Jurnal Kajian Ekonomi dan Kebijakan Publik. Vol. Januari 2023 Dikirim: 12 November 2022. Diterima: 3 Januari 2023 ISSN: 2527-2772 ANALISIS KEBUTUHAN INVESTASI SEKTOR PERTANIAN DALAM RANGKA MENINGKATKAN PERTUMBUHAN EKONOMI DI PROVINSI ACEH Syafridha Yanti 1. Seri Mughni Sulubara 2* Program Studi Pendidikan Ekonomi. Universitas Muhammadiyah Mahakarya Aceh Program Studi Ilmu Hukum. Universitas Muhammadiyah Mahakarya Aceh Jl. Quratta Aini Kamp. Gunung Bukit Mampaq Kec. Kebayakan Kab. Aceh Tengah Aceh - 24519 *Korespondensi Penulis: mughniseri@gmail. Abstract: This study aimed to how much invesment is needed to improve economic growth in agriculture sectors, to construct development priorities of agriculture commodities having potential to improve economic growth in Aceh, and agriculture commodities in which sector a large impact on the welfare of the community with their investment in the plant. The data used in this study were secondary data obtained from Central Statistics Agency (BPS). Investment and Promotion Agency of Aceh and other required institutions. This study uses Incremental Capital Output Ratio (ICOR), the results showed that ICOR values of crops, plantation, livestock, forestry, and fishery were 2. 926, 0, 0. 108, and 0. It means that to increase 1 percent of GDP in those four commodities, the investment is expected to increase up to 2. 926, 0, 0. 108, and 0. 298 percent respectively. At 4 percent of the average growth, in the next five years, the investment growth is expected to improve to 58, 51, 0, 2. 16, and 5. percent from the current GDP values. At 4 percent growth, in order to achieve an effective commodity growth on social welfare, a five-year investment amounted to 682 billion . qual to 58. 51 percent from GDP valu. is required. Keywords: Agriculture Development. Incremental Capital Output Ratio (ICOR). Investment ________________________________________________________________________________ PENDAHULUAN Provinsi Aceh, sektor pertanian adalah motor penggerak perekonomian masyarakat Aceh. Pada 2008, memiliki lahan sawah beririgasi teknis seluas 96. 683 ha, beririgasi setengah teknis 230 ha dan beririgasi non teknis seluas 74. 027 ha. Produksi padi tercatat sebesar 1. ton Gabah Kering Giling(GKG) dimana mengalami penurunan dibandingkan tahun 2004 sebesar 083 atau 9,22%. Penurunan ini akibat luasnya kerusakan lahan akibat tsunami. Potensi pertanian di Aceh sangat besar. Luas panen dan produksi padinya terus meningkat dari 295. 212 ha pada 2001 menjadi 337. 893 ha . ,46%) pada 2008 dengan produksi sebanyak 1. 612 ton pada 2001, meningkat menjadi 1. 649 ton atau naik 13,24% pada 2008. Produksi kacang tanah, jagung/ kedele dan ubi kayu/ ubi jalar juga meningkat. Struktur perekonomian Provinsi Aceh diketahui didominasi oleh sektor pertanian dan sektor perdagangan, hotel dan restoran. Kontribusi sektor pertanian terhadap pembentukan PDRB masih lebih besar dibandingkan sektor perdagangan, hotel dan restoran. Bila dilihat berdasarkan tingkat pertumbuhan sektoral terhadap PDRB Provinsi Aceh dalam kurun waktu 2010 Ae 2014, terlihat bahwa laju pertumbuhan rata-rata yang terjadi pada sektor pertanian adalah 4,44%. Angka ini diatas laju pertumbuhan rata-rata PDRB Provinsi Aceh yaitu hal ini menunjukkan bahwa sektor pertanian masih menjadi sektor andalan bagi pembangunanperekonomian Provinsi Aceh, sehingga investasi sangat dibutuhkan pada sektor ini. Investasi dilakukan untuk membentuk faktor produksi kapital, dimana sebagian digunakan untuk pengadaan barang yang menunjang kegiatan usaha. Melalui investasi, kapasitas produksi dapat ditingkatkan yang kemudian akan mampu meningkatkan output, dan akhirnya juga kan meningkatkan pendapatan daerah serta percepatan pertumbuhan perekonomian Selain itu, investasi dapat menciptakan lapangan kerja baru, yang berarti bahwa tingkat pengangguran berkurang. Nilai investasi penanaman modal dalam negeri (PMDN) pada sektor pertanian selama kurun Jurnal Kajian Ekonomi dan Kebijakan Publik. Vol. Januari 2023 waktu 2010-2014 terus mengalami peningkatan setiap tahunnya. Meskipun pada tahun 2013 sempat mengalami penurunan, namun pada tahun 2014 nilai investasi kembali mengalami peningkatan hampir dua kali dari nilai investasi sebelumnya. Hal tersebut membuktikan bahwa sektor pertanian tetapmerupakan sektor andalan bagi perekonomian Provinsi Aceh. Sedangkan untuk nilai investasi penanaman modal asing (PMA) pada sektor pertanian mengalami fluktuasi selama kurun waktu 2010-2014. Hal ini bisa saja terjadi karena perlambatan ekonomi global serta turunnya harga-harga komoditas ekspor utama Indonesia di pasar dunia. Nilai rencana umum penanaman modal (RUPM) Provinsi Aceh diatas dapat diketahui bahwasannya selama kurun waktu 2010-2014 untuk penanaman modal dalam negeri (PMDN) mencapai Rp. 272 miliar dan untuk penanaman modal asing (PMA) 34. 173 (USD). Sedangkan realisasi dari sektor pertanian untuk penanaman modal asing (PMA) terealisasi sebesar 736 (USD) ini bahkan sangat jauh diatas angka rencana umum penanaman modal (RUPM) merupakan pencapaian yang sangat baik selama kurun waktu 2010-2014. Selanjutnya untukpenanaman modal dalam negeri (PMDN) sebesar Rp. 180 miliar hal ini menunjukkan masih kurangnya investasi PMDN di sektor pertanian sebesar Rp. 092 miliar. Oleh karena itu, perlu dilakukan AuAnalisis Kebutuhan Investasi Sektor Pertanian Dalam Rangka Meningkatkan Pertumbuhan Ekonomi diProvinsi AcehAy khususnya terhadap kesejahteraan masyarakat. TINJAUAN PUSTAKA Pertumbuhan Ekonomi Menurut Simon Kuznets dalam Todaro . , pertumbuhan ekonomi adalah kenaikan kapasitas dalam jangka panjang dari negara yang bersangkutan untuk menyediakan berbagai barang ekonomi kepada penduduknya. Kenaikan kapasitas itu sendiri ditentukan oleh adanya kemajuan atau penyesuaian teknologi, institusional . , dan ideologi terhadap berbagai tuntutan keadaan yang ada. Investasi Teori investasi adalah teori permintaan modal. Investasi adalah arus pengeluaran yang menambah stok pengeluaran fisik atau dengan kata lain investasi adalah jumlah yang dibelanjakan sektor usaha untuk menambah stok modal dalam periode tertentu. Investasi biasanya menempati proporsi yang relativ sedikit dari permintaan agregat, akan tetapi fluktuasi investasi menempati sebagian besar pergerakan siklus bisnis dalam PDB. Salah satu alasan mengapa negara-negara dengan pertumbuhan tinggi ialah karena mereka mencurahkan bagian substansial dari output ke dalam investasi (Makmun, 2. Bank Indonesia dan Badan Pusat Statistik mengartikan investasi sebagai suatu kegiatan penanaman modal pada berbagai kegiatan ekonomi dengan harapan untuk memperoleh keuntungan . pada masa-masa yang akan Sektor Pertanian Secara tradisional peranan sektor pertanian dalam pembangunan ekonomii hanya dipandang pasif dan sebagai unsur penunjang semata. Berdasarkan pengalaman historis dari negara-negara barat, apa yang disebut sebagai pembangunan ekonomi indentik dengan transformasi struktural yang cepat terhadap perekonomian, yakni perekonomian yang bertumpu pada kegiatan pertanian menjadi industri modern dan pelayanan masyarakat yang lebih Dengan demikian, peran utama pertanian hanya diaggap sebagai sumber tenaga kerja dan bahan-bahan pangan yang murah demi berkembangnya sektor-sektor industri yang dinobatkan sebagai Ausektor unggulanAy dinamis dalam strategi pembangunan ekonomi secara Menurut analisis klasik dari Kuznets . dalam Tambunan. T . , pertanian di Negara-negara sedang berkembang (NSB) merupakan suatu sektor ekonomi yang sangat potensial dalam empat bentuk kontribusinya terhadap pertumbuhan dan pembangunan ekonomi nasional, yaitu sebagai berikut : Kontribusi produk. Kontribusi pasar. Kontribusi faktor-faktor produksi. Jurnal Kajian Ekonomi dan Kebijakan Publik. Vol. Januari 2023 Kontribusi devisa. Keterkaitan dalam Sektor Pertanian Kemampuan sektor pertanian sebagai lokomotif penarif pertumbuhan output di sektorsektor ekonomi lainnya tidak hanya melalui keterkaitan produksi seperti dalam pandangan Hirschman, tetapi juga melalui keterkaitan konsumsi atau pendapatan dan pada banyak kasus juga melalui keterkaitan investasi. Dalam bentuk-bentuk keterkaitan ekonomi tersebut, sektor pertanian mempunyai tiga fungsi utama. Pertama, sebagai sumber investasi di sektor-sektor non-pertanian: surplus uang (MS) di sektor pertanian menjadi sumber dana investasi di sektorsektor lain, kedua, sebagai sumber bahan baku atau input bagi sektor-sektor lainnya, khususnya agroindustri dan sektor perdagangan, ketiga, melalui peningkatan permintaan di pasar output, sebagai sumber diverifikasi produksi di sektor- sektor ekonomi lainnya. (Tambunan. T, 2. keterkaitan produksi menunjukkan ketergantungan dalam proses produksi antara satu sektor dengan sektor-sektor lain. Investasi di Sektor Pertanian Perekonomian Negara berkembang pada umumnya berorientasi pertanian, dengan tingkat produktivitas, pendapatan, tabungan dan investasi yang rendah. Dengan menaikan produktivitas pada sektor pertanian dapat memberikan sumbangan bersih kepada sektor-sektor lainnya. Produksi pertanian dapat dinaikkan dengan mengalokasikan dana investasi untuk perbaikan lahan dan untuk mempergunakan teknologi produksi yang baik. Investasi tidak hanya saja akan meningkatkan produksi tapi juga kesempatan kerja. Pembentukan modal menghasilkan kamajuan teknik yang menunjang tercapainya ekonomi produksi skala luas dan menciptakan spesialisasi. Pembentukan modal akan memberikan mesin, alat perlengkapan kerja semakin meningkat. Sehingga dengan adanya pembentukan modal pada sektor pertanian akan memberikan dampak yang besar bagi sektor lainnya (Zuhri, 1. Kuncoro . berpendapat bahwa faktor-faktor yang mendorong tingginya keanikan output dan produktivitas pertanian, antara lain disebabkan oleh penyediaan pelayanan bagi sektor pertanian, pembangunan infrastruktur yang sesuai serta banyaknya investasi yang ditujukan untuk memajukan sektor pertanian secara khusus di wilayah Tingginya investasi pemerintah dalam pembangunan irigasi dan sarana infrastruktur pedesaan lainnya memungkinkan bagi petani untuk mengadopsi penggunaan bibit tanaman kualitas unggul, penggunaan tanaman baru, penggunaan pupuk serta penggunaan alat-alat METODE PENELITIAN Penelitian ini dilakukan dengan ruang lingkup Provinsi Aceh. Pemilihan tempat penelitian disebabkan bahwa masih pentingnya investasi dan juga sektor pertanian merupakan sektor yang diandalkan bagi perekonomian Provinsi Aceh. Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder. Data sekunder merupakan data yang dikumpulkan oleh pihak lain atau lembaga pengumpul data dan dipublikasikan kepada masyarakat pengguna data (Kuncoro, 2. Data yang digunakan adalah Data Pendapatan Domestik Regional Bruto (PDRB) serta data lainnya yang mendukung. Data tersebut bersumber dari Badan Pusat Statistik (BPS) Badan Investasi lain yang diperlukan. Metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah Metode analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode perhitungan ICOR, yaitu metode standar dan metode akumulasi investasi. Oleh karena kendala data yang tersedia, maka penghitungan ICOR periode 2010-2014 dibatasi hanya dengan menggunakan metode standar lag 0, lag 1, lag 2 dan Metode Standar Secara matematis rumus yang digunakan untuk menghitung ICOR adalah (BPS, 2. yayaycCycI = ycuya ycuya Jurnal Kajian Ekonomi dan Kebijakan Publik. Vol. Januari 2023 OIK = pertambahan kapital/barang modal baru/kapasitas terpasang OIY = pertambahan output Dalam praktek, data yang diperoleh bukan penambahan barang modal baru atau penambahan kapasitas terpasang, melainkan besarnya realisasi nilai investasi yang ditanam baik oleh Pemerintah maupun Swasta. Sehingga dengan mengasumsikan OIK = I . , maka rumus dapat dimodifikasi menjadi (BPS, 2. yayaycCycI = ya ycuycU Dalam beberapa hal untuk kasus-kasus tertentu, investasi yang ditanamkan pada suatu tahun akan langsung menghasilkan tambahan output pada tahun itu juga, sehingga rumus . di atas dapat dinyatakan sebagai berikut (BPS, 2. yayaycCycI = yayc yayc Oe yayc Oe 1 = Investasi pada tahun ke-t Yt = Output pada tahun ke-t Yt-1 = Output pada tahun ke-. Prinsip dari penghitungan ICOR metode standar ini adalah rata-rata sederhana dan penulisannya secara matematis sebagai berikut (BPS, 2. yayaycCycI = ya yayc Oc ycu . cUyc OeycUycOe1 ) Metode Akumulasi Investasi Perumusan ICOR dengan metode ini adalah rasio antara akumulasi investasi terhadap akumulasi peningkatan output selama periode waktu t1 sampai tn yang secara matematis dituliskan sebagai berikut (BPS, 2. yayaycCycI = Oc yayc Oc. cUyc Oe ycUycOe1 ) Time Lag Investasi Jika investasi yang ditanam pada tahun ke-t baru menimbulkan kenaikan output setelah s tahun, maka rumus . di atas (ICOR metode standa. dengan adanya faktor time lag dapat dimodifikasi menjadi : yayaycCycI = Time lag ya yayc Oc ycu . ayc yc Oeyayc ycOe1 ) = 0, 1, 2, 3, 4, dst. = Lama waktu yang dibutuhkan untuk memperoleh hasil/output terhitung sejak penanaman investasi. HASIL DAN PEMBAHASAN Keadaan Perekonomian Provinsi Aceh pada Sektor Pertanian Dilihat dari pertumbuhan ekonominya, kondisi perekonomian Aceh cenderung baik, dimana pertumbuhan ekonomi dalam kurun waktu 5 . tahun terakhir selalu positif. Pertumbuhan ekonomi dengan migas mengalami puncak pertumbuhannya pada tahun 2012 dengan nilai 3,85 Sedangkan pertumbuhan terendah sebesar 1,29 persen pada tahun 2010. Dari tahun 2010 Jurnal Kajian Ekonomi dan Kebijakan Publik. Vol. Januari 2023 hingga 2012 pertumbuhannya semakin meningkat tetapi setelah tahun 2012 pertumbuhannya terus menurun tiap tahunnya. Hal ini terjadi karena sektor migas yang banyak memberikan pengaruh pada pertumbuhan ekonomi terus mengalami penurunan produksi. Sedangkan tanpa migas terlihat bahwa tahun 2010 merupakan tahun dimana pertumbuhan ekonomi tertinggi nilainya dibandingkan tahun- tahun lain dalam 5 . tahun terakhir, setelah itu pertumbuhan ekonomi bergerak melambatdan konstan hingga tahun 2014 sebesar 4,13persen (BPS Aceh, 2. Keadaan Investasi di Provinsi Aceh Di Provinsi Aceh nilai investasi penanaman modal dalam negeri (PMDN) pada sektor pertanian selama kurun waktu 2010-2014 terus mengalami peningkatan setiap tahunnya. Dimana pada tahun 2010 nilai investasi sebesar 40 miliar, ditahun 2011 menjadi 63 miliar dan semakin bertambah pada tahun 2012 sebesar 964 miliar. Meskipun pada tahun 2013 sempat mengalami penurunan menjadi 779 miliar, namun pada tahun 2014 nilai investasi kembali mengalami peningkatan hampir dua kali dari nilai investasi sebelumnya yaitu sebesar 1 triliun. Hal tersebut membuktikan bahwa sektor pertanian tetap merupakan sektor andalan bagi perekonomian Provinsi Aceh. Nilai ICOR Sektor Pertanian Tabel 1. Nilai ICOR Komoditas Pertanian di Provinsi Aceh 2010-2014 Tahun Komoditi Pertanian Tanaman Pangan dan Perkebunan Peternakan Kehutanan Perikanan Pertanian Tanaman Pangan danPerkebunan Peternakan Kehutanan Perikanan Pertanian Tanaman Pangan dan Perkebunan Peternakan Kehutanan Perikanan Pertanian Tanaman Pangan dan Perkebunan Peternakan Kehutanan Perikanan Pertanian Tanaman Pangan dan Perkebunan Peternakan Kehutanan Perikanan Sumber: Hasil Penelitian, 2015 ICOR Lag 0 ICOR Lag 1 ICOR Lag 2 ICOR Lag 3 0,51 1,95 3,74 3,17 0,09 0,43 3,48 2,84 0,07 0,76 2,64 0,13 0,58 Dari Tabel di atas tampak bahwa dari periode tahun 2010-2014, nilai ICOR berfluktuasi untuk ICOR Lag 0. Lag 1. Lag 2, dan Lag 3. Seperti pada tahun 2011, nilai ICOR yang diperoleh untuk sektor Pertanian adalah sebesar 0,51, 0,43, 0,76, dan 0,58. Untuk Lag 0 nilai ICOR yang diperoleh adalah sebesar 0,51, angka ini berarti bahwa dibutuhkan investasi sebesar Rp 0,51 untuk penambahan output sebesar Rp 1. Dari periode pengamatan 2010- 2014, tampak bahwa komoditi tanaman pangan memiliki nilai ICOR yang tidak efisien pada tahun 2012 dan Nilai ICOR yang diperoleh sebesar 6,22 dan 6,46 dimana melebihi batas efisien investasi yakni antara 3 dan 4. Nilai ICOR 0 yang diperoleh berarti tidak ada investasi pada komoditi Jurnal Kajian Ekonomi dan Kebijakan Publik. Vol. Januari 2023 Sebagai pembanding dilakukan juga perhitungan ICOR menggunakan metode akumulasi investasi yang menerapkan prinsip rata-rata tertimbang untuk periode pengamatan tertentu. Nilai ICOR berdasarkan akumulasi beberapa tahun dapat dilihat pada berikut : Tabel 2. Nilai ICOR Kumulatif Komoditi Pertanain di Provinsi Aceh 2010-2014 Komoditi Pertanian 1 Tanaman Pangan dan Perkebunan 2 Peternakan 3 Kehutanan 4 Perikanan Sumber: Hasil Penelitian, 2015 ICOR Penelitian ini menghasilkan nilai-nilai ICOR dalam kelompok tanaman pangan dan perkebunan, peternakan, kehutanan, dan perikanan masing-masing sebesar 2,926, 0, 0,108, 0,298. Hal ini bermakna bahwa untuk menghasilkan pertumbuhan PDRB sebesar 1 persen, pada keempat komoditi tersebut diperlukan pertumbuhan investasi sebesar 2,926, 0, 0,108, 0,298 Sementara itu pada sektor pertanian didapat nilai ICOR sebesar 2,201, yang bermakna diperlukan pertumbuhan investasi sebesar 2,201 persen untuk menghasilkan PDRB sebesar 1 Kebutuhan Investasi Nilai ICOR memiliki implikasi penting bagi perencanaan pembangunan sektor pertanian. Dari nilai ICOR secara kasar atau sektoral dapat dihitung kebutuhan investasi untuk menghasilkan target pertumbuhan PDB tertentu . Berikut disajikan kebutuhan investasi sektoral selama 5 tahun . Tabel 3. Nilai ICOR Kebutuhan Investasi Komoditi Pertanian di Provinsi Aceh 2010-2014 Kebutuhan Investasi Lima Tahun . berdasarkan tingkat pertumbuhan PDRB (Miliar Rupia. Komoditi ICOR PDRB 2014 (Miliar Rupia. Pertanian Tanaman Pangan dan Perkebunan 10,641 2,342 4,684 7,026 9,368 1,165 1,023 1,364 Peternakan Kehutanan 0,036 0,072 0,108 0,014 Perikanan Sumber: Hasil Penelitian, 2015 Pada pertumbuhan rata-rata 4 persen per tahun, sektor pertanian memerlukan investasi sebesar 4,686 triliun rupiah. Angka ini kurang lebih 44,02% persen dari nilai PDRB tahun 2014. Ini bermakna bahwa 44,02 persen dari PDRB saat ini harus disiapkan untuk kebutuhan investasi lima tahun ke depan untuk menghasilkan pertumbuhan investasi sebesar 4 persen per tahun. Dengan analogi yang sama, untuk menghasilkan pertumbuhan PDRB sebesar 8 persen maka dibutuhkan investasi lima tahun ke depan adalah sebesar 88 persen dari PDRB sekarang. Jika dilihat dari nilai komulatif ICOR komoditi pertanian, pengembangan komoditi yang dianggap memiliki dampak besar bagi kesejahteraan masyarakat adalah subsektor tanaman pangan dan perkebunan. Hal ini dapat dilihat dari pendapatan yang besar diperoleh oleh subsektor tersebut, dimana pada tingkat pertumbuhan 4 persen pengembangan komoditi tanaman pangan dan perkebunan membutuhkan investasi lima tahunan sebesar 682 miliar setara dengan 58,51 persen dari PDRB. Jurnal Kajian Ekonomi dan Kebijakan Publik. Vol. Januari 2023 KESIMPULAN DAN REKOMENDASI Hasil penelitian menyatakan bahwa ICOR komoditi tanaman pangan dan perkebunan 2,93, peternakan 0, kehutanan 0,11, dan perikanan 0,3. Komoditi kehutanan dan perikanan bisa menjadi prioritas pengembangan komoditi pertanian di Provinsi Aceh, hal ini disebabkan nilai investasi yang ditanam cukup kecil untuk mendapatkan satu output. Pengembangan komoditi yang dianggap memiliki dampak besar bagi kesejahteraan masyarakat adalah subsektor tanaman pangan dan perkebunan, hal ini dapat dilihat dari pendapatan yang besar diperoleh oleh sub-sektor tersebut. Berdasarkan kesimpulan di atas, maka saran yang dapat peneliti berikan adalah sebagai Kepada para pengambil kebijakan di bidang pertanian di Provinsi Aceh diharapkan memfokuskan terhadap pembangunan di sektor pertanian yang harus bersinergi dengan industri pengolahan hasil pertanian sehingga mampu menciptakan keterkaitan yang lebih Kepada pemerintah Provinsi Aceh perlu peningkatan investasi di sektor pertanian karena dapat menciptakan kesempatan kerja yang semakin meningkat ketika adanya terjadi investasi pada sektor pertanian. DAFTAR PUSTAKA