Islamic Counseling: Jurnal Bimbingan dan Konseling Islam Vol. No. Mei 2024 | hal: 93-106 . ISSN: 2580-3638. ISSN: 2580-3646 DOI: http://dx. org/ 10. 29240/jbk. http://journal. id/index. php/JBK Pengembangan Panduan Layanan Informasi Pencegahan Pelecehan Seksual: Sebuah Pendekatan Contextual Teaching and Learning Nurwinda Sulistyawati. Annajmi Alfath Institut Agama Islam Negeri Curup. Indonesia. Madrasah Aliyah Swasta Perguruan Islam Arrisalah. Indonesia nurwinda@iaincurup. id1, anna. tanjung26@gmail. Received: 13-02-2024 Cite this article: Revised: 16-04-2024 Accepted: 15-05-2024 Sulistiyawati. & Alafth. Pengembangan Panduan Layanan Infromasi Pencegahan Pelecehan Seksual: Sebuah Pendekatan Contextual Teaching and Learning. Islamic Counseling: Jurnal Bimbingan dan Konseling Islam, 8. , doi:http://dx. org/10. 29240/jbk. Abstract Sexual harassment is increasingly rampant in people's lives, this can become a big problem both personally and socially for students, if there is a lack of understanding and knowledge about positive attitudes towards sexuality. One of the efforts to provide understanding, knowledge and prevention that can be carried out by BK Teachers is through providing information services. In order to be more focused on the sources of information obtained, a learning media product was created in the form of a guide to providing information services as a form of preventing sexual harassment. This research was conducted with the aim of developing a sexual harassment prevention information service guide . sing a Contextual Teaching and Learning approac. Using the ADDIE model development research method (Analyze. Design. Development. Implementation and Evaluatio. , with small group research subjects consisting of 3 experts and 3 guidance and counseling teachers. The results of the research show that the sexual harassment prevention information service guide . sing the Contextual Teaching and Learning approac. is valid and can be used by guidance and counseling teachers to improve the prevention of sexual harassment. Keywords: Service. prevention, harassment 94 | Islamic Counseling: Jurnal Bimbingan dan Konseling Islam. Vol. No. 1, 2024 Abstrak Pelecehan seksual semakin merajalela di kehidupan masyarakat, hal ini dapat menjadi masalah besar baik pribadi maupun sosial bagi peserta didik, jika kurangnya pemahaman dan pengetahuan tentang sikap positif terhadap seksualitas. Salah satu upaya pemberian pemahaman, pengetahuan, dan pencegahan yang dapat dilakukan Guru BK melalui pemberian layanan informasi. Agar lebih terarahnya sumber informasi yang diperoleh diciptakan produk media pembelajaran berupa panduan pemberian layanan informasi sebagai bentuk pencegahan pelecehan seksual. Penelitian ini dilakukan bertujuan untuk mengembangkan panduan layanan informasi pencegahan pelecehan seksual . enggunakan pendekatan Contextual Teaching and Learnin. Menggunakan metode penelitian pengembangan model ADDIE (Analyze. Design. Development. Implementation and Evaluatio. , dengan subyek penelitian kelompok kecil terdiri dari 3 orang ahli dan 3 orang Guru BK. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa panduan layanan informasi pencegahan pelecehan seksual . enggunakan pendekatan Contextual Teaching and Learnin. valid dan dapat digunakan oleh Guru BK untuk meningkatkan pencegahan pelecehan seksual. Kata Kunci: Layanan. Pendahuluan Pelecehan seksual merupakan bentuk perilaku baik visual . atapan penuh nafsu, tatapan mengancam, gerak-gerik yang bersifat seksua. , verbal . iulan, gosip, gurauan seks, pernyataan yang bersifat menganca. , dan fisik . entuhan, mencubit, menepuk, menyenggol dengan sengaja, meremas, mendekatkan diri tanpa diinginka. yang mengarah pada hal-hal seksual, dilakukan secara sepihak tanpa diharapkan oleh korban, sehingga menimbulkan reaksi negatif seperti malu, marah, benci, tersinggung dan sebagainya (UNESCO, 2. Hal serupa juga dijelaskan oleh Okoroafor . dalam penelitiannya bahwa Pelecehan seksual adalah tingkah laku individu berkaitan dengan seksual yang menimbulkan perasaan yang tidak nyaman, marah, malu, terintimidasi, dan menyinggung orang lain menyangkut verbal, visual, dan fisik. Dalam hal ini pelecehan seksual memiliki spektrum yang lebih luas dan dapat terjadi dalam berbagai macam bentuk yaitu berhubungan langsung dengan korban dan tidak berhubungan langsung dengan korban. Adapun pelecehan seksual yang berhubungan secara langsung seperti AumenggauliAy atau mencium korban, sedangkan pelecehan seksual yang tidak berhubungan secara langsung Nurwinda Sulistyawati. Annajmi Alfath: Pengembangan Panduan Layanan. | 95 seperti mengekspos atau bertindak seksual dengan orang lain. Sejalan dengan hal tersebut pelecehan seksual dapat hadir dalam berbagai macam bentuk, seperti pemerkosaan, menyentuh badan orang lain dengan sengaja, ejekan atau lelucon mengenai hal-hal berbau seksual, pertanyaan pribadi tentang kehidupan seksual, membuat gerakan seksual melalui tangan atau ekspresi wajah, suara mengarah seksual, dan masih banyak lagi (Rosania & Eko, 2. Berdasarkan data komnas perempuan, kekerasan dan pelecehan seksual terhadap perempuan mengalami peningkatan 12 tahun terakhir mencapai hampir 800%, yang dibuktikan dengan laporan kekerasan dan pelecehan seksual (Komnas Perempuan, 2. Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) . menunjukkan dalam datanya pada tahun 2014 terdapat 30 kasus anak menjadi korban pelecehan seksual, diantaranya 14 orang sebagai pelaku. Pada tahun 2015 terdapat 37 kasus anak menjadi korban pelecehan seksual, diantaranya 17 orang sebagai pelaku. Dan di tahun 2016 terdapat 51 kasus pelecehan seksual, diantaranya 22 orang sebagai pelaku. Kasus pelecehan seksual ini tidak banyak terungkap karena korban dan keluarganya tidak mau melaporkan kejadian tersebut kepada penegak hukum maupun KPAI. Dalam kasus pelecehan seksual banyak korban yang tidak berani bahkan tidak mau, menceritakan atau mengungkapkan pengalaman yang dialaminya termasuk kepada keluarga terdekat (Wohab & Akhter, 2010. Loeb et al, 2014. Hermayeni, & Aviani, 2. Hal tersebut terjadi karena banyak korban dan keluarga korban merasa malu dengan apa yang dialaminya, bahkan orang disekitar terjadinya pelecehan seksual terkadang menutup mata dan tidak ingin ikut campur dengan permasalahan tersebut (Pranungsari & Kushartati, 2. Maraknya fenomena pelecehan seksual menjadi tugas penting bagi orangtua dan pendidik untuk memberikan pengawasan dan bimbingan secara maksimal. Sebagaimana diketahui AuQuite strong evidence that friends, family, school, and other community groups can inculcate resilienceAy bahwa remaja yang mendapatkan perhatian dan kasih sayang dari orangtua, dukungan yang kuat dari sekolah, teman, dan kelompok lain yang membawa pengaruh positif serta memunculkan kebahagiaan cenderung akan terhindar dari pelecehan seksual, karena mereka mendapatkan cukup pengawasan dan bimbingan dari pihak-pihak terkait yang memberi pengaruh positif (Marriott. Giachritsis, & Harrop, 2. Pengaruh positif yang didapatkan dari orangtua, sekolah, teman dan kelompok lain akan membentuk benteng pertahanan didalam diri peserta didik yang akan menumbuhkan nilai, norma, dan moral didalam diri peserta didik. Berdasarkan dari pendidikan di sekolah pulalah seorang peserta didik membentuk nilai, norma, dan moral didalam dirinya. Sebagaimana dijelaskan dalam sebuah penelitian bahwa dorongan seksual yang muncul pada seorang individu, akan membentuk perilaku-perilaku Sehingga perilaku seksual yang muncul pada individu tersebut hanya 96 | Islamic Counseling: Jurnal Bimbingan dan Konseling Islam. Vol. No. 1, 2024 dapat dikontrol oleh nilai-nilai yang dimiliki dari dalam diri individu tersebut. Nilai-nilai ini dapat diperoleh melalui informasi dari lingkungan, baik sekolah, teman, keluarga dan masyarakat (Gannon & Alleyne, 2013. Waldron et al, 2. Oleh karena itu melalui sekolah sebagai seorang pendidik. Guru BK harus memberikan pengawasan dan bimbingan melalui layanan informasi. Sejalan dengan itu Guru BK juga bertanggung jawab penuh atas pemahaman dan pencegahan peserta didiknya agar tidak menjadi korban ataupun pelaku pelecehan seksual. Sesuai dengan pendapat (Sari, 2. yang menyatakan bahwa seorang Guru BK (Konselo. mempunyai tanggung jawab untuk mencegah peserta didik dari pelecehan seksual, karena sorang peserta didik bisa menjadi korban ataupun pelaku dari pelecehan seksual tersebut dan salah satu cara pencegahannya melalui layanan informasi. Layanan informasi ini diberikan Guru BK kepada peserta didik sebagai salah satu cara bentuk mencegah terjadinya pelecehan seksual, melalui pemberian pemahaman dan pengetahuan tentang sikap positif terhadap Hal ini sejalan dengan pernyataan Plummer & Cossin . yang menyatakan bahwa. Salah satu cara mencegah pelecehan seksual itu terjadi adalah memberikan siswa pemahaman dan pengetahuan tentang sikap positif seksualitas melalui layanan informasi. Selain itu layanan informasi juga diberikan Guru BK kepada peserta didik untuk mencegah peserta didik mendapatkan informasi dari sumber yang tidak relevan, kurang tepat ataupun bersifat hoaks. Hal ini sejalan dengan pernyataan Kusmiran . yang menjelaskan bahwa meningkatnya minat seseorang pada kehidupan seksual akan menimbulkan usaha untuk mencari informasi objektif mengenai seks, yang paling membahayakan yaitu jika informasi yang diperoleh berasal dari sumber yang kurang tepat, sehingga akhirnya menginterpretasikan dengan cara yang salah. Untuk itu layanan informasi membantu peserta didik menerima dan memahami berbagai informasi diri, sosial, belajar, karir secara terarah objektif dan bijak. Layanan informasi membantu peserta didik memperoleh informasi sebagai acuan bersikap dan bertingkah laku sehari-hari (Prayitno et al, 2. Adapun bentuk mencegah terjadinya pelecehan seksual melalui pemahaman dan sikap positif terhadap pelecehan seksual melalui layanan informasi ini juga diberikan dengan tujuan, agar peserta didik terhindar dari berbagai masalah pelecehan seksual yang dapat menghambat proses perkembangannya sebagai seorang individu. Hal ini sesuai dengan pernyataan yang dikemukan Hanwar . yang menyatakan bahwa, fungsi pencegahan dalam bimbingan dan konseling mencegah timbulnya masalah yang dihadapi peserta didik atau menghindari peserta didik dari berbagai masalah yang mungkin dapat menghambat perkembangannya. Pendapat serupa juga disampaikan Afrina et al . yang menjelaskan bahwa fungsi pencegahan adalah mencegah timbulnya masalah dalam keberfungsian dimana peserta didik dapat menghindari berbagai masalah yang dapat menghambat pertumbuhan dan Nurwinda Sulistyawati. Annajmi Alfath: Pengembangan Panduan Layanan. | 97 perkembangan mereka. Melalui fungsi pencegahan Guru BK memberikan bimbingan kepada peserta didik tentang cara menghindari diri dari perbuatan atau kegiatan yang membahayakan diri dengan teknik yang digunakan salah satunya berupa layanan informasi (Kamaluddin, 2. Layanan informasi dengan tujuan pencegahan tersebut diterapkan Guru BK kepada peserta didik dengan menggunakan pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL), yang bertujuan untuk membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa untuk membuat hubungan antara pengetahuan yang dimiliki dengan penerapannya dalam kehidupan mereka (Hamdayana, 2. Selain itu, model pembelajaran ini membuat siswa terlibat penuh dalam menemukan materi yang di pelajari dan menghubungkan dengan kehidupan nyata, selain mudah dipahami materi yang diberikan guru akan bertahan lama dalam ingatan peserta didik (Iru & Arihi, 2. Melalui pendekatan ini pula kelas menjadi lebih hidup dan peserta didik memperoleh informasi dengan sesungguhnya (Taufik & Muhammadi, 2. sehingga tercapailah tujuan pencegahan dari pemberian layanan informasi tersebut. Namun, berdasarkan hasil wawancara dengan salah seorang Guru BK yang berada di SMA Kota Padang, pemberian layanan informasi yang diberikan Guru BK masih cendrung menggunakan metode ceramah, tanya jawab dan belum diberikannya materi pencegahan pelecehan seksual kepada peserta didik. Hal ini dikarenakan belum adanya sumber panduan khusus, yang berisikan materi pencegahan pelecehan seksual, ini menjadi salah satu penyebab tidak tersampaikannya layanan informasi, hal serupa sejalan dengan pernyataan Musfirah . yang mengungkapkan bahwa masih minimnya modul/panduan yang relevan untuk dijadikan bahan dalam pemberian layanan informasi. Dengan adanya panduan layanan informasi diharapkan Guru BK menjadi lebih mudah mencari informasi yang relevan dengan bahasa dan konsep yang mudah dipahami dan terurut, sesuai dengan konsep pemberian layanan dalam memberikan informasi terbaik kepada peserta didik. Hal ini sesuai dengan konsep salah satu paket media pembelajaran yang membahas suatu topik tertentu secara sistematik dan berurutan untuk memudahkan pembaca belajar mandiri dalam mencapai dan menguasai suatu unit topik pembelajaran dengan mudah dan tepat sasaran (Daryanto, 2. Sejalan dengan tujuan pemberian layanan informasi yang dilakukan sebagai bentuk pencegahan pelecehan seksual melalui pendekatan Contextual Teaching and Learning, penelitian ini juga dilakukan untuk mempermudah proses pemberian pemahaman serta memberikan sumber informasi dalam bentuk panduan bagi Guru BK. Panduan yang merupakan media pembelajaran, merupakan segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan dari pengirim ke penerima, sehingga merangsang pikiran, perasaan, perhatian, minat, dan kemauan peserta didik (Nurwinda, 2. Untuk itu peneliti berharap 98 | Islamic Counseling: Jurnal Bimbingan dan Konseling Islam. Vol. No. 1, 2024 produk panduan layanan informasi pencegahan pelecehan seksual . enggunakan pendekatan Contextual Teaching and Learnin. yang akan dikembangkan tersebut dapat bermanfaat sebagai media pembelajaran bagi Guru BK, sekaligus sebagai sumber informasi bagi Guru BK, agar Guru BK dapat memberikan pelayanan informasi yang akurat dan tepat dengan sumber yang relevan kepada peserta didik. Metode Metode dalam penelitian ini menggunakan penelitian pengembangan . esearch & developmen. , dengan langkah-langkah pengembangan model ADDIE (Analyze. Design. Development. Implementation, and Evaluatio. (Pribadi, 2016. Purbasari. Kahfi, & Yunus, 2013. Personal, 2011. Mudjiran, 2. Subjek penelitian yang dilakukan berskala kecil dengan 3 orang ahli uji kelayakan terhadap produk panduan dan 3 orang Guru BK untuk melakukan uji keterpakaian dari produk panduan yang telah dirancang. Pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan Instrumen kuesioner dan Focus Group Discussion (FGD) skala kecil, dengan data yang akan dianalisis secara statistik deskriptif dan analisis inferesial. Pengujian data yang dilakukan dalam penelitian ini dengan memanfaatkan program SPSS for Windows 00 untuk menilai keselarasan/konsistensi uji kelayakan dan uji keterpakaian, adapun pengukuran uji kelayakan dan uji keterpakaian, menggunakan statistik non parametrik pada Uji signifikansi Koefisien Konkordansi Kendall untuk mencari nilai uji valid dari uji kelayakan produk panduan dan pada Uji Signifikansi Koefisien Alpha Cronbach untuk mencari nilai uji kelayakan dari uji keterpakaian produk. Hasil dan Pembahasan Hasil Penelitian Pada hasil penelitian ini Pengembangan produk yang dilakukan setiap prosesnya mengikuti langkah-langkah dari model ADDIE (Analyze. Design. Development. Implementation, and Evaluatio. Pengembangan produk panduan layanan informasi pencegahan pelecehan seksual . enggunakan pendekatan contextual teaching and learnin. , dikhususkan untuk Guru BK dalam pemberian layanan informasi pencegahan pelecehan seksual terhadap peserta didik, dengan beberapa aspek panduan seperti tujuan, indikator keberhasilan, format kegiatan, alat bantu, materi. RPL, langkah pelaksanaan, dan evaluasi. Produk panduan dikembangkan menjadi media pembelajaran bagi Guru BK dalam pemberian layanan informasi pencegahan pelecehan seksual . enggunakan pendekatan contextual teaching and learnin. kepada peserta didik. Panduan ini dirancang berdasarkan analisis kebutuhan pemberian layanan Nurwinda Sulistyawati. Annajmi Alfath: Pengembangan Panduan Layanan. | 99 informasi mengenai pencegahan pelecehan seksualitas. Panduan ini juga didesain menggunakan bahasa yang mudah dipahami dengan tampilan materi yang menarik, antara lain. Aku sayang Badanku, . Toleransi Antar Jenis Kelamin, . Memahami Keragaman Dalam Berpakaian, . Pentingnya Pergaulan Antar Jenis Kelamin Yang Sesuai Dengan Nilai dan Norma, . Religiusitas Membentengi Diri Dari Kekerasan Seksual. Selanjutnya mengukur uji kelayakan dan keterpakaian produk panduan layanan informasi pencegahan pelecehan seksual . enggunakan pendekatan contextual teaching and learnin. melalui penilaian uji validasi panduan oleh 3 orang ahli dan uji kelayakan panduan oleh 3 orang Guru BK, dengan hasil sebagai Tabel 1. Uji validasi oleh ahli Aspek Kegunaan Panduan Instruksi Panduan Isi Panduan Tampilan Bahasa Materi yang disajikan Total Mean Mean (%) Kategori Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Berdasarkan tabel 1, dapat diketahui bahwa para ahli memberikan penilaian valid terhadap panduan yang dikembangkan dengan persentasi 78. dan dari uji statistik diketahui chi square hitung > chi square tabel . ,667 >0,. Dengan demikian terdapat tingkat keselarasan atau konsistensi penilaian antar ke 3 orang ahli yang dilakukan dengan Uji signifikansi Koefisien Konkordansi Kendall dengan nilai kendallAos Wa 0. Chi-square Calculate 1,667 at Asymp. Sig. 0,893. Berdasarkan uraian tersebut, maka penilaian valid yang diberikan oleh para ahli menunjukkan bahwa desain panduan yang dikembangkan dinyatakan layak untuk di pergunakan Guru BK. Jadi dapat disimpulkan para ahli sepakat mengenai kelayakan panduan yang disusun. Jika uji statistik dikaitkan dengan nilai rata-rata keseluruhan berada pada kategori penilaian valid, sehingga dapat dimaknai bahwa terdapat keselarasan penilaian yang tinggi terhadap produk yang Tabel 2. Uji Kelayakan Panduan oleh Guru BK Aspek Perencanaan Mean Mean (%) Pelaksanaan Evaluasi Kategori Sangat Tinggi Tinggi Tinggi 100 | Islamic Counseling: Jurnal Bimbingan dan Konseling Islam. Vol. No. 1, 2024 Total Tinggi Berdasarkan tabel 2, dapat diketahui bahwa Guru BK memberikan penilaian tinggi terhadap panduan yang di uji kelayakannya dengan presentasi 82% dan dari uji statistik diketahui bahwa koefisien Alpha Cronbach sebesar 0,821. Besaran kolerasi tersebut berada pada koefisien > 0,80 . ,821 > 0,. , sehingga dapat dimaknai bahwa terdapat keselarasan atau konsistensi penilaian dari 3 orang Guru BK terhadap produk. Berdasarkan hasil uji statistik dengan rata-rata penilaian dari ke 3 orang Guru BK secara keseluruhan, yaitu 4. 38 dan masuk pada kategori tinggi, dapat ditarik kesimpulan bahwa terdapat keselarasan atau konsistensi yang tinggi dari ke 3 orang Guru BK terhadap produk yang digunakan. Pembahasan Pengembangan produk pada penelitian ini menghasilkan prototype panduan untuk Guru BK dalam memberikan layanan informasi Pencegahan Pelecehan Seksual (Menggunakan Pendekatan Contextual Teaching and Learnin. Sesuai dengan hasil yang ditunjukkan pada penelitian ini, yang mana dalam proses penelitiannya hasil pengembangan menggunakan proses pada model ADDIE (Analyze. Design. Development. Implementation, and Evaluatio. Peneliti telah menunjukkan setiap hasil pada tahapan Analyze. Design. Development, dan Implementation, tetapi dari proses hasil penelitian diatas tidak melampirkan dan mendeskripsikan hasil yang dilakukan pada tahapan evaluasi, yang seharusnya mendeskripsikan hasil dari Focus Group Discussion (FGD) skala kecil. Hal ini dikarenakan masih terlalu minimnya Focus Group Discussion (FGD) yang dilakukan sehingga hanya menjadi kelompok kecil diskusi dengan 3 orang Guru BK , merujuk dari hal tersebut penelitian ini nantinya dapat menjadi keberlanjutan penelitian evaluasi penggunaan panduan melalui Focus Group Discussion (FGD) yang sesuai dengan kriteria dalam pelaksanaan Focus Group Discussion (FGD). Tingkat Kelayakan Panduan Layanan Informasi Pencegahan Pelecehan Seksual (Menggunakan Pendekatan Contextual Teaching and Learnin. Dari hasil penelitian yang disajikan dalam tahap development dapat dilihat, bahwa panduan yang disusun mencapai kategori valid dengan presentasi 73. dan dilakukan Uji signifikansi Koefisien Konkordansi Kendall untuk menilai keselarasan/konsistensi dari ke 3 Ahli, sehingga memperoleh kendallAos Wa 111. Chi-square Calculate 1,667 at Asymp. Sig. Penduan ini dikatakan sempurna jika semua materi yang diperlukan termuat dalam satu pembelajaran secara utuh, yang tidak hanya menampilkan informasi disertai warna, gambar dan pendukung yang menarik dan dapat membangkitkan perhatian (Sukiman, 2. , sehingga panduan yang Nurwinda Sulistyawati. Annajmi Alfath: Pengembangan Panduan Layanan. | 101 dikembangkan ini mengemas materi menjadi kesatuan yang utuh, agar Guru BK dapat menyampaikan layanan informasi dengan mudah dan jelas. Panduan juga disusun berdasarkan aspek tampilan/daya tarik yang menarik, artinya tampilan panduan menarik minat Guru BK dalam mengetahui informasi lebih banyak Selanjutnya materi panduan yang dikembangkan mudah dipahami oleh Guru BK. Dari penggunaan bahasa yang mudah dipahami dan mempermudah Guru BK dalam penyampaian ke peserta didik dengan penggunaan bahasa yang Hal ini sesuai dengan karakteristik pengembangan media pembelajaran yang memenuhi kaidah user friendly/bersahabat/akrab (Daryanto. Sesuai dengan penilaian yang diberikan ahli berdasarkan 6 aspek yang telah ditetapkan yaitu kegunaan panduan. Instruksi Panduan. Isi panduan, tampilan. Bahasa, dan materi yang disajikan tidak ada yang menunjukkan penilaiaan dibawah kelayakan, sehingga semakin menguatkan bahwa panduan layanan informasi pencegahan pelecehan seksual . enggunakan pendekatan contextual teaching and learnin. layak untuk dimanfaatkan oleh Guru BK dalam kegiatan layanan informasi. Tingkat Keterpakaian Panduan Layanan Informasi Pencegahan Pelecehan Seksual (Menggunakan Pendekatan Contextual Teaching and Learnin. Berdasarkan hasil penelitian yang disajikan dalam tahap implementation, produk panduan layanan informasi pencegahan pelecehan seksual (Menggunakan Pendekatan Contextual Teaching and Learnin. digunakan oleh Guru BK dalam memberikan layanan informasi dan mendapatkan kategor tinggi dengan skor 82% dari skor ideal. Penilaian juga dilakukan dengan Uji Signifikansi Koefisien Alpha Cronbach, untuk mengukur keselarasan/konsistensi ke 3 Guru BK dalam memberikan penilaian koefisien > 0,80 . ,821 > 0,. Berdasarkan hasil tersebut. Guru BK tidak mengalami kesulitan dan dapat menggunakan panduan dengan baik, hal ini dapat dilihat dari aspek perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi mencapai kategori tinggi. Hasil keterpakaian panduan yang disusun telah mencapai taraf keterpakaian yang Pada aspek perencanaan dapat di lakukan Guru BK dengan baik sebagai media sumber informasi. Aspek pelaksanaan menunjukkan bahwa Guru BK dapat mengikuti setiap langkah-langkah yang disusun. Sedangkan, aspek evaluasi yang digunakan mampu memperlihatkan yang diperoleh peserta didik setelah mendapatkan layanan informasi. Penggunaan panduan ini membantu Guru BK dalam pemberian layanan pencegahan seksual (Menggunakan Pendekatan Contextual Teaching and Learnin. agar tersampaikannya tujuan dari layanan informasi yang diberikan sebagai pemahaman dan pencegahan, dengan maksud informasi yang diberikan kepada peserta didik hendaknya memberikan pemahaman kepada peserta didik, yang 102 | Islamic Counseling: Jurnal Bimbingan dan Konseling Islam. Vol. No. 1, 2024 mana nantinya pemahaman yang dimiliki oleh peserta didik tersebut dapat mencegah timbulnya masalah yang akan mengganggu kehidupannya (Mirnayenti. Syahniar, & Alizamar, 2. Hal tersebut sejalan dengan tujuan pembelajaran pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL) (Annajmi, 2. yaitu membekali peserta didik dalam pengetahuan dan pengembangan potensi yang dimiliki sehingga dapat merubah tingkah laku peserta didik lebih realistis. Dengan demikian produk penelitian panduan layanan pencegahan seksual (Menggunakan Pendekatan Contextual Teaching and Learnin. secara praktik dapat dilakukan oleh Guru BK. Penutup Berdasarkan hasil penelitian diatas, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa produk Panduan Layanan Informasi Pencegahan Pelecehan Seksual (Menggunakan Pendekatan Contextual Teaching and Learnin. , dapat digunakan sebagai media pembelajaran bagi Guru BK untuk memberikan pelayanan pencegahan dan pemahaman kepada peserta didik, sesuai dengan analisis kebutuhan layanan informasi, dengan desain 5 materi pokok dalam pembahas yang telah ditentukan berdasarkan analisis kebutuhan pemberian layanan informasi pelecehan seksual. Panduan ini dinyatakan valid dalam pengujian kelayakannya yang meliputi 6 aspek validasi oleh 3 orang ahli dan panduan ini dinyatakan tinggi dalam pengujian keterpakaian/ketergunaanya dengan meliputi 3 aspek kelayakan panduan oleh Guru BK. Adapun beberapa saran yang diajukan berkenaan dengan pemanfaatan dan pengembangan produk lebih lanjut sebagai beriku. Guru BK dapat menggunakan panduan layanan informasi pencegahan seksual sebagai sumber . Produk Panduan Layanan Informasi Pencegahan Pelecehan Seksual (Menggunakan Pendekatan Contextual Teaching and Learnin. bukan satusatunya media pembelajaran yang dapat membantu Guru BK dalam pemberian layanan informasi pencegahan seksual. Produk Panduan Layanan Informasi Pencegahan Pelecehan Seksual (Menggunakan Pendekatan Contextual Teaching and Learnin. tidak hanya sebagai bentuk media pembelajaran Guru BK dalam pencegahan dan pemahaman terhadap peserta didik tetapi juga dapat dipergunakan sebagai panduan pelayanan antar sejawat, orang tua peserta didik dan masyarakat luas. Panduan yang dikembangkan hanya sebatas uji coba kelompok kecil oleh sebab itu perlu adanya uji coba lapangan untuk melihat efektivitas penggunaan panduan dan Focus Group Discussion (FGD) dengan group yang lebih besar, serta perlunya pengembangan lebih lanjut panduan menjadi modul pembelajaran bagi peserta didik atau pun remaja sesuai dengan perkembangan zaman. Nurwinda Sulistyawati. Annajmi Alfath: Pengembangan Panduan Layanan. | 103 Referensi