Iskandar et al/Barakuda 45 4 (1), 31-51 e-ISSN : 2656-7474 DOI:https://doi.org/10.47685/barakuda45.v4i1.207 2022 MANAJEMEN PEMBENIHAN IKAN KERAPU BEBEK (Chromileptes altivelis) UNTUK MENGHASILKAN BENIH YANG OPTIMAL Andri Iskandar1*), M. Arif Mulya1), Ahmad Tsaqifur Rifqi1), Dwi Handoko Putro2), Arif Rahman Rifaie2) 1 Program Studi Teknologi Produksi dan Manajemen Perikanan Budidaya, Sekolah Vokasi, Institut Pertanian Bogor Jl. Kumbang No.14, Kota Bogor, Jawa Barat 16128, Indonesia 2 Balai Besar Perikanan Budidaya Laut (BBPBL) Lampung Jl. Jalan Yos Sudarso, Desa Hanura, Kecamatan Teluk Padan, Kabupaten Pesawaran, Lampung *) Korespondensi: andriiskandar@apps.ipb.ac.id Diterima: 7 Februari 2022; Disetujui: 18 April 2022 ABSTRAK Ikan kerapu bebek Chromileptes altivelis merupakan ikan air laut yang hidup di perairan tropis khususnya Indonesia. Ikan ini memiliki nilai ekonomis tinggi dan merupakan jenis ikan kerapu termahal di Indonesia. Benih ikan kerapu bebek dapat digunakan sebagai ikan hias maupun dibesarkan untuk menjadi ikan konsumsi. Kegiatan pembenihan dimulai dari pemeliharaan induk untuk menghasilkan induk yang produktif, seleksi induk yang tepat, pemberian multivitamin dan pengelolaan lingkungan yang baik. Ikan kerapu bebek dipijahkan secara massal dengan rasio perbandingan jantan dan betina 1:2. Fekunditas 1 ekor induk ikan kerapu bebek betina >300.000 butir dengan masa rematurasi 20-30 hari. Pemijahan menggunakan teknik alami disertai rekayasa lingkungan, ikan memijah selama tujuh hari selama bulan gelap. Jumlah telur yang diperoleh sebanyak 560.000-2.000.000 butir, derajat pembuahan 30-60%, derajat penetasan 65-88%. Telur yang menetas menjadi larva, kemudian ditebar dengan kepadatan 15-25 ekor L-1. Larva selanjutnya dipindahkan ke wadah pemeliharaan benih pada ukuran 2-3 cm dengan lama pemeliharaan 40-45 hari. Pemberian pakan secara at satiation menggunakan pelet berukuran 1.1-2.0 mm dengan kandungan protein 52-54% dan lemak 912%. Benih dipanen pada umur 60 hari saat mencapai ukuran 5-6 cm didapat sintasan 3-5%. Kata Kunci: Kerapu bebek, pembenihan, rekayasa lingkungan, panen ABSTRACT Humpback grouper Chromileptes altivelis is a marine fish that lives in tropical waters, especially in Indonesia. This fish has a high economic value and is the most expensive type of grouper in Indonesia. It can be used as ornamental fish or raised for consumption. Hatchery activities were started from brood rearing to produce productive broodstock, proper broodstock selection, multivitamin administration, and good environmental management. Humpback grouper was spawned en masse with a male to female ratio of 1:2. Fecundity of 1 female humpback grouper >300 000 eggs with a rematuration period of 20-30 days. Spawning using natural techniques accompanied by environmental manipulation, fish spawn for seven days during the dark moon. The number of eggs obtained was 560 000-2 000 000 eggs, with fertilization rate was 30-60%, and the hatching rate was 65-88%. The eggs that hatch into larvae were stocked with a density of 15-25 L-1. The larvae were transferred to a 31 Iskandar et al/Barakuda 45 4 (1), 31-51 e-ISSN : 2656-7474 DOI:https://doi.org/10.47685/barakuda45.v4i1.207 2022 seed container at a size of 2-3 cm with a maintenance period of 40-45 days. Feeding at satiation using pellets measuring 1.1-2.0 mm with a protein content of 52-54% and 9-12% fat. Seeds were harvested at the age of 60 days when they reached a size of 5-6 cm, the survival rate was 3-5%. Keywords: Humpback grouper, hatcheries, environmental manipulation, harvest Indonesia mencapai 70 294 ton dan pada tahun 2019 mencapai 80 128 ton (DJPB 2018). Di Indonesia, meski teknologi budidayanya sudah dikuasai dan dapat diproduksi secara massal, namun saat ini hasil produksinya masih belum juga mampu untuk memenuhi permintaan pasar domestik maupun internasional. Pada tahun 2017-2018, nilai ekspor kerapu sempat turun karena terganjal oleh UU No.17/2008 tentang Pelayaran dan Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan No.32/2016 tentang kapal pengangkutan ikan hidup, namun kini pasar ekspor kerapu telah dibuka kembali dan permintaan pasar untuk ekspor ikan kerapu bebek hidup sangat tinggi, bahkan belum dapat terpenuhi oleh pembudidaya yang ada, sehingga peluang bisnisnya masih terbuka lebar. Dalam kegiatan pembenihannya, kendala-kendala yang sering ditemui adalah masih rendahnya kualitas benih dan kuantitas telur. Hal ini terjadi akibat ketersediaan induk jantan produktif sedikit, sehingga rasio ideal 1:1 atau 1:2 dalam pemijahan alaminya belum dapat terpenuhi (BSN 2011). Kerapu bebek merupakan jenis ikan yang cukup rentan terhadap perubahan kualitas lingkungan. Rendahnya kualitas air akibat degradasi lingkungan dapat mengakibatkan ketidakstabilan kualitas air dalam media pemeliharaan, sehingga dapat mempengaruhi ketahanan ikan terhadap penyakit terutama pada fase larva. Dalam kegiatan budidaya kerapu bebek perlu dilakukan pemberian vitamin, pakan dengan kualitas yang baik dan teratur untuk memenuhi kebutuhan nutrisi induk, vaksinasi secara periodik, agar induk dapat memijah dengan baik, agar PENDAHULUAN Ikan kerapu bebek Chromileptes altivelis adalah jenis ikan air asin dari keluarga Serranidae yang mempunyai daging yang sangat lembut, bergizi tinggi, mengandung asam lemak tidak jenuh EPA atau dan DHA yang tinggi (Mayunar 1996). Saat ini, ikan kerapu bebek telah dapat dibudidayakan, baik secara alami, semi alami atau buatan serta memiliki sintasan yang cukup tinggi > 90% pada fase benih, dan >85% pada fase pembesaran. Tingkat kanibalisme pada ikan kerapu bebek lebih rendah dibanding jenis kerapu lain, selain itu ikan ini memiliki ketahanan yang lebih baik terhadap serangan penyakit dibanding jenis kerapu lain, serta harga jual yang tinggi membuat ikan kerapu bebek sangat diminati oleh para pembudidaya ikan kerapu. Ikan kerapu bebek memiliki prospek peluang bisnis yang tinggi di pasar domestik maupun pasar Internasional, baik sebagai komoditas hias maupun konsumsi. Harga benih ikan kerapu bebek ukuran >56 cm dijual dengan harga Rp 10 000-25 000 ekor-1, sedangkan harga ikan kerapu bebek ukuran konsumsi mencapai Rp 300 000-420 000 kg-1 (PP No 75 Th 2015) dan hal ini merupakan harga yang paling tinggi dibandingkan jenis kerapu lain yang ada di Indonesia (Aslianti et al. 2003). Permintaan pasar terhadap benih ikan kerapu bebek selalu meningkat setiap tahunnya. Produksi budidaya ikan kerapu pada tahun 2008 sebesar 4 273 ton, tahun 2009 sebesar 7 873 ton, 2010 sebesar 7 659 ton, 2011 sebesar 8 112 ton, 2012 sebesar 11 950 ton, pada tahun 2013 naik cukup pesat menjadi 18 894 ton, tahun 2016 produksi kerapu Indonesia mencapai 15 645 ton, tahun 2017 produksi kerapu 32 Iskandar et al/Barakuda 45 4 (1), 31-51 e-ISSN : 2656-7474 DOI:https://doi.org/10.47685/barakuda45.v4i1.207 2022 kegiatan budidayanya dapat berjalan inlet dan outlet pada wadah pemeliharaan secara berkesinambungan. induk menggunakan pipa PVC dengan Studi ini dilakukan untuk diameter 4 inci. mendiseminasikan teknis budidaya ikan Persiapan wadah induk meliputi kerapu bebek yang dilakukan agar pengeringan, sanitasi, pengisian air dan informasi yang ada dapat dijadikan pemindahan induk ke dalam wadah yang sebagai bahan referensi para pelaku usaha telah dibersihkan. Pengeringan dilakukan budidaya ikan kerapu bebek dapat dengan cara membuka saluran outlet, mengelola usahanya secara ekonomis dan selanjutnya wadah dibersihkan dari lumut berkelanjutan. yang menempel menggunakan sikat. Setelah bersih, wadah dikeringkan dan dibilas menggunakan 1000 g kaporit METODE PENELITIAN Ca(ClO)2 yang telah dilarutkan di dalam Dalam studi ini, digunakan metode 20 L air. Kaporit memiliki senyawa aktif action research, yang bertujuan untuk chlor sekitar 60-70% lebih rendah dari mengembangkan metode kerja yang paling klorin dan bersifat stabil serta mudah larut efisien, sehingga biaya produksi dapat di dalam air. Chlor merupakan zat aktif ditekan dan produktifitas dapat meningkat sanitizer atau desinfektan pembunuh (Darna 2018). Pengumpulan data kuman, pembasmi alga dan ganggang, dilakukan melalui pengumpulan data selain itu chlor pada kaporit juga lebih primer dan data sekunder. Data primer mudah terurai di dalam air daripada chlor merupakan data yang didapat secara yang berasal dari klorin. Untuk langsung dari sumber asli, wawancara, menghilangkan efek dari kaporit, wadah observasi, partisipasi aktif maupun dibilas kembali menggunakan air tawar memakai instrumen pengukuran yang hingga bau kaporit hilang. Wadah khusus sesuai dengan tujuan (Dwiyana pemeliharaan selanjutnya diisi air laut 2019) sedangkan data sekunder diperoleh hingga 80-90% dari volume maksimal dari dokumen-dokumen yang telah diolah wadah. untuk menunjang kegiatan melalui pihakSampling Kematangan Gonad pihak lain yang ada hubungannya dengan Ikan yang sudah siap memijah dapat analisis. diidentifikasi dengan cara sampling kematangan gonad. Cara yang dapat HASIL DAN PEMBAHASAN dilakukan untuk mengetahui kematangan Pemeliharaan Induk Ikan Kerapu gonad yaitu dengan teknik kanulasi Bebek (Gambar 1), menggunakan selang mikro Persiapan Wadah Pemeliharaan Induk atau kateter yang berfungsi untuk Kegiatan pemeliharaan induk menghisap telur atau sperma. Kegiatan bertujuan untuk mendapatkan induk sampling kematangan gonad dilakukan matang gonad. Dalam kegiatan ini wadah sebelum induk dipindahkan dari wadah pemeliharaan berupa wadah beton yang pemeliharaan ke dalam wadah pemijahan. berbentuk tabung dan bagian dasar wadah mengerucut dengan kemiringan 5%. Diameter wadah 5 m dengan kedalaman 2.85 m dan volume air maksimal 56 000 L. Wadah pemeliharaan induk dilengkapi dengan saluran inlet dan outlet serta wadah untuk penampungan telur saat panen yang berbentuk persegi panjang berukuran 2 m x 1 m x 1 m dengan volume 2 000 L. Saluran Gambar 1 Kanulasi 33 Iskandar et al/Barakuda 45 4 (1), 31-51 e-ISSN : 2656-7474 DOI:https://doi.org/10.47685/barakuda45.v4i1.207 2022 Selain dengan melakukan teknik sedangkan jantan berbobot 3-5 kg. kanulasi, ciri induk kerapu bebek betina Sebelum ditebar, induk direndam di dalam matang gonad dapat diketahui secara air tawar selama ± 10 menit untuk visual. Bagian abdominal induk betina merontokkan parasit yang menempel pada terlihat buncit (berisi telur) dari bagian tubuh ikan. Penebaran induk dilakukan perut sampai pangkal lubang genitalnya, pada pagi hari pukul 09.00. Proses ini warna tubuhnya cerah dan pergerakannya dilakukan dengan perlahan dan hati-hati, lambat, sedangkan ciri induk jantan kerapu dikarenakan sifat dari ikan kerapu bebek bebek matang gonad yaitu bagian perut yang mudah stres. terlihat langsing, berwarna cerah dan Pemberian Pakan Untuk Induk bersifat agresif. Nafsu makan pada induk Pakan merupakan bahan yang yang akan memijah juga terlihat cenderung mengandung nutrisi yang berasal dari berkurang. bahan makanan tunggal atau campuran, Teknik kanulasi dilakukan dengan baik yang diolah maupun tidak yang cara memasukkan ujung selang kanulasi diberikan pada ikan untuk kelangsungan melalui lubang genital ikan, kemudian hidup, tumbuh, pemulihan kondisi, dan bagian ujung selang yang lainnya dihisap berkembang biak. Di habitat aslinya, pakan dengan mulut secara perlahan. Apabila ikan kerapu bebek sangat beragam, kondisi telur berwarna kuning, diameter sehingga jenis dan mutu pakan induk lebih dari 450 µ, berbentuk bulat dan telur sangat berpengaruh terhadap produksi tidak bergerombol, menandakan bahwa telur, derajat pembuahan, pembuahan, dan telur telah mencapai tingkat kematangan frekuensi ikan memijah (Helmi 2012). gonad III dan IV, maka induk betina Dalam kegiatan ini, jenis pakan yang tersebut siap untuk dipijahkan. Tingkat diberikan adalah cumi-cumi Loligo kematangan gonad pada induk jantan vulgaris. Cumi-cumi mengandung asam ditandai oleh kekentalan dan warna sperma lemak tidak jenuh yang tergolong dalam hasil pengalinan, apabila sperma yang omega 3 yang disebut C 20:5, keluar berwarna putih susu dan kental ecosapentaenoic acid (EPA) dan asam maka induk jantan siap dipijahkan. lemak omega 3 lain yang disebut C Kriteria induk matang gonad disajikan 22:6,serta decosahexaenoic acid (DHA). pada Tabel 1. Berdasarkan hasil uji proksimat, dalam 100 Tabel 1. Ciri induk matang gonad Kriteria Panjang Berat Bila dialin atau kanulasi Jantan ≥ 50 cm ≥ 2.5 kg Bila dialin keluar sperma berwarna putih susu dan kental g cumi-cumi mengandung 75 kkal, protein 18.8%, lemak 1.7%, abu 1.7%, kandungan air 82.5% (Sudjoko 1988). Selain cumicumi, induk juga diberi pakan berupa ikan segar jenis kuniran Upeneus moluccenesis. Ikan kuniran memiliki kandungan karbohidrat 0.38% protein 18.71%, lemak 0.88%, abu 1.03% dan kadar air 79.37% (Berlyanto et al. 2015). Pakan diberikan setiap hari dengan perbandingan 20%:80% (Tabel 2), dan untuk menjaga kesegarannya, sebelum diberikan pakan induk disimpan di dalam lemari pendingin dengan suhu o penyimpanan 0-19 C. Pemberian pakan dilakukan secara manual dengan jumlah pakan disesuaikan dengan bobot induk. Pakan diberikan sebanyak 3-5% dari biomassa induk dengan frekuensi dua kali Betina 30-50 cm 1-2.5 kg Bila dikanulasi keluar telur berwarna kuning dan telur terpisah satu dan yang lain Sumber: SNI 1 6487 1 2011 Penebaran Induk Induk yang digunakan dalam studi ini adalah induk yang berasal dari hasil pemeliharaan di BBPBL Lampung dan induk hasil tangkapan dari perairan Ambon. Jumlah induk yang ditebar sebanyak 22 ekor dengan perbandingan rasio bobot induk 1:2. Ukuran bobot calon induk ikan betina berkisar antara 1.5-3 kg, 34 Iskandar et al/Barakuda 45 4 (1), 31-51 e-ISSN : 2656-7474 DOI:https://doi.org/10.47685/barakuda45.v4i1.207 2022 sehari pukul 08.30 dan 15.00 (Tabel 2). Tabel 3 Hasil pengukuran kualitas air wadah Perhitungan jumlah pakan yang diberikan pemeliharaan induk dalam satu hari menggunakan rumus (Amri Parameter SNI Hasil pengukuran 2013): Suhu (°C) 28-32 29 -1 Salinitas (g L ) 28-35 34 PH 7.8-8.3 07.8 dimana: -1 DO (mg L ) >5 5.28 FR : Feeding rate Sumber: SNI 16487 1 2011 Biomasa : Bobot total ikan (Bobot rata rata x Jumlah ikan hidup) Hasil pengukuran menunjukkan bahwa kualitas air wadah pemeliharaan induk masih sesuai dengan standar, sehingga air layak digunakan dalam pemeliharaan induk ikan kerapu bebek. Cumi-cumi diberikan dua kali dalam satu minggu, sedangkan ikan segar diberikan setiap hari. Sebelum diberikan ke induk, pakan direndam di dalam air tawar untuk mengurangi bakteri. Ikan yang akan digunakan sebagai pakan selanjutnya dibersihkan dan dipotong-potong sesuai dengan bukaan mulut induk, dan khusus untuk cumi-cumi bagian kantung tintanya dibersihkan. Tabel 2. Perhitungan kebutuhan pakan induk Jenis pakan Hari Senin Selasa Rabu Kamis Jumat Sabtu Minggu Mingguan Bulanan Ikan (%) (kg) Cumi-cumi Ikan Ikan Ikan Ikan Ikan Ikan Ikan 30 0.6 100 1.9 100 1.9 30 0.6 100 1.9 100 1.9 100 1.9 80 10.8 80 43.1 % (kg) Cumi-cumi 70 1.3 Cumi-cumi 0 0 Cumi-cumi 0 0 Cumi-cumi 70 1.3 Cumi-cumi 0 0 Cumi-cumi 0 0 Cumi-cumi 0 0 20 2.7 20 10.8 Fr (%) 3 3 3 3 3 3 3 Biomassa Pakan ikan (kg) (kg) 64.2 1.9 64.2 1.9 64.2 1.9 64.2 1.9 64.2 1.9 64.2 1.9 64.2 1.9 13.5 53.9 Pengelolaan Air Wadah Pemeliharaan Induk Pergantian air dilakukan setiap hari dengan cara mengisi air wadah pemeliharaan melalui saluran inlet. Air dialirkan secara terus menerus agar feses dan sisa pakan yang ada di dalam wadah terbuang melalui saluran outlet. Selain pergantian air, dilakukan pula pencucian wadah secara periodik 1-2 kali dalam 1 bulan, yang bertujuan untuk membersihkan sisa pakan dan kotoran serta mencegah timbulnya lumut pada dinding wadah. Hasil pengukuran kualitas air wadah pemeliharaan induk secara insitu disajikan pada Tabel 3. Pencegahan dan Penanganan Hama Penyakit pada Induk Penyakit yang muncul dalam pemeliharaan induk adalah dari jenis parasit. Menurut Selamet et al. (2008) parasit yang sering menyerang induk kerpu bebek yaitu Cryptocaryon irritans, cacing insang Haliotherma sp., dan Diplectanum sp., cacing kulit Neobenedenia, Benedenia sp., krustasea jenis Rhexanella sp., Caligus sp., Lepeophtheirus sp., dan lintah Zeylanicobdella arugamensis serta Argulus sp. Parasit-parasit ini menimbulkan berkurangnya nafsu makan, warna kulit menjadi pucat serta meningkatnya lendir yang diproduksi oleh ikan. Ikan yang terserang parasit biasanya menggesekkan tubuhnya ke dinding wadah dan berenang tidak tenang di permukaan air. Selama studi ini berlangsung ditemukan parasit berupa Zeylanicobdella arugamensis (Gambar 2). Gambar 2 Lintah Zeylanicobdella arugamensis Untuk mengendalikan serangan parasit dilakukan dengan 3 cara yaitu dengan merendam induk di air tawar 35 Iskandar et al/Barakuda 45 4 (1), 31-51 e-ISSN : 2656-7474 DOI:https://doi.org/10.47685/barakuda45.v4i1.207 2022 selama 15 menit, perendaman Pematangan Gonad menggunakan hidrogen peroksida dengan Untuk mendapatkan kualitas dan dosis 200 mL 1000 L-1 selama lima menit, kuantitas telur yang baik, maka perlu serta perendaman menggunakan antiseptik dilakukan perangsangan pematangan jenis akriflavin C14H14CIN3 dengan dosis 1 gonad. Kualitas telur dan sperma induk mg L-1 (Gambar 3). Akriflavin atau dapat ditingkatkan melalui pemberian acriflavinum klorida merupakan bahan nutrisi yang berkualitas pada pakan, salah bersifat antiseptik yang biasa digunakan satunya adalah kandungan protein yang dalam dunia perikanan dan mulai terdapat pada pakan ikan. Protein sangat dikembangkan pada 1912 oleh Paul dibutuhkan untuk pertumbuhan, kebutuhan Ehrlich seorang peneliti medis dari Jerman. energi, dan perkembangan oosit (Bromage Bahan ini mudah larut dalam air dan cukup 1995 dalam Alawi et al. 2015). efektif untuk mengatasi cendawan, bakteri Pemberian pakan berupa cumi-cumi dan mikroorganisme penyebab penyakit dan ikan segar jenis kuniran merupakan lainnya. Akriflavin memiliki bahan dasar salah satu upaya yang dilakukan guna tar dari batu bara, dengan bahan aktif mempercepat proses pematangan gonad, acridine, pada produk antiseptik komersial karena mengandung 18-19% protein. acridine sering dicampur proflavine. Selain itu, juga dilakukan pemberian Penggunaan akriflavin cukup multivitamin yang mengandung berbahaya apabila terkena mata ataupun Docosahexaenoic acid atau DHA pada terhirup, akriflavin juga dapat pakan dengan dosis 5 g kg-1 setiap dua mengakibatkan iritasi pada kulit yang minggu sekali. sensitif. Akriflavin bisa mengaktifkan Pemberian multivitamin DHA perlu respon dari sistem imun tubuh, ketika dilakukan selama pematangan gonad, sistem imun aktif maka tubuh akan lebih pembentukan akrosom sel sperma tahan terhadap infeksi. memerlukan asupan DHA yang cukup, akrosom adalah struktur runcing yang mengandung enzim yang akan membentuk membran membantu sperma dalam menembus dinding luar sel telur sehingga meningkatkan kemampuan sperma untuk membuahi sel telur, tanpa DHA pembentukan membran tidak akan terjadi, Gambar 3 Perendaman induk kekurangan asupan DHA pada pejantan menggunakan akriflavin akan mengakibatkan menurunnya kualitas Antiseptik jenis lain yang dapat sperma hingga kemandulan infertil digunakan yaitu pottasium permanganate (Nakamura 2012). Skaznik et al. (2016) KMnO4, kalsium klorida CaCl, kalsium menyebutkan bahwa pemberian DHA nitrat CaN dan bahan lain yang untuk ikan kerapu betina bertujuan untuk diperbolehkan sebagai obat ikan sesuai mengoptimalkan produktifitas sel telur dengan UU No. 52/KEPMEN-KP/2014 baik dari segi jumlah telur maupun kualitas tentang klasifikasi obat ikan. Selain telur. Lebih lanjut disebutkan bahwa pengobatan, pemberian multivitamin juga omega 3 penting untuk meningkatkan dapat dilakukan untuk meningkatkan daya kesuburan dan menurunkan peradangan, tahan tubuh induk dan mencegah meski bagaimana cara kerjanya masih timbulnya penyakit. Multivitamin belum diketahui secara pasti, kekurangan dicampurkan kedalam pakan sebanyak 5 g omega 3 akan mengakibatkan kg-1 setiap dua minggu sekali. berkurangnya produktifitas sel telur. Pemberian vitamin E sebanyak 100 iu ekor induk-1 yang dilakukan dengan cara 36 Iskandar et al/Barakuda 45 4 (1), 31-51 e-ISSN : 2656-7474 DOI:https://doi.org/10.47685/barakuda45.v4i1.207 2022 menyelipkan vitamin melalui pakan berupa sekresi hormon 17α hidroprogesterone ikan segar, maupun dengan dicampurkan yang berperan sebagai maturating inducing ke pakan buatan penting dilakukan, karena factor (MIF). MIF akan disalurkan ke vitamin E berperan dalam permukaan oosit ke pembuluh daran mempertahankan asam lemak dari oksidasi kemudian masuk ke sel telur sehingga akan asam lemak. Asam lemak yang mendorong pengeluaran maturating dipertahankan oleh vitamin E akan promoting factor (MPF), MPF akan digunakan sebagai bahan utama mendorong perpindahan kuning telur dari (vitelogenin) selama proses pembentukan tengan ke tepi dalam telur sehingga kuning telur (vitelogenesis), lemak adalah nantinya inti sel akan mengalami peleburan salah satu bahan utama dalam sesaat sebelum terjadinya ovulasi. pembentukan dinding sel dan sel telur Pemijahan Induk Ikan Kerapu Bebek (Kamler 1992). Persiapan Wadah Pemijahan Kuning telur atau endogenus feed Kegiatan persiapan wadah pemijahan yang akan menjadi cadangan makanan meliputi pengeringan, sanitasi, pengisian dalam tubuh larva penting dalam kegiatan air dan pemindahan induk ke wadah yang pembenihan karena pada awal larva telah dibersihkan. Wadah yang akan menetas larva tidak akan memakan apapun digunakan, dibilas menggunakan 1 000 g kecuali endogenus feed hingga cadangan kaporit yang telah dilarutkan di dalam 20 L pakan tersebut habis dan terdapat pakan air tawar. Untuk menghilangkan efek dari alami yang sesuai dengan bukaan kaporit, wadah dibilas kembali dengan air mulutnya. Vitamin E juga berperan tawar hingga bau kaporit hilang. Wadah sebagai enzim dalam mengubah asam pemijahan diisi air dan diaerasi untuk lemak menjadi kolesterol yang merupakan menetralkan air. Selain itu, disiapkan salah satu simulator pembentuk hormon wadah penampungan telur (egg colector) reproduksi yaitu estradiol 17 β untuk dengan kerapatan 100 μ. membantu proses pembentukan kuning Pemijahan telur. Beberapa faktor lain yang Ikan kerapu bebek digolongkan mempengaruhi fekunditas menurut sebagai ikan ovipar karena mengeluarkan Nikolsky dalam Effendie (1997), yaitu telurnya pada saat pemijahan. Pembuahan umur ikan, ukuran ikan, kondisi telur ikan kerapu bebek terjadi diluar tubuh lingkungan, dan proses metabolisme ikan, induknya atau external fertilization. penambahan vitamin E pada pakan Pemijahan ikan kerapu bebek berpotensi dapat meningkatkan fekunditas menggunakan teknik pemijahan secara induk,. Vitamin E akan memicu alami. Simulasi pemijahan menggunakan peningkatan vitogenin, yang akan sistem manipulasi lingkungan dengan cara meningkatkan volume kuning telur, mengatur volume air di dalam wadah. peningkatan diameter telur, keseragaman Penurunan volume air dilakukan pada telur dan kematangan gonad. Penyerapan waktu pagi hari pukul 08.00, kemudian kuning telur akan terhenti bila sudah pada pukul 11.00 volume air dinaikkan mencapai ukuran maksimal (Arfah et al. kembali, dan selama proses pemijahan 2013). Mustika (2005) menyebutkan dialirkan secara terus menerus hingga pagi. bahwa vitamin berperan penting sebagai Pemijahan dilakukan secara masal anti oksidan selama perkembangan gonad dengan perbandingan jumlah induk jantan serta mempercepat perkembangan hormon dan induk betina yaitu 1:2 yang terdiri dari reproduksi, dan mempercepat rematurasi 8 ekor jantan dan 14 betina. Pemijahan induk. berlangsung pada malam hari selama 7 hari Pada akhir proses vitelogenesis, sel di bulan gelap. Ikan yang memijah akan mengeluarkan luteineizing hormon dicirikan dengan berkurangnya nafsu (LH), kemudian LH akan merangsang 37 Iskandar et al/Barakuda 45 4 (1), 31-51 e-ISSN : 2656-7474 DOI:https://doi.org/10.47685/barakuda45.v4i1.207 2022 makan, dan ikan cenderung berada di menggunakan alat bantu berupa gelas permukaan air serta induk jantan akan kaca. Apabila terdapat telur maka terus mengikuti induk betina. Pemijahan dilanjutkan dengan proses pemanenan dengan teknik alami ini sangat mengurangi menggunakan alat berupa scoop net resiko terjadinya kematian pada induk, dengan diameter 30 cm dan kerapatan 100 lebih murah dan mudah dalam μ. Telur diserok dan ditampung di dalam penanganannya. Dalam studi ini, juga ember 20 L yang telah diisi air laut. dilakukan penyuntikan hormon Untuk mengetahui jumlah telur yang Gonadotropin Relasing Hormone Analog dihasilkan, dilakukan sampling yang (GnRHa) pada awal penebaran yang bertujuan untuk mengetahui seberapa bertujuan untuk meningkatkan produktif induk, kualitas telur yang produktivitas ikan selama dipijahkan dihasilkan dan sebagai acuan proses secara alami. Dosis hormon GnRH untuk berikutnya. Perhitungan dilakukan pada ikan jantan 0.1 mL kg-1, sedangkan ikan jumlah total telur secara keseluruhan serta betina 0.2 mL kg-1. jumlah telur yang terbuahi, Penghitungan Dalam aplikasi pemijahan ikan jumlah total telur secara keseluruhan dengan kerapu bebek, selain secara alami, menggunakan rumus (Suseno 1983). pemijahan buatan juga dapat dilakukan dengan cara menyuntikkan hormon HCG sebanyak 250 iu kg-1 yang bertujuan untuk Dimana: untuk meningkatkan diameter telur dan Vt : Volume total (mL) menyeragamkan ukuran telur. Vs : Volume sampel (mL) Penyuntikan hormon HCG dilakukan 12 Ns : Jumlah sampel (butir) jam sebelum induk betina disuntik Telur yang dihasilkan dalam satu siklus Gonadotropin Relasing Hormone Analog pemijahan dapat dilihat pada Tabel 4. (GnRHa). Dosis hormon GnRHa untuk -1 Tabel 4. Hasil pemanenan telur ikan jantan 0.2 mL kg , pada ikan betina 0.5 mL kg-1. Pemanfaatan GnRHa Jumlah Telur Larva Tanggal FR bertujuan untuk menggantikan GnRH Telur dibuahi menetas panen (%) (butir) (butir) (ekor) alami yang dihasilkan oleh hipotalamus 27/02/2021 583 860 75 200 13 (Mehdi et al. 2011), selain itu adanya 28/02/2021 406 400 62 400 15 antidopamin akan menghambat aktifitas 01/03/2021 501 550 184 000 37 dopamin sehingga meningkatkan kinerja 02/03/2021 721 000 188 000 44 825 26 hipotalamus dalam menghasilkan GnRH 03/03/2021 230 000 118 000 36 500 51 04/03/2021 1 660 000 310 000 200 000 19 alami (Hill et al. 2009) GnRH akan 07/03/2021 560 000 170 000 150 000 30 menuju kelenjar pituitari (hipofisa) yang 09/03/2021 582 000 356 000 61 kemudian melepas Gonadotropin hormon (GtH) untuk pematangan akhir, setelah Derajat pembuahan dihitung dengan telur matang yang dihasilkan hipofisa cara: adalah hormon GtH II, hormon ini akan a. Sampel telur diaerasi di dalam ember yang akan merangsang organ reproduksi penampungan dengan volume 40 L dan ikan untuk memproduksi steroid dan diambil sebanyak 3-5 kali pada titik prostaglandin yang akan menstimulasi, yang berbeda dalam kondisi telur ovulasi atau proses pengeluaran sel telur teraduk oleh aerasi. Alat yang pada ikan betina dan spermiasi atau proses digunakan untuk mengambil sampel pengeluaran sel sperma pada ikan jantan. telur adalah gelas ukur bervolume 15 mL. Jumlah sampel telur dihitung dan Pemanenan dan Penghitungan Jumlah dicatat jumlah total telur. Telur b. Aerasi diangkat, selanjutnya air di Kegiatan pemanenan telur kerapu dalam ember diputar menggunakan bebek meliputi pemeriksaan kondisi telur 38 HR (%) 24 31 65 88 - Iskandar et al/Barakuda 45 4 (1), 31-51 e-ISSN : 2656-7474 DOI:https://doi.org/10.47685/barakuda45.v4i1.207 2022 tangan agar telur yang tidak terbuahi desinfeksi wadah pengolahan air treatment mengendap di dasar wadah. serta pengisian air yang disaring c. Telur yang tidak terbuahi dan menggunakan filter bag, selanjutnya aerasi mengendap di dasar wadah disifon dipasang serta kedalam air diberikan dengan hati hati agar telur terbuahi desinfektan dengan merek dagang anocare tidak ikut terbuang. pur yang mengandung bahan aktif d. Aerasi dinyalakan, dan telur terbuahi potassium peroxymonosulfate, sulfamic yang telah dihitung dimasukkan ke acid, malic acid, sodium cloride, dan wadah penetasan telur. sodium polymetaphosphate dengan dosis Berdasarkan hasil pengamatan, telur 0.5-1 mg/L. yang telah dibuahi berbentuk bulat, Lama waktu proses treatment air transparan, mengapung di permukaan air dipengaruhi oleh suhu ruangan, terik sinar sedangkan yang tidak dibuahi berwarna matahari serta kualitas air sebelum putih dan tenggelam di dasar wadah dilakukan treatment, sedangkan lama (Gambar 4). waktu penetralan air umumnya adalah 2-4 hari. Air yang telah siap, selanjutnya dialirkan melalui proses penyaringan kedalam wadah penetasan menggunakan filter bag 40 µ dan pemasangan egg net 100 µ, dengan debit 6 L menit-1. a b Telur selanjutnya ditebar kedalam Gambar 4 Telur: (a) telur terbuahi (b) telur wadah penetasan dengan perlahan. Telur tidak terbuahi (pembesaran 60x) yang dibuahi akan berkembang menjadi Dari hasil studi yang dilakukan, embrio dan akhirnya menetas menjadi dalam ssatu kali pemanenan telur diperoleh larva 18-19 jam setelah pembuahan. rata-rata jumlah telur sebanyak 560 000-2 Proses pembelahan sel telur disajikan pada 000 000 dengan derajat pembuahan 15%Gambar 5. 60%, angka ini masih di bawah standar yang terdapat didalam SNI 1 6487 1 2011 yaitu 64.6%. Rendahnya derajat pembuahan tersebut diduga dipengaruhi oleh kualitas induk jantan, jumlah induk jantan produktif, dan kualitas telur yang belum optimal serta nutrisi induk yang belum terpenuhi, karena jumlah induk yang digunakan terlalu banyak, dan pasokan pakan yang tidak terpenuhi. Penetasan Telur dan Pemeliharaan larva Persiapan Wadah dan Penetasan Telur Wadah penetasan telur yang digunakan adalah bak fiber berukuran 1.5mx0.7mx0.5m. Sebelum digunakan, bak dibersihkan dengan 30 mg L-1 kaporit kemudian dibilas hingga bersih. Air yang akan digunakan di dalam wadah penetasan di-treatment untuk menghasilkan air yang netral, bebas virus, bakteri, jamur, alga dan inang pembawa penyakit lainnya. Treatment air diawali dengan persiapan, Gambar 5 Pembelahan sel telur (Tridjoko et al. 1996) Parameter kualitas air wadah penetasan diukur secara insitu dan disajikan pada Tabel 5. 39 Iskandar et al/Barakuda 45 4 (1), 31-51 e-ISSN : 2656-7474 DOI:https://doi.org/10.47685/barakuda45.v4i1.207 2022 Tabel 5. Hasil pengukuran parameter kualitas air wadah penetasan telur Parameter Suhu (°C) Salinitas (g L-1) pH DO (mg L-1) Sumber: SNI 16487 1 2011 SNI 1 6487 3 2000 28-32 28-35 7.8-8.3 >5 Hasil pengukuran 29.35 34 7.6 5.83 Kedalam wadah pemeliharaan larva kemudian diteteskan minyak cumi sebanyak 1 mL atau vitamin E 300 iu yang berfungsi sebagai tambahan nutrisi sekaligus untuk mengurangi tegangan pada permukaan air, mencegah larva mengambang di permukaan dan mengikat lapisan film serta kotoran di permukaan air. Pemberian minyak cumi dilakukan setiap pagi selama 7 hari pertama proses pemeliharaan. Tabel 5 menunjukan bahwa kualitas air pada kegiatan penetasan telur memiliki pH yang lebih rendah dari SNI 1 6487 3 2000, hal ini diduga terjadi karena banyaknya telur yang tidak menetas. Derajat penetasan telur yang diperoleh berkisar antara 65% sampai 88%. Telur ikan kerapu bebek akan menetas pada kisaran suhu 2732oC serta salinitas 30-34 ppt. Mayunar (1996) menyebutkan bahwa faktor yang berperan dalam proses penetasan telur adalah suhu, salinitas, gerakan air dan luas permukaan wadah. Derajat penetasan telur akan berkurang seiiring dengan menurunnya salinitas air wadah penetasan. Pemberian Pakan untuk Larva Larva ikan kerapu bebek bersifat karnivora. Di habitat aslinya, larva kerapu bebek biasa memakan pakan alami kelompok plankton, Copepoda, jenis Crustacea lain hingga jenis ikan-ikan kecil sehingga dengan ketersediaan pakan yang lebih beragam, akan menunjang pertumbuhan larva lebih optimal karena kebutuhan nutrisinya akan terpenuhi dibandingkan dengan hanya mengandalkan satu jenis pakan alami. Terdapat 4 fase kritis dalam proses perkembangan larva (Hidayatullah 2012), dan dalam fase ini seringkali terjadi kematian massal jika tidak ditangani dengan baik. Fase kritis pertama terjadi ketika larva berumur 3 hari, yaitu saat ikan berukuran 2.6 mm. Pada fase ini, cadangan makanan di dalam tubuh (endogenous feed) mulai habis sampai terbentuknya organ-organ baru atau selesainya taraf penyempurnaan organ organ yang telah ada (Effendie 1997). Untuk mengatasi hal ini, maka pemenuhan kebutuhan nutrisi penunjang pertumbuhan dari luar tubuh perlu diberikan, salah satunya adalah pemberian pakan alami sebagai exogenous feed. Jenis pakan alami yang dapat diberikan adalah Rotifera sp. atau Persiapan Wadah Pemeliharaan Larva Telur yang telah menetas menjadi larva selanjutnya dipelihara di dalam wadah berukuran 4mx2mx1m dengan tingkat kemiringan dasar 3-5%. Wadah berbentuk segiempat dan bagian sudutsudutnya dibuat melengkung agar tidak ada sudut mati. Untuk memenuhi kebutuhan oksigen, wadah dilengkapi aerasi sebanyak 18 titik. Wadah beserta peralatan yang akan dipakai disterilkan dengan perendaman di dalam larutan kaporit sebanyak 50 g yang telah dilarutkan di dalam 20 L air untuk mencegah timbulnya penyakit selama pemeliharaan larva. Penebaran Larva Penebaran larva merupakan kegiatan memindahkan larva dari wadah penetasan telur ke wadah pemeliharaan larva. Penebaran larva dilakukan pada pagi hari setelah larva menetas, sedangkan sisa telur yang tidak menetas dipisahkan. Penebaran larva dilakukan secara hati hati karena larva cukup rentan terhadap perubahan kualitas air. 40 Iskandar et al/Barakuda 45 4 (1), 31-51 e-ISSN : 2656-7474 DOI:https://doi.org/10.47685/barakuda45.v4i1.207 2022 Branchionus plicatilis sp. Pakan alami mengandung NH3 ataupun mengalami jenis ini memiliki nilai nutrisi yang tinggi kematian, hal ini perlu diperhatikan yaitu 52% protein dan 13% lemak, dan mengingat larva kerapu bebek sangat unsur ini ini sangat diperlukan dalam fase rentan terhadap perubahan kualitas air. perkembangan larva karena protein Fitoplankton yang digunakan merupakan unsur yang sangat penting minimal sudah berusia 4 hari, karena pada untuk pertumbuhan ikan (Sutrisno et al. usia 4 hari ini, pupuk yang diberikan sudah 2004). Metode pemberian pakan yang terolah oleh fitoplankton sehingga tidak digunakan dalam pemeliharaan larva membahayakan bagi kehidupan larva ikan. adalah secara ad libitum. Hal ini Pemberian fitoplankton disalurkan dari bak dikarenakan larva ikan kerapu bebek kultur massal menuju bak pemeliharaan memiliki proses pencernaan yang cepat menggunakan filter bag dengan kerapatan dan bersifat kanibalisme. Di dalam tubuh 40 μ untuk mencegah kotoran yang larva tersedia cadangan makanan berupa terbawa dari wadah kultur massal endogenous feed kuning telur yang dapat Nannochloropsis sp. dan dilakukan pada bertahan hingga hari ke-3 setelah larva pagi hari pukul 07.00. menetas (Effendi 2004). Jadwal pemberian Pada larva ikan berumur 2 hari pakan pada larva disajikan pada Tabel 6. sampai 30 hari diberikan pakan dengan kepadatan 2-5 individu mL-1 dan setelah Tabel 6. Jenis dan jadwal pemberian pakan larva larva berumur lebih dari 15 hari Hari ke pemberian pakan Rotifera ditambahkan Jenis Pakan 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 15 16 17 18 19 20 30 40 lagi dengan kepadatan 8-10 individu mL-1. Minyak cumi Waktu pemberian zooplankton pada pukul Endogenous feed 09. 00 dan 14.30. Kepadatan fitoplankton Nannochloropsis sp. dan zooplankton yang masuk pada media Branchionus plicatilis pemeliharaan larva sangat diperhatikan dan Artemia sp. Pakan Buatan 1 di kontrol karena apabila berlebihan, Pakan Buatan 2 fitoplankton justru akan menghasilkan Pakan Buatan 3 karbondioksida CO2 pada malam hari, dan Pakan Buatan 4 apabila fitoplankton mati dan tidak Untuk menjaga ketersediaan Branchionus termakan oleh zooplankton, akan plicatilis sp. sebagai pakan larva, maka meningkatkan tumpukan bahan organik di diberikan pakan berupa fitoplankton jenis media pemeliharaan. Selain itu baik fito Nannochloropsis sp. Selain sebagai maupun zooplankton yang berlebihan, juga makanan bagi zooplankton, fitoplankton akan menjadi pesaing dalam perebutan O2 ini juga dimanfaatkan sebagai shelter bagi di malam hari. larva agar nyaman dalam media Proses pengkayaan nutrisi pemeliharaan karena larva kerapu bebek (enrichment) zooplankton juga dilakukan cenderung menyukai perairan yang sedikit sekitar 4-6 jam sebelum diberikan ke larva. gelap serta sebagai bioremediator bahan Enrichment dilakukan dengan organik dan sebagai penghasil oksigen di menambahkan DHA sebanyak 0.75 mL L1 perairan pada siang hari (Effendi 2003). . Enrichment ini bertujuan agar Kepadatan fitoplankton yang zooplankton yang diberikan ke larva diberikan pada awal pemeliharaan adalah 1 mengandung nutrisi yang lebih. Pemberian 000 000-1 500 000 sel mL-1 sesuai umur DHA akan meningkatkan jumlah larva. Kualitas fitoplankton dicek sebelum zooplankton yang mengandung telur, pada diberikan ke larva, meliputi salinitas, pH, fase ini zooplankton akan naik kandungan suhu warna serta endapan, fitoplankton nutrisinya. yang mengandung banyak endapan dan Pada hari pemeliharaan larva ke-16 berwarna kekuningan biasanya hingga hari ke- 40, pakan yang diberikan 41 Iskandar et al/Barakuda 45 4 (1), 31-51 e-ISSN : 2656-7474 DOI:https://doi.org/10.47685/barakuda45.v4i1.207 2022 berupa naupli Artemia sp., yang diberikan pengurangan air di dalam wadah sebanyak secara bergantian dengan pakan buatan 10% hingga pengurangan air 50-75%. secara at satiation. Kepadatan artemia Pemberian pakan yang dioptimalkan dan -1 yang diberikan 2-5 individu 10 mL dan tidak terbuang akan mengurangi resiko akan semakin meningkat seiring rusaknya kualitas air. Proses pengisian, bertambahnya umur dan ukuran larva. pengurangan air dan penyifonan dilakukan Enrichment dilakukan 4-6 jam sebelum mulai hari ke 30-41 yang dilakukan secara Artemia sp. diberikan ke larva dengan cara hati hati karena pada fase ini banyak sekali menambahkan DHA sebanyak 0.75 mL L sisa pakan, plankton mati, dan bahan lain 1 . Nilai nutrisi naupli artemia yang baru yang mengendap di dasar wadah. menetas adalah protein 40-50%, karbohidrat Kotoran yang mengendap di dasar 15-20%, lemak 15-20%, abu 3-4% (Goretti perairan membentuk endapan amoniak 1984). yang cukup tinggi. Menurut Boyd (1990) Fase kritis larva yang kedua terjadi pada dasar perairan terdapat amonia dalam antara hari pemeliharaan ke 10-12 dengan jumlah yang lebih banyak dibanding panjang larva berkisar antara 3.5-4 mm perairan di bagian atasnya karena oksigen ketika spina mulai tumbuh. Pada hari ke-16 terlarut pada bagian dasar relatif lebih larva mulai diberi pakan kombinasi berupa rendah, pengadukan bahan organik yang siste Artemia sp. dan pakan buatan nomor 1 mengendap dapat meningkatkan nilai berukuran <198 μ, dilanjutkan secara amoniak dalam perairan. Dalam kondisi berturut-turut sesuai umur larva dengan kronis amonia dapat meningkatkan pakan nomor 2 berukuran 198-308 μ, pakan kebutuhan oksigen, menurunkan nomor 3 berukuran 308-476 μ, pakan nomor kemampuan darah membawa oksigen, 4 berukuran 476-630 μ, pakan nomor 5 kerusakan pada jaringan tubuh (Boyd berukuran 630-1100 μ, pakan nomor 6 1990). berukuran 1100-1300 μ mengandung protein Pengukuran kualitas air yang 54% dan lemak 9, pakan nomor 7 berukuran dilakukan secara in situ meliputi suhu, 1300-1700 μ serta pakan nomor 8 berukuran salinitas, pH, dan oksigen terlarut. Hasil 1700-2000 μ. Penggantian ukuran pakan pengukuran disajikan pada Tabel 7. dilakukan dengan cara mencampur pakan ukuran sebelumnya dengan pakan ukuran Tabel 7. Hasil pengukuran kualitas air pada yang lebih besar, disesuaikan dengan bukaan wadah pemeliharaan larva mulut ikan. SNI 1 6487 3 Hasil Keterangan Fase ketiga pertumbuhan larva yakni Parameter 2000 pengukuran pada saat larva berumur 21 hingga 25 hari, Suhu (°C) 28-32 29.35 In situ saat spina mulai berubah menjadi sirip Salinitas (g L-1) 28-35 31.375 In situ punggung pada fase ini mulai muncul pH 7.8-8.3 7.475 In situ perbedaan pertumbuhan ataupun ukuran DO (mg L-1) >5 5.302 In situ yang signifikan. Fase keempat, pada saat Amoniak (mg L-1) < 0.01 0.4481 Uji lab larva berusia lebih dari 35 hari ketika sifat Nitrit (mg L-1) <1 0.2006 Uji lab kanibal larva mulai muncul. Penanggulangannya adalah dengan Standar kualitas air dalam kegiatan pemberian pakan yang baik dan tepat serta pemeliharaan larva mengacu pada SNI 1 melakukan proses sortir menurut ukuran, 6487 3 2000. Turunnya salinitas pada dengan memperhatikan kondisi ikan, pemeliharaan larva diduga dipengaruhi hingga ikan siap untuk dipanen. oleh penambahan plankton, sedangkan pH yang dibawah standar dipengaruhi oleh pH Pengelolaan Kualitas Air pada air di lokasi studi yang telah dibawah Pemeliharaan Larva setandar yaitu 7.6-7.8. Data pada Tabel 7 Kegiatan pengelolaan air dalam juga menunjukkan hasil rata rata nilai pemeliharaan larva kerapu bebek meliputi, 42 Iskandar et al/Barakuda 45 4 (1), 31-51 e-ISSN : 2656-7474 DOI:https://doi.org/10.47685/barakuda45.v4i1.207 2022 amoniak, melampaui standar yang ada. dikurangi, serta pemberian Artemia sp. Amoniak bersifat menggendap dalam pada sore hari selama proses pengobatan. perairan dan sangat bahaya apabila terjadi pengadukan di dasar media pemeliharaan Pemantauan Pertumbuhan Larva (Pillay 2004). Adanya peningkatan atau Pertumbuhan merupakan jumlah amoniak yang melebihi standar pertambahan ukuran baik panjang maupun biasanya ditimbulkan oleh kotoran, urine, berat dalam kurun waktu tertentu, sisa pakan, yang mengendap di dasar sedangkan jika dilihat lebih lanjut perairan, kadar amoniak di dasar relatif pertumbuhan merupakan proses biologis lebih tinggi daripada di kolom maupun yang kompleks dan dipengaruhi oleh permukaan air (Effendi 2003). berbagai faktor (Effendie 1997). Pertumbuhan dipengaruhi oleh faktor luar dan faktor dalam, ada yang bisa di kontrol Pencegahan dan Penanganan Hama dan ada yang tidak (Wiadnya et al. 2000). Penyakit pada Larva Pencegahan serta penanganan hama Faktor luar dipengaruhi oleh lingkungan dan penyakit dalam pemeliharaan ikan seperti oksigen terlarut, suhu air, amonia, perlu dilakukan untuk menghindari salinitas, kualitas pakan, penyakit secara terjadinya kematian. Kematian yang terjadi horizontal. kepadatan pemeliharaan yang pada larva ikan kerapu bebek disebabkan mempengaruhi kompetisi untuk timbulnya stres akibat fluktuasi lingkungan mendapatkan pakan, sedangkan faktor yang menyebabkan turunnya nafsu makan, dalam dikontrol oleh jenis kelamin, umur, sehingga dapat menyebabkan kematian. genetik, penyakit secara vertikal, aktivitas Beberapa cara yang dilakukan untuk ikan, serta kemampuan ikan untuk mencegah timbulnya penyakit yaitu mencerna dan memanfaatkan makanan. melakukan pemberian vitamin yang Pemantauan pertumbuhan larva dicampur ke dalam pakan alami, dilakukan melalui pengamatan pengelolaan kualitas air pemeliharaan perkembangan morfologi, dan dengan baik serta mengindari perubahan pertambahan panjang dan bobot larva lingkungan yang dapat menyebabkan menggunakan metode sampling yang stres, melakukan disinfeksi pada peralatan dilakukan setiap 5 hari sekali. kerja, serta menghindari penanganan kasar Sampling pengukuran panjang tubuh yang dapat memicu terjadinya luka. Selain larva kerapu bebek dilakukan dengan itu, memonitoring kondisi lingkungan dan menggunakan penggaris dan milimeter kualitas air guna mencegah dan blok. Sampling bobot mulai dilakukan menanggulangi penyakit sedini mungkin pada saat larva berumur 30 hari serta menjaga kondisi lingkungan kerja menggunakan timbangan analitik dengan tetap bersih untuk mencegah timbulnya ketelitian 0.01 g. Hasil pemantauan patogen. pertumbuhan pada fase larva disajikan Saat larva atau benih ikan kerapu pada Gambar 6. yang dipelihara telah terserang penyakit, larva atau benih tersebut dipisahkan ke bak khusus untuk diobati lebih lanjut. Pada proses ini dilakukan treatment seperti penjagaan kualitas air yang lebih ekstra, pemberian pakan bervitamin untuk mempercepat pemulihan stres dan pemberian antibiotik seperti akriflavin. Pemberian akriflavin untuk pencegahan Gambar 6 Grafik pertumbuhan larva sebanyak 1-5 mg L-1 yang diberikan selama 3 hari berturut turut setelah air bak 43 Iskandar et al/Barakuda 45 4 (1), 31-51 e-ISSN : 2656-7474 DOI:https://doi.org/10.47685/barakuda45.v4i1.207 2022 t atau t 0 atau 0 Grafik yang disajikan pada Gambar 6 aju pertum uhan t menunjukkan bahwa larva mengalami pertumbuhan berupa pertambahan panjang yang ditunjukkan oleh garis merah. Grafik t atau t aju pertum uhan spesifik √( 1) 100 tersebut menunjukkan ikan mengalami 0 atau 0 percepatan pertumbuhan pada hari ke-16 dimana: karena pada saat tersebut larva mulai diberi Pt : Panjang rata rata ikan pada waktu keasupan pakan dari luar berupa Artemia sp. t (cm) Menurut Goretti (1984) Artemia sp. P0 : Panjang rata rata ikan pada awal memiliki protein sebanyak 40-50%, pemeliharaan (cm) karbohidrat 15-20%, lemak 15-20%, abu 3Wt : Bobot rata rata ikan pada waktu ke-t 4%. Ketika nutrisinya terpenuhi dan (g) melebihi jumlah kebutuhan nutrisi harian W0 : Bobot rata rata ikan pada awal maka larva akan mengalami pertumbuhan pemeliharaan (g) yang lebih baik. Perhitungan laju t : Lama waktu pemeliharaan (hari) pertumbuhan dilakukan menggunakan Lp : Laju pertumbuhan panjang (cm) rumus (Asmawi 1983) sedangkan bobot (g) perhitungan laju pertumbuhan spesifik Lps : Laju pertumbuhan spesifik (% hari-1) menurut (Huisman 1987): aju pertum uhan panjang 0.15 0.04 aju pertum uhan o ot 0.011 g hari 10 aju pertum uhan panjang spesifik 40 √( 1.98 1) 0.24 aju pertum uhan o ot spesifik 1.106 hari t 0 atau √( 1.050 0.15 1) 0.04 100 0.043 cm hari hari dimana: Pt : Panjang rata rata ikan pada waktu ket (cm) P0 : Panjang rata rata ikan pada awal pemeliharaan (cm) Wt : Bobot rata rata ikan pada waktu ke-t (g) W0 : Bobot rata rata ikan pada awal pemeliharaan (g) Berdasarkan ukuran awal larva pada hari pertama 0.24 cm dengan masa pemeliharaan selama 40 hari, ukuran bertambah menjadi 1.98 cm atau memasuki ukuran benih. Melalui perhitungan laju pertumbuhan dan laju pertumbuhan spesifik diatas dapat diketahui bahwa selama masa pemeliharaan itu ikan memiliki laju pertumbuhan panjang 0.043% dan laju pertumbuhan bobot selama 10 hari yaitu 0.011%, dari perhitungan pertumbuhan spesifik menggunakan rumus (Huisman 1987) didapat laju pertumbuhan spesifik 1.050% hari-1 dan laju pertumbuhan bobot spesifik selama 10 hari yaitu 1.106% hari-1. Laju pertumbuhan mutlak dihitung menggunakan rumus menurut (Effendie 1997): t atau 10 100 1.98 0.24 40 Berdasarkan perhitungan tersebut diperoleh laju pertumbuhan panjang mutlak mencapai 1.74 cm dan laju pertumbuhan bobot mutlak larva mencapai 0.11 g. Sintasan Larva Penghitungan sintasan larva dilakukan setelah pemindahan benih atau 0 44 Iskandar et al/Barakuda 45 4 (1), 31-51 e-ISSN : 2656-7474 DOI:https://doi.org/10.47685/barakuda45.v4i1.207 2022 atau 0 d bersamaan dengan kegiatan sortir dan grading. Hasil dari perhitungan tersebut 0 dimana: digunakan sebagai dasar untuk Nt : Jumlah ikan pada waktu ke-t (ekor) menentukan padat tebar yang tepat, jumlah N0 : Jumlah ikan pada awal pakan, serta parameter tingkat keberhasilan pemeliharaan (ekor) pemeliharaan larva. Perhitungan sintasan d : Jumlah ikan yang mati (ekor) dilakukan menggunakan rumus (Effendie 1997) Tabel 8. Sintasan pemeliharaan larva Larva Sintasan Panen Hari mati (%) (ekor) ke (ekor) Tanpa treatment air 05/03 194 768 3 5.232 43 Treatment air 08/03 143 673 4 6.327 41 dengan 2 titik aerasi serta sistem saluran Tabel 8 menunjukkan bahwa sintasan outlet permukaan. Wadah dicuci dan yang dicapai dalam kegiatan pemeliharaan didesinfeksi menggunakan 50 g kaporit larva mencapai 3% pada bak tanpa ada yang dilarutkan dalam 20 L air selanjutnya treatment air, dan 4% pada bak dengan dibilaskan ke bak pemeliharaan. treatment air. Bak dengan treatment air Dalam penebaran benih perlu memiliki kondisi kualitas air yang lebih dilakukan aklimatisasi untuk mengurangi stabil di awal pemeliharaan, namun perlu kemungkinan terjadinya ikan stres atau tenaga dan perlakuan khusus dalam mati karena adanya perubahan kualitas air mempersiapkannya. Sintasan 3-4% yang signifikan. Aklimatisasi umumnya tersebut sesuai dengan SNI 6484 3 2011, dilakukan 2-10 menit disesuaikan dengan namun sintasan kerapu bebek yang kondisi ikan dan besarnya perbedaan berukuran kurang dari 3 cm masih kurang kualitas air. Benih ikan ditebar dengan dari 5%. kepadatan 1000-1500 ekor bak-1. Padat Pemindahan dan Penebaran Benih penebaran benih yang tidak terlalu tinggi Pemeliharaan benih dilakukan pada akan mengurangi resiko kanibalisme pada hari ke 40-43 pemeliharaan, jika kondisi fase benih, yang menyebabkan fator utama ikan sudah memungkinkan. Untuk penyebab kematian. memastikan benih ikan siap dipindah maka Pemberian Pakan untuk Benih dilakukan pengujian terlebih dahulu Pemberian pakan pada pemeliharaan dengan cara mengambil ikan menggunakan benih dilakukan secara at satiation atau gayung dan melihat respon ikan ketika sekenyangnya. Untuk mengetahui berada di gayung hingga perilaku ketika kebutuhan pakan atau jumlah pakan yang dikembalikan ke bak pemeliharaan. Ikan dihabiskan perhitungan jumlah pakan yang lulus pengujian pertama, dilanjutkan dilakukan dengan menimbang bobot pakan dengan uji angkat kering, yaitu ikan sebelum diberikan dan menimbang diserok dan ditempatkan diatas baki kembali bobot pakan setelah pemberian kemudian diangkat ke udara dan pakan. Waktu pemberian pakan benih yaitu dikembalikan ke media pemeliharaan. 06.00-09.00, 10.00-11.00, 13.30-15.00, Apabila ikan kaget dan mati dalam kondisi 17.00-18.00. Jadwal pemberian pakan mulut terbuka, maka ikan masih terlalu benih disajikan pada Tabel 9. rentan dan belum siap untuk dipindahkan ke wadah pemeliharaan benih. Benih ikan selanjutnya ditempatkan di dalam wadah pemeliharaan yaitu bak fiber berkapasitas 525 L yang dilengkapi 45 Perlakuan Tanggal tebar Iskandar et al/Barakuda 45 4 (1), 31-51 e-ISSN : 2656-7474 DOI:https://doi.org/10.47685/barakuda45.v4i1.207 2022 Tabel 9. Pemberian pakan larva dengan pakan nomor 6 berukuran 11001300 μ mengandung protein 54 dan lemak 9, dilanjutkan dengan pakan nomor 7 berukuran 1300-1700 μ mengandung protein 54% dan lemak 9% (Mudzair 2017). Penggantian ukuran pakan dilakukan dengan cara mencampurkan pakan dengan ukuran yang berbeda. Pakan nomor 3-5 bersifat apung sedangkan pakan nomor 6-8 sudah bersifat slowsinking. Ikan kerapu Pakan yang digunakan adalah pakan bebek tidak akan memakan pakan yang nomor 4 berukuran 476-630 μ sudah jatuh ke dasar perairan, maka perlu mengandung protein 52% dengan lemak dilakukan pemberian pakan yang benar 12%, dilanjutkan dengan pakan nomor 5 benar terkontrol untuk mencegah pakan berukuran 630-1100 μ mengandung terbuang. protein 52% dan lemak 12%, dilanjutkan Ukuran Pakan Tabel 10 Kandungan nutrisi pakan buatan Abu Protein Lemak Serat maks min (%) min (%) maks (%) (%) Air maks (%) 200-400 mm 50 12 2 14 10 400-600 mm 50 12 3 14 10 600-800 mm 48 12 3 14 10 Sumber: SNI 7814 2013 tahan tubuh ikan. Pengelolaan air pada pemeliharaan benih meliputi penggunaan filter yang digunakan untuk menyaring air dari bak tandon yang akan masuk ke media pemeliharaan. Filter tersebut terdiri atas filter fisika berupa waring, pasir laut, dan filter kimia berupa arang, karang jahe. Mekanisme filter yang digunakan adalah filter dengan saluran inlet yang ditempatkan dibagian bawah bak. Filter jenis ini lebih mudah dibersihkan karena untuk mengurasnya hanya perlu membuka saluran pembuangan yang berada didekat saluran inlet tersebut, sehingga kotoran yang massa jenisnya lebih rendah dari massa jenis air akan berada dibawah dan akan keluar dengan mudah dari dalam bak. Penyifonan dilakukan secara rutin pada pukul 06.00, 11.00 dan 15.30 untuk membuang feses ikan, kotoran dan sisa pakan yang terbuang. Pakan yang optimal untuk benih ikan kerapu bebek adalah pakan yang memiliki protein berkisar 48-50%. Selain standar tersebut, syarat lain yang harus dipenuhi, yaitu bebas amoniak NH3 maksimal 0.2%, bebas salmonela, aflatoksin maksimal 50 µg kg-1, kapang maksimal 50 kol g-1, serta tidak berjamur. Pakan harus disimpan di tempat kering dan sejuk untuk mencegah kerusakan dan penurunan kualitas pakan. Pengelolaan Kualitas Air pada Pemeliharaan Benih Pengelolaan kualitas air merupakan kegiatan yang dilakukan untuk menghasilkan air yang bersih, bebas patogen, dan memenuhi standar untuk pemeliharaan benih ikan kerapu bebek. Pengaruh kualitas air pada pertumbuhan ikan kerapu bebek cukup besar, kualitas air mempengaruhi nafsu makan, laju metabolisme, osmoregulasi, dan daya 46 Iskandar et al/Barakuda 45 4 (1), 31-51 e-ISSN : 2656-7474 DOI:https://doi.org/10.47685/barakuda45.v4i1.207 2022 Tabel 11. Kualitas air wadah pemeliharaan benih SNI 1 6487 3 2000 Hasil pengukuran Keterangan Suhu (°C) 26-31 29.35 In situ Salinitas (g L-1) 28-35 33 In situ pH 7-8.5 7.6 In situ DO (mg L-1) >5 5.672 In situ Amoniak (mg L-1) < 0.01 0.1481 Uji lab Nitrit (mg L-1) <1 0.0865 Uji lab Parameter Berdasarkan data pada Tabel 11, standar kualitas air hasil pengukuran menunjukkan nilai sesuai dengan standar yang ada. Pengujian amoniak yang dilakukan di laboratorium menunjukkan nilai amoniak yang mencapai 0.1481 memang melewati ambang batas, namun hal ini tidak berpengaruh banyak pada kondisi ikan. Nilai amoniak ini lebih banyak dipengaruhi oleh kualitas air yang ada di kawasan linkungan pemeliharaan yang mengandung cukup banyak bahan organik karena merupakan kawasan muara sungai. Penyakit juga dapat dicegah dengan pemberian nutrisi yang mencukupi kebutuhan nutrisi benih kerapu bebek seperti pemberian decosahexaenoic acid DHA melalui coating pada pakan agar benih tetap sehat dan lebih tahan terhadap penyakit. DHA mengandung zat anti inflamasi dan asam lemak tidak jenuh yang mampu menjadi katalis untuk mempercepat respon sel syaraf dan meningkatkan kekebalan tubuh. Pemberian DHA pada fase pemeliharaan benih dilakukan dengan mencampur DHA ke dalam pakan dengan dosis 15 mL kg-1. Pencegahan dan Penanganan Hama dan Penyakit pada Benih Pencegahan hama dalam proses pemeliharaan benih dilakukan dengan pemasangan jaring pada bak pemeliharaan, inspeksi secara rutin serta pemasangan kamera pengintai untuk memantau dan mencegah terjadinya pencurian. Pencegahan penyakit dilakukan dengan menjaga kualitas lingkungan dan pengelolaan kualitas air pada media pemeliharaan benih, dengan penyifonan serta pembersihan wadah dengan pengurasan total seminggu sekali dengan desinfeksi dengan cara penyiraman menggunakan kaporit 50 mgL-1. Pembilasan, pengisian air dan pemberian antiseptik akriflavin 1 mgL-1 untuk menghilangkan jamur dan mikroorganisme yang muncul akibat feses, dan sisa pakan yang terbuang. Pemantauan Pertumbuhan Benih Pemantauan pertumbuhan benih dilakukan dengan cara sampling melalui pengukuran panjang tubuh dan menimbang bobot ikan. Sampling dilakukan setiap 5 hari sekali bersamaan dengan proses sortir dan grading. Data pertumbuhan disajikan pada Gambar 7. Gambar 7. Grafik pertumbuhan benih 47 Iskandar et al/Barakuda 45 4 (1), 31-51 e-ISSN : 2656-7474 DOI:https://doi.org/10.47685/barakuda45.v4i1.207 2022 Hasil sampling sintasan benih disajikan Gambar diatas menunjukkan adanya pada Tabel 12. pertumbuhan pada benih ikan, dengan ukuran awal benih yang ditebar 1.98 cm. Benih dipelihara selama 20 hari hingga mencapai ukuran siap jual 5.58 cm. Berdasarkan hasil perhitungan laju pertumbuhan spesifik dapat diketahui bahwa selama masa pemeliharaan, ikan memiliki angka laju pertumbuhan panjang 0.180 cm hari-1, dan laju pertumbuhan bobot 0.084 g hari-1 sedangkan angka laju pertumbuhan panjang spesifik sebesar 1.030% hari-1 dan laju pertumbuhan bobot spesifik sebesar 1.128% hari-1. Hasil perhitungan angka pertumbuhan mutlak menggunakan rumus Effendie (1997) diketahui pertumbuhan pada benih yang dipelihara selama 20 hari menunjukkan nilai laju pertumbuhan mutlak 3.6 cm. Tabel 12. Sintasan pemeliharaan larva Perlakuan Jumlah tebar (ekor) Jumlah ikan mati (ekor) sirkulasi 5 232 sirkulasi 6 327 Sintasan (%) Jumlah panen (ekor) 18 94% 4918 195 94% 5 947 Pemanenan dan Transportasi Benih Pemanenan benih dilakukan setelah benih berukuran 5-6 cm. Untuk mencapai ukuran tersebut memerlukan waktu hingga 60 hari pemeliharaan. Benih disortir dan grading untuk memisahkan ukuran dan kualitasnya, selanjutnya ikan diberok selama 12 hingga 24 jam. Pemberokan berfungsi untuk mengurangi kotoran yang keluar dan stres ikan selama proses pengemasan. Setelah itu dilakukan penangkapan benih dan pengemasan. Terdapat 2 jenis pengemasan ikan yaitu pengemasan terbuka dan pengemasan tertutup. Teknik pengemasan tertutup dilakukan dengan menggunakan kantong plastik secara tertutup sehingga tidak terjadi persinggungan antara udara luar dan media pengangkutan. Pengemasan tertutup merupakan cara yang paling umum digunakan, meskipun dalam jarak dekat atau melalui jalan darat karena cara ini lebih aman dan mudah dalam pelaksanaanya. Kepadatan benih ikan di dalam kantong plastik, disesuaikan dengan jarak, waktu angkut dan ukuran benih (Tabel 13). Sintasan Benih Untuk menghitung sintasan benih dilakukan secara manual dan hasil tersebut digunakan sebagai dasar untuk menentukan padat tebar yang tepat, jumlah pakan, parameter tingkat keberhasilan dari kegiatan pemeliharaan benih. Perhitungan sintasan dilakukan menggunakan rumus Effendie (1997). Sintasan yang dicapai dalam kegiatan pemeliharaan benih mencapai 94% pada fase benih sintasan ikan sudah lebih baik daripada pada saat ikan berukuran kurang dari 3 cm. Kendala yang ada pada fase benih adalah masalah kanibalisme dan kualitas air. Pada fase ini jarang terjadi kematian massal karena kondisi ikan sudah cukup kuat terhadap perubahan lingkungan. Tabel 13. Standar kepadatan dalam kantong pengemasan Prakiraan Waktu angkut Ukuran (cm) 15 jam 3-4 15 jam 5-6 15 jam 7-8 15 jam 9-10 Sumber: SNI 2 6487 2 2002 Kepadatan (ekor) 75 50 40 35 48 Keterangan Setiap 15 jam dilakukan penggantian oksigen atau dilakukan pengemasan ulang Iskandar et al/Barakuda 45 4 (1), 31-51 e-ISSN : 2656-7474 DOI:https://doi.org/10.47685/barakuda45.v4i1.207 Jurnal Kelautan dan Perikanan. Yogyakarta (ID): Loka Penelitian dan KESIMPULAN Pengembangan Mekanisasi Pengolahan Kegiatan pembenihan ikan kerapu Hasil Perikanan. 10(1)83-89. bebek meliputi pemeliharaan induk, Boyd, C. E. (1990). Water quality in ponds pemijahan induk, penetasan telur, for aquaculture. pemanenan larva, pemeliharaan larva, [BSN] Badan Standarisasi Nasional pemeliharaan benih, serta pemanenan Indonesia. 2000. SNI 1 6487 3 2000 benih. Dalam kegiatan ini, diperoleh telur Ikan Kerapu Bebek Cromileptes altivelis, sebanyak 560 000-2 000 000 butir, derajat Valenciennes. Bagian 3: Benih. Gd pembuahan 30-60%, derajat penetasan 65Manggala Wanabakti: Jakarta (ID): 88%. Telur yang menetas menjadi larva, Badan Standardisasi Nasional. kemudian ditebar dengan kepadatan 15-25 [BSN] Badan Standarisasi Nasional -1 ekor L . Larva selanjutnya dipindahkan ke Indonesia. 2011. SNI 1 6487 1 2011 wadah pemeliharaan benih dengan lama Ikan Kerapu Bebek Cromileptes altivelis, pemeliharaan dan dipanen pada umur 60 Valenciennes Revisi dari SNI 1 6487 1 hari saat mencapai ukuran 5-6 cm dengan 2000. Bagian 1: Induk. Gd Manggala sintasan 3-5%. Wanabakti: Jakarta (ID): Badan Standardisasi Nasional. DAFTAR PUSTAKA Darna, N., & Herlina, E. 2018. Memilih Alawi H, Aryani N. Asiah N. 2015. Metode Penelitian Yang Tepat: Bagi Pengaruh Kadar Protein Pakan Penelitian Bidang Ilmu Terhadap Penampilan, Pertumbuhan, Manajemen. Jurnal Ekonologi Ilmu Kematangan Gonad, dan Fekunditas Manajemen, 5(1), 287-292. Ikan Katung Pristolepis grooti Bleeker Dwiyana I M A. 2019. Analisis trend pada Matang Gonad Pertama. Jurnal koperasi PRIMKOPPOS (Primer Akuakultur Rawa 1 Indonesia. Riau (ID): Koperasi Pegawai Pos) periode 2012Universitas Riau. 3(1):10-22. 2015. Jurnal Akuntansi Profesi. 10(1):1Amri K. 2013. Budidaya Udang Vaname. 6. Jakarta (ID). Gramedia Pustaka Utama. [DJPB] Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya Arfah H, Melati, Setiawati. 2013 Republik Indonesia. 2018. Produksi Suplementasi Vitamin E dengan Dosis Budidaya Ikan Kerapu Menurut Provinsi Berbeda Pada Pakan Terhadap Kinerja Tahun 2018. [Internet]. [Diunduh 2022 Reproduksi Induk Betina Ikan Komet Januari 15]. Tersedia pada: Carassius auratus. Jurnal Akuakultur http://djpb.kkp.go.id/. Indonesia. 12: 14-18. Effendie I. 1997. Biologi Perikanan. Aslianti T, Slamet B, dan Prasetyo G. 2003. Yogyakarta (ID). Yayasan Pustaka Aplikasi Budidaya Ikan Kerapu Bebek Nusatama. Cromileptes altivelis di Teluk Ekas Effendi I. 2003. Kualitas Air Bagi Kabupaten Lombok Timur. Jakarta Pengelolaan Sumber Daya dan (ID): Badan Riset Kelautan dan Lingkungan Perairan. Yogyakarta (ID): Perikanan. 3(4). Kanisius. Asmawi, S. 1983. Pemeliharan Ikan Dalam Effendi I. 2004. Pengantar Aquakultur. Keramba. PT. Gramedia. Jakarta. Jakarta (ID). Penebar Swadaya. www.agustyar.com/2015/04/kimiaGoretti LPM. 1984. Teknik Penetasan dan air.html?=1. Diakses pada tanggal 22 Pemanenan Artemi Salina. Jakarta Januari 2022. (ID): Lembaga Ilmu Pengetahuan Berlyanto SB, Susi EIM, Wullandari P. Indonesia. Oseana. 9(2):57-65. 2015. Preparasi ikan kuniran Upeneus Helmi KH. 2012. Kualitas Telur dan sp. Pada Proses Pemsahan Daging Perkembangan Awal Larva Ikan Menggunakan Meat Bone Separator. 49 Iskandar et al/Barakuda 45 4 (1), 31-51 e-ISSN : 2656-7474 DOI:https://doi.org/10.47685/barakuda45.v4i1.207 2022 Kerapu Bebek Cromileptes altivelis, Paramadina S. 2014. Pembenihan dan Valenciennes (1928) di Desa Air Saga, Pembesaran Ikan Kerapu Bebek di Tanjung Pandan, Belitung [Tesis]. Balai Budidaya Air Payau (BBAP) Depok (ID): Universitas Indonesia. Situbondo. Bogor (ID): Institut Hidayatullah D. 2012. Pembenihan Kerapu Pertanian Bogor. Bebek Cromileptes altivelis di Balai Permata SI, Manan A. 2012. Pola Besar Budidaya Laut (BBPBL) Pertumbuhan Nannochloropsis oculata Lampung. Bogor (ID): Institut Pada Skala Laboratorium, Intermediet, Pertanian Bogor. dan Massal. Jurnal Ilmiah Perikanan dan Huisman EA. 1987. The Principles of Fish Kelautan. Surabaya (ID): Universitas Culture Production. Wagenigen (NL): Airlangga. 4(2). Wagenigen University. Pillay TVR. 2004. Aquaculture and The Kamler E. 1992. Early Life History of Fish Environment. Second Edition. UK. an Energetic Appoarch. Dalam Tarigan Blackwell Publishing. N. Supriatna I. Agus M. Affandi R. [PP] Peraturan Pemerintah Republik 2017. Pengaruh Vitamin E dalam Indonesia. 2015. Peraturan Pemerintah Pakan terhadap Pematangan Gonad Republik Indonesia No 75 Tahun 2015 Ikan Nilem Ostheochilus hasselti. Tentang Jenis Dan Tarif Atas Jenis Jurnal Perikanan Universitas Gajah Penerimaan Anggaran Bukan Pajak Yang Mada. 19(1):1-9. Berlaku Pada Kementerian Kelautan Dan Mayunar. 1996. Teknologi dan Prospek Perikanan. Menteri KKP 2014 Susi Usaha Pembenihan Ikan Kerapu. Pudjiastuti. Sekretariat Negara. Jakarta. Jakarta (ID): Lembaga Ilmu Selamet B, Tridjoko, Agus P, Tony S, dan Pengetahuan Indonesia. Oseana Sugama K. 1996. Penyerapan Nutrisi 21(4):13-24. Endogen, Tabiat Makan dan Mehdi Y, Mousavi SE. 2011. Review of the Perkembangan Morphology Larva control of reproduction and hormonal Kerapu Bebek Cromileptes altivelis manipulation in finfish species. African Pada Bak Secara Terkontrol. Jurnal Journal of Agricultural Research, Penelitian Perikanan Indonesia. 2(2):136(7):1643-1650. 21. Mudzair A. 2017. Kandungan Nutrisi Selamet B, Tridjoko, Agus P, Tony S, Giri Pakan Kerapu. [Internet]. [Diakses 2018 NA, dan Suwirya K. 2008. Mei 15]. Tersedia pada: Inventarisasi dan Pengendalian http://tokoikan.com/. Penyakit Parasit Pada Ikan Laut di Bak Mustika ER. 2005. Pengaruh pemberian Pemeliharaan. Jurnal Penelitian dosis vitamin e berbeda pada asam Perikanan Indonesia. 10(2):276-281. lemak n-3 dan n-6 tetap dalam pakan Skaznik M, Wikiel. 2016. American terhadap penampilan, reproduksi, ikan Society of Reproductive Medicine zebra Brachydanio rerio prasalin. 2016. Colorado (USA): University of Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor. Colorado. dalam Tarigan N. Supriatna I. Agus M. Sudjoko B. 1988. Cumi Cumi Sebagai Affandi R. 2017. Pengaruh Vitamin E Salah Satu Bahan Makanan Dari Laut. dalam Pakan terhadap Pematangan Bogor (ID): Lembaga Ilmu Gonad Ikan Nilem Ostheochilus Pengetahuan Indonesia. hasselti. Jurnal Perikanan Universitas Sutrisno E, Mustamin dan Handoko D. Gajah Mada. 19(1):1-9. 2004. Pembenihan Ikan Kerapu: Nakamura M. 2012. Biology of Pemeliharaan Larva. Seri Budidaya Reproduction. Illinois (USA): Laut No: 13. Balai Besar University of Illinois. Pengembangan Budidaya Laut Lampung. 50 Iskandar et al/Barakuda 45 4 (1), 31-51 e-ISSN : 2656-7474 DOI:https://doi.org/10.47685/barakuda45.v4i1.207 2022 Tridjoko, Selamet B, Makatutu D, dan Sugama K. 1996. Pengamatan Pemijahan dan Perkembangan Telur Ikan Kerapu Bebek Cromileptes altivelis Pada Bak Secara Terkontrol. Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia. 2(2):55-62. Wiadnya DGR, Hartati Y, Suryanti, Subagyo dan Hariati AM. 200. Periode pemberian pakan yang mengandung kitin untuk memicu pertumbuhan dan produksi gurame Osphronemus gouramy. Jurnal perikanan Indonesia. 6(2): 62-67. 51