JURNAL BUANA SAINS Volume 25. Number 2 (Agustus 2. : Hal. ISSN: 1412-1638 . 2527-5720 . Terakreditasi Peringkat 4 Dirjen Penguatan Riset dan Pengembangan No 148/E/KPT/2020 Tersedia online https://jurnal. id/index. php/buanasains MEKANISME ANTAGONISME BEBERAPA ISOLAT JAMUR ANTAGONIS TERHADAP PERTUMBUHAN JAMUR Colletotrichum gloeosporioides Risya Rosyida Universitas Mulawarman Korespondensi : risyar16@gmail. Abstract Article history: Received 18 July 2025 Accepted 10 August 2025 Published 30 August 2025 The pathogen Colletotrichum gloeosporioides causes anthracnose disease in cayenne pepper, which is difficult to control. It is expected to control the pathogen by using antagonistic fungi because it has the ability to stop its growth by means of antibiosis, parasitism, or This study aims to test five isolates of antagonistic fungi for their ability to inhibit C. gloeosporioides, which causes anthracnose disease in cayenne pepper plants, and to identify the mechanism of inhibition in vitro. Inhibition and antagonistic mechanisms were used in the study. Each test used a full-randomized design. The antagonistic fungi used were Aspergillus sp. Penicillium sp. Gliocladium sp. Nigrospora sp. , and Trichoderma sp. , each repeated five times. The results showed that, compared to the other fungi, the antagonistic fungal isolate Trichoderma sp. had a high inhibitory ability . %). The three isolates of antagonistic fungi have antagonistic mechanisms against C. gloeosporioides, namely Aspergillus sp. Gliocladium sp. , and Trichoderma sp. In addition, isolates of Gliocladium sp. Nigrospora sp. , and Trichoderma sp. also have parasitism ability, while Aspergillus sp. Penicillium sp. , and Trichoderma sp. have antibiosis mechanisms against Antagonistic fungal isolates that have the most potential to be developed as biological agents for anthracnose control in cayenne pepper plants, namely Trichoderma sp. Keywords: antagonistic fungi. Cayenne pepper. Colletotrichum gloeosporioides. Pendahuluan Cabai rawit (Capsicum frutescens L. adalah salah satu tanaman hortikultura yang sangat menguntungkan yang dapat ditanam di Indonesia dan peranan penting dalam konsumsi Namun, budidaya cabai rawit seringkali menghadapi berbagai tantangan. Salah satunya adalah serangan hama dan penyakit yang dapat mengurangi hasil panen. Salah satu penyakit utama yang menjadi kendala serius dalam budidaya cabai rawit adalah busuk buah antraknosa, yang patogen Colletotrichum gloeosporioides. Penyakit ini dapat menyerang setiap fase pertumbuhan To cite this article: Rosyida. Mekanisme Antagonisme Beberapa Isolat Jamur Antagonis Terhadap Pertumbuhan Jamur Colletotrichum gloeosporioides. Jurnal Buana Sains 25. : 17-28 R. Rosyida / Buana Sains Vol 25 No 2 : 17-28 tanaman, mulai dari fase pembibitan hingga fase generatif, dengan gejala khas berupa lesi cekung berwarna hitam pada buah yang kemudian meluas dan menyebabkan buah membusuk. Pada stadium lanjut, serangan C. gloeosporioides bahkan dapat menyebabkan kematian tanaman, berakibat pada kerugian ekonomi yang besar bagi petani. Untuk mengatasi busuk buah antraknosa, fungisida sintetik masih digunakan secara Penggunaan berlebihan fungisida kimia, meskipun efektif dalam jangka pendek, memiliki banyak konsekuensi negatif. Ini termasuk residu kimia pada produk pertanian, pencemaran lingkungan, resistensi patogen terhadap fungisida, dan gangguan pada kesehatan manusia dan organisme non-target. Akibatnya, diperlukan alternatif pengendalian yang lebih efisien, berkelanjutan, dan ramah lingkungan. Alternatif yang dapat digunakan untuk masalah ini yaitu melalui pengendalian hayati atau Penggunaan agens hayati, terutama mikroorganisme yang memiliki sifat antipati terhadap patogen, adalah salah satu metode pengendalian hayati. Mikroorganisme antagonis memiliki kemampuan untuk menghentikan perkembangan atau aktivitas patogen melalui berbagai mekanisme, seperti kompetisi nutrisi dan ruang, parasitisme . ang menyebabkan . ang menghasilkan senyawa antimikrob. Penelitian mengenai agens hayati sebagai pengendali C. gloeosporioides pada cabai rawit telah banyak dilakukan. Beberapa spesies jamur antagonis yang telah terbukti efektif antara Trichoderma spp. Aspergillus dan Gliocladium spp. Mekanisme antagonisme yang umum terjadi pada jamur ini meliputi: Kompetisi, di mana agens hayati tumbuh lebih cepat dan mendominasi ruang serta nutrisi yang dibutuhkan patogen. Antibiosis yaitu produksi senyawa metabolit sekunder seperti antibiotik atau enzim litik . itinase, glukanas. yang dapat menghambat pertumbuhan atau merusak dinding sel patogen, sehingga menciptakan zona hambat di sekitar koloni patogen. Parasitisme atau mikoparasitisme, di mana hifa agens hayati melilit dan menyerang hifa patogen, menyebabkan lisis dan kematian sel patogen (Nurzannah et al. , 2014. Putri, 2. Selain itu Hartal et al. dalam isolat Trichoderma sp. dan Gliocladium sp. memberikan penghambatan tertinggi terhadap patogen, mencapai 70,1% dalam uji in vitro. Lebih lanjut. Pratiwi et al. juga menyatakan bahwa Trichoderma sp. secara efektif menekan pertumbuhan Fusarium moniliforme dalam uji in vitro. Temuan ini mengindikasikan potensi besar jamur antagonis sebagai biokontrol yang efektif. Trichoderma dikenal luas sebagai agen biokontrol berbagai penyakit tanaman melalui mekanisme kompetisi, antibiosis, dan parasitisme (Harman et , 2021. Druzhinina et al. , 2. Namun, penelitian mengenai efektivitas isolat lokal Trichoderma pada cabai rawit masih terbatas, sehingga diperlukan kajian mendalam. Adapun tujuan dari penelitian ini untuk mengidentifikasi dan menguji potensi jamur antagonis indigenous dari lingkungan pertanaman cabai rawit sebagai agen pengendali hayati Colletotrichum gloeosporioides. Melalui pemahaman mendalam tentang daya hambat dan mekanisme antagonisme jamur lokal, diharapkan dapat diperoleh formulasi agens hayati yang efektif untuk mengurangi ketergantungan pada fungisida kimia, mendukung praktik pertanian berkelanjutan, dan meningkatkan produktivitas cabai rawit di Indonesia. Metode Penelitian Penelitian dilakukan di Laboratorium Penyakit Tumbuhan 3 Jurusan Hama dan Penyakit Tumbuhan Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya Malang. Pengamatan mekanisme antagonis juga didukung oleh SEM di Laboratorium Biosains Universitas Brawijaya. Isolat jamur antagonis berasal dari bahan yang dikumpulkan di Laboratorium Universitas Brawijaya. Rancangan acak lengkap dengan lima jamur antagonis digunakan untuk setiap pengujian, yang diulang lima kali (Tabel . To cite this article : Rosyida. Mekanisme Antagonisme Beberapa Isolat Jamur Antagonis Terhadap Pertumbuhan Jamur Colletotrichum gloeosporioides. Jurnal Buana Sains 25. : 17-28 R. Rosyida / Buana Sains Vol 25 No 2 : 17-28 Tabel 1. Perlakuan uji antagonis secara in vitro Kode RN1 RN2 EAB Perlakuan Deskripsi isolat C. gloeosporioides dan isolat jamur yang diperoleh dari filosfer daun tanaman tebu (RN. ditumbuhkan pada media kultur PDA isolat C. gloeosporioides dan isolat jamur yang diperoleh dari filosfer daun tanaman tebu (RN. ditumbuhkan pada media kultur PDA isolat C. gloeosporioides dan isolat jamur yang diperoleh dari tanah rhizosfer tanaman jeruk (AJ) ditumbuhkan pada media kultur PDA isolat C. gloeosporioides dan isolat jamur yang diperoleh dari endofit daun tanaman tebu (S. ditumbuhkan pada media kultur PDA isolat C. gloeosporioides dan isolat jamur yang diperoleh dari endofit daun tanaman tebu (EAB) ditumbuhkan pada media kultur PDA Isolasi dilakukan dengan memotong bagian daun yang sakit dan setengah sehat sepanjang 1-2 Potongan-potongan daun dibersihkan dengan merendam dua kali dalam NaOCl 2%, alkohol 70%, dan aquades, dengan waktu perendaman masing-masing selama 1 menit. Setelah kering, potongan-potongan daun dianginkan di atas tisu steril hingga kering. Potongan daun kemudian ditanam di atas media PDA dalam cawan petri dan diinkubasi selama 7 Purifikasi dilakukan dengan mengambil koloni jamur yang berbeda-beda dan paling dominan. Jamur patogen yang telah dibersihkan ditanam pada media PDA baru menggunakan jarum ose. Uji patogenitas dilakukan dengan melalui pembuatan suspensi C. gloeosporioides dengan cara 10 ml aquades dimasukkan ke tabung reaksi kemudian ditambahkan jamur sebanyak 2 ose dan ditutup lalu dihomogenkan selama 10 menit. Penginokulasian dilakukan dengan 2 cara pengaplikasian yakni suspensi jamur disuntikkan pada tanaman cabai rawit dibagian buah dan suspensi jamur disiramkan pada daerah perakaran (Firmansyah dan Alfarisi, 2. Setelah isolat diperoleh, koloni jamur diambil dan ditanam pada media PDA baru dengan jarum Makroskopis, identifikasi dilakukan dengan melihat koloni untuk warna, bentuk, elevasi, dan Mikroskopis, identifikasi dilakukan dengan melihat bentuk koloni jamur, seperti hifa Uji antagonist beberapa jamur terhadap C. gloeosporioides in vitro Setiap tes dilakukan lima kali ulangan. Isolation C. gloeosporioides dan jamur antagonis diletakkan berhadapan satu sama lain dengan jarak 3 cm dalam cawan petri diameter 9 cm menurut Ainy et al. Perhitungan persentase penghambatan mengacu pada Dharmaputra et al. %Penghambatan = Oe Dt y 100 Di mana: Dc = diameter koloni patogen pada kontrol . yaitu petri tanpa antagonis. Dt = diameter koloni patogen di arah yang mengarah ke antagonis . pada perlakuan dualculture. Mekanisme yang terjadi antara jamur antagonis dengan patogen diamati lebih detail dengan menggunakan SEM. Pengamatan dilakukan untuk melihat perbandingan antara kenampakan fisik kontrol dengan perlakuan Kemudian dibandingkan perubahan yang terlihat dari hasil SEM dan dilakukan analisa secara fisik mengacu pada Adedeji. , et al. Data diuji dengan sidik ragam sebelum melakukan uji beda rata-rata perlakuan dengan uji BNT pada taraf 5%. To cite this article : Rosyida. Mekanisme Antagonisme Beberapa Isolat Jamur Antagonis Terhadap Pertumbuhan Jamur Colletotrichum gloeosporioides. Jurnal Buana Sains 25. : 17-28 R. Rosyida / Buana Sains Vol 25 No 2 : 17-28 Hasil Dan Pembahasan Persentase Penghambatan Jamur Antagonis terhadap Patogen Hasil menunjukkan bahwa ketiga isolat jamur antagonis memiliki daya hambat lebih dari 50% terhadap patogen C. gloeosporioides, sedangkan dua isolat jamur antagonis lainnya memiliki daya hambat kurang dari 50% (Tabel . Tabel 2. Persentase penghambatan pertumbuhan C. % Rerata daya hambat pada pengamatan keIsolat jamur 4 hari 5 hari 6 hari 7 hari Aspergillus sp. Penicillium sp. Gliocladium sp. Nigrospora sp. Trichoderma sp. Keterangan: Bilangan yang disertai huruf yang sama pada kolom yang sama menunjukkan tidak berbeda nyata berdasarkan uji BNT taraf kesalahan 5%. Tabel 3. Pendugaan jenis mekanisme antagonisme isolat jamur antagonis Jenis mekanisme antagonisme Isolat jamur antagonis Kompetisi Parasitisme Aspergillus sp. Penicillium sp. Gliocladium sp. Nigrospora sp. Trichoderma sp. Keterangan: ( ) terdapat mekanisme, (-) tidak terdapat mekanisme. Mekanisme Penghambatan Jamur Antagonis terhadap Patogen Tabel 3 menunjukkan hasil pengamatan mekanisme penghambatan jamur antagonis terhadap patogen C. Pengamatan mikroskopis menunjukkan bahwa isolat Trichoderma sp. memiliki kemampuan parasitisme, yang ditunjukkan dengan lilitan hifa jamur antagonis terhadap hifa patogen. Mekanisme hambatan Trichoderma sp. terdiri dari lilitan Trichoderma sp. dan hifa patogen lisis. Aspergillus sp. vs C. Patogen tidak mampu bersaing untuk ruang dan nutrisi untuk berkembang karena Ketika koloni jamur antagonis Antibiosis tumbuh lebih cepat, mereka mulai menutupi jamur patogen, menyebabkan hifa jamur patogen lisis. Proses pembelitan Aspergillus sp. menyebabkan lisis hifa C. gloeosporioides, seperti yang ditunjukkan oleh hasil pengamatan menggunakan SEM (Gambar Aspergillus sp. juga memiliki kemampuan untuk menghasilkan metabolit sekunder yang aktif. Senyawa antimikroba yang diproduksi oleh Aspergillus sp. memiliki gugus fenol dan bersifat netral, polar. Fenol ini memiliki kemampuan untuk mendenaturasikan protein pada dinding dan membran sel bakteri dan jamur. Selain itu. Aspergillus sp. dapat menghasilkan zat bioaktif yang membuat jamur Aspergillus sp. antagonis terhadap patogen yang menyebabkan penyakit tanaman (Zhang et al. , 2. To cite this article : Rosyida. Mekanisme Antagonisme Beberapa Isolat Jamur Antagonis Terhadap Pertumbuhan Jamur Colletotrichum gloeosporioides. Jurnal Buana Sains 25. : 17-28 R. Rosyida / Buana Sains Vol 25 No 2 : 17-28 Gambar 1. Mekanisme hambatan isolat Aspergillus sp. pada 5,6,7 hsi terlihat adanya zona bening diantara kedua jamur . erjadi pertemuan pada pengamatan 7 hs. Gambar 2. Kenampakan mekanisme antibiosis dengan perbesaran 4000x. hifa Aspergillus sp. meliliki hifa patogen, membuat hifa patogen mengalami lisis, terjadi pembengkakan . dari hifa patogen akibat lilitan oleh hifa Aspergillus sp. Aspergillus sp. sebelum menyerang, gloeosporioides sebelum terserang. Penicillium sp. vs C. Berdasarkan uji antagonis antara Penicillium dan C. gloeosporioides menghasilkan mekanisme yaitu antibiosis. Serta pada bagian antara kedua jamur terdapat zona bening atau zona inhibisi. Ada hubungan antara pembentukan zona inhibisi dan senyawa antibiosis yang disekresi oleh jamur Hifa patogen dapat dilisis oleh zat yang dikeluarkan Penicillium sp. (Gambar 4. Ini sejalan dengan temuan penelitian Des et al. yang menunjukkan bahwa dua isolat yang diuji. Penicillium sp. dan F. oxysporum f. menunjukkan mekanisme antibiosis. Selain itu, senyawa yang dikeluarkan oleh Penicillium sp. To cite this article : Rosyida. Mekanisme Antagonisme Beberapa Isolat Jamur Antagonis Terhadap Pertumbuhan Jamur Colletotrichum gloeosporioides. Jurnal Buana Sains 25. : 17-28 R. Rosyida / Buana Sains Vol 25 No 2 : 17-28 menyebabkan lisis hifa F. Mekanisme antibiosis yang dilakukan oleh jamur antagonis yaitu dengan cara menghasilkan enzim-enzim tertentu yang menyebabkan patogen mengalami lisis. Sesuai dengan hasil SEM (Gambar 4a dan 4. menunjukkan bahwa hifa patogen mengalami pertumbuhan abnormal yaitu mengalami kempis . pada dinding hifa patogen, hal tersebut disebabkan karena adanya senyawa yang dikeluarkan oleh Penicillium sp. mana senyawa tersebut menyebabkan nutrisi dalam hifa patogen akan keluar dan mengakibatkan metabolisme pertumbuhan pada gloeosporioides terhambat. Beberapa genus Penicillium sp. mampu menghambat pertumbuhan patogen melalui mekanisme antibiosis. Makut dan Owolewa . menyatakan Penicillium sp. menghasilkan antibiotik Penicilin, yang memiliki kemampuan untuk menghentikan sintesis dinding sel patogen. Antibiotik ini mencegah pembentukan peptidoglikan yang utuh, yang melemahkan dinding sel dan menyebabkan lisis. Gambar 3. Mekanisme hambatan isolat Penicillium sp. pada 3,6,7 hsi terlihat terdapat zona bening diantara kedua isolat yang mengindikasikan adanya mekanisme antibiosis Gambar 4. Hasil pengamatan mekanisme antibiosis perbesaran 4000x. hifa Penicillium sp. masuk kedalam dinding sel hifa patogen dan menyebabkan lisis, hifa patogen mengalami lisis. Penicillium sp. sebelum menyerang, gloeosporioides sebelum terserang. To cite this article : Rosyida. Mekanisme Antagonisme Beberapa Isolat Jamur Antagonis Terhadap Pertumbuhan Jamur Colletotrichum gloeosporioides. Jurnal Buana Sains 25. : 17-28 R. Rosyida / Buana Sains Vol 25 No 2 : 17-28 Gliocladium sp. vs C. Secara makroskopis isolat Gliocladium sp. memiliki mekanisme kompetisi, terlihat jamur patogen tidak tumbuh akibat terhalang oleh Gliocladium sp. yang sangat cepat (Gambar . Pada gambar dibawah, sedikit koloni jamur menyebabkan hifa patogen lisis. Ini ditunjukkan oleh hasil pengamatan SEM (Gambar 6. , di mana Gliocladium sp. menghasilkan senyawa yang merusak dinding sel, memungkinkan Gliocladium sp. untuk memasuki hifa patogen dan menghambat patogen. Gliocladium sp. kemampuan untuk menyebabkan parasit inangnya, yang merupakan patogen. Parasit melakukan pekerjaan mereka dengan membungkus atau menutupi patogen, dan mereka juga dapat menghasilkan enzim-enzim yang menghancurkan dinding sel patogen, yang mengakhiri kehidupan Gambar 5. Gliocladium sp. pada 2,5,6,7 hsi terlihat memiliki mekanisme kompetisi terhadap C. Gambar 6. Hasil pengamatan mekanisme parasitisme menggunakan SEM dengan perbesaran 5000x. hifa Gliocladium sp. melilit hifa patogen, mengindikasikan adanya mekanisme parasitisme, hifa patogen mengalami lisis. Gliocladium sp. sebelum menyerang, gloeosporioides sebelum terserang To cite this article : Rosyida. Mekanisme Antagonisme Beberapa Isolat Jamur Antagonis Terhadap Pertumbuhan Jamur Colletotrichum gloeosporioides. Jurnal Buana Sains 25. : 17-28 R. Rosyida / Buana Sains Vol 25 No 2 : 17-28 Nigrospora sp. vs C. Berdasarkan hasil pengamatan SEM menunjukkan bahwa hifa Nigrospora sp. hifa dari C. gloeosporioides (Gambar 8. yang mengakibatkan hifa patogen mengalami lisis dan pertumbuhannya tidak dapat berkembang. Hal ini dikarenakan Nigrospora sp. menghasilkan senyawa antimikroba yang mana senyawa tersebut dapat menghambat pertumbuhan dari patogen. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian Herawati et al. menunjukkan Nigrospora sp. mampu menekan pertumbuhan F. oxysporum dengan persentase daya hambat tertinggi yaitu 47,78%, hal ini disebabkan karena jamur endofit dari genus Nigrospora berperan sebagai penghasil antimikroba. Sehingga dapat menghambat pertumbuhan F. Gambar 7. Mekanisme hambatan isolat Nigrospora sp. pada 3,4,6,7 hsi terlihat adanya mekanisme parasitisme. Gambar 8. Pengamatan mekanisme parasitisme menggunakan SEM perbesaran 3000x. hifa patogen lisis karena hifa jamur antagonis merusak dinding sel dari patogen, hifa patogen mengalami lisis, gloeosporioides sebelum terserang. Nigrospora sp. sebelum menyerang. To cite this article : Rosyida. Mekanisme Antagonisme Beberapa Isolat Jamur Antagonis Terhadap Pertumbuhan Jamur Colletotrichum gloeosporioides. Jurnal Buana Sains 25. : 17-28 R. Rosyida / Buana Sains Vol 25 No 2 : 17-28 Trichoderma sp. vs C. Pada umur 7 hsi terlihat miselium Trichoderma sp. sedikit menutupi permukaan dari jamur patogen (Gambar . Salah satu jenis mikroba Trichoderma sp. memiliki kemampuan untuk menghentikan perkembangan patogen dengan menghasilkan senyawa aktif biologis secara in vitro. Zona hambat yang terbentuk menunjukkan mekanisme antibiosis. Ini sejalan dengan penelitian Shanmugam et al. bahwa metabolit sekunder Trichoderma sp. memainkan peran penting dalam menghentikan perkembangan patogen. Saravanakumar et al. menyatakan bahwa strain endofitik Trichoderma sp. memiliki kemampuan untuk meningkatkan ketahanan tanaman melalui dua Amaria et al. menyatakan bahwa kelompok jamur Trichoderma sp. mekanisme antagonis kompetisi, antibiosis, dan parasitisme yang memiliki kemampuan untuk menghentikan pertumbuhan patogen. Hifa patogen tumbuh dan lisis karena mekanisme hambatan Trichoderma sp. menyebabkan hifa patogen membesar dan lisis. Hasil pengamatan SEM menunjukkan bahwa hifa C. mengalami lisis akibat adanya lilitan yang dilakukan oleh Trichoderma sp. Gambar 9. Mekanisme hambatan Trichoderma sp. pada 2,5,6,7 hsi terlihat jelas adanya mekanisme kompetisi Gambar 10. Interaksi yang terjadi antara Trichoderma sp. dengan C. hifa Trichoderma sp. mulai melilit C. hifa patogen mengalami lisis, gloeosporioides sebelum terserang, perbesaran dari hifa Trichoderma sp To cite this article : Rosyida. Mekanisme Antagonisme Beberapa Isolat Jamur Antagonis Terhadap Pertumbuhan Jamur Colletotrichum gloeosporioides. Jurnal Buana Sains 25. : 17-28 R. Rosyida / Buana Sains Vol 25 No 2 : 17-28 Kesimpulan Trichoderma sp. menunjukkan kemampuan daya hambat paling tinggi yaitu 74% dibanding isolat lain, dengan mekanisme utama berupa kompetisi serta indikasi parasitisme dan antibiosis. Gliocladium sp. Aspergillus sp. juga terbukti potensial, masing-masing melalui kombinasi mekanisme kompetisiAeparasitisme dan kompetisiAeantibiosis. Penicillium sp. dan Nigrospora tetap berpeluang dikembangkan karena diduga menghasilkan mekanisme yang menyebabkan lisis hifa Secara praktis, tiga isolat unggul (Trichoderma sp. Gliocladium sp. , dan Aspergillus sp. berpotensi dikembangkan sebagai agens hayati pengendali antraknosa pada cabai rawit untuk mendukung budidaya yang ramah lingkungan Ucapan Terima Kasih Penulis berterima kasih kepada semua pihak yang telah mendukung proses penelitian ini. Daftar Pustaka