PENGARUH PENAMBAHAN ENZIM FITASE PADA RANSUM DENGAN LEVEL PROTEIN BERBEDA TERHADAP RETENSI NITROGEN DAN PENGGUNAAN PROTEIN NETTO (PPN) AYAM BROILER (PHYTASE ENZYMES SUPLEMENTED IN THE DIETARY PROTEIN LEVEL DIET ON NITROGEN RETENTION AND NET PROTEIN UTILIZATION (NPU) OF BROILER CHICKENS) Kartika Tris Apriliyana*). Edjeng Suprijatna** dan Umiyati Atmomarsono** Laboratorium Ternak Unggas Fakultas Peternakan dan Pertanian. Universitas Diponegoro Jln. Kampus drh. Soejono Kusumowardojo Tembalang. Semarang 50275 E-mail : teeka. tries@gmail. *)Mahasiswa Pasca Sarjana Fakultas Peternakan dan Pertanian Universitas Diponegoro **)Staff Pengajar Pasca Sarjana Fakultas Peternakan dan Pertanian Universitas Diponegoro ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji penggunaan enzim fitase dalam ransum pada level protein yang tepat untuk meningkatkan retensi nitrogen dan penggunaan protein netto (PPN) ayam Materi yang digunakan dalam penelitian adalah ayam broiler dengan bobot badan 108,14 A 11,44 g (CV 10,58%) umur 1 minggu sebanyak 128 ekor . yang dipelihara dalam 16 unit kandang selama 6 minggu, masing-masing unit berisi 8 ekor ayam. Penambahan fitase dilakukan pada minggu kedua pemeliharaan. Rancangan percobaan yang digunakan adalah rancangan acak lengkap dengan 4 perlakuan dan 4 ulangan yaitu T0 (Ransum protein 23%). T1 (Ransum protein 21% fitase 1000 FTU/k. T2 (Ransum protein 23% enzim fitase 1000 FTU/k. T3 (Ransum protein 23% mineral 1%). Data dianalisis ragam menggunakan uji F pada level 5%. Uji Duncan dilakukan untuk melihat perbedaan antar perlakuan apabila terdapat pengaruh perlakuan. Parameter penelitian meliputi konsumsi nitrogen, retensi nitrogen dan penggunaan protein netto (PPN). Hasil penelitian perlakuan menunjukkan berpengaruh nyata (P<0,. terhadap konsumsi nitrogen dan retensi nitrogen, tetapi tidak berpengaruh (P>0,. terhadap penggunaan protein netto (PPN). Kesimpulan dalam penelitian penambahan fitase dalam ransum protein rendah dan tinggi belum meningkatkan retensi nitrogen, tetapi mampu menghasilkan penggunaan protein netto (PPN) yang lebih baik. Kata kunci : enzim fitase, level protein, retensi nitrogen, broiler ABSTRACT The research was conducted to studying the effect of phytase enzymes suplemented in the dietary protein level diet on nitrogen retention and net protein utilization (NPU) of broiler chickens. Material the research used were 128 broiler chickens at 8 days old initial body weight 108,14 A 11,44 g (CV 10,58%) housed in 16 pen for 6 weeks. Completely Randomized Design (CRD) involving 4 treatments with 4 replications were used in this study. They were T0 . % protein die. T1 . % protein diet 1000 FTU phytase enzyme. T2 . % protein diet 1000 FTU phytase enzyme. T3 . % protein ration 1% bone mea. The data was analyzed using F test to determine the effect of treatment, continued by Duncan's multiple range test with probability level at 5% if any significant effect was found. Parameters research were nitrogen consumption, nitrogen retention and net protein utilization (NPU). The results showed that the suplemented of phytase enzymes in the diet that there was significant effect (P<0,. on the nitrogen consumption and nitrogen retention, but net protein utilization (NPU) did not affected (P<0,. The conclusion of this phytase enzymes suplemented in the 21% and 23% protein ration results have not affected in nitrogen retention with better net protein utilization (NPU). Key words : phytase enzymes, protein level, nitrogen retention, broiler chickens. ,Vol. No. 2 September 2015 PENDAHULUAN Asam fitat merupakan zat antinutrisi yang terdapat dalam kacang-kacangan yang dapat bervalensi dengan mineral (Ca. Mg. Zn. dan protein sehingga menyebabkan terjadinya gangguan kecernaan yang dapat menurunkan nilai Ketersediaan protein sebagai substrat dalam tubuh berhubungan erat dengan metabolisme protein khususnya proses deposisi protein yang menunjang pertumbuhan (Suzuki et al. , 1. Terbentuknya senyawa fitat-mineral atau fitat-protein yang tidak larut dapat menyebabkan penurunan ketersediaan mineral dan nilai gizi protein pakan. Mineral-mineral dan protein yang membentuk komplek dengan fitat tersebut tidak dapat diserap oleh dinding usus bagi ternak (Kornegay et al. , 1. Trisiwi et . menyebutkan bahwa ketidakseimbangan asam-asam amino berpengaruh terhadap efisiensi penggunaan protein. Tillman et al. , menyatakan bahwa konsumsi energi yang cukup penting untuk mengevaluasi kualitas protein berdasarkan retensi nitrogen, jika retensi nitrogen menurun maka kualitas protein ransum rendah, yaitu jumlah asam amino kurang atau komposisi asam amino tidak Asam fitat yang berinteraksi dengan protein dan mineral perlu diurai karena ayam tidak dapat mengkatalis asam fitat, sehingga diberikan enzim fitase untuk meningkatkan kecernaan nutrisi, dalam hal ini yaitu retensi nitrogen dan penggunaan protein netto ransum. Enzim fitase merupakan enzim yang dapat mengkatalisis reaksi hidrolisis asam fitat dan menghasilkan ortofosfat anorganik serta senyawa inositol fosfat yang lebih rendah. Enzim fitase dapat mengatasi efek negatif dari asam fitat terhadap performan ternak. Penggunaan enzim sebagai suplementasi dalam ransum dapat menguntungkan secara ekonomi bila dapat meningkatkan secara nyata efisiensi ransum dan menekan harga ransum. Suplementasi enzim fitase Natuphos sebanyak 500 fitase total unit (FTU)/kg pada ransum ayam broiler yang mengandung P-tersedia rendah . untuk umur 1 hariAe3 minggu dan 0. untuk ayam umur 3Ae6 mingg. , mampu memperbaiki performan dan meningkatkan penggunaan mineral P. Ca. Mg dan Zn (Viveros et al. , 2. Retensi nitrogen pada penelitian Yusriani . sebesar 76,73% pada perlakuan bungkil biji jarak pagar fermentasi 5% ditambahkan 1000 FTU lebih baik dibandingkan dengan perlakuan bungkil biji jarak pagar fermentasi ditambahkan enzim selulase. Unggas tidak dapat menghasilkan enzim fitase pemecah asam fitat sehingga perlu diberikan enzim fitase dalam pakan, hal ini bertujuan untuk meningkatkan penyerapan nutrisi protein ransum dan penggunaan protein netto. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengkaji penggunaan enzim fitase dalam ransum pada level protein yang tepat untuk meningkatkan retensi nitrogen dan penggunaan protein netto (PPN) ayam broiler. Hasil penelitian ini bermanfaat untuk memberikan informasi serta mengetahui retensi nitrogen dan penggunaan protein netto (PPN) ayam broiler akibat pengaruh penambahan enzim fitase pada ransum level protein MATERI DAN METODE Penelitian dilakukan di kandang Fakultas Peternakan dan Pertanian Universitas Diponegoro pada bulan Desember 2013-Januari 2014. Materi yang digunakan dalam penelitian adalah ayam broiler dengan bobot badan 108,14 g A 11,44 g (CV 10,58%) umur 1 minggu sebanyak 128 ekor, enzim fitase merk Natuphos 5000A, vaksin gumboro, vaksin NDIB dan vaksin ND Lasota. Komposisi dan kandungan nutrisi penyusun ransum terdapat pada Tabel 1 yang terdiri dari jagung kuning, bekatul, bungkil kedelai. PMM (Poultry Meat Mea. , tepung ikan, tepung tulang steam. Ransum dalam bentuk mash. Kandang perlakuan Kartika Tris Apriliyana*. Edjeng Suprijatna** dan Umiyati Atmomarsono** : Pengaruh Penambahan Enzim Fitase kecernaan menggunakan kandang cage sejumlah 16 buah. Ransum dan air minum diberikan ad Ransum perlakuan dengan penambahan enzim fitase diberikan mulai hari ke-8 sampai hari ke-42. Setiap akhir minggu dilakukan penimbangan bobot badan untuk mengetahui pertambahan bobot badan. Pengambilan data konsumsi protein dilakukan setiap hari dengan menimbang jumlah konsumsi ransum dikalikan dengan kadar protein Untuk pengambilan data kecernaan protein diambil 1 ekor ayam kemudian ditempatkan pada kandang cage dan dipuasakan selama 24 jam namun air minum tersedia ad libitum. Ayam diberi pakan sebanyak 70 g per ekor dengan metode force feeding setelah pemuasaan selesai. Metode force feeding tidak dilakukan dengan memasukkan pakan langsung ke tembolok, namun dengan membentuk pakan menjadi bolus . lalu dimasukkan ke mulut ayam, pakan harus habis dalam waktu 1 2 jam, namun air minum tetap disediakan Tabel 1. Bahan Ransum dan Kandungan Nutrisi Ransum Penelitian Bahan Pakan : Jagung Bekatul Tepung ikan Bungkil kedelai PMM Tepung tulang steam Enzim Fitase Jumlah Kandungan : EM . kal/k. * Protein (%)* Serat Kasar (%)* Lemak Kasar (%)* Ca (%)* P-tersedia (%)* Lysin* Metionin* Arginin* Triptofan* Vitamin B5** Vitamin B6** Fitase (U/k. ----------------------------------(%)----------------------------------------------------42,50 47,50 42,50 41,50 20,50 20,50 20,50 20,50 8,00 8,00 8,00 8,00 23,00 15,50 23,00 22,00 6,00 8,50 6,00 7,00 1,00 000 FTU 000 FTU 163,40 23,17 5,08 7,64 0,79 0,53 1,53 0,50 1,80 0,29 4,74 5,09 155,98 21,36 4,84 8,94 0,90 0,57 1,42 0,49 1,69 0,26 5,25 4,90 000,00 163,40 23,17 5,08 7,64 0,79 0,53 1,53 0,50 1,80 0,29 4,74 5,09 000,00 126,21 23,14 5,04 8,47 1,07 0,67 1,54 0,50 1,81 0,29 4,77 4,95 Sumber : * Kandungan nutrisi bahan pakan ransum dianalisis di Laboratorium Ilmu Nutrisi dan Pakan. ** Perhitungan menurut tabel Kearl . dan Wahju . Percobaan menggunakan Rancangan Acak Lengkap dengan 4 perlakuan dan 4 ulangan, setiap unit percobaan diisi 8 ekor DOC. Ransum perlakuan terdiri dari: T0 : Ransum protein 23% T1 : Ransum protein 21% enzim fitase 1000 FTU/kg T2 : Ransum protein 23% enzim fitase 1000 FTU/kg T3 : Ransum protein 23% tepung tulang 1% ,Vol. No. 2 September 2015 hingga saat penyembelihan. Empat jam setelah pakan habis dikonsumsi, ayam disembelih dan organ dalamnya Digesta diambil dari usus halus bagian ileum, yaitu 1 cm setelah Meckel's diverticulum hingga batas 1 cm sebelum ileo-ceca junction. Digesta diletakkan dalam nampan dan dijemur selama 4 hari, setelah itu dianalisis kandungan nitrogennya dengan metode mikro Kjehldahl di Laboratorium Ilmu Nutrisi dan Pakan Fakultas Peternakan dan Pertanian Universitas Diponegoro. Data diolah menggunakan sidik ragam dan apabila menunjukkan pengaruh nyata (P<0,. akibat perlakuan dilanjutkan dengan uji wilayah ganda Duncan untuk mengetahui perbedaan antar perlakuan. HASIL DAN PEMBAHASAN Pengaruh penambahan enzim fitase pada ransum ayam broiler dengan level protein berbeda terhadap konsumsi nitrogen, retensi nitrogen dan penggunaan protein netto ayam broiler disajikan dalam Tabel 2. Konsumsi Nitrogen Pengaruh penambahan enzim fitase pada ransum dengan level protein berbeda pada ayam broiler berpengaruh nyata (P<0,. terhadap konsumsi nitrogen . /ekor/har. disajikan dalam Tabel 2. Berdasarkan uji Duncan, diperoleh bahwa konsumsi nitrogen perlakuan T3 . rotein 23% mineral 1%) meningkat secara nyata dibandingkan perlakuan T0. T1 dan T2 yang disebabkan konsumsi ransum perlakuan berbeda Konsumsi nitrogen dipengaruhi oleh konsumsi ransum, semakin baik metabolisme zat-zat makanan dalam tubuh maka akan berpengaruh konsumsi Hal ini sejalan dengan Wahju . , besarnya konsumsi ransum mencerminkan besarnya protein yang Konsumsi ransum yang tinggi, maka konsumsi protein juga semakin tinggi, begitu juga sebaliknya jika konsumsi ransum rendah maka konsumsi protein juga rendah. Perlakuan T3 . rotein 23% mineral 1%) mengalami peningkatan ketersediaan fosfor bagi tubuh ternak akibat penambahan Menurut Anggorodi . , fosfor mempunyai peran dalam metabolisme Sesuai dengan penelitian Suthama . , yang menyatakan bahawa perbaikan kualitas ransum dengan menggunakan dedak padi fermentasi dan penambahan sumber mineral Ca dan P ternyata dapat meningkatkan retensi nitrogen. Penelitian ketersediaan fosfor dalam defluorionated fosfat dengan solubilitas fosfor yang berbeda oleh Coffey et al. , . , secara nyata meningkatkan konsumsi ransum, pertambahan bobot badan, konversi ransum, kekuatan tulang tibia ayam Augspurger et al. , yang menyatakan bahwa enzim fitase aktif didalam saluran pencernaan unggas. Ikatan fitat dengan fosfor lepas akibat kerja enzim fitase sehingga meningkatkan Tabel 2. Pengaruh Penambahan Enzim Fitase pada Level Protein Berbeda terhadap Konsumsi Nitrogen. Retensi Nitrogen dan Penggunaan Protein Netto Ayam Broiler Perlakuan Parameter Konsumsi Nitrogen . /eko. 2,00A0,01 b 2,19A0,02b 2,42A0,04 b 2,88A0,03 a Retensi Nitrogen . /eko. 2,99A0,01 a 2,72A0,02b 2,96A0,4 a 2,97A0,02 a Penggunaan Protein Netto 0,99A0,005 0,98A0,008 0,98A0,014 0,99A0,009 Keterangan : Superskrip berbeda pada baris yang sama menunjukkan perbedaan nyata (P<0,. Kartika Tris Apriliyana*. Edjeng Suprijatna** dan Umiyati Atmomarsono** : Pengaruh Penambahan Enzim Fitase ketersediaan mineral fosfor, protein dan Ahmed et al. , . , menyatakan bahwa konsumsi ransum, konversi ransum, bobot badan ayam broiler meningkat akibat suplementasi fitase pada ransum berbasis tepung kedelai. Retensi Nitrogen Berdasarkan analisis ragam, perlakuan penambahan enzim fitase pada ransum dengan level protein berbeda memberikan pengaruh nyata (P<0,. terhadap retensi nitrogen ayam broiler yang disajikan dalam Tabel 2. Menurut McLeod et al. yang disitasi oleh Mirnawati . bahwa retensi nitrogen pada ayam pedaging dapat mencapai 1,50-1,73 g. Menurut penelitian Yusriani et al. , enzim fitase memberikan efek yang lebih baik dari pada enzim selulase atau campuran fitase selulase dalam kombinasi dengan bungkil biji jarak pagar fermentasi dalam meningkatkan energi termetabolis dan retensi nitrogen. Hal ini disebabkan konsumsi protein dan kecernaan protein yang juga berpengaruh nyata dengan adanya penambahan enzim fitase dalam ransum yang menunjukkan semakin banyaknya nitrogen yang tertahan dalam tubuh karena adanya tambahan protein dari enzim fitase. Enzim fitase dapat memecah ikatan antara fitat dengan protein dan mineral sehingga ketersediaan nutrisi protein dan mineral Lim et al. menyatakan suplementasi enzim fitase selain dapat meningkatkan kecernaan bahan kering, lemak kasar dan mineral-mineral penting juga secara nyata dapat meningkatkan retensi nitrogen. Menurut Wahju . , meningkatnya konsumsi nitrogen diikuti dengan meningkatnya retensi nitrogen tetapi tidak selalu disertai dengan peningkatan bobot badan bila energi ransum rendah. Hasil penelitian menunjukkan T0 . ansum kontrol protein 23%) tidak berbeda dengan T2 . rotein 23% 1000 FTU/k. dan T3 . rotein 23% mineral 1%) tetapi berbeda dengan T1 . rotein 21% fitase 1000 FTU/k. Penambahan enzim fitase pada protein rendah menunjukkan retensi yang lebih kecil dibandingkan dengan retensi ransum kontrol, penambahan fitase pada protein tinggi dan ransum yang ditambahkan Akibat penambahan mineral, ketersediaan dan absorbsi mineral Metabolisme mineral selalu membutuhkan senyawa lain seperti protein, semakin banyak asupan Ca maka semakin tinggi pula aktivitas CANP yang dapat meningkatkan degradasi protein. Sorensen dan Tribe . menyatakan kalsium yang berperan dalam proses deposisi protein berasal dari kalsium ransum yang diabsorbsi di usus halus. Kalsium yang diserap masuk ke dalam darah dan ditransportasikan ke jaringan yang membutuhkan . ulang dan dagin. berada dalam tiga bentuk yaitu berupa ion bebas, terikat dengan protein, dan ion yang tidak dapat larut (Pond et al. , 1. Enzim protease yang disebut dengan CANP dapat bersifat proteolitik apabila tersedia cukup kalsium (Suzuki et al. Penggunaan Protein Netto (PPN) Penggunaan Protein Netto (PPN) menggambarkan kecepatan dan efisiensi penyerapan protein dalam ileum. Berdasarkan analisis ragam, perlakuan penambahan enzim fitase pada ransum dengan level protein berbeda tidak memberikan pengaruh nyata (P>0,. terhadap penggunaan protein netto ayam broiler pada ransum protein rendah maupun tinggi yang disajikan dalam Tabel2. Efisiensi penyerapan protein dari ransum bertaraf protein rendah yang ditambahkan fitase (T. dapat menyamai ransum bertaraf protein tinggi (T. , protein tinggi yang ditambahkan fitase (T. dan protein tinggi ditambah mineral (T. Rerata PPN pada penelitian ini yaitu 0,98A0,003, yang menunjukkan nilai lebih ,Vol. No. 2 September 2015 tinggi dibandingkan penelitian menurut Nasoetion . , yang menyatakan PPN pada ayam broiler umur 21 hari sebesar 0,80. Peningkatan kecepatan dan efisiensi penyerapan protein ditunjukkan dengan adanya peningkatan nilai penggunaan protein netto. Ransum yang memiliki keseimbangan asam amino lebih efisien untuk diserap dalam dinding usus. Trisiwi et al. menyebutkan bahwa ketidakseimbangan asam-asam amino berpengaruh terhadap efisiensi penggunaan protein. Ransum dalam penelitian ini memiliki imbangan lisin : arginin yang sama antar perlakuan sehingga tidak berdampak pada penurunan penyerapan satu sama lain. Menurut de Carvalho et al. , lisin dan arginin memiliki hubungan antagonisme, keduanya bersifat kompetitif dalam penyerapannya. Menurut McDonald et al. , asam amino yang melebihi kebutuhan didegradasi dalam hati dan dihasilkan amonia yang bersifat toksik, sebagian besar amonia pada unggas diekskresikan dalam bentuk asam urat. PPN berkaitan dengan retensi kalsium, dalam penelitian ini PPN dan retensi Ca tidak berbeda nyata antar PPN menentukan banyaknya protein yang diserap usus untuk dapat dimanfaatkan oleh ayam. Protein yang diserap dalam usus juga dimanfaatkan dalam transportasi kalsium, yaitu untuk mengikat kalsium pada mukosa usus yang dikenal sebagai calcium binding protein (CaBP). Menurut Guyton . , protein berperan dalam pengikat Ca saat proses transportasi Ca secara difusi dalam sel usus. KESIMPULAN DAN SARAN Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa penambahan fitase 1000 FTU/kg dalam ransum protein rendah dan tinggi belum meningkatkan konsumsi ransum. Penambahan fitase pada protein rendah dapat menghasilkan nilai PPN yang sama dengan ransum protein tinggi yang ditambahkan fitase dan mineral dengan retensi nitrogen yang lebih kecil. Pada ransum protein 21% yang ditambahkan fitase menunjukkan kualitas protein yang diretensi T1 lebih baik dibandingkan ransum kontrol, ransum 23% yang ditambah fitase maupun ransum 23% yang ditambahkan Dapat disarankan bahwa penambahan fitase dan mineral dalam ransum dapat digunakan untuk meningkatkan penggunaan protein netto ayam broiler. DAFTAR PUSTAKA