P a g e | 145 [Open Acces. STT Baptis Indonesia Semarang PASCA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen Sekolah Tinggi Teologi Baptis Indonesia Semarang ISSN: (Onlin. 2622-1144, (Prin. 2338-0489 Volume 21. Nomor 2. Nov 2025, 145-149 Book Review: Proverbs And The Formation Of Character Patrick Byornjovi Lazarus* Sekolah Tinggi Teologi Injili Indonesia Yogyakarta *Joylazarus2024@gmail. Farel Yosua Sualang Sekolah Tinggi Teologi Injili Indonesia Yogyakarta Abstract The book Proverbs and the Formation of Character by Dave Bland highlights how the book of Proverbs shapes moral character through practical and relational wisdom. Bland focuses on the often-overlooked section of sentence literature (Proverbs 10Ae. and shows that the book of Proverbs has the power to shape virtues such as justice and self-control. With an interdisciplinary approach, he brings together theology, ethics, homiletics, and psychology to show the relevance of Proverbs in modern life. Wisdom in Proverbs is described as the result of a relationship with God and community, and is obtained through dialogue and life experience. Therefore. Dave Bland's critical insight into the character formation of the book of Proverbs in this book is not only oriented toward a dimension of moral rules, but also a process of character growth that takes place through learning adaptation, correction, and openness to guidance from family with community. Keywords: proverbs, character, wisdom, ethics, community. DOI: 10. 46494/psc. Copyright: A 2025. The Authors. Licensee:This work is licensed under the Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. InternationalLicense. Submited: 15 Oct 2025 Accepted: 28 Nov 2025 Published: 30 Nov 2025 http://journal. Volume 20 Nomor 2 Tahun 2025 Open Access P a g e | 146 [Open Acces. STT Baptis Indonesia Semarang Book Review: Proverbs And The Formation Of Character Abstrak Buku Proverbs and the Formation of Character karya Dave Bland menyoroti bagaimana kitab Amsal membentuk karakter moral melalui hikmat yang bersifat praktis dan relasional. Bland fokus pada bagian literatur kalimat (Amsal 10Ae. yang sering diabaikan, dan menunjukkan bahwa kitab Amsal memiliki kekuatan untuk membentuk kebajikan seperti keadilan dan pengendalian diri. Dengan pendekatan lintas disiplin, ia menyatukan teologi, etika, homiletika, dan psikologi untuk memperlihatkan relevansi Amsal dalam kehidupan modern. Hikmat dalam Amsal digambarkan sebagai hasil hubungan dengan Allah dan komunitas, serta diperoleh melalui dialog dan pengalaman hidup. Oleh sebab itu, wawasan kritis pembentukan karakter kitab Amsal yang dibangun oleh Dave Bland pada buku ini, tidak hanya berorientasi kepada suatu dimensi aturan moral, melainkan suatu proses pertumbuhan karakter yang berlangsung melalui adaptasi belajar, koreksi dan keterbukaan terhadap bimbingan keluarga serta komunitas. Kata-kata kunci: amsal, karakter, hikmat, etika, komunitas Kota Terbit Cetakan Halaman ISBN Eugene,Oregon Pertama 188 xiv halaman 978-1-4982-2164-1 Penulis Dave L. Bland adalah seorang akedemisi dan penulis yang dikenal dalam bidang teologi Kristen. Khususnya homiletika dan sastra kebijaksanaan Alkitab. Meraih gelar PhD dari University of Washington di Seattle. Ia telah mengajar homiletika dan literatur hikmat di Harding School of Theology di Memphis sejak Ia menikah dengan istrinya Nancy dan memiliki tiga orang anak. Ringkasan Identitas Buku Judul Penulis Penerbit Tahun : Proverbs And The Formation Of Character : Dave L. Bland : Cascade Books (Wipf and Stoc. : 2016 http://journal. Pada bagian pertama buku ini Bland menyatakan bahwa inti dari hikmat dalam kitab Amsal adalah pembentukan karakter Ia menolak pandangan bahwa Amsal hanya menyajikan nasihat praktis yang Sebaliknya, menekankan bahwa seluruh peribahasa tersebut memiliki tujuan membentuk individu yang bertanggung jawab secara moral, sosial, dan spiritual. Karakter dalam perspektif Amsal adalah kumpulan kebajikan yang tertanam dalam diri seseorang seperti keadilan, kesetiaan, kerendahan hati, dan pengendalian diri yang tumbuh seiring waktu melalui pengaruh keluarga, komunitas, pengalaman hidup, dan terutama hubungan dengan Allah. Volume 20 Nomor 2 Tahun 2025 Open Access [Open Acces. P a g e | 147 Dukungan terhadap ide ini juga datang dari Longman, yang mengatakan bahwa AuHikmat itu etis. Amsal mengajarkan cara hidup, bukan sekadar strategi bertahan hidup. Ay1 Longman menekankan bahwa hikmat dalam Amsal adalah etis dan spiritual, bukan sematamata pragmatis. Ia menolak pendekatan yang menilai Amsal sebagai buku "kesehatan dan Hal senada juga diungkapkan oleh Perdue Ia berpendapat bahwa karakter adalah inti dari spiritualitas hikmat dan mengatakan AuHikmat bukan hanya sekedar pengetahuan, tapi cara hidup yang mewujudkan kebenaran dan kesetiaan. Ay2 Pernyataan ini menegaskan seluruh tesis Bland mengenai formasi karakter sebagai tujuan utama hikmat alkitabiah. Selanjutnya dalam buku ini Bland juga berpendapat bahwa karakter adalah hasil dari interaksi antara manusia dengan Tuhan dan Ini bukan sekadar etika personal, tapi lahir dari komunitas iman yang sehat dan Brown juga mengemukakan hal yang sama bahwa hikmat bukan sekadar nasihat praktis, melainkan bagian dari formasi etika yang timbul dalam relasi dengan Tuhan dan 3 Hal ini selaras dengan pemikiran Davis yang melihat hikmat dalam Amsal sebagai cara untuk hidup Auselaras dengan tatanan ciptaan TuhanAy dan menyatakan bahwa hikmat berakar dalam relasi dan tanggung jawab terhadap sesama. STT Baptis Indonesia Semarang komunitas iman. Komunitas menyediakan ruang untuk pembelajaran, konfrontasi yang sehat, dan pembentukan tanggung jawab Dengan kata lain, karakter tidak dibentuk dalam isolasi, tetapi dalam konteks hidup bersama. Pendapat Bland ini sejalan dengan para teolog lainnya semisal Brown yang memandang Amsal sebagai bagian dari warisan kebijaksanaan komunitas Israel yang membina kehidupan moral bersama. 5 Begitu juga Crenshaw yang menekankan bahwa pendidikan moral di Israel kuno berakar pada pengajaran hikmat dan tradisi komunitas sebagai alat formasi karakter lintas generasi. Crenshaw mengafirmasi bahwa pembentukan karakter bukan tugas individu semata, tetapi misi kolektif komunitas iman. 6 Selaras dengan kritik Bland terhadap budaya terapeutik dan perlunya pendidikan moral berbasis komunitas iman. Hunter juga mengemukakan bahwa AuKarakter terbentuk dalam komunitas, melalui institusi yang kental dengan tradisi moral bukan melalui perasaan atau slogan. Ay7 Brueggemann menyatakan bahwa Perjanjian Lama adalah kumpulan suara yang beragam dan saling berdialog, bukan satu suara tunggal. Hikmat Israel pun lahir dari pengalaman hidup nyata, disampaikan lewat ucapan singkat dan mudah diingat yang memuat nilai moral dan teologis. Karakter tidak dibentuk dalam ruang Bland menekankan bahwa komunitas . eluarga, masyarakat, gerej. memiliki peran sentral dalam proses pendidikan moral. Bland menunjukkan bahwa keluarga adalah tempat awal pembentukan karakter, tetapi tidak berakhir di sana. Kitab Amsal menekankan pentingnya peran orang tua . aik ayah maupun ib. dalam mendidik anak sejak dini. Namun proses pendidikan karakter ini meluas hingga Selanjutnya gagasan utama yang juga dikemukakan dalam buku ini adalah AuPeran YahweAy. Bland menyebut peran "Yahweh Proverbs", yaitu peribahasa yang secara eksplisit menyebut keterlibatan Allah dalam kehidupan manusia. Bland melihat Allah dalam Amsal bukanlah Allah yang jauh dan tak terjangkau, melainkan Allah yang hadir dalam setiap detail kehidupan. Dia membimbing, membentuk, dan mendisiplin umat-Nya baik secara langsung maupun melalui pengalaman Tremper Longman i. How to Read Proverbs (Illinois: InterVarsity Press, 2. 2 L. G Perdue. Proverbs. Interpretation. A Bible Commentary for Teaching and Preaching (Louisville: John Knox Press, 2. 3 William P. Brown. Character in Crisis: A Fresh Approach to the Wisdom Literature of the Old Testament (Grand Rapids: Wm. Eerdmans Publishing, 1. 4 Ellen F. Davis. Proverbs. Ecclesiastes, and The Song of Songs (Louisville: Westminster John Knox Press, 2. 5 Brown. Character in Crisis: A Fresh Approach to http://journal. the Wisdom Literature of the Old Testament. 6 James L. Crenshaw. Educating in Ancient Israel: Across the Deadening Silence (New York: Doubleday, 1. 7 James Davidson Hunter. The Death of Character Moral Education in an Age without Good or Evil (New York: Basic Books, 2. 8 Walter Brueggemann. Theology of the Old Testament (Minneapolis: Fortress Press, 1. Volume 20 Nomor 2 Tahun 2025 Open Access [Open Acces. P a g e | 148 hidup, komunitas, dan nasihat orang bijak. Dalam bab-bab akhir. Bland menekankan peran Tuhan yang aktif namun tak mencolok dalam membentuk karakter manusia melalui pengalaman, pilihan, dan relasi sehari-hari. Pandangan ini selaras dengan pemikiran Crenshaw yang menekankan bahwa pendidikan di Israel kuno bukan sekadar proses intelektual, tetapi merupakan pencarian akan rencana dan Allah Pengetahuan diperoleh tidak hanya melalui observasi dan pendengaran yang sabar, tetapi juga melalui komunikasi dengan Hikmat, yang dipersonifikasikan sebagai inkarnasi feminin dari Yang Ilahi. Crenshaw menekankan pentingnya aspek teologis dalam pendidikan moral yakni hubungan dengan Tuhan sebagai dasar hikmat. Evaluasi Dalam buku ini Bland dengan jelas menunjukkan bagaimana Kitab Amsal lebih dari sekadar koleksi petuah praktis. karakter dalam kehidupan sehari-hari. Buku ini menggali cara peribahasa dalam Amsal, baik yang sederhana maupun yang kompleks, berfungsi untuk membentuk moralitas dan Bland menyoroti pentingnya pola dan tema yang ada dalam Amsal 10Ae29, yang sering dianggap sebagai kumpulan nasihat acak. Dengan memperkenalkan konsep Yahweh Proverbs, ia memperlihatkan bahwa hikmat dalam Amsal selalu berkaitan dengan keterlibatan langsung Allah dalam kehidupan manusia. Hal ini memberikan kedalaman teologis pada buku ini, yang tidak hanya melihat Amsal sebagai buku moral tetapi juga sebagai buku yang memuat relasi manusia dengan Tuhan. Penekanan pada keterlibatan langsung Tuhan dalam peristiwa hidup sehari-hari memberikan pemahaman baru mengenai bagaimana hikmat pengajaran Tuhan yang lebih personal. Buku ini juga menawarkan aplikasi praktis yang relevan untuk pembaca kontemporer. Bland berhasil menghubungkan peribahasa Amsal STT Baptis Indonesia Semarang dengan tantangan moral dan spiritual dalam kehidupan modern, memberikan wawasan yang berguna bagi para pembaca yang ingin hidup lebih bijaksana dan sesuai dengan nilainilai Alkitabiah. Menjadi suatu catatan bagi buku ini adalah kurang mengekspos dan mengaitkan teori pendidikan sebagai suatu diskursus etika kontemporer yang mendalam. Selain dari pada itu, penyajian antar topik pada buku ini terkadang bergerak dari satu topik ke topik lain tanpa penghubung yang jelas. Penyusunan yang lebih sistematis dan pembahasan yang lebih terfokus pada peribahasa-peribahasa tertentu atau tematema kunci dalam Amsal bisa membantu pembaca yang mencari penjelasan yang lebih Secara keseluruhan. Proverbs and the Formation of Character oleh Dave Bland adalah buku yang sangat berharga dalam studi Kitab Amsal. Pendekatannya yang menggabungkan teologi, moralitas, dan spiritualitas memberikan wawasan yang lebih mendalam mengenai bagaimana Amsal berfungsi sebagai panduan hidup yang membentuk karakter. Meskipun ada ruang untuk pengembangan lebih lanjut dalam hal konteks historis dan struktur buku. Bland berhasil menunjukkan bahwa Amsal bukan hanya buku etika, tetapi juga sumber hikmat yang hidup dan relevan untuk umat Tuhan, baik di masa lalu maupun saat ini. Itulah sebabnya. Kontribusi Buku Bland sangat relevan pada konteks kehidupan masyarakat Indonesia yang bersinergi pada nilai-nilai budaya lokal, norma sosial, etika masyarakat Indonesia yang mengedepankan nilai-nilai Pancasila . eperti kejujuran, disiplin, etos kerja dan tanggung , khususnya budaya Indonesia yang menjunjung tinggi pada hubungan keluarga dan Referensi