Volume 8. Issue 1, 2026, 41 - 50 http://jurnal. id/jdk/article/view/91171 DOI: https://doi. org/10. 20961/desa-kota. Copyright A 2026 The Authors E-ISSN: 2656-5528 Kesesuaian Amenitas di Sekitar Kawasan Stadion Manahan terhadap Prinsip Pariwisata Berkelanjutan Suitability of Amenities in the Surrounding of Manahan Stadium Area to the Principles of Sustainable Tourism Dito Suryo Fitrianto1 ,Galing Yudana1. Nur Miladan1,2 1Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota. Fakultas Teknik. Universitas Sebelas Maret. Surakarta. Indonesia 2 Pusat Informasi Pembangunan Wilayah (PIPW). LPPM Universitas Sebelas Maret. Surakarta. Indonesia *e-mail: ditosuryo@student. (Recieved: 26 July 2024. Accepted: 18 October 2. Abstrak Stadion Manahan merupakan pusat kawasan pariwisata olahraga yang ada di Kota Surakarta. Dengan adanya pengembangkan Kota Surakarta yang menerapkan prinsip berkelanjutan, maka aspek-aspek di dalam kota juga perlu menerapkan prinsip-prinsip berkelanjutan, termasuk pariwisata. Pariwisata berkelanjutan memiliki beberapa aspek utama yang diperhatikan, yaitu aspek ekonomi, aspek sosial, dan aspek lingkungan. Di sekitar kawasan Stadion Manahan, terdapat berbagai amenitas pendukung seperti penginapan, tempat makan, dan toko cenderamata yang tersebar di sekitar kawasan. Meskipun demikian, belum diketahui mengenai penerapan prinsip-prinsip berkelanjutan pada amenitas tersebut untuk mendukung kawasan Stadion Manahan sebagai kawasan wisata yang berkelanjutan. Dalam rangka untuk mengetahui penerapan prinsip berkelanjutan pada amenitas tersebut, maka dilakukan penelitian terkait daya dukung lingkungan pada bangunan-bangunan amenitas tersebut. Ketentuan yang harus dicapai untuk memiliki daya dukung lingkungan yang baik adalah hasil perhitungan Koefisien Dasar Bangunan berada di bawah 80%. Metode analisis yang digunakan pada penelitian ini adalah analisis skoring untuk menilai kesesuaian kondisi amenitas dengan prinsip berkelanjutan pada tiap-tiap parameter variabel penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa amenitas di sekitar kawasan Stadion Manahan memiliki nilai perhitungan Koefisien Dasar Bangunan seluruhnya di bawah 80%. Hal tersebut menunjukkan bahwa amenitas di sekitar kawasan Stadion Manahan telah menerapkan daya dukung lingkungan yang baik dalam rangka mendukung penerapan prinsip pariwisata berkelanjutan di kawasan Stadion Manahan. Kata kunci: amenitas. lingkungan: pariwisata berkelanjutan. pembangunan berkelanjutan Abstract Manahan Stadium is the center of a sports tourism area in the city of Surakarta. With the development of the city of Surakarta that implements sustainable principles, it requires aspects in the city to also need to apply sustainable principles, including tourism. Sustainable tourism has several aspects that are highly considered, namely economic aspects, social aspects, and environmental In the surrounding of Manahan Stadium area, there are various supporting amenities such as lodging, restaurants, and souvenir shops around the area. However, it is not yet known about the implementation of sustainable principles in these amenities to support Manahan Stadium area as a sustainable tourist are a In order to understand the implementation of sustainable principles at these amenities, research was conducted related to the carrying capacity of the amenity buildings. The condition that must be achieved to have a good carrying capacity is the result of the calculation of the Building Coverage Ratio less than 80%. The analysis method used in this study is scoring analysis to assess the suitability of the condition of the amenity with the sustainable principle used in each parameter of the research variable. Based on the research, it was found that the amenities surrounding of Manahan Stadium area have Building Coverage Ratio less than 80%. This shows that the amenities at the surrounding of Manahan Stadium area have implemented good environmental carrying capacity in order to support the implementation of sustainable tourism principles in Manahan Stadium area. Keywords: amenity. sustainable development. sustainable tourism Desa-Kota: Jurnal Perencanaan Wilayah. Kota, dan Permukiman. Volume 8. Issue 1, 2026, 41-50 PENDAHULUAN Stadion Manahan merupakan stadion terbesar di Kota Surakarta yang dilengkapi dengan berbagai fasilitas pendukung olahraga seperti jogging track, jalur sepeda, lapangan basket, lapangan softball, dan sebagainya (Firdayanti & Setyowati. Selain itu, pada kawasan di sekitar Stadion Manahan juga terdapat berbagai amenitas pendukung seperti penginapan, toko, dan tempat makan. Selain sebagai tempat olahraga. Kawasan Stadion Manahan juga difungsikan sebagai kawasan pariwisata dengan daya tarik kegiatan olahraganya (Wibowo & Istanabi, 2. Hal ini dijelaskan dalam Rencana Induk Pengembangan Pariwisata Kota Surakarta, yaitu kawasan Stadion Manahan diproyeksikan sebagai pusat pengembangan pariwisata olahraga di Kota Surakarta. Kota Surakarta saat ini juga sedang berfokus pada pengembangan kota dengan penerapan prinsip berkelanjutan, atau dikenal dengan prinsip kota berkelanjutan. Dengan adanya paradigma pengembangan kota berkelanjutan tersebut, maka aspek-aspek yang ada di dalam kota tersebut juga harus mendukung penerapan prinsip berkelanjutan, tak terkecuali aspek pariwisata perkotaan. Penerapan prinsip berkelanjutan berfokus pada tiga hal utama, yaitu memperhatikan keberlanjutan ekonomi, memperhatikan keberlanjutan sosial, dan memperhatikan keberlanjutan lingkungan. Kawasan Stadion Manahan beberapa tahun ini berkembang pesat. Adanya renovasi, perbaikan, serta peremajaan fasilitas membuat kawasan Stadion Manahan semakin ramai dikunjungi wisatawan yang menyebabkan perkembangan amenitas di sekitar kawasan juga semakin pesat (Nusantara & Nurhasan, 2021. Permana et al. , 2019. Prasongko & Sari. Sari, 2. Meskipun demikian, belum dapat diketahui bagaimana penerapan prinsip berkelanjutan pada amenitasamenitas di sekitar kawasan Stadion Manahan. Dalam mendukung kawasan Stadion Manahan sebagai kawasan pariwisata yang berkelanjutan, maka pembangunan amenitas yang ada di sekitar kawasan juga harus memperhatikan prinsip berkelanjutan (Putri et al. , 2. Amenitas mempengaruhi kepuasan wisatawan. Semakin baik amenitas suatu kawasan wisata, semakin tinggi kepuasan wisatawan yang berkunjung, sehingga mempengaruhi keberlanjutan kawasan wisata (Muslim, 2022. Nabila & Widiyastuti, 2. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kesesuaian pembangunan amenitas pada kawasan terhadap prinsip pariwisata berkelanjutan khususnya pada aspek keberlanjutan lingkungan. KAJIAN TEORI 1 PARIWISATA Pariwisata adalah berbagai rangkaian aktivitas berupa perjalanan yang dilakukan oleh perseorangan, kelompok, maupun keluarga ke sebuah tempat dalam jangka waktu sementara dengan tujuan tertentu. Menurut Meyer . pariwisata merupakan suatu aktivitas perjalanan yang dilakukan oleh seseorang dalam waktu tertentu dari tempat tinggal semula ke daerah tujuan dengan alasan bukan untuk menetap atau mencari nafkah tetapi untuk memenuhi rasa ingin tahu, menghabiskan waktu senggang atau berlibur, serta tujuan lainnya. Menurut Cooper . sebuah destinasi wisata harus memiliki empat komponen pariwisata, yaitu: . pertunjukan alam, budaya, dan seni yang menjadi ciri khas destinasi wisata . akomodasi, rumah makan, agen perjalanan, dan sarana lainnya . sistem transportasi dan tersedianya pelayanan penyewaan kendaraan . organisasi kepariwisataan . ncillary servic. Berdasarkan Direktorat Jenderal Pariwisata Republik Indonesia, pariwisata dikaitkan dengan empat faktor utama, yaitu: . aya tari. yang terbagi menjadi dua jenis, yakni site attractions berupa lokasi bersejarah, tempat dengan iklim yang baik, serta panorama yang indah, dan event attractions berupa peristiwa atau kegiatan tertentu, seperti kongres dan pameran. , yaitu ketersediaan sarana pendukung berupa penginapan, restoran, transportasi lokal, serta alat komunikasi yang memudahkan wisatawan dalam melakukan perjalanan. aksesibilitas, yaitu tingkat keterjangkauan suatu lokasi yang ditunjukkan melalui jarak tempuh yang relatif dekat, tersedianya sarana transportasi, serta kondisi yang murah, aman, dan nyaman. tourist organization, yaitu faktor yang berperan dalam penyusunan kerangka pengembangan destinasi pariwisata, pengaturan industri pariwisata, serta pelaksanaan promosi daerah agar destinasi dikenal secara luas. Menurut Inskeep . , terdapat sejumlah komponen wisata yang selalu ada dan menjadi dasar pembentukan suatu destinasi wisata, yaitu atraksi dan kegiatan wisata, akomodasi, fasilitas dan pelayanan wisata lainnya, aksesibilitas, infrastruktur, serta elemen kelembagaan. Atraksi dan kegiatan wisata mencakup berbagai aktivitas yang berkaitan dengan lingkungan alami, kebudayaan, serta keunikan yang dimiliki destinasi, termasuk kegiatan penunjang yang berhubungan dengan atraksi utama. Akomodasi berupa berbagai jenis hotel dan fasilitas lain yang menyediakan pelayanan bagi Desa-Kota: Jurnal Perencanaan Wilayah. Kota, dan Permukiman. Volume 8. Issue 1, 2026, 41-50 wisatawan untuk bermalam selama perjalanan. Fasilitas dan pelayanan wisata lainnya meliputi sarana prasarana pendukung seperti restoran dan tempat makan, toko cenderamata, bank, tempat penukaran uang, serta kantor informasi Aksesibilitas mencakup sistem transportasi menuju dan dari kawasan wisata, transportasi internal yang menghubungkan atraksi utama dengan kawasan sekitarnya, serta fasilitas dan pelayanan transportasi darat, air, dan Infrastruktur meliputi penyediaan air bersih, jaringan listrik, sistem drainase dan saluran air limbah, serta Adapun elemen kelembagaan merupakan lembaga yang dibutuhkan dalam pembangunan dan pengelolaan pariwisata. 2 PARIWISATA BERKELANJUTAN Berdasarkan definisi dari World Tourism Organization (UNWTO), sustainable toruism atau pariwisata berkelanjutan adalah perjalanan yang memperhitungkan dampak ekonomi, sosial, dan lingkungan saat ini dan masa depan, sekaligus memenuhi kebutuhan pengunjung, industri, lingkungan hidup, dan komunitas lokal. Menurut Kurniawati . dalam modul pariwisata berkelanjutan, pembangunan pariwisata yang berkelanjutan dapat dikenali melalui sejumlah prinsip utama, yaitu: . partisipasi masyarakat, yang menekankan keterlibatan masyarakat lokal dalam proses perencanaan, mulai dari penentuan visi, tujuan, hingga strategi pembangunan, serta dalam tahap implementasi. keikutsertaan para pelaku atau stakeholder involvement, yang mencakup keterlibatan lembaga swadaya masyarakat, kelompok sukarelawan, pemerintah daerah, asosiasi wisata, asosiasi bisnis, dan pihak lain yang berkepentingan serta terdampak oleh kegiatan . kepemilikan lokal, yang menekankan pentingnya penciptaan lapangan kerja bagi masyarakat serta keterlibatan masyarakat dalam pengembangan dan pemeliharaan fasilitas pariwisata, seperti hotel dan restoran. penggunaan sumber daya yang berkelanjutan, yang mengutamakan pemanfaatan sumber daya yang dapat diperbarui serta menghindari eksploitasi berlebihan terhadap sumber daya yang tidak dapat diperbarui. pewadahan tujuan-tujuan masyarakat, yaitu upaya mengakomodasi aspirasi masyarakat agar tercipta hubungan yang harmonis antara tempat, pengunjung, dan masyarakat lokal. daya dukung, yang menekankan bahwa pembangunan pariwisata harus mempertimbangkan kapasitas fisik, lingkungan alami, sosial, dan budaya. pemantauan dan evaluasi, yang dilakukan melalui pengembangan pedoman, penilaian dampak, serta penyusunan indikator dan batas pengukuran dampak . akuntabilitas, yang menekankan bahwa perencanaan pariwisata harus berorientasi pada peningkatan kesehatan masyarakat, kesempatan kerja, dan pendapatan, serta memastikan pengelolaan sumber daya alam seperti tanah, air, dan udara dilakukan secara bertanggung jawab. pelatihan, yang menekankan penyelenggaraan program pendidikan dan pelatihan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan masyarakat. promosi, yang diarahkan pada penggunaan lahan dan kegiatan yang memperkuat karakter lanskap, rasa memiliki, serta identitas masyarakat lokal guna menciptakan pengalaman wisata yang berkualitas dan memuaskan wisatawan. Menurut Perserikatan Bangsa-Bangsa, prinsip-prinsip pariwisata berkelanjutan meliputi: . partisipasi, yaitu keterlibatan masyarakat atau komunitas lokal dalam pengembangan pariwisata, baik pada tahap perencanaan yang mencakup penetapan visi, tujuan, dan strategi, maupun pada tahap pelaksanaan seperti pengelolaan infrastruktur . penciptaan keseimbangan antara kebutuhan masyarakat dan kebutuhan wisatawan, dengan tujuan utama meningkatkan kualitas destinasi wisata guna mendorong pembangunan ekonomi masyarakat. pelibatan para pemangku kepentingan, karena semakin banyak pihak yang terlibat maka semakin beragam dan optimal kontribusi yang diperoleh, termasuk organisasi kemasyarakatan lokal (LSM), kelompok miskin, perempuan, asosiasi pariwisata, serta kelompok lain yang dapat memengaruhi pembangunan. pemberian kemudahan kepada pengusaha kecil dan menengah lokal, dengan memprioritaskan penduduk lokal dalam program pendidikan pariwisata serta memastikan sektor pariwisata mampu menyerap tenaga kerja lokal. keterkaitan pariwisata dengan sektor lain, baik yang baru maupun yang sedang berkembang, sehingga dapat mendorong tumbuhnya berbagai jenis usaha. kerja sama antara masyarakat lokal sebagai penyedia atraksi wisata dan penyedia paket wisata dengan hasil yang saling menguntungkan. keberlanjutan sumber daya, yaitu pengembangan pariwisata harus memberikan manfaat saat ini tanpa merugikan generasi mendatang serta mengurangi penggunaan sumber daya yang tidak terbarukan. perhatian terhadap daya dukung . arrying capacit. , yang mencakup batas fisik, lingkungan alami, sosial, dan budaya. monitoring dan evaluasi melalui pedoman yang jelas dengan menggunakan indikator dan ambang batas sebagai tolok ukur dampak dan keberhasilan usaha pariwisata lokal. akuntabilitas, yaitu pengelolaan dan penggunaan barang publik seperti air, udara, dan lahan umum harus dapat dipertanggungjawabkan agar tidak disalahgunakan. pelatihan, berupa pengembangan program pendidikan dan pelatihan untuk meningkatkan pemahaman masyarakat serta keterampilan bisnis, kejuruan, dan profesionalitas, terutama bagi kaum miskin dan perempuan. perwujudan kualitas hidup masyarakat lokal, kualitas peluang bagi penyedia layanan pariwisata, dan kualitas pengalaman wisata bagi wisatawan. Desa-Kota: Jurnal Perencanaan Wilayah. Kota, dan Permukiman. Volume 8. Issue 1, 2026, 41-50 METODE PENELITIAN 1 PENDEKATAN DAN JENIS PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan memanfaatkan teori yang telah ada sebelumnya yang meliputi komponen wisata dan aspek pariwisata berkelanjutan, khususnya terkait amenitas sebagai dasar untuk merumuskan variabel sekaligus sebagai batasan penelitian. Penelitian yang menggunakan pendekatan kuantitatif harus menentukan unsur-unsur terkait dengan tujuan pendekatan, subyek, sampel, dan sumber data dengan jelas dan rinci sebelum melakukan penelitian. Hasil dari analisis data secara kuantitatif kemudian akan dijabarkan dengan lebih detail melalui deskripsi. Deskripsi dilakukan dengan tujuan memberikan justifikasi mendalam terkait kondisi variabel di lapangan. Pada penelitian kuantitatif menghasilkan data yang terukur, seperti pada penelitian ini dimana kesesuaian Kawasan Stadion Manahan terhadap pariwisata berkelanjutan dapat diukur melalui parameter dari setiap variabel yang telah Jika dilihat dari tujuannya, penelitian ini termasuk dalam penelitian eksploratif karena penelitian ini bertujuan mengetahui kesesuaian kawasan Stadion Manahan terhadap pariwisata berkelanjutan. Dalam penelitian ini, dilakukan tahapan mulai dari identifikasi kriteria kawasan wisata yang berkelanjutan, kemudian dianalisis kondisi dari kesesuaian kawasan Stadion Manahan terhadap pariwisata berkelanjutan berdasarkan kriteria tersebut. 2 VARIABEL PENELITIAN Variabel yang digunakan dalam penelitian ini diperoleh dari sintesis teori yang telah dikumpulkan sehingga diperoleh variabel dan indikator yang berfungsi untuk memperjelas detail dari arah penelitian. Tabel variabel dan sub variabel yang digunakan dapat dilihat pada Tabel 1. Tabel 1. Variabel Penelitian Variabel Indikator Tersedia penginapan dengan jangkauan <1 km dari kawasan Penginapan Penginapan memperhatikan daya dukung lingkungan Tempat Makan Tersedia tempat makan dengan jangkauan <1 km dari Tempat makan memperhatikan daya dukung lingkungan Toko Cenderamata Tersedia toko cenderamata dengan jangkauan <1 km dari Toko cenderamata memperhatikan daya dukung lingkungan Tinggi . Terdapat fasilitas penginapan dengan jarak <1 km dari kawasan dan memiliki nilai koefisien dasar bangunan <80% Terdapat penginapan dan memiliki nilai koefisien dasar bangunan <80% Terdapat tempat makan dengan jarak <1 km dari kawasan dan memiliki nilai koefisien dasar bangunan <80% Terdapat tempat makan dan memiliki nilai koefisien dasar bangunan <80% Terdapat toko cenderamata dengan jarak <1 km dari kawasan dan memiliki nilai koefisien dasar bangunan <80% Terdapat toko cenderamata dan memiliki nilai koefisien dasar bangunan <80% Parameter Sedang . Terdapat fasilitas penginapan namun jaraknya >1 km dari kawasan atau memiliki nilai koefisien dasar bangunan >80% Terdapat penginapan namun memiliki nilai koefisien dasar bangunan >80% Terdapat tempat makan namun jaraknya >1 km dari kawasan atau memiliki nilai koefisien dasar bangunan >80% Terdapat tempat makan namun memiliki nilai koefisien dasar bangunan >80% Terdapat toko cenderamata namun jaraknya >1 km dari kawasan atau memiliki nilai koefisien dasar bangunan >80% Terdapat toko cenderamata namun memiliki nilai koefisien dasar bangunan >80% Rendah . Tidak terdapat penginapan di sekitar Tidak terdapat penginapan di sekitar Tidak terdapat tempat makan di sekitar Tidak terdapat tempat makan di sekitar Tidak terdapat toko cenderamata di sekitar Tidak terdapat toko cenderamata di sekitar Desa-Kota: Jurnal Perencanaan Wilayah. Kota, dan Permukiman. Volume 8. Issue 1, 2026, 41-50 3 TEKNIK PENGUMPULAN DATA Teknik pengumpulan data merupakan sebuah cara untuk memperoleh data yang akan digunakan dalam penelitian. Terdapat dua jenis teknik pengumpulan data, yaitu teknik pengumpulan data primer dan data sekunder. Pada teknik pengumpulan data primer, peneliti melakukan observasi. Metode ini merupakan metode yang digunakan jika seorang peneliti memerlukan informasi sesuai kondisi eksisting di lapangan. Hal yang akan diteliti pada observasi lapangan meliputi kondisi kawasan, kondisi fasilitas pendukung, dan kegiatan yang ada di kawasan sedangkan untuk pengumpulan data sekunder menggunakan metode pengumpulan data dari dinas atau lembaga terkait. 4 TEKNIK ANALISIS Dalam penelitian ini, analisis skoring digunakan untuk menganalisis data. Dengan memberikan skor untuk setiap parameter variabel penelitian, analisis ini bertujuan untuk mengetahui kesesuaian variabel. Masing-masing indikator menerima skor berdasarkan parameternya, nilai 1 untuk tingkat kesesuaian rendah, nilai 2 untuk kesesuaian sedang, dan nilai 3 untuk kesesuaian tinggi. Berdasarkan hasil tersebut, akan diketahui total nilai maksimum yang didapat dalam analisis kesesuaian amenitas di sekitar Kawasan Stadion Manahan terhadap prinsip pariwisata berkelanjutan berdasarkan aspek daya dukung lingkungan. Total nilai tersebut merupakan hasil perhitungan dari kesesuaian masing-masing indikator berdasarkan variabel penelitian. Kemudian, pengklasifikasian kesesuaian terhadap pariwisata berkelanjutan ditentukan berdasarkan perhitungan interval seperti Persamaan 1. ycAycnycoycaycn ycAycaycoycycnycoycycoOeycAycnycoycaycn ycAycnycuycnycoycyco yaycycoycoycaEa yayceycoycayc 18Oe6 = 4 . Berdasarkan perhitungan interval tersebut, dilakukan pembulatan nilai interval menjadi 17 sehingga dapat ditentukan klasifikasi kesesuaian Kawasan Stadion Manahan terhadap pariwisata berkelanjutan seperti pada Tabel 2. Tabel 2. Tingkatan Klasifikasi Skor Kesesuaian Tingkatan Klasifikasi Skor Sangat Sesuai Kurang Sesuai Tidak Sesuai HASIL DAN PEMBAHASAN Amenitas merupakan komponen penting yang harus ada guna menunjang suatu kawasan pariwisata. Penelitian ini berfokus pada variabel yang berkaitan dengan penginapan, toko cenderamata, dan tempat makan dalam penerapan prinsip pariwisata berkelanjutan berdasarkan aspek daya dukung lingkungan. Berikut merupakan penjabaran dari hasil identifikasi ketersediaan amenitas di sekitar Kawasan Stadion Manahan. 1 PENGINAPAN Penginapan merupakan tempat yang disediakan untuk sementara bagi orang yang sedang bepergian atau berlibur. Penginapan dapat berupa fasilitas seperti hotel, guesthouse, rumah sewa, dan sebagainya. Kawasan pariwisata sangat membutuhkan penginapan yang memadai untuk menunjang aktivitas wisatawan. Berdasarkan hasil penelitian, di sekitar kawasan Stadion Manahan telah terdapat berbagai penginapan dengan jarak kurang dari 1 kilometer. Hal ini menunjukkan ketersediaan penginapan yang dapat mengakomodasi kebutuhan wisatawan. Oleh karena itu, indikator ini memiliki tingkat kesesuaian tinggi. Persebaran penginapan yang ada di sekitar kawasan Stadion Manahan dapat dilihat pada Gambar 1. Terkait penerapan prinsip pariwisata berkelanjutan pada aspek lingkungan, dilakukan perhitungan Koefisien Dasar Bangunan (KDB) untuk mengetahui daya dukung lingkungan oleh bangunan penginapan di sekitar kawasan Stadion Manahan. Berdasarkan standar peraturan pada Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Surakarta tahun 2012-2031, nilai yang harus dicapai suatu bangunan untuk mencapai daya dukung lingkungan yang baik adalah di bawah 80%. Nilai KDB di bawah 80% memiliki fungsi dalam memastikan ketersediaan ruang terbuka pada suatu bangunan, adanya sistem drainase yang baik, sirkulasi udara dan cahaya yang memadai, serta peningkatan kualitas hidup. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bangunan penginapan yang ada pada kawasan memiliki nilai KDB di bawah 80%. Hal tersebut menunjukkan bahwa bangunan penginapan pada sekitar kawasan Stadion Manahan memiliki daya dukung lingkungan yang baik dan telah mendukung penerapan prinsip pariwisata berkelanjutan. Oleh karena itu, indikator tersebut memiliki tingkat kesesuaian Gambar 2 merupakan peta hasil perhitungan KDB penginapan di sekitar kawasan Stadion Manahan. Desa-Kota: Jurnal Perencanaan Wilayah. Kota, dan Permukiman. Volume 8. Issue 1, 2026, 41-50 Gambar 1. Peta Persebaran Penginapan di Sekitar Kawasan Stadion Manahan Gambar 2. Peta Koefisien Dasar Bangunan Penginapan di Sekitar Kawasan Stadion Manahan 2 RESTORAN Dalam mendukung kawasan pariwisata, ketersediaan restoran atau tempat makan bagi wisatawan menjadi hal yang harus dapat diakomodasi oleh kawasan. Kawasan Stadion Manahan sudah terdapat shelter makanan yang tertata rapi di bagian barat stadion (Gambar . yang terdiri dari berbagai makanan khas Kota Surakarta maupun makanan umum yang bekerja sama dengan masyarakat lokal serta UMKM (Permana et al. , 2019. Rahayu et al. , 2. Keberadaan shelter ini merupakan amenitas yang memiliki daya tarik kuat untuk menarik wisatawan maupun warga untuk mengunjungi kawasan Stadion Manahan (Widiyanti & Octavia, 2024. Wiyatrini et al. , 2. Selain itu, di sekitar kawasan juga terdapat berbagai restoran yang mengakomodasi kebutuhan wisatawan dalam hal kuliner. Persebaran restoran serta tempat makan dapat dilihat pada Gambar 4. Lokasi restoran yang berada pada sekitar kawasan Stadion Manahan dengan jarak kurang dari 1 kilometer menunjukkan bahwa indikator tersebut memiliki tingkat kesesuaian tinggi. Dalam mendukung penerapan prinsip pariwisata berkelanjutan pada aspek lingkungan di kawasan Stadion Manahan, dilakukan perhitungan KDB untuk mengetahui daya dukung lingkungan oleh bangunan restoran atau tempat makan di sekitar kawasan Stadion Manahan. Adapun nilai KDB tersebut di bawah 80%. Hal ini menunjukkan bahwa bangunan tempat makan pada sekitar kawasan Stadion Manahan memiliki daya dukung lingkungan yang baik dan telah mendukung penerapan prinsip pariwisata berkelanjutan. Oleh karena itu, indikator tersebut memiliki tingkat kesesuaian tinggi. Peta hasil perhitungan KDB penginapan di sekitar kawasan Stadion Manahan dapat dilihat pada Gambar 5. Desa-Kota: Jurnal Perencanaan Wilayah. Kota, dan Permukiman. Volume 8. Issue 1, 2026, 41-50 Gambar 3. Shelter Makanan di Kawasan Stadion Manahan Gambar 4. Peta Persebaran Restoran di Sekitar Kawasan Stadion Manahan Gambar 5. Peta Koefisien Dasar Bangunan Restoran di Sekitar Kawasan Stadion Manahan 3 TOKO CENDERAMATA Toko cenderamata merupakan tempat yang menyediakan berbagai macam barang khas dan unik yang identik dengan sebagai suatu kenang-kenangan atau hadiah. Dalam konteks pariwisata, toko cenderamata menjadi hal yang wajib tersedia sebagai fasilitas pelengkap untuk memenuhi kebutuhan wisatawan. Kawasan Stadion Manahan sebagai kawasan pariwisata olahraga memiliki toko cenderamata. Sebagai homebase dari klub sepakbola Persis Solo, di kawasan Stadion Manahan terdapat Persis Store yang menjual merchandise resmi dari klub Persis Solo bertemakan olahraga khususnya sepakbola seperti baju, celana, jaket, kaos, dan lain-lain, sekaligus menawarkan berbagai cenderamata khas Kota Desa-Kota: Jurnal Perencanaan Wilayah. Kota, dan Permukiman. Volume 8. Issue 1, 2026, 41-50 Surakarta. Gambar 6 menunjukkan interior toko cenderamata Persis Store. wisatawan dapat terfasilitasi untuk berbelanja ataupun melihat koleksi toko cenderamata yang berkaitan dengan Stadion Manahan. Gambar 6. Toko Cenderamata Persis Store di Sekitar Kawasan Stadion Manahan Berdasarkan data hasil survey kawasan, toko cenderamata berjarak kurang dari 1 kilometer dari Stadion Manahan. Hal ini menunjukkan lokasi toko cenderamata dapat dijangkau oleh wisatawan dengan mudah dari Stadion Manahan. Oleh karena itu, pada indikator ketersediaan toko cenderamata pada kawasan dengan jarak kurang dari 1 kilometer memiliki tingkat kesesuaian tinggi. Peta Persebaran Toko Cenderamata di Sekitar Kawasan Stadion Manahan dapat dilihat pada Gambar 6. Gambar 6. Peta Persebaran Toko Cenderamata di Sekitar Kawasan Stadion Manahan Selain itu, dalam mendukung penerapan prinsip pariwisata berkelanjutan pada aspek lingkungan di kawasan Stadion Manahan, dilakukan perhitungan KDB untuk mengetahui daya dukung lingkungan oleh bangunan toko cenderamata di sekitar kawasan Stadion Manahan. Berdasarkan hasil penelitian, diketahui bahwa bangunan toko cenderamata yang ada pada kawasan memiliki nilai KDB di bawah 80%. Hal tersebut menunjukkan bahwa bangunan toko cenderamata pada sekitar kawasan Stadion Manahan memiliki daya dukung lingkungan yang baik dan telah mendukung penerapan prinsip pariwisata berkelanjutan. Oleh karena itu, pada indikator tersebut memiliki tingkat kesesuaian tinggi. Gambar 8 merupakan peta hasil perhitungan KDB penginapan di sekitar kawasan Stadion Manahan. Desa-Kota: Jurnal Perencanaan Wilayah. Kota, dan Permukiman. Volume 8. Issue 1, 2026, 41-50 Gambar 8. Peta Koefisien Dasar Bangunan Toko Cenderamata di Sekitar Kawasan Stadion Manahan Berdasarkan tabel hasil rekap skoring di atas, nilai akhir kesesuaian amenitas di sekitar kawasan Stadion Manahan terhadap prinsip pariwisata berkelanjutan pada aspek daya dukung lingkungan adalah 18. Nilai tersebut berdasarkan interval skoring, berada pada interval tertinggi yang menunjukkan kesesuaian Ausangat tinggiAy. Variabel Penginapan Tempat Makan Toko Cenderamata Tabel 3. Hasil Skoring Indikator Tersedia penginapan dengan jangkauan <1km dari kawasan Penginapan memperhatikan daya dukung lingkungan Tersedia tempat makan dengan jangkauan <1km dari kawasan Tempat makan memperhatikan daya dukung lingkungan Tersedia toko cenderamata dengan jangkauan <1km dari kawasan Toko cenderamata memperhatikan daya dukung lingkungan Total skor Hasil Skoring Tinggi . Terdapat fasilitas penginapan dengan jarak <1km dari kawasan Penginapan memiliki nilai KDB <80% Terdapat tempat makan dengan jarak <1km dari kawasan Tempat makan memiliki KDB <80% Terdapat toko cenderamata dengan jarak <1km dari kawasan Toko cenderamata memiliki nilai KDB <80% KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian mengenai tingkat kesesuaian amenitas di sekitar kawasan Stadion Manahan terhadap prinsip pariwisata berkelanjutan pada aspek daya dukung lingkungan, diperoleh hasil yang Ausangat sesuaiAy. Hal ini menunjukkan bahwa amenitas di sekitar kawasan Stadion Manahan telah mendukung penerapan prinsip pariwisata Dalam rangka meninjau kesesuaian tersebut, dilakukan penelitian terhadap ketersediaan penginapan, tempat makan, dan toko cenderamata dengan jangkauan kurang dari 1km dari kawasan Stadion Manahan. Dari penelitian ini, didapatkan hasil yang menunjukkan bahwa terdapat ketiga komponen tersebut dengan jarak yang sesuai dengan indikator tersebut. Selain itu, untuk mengetahui daya dukung lingkungan pada bangunan penginapan, toko cenderamata, dan tempat makan, dilakukan perhitungan Koefisien Dasar Bangunan (KDB). Berdasarkan standar peraturan Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Surakarta, nilai KDB harus berada di bawah 80% untuk memenuhi nilai daya dukung lingkungan yang baik. Berdasarkan hasil observasi dan perhitungan, ketiga komponen tersebut memiliki nilai KDB seluruhnya di bawah 80% yang menunjukkan bahwa amenitas pada kawasan tersebut memiliki daya dukung lingkungan yang baik. Berdasarkan hasil identifikasi kesesuaian amenitas di sekitar kawasan Stadion Manahan terhadap prinsip pariwisata berkelanjutan pada aspek daya dukung lingkungan, didapatkan hasil skoring 18 yang menunjukkan nilai tersebut berada Desa-Kota: Jurnal Perencanaan Wilayah. Kota, dan Permukiman. Volume 8. Issue 1, 2026, 41-50 pada interval sangat sesuai. Tingkat kesesuaian tersebut menunjukkan bahwa amenitas di sekitar Manahan telah sesuai dengan penerapan prinsip pariwisata berkelanjutan pada aspek daya dukung lingkungan. DAFTAR PUSTAKA