Jurnal Untuk Masyarakat Sehat (JUKMAS) Vol. No. 1 April 2024 e-ISSN : 2715-7687 P-ISSN : 2715-8748 Pengaruh Video Edukasi Kesehatan Terhadap Pengetahuan dan Sikap Siswa Tentang Talasemia di SMK Bina Bangsa Kota Tangerang Tahun 2023 Rahajeng Kartika Sari. Sri Utami. Atik Kridawati Program Studi Kesehatan Masyarakat Program Magister Universitas Respati Indonesia rahajengks@gmail. Abstrak Talasemia meningkat dua kali lipat dari 4896 kasus tahun 2012 menjadi 8761 kasus pada tahun Diperkirakan 2. 500 bayi baru lahir dengan talasemia setiap tahunnya di Indonesia. Provinsi Banten menempati posisi ke empat dalam jumlah talasemia terbanyak. Pencegahan untuk memutus rantai talasemia bisa dilakukan dengan menghindari pernikahan sesama pembawa sifat talasemia. Target pencegahan dan edukasi talasemia paling baik untuk remaja dengan memberikan pemahaman penyakit talasemia dan mendorong untuk berhati-hati dalam memilih pasangan. Tujuan: Mengetahui gambaran perubahan pengetahuan dan sikap sebelum dan sesudah diberikan edukasi berupa video penyakit talasemia pada siswa SMK Bina Bangsa Tangerang tahun 2023. Metode: Menggunakan desain quasi eksperimental dan pengumpulan data dengan kuesioner. Penentuan jumlah sampel menggunakan rumus Lemeshow sehingga didapatkan jumlah sampel kelompok intervensi 25 dan tanpa intervensi 25 siswa dengan teknik purposive sampling. Uji beda mean pretest dan posttest pengetahuan dan sikap kedua kelompok menggunakan uji T dependen, sedangkan untuk mengetahui peningkatan pengetahuan dan pemahaman sikap kelompok intervensi setelah diberi video edukasi talasemia mengunakan uji T Hasil: Terdapat peningkatan pengetahuan . value=0,. dan pemahaman sikap . value= 0,. pada siswa kelompok intervensi setelah diberikan video edukasi talasemia. Simpulan dan Saran: Media video edukasi penyakit talasemia efektif meningkatkan pengetahuan dan pemahaman sikap siswa terhadap penyakit talasemia. Diharapkan edukasi kesehatan penyakit talasemia lebih intensif dilakukan dari pihak sekolah sebagai upaya pencegahan untuk memutus rantai talasemia. Kata kunci: Talasemia, pengetahuan, sikap, edukasi Abstract Thalassemia cases doubled from 4,896 cases in 2012 to 8,761 cases in 2018. It is estimated that 2,500 newborns with thalassemia are born every year in Indonesia. The province of Banten ranks fourth in terms of the highest number of thalassemia cases. Prevention to break the thalassemia chain can be achieved by avoiding marriages between carriers of the thalassemia trait. The best prevention and education strategy for thalassemia is targeting adolescents, providing an understanding of the disease and encouraging caution in selecting partners. Objective: To understand the changes in knowledge and attitudes before and after being educated through a video about thalassemia among students of SMK Bina Bangsa Tangerang in 2023. Method: Utilizing a quasi-experimental design and collecting data through a questionnaire. The sample size was determined using the Lemeshow formula, resulting in 25 intervention group students and 25 non-intervention group students using purposive sampling The difference in mean pretest and posttest knowledge and attitudes in both groups was tested using dependent t-test, while the increase in knowledge and attitude understanding of the intervention group after being provided with thalassemia educational video was tested using independent t-test. Results: There was an improvement in knowledge . value=0. and attitude understanding . value=0. among students in the intervention group after being provided with thalassemia educational video. Conclusion and Recommendation: The thalassemia educational video is an effective medium to enhance students' knowledge and attitude understanding of thalassemia. It is recommended for health education on thalassemia to be conducted more intensively by schools as a preventive effort to break the chain of thalassemia. http://ejournal. id/index. php/jukmas Article History : Submitted 22 September 2023. Accepted 29 April 2024. Published 30 April 2024 Jurnal Untuk Masyarakat Sehat (JUKMAS) Keywords: knowledge, attitudes, thalassemia, education PENDAHULUAN: Thalassemia disease . enyakit talasemi. merupakan penyakit keturunan, termasuk kelompok penyakit anemia hemolitik herediter yang ditandai oleh kelainan produksi globin yang ada pada hemoglobin sehingga menyebabkan sel darah merah tidak normal dan cepat rusak. Talasemia dapat dibedakan berdasarkan dua klasifikasi, yaitu berdasarkan rantai Hemoglobin . lpha dan bet. dan tingkat keparahan yaitu: Intermedia dan Mayor . Menurut data Kementerian Kesehatan pada tahun 2019 prevalensi pasien talasemia terus meningkat, ada 555 kasus talasamia mayor di Indonesia dan diperkirakan 2. 500 bayi baru lahir dengan talasemia. Provinsi Banten adalah urutan keempat dalam jumlah kasus talasemia. Saat ini talasemia menempati posisi ke-5 di antara penyakit tidak menular setelah penyakit jantung, gagal ginjal, kanker dan stroke yaitu 2,78 triliun tahun 2020 untuk biaya yang dikeluarkan pemerintah untuk pengobatan pasien sekitar dua ratus hingga lima ratus juta per orang per tahun. Penambahan fasilitas untuk transfusi darah bagi pasien talasemia pun dilakukan RSUD Kota Tangerang. Menurut Wahidiyat. untuk memutus bertambahnya jumlah talasemia dengan skrining darah pranikah. Pencegahan dan edukasi tentang talasemia adalah hal yang penting dilakukan untuk menekan bertambahnya jumlah talasemia dimasyarakat dan paling baik ditargetkan untuk Tujuannya memberikan pemahaman kepada remaja terkait penyakit talasemia dan juga bila remaja adalah karier . embawa sifa. sejak dini dapat mendorong mereka untuk berhati-hati dalam memilih pasangan atau mencari konseling genetik sebelum memiliki anak. Untuk meningkatkan pengetahuan diperlukan suatu upaya promosi kesehatan dan memerlukan suatu media, salah satunya dengan video edukasi yang diharapkan dapat memberikan informasi yang benar terkait penyakit talasemia . Saat ini masih sedikit penelitian mengenai talasemia yang dilakukan dikalangan pelajar SMK. Berdasarkan uraian diatas peneliti merasa bahwa siswa SMK Bina Bangsa Tangerang perlu ditinjau pemahamannya terkait talasemia, melalui pemberian edukasi dan sebagai suatu upaya preventif dalam mencegah Penulis ingin meneliti bagaimana pengetahuan dan sikap siswa sebelum dan sesudah diberikan paparan informasi melalui video edukasi talasemia di SMK Bina Bangsa Kota Tangerang. METODE: Menggunakan desain quasi eksperimental dan pengumpulan data dengan kuesioner. Penentuan jumlah sampel menggunakan rumus Lemeshow . , sehingga didapatkan jumlah sampel kelompok intervensi 25 dan tanpa intervensi 25 siswa dengan teknik purposive Tingkat pengetahuan diukur dengan menggunakan 13 pertanyaan yang meliputi: pengertian, tanda dan gejala, pengobatan dan Setiap jawaban yang benar diberi skor 1 dan yang salah diberi skor 0. Jawaban tersebut dijumlahkan dan dipersentasikan untuk kemudian dikategorikan menjadi tiga, yaitu pengetahuan baik, bila jawaban yang benar 76-100%, sedang bila jawaban yang benar 56-75% dan kurang bila jawaban yang benar <56% . Untuk mengukur sikap menggunakan 10 pertanyaan dengan empat pilihan jawaban sangat setuju medapat skor 4, setuju mendapat skor 3, tidak setuju mendapat skor 2 dan sangat tidak setuju mendapat skor 1. Skor tersebut dijumlahkan dan dihitung nilai meannya untuk mengkategorikan menjadi dua, yaitu sikap positif bila mean > 50% dan sikap negatif bila mean O 50% . Analisis univariat menjelaskan atau mendeskripsikan karakteristik responden yang meliputi usia, dan jenis kelamin, serta variabel pengetahuan dan sikap. Analisis bivariat untuk uji beda mean pretest dan posttest pengetahuan dan sikap kedua kelompok menggunakan uji T dependen, sedangkan untuk mengetahui peningkatan pengetahuan dan sikap kelompok intervensi setelah diberi video edukasi talasemia mengunakan uji T independent . http://ejournal. id/index. php/jukmas Jurnal Untuk Masyarakat Sehat (JUKMAS) HASIL DAN PEMBAHASAN Tabel 1 Distribusi karakteristik responden penelitian Kelompok Kelompok Jenis Wanita Pria Karakteristik Umur . Pernah Belum di SMK Bina Bangsa Tahun 2023 Berdasarkan tabel 1, responden penelitian mayoritas berumur 17 tahun yaitu sebanyak 17 orang . ,0%) pada kelompok kontrol dan 20 orang . ,0%) pada kelompok intervensi. Berdasarkan jenis kelamin baik pada kelompok kontrol dan intervensi video mayoritas berjenis kelamin perempuan masing-masing sebanyak 19 orang . ,0%) dan 21 orang . ,0%). Seluruh responden . %) belum pernah mendapat informasi terkait penyakit talasemia. Berdasarkan tabel 2, distribusi jawaban pengetahuan responden tentang penyakit talasemia pada soal pretest, responden yang paling banyak menjawab benar, yaitu pertanyaan pada talasemia gejala yang tampak seperti pada anemia . oal nomor . dengan jawaban benar kelompok kontrol . %) karena sebagian besar siswa sudah mengetahui ciri-ciri dari penderita anemia, yaitu pucat dan lesu. Hal ini sejalan dengan penelitian Pangestu . , dimana mayoritas responden penelitian mengetahui pucat dan lesu merupakan gejala anemia, yaitu sebanyak 90%. Sedangkan pada kelompok intervensi, bila sudah terjadi perkawinan antara sesama pembawa sifat talasemia . oal no . yaitu sebesar . %) kelompok intervensi menjawab benar dengan memilih opsi berkonsultasi dengan dokter. Didalam Tabel 2Pedoman Nasional Tentang Pelayanan Kedokteran Tatalaksana Talasemia Kemenkes . , bahwa pasangan suami istri sesama pembawa sifat talasemia dapat berkonsultasi ke dokter untuk menjalani tahapan pemeriksaan. Distribusi jawaban benar pengetahuan responden tentang penyakit talasemia Soal Pretest Talasemia adalah penyakit Pada talasemia sel darah yang mengalami kelainan pada pembentukannya adalah Jenis talasemia yang terbanyak di Indonesia: Bila kedua orang tua membawa sifat talasemia . alasemia mino. , maka anaknya berpeluang: Pada talasemia gejala yang tampak seperti pada anemia, yaitu: Komplikasi pada talasemia berbahaya karena: Kelompok Kontrol Kelompok Intervensi http://ejournal. id/index. php/jukmas Jurnal Untuk Masyarakat Sehat (JUKMAS) Organ tubuh yang mengalami gangguan/komplikasi akibat talasemia adalah: Akibat transfusi darah berulang, maka zat besi akan menumpuk di organ tubuh, sehingga dari luar penderita talasemia akan tampak: Orang dengan pembawa sifat talasemia biasanya: Pengobatan talasemia mayor yang harus dilakukan rutin seumur hidup, yaitu dengan: Upaya terbaik mengatasi kelahiran talasemia mayor yaitu dengan pencegahan, karena: Pencegahan talasemia yang dapat dilakukan: Bila sudah terjadi perkawinan antara sesama pembawa sifat talasemia: Posttest Talasemia adalah penyakit: Pada talasemia sel darah yang mengalami kelainan pada pembentukannya adalah Jenis talasemia yang terbanyak di Indonesia Bila kedua orang tua membawa sifat talasemia . alasemia mino. , maka anaknya berpeluang: Pada talasemia gejala yang tampak seperti pada anemia, yaitu: Komplikasi pada talasemia berbahaya karena: Organ tubuh yang mengalami gangguan/komplikasi akibat talasemia adalah: Akibat transfusi darah berulang, maka zat besi akan menumpuk di organ tubuh, sehingga dari luar penderita talasemia akan tampak: Orang dengan pembawa sifat talasemia biasanya: Pengobatan talasemia mayor yang harus dilakukan rutin seumur hidup, yaitu: Upaya terbaik mengatasi kelahiran talasemia mayor yaitu dengan pencegahan, karena: Pencegahan talasemia yang dapat dilakukan: Bila sudah terjadi perkawinan antara sesama pembawa sifat talasemia: Tabel 3 Distribusi kategori pengetahuan pretest responden tentang penyakit talasemia di SMK Bina Bangsa Tahun 2023 Pretest kelompok kontrol Pretest kelompok intervensi Pengetahuan: Kurang Cukup http://ejournal. id/index. php/jukmas Jurnal Untuk Masyarakat Sehat (JUKMAS) Jumlah tentang HIV/AIDS, responden mayoritas kategori pengetahuan kurang . %) dan cukup . %). Responden dalam penelitian ini belum pernah mendapatkan informasi terkait talasemia, baik berupa penyuluhan langsung dari sekolah maupun melalui media promosi kesehatan. Hal diatas sesuai dengan teori yang menyatakan pengindraan manusia, atau hasil tahu seseorang terhadap objek melalui indra yang dimilikinya . ata, hidung, telinga, dan sebagainy. Sebagian besar pengetahuan seseorang diperoleh melalui indra pendengaran yaitu telinga dan indra penglihatan yaitu mata . Berdasarkan tabel 3, kategori pengetahuan pretest responden tentang penyakit talasemia pada kelompok kontrol mayoritas pada katagori pengetahuan kurang sebanyak 25 orang . %), sedangkan pada kelompok intervensi mayoritas pada katagori pengetahuan kurang sebanyak 24 orang . ,0%) dan cukup hanya 1 orang . %). Hal ini sejalan dengan penelitian Wahidiyat . , dimana sebagian besar responden memiliki pengetahuan buruk . ,1%) terhadap penyakit Hal ini juga sejalan dengan penelitian Tarigan, dimana responden yang belum mendapatkan intervensi media edukasi video Tabel 4 Distribusi jawaban sikap responden tentang penyakit talasemia Kelompok Kontrol Kelompok Intervensi (%) (%) (%) STS (%) (%) (%) (%) STS (%) Pretest Talasemia dapat diturunkan dari orang tua kepada anaknya Pucat dan lesu salah satu pertanda anemia atau kurang darah dan terlihat mudah lelah Penyandang talasemia harus menjalani transfusi darah rutin seumur hidup Penyandang talasemia harus rutin menjalani pengobatan ke rumah sakit Pengobatan talasemia sangat Seorang talasemia minor . embawa sifa. sebaiknya tidak menikah dengan talasemia minor Setiap pasangan yang akan menikah sebaiknya melakukan skrining darah Pembawa sifat talasemia tidak bergejala, karena itu untuk mengetahuinya perlu melakukan skrining darah Dukungan keluarga untuk mendorong skrining darah sebelum menikah sangat diperlukan http://ejournal. id/index. php/jukmas Jurnal Untuk Masyarakat Sehat (JUKMAS) Mencegah talasemia lebih baik dari Posttest Talasemia dapat diturunkan dari orang tua kepada anaknya Pucat dan lesu salah satu pertanda anemia atau kurang darah dan terlihat mudah lelah Penyandang talasemia harus menjalani transfusi darah rutin seumur hidup Penyandang talasemia harus rutin menjalani pengobatan ke rumah sakit Pengobatan talasemia sangat Seorang talasemia minor . embawa sifa. sebaiknya tidak menikah dengan talasemia minor Setiap pasangan yang akan menikah sebaiknya melakukan skrining darah Pembawa sifat talasemia tidak bergejala, karena itu untuk mengetahuinya perlu melakukan skrining darah Dukungan keluarga untuk mendorong skrining darah sebelum menikah sangat diperlukan Mencegah talasemia lebih baik dari Berdasarkan tabel 4 responden yang paling banyak menjawab setuju dan sangat setuju, untuk pernyataan pucat dan lesu salah satu pertanda anemia atau kurang darah . pada kelompok kontrol yang menyatakan sangat setuju . %) dan setuju . %) dan pada kelompok intervensi yang menyatakan sangat setuju . %) dan setuju . %). Untuk pernyataan yang paling banyak jawaban sangat tidak setuju dan tidak setuju adalah pada pernyataan penyandang talasemia harus menjalani transfusi darah rutin seumur hidup . ernyataan nomer . , pada kelompok kontrol yang menjawab tidak setuju . %) dan sangat tidak setuju . %) dan pada kelompok intervensi yang menyatakan sangat tidak setuju ada . %) dan tidak setuju . %). Menurut teori determinan WHO, yang menyebabkan seseorang berperilaku tertentu salah satunya disebabkan karena adanya pemikiran dan perasan dalam diri seseorang yang terbentuk dalam pengetahuan, persepsi, sikap, kepercayaan-kepercayaan seseorang terhadap obyek tersebut, dimana seseorang mendapatkan pengetahuan baik dari luar, maupun pengalaman pribadi . http://ejournal. id/index. php/jukmas Jurnal Untuk Masyarakat Sehat (JUKMAS) Tabel 5 Distribusi kategori sikap pretest responden di SMK Bina Bangsa Tahun 2023 Pretest kelompok intervensi Pretest kelompok kontrol Sikap: Positif Negatif Jumlah Berdasarkan tabel 5, distribusi kategori sikap pretest responden, pada kelompok kontrol mayoritas katagori positif, yaitu sebanyak 25 orang . %), demikian juga dengan sikap siswa kelompok intervensi pada katagori positif sebanyak 25 orang . %). Responden dalam penelitian ini mayoritas berusia 17 tahun, pengetahuan yang baik, dimana sikap dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu: pengetahuan atau pikiran, perasaan, perhatian dan emosi. Hal ini juga sejalan pendapat Notoatmodjo dalam Rahmawati . , bahwa penyebab seseorang berperilaku tertentu salah satunya disebabkan karena pemikiran dan perasan dalam diri seseorang yang terbentuk dari kepercayaan-kepercayaan seseorang terhadap obyek tersebut, dimana seseorang mendapatkannya melalui pengetahuan, serta pengalaman pribadi. Tabel 6 Distribusi kategori pengetahuan posttest responden tentang penyakit talasemia di SMK Bina Bangsa Tahun 2023 Posttest Posttest Pengetahuan: Kurang Cukup Baik Jumlah Berdasarkan tabel 6, distribusi kategori pengetahuan posttest responden kelompok kontrol dengan kategori kurang yaitu seluruhnya sebanyak 25 orang . %) atau masih sama dengan kategori pengukuran saat pretest, sedangkan pengetahuan responden kelompok intervensi setelah diberikan media video edukasi talasemia mayoritas mengalami perubahan. Bila dibandingkan pada pengukuran sebelumnya . , kategori pengetahuan kurang menurun dari 24 responden . %) menjadi 3 responden . %), pengetahuan cukup meningkat dari 1 responden . %) menjadi 12 responden . %) dan kategori pengetahuan baik meningkat menjadi 10 responden . %) dari yang sebelumnya tidak ada responden dengan pengetahuan baik. Hal ini sejalan dengan pendapat Paranita . , bahwa penyimpanan memori menurut melibatkan tiga jenis memori dengan kerangka waktu yang berbeda: memori sensori, memori jangka pendek dan memori jangka panjang. Memori seseorang berkaitan dengan informasi yang didapat tersimpan berapa lama. Sejalan dengan penelitian Tarigan, dimana responden yang mendapat intervensi berupa video edukasi mengalami peningkatan nilai mean pengetahuan tentang penyakit HIV yaitu sebesar 1,2 dengan P value = 0,0001. Penelitian ini juga sejalan dengan penelitian yang dilakukan Nuraeni . , dimana media edukasi video animasi juga berpengaruh terhadap peningkatan pengetahuan siswa tentang HIV/AIDS di SMK 2 Tasikmalaya . value =0,. Penelitian lain yang sejalan dengan penelitian ini adalah penelitian yang dilakukan oleh Tiara dan Sari . , dimana sebelum diberikan edukasi kesehatan pada remaja putri di SMK YMJ Ciputat yang kategori kurang yaitu 47,6%, namun setelah diberikan penyuluhan kesehatan mengenai pemeriksaan SADARI SADARI pengetahuan responden meningkat menjadi kategori baik yaitu 85,7% dengan p value 0,000. Juga sejalan dengan penelitian Fuad . Dengan kata lain, responden yang mendapat intervensi berupa video edukasi penyakit talasemia mengalami peningkatan pengetahuan yang lebih http://ejournal. id/index. php/jukmas Jurnal Untuk Masyarakat Sehat (JUKMAS) baik dibandingkan kelompok kontrol atau yang tidak mendapatkan intervensi . Beberapa faktor yang mempengaruhi pengetahuan, yaitu: umur, sosial ekonomi, kultur budaya dan agama, pengalaman dan Pendidikan. Terkait penelitian ini, yang sangat berpengaruh adalah pendidikan karena adanya pemberian intervensi atau pendidikan kesehatan. Pendidikan merupakan proses untuk menumbuhkembangkan seluruh kemampuan dan perilaku seseorang yang Pendidikan Tabel 7 Distribusi kategori sikap posttest responden tentang penyakit talasemia di SMK Bina Bangsa Tahun 2023 Posttest Posttest Sikap: Positif Negatif Jumlah merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi membuatnya lebih mudah menerima ide-ide atau teknologi baru dalam mengantisipasi tingkat kebutuhan masyarakat yang semakin menuntut Makin tinggi pendidikan seseorang makin mudah seseorang tersebut menerima Semakin banyak informasi yang masuk semakin banyak pula pengetahuan seseorang tentang kesehatan . sehingga ia akan berniat untuk melakukan upaya Demikian juga dengan pengetahuan tentang penyakit talasemia. Bila seseorang sudah memperoleh pengetahuan tentang penyakit talasemia, maka ia akan memiliki sikap tertentu dan berfikir bagaimana caranya agar tidak memiliki keturunan dengan talasemia. Setelah melakukan uji normalitas data, maka langkah selanjutnya adalah melakukan uji T dependen untuk mengetahui perbedaan rata-rata tiap kelompok, yaitu kelompok kontrol dan Adapun hasilnya dapat dilihat dari tabel berikut ini: Berdasarkan tabel 7, distribusi kategori sikap posttest responden, pada kelompok kontrol mayoritas pada katagori positif, yaitu sebanyak 25 orang . %), demikian pula dengan kelompok intervensi kategori sikap siswa positif sebanyak 25 orang . %) setelah diberikan media video edukasi talasemia. Menurut Notoatmodjo . , sikap merupakan respon tertutup terhadap stimulus atau objek tertentu yang melibatkan faktor pendapat dan emosi, seperti rasa senang-tidak senang, setuju-tidak setuju, baik-tidak baik dan sebagainya. Sikap juga merupakan kecenderungan untuk bertindak, artinya sikap merupakan komponen yang ancang-ancang untuk bertindak atau berperilaku Dalam menentukan sikap, unsur pengetahuan, pikiran, keyakinan dan emosi juga memegang peranan penting. Contohnya bila seseorang mendengar suatu penyakit, misalnya penyakit Covid-19 dapat menular melalui udara maka dengan pengetahuan ini, akan membawa seseorang untuk berpikir bagaimana caranya agar tidak tertular Covid-19. Dalam berpikir ini komponen emosi dan keyakinan juga ikut bekerja. Tabel 8 Distribusi nilai mean atau rata-rata tiap kelompok Variabel Mean Pengetahuan pretest Pengetahuan Sikap pretest 36,30 11,43 38,46 10,41 69,60 4,18 Sikap posttest Kelompok intervensi 67,50 6,29 Pengetahuan pretest 38,48 9,14 67,66 9,15 64,40 5,96 83,10 5,78 P value Kelompok kontrol Pengetahuan Sikap pretest Sikap posttest 0,002 0,021 0,000 0,000 Melalui uji T dependen didapatkan hasil seperti pada tabel 8, diperoleh hasil pretest dan posttest pengetahuan dan sikap pada kelompok kontrol dengan nilai p value 0,002 dan 0,021 . value <0,. sehingga dapat disimpulkan bahwa ada perbedaan antara pengetahuan dan sikap responden pada kelompok kontrol. Terjadinya http://ejournal. id/index. php/jukmas Jurnal Untuk Masyarakat Sehat (JUKMAS) peningkatan pengetahuan yang cukup signifikan pada kelompok kontrol karena ada jeda waktu antara pretest dengan posttest yaitu satu minggu, memungkinkan responden kelompok kontrol mendapatkan informasi dari luar, misalnya browsing pada mesin pencarian informasi, lingkungan sekitar, media sosial, serta televisi . Namun terjadi penurunan mean sikap sebesar 2,1. Penurunan sikap ini dipengaruhi oleh beberapa faktor, misalnya: pengetahuan responden terkait penyakit talasemia yang masih minim, pikiran responden terkait penyakit talasemia . erbahaya atau tida. , keyakinan . apat diobati atau tida. dan emosi responden . isalnya talasemia dapat dicegah atau tida. Berbeda dengan kelompok intervensi untuk variabel pengetahuan dan sikap mempunyai nilai p value 0,000 . value <0,. dengan peningkatan nilai mean pengetahuan hasil pretest dan posttest sebesar 29,18 dan peningkatan mean sikap sebesar 18,70. Bila dibandingkan pada pengukuran sebelumnya . , kategori pengetahuan kurang menurun dari 24 responden . %) menjadi 3 responden . %), pengetahuan cukup meningkat dari 1 responden . %) menjadi 12 responden . %) dan kategori pengetahuan baik juga meningkat menjadi 10 responden . %) dari yang sebelumnya tidak ada responden dengan pengetahuan baik. Tabel 9 Pengetahuan siswa setelah diberikan intervensi video edukasi penyakit talasemia Kelompok Mean Kontrol 38,46 Intervensi 67,66 95% CI Lower Uper Std Mean Error Sig. 10,41 2,08 0,000 -29,20 -34,77 -23,62 9,15 1,83 0,000 -29,20 -34,77 -23,62 Mean difference Tabel 10 Sikap siswa setelah diberikan intervensi video edukasi penyakit talasemia Kelompok Mean Kontrol Intervensi 5,41 5,78 Std Mean Error 1,08 1,15 Melalui uji T independent, didapatkan hasil seperti yang ada pada tabel 9, dimana nilai Sig. Levene's atau P value 0,000 < 0,05, artinya ada perbedaan rata-rata pengetahuan setelah diberikan intervensi media edukasi video talasemia pada kelompok kontrol dengan kelompok intervensi. Dengan kata lain pemberian intervensi berupa video kesehatan talasemia lebih baik dalam meningkatkan pengetahuan mendapatkan intervensi video edukasi talasemia, hal ini sejalan dengan penelitian Handayani . Berdasarkan tabel 10, diketahui p value adalah < 0,05, artinya ada perbedaan yang signifikan antara rata-rata sikap siswa setelah diberikan intervensi media edukasi video talasemia pada kelompok kontrol dengan kelompok intervensi. Dengan memberikan Sig. Mean difference 95% CI Lower Uper 0,000 -16,200 -19,38 -13,01 0,000 -16,200 -19,38 -13,01 promosi kesehatan penyakit talasemia maka terjadi peningkatan pengetahuan siswa dan diharapkan dapat memberi pemahaman siswa bahwa diperlukan suatu upaya untuk mencegah penyakit talasemia, yaitu melalui skring darah pra nikah. Dengan pengetahuan yang baik tentang diharapkan dapat mempengaruhi sikap dan tindakannya dimasa yang akan datang, kesehatannya serta calon pasangannya dan upaya mencegah kelahiran anak-anak yang terlahir dengan talasemia mayor. KESIMPULAN Melalui uji beda mean, siswa yang mendapat intervensi berupa video edukasi penyakit talasemia mengalami peningkatan pengetahuan dan pemahaman sikap terhadap penyakit talasemia yang lebih baik dibanding http://ejournal. id/index. php/jukmas Jurnal Untuk Masyarakat Sehat (JUKMAS) kelompok yang tidak mendapatkan intervensi. Media video edukasi penyakit talasemia efektif meningkatkan pengetahuan dan pemahaman sikap siswa terhadap penyakit talasemia. DAFTAR PUSTAKA