Jurnal Kajian Ilmiah e-ISSN: 2597-792X. ISSN: 1410-9794 Vol. 25 No. 3 (September 2. Halaman: 249 Ae 262 Terakreditasi Peringkat 4 (SINTA . sesuai SK RISTEKDIKTI Nomor. 158/E/KPT/2021 Transformasi Pendidikan Indonesia: Sintesis Pemikiran Dan Praksis KH Ahmad Dahlan Dan Ki Hajar Dewantara Dalam Era Digital Aria Ahmad Mangunwibawa 1,*. Sudarnoto Abdul Hakim 2. Zamah Sari 1 Sekolah Pascasarjana. Universitas Muhammadiyah Prof Dr Hamka. e-mail: ariaahmadmangunwibawa@uhamka. id, zamahsari@uhamka. Sekolah Pascasarjana. Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. e-mail: sudarnoto@uinjkt. * Korespondensi: e-mail: ariaahmadmangunwibawa@uhamka. Submitted: 22/07/2025. Revised: 01/08/2025. Accepted: 01/09/2025. Published: 30/09/2025 Abstract This study aims to explore and synthesize the educational thought and praxis of KH Ahmad Dahlan and Ki Hajar Dewantara as a conceptual foundation for the transformation of Indonesian education in the digital era. Using a qualitative-philosophical approach through literature review and hermeneutic analysis, the research reveals the core values of progressive education based on faith, knowledge, and action according to KH Ahmad Dahlan, as well as holistic and humanistic education rooted in national culture according to Ki Hajar Dewantara. The findings indicate that synthesizing the thoughts of these two figures can provide a new direction for the development of an education system that integrates spiritual values, character, and technology in a balanced manner. This synthesis is relevant in addressing contemporary challenges such as digitalization, hybrid learning, artificial intelligence, and the identity crisis in national The study recommends an educational model grounded in both local and universal values, and adaptive to digital disruption, to shape Indonesian individuals who are independent, faithful, and globally competitive. Keywords: Ahmad Dahlan. Digital era. Educational transformation. Ki Hajar Dewantara Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi dan menyintesiskan pemikiran serta praksis pendidikan KH Ahmad Dahlan dan Ki Hajar Dewantara sebagai dasar konseptual transformasi pendidikan Indonesia di era digital. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif-filosofis melalui studi pustaka dan analisis hermeneutik, penelitian ini mengungkap nilai-nilai inti dari pendidikan berkemajuan berbasis iman, ilmu, dan amal menurut KH Ahmad Dahlan, serta pendidikan holistik dan humanis berlandaskan kebudayaan bangsa menurut Ki Hajar Dewantara. Hasil kajian menunjukkan bahwa sintesis pemikiran keduanya dapat memberikan arah baru bagi pembangunan sistem pendidikan yang memadukan nilai spiritual, karakter, dan teknologi secara seimbang. Sintesis ini relevan dalam menjawab tantangan kontemporer seperti digitalisasi, pembelajaran hibrida, kecerdasan buatan, hingga krisis identitas pendidikan Penelitian ini merekomendasikan model pendidikan yang berbasis nilai-nilai lokal dan universal, serta adaptif terhadap disrupsi digital, untuk membentuk manusia Indonesia yang merdeka, beriman, dan berdaya saing global. Kata kunci: Ahmad Dahlan. Era Digital. Transformasi pendidikan. Ki Hajar Dewantara Available Online at http://ejurnal. id/index. php/JKI Aria Ahmad Mangunwibawa. Sudarnoto Abdul Hakim. Zamah Sari Pendahuluan Era digital telah membawa perubahan besar dalam berbagai aspek kehidupan manusia, termasuk dalam dunia pendidikan. Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) bukan hanya mengubah cara belajar dan mengajar, tetapi juga menggeser makna, tujuan, dan nilai pendidikan itu sendiri. Transformasi digital telah menghadirkan paradigma pendidikan baru yang lebih terbuka, fleksibel, dan berbasis data, namun juga menimbulkan tantangan serius terkait dehumanisasi, kehilangan arah nilai, serta terpinggirkannya akar budaya dan spiritualitas dalam proses pendidikan (Shenkoya & Kim, 2. Di tengah derasnya arus modernisasi dan globalisasi ini, pertanyaan mendasar patut diajukan: Apakah pendidikan kita masih berpijak pada nilai, budaya, dan jati diri bangsa? Ataukah kita sedang melangkah menuju sistem pendidikan yang sepenuhnya dikendalikan oleh teknologi dan logika pasar global, yang dapat menjauhkan manusia dari dimensi kemanusiaannya? Transformasi digital dalam pendidikan idealnya bukan hanya mengejar efisiensi teknologis, tetapi harus tetap berakar pada nilai-nilai luhur dan pemikiran filosofis bangsa yang pernah dirintis oleh para pendiri bangsa (Jumari et al. , 2. Dalam konteks ini, dua tokoh besar pendidikan Indonesia, yaitu KH Ahmad Dahlan dan Ki Hajar Dewantara, menjadi sangat relevan untuk dikaji kembali. KH Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah, dikenal dengan pendekatan pembaruan pendidikan Islam yang menekankan integrasi antara agama, ilmu, dan praksis sosial, serta pemanfaatan pendidikan sebagai sarana pembebasan dan pencerahan umat (Jaelani et al. , 2. Sementara itu. Ki Hajar Dewantara, pelopor pendidikan nasional Indonesia dan pendiri Taman Siswa, menekankan pentingnya pendidikan yang berakar pada kebudayaan bangsa, membentuk manusia merdeka, serta mengedepankan prinsip pedagogi yang memanusiakan manusia (Ajid et al. , 2. Meskipun KH Ahmad Dahlan dan Ki Hajar Dewantara sama-sama meletakkan dasar penting bagi pendidikan IndonesiaAidengan visi transformatif yang menekankan integrasi agama, ilmu, kebudayaan, dan kemanusiaanAinamun dalam praktik pendidikan era digital saat ini, pemikiran mereka belum terimplementasi secara utuh. Pemikiran keduanya lebih banyak diposisikan sebagai simbol sejarah atau jargon filosofis, bukan sebagai landasan konseptual dalam merumuskan kebijakan, kurikulum, maupun strategi pembelajaran (Umar Faruq & M. Yunus Abu Bakar, 2. Akibatnya, arah pendidikan Indonesia di tengah arus digitalisasi dan disrupsi teknologi masih cenderung pragmatis, berorientasi pada reproduksi pengetahuan dan keterampilan kerja, tetapi kurang menekankan pada dimensi pembebasan, pencerahan, kemandirian, dan pemanusiaan manusia sebagaimana ditekankan oleh kedua tokoh tersebut. Pendidikan Indonesia telah dibentuk oleh visi transformatif dari dua tokoh besar: KH Ahmad Dahlan dan Ki Hajar Dewantara. Keduanya meletakkan fondasi filosofis yang revolusioner dalam mengintegrasikan nilai-nilai spiritual dengan pendekatan pedagogis modern, menciptakan paradigma pendidikan yang holistik dan inklusif. Ahmad Dahlan melalui konsep "pendidikan berkemajuan" menyatukan iman, ilmu, dan amal dalam praksis pendidikan yang membebaskan umat dari kebodohan dan ketidakadilan sosial (Dede Maharani et al. , 2. Jurnal Karya Ilmiah 25 . : 249 - 262 (September 2. Transformasi Pendidikan IndonesiaA Sementara Ki Hajar Dewantara dengan filosofi "Taman Siswa" menekankan pendidikan yang memberikan kebebasan belajar, kreativitas, dan patriotisme bagi seluruh lapisan masyarakat (Endang Trisiana, 2. Kedua pemikiran ini tidak hanya relevan secara historis, tetapi juga memberikan kerangka konseptual yang kuat untuk menghadapi tantangan pendidikan kontemporer, termasuk integrasi teknologi digital dan tuntutan globalisasi dalam sistem pendidikan nasional. Penelitian ini bertolak dari kebutuhan untuk merumuskan kembali dasar filosofis pendidikan Indonesia yang bernilai, berakar budaya, dan adaptif terhadap perkembangan zaman, termasuk teknologi digital. Dengan pendekatan kualitatif dan perspektif filsafat pendidikan, penelitian ini berusaha menjawab dua pertanyaan utama: Bagaimana sintesis pemikiran KH Ahmad Dahlan dan Ki Hajar Dewantara dapat menjadi dasar transformasi pendidikan Indonesia di era digital? . Apa relevansi nilai-nilai filosofis mereka dalam konteks pembelajaran berbasis Menjawab pertanyaan ini penting untuk membangun sistem pendidikan yang tidak hanya unggul secara teknologis, tetapi juga berdaya secara moral, spiritual, dan kebudayaan. Pendidikan masa depan Indonesia tidak cukup hanya dikuasai oleh kecanggihan digital, melainkan harus dijiwai oleh nilai-nilai kemanusiaan universal dan kearifan lokal sebagaimana diwariskan oleh kedua tokoh tersebut. Metode Penelitian Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kepustakaan . ibrary researc. yang dipadukan dengan analisis hermeneutik filosofis. Pendekatan ini dipilih karena fokus penelitian adalah menggali dan menyintesiskan makna filosofis dari pemikiran dua tokoh sentral dalam pendidikan IndonesiaAiKH Ahmad Dahlan dan Ki Hajar DewantaraAiyang terkandung dalam karya dan praktik pendidikan mereka, lalu mengkontekstualisasikannya dalam dinamika era digital saat ini. Jenis Dan Pendekatan Penelitian Jenis penelitian ini adalah kualitatif-filosofis, yang bertujuan untuk mendeskripsikan, menafsirkan, dan menyintesiskan gagasan pendidikan berdasarkan kajian teks . dan Pendekatan ini sesuai dengan mengutamakan pemahaman mendalam terhadap makna . eaning-makin. dan nilai dalam konteks historis dan kultural tertentu (Adler, 2. Sumber Data Sumber data penelitian ini bersifat dokumen tekstual, baik primer maupun sekunder. Data Primer yaitu karya-karya asli atau otentik dari KH Ahmad Dahlan . afsir, surat, dokumen Muhammadiya. dan Ki Hajar Dewantara . ulisan-tulisan dalam Pendidikan. Taman Siswa. Majalah Wasita, dan Karya Ki Hajar Dewantara Bagian IAe. Sedangkan Data Sekunder yaitu Copyright A 2025 Jurnal Karya Ilmiah 25 . : 249 - 262 (September 2. Aria Ahmad Mangunwibawa. Sudarnoto Abdul Hakim. Zamah Sari buku, artikel ilmiah, jurnal filsafat pendidikan, laporan kebijakan pendidikan, serta dokumentasi akademik yang membahas pemikiran kedua tokoh dan isu pendidikan digital. Teknik Pengumpulan Data Pengumpulan data dilakukan dengan metode studi pustaka, diantaranya: . Eksplorasi dokumen dengan mencari sumber primer berupa karya asli KH Ahmad Dahlan dan Ki Hajar Dewantara serta sumber sekunder seperti buku, artikel jurnal, dan dokumen akademik melalui perpustakaan maupun basis data digital. Membaca dilakukan secara kritis untuk memahami konteks historis, gagasan inti, dan prinsip filosofis yang terkandung dalam teks. Serta, mengidentifikasi dan mengklasifikasikan gagasan penting ke dalam kategori tematik, seperti pemikiran filosofis, prinsip pedagogi, visi pendidikan transformatif, dan relevansi dengan era digital, yang selanjutnya dianalisis dengan pendekatan hermeneutik filosofis (Zed, 2. Koding filosofis yaitu mengorganisasi gagasan utama dan nilai-nilai Pendidikan. Kontekstualisasi: menghubungkan gagasan tersebut dengan isu kontemporer, khususnya transformasi pendidikan di era digital. Teknik Analisis Data Analisis data dilakukan dengan menggunakan analisis hermeneutik, sebagaimana dikembangkan oleh Hans-Georg Gadamer . Proses ini melibatkan empat tahap yakni. Ekspresi teks Ae membaca dan memahami teks sebagaimana adanya. Eksplorasi makna Ae menginterpretasi nilai-nilai filosofis dari teks tokoh. Fusi horizon . usion of horizon. Ae mempertemukan makna historis dari teks dengan horizon masa kini . ra digita. Rekonstruksi sintesis Ae membangun sintesis pemikiran kedua tokoh sebagai dasar model transformasi pendidikan Indonesia. Validitas Data Untuk menjaga validitas, digunakan teknik triangulasi teori dan sumber, yakni: Membandingkan berbagai sumber pustaka yang membahas satu tema. Mengintegrasikan pendekatan pendidikan, filsafat, dan teknologi dan Menyusun tafsir yang konsisten berdasarkan kerangka filosofis dan kontekstual. Hasil dan Pembahasan Pemikiran Dan Praksis Pendidikan KH Ahmad Dahlan Filosofi pendidikan berkemajuan KH Ahmad Dahlan . membangun konsep pendidikan yang revolusioner untuk zamannya, yang dikenal dengan istilah "pendidikan berkemajuan (Sari et al. , 2. Filosofi ini meletakkan pendidikan sebagai wahana dakwah untuk perbaikan kehidupan sosial, dimana agama dipahami dengan akal suci dan diamalkan untuk memecahkan masalah kehidupan nyata (Ardianto & Fauzi, 2. Ahmad Dahlan memandang bahwa pendidikan bukan sekadar transmisi ilmu pengetahuan, melainkan sarana pembentukan kepribadian dan transformasi sosial yang komprehensif (Izzati et al. , 2. Jurnal Karya Ilmiah 25 . : 249 - 262 (September 2. Transformasi Pendidikan IndonesiaA Konsep pendidikan berkemajuan Ahmad Dahlan mengintegrasikan tiga dimensi fundamental: pendidikan moral . , pendidikan individu, dan pendidikan sosial (Dewi et al. Pendidikan moral menjadi fondasi utama yang membentuk karakter peserta didik berdasarkan nilai-nilai Islam yang universal. Pendidikan individu berfokus pada pengembangan mental dan gagasan yang menyeimbangkan antara keyakinan spiritual dengan kecerdasan Sementara pendidikan sosial menekankan pada pembentukan kesadaran kolektif dan tanggung jawab terhadap kemajuan masyarakat (Peterson, 2. Yang membedakan pemikiran Ahmad Dahlan adalah pendekatannya yang pragmatis terhadap wahyu, dimana ajaran agama dipahami secara kontekstual untuk memecahkan masalah kehidupan sosial (Ushie Uswatun Hasanah et al. , 2. Pendidikan dalam pandangannya bukan untuk merawat masa lalu atau mempersiapkan masa depan semata, melainkan sebagai pengalaman kehidupan itu sendiri yang memberikan makna dan solusi konkret bagi permasalahan umat (Yao, 2. Metode dan kurikulum integratif Ahmad Dahlan menggunakan pendekatan kontekstual, proses penyadaran, tabligh, dan tanya jawab (Kapas et , 2. Metode ini bertujuan untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis peserta didik, bukan hanya sekedar hafalan atau transfer pengetahuan searah. Ia menolak sistem pendidikan dogmatis yang tidak menumbuhkan kesadaran dan relevansi terhadap perkembangan zaman (Mohamed Nor & Sihes, 2. Kurikulum yang dikembangkan Ahmad Dahlan mencerminkan prinsip modernisasi dan pembaruan dalam bidang pendidikan Islam (Marlini et al. , 2. Melalui Muhammadiyah, ia mendirikan sekolah yang menyandingkan pelajaran agama dengan ilmu pengetahuan modern seperti matematika, geografi, dan ilmu alam (Miskawaih, 2. Model pendidikan ini merupakan cikal bakal integrasi antara sistem pesantren tradisional dengan pendidikan modern yang kini berkembang luas di Indonesia (Arroisi et al. , 2. Tujuan pendidikan yang dirumuskan Ahmad Dahlan adalah lahirnya intelektual ulama muslim yang memiliki keteguhan iman, ilmu yang luas, serta kuat jasmani dan rohani (Suwarsih et al. , 2. Visi ini selaras dengan isi pokok dan tujuan utama ajaran Islam, dimana pencapaian tujuan pendidikan didasarkan pada Al-Quran dan hadis sebagai sumber utama (Khaidir & Suud, 2. Namun, implementasinya dilakukan dengan pendekatan yang kontekstual dan adaptif terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Praksis transformatif dalam institusi pendidikan Implementasi pemikiran Ahmad Dahlan dalam institusi pendidikan Muhammadiyah menunjukkan komitmen terhadap transformasi sosial melalui pendidikan. Muhammadiyah berkembang pesat sebagai media dalam membangun karakter anak-anak bangsa, dengan mendirikan berbagai amal usaha mulai dari sekolah dasar, pondok pesantren, universitas, hingga panti asuhan (Aryati & Yanuarti, 2. Keunikan pendidikan Muhammadiyah terletak Copyright A 2025 Jurnal Karya Ilmiah 25 . : 249 - 262 (September 2. Aria Ahmad Mangunwibawa. Sudarnoto Abdul Hakim. Zamah Sari pada integrasi muatan-muatan Islam sebagai dasar pendidikan, sambil mendorong peserta didik untuk memiliki budi pekerti luhur dan berpikiran maju (Hamami & Nuryana, 2. Konsep tajdid atau pembaharuan yang menjadi ruh Muhammadiyah mendorong kader untuk berpikir mandiri dalam memajukan bangsa dan negara (Panca hardian Putra et al. , 2. Ahmad Dahlan menekankan pentingnya menuntut ilmu pengetahuan di mana saja dan menjadi ahli dalam berbagai bidang, dengan tetap kembali mengabdi pada Muhammadiyah dan umat (Izzati et al. , 2. Visi ini mencerminkan pendekatan global dengan akar lokal yang kuat, dimana keilmuan universal digunakan untuk memperkuat identitas dan kontribusi terhadap kemajuan bangsa. Pemikiran Dan Praksis Pendidikan Ki Hajar Dewantara Filosofi taman siswa dan pendidikan holistik Ki Hajar Dewantara, yang lahir dengan nama Raden Mas Soewardi Soerjaningrat pada 2 Mei 1889 di Yogyakarta, mengembangkan filosofi pendidikan yang dikenal sebagai "Taman Siswa" (Rahmawati et al. , 2. Konsep ini menggambarkan sekolah sebagai taman, tempat dimana anak-anak diberi kesempatan untuk tumbuh dan berkembang sesuai dengan potensi mereka masing-masing (Pollin & Retzlaff-Fyrst, 2. Filosofi ini menekankan pendidikan yang holistik, yang tidak hanya mencakup aspek akademis tetapi juga aspek moral, sosial, dan keterampilan praktis (Romadhan, 2. Pendekatan pendidikan Ki Hajar Dewantara menekankan pada kebebasan belajar, kreativitas, dan patriotism (Wahyu Sihab & Mukhsin Achmad, 2. Ia memandang pendidikan sebagai proses yang harus membebaskan potensi alamiah anak, bukan memaksakan standar atau kurikulum yang kaku. Konsep "tut wuri handayani" . i belakang memberikan doronga. , "ing madya mangun karsa" . i tengah membangun kehenda. , dan "ing ngarsa sung tuladha" . i depan memberikan telada. merefleksikan pendekatan yang student-centered dan developmentally appropriate. Visi pendidikan Ki Hajar Dewantara sangat inklusif, bertujuan memberikan pendidikan kepada semua anak Indonesia tanpa memandang status sosial atau ekonomi (Wahyu Sihab & Mukhsin Achmad, 2. Hal ini merupakan revolusi sosial dalam konteks pendidikan kolonial yang diskriminatif, dimana akses pendidikan berkualitas hanya tersedia bagi golongan elit Melalui Taman Siswa yang didirikan pada 1912, ia memperjuangkan hak-hak pendidikan bagi rakyat Indonesia, terutama untuk golongan pribumi (Iswahyudi, 2. Metodologi pembelajaran yang humanis Ki Hajar Dewantara mengembangkan metodologi pembelajaran yang menempatkan peserta didik sebagai subjek aktif dalam proses pendidikan. Pendekatan ini kontras dengan sistem pendidikan kolonial yang otoriter dan menempatkan guru sebagai satu-satunya sumber Dalam filosofi Taman Siswa, anak dipandang sebagai individu yang memiliki potensi unik dan harus dikembangkan melalui proses yang alamiah dan menyenangkan. Konsep "among" dalam sistem Taman Siswa menekankan peran guru sebagai pamong yang membimbing dan memfasilitasi proses belajar, bukan mendominasi atau memaksakan Jurnal Karya Ilmiah 25 . : 249 - 262 (September 2. Transformasi Pendidikan IndonesiaA Metodologi ini mengakui bahwa setiap anak memiliki kecerdasan dan bakat yang berbeda-beda, sehingga pendekatan pembelajaran harus disesuaikan dengan karakteristik Prinsip ini sangat progresif untuk zamannya dan memberikan dasar bagi pengembangan pendidikan yang lebih humanis dan demokratis. Integrasi budaya lokal dalam kurikulum Taman Siswa juga menunjukkan visi Ki Hajar Dewantara tentang pendidikan yang berakar pada identitas nasional. Ia tidak menolak pengetahuan modern, tetapi mengintegrasikannya dengan nilai-nilai dan kearifan lokal untuk menciptakan sintesis yang unik dan relevan dengan konteks Indonesia. Pendekatan ini memberikan landasan bagi pengembangan pendidikan multikultural dan contextual learning yang kini menjadi tren dalam pedagogi modern. Dampak sosial dan transformasi sistem pendidikan Kontribusi Ki Hajar Dewantara dalam transformasi sistem pendidikan Indonesia sangat fundamental dan berkelanjutan. Usahanya dalam memperjuangkan hak pendidikan bagi semua lapisan masyarakat telah membuka pintu akses pendidikan bagi jutaan anak Indonesia (Ardini et al. , 2. Filosofi dan nilai-nilai pendidikan yang ia anut masih menjadi landasan dalam pengembangan sistem pendidikan di Indonesia hingga saat ini (Tia Basana Hutagalung & Liesna Andriany, 2. Warisan terpenting Ki Hajar Dewantara adalah demokratisasi pendidikan, dimana ia mempelopori gagasan bahwa pendidikan berkualitas adalah hak semua anak, bukan privilese kelompok tertentu. Konsep ini telah menginspirasi kebijakan pendidikan nasional yang menekankan pemerataan akses dan kualitas pendidikan. Prinsip-prinsip pedagogis yang ia kembangkan juga memberikan fondasi bagi pengembangan kurikulum yang lebih responsif terhadap kebutuhan dan potensi peserta didik. Perbandingan Dan Sintesis Kedua Pemikiran Kesamaan visi dan pendekatan Meskipun berasal dari latar belakang yang berbeda. KH Ahmad Dahlan dan Ki Hajar Dewantara memiliki visi yang serupa tentang pendidikan sebagai instrumen transformasi sosial. Keduanya menolak sistem pendidikan yang elitis dan ekslusif, serta memperjuangkan akses pendidikan yang demokratis dan inklusif. Ahmad Dahlan melalui Muhammadiyah dan Ki Hajar Dewantara melalui Taman Siswa sama-sama menciptakan institusi pendidikan alternatif yang memberikan peluang bagi seluruh lapisan masyarakat untuk mengakses pendidikan Kedua tokoh ini juga menekankan pentingnya integrasi antara pengetahuan modern dengan nilai-nilai spiritual dan kultural. Ahmad Dahlan mengintegrasikan ilmu pengetahuan Barat dengan ajaran Islam, sementara Ki Hajar Dewantara mengintegrasikan pendidikan modern dengan kearifan budaya Jawa dan Indonesia. Pendekatan integrasi ini mencerminkan pemahaman yang mendalam bahwa pendidikan yang efektif harus mampu menyeimbangkan antara kemajuan intelektual dengan pembentukan karakter dan identitas yang kuat. Copyright A 2025 Jurnal Karya Ilmiah 25 . : 249 - 262 (September 2. Aria Ahmad Mangunwibawa. Sudarnoto Abdul Hakim. Zamah Sari Metodologi pembelajaran yang dikembangkan keduanya juga memiliki kesamaan dalam menekankan pendekatan yang student-centered dan mengembangkan kemampuan berpikir kritis. Ahmad Dahlan dengan metode tanya jawab dan proses penyadaran, serta Ki Hajar Dewantara dengan sistem among, sama-sama menempatkan peserta didik sebagai subjek aktif dalam proses pembelajaran. Keduanya menolak sistem pembelajaran yang dogmatis dan mengutamakan partisipasi aktif peserta didik dalam konstruksi pengetahuan. Perbedaan emphasis dan konteks Perbedaan utama antara kedua pemikiran terletak pada emphasis dan konteks Ahmad Dahlan lebih menekankan pada dimensi religius dan reformasi Islam, dimana pendidikan dipandang sebagai wahana dakwah dan pembentukan muslim yang modern dan progresif. Konteks pemikirannya lebih terfokus pada komunitas Muslim dan upaya untuk menyelaraskan ajaran Islam dengan perkembangan zaman modern. Sebaliknya. Ki Hajar Dewantara lebih menekankan pada dimensi nasional dan kulturan, dimana pendidikan dipandang sebagai instrumen pembentukan identitas nasional dan pemberdayaan seluruh rakyat Indonesia tanpa memandang latar belakang agama. Konteks pemikirannya lebih universal dan inklusif, meskipun tetap berakar pada kearifan budaya lokal. Perbedaan lain terletak pada pendekatan terhadap modernisasi. Ahmad Dahlan lebih eksplisit dalam mengadopsi dan mengintegrasikan elemen-elemen pendidikan modern Barat dengan ajaran Islam, sementara Ki Hajar Dewantara lebih selektif dan kritis terhadap modernisasi, dengan menekankan pentingnya mempertahankan nilai-nilai budaya lokal sebagai filter dalam mengadopsi pengaruh luar. Relevansi Dengan Sistem Pendidikan Indonesia Kontemporer 1 Implementasi dalam kurikulum nasional Pemikiran KH Ahmad Dahlan dan Ki Hajar Dewantara telah memberikan kontribusi signifikan terhadap pengembangan kurikulum pendidikan nasional Indonesia. Konsep pendidikan holistik yang menyeimbangkan aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik yang dikembangkan keduanya tercermin dalam Kurikulum 2013 yang menekankan pembelajaran tematik integratif dan pendekatan saintifik (Maraulang, 2. Lima langkah pembelajaran dalam K13 . engamati, menanya, mencari informasi, mencoba, mengkomunikasika. sejalan dengan metode pembelajaran kontekstual dan proses penyadaran yang dikembangkan Ahmad Dahlan (Khalim, 2. Prinsip student-centered learning yang ditekankan keduanya juga menjadi fondasi dalam pengembangan kurikulum yang lebih responsif terhadap kebutuhan dan potensi peserta Konsep differensiasi pembelajaran dan multiple intelligences yang kini menjadi tren dalam pendidikan modern sebenarnya telah diantisipasi oleh filosofi Taman Siswa Ki Hajar Dewantara yang mengakui keunikan setiap anak. Integrasi nilai-nilai karakter dalam kurikulum nasional juga mencerminkan warisan pemikiran kedua tokoh. Program Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) yang menekankan lima nilai utama . eligius, nasionalis, mandiri, gotong royong, dan integrita. sejalan dengan konsep Jurnal Karya Ilmiah 25 . : 249 - 262 (September 2. Transformasi Pendidikan IndonesiaA pendidikan moral dan sosial yang dikembangkan Ahmad Dahlan serta nilai-nilai patriotisme dan kemandirian yang ditekankan Ki Hajar Dewantara. Transformasi manajemen dan governance pendidikan Konsep demokratisasi pendidikan yang diperjuangkan keduanya telah menginspirasi transformasi manajemen dan governance pendidikan di Indonesia. Prinsip desentralisasi pendidikan melalui otonomi daerah mencerminkan semangat pemberdayaan komunitas lokal dalam pengelolaan pendidikan, sejalan dengan pendekatan bottom-up yang dikembangkan dalam institusi Muhammadiyah dan Taman Siswa. Konsep school-based management yang menekankan partisipasi aktif seluruh stakeholder pendidikan . uru, siswa, orang tua, masyaraka. dalam pengambilan keputusan juga sejalan dengan prinsip among dan gotong royong yang ditekankan Ki Hajar Dewantara. Pendekatan ini mengakui bahwa pendidikan yang efektif memerlukan kolaborasi dan sinergi antara berbagai pihak. Pengembangan sistem penjaminan mutu pendidikan yang menekankan pada peningkatan kualitas pembelajaran dan hasil belajar siswa juga mencerminkan warisan pemikiran Ahmad Dahlan tentang pendidikan berkemajuan yang berorientasi pada excellence dan continuous improvement. Konsep evaluasi yang tidak hanya mengukur hasil akademis tetapi juga perkembangan karakter dan keterampilan hidup sejalan dengan pendekatan holistik yang dikembangkan keduanya. Respons terhadap tantangan kontemporer Dalam menghadapi tantangan globalisasi dan perubahan sosial yang cepat, pemikiran kedua tokoh ini memberikan framework yang relevan untuk pengembangan pendidikan Indonesia. Konsep pendidikan sepanjang hayat . ifelong learnin. yang kini menjadi paradigma global sebenarnya telah diantisipasi oleh Ahmad Dahlan dengan nasihatnya untuk terus menuntut ilmu pengetahuan di mana saja (Dewi et al. , 2. Tren pendidikan multikultural dan inklusif yang menjadi kebutuhan dalam masyarakat yang semakin plural juga sejalan dengan visi Ki Hajar Dewantara tentang pendidikan yang menghargai keberagaman dan memberikan kesempatan yang sama bagi semua anak. Konsep unity in diversity yang menjadi filosofi bangsa Indonesia tercermin dalam pendekatan integratif yang dikembangkan keduanya. Emphasis pada pengembangan keterampilan abad 21 . ritical thinking, creativity, dikembangkan keduanya. Metode tanya jawab dan proses penyadaran Ahmad Dahlan mengembangkan kemampuan berpikir kritis, sementara sistem among Ki Hajar Dewantara mengembangkan kreativitas dan kemampuan berkolaborasi. Implikasi Terhadap Perkembangan Teknologi Pendidikan 1 Integrasi teknologi dalam filosofi pendidikan Perkembangan teknologi digital dalam pendidikan memerlukan framework filosofis yang kuat untuk memastikan bahwa teknologi benar-benar melayani tujuan pendidikan, bukan Copyright A 2025 Jurnal Karya Ilmiah 25 . : 249 - 262 (September 2. Aria Ahmad Mangunwibawa. Sudarnoto Abdul Hakim. Zamah Sari Pemikiran KH Ahmad Dahlan dan Ki Hajar Dewantara memberikan landasan konseptual yang relevan untuk integrasi teknologi yang bermakna dalam pendidikan. Prinsip bahwa teknologi harus digunakan untuk memecahkan masalah kehidupan nyata sejalan dengan pendekatan pragmatis Ahmad Dahlan terhadap pengetahuan (Supriadi et al. , 2. Konsep personalized learning yang difasilitasi oleh teknologi adaptive learning sejalan dengan filosofi Taman Siswa yang mengakui keunikan setiap anak. Platform pembelajaran digital yang dapat menyesuaikan konten dan metode pembelajaran dengan gaya belajar individual mencerminkan implementasi modern dari prinsip among yang dikembangkan Ki Hajar Dewantara. Penggunaan teknologi untuk democratization of education, seperti massive open online courses (MOOC. dan platform pembelajaran online yang accessible, sejalan dengan visi demokratisasi pendidikan yang diperjuangkan keduanya. Teknologi dapat menjadi alat untuk mewujudkan cita-cita pendidikan untuk semua yang telah mereka gagas lebih dari satu abad yang lalu. Pembelajaran hybrid dan blended learning Pandemi COVID-19 telah mempercepat adopsi pembelajaran hybrid dan blended learning di Indonesia. Dalam konteks ini, pemikiran kedua tokoh memberikan guidance untuk implementasi yang efektif. Prinsip bahwa pendidikan adalah pengalaman kehidupan itu sendiri yang ditekankan Ahmad Dahlan mengingatkan bahwa teknologi harus digunakan untuk memperkaya pengalaman belajar, bukan menggantikan interaksi manusiawi yang fundamental (Zamzami & K, 2. Konsep among dalam sistem pembelajaran hybrid memerlukan redefinisi peran guru sebagai facilitator yang dapat memberikan guidance baik dalam setting online maupun offline. Teknologi dapat membantu guru untuk lebih efektif dalam memberikan feedback individual dan menciptakan community of learners yang kolaboratif, sejalan dengan prinsip gotong royong yang ditekankan Ki Hajar Dewantara. Integrasi teknologi dalam pembelajaran agama dan nilai-nilai karakter, yang menjadi emphasis Ahmad Dahlan, memerlukan pendekatan yang thoughtful untuk memastikan bahwa esensi spiritual dan moral tidak hilang dalam digitalisasi. Penggunaan multimedia, virtual reality, dan gamification dapat memperkaya pembelajaran nilai-nilai, tetapi harus tetap berpusat pada pengembangan karakter yang autentik. Artificial intelligence dan future of education Perkembangan artificial intelligence (AI) dalam pendidikan membuka peluang dan tantangan baru yang memerlukan wisdom dari pemikiran klasik. Konsep kecerdasan . l-had. yang ditekankan Ahmad Dahlan sebagai kemampuan untuk memahami akar masalah dan memecahkan permasalahan melalui dialog reflektif (Chen et al. , 2. memberikan framework untuk memahami relasi antara human intelligence dan artificial intelligence. AI dapat membantu dalam implementasi pendekatan diagnostik dan adaptive yang sejalan dengan prinsip individual differences yang ditekankan Ki Hajar Dewantara. Sistem AI Jurnal Karya Ilmiah 25 . : 249 - 262 (September 2. Transformasi Pendidikan IndonesiaA yang dapat menganalisis pola belajar siswa dan memberikan rekomendasi pembelajaran yang personal mencerminkan implementasi teknologi dari filosofi Taman Siswa. Namun, penggunaan AI dalam pendidikan juga harus mempertimbangkan aspek ethical dan humanistic yang ditekankan kedua tokoh. Teknologi tidak boleh menggantikan peran fundamental guru dalam membentuk karakter dan memberikan teladan moral. Prinsip "ing ngarsa sung tuladha" mengingatkan bahwa kepemimpinan moral dan spiritual tidak dapat sepenuhnya didelegasikan kepada teknologi. Digital citizenship dan literasi teknologi Konsep digital citizenship yang kini menjadi crucial dalam era digital dapat diperkaya dengan pemikiran kedua tokoh tentang citizenship yang bertanggung jawab. Pendidikan moral dan sosial yang ditekankan Ahmad Dahlan sangat relevan dalam konteks penggunaan teknologi yang ethical dan bertanggung jawab. Nilai-nilai seperti honesty, respect, dan social responsibility perlu diterjemahkan dalam konteks digital environment. Literasi teknologi yang critical dan reflective sejalan dengan metode pembelajaran yang mengembangkan kemampuan berpikir kritis yang ditekankan keduanya. Siswa perlu dibekali dengan kemampuan untuk mengevaluasi informasi digital, memahami bias dalam algoritma, dan menggunakan teknologi untuk tujuan yang constructive. Integrasi local wisdom dalam era global yang digital juga mencerminkan pendekatan balancing yang dikembangkan Ki Hajar Dewantara. Teknologi global perlu di-localize dengan nilai-nilai dan kearifan lokal untuk menciptakan digital culture yang authentically Indonesian. Kesimpulan Pemikiran dan praksis pendidikan KH Ahmad Dahlan dan Ki Hajar Dewantara telah memberikan kontribusi fundamental terhadap pengembangan sistem pendidikan Indonesia yang unik dan bermakna. Kedua tokoh ini berhasil menciptakan sintesis antara nilai-nilai universal dengan kearifan lokal, antara modernitas dengan spiritualitas, serta antara individual excellence dengan social responsibility. Visi mereka tentang pendidikan sebagai instrumen transformasi sosial dan pembentukan karakter bangsa tetap relevan dan menginspirasi dalam menghadapi tantangan pendidikan kontemporer. Dalam era digital dan globalisasi saat ini, warisan pemikiran keduanya memberikan framework yang kaya untuk mengintegrasikan teknologi dalam pendidikan secara meaningful dan ethical. Prinsip-prinsip seperti studentcentered learning, holistic education, democratic access, dan integration of values menjadi landasan yang solid untuk mengembangkan inovasi pendidikan yang responsif terhadap kebutuhan abad 21 tanpa kehilangan identitas dan nilai-nilai fundamental. Tantangan ke depan adalah bagaimana mengoperasionalisasikan visi transformatif kedua tokoh ini dalam konteks yang semakin kompleks dan dinamis. Hal ini memerlukan komitmen kolektif dari seluruh stakeholder pendidikan untuk terus mengembangkan praksis pendidikan yang faithful terhadap warisan filosofis mereka, namun juga adaptive terhadap perkembangan zaman. Dengan demikian, cita-cita mereka tentang pendidikan yang membebaskan, memberdayakan, dan Copyright A 2025 Jurnal Karya Ilmiah 25 . : 249 - 262 (September 2. Aria Ahmad Mangunwibawa. Sudarnoto Abdul Hakim. Zamah Sari memajukan bangsa dapat terus diwujudkan dalam realitas pendidikan Indonesia yang Daftar Pustaka