Ni Wayan Pasek Sinar Primayanti P-ISSN: 2655-8246 E-ISSN:2798-3730 Vol. No. Januari 2020 PENERAPAN METODE ANALISIS WACANA KRITIS UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN SISWA MEMAHAMI TEKS DESKRIPTIF DI KELAS VIIE SMP NEGERI 1 SUSUT TAHUN PELAJARAN 2015/2016 Ni Wayan Pasek Sinar Primayanti Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. STKIP Suar Bangli Bangli. Indonesia luhade@yahoo. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk . mengetahui analisis wacana kritis dapat meningkatkan pemahaman siswa kelas VIIE SMP Negeri 1 Susut terhadap teks deskripsi, . mengetahui langkahlangkah pembelajaran dengan menggunakan metode analisis wacana kritis yang dapat meningkatkan pemahaman teks deskriptif siswa kelas VIIE SMP Negeri 1 Susut, . mengetahui respons siswa kelas VIIE SMP Negeri 1 Susut terhadap pembelajaran memahami teks deskriptif dengan metode analisis wacana kritis. Jenis penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Subjek penelitian ini adalah siswa kelas VIIE SMP Negeri 1 Susut yang berjumlah 33 orang. Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode observasi. Tes, dan Kuesioner (Angke. Data yang terkumpul dianalisis dengan menggunakan 2 model analisis, yaitu analisis deskriptif kualitatif dan analisis deskriptif kuantitatif. Hasil penelitian ini adalah Penerapan metode Analisis Wacana Kritis (AWK) dapat meningkatkan kemampuan memahami teks deskriptif siswa kelas VIIE SMP Negeri 1 Susut tahun pelajaran 2015/2016. Hal ini dapat dilihat dari meningkatnya rata-rata kemampuan memahami teks deskriptif siswa dari data awal ke siklus I sebesar 17,55 dan dari siklus I ke siklus II sebesar 14,64. Sesuai dengan temuan tersebut disarankan kepada mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa, hasil penelitian ini bisa dijadikan bahan pertimbangan untuk melakukan penelitian dengan kajian yang sama dan lebih mendalam. Kata kunci : Metode AWK, memahami teks deskriptif Abstract This study aims to . find out critical discourse analysis can improve students' understanding of class VIIE SMP Negeri 1 Shrink to descriptive text, . knowing the steps of learning by using critical discourse analysis method that can improve understanding of descriptive text of class VIIE SMP Negeri 1 Shrinking, . knowing the responses of class VIIE students of SMP Negeri 1 The decline in learning to understand descriptive texts with the critical discourse analysis method. This type of research is Classroom Action Research (CAR). The subjects of this study were students of class VIIE SMP Negeri 1 Susut, amounting to 33 people. The data collection method used in this research is the method of observation, tests, and questionnaires (Questionnair. The data collected were analyzed using 2 analytical models, namely qualitative descriptive analysis and quantitative descriptive analysis. The result of this study is that the application of the Critical Discourse Analysis (AWK) method can improve the ability to understand descriptive texts for class VIIE students of SMP Negeri 1 Susut in the 2015/2016 academic year. This can be seen from the increase in the average ability to understand descriptive text of students from the initial data to the first cycle of 17. 55 and from the first cycle to the second cycle of 14. In accordance with these findings, it is recommended to students of the Language Education Study Program, the results of this study can be taken into consideration to conduct research with the same and more in-depth study. Keywords: AWK method, understand descriptive text Jurnal Pendidikan Deiksis Ni Wayan Pasek Sinar Primayanti P-ISSN: 2655-8246 E-ISSN:2798-3730 Vol. No. Januari 2020 PENDAHULUAN Berdasarkan hasil observaisi yang peneliti lakukan di lapangan pada tanggal 05 Agustus 2015 di SMP Negeri 1 Susut. Kecamatan Susut. Kabupaten Bangli. Hasil observasi di lapangan dari narasumber yaitu, salah satu guru bahasa Indonesia yang mengajar di kelas VII bernama Made Susy Aryani. Pd. Beliau menyatakan bahwa di SMP Negeri 1 Susut terdapat delapan kelas VII yang terdiri dari kelas VIIA sampai kelas VIIH masing - masing kelas terdiri dari 33 orang dan kurikulum yang diterapkan di SMP Negeri 1 Susut adalah kurikulum 2013 (K. Narasumber juga menjelaskan bahwa Kurikulum 2013 (K. merupakan kurikulum yang berbasis teks, di dalam kurikulum 2013 siswa dituntut untuk paham atas materi, aktif dalam proses berdiskusi dan presentasi serta memiliki sopan santun dan sikap disiplin yang Di dalam proses belajar mengajar yang berlangsung masih terdapat beberapa kendala yang sering ditemukan oleh narasumber salah satunya adalah kemampuan memahami teks deskriptif siswa yang masih tergolong rendah. Hal ini dapat dilihat dari tingkat skor pemahaman yang didapatkan oleh siswa masih di bawah rata-rata yang ditentukan, yaitu 68 untuk mata pelajaran Bahasa Indonesia. Rendahnya skor nilai yang didapatkan oleh siswa kelas VIIE disebabkan karena cara mengajar guru yang monoton. Guru mengajar hanya berpatokan pada contoh yang ada pada buku sehingga secara tidak langsung membuat suasana belajar siswa terlalu monoton dan menjadi membosankan yang pada akhirnya mengakibatkan nilai siswa menjadi kurang atau di bawah KKM yang telah ditentukan. Adapun metode yang digunakan oleh guru adalah metode inquiri. Inquiry artinya penyelidikan (Sumiati & Asra, 2007 : . Pembelajaran dengan metode inquiry ini melibatkan siswa untuk berperan lebih aktif dalam mengikuti pembelajaran. Namun, terdapat kendala yang ditemui saat menggunakan metode ini yaitu tidak semua siswa memiliki tingkat keaktifan yang sama sehingga ini berpengaruh pada proses belajar mengajar. Siswa akan merasa nyaman mengikuti pelajaran dengan metode ini, jika siswa memang benar-benar memiliki tingkat keaktifan yang sesuai. Sedangkan, siswa yang memiliki tingkat keaktifan yang kurang akan mengakibatkan siswa merasa jenuh dalam mengikuti pembelajaran sehingga berpengaruh pada nilai yang diperoleh. Proses pembelajaran yang diterapakan oleh guru di kelas sudah dilaksanakan sesuai dengan metode inquiry namun, dalam proses belajar mengajar guru masih belum mampu mendeskripsikan metode inquiry secara maksimal. Hal itu dapat dilihat dari beberapa langkah-langkah pembelajaran yang belum sesuai dengan metode inquiry. Oleh sebab itu guru seharusnya lebih memahami akan metode yang diterapkan di dalam pembelajaran di kelas sehingga suasana belajar siswa semakin menyenangkan. Selain itu guru hendaknya menerapkan cara baru di dalam proses belajar mengajar agar siswa tidak bosan dan siswa lebih mudah untuk memahami materi yang disampaikan oleh guru. Untuk menghindari suasana belajar siswa yang membosankan tersebut akan lebih baik jika metode inquiri ditambahkan dengan metode pembelajaran yang lain. Pada kurikulum 2013 (K. memakai pandangan dialektis bukan struktural, itu berarti teks tidak hanya dipandang berdasarkan pandangan struktural atau hanya dipandang berdasarkan pandangan formal saja melainkan teks dipandang berdasarkan pandangan struktural dan fungsional yang sering disebut dengan pandangan kritis. Oleh sebab itu penulis mengajukan Metode Analisis Wacana Kritis untuk meningkatkan kemampuan siswa memahami teks deskriptif di kelas VIIE SMP Negeri 1 Susut. Analisis Wacana Kritis (AWK) bukanlah sebuah metode pembelajaran, namun Analisis Wacana Kritis (AWK) adalah sebuah tehnik untuk mengenali, memahami. Jurnal Pendidikan Deiksis Ni Wayan Pasek Sinar Primayanti P-ISSN: 2655-8246 E-ISSN:2798-3730 Vol. No. Januari 2020 mengorganisasikan, dan menyusun teks deskriptif. Metode AWK sejalan dengan kurikulum 2013 yang sama-sama menggunakan pandangan dealiktis. Dalam penelitian yang telah dilaksanakan metode analisis wacana kritis (AWK) dibatisi hanya pada tingkat memahami teks saja. Terdapat hubungan yang signifikan antara memahami dan menganalisis, yaitu untuk memahami sebuah wacana atau teks terlebih dulu wacana atau teks tersebut dianalisis untuk mencari tahu apakah tujuan dan maksud dari wacana atau teks tersebut sehingga wacana atau teks tersebut mudah untuk dipahami. Ada beberapa jenis analisis wacana kritis (AWK), seperti AWK model Theo Van Leeuwen. AWK model Sara Mills. AWK model Teun A. Van Dijk dan AWK model Norman Fairclough. Teori Analisis Wacana yang digunakan dalam penelitian yang sudah dilaksanakan adalah teori analisis wacana Teun A. Van Dijk. Van Dijk ( dalam Eriyanto, 2001 : . menyatakan bahwa wacana digambarkan mempunyai tiga dimensi atau bangunan yaitu, teks, kognisi sosial, dan konteks sosial. Teks yang diteliti adalah bagaimana struktur teks dan strategi wacana yang dipakai untuk menegaskan suatu tema tertentu, kognisi sosial yang diteliti adalah proses produksi teks, dan konteks sosial yaitu mempelajari suatu hal yang berkembang dalam masyarakat akan suatu masalah yang ditemukan atau dihadapi. Intinya analisi Van Dijk adalah menggabungkan ketiga dimensi wacana tersebut ke dalam satu kesatuan analisis. Selanjutnya Dijk . alam Rosidi, 2007:. memperlakukan wacana sebagai entitas Karena itu, pendekatan yang ditawarkan pun bertolak dari pencermatan atas tiga tingkatan struktur wacana, yaitu: struktur supra, struktur mikro, dan struktur makro . uperstructure, micro structure, andmacrostructur. Struktur Supra menunjuk pada kerangka suatu wacana atau skematika, seperti kelaziman percakapan atau tulisan yang dimulai dari pendahuluan, dilanjutkan dengan isi pokok, diikuti oleh kesimpulan, dan diakhiri dengan penutup. Bagian mana yang didahulukan, serta bagian mana yang dikemudiankan akan diatur demi kepentingan pembuat Struktur mikro menunjuk pada makna setempat . ocal meanin. suatu wacana. Ini dapat digali dari aspek semantik, sintaksis, stilistika, dan retorika. Struktur makro menunjuk padamakna keseluruhan . lobal meanin. yang dapat dicermati dari tema atau topik yang diangkat oleh pemakaian bahasa dalam suatu wacana. Menurut Dijk . alam Numertayasa, 2013:. dengan menganalisis keseluruhan komponen struktural wacana, dapat diungkap kognisi sosial pembuat wacana. Secara teoretik, pernyataan ini didasarkan pada penalaran bahwa cara memandang terhadap suatu kenyataan akan menentukan corak dan struktur wacana yang dihasilkan. Bila dikehendaki sampai pada ihwal bagaimana wacana tertentu bertali-temali dengan struktur sosial dan pengetahuan yang berkembang dalam masyarakat, maka analisis wacana kritis ini harus dilanjutkan dengan analisis sosial. Berdasarkan paparan tersebut dapat disimpulkan bahwa dalam pandangan atau teori kritis Teun van Dijk, wacana terdiri atas struktur supra, mikro, dan makro. Hal itu menunjukkan wacana tidak bisa terlepas dari tindakan, teks, konteks, historis, kekuasaan, dan ideologi yang melingkunginya. Dengan menganalisis keseluruhan komponen struktural wacana, dapat diungkap kognisi . engetahuan, ideologi, kepentingan, dan sebagainy. sosial pembuat wacana. Oleh karena itu, teori kritis sangat relevan digunakan dalam menganalisis Atas dasar itulah sebagai langkah nyata untuk mendukung siswa memahami teks deskriptif, maka sangat tepatlah metode Analisis Wacana Kritis diterapkan dalam pembelajaran di kelas khusunya dalam memahami sebuah teks dan lebih mengkhusus lagi memahami teks deskriptif pada siswa kelas VIIE SMP Negeri 1 Susut. Jurnal Pendidikan Deiksis Ni Wayan Pasek Sinar Primayanti P-ISSN: 2655-8246 E-ISSN:2798-3730 Vol. No. Januari 2020 METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kuantitatif yang bermaksud mendeskripsikan kemampuan mengembangkan karangan eksposisi berdasarkan teks wawancara siswa Kelas X SMA Negeri 1 Kuta Utara secara objektif. Hal ini dilakukan untuk memecahkan permasalahan yang dihadapi oleh siswa dalam menulis, khususnya menulis karangan eksposisi. Objek penelitian ini adalah karangan siswa. Siswa diberi tugas menulis karangan eksposisi berdasarkan teks wawancara dengan waktu yang telah ditentukan . Instrumen yang digunakan adalah teks wawancara. Teks wawancara tersebut dikembangkan menjadi karangan eksposisi. Teks wawancara yang telah diubah menjadi karangan eksposisi diberi penilaian berdasarkan aspek-aspek yang telah ditentukan. PEMBAHASAN Adapun subjek Penelitian Tindakan Kelas (PTK) ini adalah seluruh siswa kelas VIIE SMP Negeri 1 Susut yang berjumlah 33 orang siswa, yang beranggotakan 16 orang siswi dan 17 orang siswa. Objek penelitian tindakan kelas (PTK) ini adalah kemampuan siswa memahami teks deskriptif, langkah-langkah pembelajaran dengan metode AWK, dan respons siswa dengan penerapan metode analisis wacana kritis. Tempat penetitian tindakan kelas ini yaitu di SMP Negeri 1 Susut Kecamatan Susut Kabupaten Bangli. Penelitian tindakan kelas ini menggunakan model Kurt Lewin. Model ini mempunyai konsep yang terdiri dari 4 komponen, yaitu : . Perencanaan . , . Tindakan . , . Pengamatan . , . Refleksi . Data kemampuan memahami teks deskriptif siswa dianalisis secara kualitatif. Indikator keberhasilannya adalah para siswa mampu mencapai skor rerata yaitu minimal 75, daya serap siswa minimum 65%, dan ketuntasan klasikal minimum 85%. Rumus yang digunakan untuk mengukur skor kemampuan memahami teks deskritif adalah: Tabel 1. Pedoman Penggolongan Kemampuan Siswa Memahami Teks Deskriptif Rentang Skor 77,5 Ae 100 62,5 Ae 77,4 47,5 Ae 62,5 32,5 Ae 47,4 10 Ae 32,4 Kategori Sangat Baik Baik Cukup Kurang Baik Sangat Kurang Adaptasi dari : (Koyan, 2012 : . Sedangkan untuk data langkah - langkah pembelajaran dengan metode Analisis Wacana Kritis (AWK) ini diterapkan berdasarkan sintak-sintak AWK yang kemudian disusun berdasarkan Rencana Pelakasanaan Pembelajaran (RPP). Data respon siswa terhadap metode AWK diukur dengan menggunakan skala Likert. Angket yang diberikan disusun dengan pilihan sangat setuju (SS), setuju (S), kurang setuju (KS), tidak setuju (TS) dan sangat tidak setuju (STS). Berikut disajikan tabel kriteria pemberian skor respon siswa terhadap model pembelajaran yang diberikan. Jurnal Pendidikan Deiksis Ni Wayan Pasek Sinar Primayanti P-ISSN: 2655-8246 E-ISSN:2798-3730 Vol. No. Januari 2020 Tabel 2. Kriteria Pemberian Skor Tanggapan Siswa Analis Jawaban STS Nilai Item Positif Negatif Skor rata-rata respon siswa di analisis dengan rumus: HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Penelitian Berdasarkan analisis data hasil observasi . ata awa. , siklus I, dan siklus II, didapatkan bahwa rata-rata kemampuan memahami teks deskriptif Bahasa Indonesia pada data awal sebesar 55,39 yang berada pada rentangan 47,5 Ae 62,4 yang tergolong kategori cukup, kemudian rata-rata kemampuan memahami teks deskriptif Bahasa Indonesia pada siklus I sebesar 72,94 yang berada pada rentangan 62,5 Ae 77,4 dengan kategori baik, sedangkan rata-rata kemampuan memahami teks deskriptif Bahasa Indonesia pada siklus II adalah 87,58 yang berada pada rentangan 77,5 Ae 100 dengan kategori sangat baik. Sedangkan untuk ketuntasan klasikal pada data awal sebesar 9% dan pada siklus I itu sebesar 61 % dan kemudian ketuntasan klasikal pada siklus II mencapai 100% sehingga terjadi peningkatan dalam ketuntasan klasikal dari data awal siswa ke siklus I, dari siklus I ke siklus II. Tabel 3. Ringkasan Data Kemampuan Memahami Teks Deskriptif Bahasa Indonesia Hasil Penelitian Rata-rata Hasil Belajar Ketuntasan Klasikal Siklus Data Awal 55,39 72,94 87,58 Pembahasan Bedasarkan permasalahan yang penulis temui di lapangan dan penerapan metode AWK di kelas VIIE serta analisis data penelitian yang peneliti lakukan, ternyata metode AWK dapat meningkatkan kemampuan memahami teks deskriptif siswa kelas VIIE SMP Negeri 1 Susut. Meningkatnya kemampuan siswa dalam memahami teks deskriptif siswa dari Jurnal Pendidikan Deiksis Ni Wayan Pasek Sinar Primayanti P-ISSN: 2655-8246 E-ISSN:2798-3730 Vol. No. Januari 2020 data awal hasil observasi sebesar 55,39 meningkat menjadi 72,94 pada siklus I dan menjadi 87,58 pada akhir siklus II. Keberhasilan yang dicapai di dalam penelitian ini yaitu, dengan metode AWK, siswa lebih mudah menentukan struktur teks deskriptif yang terdiri dari deskripsi bagian dan deskripsi umum, siswa juga mampu menentukan kerangka teks yang terdiri dari bagian pendahuluan, isi, penutup, dan kesimpulan . , dengan metode AWK, siswa mampu menentukan makna lokal dari suatu teks yang dapat diamati dari pilihan kata, kalimat, dan gaya yang dipakai oleh suatu teks deskriptif dalam hal ini siswa lebih mudah menentukan kata apa saja yang dapat dipakai dalam teks deskriptif, seperti kata kerja aktif dan kata sifat . icro structur. , dengan metode AWK, siswa lebih mudah menentukan makna umum dari suatu teks yang dapat diamati dari topik atau tema yang diangkat dalam teks deskriptif yang dianalisinya . acro structur. Hal itu sesuai dengan teori dari Van Dijk . alam Rosidi, 2007:. yang memperlakukan wacana sebagai entitas berstruktur. Karena itu, pendekatan yang ditawarkan pun bertolak dari pencermatan atas tiga tingkatan struktur wacana, yaitu: struktur supra, struktur mikro, dan struktur makro . uper structure, micro structure, and macro structur. Selanjutnya melalui AWK siswa bukan hanya mengetahui bagaimana isi teks Lebih dari itu siswa juga mengetahui bagaiman pesan dalam teks deskriptif itu disampaikan lewat kata, frasa, dan kalimat yang digunakan dalam teks deskriptif dan dengan metode AWK siswa lebih mudah menentukan struktur atau kerangka yang menyusun sebuah Ini sesuai dengan pendekatan yang diperkenalkan oleh Van Dijk. Menurut Dijk . alam Eriyanto, 2001 : . penelitian atas wacana tidak cukup hanya didasarkan pada analisis atas teks semata karena teks hanya hasil dari suatu praktik produksi yang harus juga diamati dan ini juga sesuai dengan pendapat yang dikemukakan oleh Eriyanto . alam Sobur, 2009 : . yang menyatakan dengan melihat bagaimana bangunan struktur kebahasaan tersebut, analisis lebih bisa melihat makna yang tersembunyi dari suatu teks. Selanjutnya, keberhasilan yang dicapai, yaitu dengan metode AWK semangat belajar siswa semakin bertambah, dalam hal ini motivasi siswa bertambah karena siswa merasa tertantang dan harus mepersiapkan diri secara maksimal, siswa juga mempersiapkan diri dengan lebih maksimal dalam proses pembelajaran Bahasa Indonesia yang berlangsung maupun yang akan datang khususnya di dalam memahami sebuah teks dan lebih mengkhusus lagi memahami teks deskriptif. Ini didukung oleh pernyataan dari Eriyanto . 1 : . yaitu, dalam khasanah studi analisis tekstual. Analisis wacana masuk dalam pradigma penelitian kritis, suatu pradigma berpikir yang melihat pesan sebagai pertanyaan kekuasaan sehingga teks berita dipandang sebagai bentuk dominasi dan hegemoni satu kelompok kepada kelompok yang lain. Adapun langkah-langkah penerapan metode AWK yang penulis lakukan di kelas VIIE adalah sebagai berikut. Kegiatan awal dimulai dengan kegiatan pendahuluan, dalam hal ini guru memulai pembelajaran dengan memberikan salam kepada siswa dan siswa pun merespon salam yang diberikan oleh guru, kemudian guru melakukan absensi untuk mengetahui tingkat kehadiran dari siswa itu sendiri, setelah absensi peneliti melakukan apersepsi dengan melakukan tanya jawab yang terarah dengan peneliti terkait dengan teks Setelah kegiatan pendahuluan, dilanjutkan dengan Kegiatan Inti. Di dalam mempresentasikan ini, peneliti langsung mengukur kemampuan siswa di dalam memahami teks deskriptif dengan menggunakan lembar observasi. Setelah kegiatan inti, dilanjutan kegiatan terakhir yaitu Kegiatan Penutup. Dalam kegiatan penutup ini siswa Jurnal Pendidikan Deiksis Ni Wayan Pasek Sinar Primayanti P-ISSN: 2655-8246 E-ISSN:2798-3730 Vol. No. Januari 2020 dengan bimbingan peneliti menyimpulkan materi pelajaran tentang struktur teks deskripsi, selanjutnya siswa mengerjakan tes tulis yang deberikan, siswa mendengarkan penguatan dari peneliti, dan terakhir siswa menyimak informasi mengenai rencana tindak lanjut pembelajaran berikutnya. Kesuksesan penelitan ini juga didukung oleh skor rata-rata respon siswa kelas VIIE. Penerapan metode AWK direspons baik oleh siswa kelas VIIE SMP Negeri 1 Susut tahun pelajaran 2015/2016. Ini terbukti dari hasil analisis data respons siswa yaitu, total skor respons siswa 2489 kemudian dianalisis dan diperoleh rata-rata sebesar 75,42 berada pada rentangan 67,5-100. Berdasarkan kriteria yang telah ditetapkan, respon siswa kelas VIIE berada pada kategori istimewa. Respon siswa terhadap metode AWK bisa dikategorikan istimewa dikarenakan, . dengan menggunakan metode AWK menjadi cara cepat untuk memahami sebuah teks khusunya teks deskriptif,. dengan menggunakan metode AWK dapat memberikan motivasi kepada siswa dalam menerima pembelajaran dalam menganalisis teks khusunya teks deskriptif, . dengan menggunakan metode AWK dapat merangsang munculnya keberanian siswa untuk menganalisis sebuah teks. Pernyataan respons siswa di atas dapat disimpulkan bahwa metode AWK sangat baik digunakan sebagai salah satu strategi untuk meningkatkan kemampuan siswa memahami teks secara inovatif dan mudah. Hal ini sesuai dengan pernyataan yang dikemukakan oleh Sulistiyo . alam Trianto, 2011 : . , mengemukakan strategi belajar sebagai tindakan khusus yang dilakukan oleh seseorang untuk mempermudah, mempercepat, lebih menikmati, lebih memahami secara langsung, lebih efektif dan lebih mudah ditransfer ke dalam situasi yang baru. Teori yang mendukung bahwa metode ini baik diterapkan dalam pembelajaran memahami teks, yaitu teori kontruktivisme. Menurut Riyanto . menyatakan bahwa dalam teori kontuktivisme guru berperan menyediakan suasana dimana siswa dapat memahami dan menerapkan suatu pengetahuan, sehingga siswa bekerja memecahkan masalah, menemukan segala sesuatu untuk dirinya dan beruaha dengan ide-idenya. Dalam hal ini guru dapat memberikan sebuah kesempatan untuk siswa-siswanya untuk menerapkan ideide mereka dalam kegiatan belajar mengajar di sekolah khususnya dalam memahami teks yang lebih mengkhusus lagi memahami teks deskriptif. Hal ini sesuai dengan teori belajar Burner yang sering disebut dengan teori pemecahan dalam Canin & Sund . alam Kurniasih & Sani, 2014 : . , yaitu satu-satunya cara agar seseorang dapat mempelajari teknik-teknik dalam melakukan penemuan adalah ia memiliki kesempatan untuk melakukan penemuan dan dengan melakukan penemuan maka akan memperkuat retensi ingatan. Teori ini sesuai dengan respon siswa, yaitu dengan metode AWK siswa dapat menemukan dan menentukan kerangka teks, makna yang terkandung dalam teks secara menyeluruh, dan memilih penggunaan kata serta penggunaan kalimat yang dipakai dalam teks khususnya teks deskriptif. Hal ini juga sejalan dengan teori belajar Ausubel. Menurut Ausubel . alam Dirman & Cicih, 2014 : . konsep dan informasi umum yang mewadahi semua isi pembelajaran yang akan diajarkan kepada peserta didik . dvance organize. memberikan 3 macam manfaat, yaitu . menyediakan suatu kerangka konseptual untuk materi yang akan dipelajari, . berfungsi sebagai jembatan yang menghubungkan antara yang sedang dipelajari dan yang akan dipelajari, . dapat membantu peserta didik untuk memahami bahan belajar dengan lebih mudah. Jurnal Pendidikan Deiksis Ni Wayan Pasek Sinar Primayanti P-ISSN: 2655-8246 E-ISSN:2798-3730 Vol. No. Januari 2020 Berdasarkan hasil-hasil yang diperoleh dalam analisis data tersebut, secara umum PTK ini dapat menjawab pertanyaan yang telah dirumuskan, atau dengan kata lain dapat mencapai tujuan yang diharapkan. Hal ini terlihat dari terpenuhinya kriteria yang ditetapkan, yaitu . kempuan memahami teks deskriptif siswa pada akhir siklus II telah memenuhi kurikulum dengan rerata 87,58 dan ketuntasan klasikal mencapai 100% yang tergolong Jadi, berdasarkan pemaparan di atas dapat disimpulkan bahwa kemampuan memahami teks deskriptif siswa dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia meningkat melalui penerapan metode AWK pada siswa kelas VIIE SMP Negeri 1 Susut tahun pelajaran 2015/2016. Sebagai acuan dari penelitian ini adalah penelitian yang dilakukan sebelumnya oleh I Wayan Numertayasa, dengan judul AuAnalisis Wacana Esai Kajian Struktur Supra. Mikro, dan Makro pada Esai Hasil Pelatihan Menulis Esai Sekolah Menengah Sekecamatan Rendang Tahun 2011Ay . ebuah Analisis Wacana Kriti. KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah diuraikan pada bab IV, maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut: Penerapan metode Analisis Wacana Kritis (AWK) dapat meningkatkan kemampuan memahami teks deskriptif siswa kelas VIIE SMP Negeri 1 Susut tahun pelajaran 2015/2016. Hal ini dapat dilihat dari kemampuan memahami teks siswa pada siklus I dengan rata-rata sebesar 72,94 yang termasuk ke dalam kategori baik, dengan daya serap sebesar 72,94% sedangkan ketuntasan klasikal sebesar 61% dari 20 orang siswa yang tuntas pada siklus I. Sedangkan pada siklus II rata-rata hasil belajar siswa sebesar 87,58 yang termasuk klasifikasi sangat baik, dengan daya serap 87,58% dan ketuntasan klasikal sebesar 100% dari 33 siswa yang tuntas. Jadi dapat dikatakan bahwa terjadi peningkatan rata-rata hasil belajar sebesar 14, 64 dari siklus I ke siklus II. Langkah-langkah pembelajaran dengan menggunakan metode AWK adalah sebagai berikut. Kegiatan awal dimulai dengan kegiatan pendahuluan, dalam hal itu guru memulai pembelajaran memberikan salam, melakukan absensi, melakukan apersepsi. Setelah kegiatan pendahuluan, dilanjutkan dengan Kegiatan Inti, pada kegiatan inti ini dibagi menjadi beberapa langkah diantaranya, . mengamati pada tahap ini siswa diberikan sebuah teks, dan tugas siswa adalah mengamati teks dekriptif yang telah disediakan, . menanya pada tahap ini siswa menanya tentang hal-hal yang berkaitan dengan teks deskripsi cara menganalisis teks berdasarkan struktur supra, struktur makro, dan struktur mikro, . mengumpulkan data pada tahap ini siswa diarahkan untuk menganalisis teks deskriptif, siswa membaca teks deskripsi dengan cermat, siswa menjawab/mengajukan pertanyaan tentang cara mengaalisis teks deskriptif, dengan struktur supra. Siswa dapat menganalisis teks deskriptif dari struktur teksnya, yang dimulai dari pendahuluan, kemudian isi pokok, dan diakhiri dengan penutup, dengan struktur makro. Siswa dapat menganalisis teks deskriptif dari tema atau topik yang dikedepankan dalam teks deskriptif, dengan struktur mikro. Siswa dapat menganalisis teks deskriptif dari pilihan kata, dan kalimat yang dipakai dalam teks deskriptif, . mengasosiasi dalam tahap ini siswa membandingkan hasil latihannya, menemukan contoh teks deskripsi dari berbagai Jurnal Pendidikan Deiksis Ni Wayan Pasek Sinar Primayanti P-ISSN: 2655-8246 E-ISSN:2798-3730 Vol. No. Januari 2020 media dan menganalisis kembali berdasarkan smetode AWK berdasarkan pemahaman yang telah diperoleh, . mengkomunikasikan pada tahap ini siswa mempersentasikan hasil latihannya. Setelah kegiatan inti, dilanjutan kegiatan terakhir yaitu Kegiatan Penutup. Penerapan metode AWK ternyata direspon baik oleh siswa kelas VIIE SMP Negeri 1 Susut tahun pelajaran 2015/2016. Ini terbukti dari hasil analisis data respon siswa, total skor respon sebesar 2489, kemudian dianalisis dan diperoleh rata Ae rata sebesar 75,42 dan berada pada rentangan 67,5 Ae 100yang tergolong pada istimewa. DAFTAR PUSTAKA