p-issn 2087 9296 e-issn 2685 6166 PENERAPAN ARSITEKTUR NEO-VERNAKULAR SUNDA PADA RANCANGAN HOTEL BISNIS BINTANG EMPAT DI BANDUNG Awalia Azhari Nurul Azizah. Theresia Pynkyawati a 4 POSTMODERNISME. SPIRIT-EKUILIBRIUM DAN ARSITEKTUR Basuki. Rudyanto Soesilo a. PENERAPAN ARSITEKTUR NEO-VERNAKULAR PADA BANGUNAN APARTEMEN KAHIRUPAN Muhammad Yusrizal Mahendra,Theresia Pynkyawati a. A 18 IDENTIFIKASI PENCAHAYAAN ALAMI DI KAMPUS SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI CIREBON Studi Kasus : Ruang Kelas 202, 301 dan 303 Maulana Hasanudin. Eka Widiyananto a. PENERAPAN PRINSIP DESAIN ARSITEKTUR PADA GEDUNG CIPTA NIAGA MENURUT TEORI F. CHING Ridwan Setiadi. Farhatul Mutiah a 27 STRUKTUR SEBAGAI ESTETIKA PADA BANGUNAN GEREJA SANTO YUSUF CIREBON Mona Fitria Nur'Annisa. Nurhidayah . APLIKASI MATERIAL BAMBU PADA BANGUNAN UTAMA PESANTREN ASY-SYIFAA TANJUNGSARI. SUMEDANG Ardhiana Muhsin. Noer Aidha Suciati. Herly Hendiwan Rahmadi. Oki Ramadhan a KOMBINASI ARSITEKTUR ISLAM JAWA DAN ARSITEKTUR VERNAKULAR PADA MASJID Studi Kasus : Masjid Dog Jumenang Astana Gunung Jati Cirebon Mariska Ershaputri . Sasurya Chandra a. a VOLUME 14 NOMOR 1 Jl. Evakuasi No. 11 Cirebon. April 2022 JURNAL ARSITEKTUR | STTC Vol. 14 No. 1 April 2022 KATA PENGANTAR Jurnal Arsitektur adalah jurnal yang diperuntukan bagi mahasiswa program studi arsitektur dan dosen arsitektur dalam menyebarluaskan ilmu pengetahuan melalui penelitian dan pengabdian dengan ruang lingkup penelitian dan pengabdian mengenai ilmu arsitektur diantaranya bidang keilmuan kota, perumahan dan permukiman, bidang keilmuan ilmu sejarah,filsafat dan teoti arsitektur, bidang keilmuan teknologi bangunan, manajemen bangunan, building science, serta bidang keilmuan perancangan arsitektur. Hasil kajian dan penelitian dalam Jurnal Arsitektur ini adalah berupa diskursus, identifikasi, pemetaan, tipelogi, review, kriteria atau pembuktian atas sebuah teori pada fenomena arsitektur yang ada maupun laporan hasil pengabdian masyarakat. Semoga hasil kajian dan penelitian pada Jurnal Arsitektur Volume 14 No. 1 Bulan APRIL 2022 ini dapat bermanfaat bagi pengembangan ilmu pengetahuan khususnya pada keilmuan Hormat Saya. Ketua Editor Sasurya Chandra Jurnal Arsitektur Ae Sekolah Tinggi Teknologi Cirebon / Vol 14 / No 1 / April 2022 JURNAL ARSITEKTUR | STTC Vol. 14 No. 1 April 2022 TIM EDITOR Ketua Sasurya Chandra | Sekolah Tinggi Teknologi Cirebon. Indonesia Anggota Iwan Purnama | Sekolah Tinggi Teknologi Cirebon. Indonesia Nurhidayah | Sekolah Tinggi Teknologi Cirebon. Indonesia Farhatul Mutiah | Sekolah Tinggi Teknologi Cirebon. Indonesia Manager Editor Eka Widiyananto | Sekolah Tinggi Teknologi Cirebon. Indonesia Jurnal Arsitektur p-ISSN 2087-9296 e-ISSN 2685-6166 A Redaksi Jurnal Arsitektur Sekolah Tinggi Teknologi Cirebon Gd. Lt. 1 Jl. Evakuasi No. Cirebon 45135 Telp. 482196 - 482616 Fax. 482196 E-mail : jurnalarsitektur@sttcirebon. website : http://ejournal. id/index. php/jas Jurnal Arsitektur Ae Sekolah Tinggi Teknologi Cirebon / Vol 14 / No 1 / April 2022 JURNAL ARSITEKTUR | STTC Vol. 14 No. 1 April 2022 DAFTAR ISI Kata Pengantar a. Daftar Isi a. PENERAPAN ARSITEKTUR NEO-VERNAKULAR SUNDA PADA RANCANGAN HOTEL BISNIS BINTANG EMPAT DI BANDUNG Awalia Azhari Nurul Azizah. Theresia Pynkyawati a POSTMODERNISME. SPIRIT-EKUILIBRIUM DAN ARSITEKTUR Basuki. Rudyanto Soesilo a. PENERAPAN ARSITEKTUR NEO-VERNAKULAR PADA BANGUNAN APARTEMEN KAHIRUPAN Muhammad Yusrizal Mahendra,Theresia Pynkyawati a. IDENTIFIKASI PENCAHAYAAN ALAMI DI KAMPUS SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI CIREBON Studi Kasus : Ruang Kelas 202, 301 dan 303 Maulana Hasanudin. Eka Widiyananto a. PENERAPAN PRINSIP DESAIN ARSITEKTUR PADA GEDUNG CIPTA NIAGA MENURUT TEORI F. CHING Ridwan Setiadi. Farhatul Mutiah a STRUKTUR SEBAGAI ESTETIKA PADA BANGUNAN GEREJA SANTO YUSUF CIREBON Mona Fitria NurAoAnnisa. Nurhidayah . a APLIKASI MATERIAL BAMBU PADA BANGUNAN UTAMA PESANTREN ASY-SYIFAA TANJUNGSARI. SUMEDANG Ardhiana Muhsin. Noer Aidha Suciati. Herly Hendiwan Rahmadi. Oki Ramadhan a KOMBINASI ARSITEKTUR ISLAM JAWA DAN ARSITEKTUR VERNAKULAR PADA MASJID Studi Kasus : Masjid Dog Jumenang Astana Gunung Jati Cirebon Mariska Ershaputri . Sasurya Chandra a Jurnal Arsitektur Ae Sekolah Tinggi Teknologi Cirebon / Vol 14 / No 1 / April 2022 IDENTIFIKASI PENCAHAYAAN ALAMI DI KAMPUS SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI CIREBON Studi Kasus : Ruang Kelas 202, 301 dan 303 Mauluana Hasanudin 1. Eka Widiyananto 2 . Mahasiswa Program Studi Arsitektur 1 - Sekolah Tinggi Teknologi Cirebon Dosen Program Studi Arsitektur 2 - Sekolah Tinggi Teknologi Cirebon Email: maulm9912@gmail. com 1, ewdynt@gmail. ABSTRAK Ruang Kelas pada Kampus Sekolah Tinggi Teknologi Cirebon merupakan salah satu ruang yang sangat penting bagi mahasiswa untuk melaksanakan pembelajaran. Kenyamanan secara visual sangatlah penting agar mahasiswa dapat melakukan aktivitas dengan baik tanpa terganggu baik oleh silau ataupun kekurangan intensitas cahaya. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi tingkat intensitas cahaya alami pada ruang kelas gedung kampus Sekolah Tinggi Teknologi Cirebon (STTC). Sedangkan metode penelitian yang digunakan adalah metode kuantitatif dengan melakukan pengukuran tingkat intensitas cahaya alami pada ruang kelas 202, 301 dan 303 menggunakan alat ukur luxmeter. Hasil pengukuran dapat menggambarkan tingkat intensitas cahaya alami bervariasi untuk setiap ruang kelas yang diukur sehingga perlu dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai faktorfaktor yang berpengaruh terhadap intensitas cahaya alami pada ruang kelas di Kampus Sekolah Tinggi Teknologi Cirebon (STTC). Kata kunci : kenyamanan visual, intensitas cahaya, cahaya alami, ruang kelas. STTC. PENDAHULUAN Untuk melihat objek secara visual, manusia memerlukan cahaya karena dengan cahaya yang dipantulkan oleh objek-objek tersebutlah maka kita dapat melihatnya secara jelas. Pemanfan cahaya alami pada ruang kelas di kampus Sekolah Tinggi Teknlogi Cirebon (STTC) masih belum optimal hal ini berpengaruh terhadap kenyamanan mahasiswa belajar secara visual baik kelebihan intensitas cahaya sehingga mengakibatkan silau atau kekurangan intensitas cahaya alami yang bisa dilaksanakannya proses belajar-mengajar di kelas. Penelitian ini selain bertujuan mengidentifikasi tingkat intensitas cahaya alami pada ruang kelas gedung kampus Sekolah Tinggi Teknologi Cirebon (STTC) juga bertujuan untuk mengetahui apakah sistem pencahayaan alami siang hari di ruang 202, 301 dan 303 Sekolah Tinggi Teknologi Cirebon memenuhi standar syarat kesehatan dan kenyamanan cahaya alami . dengan disertai energi cahaya dan energi panas. Energi cahaya yang dihasilkan oleh sinar matahari akan berpengaruh pada kenyamanan visual di dalam bangunan. Cahaya Matahari Menurut Satwiko . Cahaya Matahari adalah gelombang elekromagnetik yang mempunyai panjang gelombang antara 290 nm sampai 2300 nm dan mempunyai spectrum lengkap dari ultra Aeungu sampai infra-merah. Dikarenakan cahaya matahari juga membawa radiasi panas maka cahaya yang digunakan sebagai sember penerangan alami pada ruangan adalah cahaya bola langit. Cahaya matahari langsung bisa dimanfaatkan masuk langsung ke dalam ruangan jika kita menginginkan efek tertentu yang bersifat arsitektural pada ruangan atau KERANGKA TEORI Cahaya matahari adalah salah satu sumber cahaya alami yang dapat dimanfaatkan untuk penerangan siang hari pada bangunan. Matahari merupakan satusatunya sumber cahaya alami yang menghasilkan Jurnal Arsitektur Ae Sekolah Tinggi Teknologi Cirebon / Vol 14 / No 1 / April 2022 Gambar 1. Spektrum Cahaya Matahari Sumber : satwiko,2008 Intensitas Cahaya Intensitas Cahaya adalah kuat cahaya yang dikeluarkan oleh sebuah sumber cahaya ke arah tertentu (Satwiko,2. , proses datangnya cahaya ke suatu objek tersebut dinamakan Iluminasi sedangkan banyaknya arus cahaya yang dating pada satu unit bidang dinamakan Iluminan dan diukur dalam satuan Lux. Intensitas Cahaya yang dpancarkan oleh suatu objek dapat diukur dengan alat Light meter atau Lux meter. PEMBAHASAN Lokasi Penelitian Lokasi penelitian adalah ruang kelas 202, 301 dan 303 pada Sekolah Tinggi Teknologi Cirebon (STTC). Ruang tersebut berada pada lantai 2 . dan lantai 3 . uang 301 dan ruang . Gambar 3. Lokasi Penelitian Kampus STTC Sumber : Google 2012 Gambar 2. Iluminasi dan luminasi Sumber : satwiko,2008 Aspek Perancangan Pencahayaan Alami Memasukan cahaya matahari ke dalam bangunan dilakukan agar penerangan alami dapat tercapai tetapi perlu juga memperhatikan faktor kenyamanan dan kesehatan. Menurut Manurung . pendekatan perencanaan yang dapat dilakukan untuk memperoleh pencahayaan alami pada bangunan dipengaruhi oleh : Orientasi bangunan Bentuk bangunan Bukaan sebagai jalan masuk cahaya Pendistribusian cahaya Pengontrolan Cahaya Sedangkan menurut Satwiko . beberapa aspek penerangan adalah sebagai berikut : Setiap fungsi ruang mempunyai tingkat intensitas cahaya yang berbeda beda sesuai dengan aktifitas yang menampungnya. Cahaya yang masuk adalah cahaya bola langit Bukaan sebaiknya pada orientasi utara-selatan untuk menghindari masuknya radiasi lamgsung Bila dimungkinkan letakan bangunan di tengah tapak untuk memberikan keleluasaan cahaya bola langit masuk ke dalan ruangan Perhatikan obejek penghalang di sekitar bangunan yang berpotensi mengahalangi cahaya bola langit masuk kedalam ruangan. Pengumpulan Data Penelitian ini telah dilakukan pada bulan Juni 2019. Kampus Sekolah Tinggi Teknologi Cirebon (STTC). Jln Evakuasi. No 10 Cirebon. Metode Pengambilan Data Langkah-langkah yang digunakan untuk mengambil data dalam penelitian ini adalah sebagai Menyiapkan alat dan bahan. Mengukur . anjangXlebar ukuran jendela I. R202 . X 150 ) cm2 untuk kaca bening. Jendela II. R 301 . X 150 ) cm2 Jendela i. R 303 ( 170 X 120 ) cm2 Mengukur intensitas pencahayaan di dalam ruangan dengan Lux meter. mencatat hasil pembacaan pada Lux meter pada tabel pengamatan. mengukur intensitas pencahayaan di dalam ruang dengan Light meter dengan dari jendela 100 cm dengan tinggi Light meter dari lantai 100 cm. Mencatat hasil pembacaan pada Lux meter pada tabel pengamatan. Melakukan perlakuan yang sama pada jendela lantai II dan lantai i Jurnal Arsitektur Ae Sekolah Tinggi Teknologi Cirebon / Vol 14 / No 1 / April 2022 Gambar 4. Alat Pengukuran Sumber : dokumentasi penulis Lokasi Pengukuran Pada Ruang 202 Gambar 8. Suasana Ruang 301 Sumber : dokumentasi penulis Pengukuran Pada Ruang 303 Gambar 5. Denah Ruang 202 Sumber : dokumentasi penulis Gambar 6. Suasana Ruang 202 Sumber : dokumentasi penulis Gambar 9. Denah Ruang 303 Sumber : dokumentasi penulis Lokasi Pengukuran Pada Ruang 301 Gambar 10. Suasana Ruang 303 Sumber : dokumentasi penulis Gambar 7. Denah Ruang 301 Sumber : dokumentasi penulis Jurnal Arsitektur Ae Sekolah Tinggi Teknologi Cirebon / Vol 14 / No 1 / April 2022 Hasil pengukuran pada ke tiga ruang menunjukan tingkat intensitas cahaya yang berbeda-beda, hal ini dapat dilihat dari table dibawah ini : ruang belajar di kampus sekolah Tinggi Teknologi Cirebon (STTC) atau bangunan lain sebagai penambah wawasan mengenai pencahayaan alami. DAFTAR PUSTAKA Satwiko. Prasasto, . Fisika Bangunan 1. Penerbit Andi Yogyakarta. Szokolay. V Steven, . Introduction to Architecture Science. Elsevier Ltd. Jordan Hill. Oxford OX2 8DP. UK Manurung. Parmonangan . Pencahyaan Alami Dalam Arsitektur. Penerbit Andi Yogyakarta. Tabel 1. Hasil pengukuran Sumber : dokumentasi penulis Tingkat rekomendasikan untuk ruang kelas menurut Satwiko . adalah berkisar antara 200 Ae 800 Lux, sehingga jika mengacu pada hal ini maka untuk ruang 202 dan ruang 303 dalam keadaan cuaca cerah maka penarangan alami bisa tercapai tetapi pada ruang 303 terjadi kelebihan cahaya sehingga mengakibatkan kesilauan yang mengganggu proses belajar-mengajar. PENUTUP Kesimpulan Hasil pengukuran yang berbeda Aebeda pada ruang 202, 301 dan 303 disebabkan oleh : Orientasi ruang terhadap sinar matahari dimana Ruang 202 dan 303 berada pada orientasi utara selatan sedangkan ruang 303 berada pada orientasi barat-timur sehingga sinar matahari langsung memasuki ruangan tanpa ada Adanya penghalang pada ruang 303 sehingga memiliki tingkat intensitas cahaya yang lebih besar dari ruang 202, penghalang tersebut adalah bangunan sekitar dan pepohonan. Rekomendasi