Evaluasi Drug Related Problems (DRP. pada Pasien Anak ISPA Bagian Atas di Klinik Pratama St. Carolus Paseban Periode Juli-September 2024 | Sari et al. Evaluasi Drug Related Problems (DRP. pada Pasien Anak ISPA Bagian Atas di Klinik Pratama St. Carolus Paseban Periode JuliSeptember 2024 Anastasya Chandra Sari1*. Fransisca Dhani Kurniasih1. Ritha Widyapratiwi1 Program Studi Farmasi. Institut Sains dan Teknologi Nasional *Email : anastasyaanastasya98@gmail. ABSTRAK Infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) merupakan infeksi yang menyerang saluran pernapasan bagian atas maupun bawah yang bersifat menular, tingkat keparahan dapat bervariasi dari ringan hingga mengancam jiwa. Tingkat keparahan dipengaruhi jenis mikroorganisme penyebab, faktor lingkungan, kondisi kesehatan individu. Faktor yang dapat menghambat keberhasilan terapi ISPA adalah adanya masalah terkait obat atau Drug Related Problems (DRP. meliputi ketidaktepatan dosis, interaksi antar obat, pemilihan obat kurang sesuai, serta penggunaan obat tanpa indikasi atau adanya indikasi tidak diikuti pemberian obat. Penelitian bertujuan mengidentifikasi, menganalisis, dan mengevaluasi DRPs pada pasien ISPA saluran atas. Metode penelitian deskriptif cross-sectional menggunakan data rekam medis pasien tahun 2024. Sebanyak 107 pasien memenuhi kriteria inklusi. Hasil temuan DRPs dosis rendah 67 pasien . %), dosis tinggi 1 pasien . %), penggunaan obat tanpa indikasi 7 pasien . %), indikasi tanpa obat 1 pasien . %), interaksi obat 16 pasien . %). Pentingnya peran apoteker dalam memantau penggunaan obat guna menekan kejadian DRPs dan mendukung efektivitas terapi pasien ISPA. Kata kunci : DRP, evaluasi, infeksi saluran pernafasan akut, obat ISPA. Evaluation of Drug Related Problems (DRP. in Pediatric Patients with Upper ARI at St. Carolus Paseban Primary Clinic during July-September 2024 period ABSTRACT Acute Respiratory Infections (ARI. were infectious diseases that affected both the upper and lower respiratory tracts. They were contagious and could range in severity from mild to life-threatening. The severity was influenced by the type of microorganisms that caused the infection, environmental factors, and the individual's health condition. Factors that hindered the success of ARI therapy included Drug Related Problems (DRP. , such as inappropriate dosing, drug interactions, unsuitable drug selection, and the use of medications without indications or indications not followed by medication administration. This study aimed to identify, analyze, and evaluate DRPs in patients with upper respiratory A descriptive cross-sectional method was employed, utilizing medical records data from patients in 2024. A total of 107 patients met the inclusion criteria. The findings revealed low-dose DRPs in 67 patients . %), high-dose DRPs in 1 patient . %), use of medication without indication in 7 patients . %), indication without medication in 1 patient . %), and drug interactions in 27 patients . %). The crucial role of pharmacists in monitoring medication use was emphasized to reduce the incidence of DRPs and support the effectiveness of ARI therapy. Keywords: Acute Respiratory Infections. DRPs. Evaluation. Medication for Acute Respiratory Infections. Sainstech Farma Vol 19 No. Januari 2026 | 13 Evaluasi Drug Related Problems (DRP. pada Pasien Anak ISPA Bagian Atas di Klinik Pratama St. Carolus Paseban Periode Juli-September 2024 | Sari et al. PENDAHULUAN Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) merupakan penyakit menular pada saluran pernapasan atas maupun bawah dengan gejala muncul cepat seperti demam, batuk, pilek, hingga sesak napas. Data SKI 2023 mencatat 531 kasus ISPA di Indonesia, dengan 9,84% terjadi pada balita. Meskipun jumlahnya lebih kecil dibanding usia lain, balita dan anak tetap menjadi kelompok paling rentan sehingga memerlukan perhatian khusus dalam pencegahan dan terapi. Permasalahan terapi ISPA pada anak salah satunya terkait Drug Related Problems (DRP. yang dapat menurunkan efektivitas atau meningkatkan risiko efek samping. Anak lebih rentan karena memiliki karakteristik fisiologis berbeda dengan dewasa, keterbatasan sediaan obat yang sesuai, serta penggunaan off-label. Penelitian menunjukkan tingginya ketidaktepatan dosis dan indikasi pada pasien pediatri ISPA, namun studi mengenai DRPs di Klinik Pratama St. Carolus Paseban belum pernah Berdasarkan permasalahan penelitian ini difokuskan pada identifikasi dan analisis DRPs yang terjadi pada pasien pediatri dengan ISPA, khususnya terkait ketidaktepatan indikasi, ketidaksesuaian dosis, terapi obat yang tidak diperlukan, kebutuhan terapi obat tambahan, serta potensi interaksi Alasan penelitian ini dilakukan adalah karena pasien pediatri merupakan kelompok dengan risiko tinggi terjadinya DRPs akibat kompleksitas perhitungan dosis, perbedaan farmakokinetik, serta ketersediaan formulasi obat yang terbatas. Oleh karena itu, hipotesis penelitian ini adalah bahwa terdapat DRPs yang signifikan pada pasien pediatri dengan ISPA di Klinik Pratama St. Carolus Paseban. Maksud penelitian ini adalah mengevaluasi terapi obat pada pasien pediatri ISPA dengan mengidentifikasi jenis dan frekuensi Drug Related Problems (DRP. , khususnya ketidaktepatan indikasi, ketidaksesuaian dosis, dan potensi interaksi obat. Penelitian ini diharapkan bermanfaat sebagai tambahan literatur, masukan bagi tenaga kesehatan dalam penggunaan obat yang rasional dan aman, serta mendukung peningkatan mutu pelayanan farmasi klinik di Klinik Pratama St. Carolus Paseban. Ruang lingkup penelitian ini difokuskan pada pasien pediatri berusia 0Ae18 tahun berdasarkan kemenkes RI tahun 2014 dengan diagnosis ISPA yang berobat di Klinik Pratama St. Carolus Paseban. Evaluasi terapi obat DRPs ketidaktepatan indikasi, ketidaksesuaian dosis, terapi obat yang tidak diperlukan, kebutuhan obat tambahan, serta potensi interaksi obat. METODOLOGI PENELITIAN Penelitian ini merupakan studi deskriptif kuantitatif dengan pendekatan retrospektif dan desain potong lintang . ross-sectiona. yang bertujuan menggambarkan penggunaan terapi ISPA pada satu periode tertentu. Subjek penelitian adalah 130 pasien anak dengan ISPA bagian atas di Klinik St. Carolus Paseban, dengan jumlah sampel ditentukan menggunakan rumus Slovin. Adapun Kriteria Inklusi yaitu rekam medis pasien dengan ISPA tanpa penyakit penyerta, rekam medis dengan data administrasi lengkap seperti nama pasien, jenis kelamin, usia, diagnosis, nama obat yang diberikan, pasien ISPA dengan usia 0-18 tahun. Kriteria ekslusi yaitu pasien ISPA yang merupakan anggota dari tenaga kesehatan klinik dan pasien ISPA bawah. Data diambil dari rekam medis, kemudian dianalisis untuk mengidentifikasi variabel terkait Drug Related Problems (DRP. meliputi ketidaktepatan indikasi, ketidaksesuaian dosis, serta potensi interaksi obat, dan disajikan secara deskriptif. ycA 1 N . ycu= Keterangan n: sampel yang diambil N: banyaknya populasi ycu= 1 N. ycu= 1 130 . ycu= 1 130 . ,0. ycu= ycu = 98 Dari 130 rekam medis dengan margin error 5% . ingkat kepercayaan 95%), diperoleh sampel 98 rekam medis. Untuk mengantisipasi data rusak ditambahkan 10%, sehingga total sampel yang dianalisis adalah 107 rekam medis periode JuliAeSeptember 2024. HASIL DAN PEMBAHASAN Dari Tabel 1 terlihat bahwa pasien ISPA berjenis kelamin laki-laki mendominasi dengan persentase 67%, sejalan dengan temuan Setya . bahwa laki-laki lebih rentan terhadap ISPA karena aktivitas luar rumah yang lebih sering sehingga meningkatkan paparan infeksi. Sementara itu, perempuan hanya 33%, diduga karena perlindungan hormon estrogen yang berperan memperkuat sistem imun (Setya, 2. Hasil menunjukkan kasus terbanyak pada usia 5Ae12 tahun . %). Hal ini dipengaruhi faktor gizi, pola hidup, paparan asap rokok, kepadatan tempat tinggal, interaksi sosial di sekolah meningkatkan risiko Usia sekolah rentan akibat kondisi ruang kelas Sainstech Farma Vol 19 No. Januari 2026 | 14 Evaluasi Drug Related Problems (DRP. pada Pasien Anak ISPA Bagian Atas di Klinik Pratama St. Carolus Paseban Periode Juli-September 2024 | Sari et al. padat, ventilasi kurang memadai, paparan polusi, perilaku kebersihan belum optimal. Sejalan dengan penelitian sebelumnya yang melaporkan prevalensi ISPA tinggi pada kelompok usia sekolah karena aktivitas luar rumah lebih sering dan paparan lingkungan yang tidak sehat (Handayani, 2. Tabel 1. Persentase pasien ISPA bagian atas berdasarkan usia. Kategori Karakteristik Pasien Jumlah Pasien Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan Usia 0-28 hari . 1 bulan Ae 4 tahun ( balit. 5-12 tahun . 12-18 tahun . Tabel 2. Persentase profil penggunaan obat oral pasien ISPA di klinik Pratama St. Carolus Paseban. Golongan Zat Aktif Nama Obat Jumlah Pasien Analgesik-Antipiretik Parasetamol Parasetamol Antihistamin Setirizin Setirizin CTM CTM Loratadin Loratadin Ambroksol Ambroksol Mukolitik Antitusif Kodein Kodein Antibiotik Amoksisilin Amoksisilin Kotrimoksazol Kotrimoksazol Klindamisin Klindamisin Ekspektoran Guaifenesin Guaifenesin Kortikosteroid Deksametason Deksametason Metilprednisolon Metilprednisolon Salbutamol Salbutamol Bronkodilator Jumlah Total (N=. Golongan terapi dengan persentase penggunaan obat oral ISPA terbanyak adalah antihistamin CTM . %) yang efektif meredakan bersin dan rinore meski terbatas pada obstruksi nasal (Hasanah et al. , 2. Obat kedua terbanyak adalah mukolitik ambroksol . %), yang membantu mengencerkan dahak dan banyak diresepkan pada pasien ISPA dengan batuk, terutama balita (Hafni et al. , 2. Antibiotik amoksisilin digunakan pada 56% kasus karena spektrum luas terhadap bakteri penyebab ISPA, sehingga menjadi terapi lini pertama sesuai rekomendasi Kemenkes (Swandar et , 2. Selain itu, antipiretik parasetamol . %) juga banyak digunakan sebagai penurun demam dan pereda Dari 107 kasus pasien pediatri ISPA di Klinik Pratama St. Carolus Paseban, sebanyak 67 pasien . %) mendapat dosis rendah dan 40 pasien . %) tidak. Kasus terbanyak adalah pemberian CTM dengan 34 kasus. CTM . ntihistamin generasi pertam. dan loratadin . enerasi kedu. diresepkan dalam dosis lebih rendah dari rekomendasi, dengan alasan mengurangi efek sedatif CTM sekaligus mempertahankan efektivitas terapi melalui kombinasi dengan loratadin. Dari 107 kasus pasien pediatri ISPA di Klinik Pratama St. Carolus Paseban, hanya 1 kasus . %) mengalami dosis tinggi, yaitu pada penggunaan loratadin yang melebihi Dosis tinggi didefinisikan sebagai pemberian lebih dari 20% dosis standar, yang berisiko meningkatkan efek samping atau toksisitas akibat penumpukan obat, terutama bila digunakan jangka panjang (Anggraeni et al. , 2. Sainstech Farma Vol 19 No. Januari 2026 | 15 Evaluasi Drug Related Problems (DRP. pada Pasien Anak ISPA Bagian Atas di Klinik Pratama St. Carolus Paseban Periode Juli-September 2024 | Sari et al. Tabel 3. Jumlah pasien anak ISPA berdasarkan kategori DRP. Jumlah Pasien Kategori DRP Dosis Rendah Dosis Tinggi Obat tanpa Indikasi Indikasi tanpa Obat Ada Tidak Ada Tabel 4. Kasus DRP obat tanpa indikasi pada pasien anak ISPA. DRP Nama Gejala Nama Obat Obat Tanpa Indikasi Demam. Tenggorokan sakit Amoksisilin. Kodein. Deksametason. Parasetamol Batuk. Pilek Amoksisilin. CTM. Deksametason. Guaifenesin. Salbutamol Pemberian salbutamol kurang tepat karena pasien tidak mengalami sesak napas. Batuk. Pilek Amoksisilin. Parasetamol. CTM. Deksametason. Guaifenesin Pemberian parasetamol pada pasien AU kurang tepat karena pasien tidak memiliki gejala demam. Parasetamol adalah obat analgesik-antipiretik yang biasa digunakan untuk pasien dengan gejala demam Indikasi Tanpa Obat Batuk. Demam Parasetamol. CTM. Deksametason. Guaifenesin Batuk Amoksisilin. Parasetamol. CTM. Guaifenesin. Metilprednisolon Batuk. Pilek. Demam Parasetamol. Ambroksol. Loratadin. Salbutamol. CTM. Deksametason Keterangan Pemberian kodein pada pasien KA kurang tepat karena kodein diperuntukkan untuk mengobati batu kering, namun pasien hanya memiliki keluhan demam dan sakit Pemberian deksametason dan ctm pada pasien RA kurang tepat karena pasien hanya memiliki gejala batuk dan demam tanpa disertai radang dan alergi. deksametason untuk gejala radang, dan ctm untuk gejala alergi Pemberian parasetamol pada pasien MR kurang tepat karena pasien tidak memiliki gejala demam. Parasetamol adalah obat analgesik-antipiretik yang biasa digunakan untuk pasien dengan gejala demam Pasien KF mendapat terapi obat salbutamol. Pemberian salbutamol kurang tepat karena pasien tidak memiliki gejala sesak nafas. Batuk. Pilek kodein. Ambroksol. Parasetamol. CTM Pemberian parasetamol pada pasien PT kurang tepat karena pasien tidak memiliki gejala demam. Parasetamol adalah obat analgesik-antipiretik yang biasa digunakan untuk pasien dengan gejala demam. Batuk. Demam. Pilek Amoksisilin. Ambroksol. Loratadin. CTM Pasien AG dengan gejala batuk, demam, dan Seharusnya menerima parasetamol untuk mengobati demamnya. Sainstech Farma Vol 19 No. Januari 2026 | 16 Evaluasi Drug Related Problems (DRP. pada Pasien Anak ISPA Bagian Atas di Klinik Pratama St. Carolus Paseban Periode Juli-September 2024 | Sari et al. Tabel 5. Pasien ISPA yang mengalami interaksi obat Kategori Minor Frekuensi Moderate Jumlah N= 107 Penggunaan obat tanpa indikasi medis dapat berpotensi menimbulkan risiko yang signifikan bagi Meskipun obat-obatan sering kali dianggap aman, penggunaan yang tidak tepat dapat menyebabkan efek samping yang serius, interaksi obat dan resistensi. Selain itu pemberian obat tanpa dasar indikasi yang jelas justu dapat mengalihkan fokus dari pendekatan terapetik yang lebih efektif dan tepat sasaran. DRPs indikasi tanpa obat adalah jika pasien memiliki masalah medis dan tidak minum obat karena suatu indikasi yang memerlukan terapi obat suatu kondisi medis yang memerlukan penggunaan obat masalah mungkin timbul. Obat yang berpotensi mengalami interaksi obat ditelusuri menggunakan drugs. com, medscape. com, dengan demikian diperoleh dengan interaksi obat terbanyak pada kategori moderate yaitu 12 interaksi . %). penelitian ini sejalan dengan Gadis . menyatakan bahwa interaksi terbanyak terjadi pada kategori moderate yaitu sebanyak 99 . ,61%) obat (Gadis, 2. Potensi interaksi obat yang terbesar pada penelitian ini adalah penggunaan deksametasone ambroxol yaitu 9 kasus. Risiko atau tingkat keparahan Dexamethasone dikombinasikan dengan Ambroxol. Penggunaan anestesi lokal telah dikaitkan dengan perkembangan methemoglobinemia, suatu efek samping yang jarang tetapi serius dan berpotensi fatal. Penggunaan anestesi lokal secara bersamaan dengan agen pengoksidasi seperti agen antineoplastik dapat meningkatkan risiko terjadinya methemoglobinemia (Faust, 2. Pada penggunaan terapi obat kombinasi deksametason - salbutamol, meskipun sering digunakan bersama dalam praktik klinis, penggunaan bersamaan agonis adrenergik beta-2 dan kortikosteroid dapat menghasilkan efek hipokalemia yang bersifat aditif. Karena agonis beta-2 kadang-kadang dapat menyebabkan perpanjangan interval QT, perkembangan hipokalemia dapat meningkatkan risiko aritmia ventrikular, termasuk torsade de pointes. Namun, data klinis yang ada terbatas, dan signifikansi potensialnya masih belum diketahui. Pasien yang menerima formulasi sistemik atau nebulisasi dari agonis beta-2, dosis tinggi dari agonis beta-2 inhalasi, atau terapi kortikosteroid sistemik mungkin berisiko lebih besar untuk mengalami hipokalemia. (Drug. com, 2. Menurut penelitian sumatri . terapi kombinasi antara dexametason dengan salbutamol juga bekerja saling sinergi yaitu dexametason memiliki mekanisme kerja antiinflamasi dengan memblok alergen, menurunkan jumlah sel yang terinflamasi dan salbutamol memiliki mekanisme kerja bronkodilatasi. Namun, penggunaan kombinasi obat antara dexametason dengan salbutamol tersebut kurang efektif karena kedua obat tersebut memiliki efek samping yang sama yaitu hipokalemia (Sumantri, 2. KESIMPULAN Hasil penelitian menunjukkan mayoritas pasien ISPA bagian atas adalah laki-laki . %) dengan usia terbanyak 5Ae12 tahun . %). Obat yang paling sering diresepkan yaitu antihistamin CTM . %), mukolitik ambroksol . %), dan antibiotik amoksisilin . %). Evaluasi DRPs menunjukkan 63% kasus dosis rendah, 1% dosis tinggi, 7% obat tanpa indikasi, 1% indikasi tanpa obat, serta 15% interaksi obat. DAFTAR PUSTAKA