modeling kepada Contoh ketika siswa ketahuan berbicara kasar dan kurang sopan, guru akan menegurnya secara langsung. Begitupun ketika di kelas, guru memberikan peneguran sekaligus menasihati kepada siswa-siswa ketika proses pembelajaran berlangsung. Selain itu juga upaya untuk mengatasi perubahan karakter yakni dengan modeling, guru memberikan contoh-contoh kembali mengenai perilaku dasar sopan santun seperti berusaha untuk tersenyum, menyapa ketika berpapasan dengan orang dan lain, berbicara yang santun dan lain sebagainya. Adapun yang dilakukan oleh guru lain maupun sekolah yakni dengan diberlakukannya kembali peraturan. Adanya sanksi bagi siswa yang melanggar karena diharapkan dengan adanya sanksi yang dapat langsung diberikan bisa membuat siswa jera dan menyadari kesalahan yang telah diperbuatnya dan juga berharap semua pihak seperti orang tua dan warga lingkungan sekitar dapat ikut berperan dalam mengatasi masalah menurunya adab sopan santun siswa kepada guru sehingga dapat terciptanya lingkungan yang sehat (Diren Oktrima. Adelina Hasyim, 2. Bagi keluarga atau sekolah untuk mempengaruhi perkembangan karakter secara optimal, mereka perlu memahami sifat karakter yang kompleks dan menerapkan prinsip-prinsip efektif yang telah terbukti secara empiris berdampak positif bagi perkembangan masyarakat banyak bagian dari orang yang bermoral (Berkowitz & Bier, 2. Persepsi Guru Terhadap Perubahan Karakter Sopan Santun Sudah seharusnya perubahan-perubahan yang mengarah pada kemunduran menjadi perhatian bersama. Terlebih di kalangan para pelajar, perubahan-perubahan karakter perlu menjadi catatan tersendiri bagi guru. Berdasarkan teori, persepsi adalah sebuah proses diterimanya stimulus oleh individu melalui alat indera atau juga disebut proses sensoris (Bimo, 2. Dalam hal ini pengamatan yang dilakukan guru melalui alat indera, guru bisa mengetahui apa saja yang dilakukan siswa selama pengamatannya. Melalui cara tersebut persepsi dari guru mencerminkan sikap atau perilaku mereka berasal dari pengamatan. Pandangan guru terhadap muridnya di sekolah diharapkan menjadi monitor atas perilaku-perilaku siswa di lingkungan sekolah. Merujuk pada persepsi guru, salah satu guru di SMA X tersebut mengutarakan bahwa AuSepertinya penurunan karakter tersebut hampir seluruh jenjang mbaAy. Persepsi guru terhadap Satya Widya | 7 Persepsi Guru Terhadap Perubahan Karakter A perubahan karakter sopan santun pasca pembelajaran daring cenderung pada tingkatan yang negatif. Hal ini karena guru betul-betul merasakan perbedaan yang signifikan dari kondisi dan situasi siswa-siswi sebelum adanya pandemi Covid-19 dengan siswa-siswa yang belajar setelah adanya pembelajaran. Penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Diren Oktrima. Adelina Hasyim . mendapatkan hasil bahwa persepsi guru tentang menurunnya adab sopan santun siswa kepada guru merupakan suatu norma sosial yang dianjurkan namun kurang dilaksanakan sepenuhnya oleh warga sekolah. Terjadinya penurunan sopan santun siswa kepada guru bisa jadi karena sebagian besar guru kurang memahami karakter sopan santun atau paham terhadap perubahan karakter sopan santun yang dilakukan siswa. Meskipun guru-guru merasa prihatin terhadap perubahan yang terjadi, namun berdasarkan wawancara guru-guru tersebut memahami bahwa beradaptasi terhadap perubahan tidaklah mudah. Berdasarkan wawancara dari ketiga guru tersebut, perubahan-perubahan terjadi kepada siswa dapat dijadikan tantangan tersendiri bagi guru untuk bagaimana caranya mengembalikan karakter-karakter baik pada siswa. Guru juga perlu bersinergi untuk mengatasi perubahan yang ada, termasuk pemahaman guru tentang pentingnya pendidikan karakter yang menentukan keberhasilan implementasi pendidikan karakter di sekolah. Peran warga sekolah sangat dibutuhkan dalam permasalahan ini. Tentu dalam membentuk karakter memerlukan kesabaran, pembiasaan, dan pengulangan sehingga proses pendidikan karakter merupakan keseluruhan proses pendidikan yang dialami peserta didik sebagai pengalaman pembentukan kepribadian melalui memahami dan mengalami sendiri nilai-nilai, keutamaan-keutamaan moral, nilai-nilai ideal agama, nilai-nilai moral (Chairiyah. SIMPULAN Berdasarkan persepsi guru, dapat ditarik kesimpulan bahwa terjadi perubahan karakter sopan santun pada siswa setelah mengikuti pembelajaran daring selama masa pandemi Covid-19. Perubahan tersebut tampak dalam berbagai bentuk perilaku siswa, antara lain, tidak menyapa saat berpapasan dengan guru, keberanian dalam menjawab saat dinasehati atau diberi teguran oleh guru, penggunaan nada bicara yang cukup tinggi, dan kurangnya sikap ramah terhadap guru atau tenaga pendidik di sekolah. Faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan karakter ini meliputi kurangnya pengawasan yang dilakukan oleh orang tua dan guru terhadap perilaku siswa, perkembangan teknologi yang pesat (Nababan, 2. , serta pengaruh budaya dari luar. Dalam situasi pembelajaran daring, siswa memiliki lebih banyak kesempatan untuk berinteraksi dengan teknologi dan budaya yang mungkin tidak selalu mendorong perkembangan karakter sopan santun. Dampak dari perubahan karakter ini dapat dirasakan oleh guru dan lingkungan Terjadinya perilaku kurang sopan santun menciptakan rasa ketidaknyamanan dalam interaksi sehari-hari. Selain itu, perubahan ini juga dapat berdampak negatif pada citra sekolah dan lingkungan belajar secara keseluruhan. Untuk mengatasi perubahan karakter sopan santun yang terjadi, guru dan sekolah telah menerapkan beberapa strategi penanganan. Salah satu strategi yang diterapkan adalah memberikan peneguran atau hukuman kepada siswa yang melanggar aturan sopan santun. Selain itu, guru juga berusaha memberikan contoh perilaku sopan santun yang baik melalui metode modeling atau pemodelan dalam situasi-situasi yang relevan. Dengan penerapan strategi ini, 8 | Satya Widya Jurnal Satya Widya Ae Vol. 39 No. 1 (Juni, 2. 1 Ae 10 diharapkan siswa dapat kembali mengembangkan dan memperbaiki karakter sopan santun mereka dalam konteks pembelajaran daring maupun tatap muka. DAFTAR PUSTAKA