e-ISSN 2747-2612 Bertuah : Journal of Shariah and Islamic Economics Vol. 6 No. 2, 2025, 302-319 Analisis Penerapan Budaya Kerja “Akhlak” dalam Etos Kerja Islami Pada Pegawai Bank Syariah Indoneisa (BSI) KCP Makassar Unismuh Dhea Hiqmiatul Uzqa, Rahmawati Muin, Idris Parakkasi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam UIN Alauddin Makassar dheahiqmiatul@gmail.com Abstrak Etos kerja Islami adalah pancaran dari sikap hidup manusia yang mendasar terhadap kerja, kerja yang dimaksud ini adalah kerja bermotif yang terikat dengan penghasilan atau upaya memperoleh hasil, baik yang bersifat material maupun non material (spiritual) dengan dapat berhasil dan sukses dalam kehidupan dunia maupun akhirat. Landasan etos kerja Islami ini terdapat pada surah Al-Jumu’ah ayat 10. Ciri-ciri etos kerja Islami terdari dari beberapa indikator, yaitu: menghargai waktu, memiliki kejujuran, kecanduan disiplin, memiliki moralitas yang bersih (ikhlas), memiliki komitmen dan konsisten, dan bertanggung jawab. Penelitian ini dilatarbelakangi bahwa penerapan etos kerja Islami pada pegawai Bank Syariah Indonesia (BSI) KCP Makassar Unismuh ini belum sempurna namun sudah bisa dikatakan baik, karena dari hasil penelitian yang dilakukan masih ada salah satu pegawai yang masih lalai dalam penerapan etos kerja Islami yang baik. Pegawai tersebut masih sering menunda-nunda pekerjaannya ssehingga tidak termasuk dalam salah satu indikator yang dipaparkan oleh penulis yaitu menghargai waktu dan bertanggung jawab. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif deskriptif. Peneliti menggunakan pendekatan penelitian studi kasus dan fenomenologi. Peneliti juga menggunakan sumber data primer dan data sekunder, serta teknik pengumpulan data yaitu menggunakan observasi, wawancara dan dokumentasi. Hasil dari penelitian yang telah dilakukan dapat diketahui bahwa penerapan etos kerja Islami yang ada di Bank Syariah Indonesia (BSI) KCP Makassar Unismuh yang pertama menerapkan do’a pagi secara rutin sebelum memulai pekerjaan, menerapkan budaya kerja “AKHLAK” dan menerapkan motto yang telah ditetapkan. Kata Kunci: Penerapan, Etos kerja Islami, Budaya kerja Pendahuluan Islam merupakan sistem kehidupan yang sempurna (a complete way of life) karena mengandung prinsip-prinsip yang fundamental dalam mengatur segala aspek kehidupan manusia. Kesempurnaan agama Islam ini hendaknya juga diikuti dengan implementasi ajarannya secara menyeluruh sebagaimana firman Allah SWT dalam Al-Quran surat AlBaqarah ayat 208: َّ ٌ‫ي‬ ٰ ‫الس ْلم َك ۤا َّف ًة َّۖو ََل َت َّتب ُع ْوا ُخ ُط‬ ِّ ‫ٰٰٓي َا ُّي َها َّالذ ْي َن ٰا َم ُنوا ْاد ُخ ُل ْوا ِف‬ ِ ْ ‫الش ْي ٰط ِۗن ِا َّن ٗه َل ُك ْم َع ُد ٌّو ُّمب‬ ‫ت‬ ‫و‬ ِ ِ ِ ِ ِ ِ Terjemahnya: “Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.” QS. Al-Baqarah : 208 (Kemenag, 2019). Bertuah : Journal of Shariah and Islamic Economics | 302 Dhea, Muin, Idris Salah satu implementasi dari ajaran agama Islam adalah bekerja. Bekerja mempunyai arti penting bagi manusia, bekerja bertujuan untuk mendapatkan ridho dari Allah SWT. Karena hal tersebut merupakan bentuk ibadah manusia kepada Allah SWT dan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari karakteristik sikap hidup orang yang memeluk agama Islam. Bekerja keras merupakan kewajiban bagi manusia di muka bumi ini, Rasulullah SAW bersama sahabat-sahabatnya telah banyak memberikan pelajaran tentang memiliki etos kerja yang luar biasa ketika bekerja. Seorang muslim dalam bekerja harus mempunyai semangat atau etos kerja khususnya secara Islami (Muslim, Besar, and Madiun 2020). Sementara kata kerja merujuk pada pengertian kegiatan (aktivitas) yang memiliki tujuan serta usaha yang sangat sungguh sungguh untuk mewujudkan aktivitasnya tersebut agar memiliki arti (bermakna). Oleh karena itu sebenarnya tidak semua aktivitas disebut kerja. Sebuah aktivitas di sebut kerja menurut Toto Tasmara jika memenuhi kriteria sebagai berikut. Aktivitasnya dilakukan karena ada dorongan untuk mewujudkan sesuatu sehingga tumbuh rasa tanggung jawab yang besar untuk menghasilkan karya dan produk yang berkualitas. Bekerja bukan sekedar mencari uang, tetapi ingin mengaktualisasikannya secara optimal dan memiliki nilai transendental yang sangat luhur. Apa yang dilakukannya adalah sebuah kesengajaan dan direncanakan. Oleh karena itu orang yang bekerja, akan mengerahkan seluruh potensi yang dimilikinya sehingga apa yang dikerjakannya benar benar akan memberikan kepuasan dan manfaat. Dari penjabaran pengertian etos dan kerja diatas dapat disimpulkan bahwa Etos Kerja Islami adalah sikap kepribadian yang melahirkan keyakinan yang sangat mendalam bahwa bekerja itu bukan saja untuk memuliakan dirinya, melainkan juga sebagai suatu manifestasi dari amal saleh dan oleh karenanya mempunyai nilai ibadah yang sangat tinggi. Karena setiap muslim tidak hanya sekedar bekerja asal mendapat gaji, atau sekedar menjaga gengsi supaya tidak disebut sebagai pengangguran. Akan tetapi kesadaran bekerja secara produktif serta dilandasi dengan pemahaman keagamaan dan tanggung jawab mempunyai cirri khas dari karakter atau kepribadian seorang muslim (Arnisa 2020). Etos kerja dalam Islam adalah hasil suatu kepercayaan seorang Muslim, bahwa kerja mempunyai kaitan dengan tujuan hidupnya, yaitu memperoleh perkenan Allah subhana wa ta’ala, “bekerja” bagi seorang Muslim adalah suatu upaya yang sungguhsungguh, dengan mengerahkan seluruh asset, fikir dan zikirnya untuk mengaktualisasikan atau menampakkan arti dirinya sebagai hamba Allah yang harus menundukkan dunia dan menempatkan dirinya sebagai bagian dari masyarakat yang terbaik (Farhan 2018). Bank Syariah Indonesia (BSI) adalah salah satu bank yang beroperasi di Indonesia dengan prinsip syariah. Bank ini mengikuti ketentuan-ketentuan dalam islam, seperti larangan terhadap bunga (riba) dan penggunaann mekanisme Bertuah : Journal of Shariah and Islamic Economics | 303 Dhea, Muin, Idris keuangan yang sesuai dengan prinsip bagi hasil (mudharabah) serta pembiayaan berbasis aset (murabahah). BSI menyediakan berbagai layanan perbankan yang sesuai dengan hukum islam, seperti tabungan, pembiayaan, dan peoduk-produk lainnya yang mengikuti prinsip syariah. Perusahaan ini sudah jelas berbasis syariah namun belum diketahui apakah perusahaan ini telah menetapkan sistem etos kerja Islami yang baik atau belum apa lagi BSI ini sendiri telah menerapkan budaya kerja islam “AKHLAK”. Budaya kerja islami itu sendiri menurut Hartono adalah perwujudan dari kehidupan ditempat kerja, lebih spesifiknya budaya kerja adalah suatu sistem makna yang berkaitan erat dengan pekerjaan dan interaksi kerja dengan kedua belah pihak sepakat untuk menggunakan budaya tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Serta apakah perusahaan ini dapat menyeimbangkan kerjaan dengan kewajibannya beribadah kepada Allah SWT. Tinjauan Literatur Dalam agama islam, tindakan atau sesuatu yang dikerjakan seseorang seringkali didefinisikan dengan istilah amalan. Amalan atau pekerjaan dalam Islam diarahkan untuk memenuhi kewajiban seseorang sebagai upaya untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Menurut Asyraf Hj. Ab Rahman istilah “kerja” dalam islam bukanlah sematamata merujuk kepada mencari rezeki untuk menghidupi diri dan keluarga dengan menghabiskan waktu siang maupun malam, dari pagi hingga sore, terus-menerus tak kenal lelah, tetapi mencakup segala bentuk amalan atau pekerjaan yang mempunyai unsur kebaikan dan keberkahan bagi diri, keluarga dan masyarakat sekelilingnya serta negara (Produktifitas and Dalam 2019). Menurut Teori Hierarki Kebutuhan Maslow, Abraham Maslow, kebutuhan manusia berhierarki dari yang paling dasar hingga kebutuhan tinggi: fisiologis, keamanan, sosial, harga diri, dan aktualisasi diri. Di tempat kerja, ini berarti bahwa manajer harus memahami dan memenuhi kebutuhan dasar pegawai sebelum mereka bisa memotivasi mereka untuk mencapai potensi penuh mereka. Menurut Pramandhika seseorang yang bekerja adalah mereka yang menyumbangkan jiwa dan tenaganya untuk kebaikan diri, keluarga, masyarakat, dan negara tanpa menyusahkan orang lain. Oleh karena itu, kategori “ahli surga”seperti yang digambarkan dalam Al-Qur’an bukanlah orang yang mempunyai pekerjaan/jabatan yang tinggi dalam organisasi, tetapi orang yang memiliki derajat taqwa kepada Allah, yaitu orang yang khusyu dalam shalatnya, baik tutur katanya, memelihara kemaluannya serta menunaikan tanggungjawab sosialnya seperti mengeluarkan zakat dan lainnya. Kerja atau pekerjaan adalah sesuatu yang diusahakan (dilakukan berterusan) karena mencari nafkah. Definisi ini jelas sekali mengaitkan perkataan kerja atau pekerjaan dengan aktiviti keseharian yang dilakukan oleh setiap individu sebagai satu usaha yang mencari nafkah dan cara hidup sama ada bagi dirinya atau tanggungjawabnya, sebarang Bertuah : Journal of Shariah and Islamic Economics | 304 Dhea, Muin, Idris aktiviti yang dilakukan secara berterusan untuk mencari rezeki sama ada sebagai petani, nelayan, pekerja kilang, kakitangan kerajaan, peniaga dan sebagainya adalah termasuk dalam kategori kerja atau pekerjaan. dalam konteks pembahagian aktiviti hidup manusia, sebarang pekerjaan yang disebutkan di atas termasuk dalam kategori muamalah atau adah menurut pembahagian fuquha’ silam (Abdullah 2019). Allah memerintahkan umatnya agar melakukan suatu pekerjaan dengan baik dan sungguh-sungguh. Di dalam al-Qur’an Allah Swt berfirman: “hai rasul-rasul, makanlah dari makanan yang baik-baik dan kerjakanlah amal yang soleh. Sesungguhnya aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”. (QS. Al-Mu’minuun 23:51). Selain itu, dalam memilih seseorang untuk diserahi suatu tugas, Rasulullah Saw melakukannya secara selektif, diantaranya dilihat dari segi keahlian, keutamaan dan kedalaman ilmunya. Beliau juga selalu mengajak mereka agar tekun dalam menunaikan pekerjaan (Sunardi 2019). Al-Qur’an mengajarkan kita agar taqwa dalam setiap perkara dan pekerjaan. “berbaiklah dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah taqwa dan bertaqwalah kepadaku hai orang-orang yang berakal”. (QS. al-Baqarah 2:197). Hendaknya para pekerja dapat meningkatkan tujuan akhirat dari pekerjaan yang mereka lakukan, dalam arti bukan sekedar memperoleh keridhoan Allah Swt sekaligus berkhidmat kepada umat. Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), Etos adalah pandangan hidup yang khas dari suatu golongan sosial. Dan etos kerja adalah semangat kerja yang menjadi ciri khas dan keyakinan seseorang atau suatu kelompok. Dari kata etos dikenal kata etika yang mendekati pengertiannya pada akhlak (nilai yang berkaitan dengan baik buruknya moral) yaitu ilmu tentang apa yang baik dan buruk; dan tentang hak dan kewajiban (akhlak) (Sitepu et al. 2021). Menurut Nurcholis Majid, etos artinya watak, karakter, sikap, kebiasaan dan kepercayaan yang bersifat khusus tentang seseorang individu atau sekelompok manusia. Menurut Pandji Anoraga, kerja adalah bagian yang paling essensial dari kehidupan manusia, ia akan memberikan status dari masyarakat yang ada di lingkungannya, sehingga dapat memberikan makna dari kehidupan manusia yang bersangkutan (Islam, Qur, and Humaniorah 2020). Menurut Ezwar, etos kerja adalah cara kerja yang memiliki tiga dasar yaitu keinginan untuk menunjukkan mutu pekerjaan, menjaga harga diri dalam melaksanakan pekerjaan dan kemampuan untuk memberi pelayanan kepada masyarakat melalui karya profesional (Prasetyo, Bank, and Surabaya 2019). Berdasarkan yang sudah dijelaskan diatas, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa Etos Kerja Islami adalah pancaran dari sikap hidup manusia yang mendasar terhadap kerja, kerja yang dimaksud ini adalah kerja bermotif yang terkait dengan penghasilan atau upaya memperoleh hasi, baik yang bersifat material maupun non material (spiritual) dengan dapat berhasil dan sukses dalam kehidupan dunia maupun akhirat. Etos Kerja Islami memberikan pandangan dalam bekerja keras adalah sebuah kewajiban. Usaha yang cukup haruslah menjadi bagian dari kerja yang dilakukan oleh seseorang yang terlihat sebagai kewajiban individu yang cakap. Dengan kata lain, etos Bertuah : Journal of Shariah and Islamic Economics | 305 Dhea, Muin, Idris kerja Islami adalah menjalankan kehidupan ini secara giat, dengan mengarahkan kepada yang lebih baik. Etos kerja islam ini sangat diperlukan bagi umat islam karena etos kerja islam ini menunjukkan bagaimana umat islam dapat berhasil dan sukses dalam kehidupannya di dunia maupun di akhirat. Ditengah perkembangan zaman yang modern ini, nilai etika seakan semakin luntur, bahkan dapat dikatakan mulai hilang karena kecenderungan masyarakat untuk berlaku bebas dan sudah membawah disetiap lini kehidupan. Dalam lingkungan kerja, seorang pegawai wajib memiliki etos kerja atau semangat kerja sehingga dapat melakukan tugasnya dengan ikhlas, bersungguh-sungguh dan penuh semangat guna memenuhi hajat hidupnya dan memberikan nafkah baik kepada dirinya, orangtuanya, maupun keluarganya. Etos berkaitan dengan nilai kejiwaan seseorang hendaknya setiap pribadi muslim harus mengisinya dengan kebiasaan positif dan mampu menunjukkan kepribadiannya sebagai seorang muslim dalam bentuk hasil kerja serta setiap perilaku yang mengarah kepada hasil yang lebih sempurna (Kinerja and Multifinance 2019). Penerapan etos kerja Islami yaitu dengan cara mengekspresikan sikap atau sesuatu selalu berdasarkan semangat untuk menuju kepada perbaikan, dengan bersungguh-sungguh menerapkan etika tersebut, yang berupaya untuk menghindari halhal negatif. Dengan cara menerapkan kode etik secara tegas dalam perusahaan dengan baik sehingga akan mempunyai reputasi yang baik dan akan mendapatkan keuntungan dan harus sesuai dengan syariat islam (Desky 2019). Bekerja bagi umat islam tentu tidak hanya dilandasi dengan tujuan yang bersifat duniawi saja. Namun, bekerja memiliki tujuan untuk beribadah. Bekerja mempunyai tujuan yang ganda yaitu ukhrawi yaitu ingin mendapat pahala dengan mencari keridhaan Allah SWT. Dan duniawi dalam arti ingin mendapat imbalan upah atau gaji (Muslim, Besar, and Madiun 2020). Secara umum, tujuan yang ingin di capai dalam menerapkan etos kerja Islami adalah membuat seseorang melakukan semuanya secara optimal dan sempurna di setiap sisi kerja yang dilakukan dan semakin berani untuk menjadi lebih baik. Dan tidak heran jika seseorang dengan etos kerja Islami yang bagus sering mendapatkan promosi jabatan pada bidang pekerjaannya (Elkarimah 2018). Menurut Khairul Umam (2010:151) budaya kerja Islam adalah falsah yang didasari oleh pandangan hidup sebagai nilai-nilai yang menjadi sifat, kebiasaan, dan kekuatan pendorong, membudaya dalam kehidupan suatu kelompok masyarajat atau organisasi, kemudian tercermin dari sikap menjadi perilaku, kepercayaan cita-cita, pendapat dan Tindakan yang terwujud sebagai “kerja” atau “bekerja”. Budaya kerja berperan penting bagi seseorang dan juga bagi Perusahaan dimana ia bekerja. Budaya kerja yang baik membuat sumber daya manusia mampu menggali potensi sumber daya lain yang dimiliki Perusahaan dan membantu Perusahaan mencapai tujuannya. Hal tersebut menunjukkan bahwa budaya kerja juga bermanfaat pada suatu Perusahaan (Siregar, Marbun, and Syaputri 2020). Bertuah : Journal of Shariah and Islamic Economics | 306 Dhea, Muin, Idris Budaya kerja Islam adalah kebiasaan yang dilakukan berulang-ulang oleh pegawai dalam suatu Perusahaan. Pelanggaran dalam kebiasaan ini memang tidak ada sanksi tegas, namun dari perilaku Perusahaan secara moral telah menyepakati bahwa kebiasaan tersebut merupakan kebiasaan yang harus ditaati dalam rangka pelaksanaan pekerjaan untuk mencapai tujuan. Berdasarkan teori diatas budaya kerja, bahwasanya merupakan kebiasaan atau perilaku yang dilakukan secara berulang-ulang pada setiap rutinitas dan tidak ada sanksi tegas jika melanggarnya namun akan berpengaruh terhadap etos kerja Islami pada Perusahaan (Adha, Qomariah, and Hafidzi 2019). Budaya kerja “AKHLAK” pertama kali diterapkan oleh Kementrian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Republik Indoneisa. Inisiatif ini diluncurkan oleh Erick Thohir yaitu Menteri BUMN, pada juli 2020. Penerapan budaya kerja “AKHLAK” ini merupakan bagian dari upaya transformasi BUMN agar menjadi lebih profesional, transparan dan kompetitif. Langkah ini diambil sebagai bagian dari strategi besar untuk mereformasi dan memperkuat BUMN dalam berbagai sektor, termasuk perbankan syariah yaitu Bank Syariah Indonesia (BSI) sebagai salah satu BUMN yang memakai budaya kerja “AKHLAK” ini dalam operasional dan manajemen perusahaannya untuk mendukung visi dan misi mereka dalam menciptakan Bank Syariah yang unggul di Indonesia. Budaya kerja yang diterapkan oleh BSI KCP Makassar Unismuh adalah “AKHLAK”. “AKHLAK” sendiri ini adalah singkatan dari bebarapa budaya kerja yang di terapkan oleh Bank Syariah Indonesia (BSI). “AKHLAK” adalah Amanah, Kompeten, Harmonis, Loyal, Adaptif,, dan Kolaboratif. Metode Penelitian Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif yang bersifat deskriptif yaitu data yang dikumpulkan umumnya berbentuk kata-kata, gambar dan bukan berbentuk angka. Data yang dimaksud meliputi transkip wawancara secara langsung ke lapangan, catatan di lapangan, serta foto-foto atau dokumentasi (Adlini et al. 2022). Penelitian deskriptif adalah mengungkapkan fakta yang sebenarnya terkait masalah yang terjadi di lapangan sehingga hanya merupakan usaha mengungkap fakta. Tujuan dari penelitian kualitatif adalah menentukan teori berdasarkan data yang diperoleh di lapangan tentang Penerapan Budaya kerja “AKHLAK” Dalam Etos Kerja Islami. Pendekatan penelitian yang digunakan oleh penulis adalah pendekatan fenomenologi dan studi kasus. Pendekatan fenomenologi adalah salah satu metode dalam penelitian kualitatif yang berfokus pada pemahaman pengalaman subjektif individu. Metode ini berusaha untuk menggali makna dari pengalaman hidup seseorang dengan mengesampingkan asumsi atau teori-teori yang sudah ada, dan lebih memfokuskan perhatian pada bagaimana fenomena tersebut dialami dan dipahami oleh individu (Nasir et al. 2023). Data Primer adalah data yang diperoleh secara langsung dari subyek penelitian yaitu berupa wawancara atau observasi terhadap narasumber yaitu pegawai/pegawai Bertuah : Journal of Shariah and Islamic Economics | 307 Dhea, Muin, Idris BSI KCP Makassar Unismuh yaitu Branch Manager, Consumer Business Relationship Manager, Funding Transaction Relationship Manager, Operational Staff, Teller, Customer Service, Security dan salah satu nasabah. Data sekunder diperoleh dari studi perpustakaan terhadap buku-buku, jurnal, skripsi, dan sumber pustaka lainnya termasuk website resmi dari Bank Syariah Indonesia (BSI) yang menunjang penelitian ini. Data ini digunakan oleh penulis untuk lebih menyempurnakan dan melengkapi data primer yang berkaitan dengan penelitian (Fadli 2021). Metode pengumpulan data merupakan langkah yang penting dalam suatu penelitian karena tujuan utama dari penelitian adalah mendapatkan data. Adapun metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: Observasi. Observasi merupakan pengamatan dimana peneliti mengamati langsung terhadap gerjala-gejala obyek yang diselidiki baik pengamatan itu dilaksanakan dalam situasi sebenarnya maupun dalam situasi yang diadakan. Observasi sangat perlu guna untuk mendeskripsikan metode participation observer yaitu suatu bentuk observasi dimana pengamat atau peneliti terlibat langsung dalam kegiatan kelompok, atau dapat juga dikatakan pengamat ikut serta dalam kegiatan yang diamatinya. Observasi ini dilakukan oleh peneliti yang di mulai pada tanggal 21 juni 2024. Wawancara. Wawancara merupakan salah satu teknik yang dapat digunakan untuk mengumpulkan data penelitian. Secara sederhana dikatakan bahwa wawancara adalah suatu kejadian atau proses tanya jawab pewawanacara dan sumber informasi atau orang yang diwawancarai melalui komunikasi langsung. Dokumentasi. Dokumentasi merupakan suatu metode pengumpulan data dengan cara mengambil dan membuat dokumen atau catatan-catatan yang dianggap perlu dengan pengumpulan bukti dan keterangan (seperti dalam bentuk gambar). Hasil Penelitian dan Pembahasan Konsep Penerapan Budaya Kerja “AKHLAK” dalam Etos Kerja Islami yang ada pada Pegawai BSI KCP Makassar Unismuh Etos kerja Islami merupakan sikap kepribadian yang melahirkan keyakinan yang sangat mendalam bahwa bekerja itu bukan hanya untuk memuliakan dirinya sendiri, melainkan juga sebagai suatu manifestasi dari amal soleh. Oleh karenanya bekerja harus mempunyai nilai ibadah yang sangat tinggi karena setiap muslim tidak hanya sekedar bekerja dan asal mendapatkan gaji saja, akan tetapi kesadaran bekerja secara produktif serta dilandasi dengan nilai keagamaan dan tanggung jawab dari kepribadian seorang muslim. Oleh karena itu, etos kerja Islami ini sangat penting untuk diterapkan dalam melakukan kerjaan apapun apalagi seorang pegawai yang bekerja di intansi/perusahaan yang berbasis syariah, terutama pada BSI KCP Makassar Unismuh. Sebagaimana yang dikemukakan oleh Ibu Elsie D. Agustina selaku Branch Manager BSI KCP Makassar Unismuh yang diwawancarai ketika melakukan penelitian sebagai berikut: Bertuah : Journal of Shariah and Islamic Economics | 308 Dhea, Muin, Idris “Menurut saya etos kerja Islami adalah cara pandang seorang pegawai yang dapat menumbuhkan keyakinan yang berdasarkan pada nilai-nilai yang diyakininya untuk mewujudkan prestasi kerja dengan memberikan suatu tuntunan bagi pekerja untuk melaksanakan tugas dan pekerjaan dengan penuh tanggung jawab dan semangat yang tinggi.” Selain itu menurut Ibu Zaenab Nur Safitri selaku Consumer Business Relationship Manager, yaitu: “Etos kerja Islami adalah etika kerja dalam melakukan pekerjaan yang melibatkan Allah SWT. Yang tujuannya untuk beribadah bukan hanya sekedar semata-mata untuk mendapatkan gaji, memanfaatkan waktu sebaik-baiknya dalam melakukan suatu pekerjaan, tidak melakukan curang waktu dan mengerjakan pekerjaan dengan tepat waktu atau sesuai dengan deadlinenya.” Adapun pendapat lain menurut Bapak Haidir Muhaimin selaku Funding & Transaction Relationship Manager, yaitu: “Etos kerja Islami merupakan semangat kerja untuk memajukan dan meningkatkan cabang dalam meraih target dalam prinsip syariah. Artinya dalam melakukan pekerjaan semua itu harus tetap mengutamakan tujuannya yaitu beribadah yang sesuai dengan syariat islam.” Ada juga pendapat lain dari Ibu Andi Isra Nurul Fadhila selaku Teller, yaitu: “Di dalam islam, pekerjaan dianggap sebagai suatu bentuk ibadah jika dilakukan dengan niat yang tulus, menjaga etika, dan memberikan manfaat kepada masyarakat. Maka menurut saya etos kerja Islami mengajarkan kita untuk bekerja dengan penuh dedikasi, menghormati waktu dan kewajiban, serta menjaga integritas dalam segala hal.” Berdasarkan pendapat dari Ibu Elsie D. Agustina, Ibu Zaenab Nur Safitri, Bapak Haidir Muhaimin dan Ibu Israni Amalia Muchlis dapat disimpulkan bahwa etos kerja Islami merupakan suatu sikap dalam bekerja yang harus sesuai dengan aturan yang telah ditetapkan dan dalam pekerjaannya harus selalu melibatkan ALLAH SWT, yang harus sesuai dengan prinsip-prinsip syariah karena mereka percaya bahwa apapun yang kita lakukan selalu dalam pengawasannya. Pernyataan diatas juga sejalan dengan Firman Allah SWT. dalam QS. At- Taubah Ayat 105: َ ْ ‫ٰ ُ َ َ َ ُ ْ َ َ ُ ْ ُ و َ ْ ُ ْ ُ ْ َ َ َ ُ َ ْو‬ ُ َ َ ‫َ َه‬ ْ ْ َْ َ ‫اع َم ُل ْوا َف َس َي‬ ‫ن‬ َُ ‫ا‬ َ‫ام‬ ‫و‬ ‫ب‬ ‫ي‬ ‫ام‬ ‫ل‬ ‫ل‬ ‫ع‬ ‫ى‬ ‫ا‬ ۗ ‫و‬ ُ ‫ر‬ ‫ر‬ ‫و‬ ‫و‬ ۗ ‫و‬ ‫و‬ ‫م‬ ‫م‬ ‫ام‬ ‫و‬ ‫ه‬ ‫و‬ ‫و‬ ‫س‬ ‫و‬ ‫م‬ ‫ك‬ ‫م‬ ‫ع‬ ‫اّلل‬ ‫ى‬ ‫ر‬ ‫َوق ِل‬ ِ ِ ِ ِِ ِ َ ُْ َ َْ ْ ُْ ُ َ ْ ُ ُ ََُ ۗ َۚ ‫فبن ِبئم ِبمَ كنت تعملو‬ Terjemahnya: “Katakanlah (Nabi Muhammad), “Bekerjalah! Maka Allah, rasul-Nya dan orangorang mukmin akan melihat pekerjaanmu. Kamu akan dikembalikan kepada (zat) yang mengetahui yang gaib dan yang nyata. Lalu dia akan memberitakan kepada kamu apa yang selama ini kamu kerjakan.” (Kemenag, 2019). Bertuah : Journal of Shariah and Islamic Economics | 309 Dhea, Muin, Idris Ayat tersebut menerangkan bahwa bekerjalah kamu dengan berbagai pekerjaan yang mendatangkan manfaat, maka Allah akan melihat pekerjaanmu, yakni memberi penghargaan atas pekerjaanmu. Islam memang memerintahkan umatnya untuk menjadi seorang pekerja keras, namun bekerja bukan hanya sekedar untuk mendapatkan gaji atau materi. Bekerja di dunia merupakan salah satu jembatan menuju ke akhirat. Bekerja juga di sejajarkan dengan keimanan sekaligus sebagai wujud dari keimanan itu sendiri. Jadi dapat kita simpulkan bahwa etos kerja Islami dapat merujuk pada konsep etika dan nilai-nilai yang dipegang teguh oleh agama Islam dalam konteks dunia kerja. Etos kerja Islami juga menekankan pentingnya berusaha untuk mencari rezeki halal dan menjauhi segala bentuk penipuan, riba, atau praktik-praktik tidak etis lainnya dalam dunia kerja. Dengan demikian, etos kerja Islami tidak hanya mencakup aspek tugas-tugas teknis dalam pekerjaan, tetapi juga nilai-nilai moral dan spiritual yang diterapkan dalam kehidupan sehari-hari di tempat kerja. Pendapat diatas juga sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh (Muhammad Azhari Normadan 2022) bahwa karakteristik etos kerja Islami dirumuskan berdasarkan konsep iman, amal sholeh dan ilmu yang diterapkan dalam segala aktivitas seorang muslim agar aktivitas tersebut bernilai ibadah. Etos kerja Islami juga merupakan penjabaran akidah, kerja dilandasi ilmu dan kerja dengan meneladani Rasulullah serta berpedoman pada syariat Islam. Ada juga pendapat dari Ibu Nurfadhillah selaku Operational Staff yang sejalan dengan pendapat Ibu Israni Amalia Muchlis selaku Customer Service, mengatakan bahwa: “Menurut saya dek etos kerja Islami itu bentuk kinerja dari pegawai itu sendiri. Dimana pegawai tersebut harus menerapkan etika kerja yang baik dalam pekerjaannya supaya meningkatkan kualitas kinerjanya sendiri.” Etos kerja Islami yang ada di BSI KCP Makassar Unismuh ini merupakan strategi untuk meningkatkan kualitas kerja pegawainya yaitu dengan memberikan jeda bekerja kepada pegawai untuk melaksanakan shalat tepat waktu yaitu shalat wajib maupun shalat sunnah secara rutin dan melakukan do’a pagi bersama sebelum melakukan pekerjaannya masing-masing. Pada BSI KCP Makassar Unismuh ini diterapkan jam kerja mulai dari jam 07.30-17.00, tetapi para pegawai akan melayani nasabah pada jam 08.00 setelah melakukan do’a pagi bersama dan shalat sunnah. Ada juga diterapkan jam istirahat mulai dari jam 12.00-13.00 agar pegawainya dapat melakukan ISHOMA (Istirahat Sholat Makan). Selain dari strategi di atas, BSI KCP Makassar Unismuh menerapkan konsep budaya kerja “AKHLAK” sebagai landasan dari terciptanya etos kerja Islami yang baik. Penerapan etos kerja Islami pada pegawai Bank Syariah Indonesia (BSI) KCP Makassar Unismuh yaitu dengan menerapkan do’a pagi bersama secara rutin setiap hari sebelum memulai pekerjaan dan juga menjadikan budaya kerja “AKHLAK” sebagai patokan/landasan untuk terciptanya etos kerja Islami yang baik. Seperti yang Bertuah : Journal of Shariah and Islamic Economics | 310 Dhea, Muin, Idris dikemukakan oleh Ibu Elsie D. Agustina selaku Branch Manager pada saat penulis melakukan wawancara yaitu: “Seluruh pegawai yang ada di kantor BSI KCP Makassar Unismuh melakukan do’a pagi bersama di dalam ruangan saya sebelum memulai pekerjaannya masing-masing, do’a pagi ini biasanya saya sendiri yang pimpin atau biasa juga dipimpin oleh rekan saya yang lainnya.” Kemudian penulis menanyakan lagi, apakah ada indikator lain yang secara khusus diterapkan untuk dijadikan sebagai landasan terciptanya etos kerja Islami yang baik? Dan Ibu Elsie D. Agustina selaku Branch Manager menjawab yaitu: ”Untuk saat ini dek kami masih menjadikan budaya kerja AKHLAK ini sebagai patokan dalam etos kerja Islami yang baik, kami belum menerapkan indikatorindikator yang lain untuk dijadikan patokan dalam etos kerja Islami ini sendiri. Kami juga hanya berfokus untuk selalu mengembangkan dan menanamkan MOTTO dari BSI KCP Makassar Unismuh yaitu Faster, Better, dan Happier. Karena jika kedua konsep ini telah diterapkan oleh pegawai-pegawai disini termasuk juga dengan saya,maka akan tercipta Etos Kerja Islami yang baik.” Berdasarkan pernyataan yang telah dijelaskan oleh Ibu Elsie D. Agustina selaku Branch Manager bahwa BSI KCP Makassar Unismuh menerapkan budaya kerja “AKHLAK” dan juga MOTTO sebagai patokan atau landasan untuk terciptanya etos kerja Islami yang baik di dalam perusahaan tersebut. Maka seluruh pegawai yang ada di BSI KCP Makassar Unismuh harus menjadikan budaya kerja “AKHLAK” dan MOTTO perusahaan ini sebagai landasan agar terciptanya etos kerja Islami yang baik pada diri masing-masing. Dampak Budaya Kerja terhadap Etos Kerja Islami pada Pegawai BSI KCP Makassar Unismuh Berdasarkan penelitian dan wawancara yang telah dilakukan oleh peneliti, dapat diketahui bahwa penerapan budaya kerja “AKHLAK” pada pegawai BSI KCP Makassar Unismuh memberikan dampak yang baik atau positif. Budaya kerja yang diterapkan oleh Menteri BUMN ini menjadi pedoman ataupun landasan bagi para pegawai BSI KCP Makassar Unismuh dalam menjalankan etos kerja Islami yang baik. Hal ini sangat bermanfaat, mengingat kantor ini tidak menerapkan secara khusus indikator untuk menciptakan etos kerja islami yang baik pada pegawainya. Peneliti juga menilai dampak budaya kerja “AKHLAK” ini positif atau sudah baik karena peneliti menggunakan patokan etos kerja Islami yang baik berdasarkan ciriciri yang dikemukakan oleh Toto Tasmara dalam bukunya yang berjudul “Membudayakan Etos Kerja Islami” yang tercantum dalam tinjauan teoritis (BAB 2) peneliti. Ciri-ciri etos kerja Islami yang dimaksud, yaitu: Menghargai Waktu, Memiliki Kejujuran, Kecanduan Disiplin, Memiliki Moralitas Hati yang Bersih (Ikhlas), Memiliki Komitmen dan Konsisten, dan Bertanggung Jawab. Walaupun pada saat wawancara peneliti masih menemukan salah satu pegawai yang masih sering menunda-nunda pekerjaannya sehingga tidak menerapkan sikap Bertuah : Journal of Shariah and Islamic Economics | 311 Dhea, Muin, Idris amanah terhadap dirinya sendiri. Pegawai tersebut masih sering mengerjakan deadline pekerjaanya secara tergesa-gesa dan tidak memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya. Namun, berdasarkan temuan ini, peneliti menilai bahwa budaya kerja “AKHLAK” memberikan dampak yang positif dan baik terhadap etos kerja Islami. Hal ini terlihat hanya 1 dari 12 pegawai yang ada di BSI KCP Makassar Unismuh tersebut yang lalai dalam 1 indikator yang menjadi patokan ciri-ciri etos kerja Islami dalam tinjauan teoritis peneliti. Pembahasan dan Hasil Penelitian Bank Syariah Indonesia (BSI) KCP Makassar Unismuh menerapkan budaya kerja “AKHLAK” sebagai landasan untuk terciptanya etos kerja Islami yang baik di dalam perusahaan tersebut. Maka seluruh pegawai yang ada di Bank Syariah Indonesia (BSI) KCP Makassar Unismuh harus menjadikan budaya kerja “AKHLAK” sebagai landasan agar terlaksananya etos kerja Islami yang baik pada diri masing-masing. Budaya kerja “AKHLAK” yang dimaksudkan disini memiliki arti yaitu: Amanah (Trustworthy) : dapat dipercaya dan menjalankan tugas dengan penuh tanggung jawab. Untuk penerapannya Branch Manager selalu memiliki sikap tanggung jawab, jujur, integritas dan transparan dalam komunikasi dan tindakannya agar membangun kepercayaan di antara sesama tim atau bawahannya. Branch Operational & Service Manager melakukan pengawasan terhadap transaksi dan kegiatan operasional untuk mencegah penyalahgunaan atau kecurangan serta selalu memastikan bahwa semua prosedur operasional dilaksanakan dengan jujur dan sesuai dengan standar yang ditetapkan. Consumer Business Relationship Manager memberikan informasi yang jelas, akurat dan jujur kepada nasabah mengenai produk dan layanan yang ada pada BSI KCP Makassar Unismuh serta mengawasi interaksi dengan nasabah untuk memastikan kepatuhan terhadap nilai amanah. Funding Transaction Relationship Manager memberitahukan dan menjelaskan kepada nasabah tentang risiko dan manfaat dari setiap produk secara terbuka tanpa menyambunyikan informasi penting untuk membangun kepercayaan melalui pelayanan yang konsisten dan berintegritas. Operational Staff memastikan semua operational sesuai dengan prosedur dan regulasi yang berlaku termasuk penerapan prinsip-prinsip syariah tersebut. Teller menangani semua transaksi tunai dan non-tunai dengan jujur dan akurat tanpa adanya manipulasi serta menjelaskan dengan jelas setiap detail transaksi kepada nasabah, termasuk biaya dan ketentuan yang berlaku dan juga bertanggung jawab atas semua transaksi yang dilakukan disetiap harinya apabila terjadi masalah. Customer Service selalu menawarkan solusi yang sesuai dengan kebutuhan nasabah, tanpa menyesatkan atau melebih-lebihkan dan juga melayani keluhan nasabah dengan cepat, jujur, adil dan memastikan penyelesaian memuaskan. Security harus selalu bertindak jujur dalam setiap situasi, termasuk melaporkan kejadian atau pelanggaran yang terjadi tanpa menutup-nutupi apapun. Amanah ini juga sejalan dengan Motto BSI Bertuah : Journal of Shariah and Islamic Economics | 312 Dhea, Muin, Idris KCP Makassar Unismuh yaitu BETTER (Bekerja dengan baik dan sesuai ketentuan prinsip-prinsip syariah). Kompeten (Competent) : kemampuan, keterampilan, pengetahuan yang diperlukan untuk melaksanakan tugas dengan efektif dan efisien. Untuk penerapannya branch manager memastikan seluruh tim di BSI KCP Makassar Unismuh memiliki keterampilan dan pengetahuan yang cukup untuk menjalankan tugas dengan baik serta mendorong tim untuk terus belajar dan mengembangkan kemampuan mereka. Consumer Business Relationship Manager memiliki pemahaman yang mendalam tentang produk dan layanan bank untuk memberikan saran yang kompeten kepada nasabah serta membangun hubungan yang kuat dengan nasabah berdasarkan kepercayaan dan keterampilan komunikasi yang efektif. Funding dan Transaction Manager mengelola dana dan transaksi dengan cermat, mengambil keputusan berdasarkan analisis yang kompeten terhadap kondisi pasar dan kebutuhan nasabah serta memastikan operasi harian berjalan sesuai dengan standar keamanan dan audit internal yang ketat. Operational Staff melaksanakan tugas operasional dengan tepat waktu dan akurat sesuai dengan prosedur yang telah ditetapkan serta bekerja sama dengan anggota tim lainnya untuk mencapai tujuan secara efisien. Teller memiliki pengetahuan yang mendalam tentang produk perbankan untuk memberikan informasi yang efisien kepada nasabah serta melayani nasabah dengan sepenuh hati dan ramah setiap melakukan transaksi. Customer Service melayani segala keluhan nasabah dengan cepat dan efektif dengan menunjukkan komunikasi yang baik dan kompeten serta selalu melayani nasabah dengan sikap ramah dan profesional. Security menjaga keamanan fisik aset bank dan pegawai dengan melakukan pengawasan dan patroli yang teratur. Kompeten juga sejalan dengan Motto BSI KCP Makassar Unismuh yaitu FASTER (Bekerja dengan lebih cepat). Harmonis (Harmonious) : Keadaan harmonis mengacu pada lingkungan kerja dan hubungan antar pegawai yang seimbang, kooperatif dan saling mendukung. Untuk penerapannya Branch Manager selalu memimpin dengan teladan dalam menciptakan lingkungan yang harmonis di BSI KCP Makassar Unismuh ini, menangani konflik antar pegawai dan mendorong kerjasama atau kolaborasi di antara anggota tim untuk tujuan bersama. Consumer Business Relationship Manager membangun hubungan yang baik dengan nasabah dengan cara mendengarkan kebutuhan dan keinginan nasabah untuk memberikan solusi yang tepat serta berkolaborasi dengan tim lain untuk menyediakan layanan yang baik. Funding dan Transaction Relationship Manager selalu memastikan koordinasi yang baik di antara tim dalam mengelola dana transaksi dan memastikan bahwa semua kegiatan pendanaan sesuai dengan prosedur yang berlaku agar terciptanya lingkungan yang teratur dan harmonis. Operational Staff selalu berkontribusi secara positif sesama staff dengan bekerja sama dan mendukung rekan kerja untuk mencapai tujuan bersama. Teller harus selalu memberikan layanan yang ramah, sopan dan responsif kepada nasabah untuk menciptakan interaksi yang harmonis serta berkomunikasi dengan jelas dan efektif dalam menjelaskan transaksi dan produk Bertuah : Journal of Shariah and Islamic Economics | 313 Dhea, Muin, Idris kepada nasabah. Customer service menangani keluhan dan masalah nasabah dengan sikap yang empatik dan solusi yang tepat serta menyediakan pelayanan yang konsisten dan berkualitas agar menciptakan hubungan yang harmonis dengan nasabah. Security ketika nasabah datang selalu membuka pintunya dan memberikan 3S (Senyum, Sapa dan Salam) serta pertanyaan pertolongan seperti “apakah ada yang bisa saya bantu bapak/ibu?” Harmonis juga sejalan dengan Motto BSI KCP Makassar Unismuh yaitu HAPPIER (Bekerja dengan penuh kebahagiaan). Loyal (Loyal) : sikap yang mencerminkan komitmen dan kesetiaan terhadap perusahaan, baik dari pegawai maupun nasabah. Untuk penerapannya Branch Manager selalu mendorong budaya kerja yang menghargai kesetiaan komitmen nilai-nilai dan visi perusahaan dan menangani tantangan internal atau eksternal yang dapat mempengaruhi loyalitas pegawai dan nasabah di BSI KCP Makassar Unismuh. Consumer Business Raltionship Manager memberikan layanan yang personal dan mempunyai solusi untuk meningkatkan kepuasan nasabah dan mempertahankan sikap loyalitas nasabah terhadap BSI KCP Makassar Unismuh itu sendiri. Funding dan Transaction Relationship Manager mempertahankan kepatuhan terhadap aturan untuk memastikan pengelolaan dana nasabah dilakukan dengan prinsip-prinsip syariah agar mempertahankan loyalitas nasabah terhapad perusahaan. Operational Staff selalu memuji pekerjaan yang telah dilakukan oleh rekan kerjanya serta berani untuk menyatakan ketidaksetujuannya terhadap pendapat pegawai yang lain tetapi menyampaikannya dengan cara yang baik. Teller menyediakan layanan yang konsisten dan tanggung jawab di setiap transaksi yang dilakukan oleh nasabah agar membangun hubungan yang kuat dan loyal dengan nasabah melalui interaksi yang positif. Customer Service bertanggung jawab untuk melayani keluhan nasabah dengan cepat, adil dan efektif untuk menciptakan pengalaman positif yang memperkuat loyalitas nasabah terhadap BSI KCP Makassar Unismuh. Security mematuhi aturan keamanan yang di tetapkan agar memastikan operasi bank berjalan lancar tanpa gangguan yang dapat mempengaruhi kenyamanan dan loyalitas nasabah. Adaptif (Adaptive) : mampu menyesuaikan diri dengan perubahan lingkungan, teknologi dan kebutuhan pasar dengan cepat dan efektif. Dalam penerapannya Branch Manager harus mampu dengan sigap untuk mengenali perubahan lingkungan sekitar dan memimpin serta mencontohkan perubahan yang ada di BSI KCP Makassar Unismuh kepada seluruh bawahannya. Serta dia juga harus mengkomunikasikan dengan jelas tentang perubahan itu dan memberikan implementasinya kepada tim dan bawahannya. Comsumer Business Relationship Manager memantau dan menganalisis tren pasar atas respon nasabah terhadap produk dan layanan yang ditawarkan untuk mengidentifikasi peluang adaptasi selanjutnya dan juga harus menyesuaikan strategi pelayanan dan komunikasi dengan nasabah berdasarkan perubahan kebutuhan. Funding dan Transaction Relationship Manager mengelola resiko dengan cermat dalam operasi pendanaan dan transaksi dengan menyesuaikan strategi Bertuah : Journal of Shariah and Islamic Economics | 314 Dhea, Muin, Idris keuangan dengan kondisi pasar yang berubah-ubah dan megimplementasikan sistem yang lebih adaptif terhadap perubahan tersebut. operational Staff siap untuk beradaptasi dengan perubahan tugas dan prosedur operasional yang diperlukan, namun harus selalu mempertahankan prinsip-prinsip syariahnya. Teller harus selalu mengerti keadaan nasabah, karena nasabah yang datang juga mempunyai sifat yang berbeda-beda jadi, seorang teller ini harus bisa berinteraksi dengan baik terhadap pelanggan/nasabah yang berbeda-beda dan harus tetap konsisten dalam melayaninya. Customer Service menggunakan umpan balik nasabah untuk memperbaiki layanan dan memenuhi harapan nasabah yang berkembang serta harus mampu beradaptasi dengan perubahan setiap sifat nasabah yang datang. Security menyesuaikan strategi keamanan dengan ancaman baru dan mampu beradaptasi dengan perubahan dalam metode kejahatan yang akan terjadi. Kolaboratif (Collaborative) : mampu bekerja sama secara efektif dalam berbagai pihak untuk menyelesaikan suatu masalah Dalam penerapannya seorang Branch Manager yang harus memperlihatkan dan menjaga sikap kolaborasi terhadap bawahan dan pegawai-pegawainya agar yang lainnya bisa mencontohi dan juga harus berkolaborasi dengan branch manager dari KCP lain untuk pertukaran pengalaman dan koordinasi strategis. Consumer Business Relationship Manager harus menjaga sikap berkolaborasi dengan operational staff & funding transaction relationship manager serta customer service untuk memberikan solusi yang terbaik terhadap masalah yang sedang dihadapi oleh nasabah. Teller berpartisipasi dalam tim untuk meningkatkan proses transaksi dan pelayanan nasabah dengan memastikan setiap interaksi dengan nasabah untuk mendapatkan pengalaman positif. Teller dan Customer Service ini juga harus mampu berkolaborasi dengan baik untuk memberikan solusi kepada nasabah atas keluhan operasi transaksi ataupun lainnya yang di ajukan ke BSI KCP Makassar Unismuh. Security melaukan kolaborasi dengan rekan kerja sesama security untuk mengembangkan strategi pencegahan kejahatan kemudian mensosialisasikan strategi tersebut kepada pegawai-pegawai yang ada pada BSI KCP Makassar Unismuh. Dari penjelasan “AKHLAK” di atas yang telah dijelaskan oleh penulis dari hasil wawancara dengan pegawai-pegawai BSI KCP Makassar Unismuh, penerapan budaya kerja “AKHLAK” ini bisa dikatakan sebagai salah satu penerapan etos kerja Islami yang ada di BSI KCP Makassar Unismuh. Berdasarkan wawancara terhadap Ibu Nurfadhila selaku Staff Operasional beranggapan bahwa: “Jika saya dan teman-teman pegawai lainnya telah menerapkan secara konsisten budaya kerja “AKHLAK” ini maka bisa dibilang bahwa saya telah menerapkan etos kerja Islami yang baik. Namun pada kenyataannya terkadang saya sendiri masih lalai dalam menerapkan budaya kerja ini terutama dalam hal tanggung jawab. Saya terkadang tidak menyelesaikan pekerjaan saya tepat waktu dan biasa menunda untuk dikerjakan besoknya sehingga saya tergesa-gesa apabila sudah waktu deadline pekerjaan tersebut.” Etos kerja Islami adalah sikap yang mencerminkan keyakinan bahwa bekerja tidak hanya untuk memuliakan diri sendiri, tetapi juga sebagai wujud dari amal saleh Bertuah : Journal of Shariah and Islamic Economics | 315 Dhea, Muin, Idris yang bernilai ibadah tinggi. Setiap umat muslim diharapkan bekerja bukan hanya sekedar untuk mendapatkan gaji, tetapi dengan kesadaran dan produktivitas didasari keagamaan dan tanggung jawab. Penerapan etos kerja Islami menuntut setiap muslim memiliki etos kerja yang sesuai dengan ajaran Al-Qur’an dan Hadis, sehingga menjadi pribadi yang profesional, andal dan produktif. Menghargai Waktu Menurut (Sono et al. 2017) menghargai waktu dalam etos kerja Islami berarti memahami dan memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya sesuai dengan ajaran islam. Penerapan menghargai waktu di Bank Syariah Indonesia (BSI) KCP Makassar Unismuh ini termasuk di dalam budaya kerja Amanah yang memiliki arti sebuah titipan yang benar-benar harus dijaga dan tidak boleh di ingkari, sama juga seperti waktu kita harus betul-betul menjaga dan memanfaatkannya dengan baik. Memiliki kejujuran Menurut (Azhari and Usman 2022) bagi seorang muslim kejujuran merupakan amal shaleh yang membuatnya ketergantungan dan kecanduan. Memiliki kejujuran adalah perilaku yang diikuti oleh sikap tanggung jawab atas apa yang diperbuatnya tersebut atau integritas. Integritas dalam bekerja menjadi tolak ukur seseorang untuk menilai seorang individu amanah atau tidak. Kecanduan Disiplin Menurut (Amir 2023) kecanduan disiplin berarti kebutuhan untuk mengikuti jadwal, menyelesaikan tugas tepat waktu dan mematuhi aturan dan rutinitas yang telah ditetapkan. Kecanduan disiplin merupakan istilah yang menggambarkan kondisi dimana seseorang merasakan dorongan atau keinginan yang kuat untuk menjaga ketertiban dalam hidup mereka. Memiliki Moralitas yang Bersih (Ikhlas) Menurut (Zaini 2016) salah satu kompetensi moral yang dimiliki seorang yang berbudaya kerja Islami itu adalah keikhlasan. Moralitas yang bersih dalam etos kerja Islami tidak hanya mempengaruhi bagaimana seseorang bekerja tetapi juga dengan bagaimana ia berinteraksi dengan rekan kerja, atasan dan nasabah. Penerapan ikhlas ini masuk juga kedalam budaya kerja Harmonis dan Kolaboratif yang berarti saling menghargai sesama rekan kerja dan berkolaborsi dalam melakukan pekerjaan. Memiliki Komitmen dan Konsisten Menurut (Tabur, Syari, and Vol 2021) dalam islam komitmen dan konsistensi tidak hanya menjadi tuntutan dalam kehidupan sehari-hari, tetapi juga merupakan bagian dari upaya untuk meningkatkan diri dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah Swt. dan berbuat baik kepada sesama. Penerapan komitmen dan konsisten termasuk juga ke dalam budaya kerja Kompeten yang memiliki arti melakukan pekerjaan dengan berkomitmen, efisien dan konsisten. Bertuah : Journal of Shariah and Islamic Economics | 316 Dhea, Muin, Idris Bertanggung Jawab Salah satu nilai utama dalam islam adalah amanah, yaitu menjaga kepercayaan yang diberikan kepada seseorang. Bertanggung jawab terhadap amanah yang diberikan merupakan ciri bagi muslim yang bertaqwa. Seseorang yang bertanggung jawab di tempat kerja akan melaksanakan tugas-tugasnya dengan baik dan tepat waktu. Kesimpulan Penerapan etos kerja Islami pada Bank Syariah Indonesia (BSI) KCP Makassar Unismuh adalah dengan melakukan do’a pagi secara rutin, menjadikan budaya kerja “AKHLAK” dan Motto “Faster, Better, Happier” sebagai landasan dan patokan agar terciptanya etos kerja Islami yang baik. Penerapan budaya kerja “AKHLAK” dalam etos kerja Islami di Bank Syariah Indonesia (BSI) KCP Makassar Unismuh memberikan dampak positif karena beberapa pegawai telah menerapkan ciri-ciri etos kerja Islami dalam pekerjaan sehari-hari. Meskipun masih terdapat pegawai yang lalai dalam menerapkan etos kerja islam ini, dapat dikatakan bahwa Bank Syariah Indonesia (BSI) KCP Makassar telah menerapkan Etos Kerja Islami dengan baik. Daftar Pustaka Abdullah, Atikullah Hj. 2019. “Konsep Kerja Sebagai Ibadat Menurut Perspektif Islam Asas Fahaman Dualisme Dalam Kehidupan” 6: 37–48. Adha, Risky Nur, Nurul Qomariah, and Achmad Hasan Hafidzi. 2019. “Pengaruh Motivasi Kerja, Lingkungan Kerja, Budaya Kerja Terhadap.” Jurnal Penelitian Ipteks 4 (1): 47–62. Adlini, Miza Nina, Anisya Hanifa Dinda, Sarah Yulinda, Octavia Chotimah, and Sauda Julia Merliyana. 2022. “Metode Penelitian Kualitatif Studi Pustaka.” Edumaspul: Jurnal Pendidikan 6 (1): 974–80. https://doi.org/10.33487/edumaspul.v6i1.3394. Amir, Amir. 2023. “Etos Kerja Para Petani Desa Bakeong Kecamatan Guluk-Guluk Kabupaten Sumenep Dalam Perspektif Ekonomi Islam.” Iltizam : Jurnal Ekonomi Dan Keuangan Islam 1 (1): 112–32. https://doi.org/10.35316/iltizam.v1i1.3416. Arnisa, Zerly Tivi. 2020. Penerapan Etos Kerja Islam Pada Karyawan Bank Syariah Mandiri Kantor Cabang Pembantu Teluk Betung. Azhari, Devi Syukri, and Usman Usman. 2022. “Etika Profesi Dalam Perspektif Islam.” Jurnal Review Pendidikan Dan Pengajaran 5 (1): 6–13. https://doi.org/10.31004/jrpp.v5i1.4386. Desky, Harjoni. 2019. “Pengaruh Etos Kerja Islami Dan Gaya Kepemimpinan Bertuah : Journal of Shariah and Islamic Economics | 317 Dhea, Muin, Idris Terhadap Kinerja Karyawan Rumah Makan Ayam Lepaas Lhokseumawe” 8 (2): 459–78. Elkarimah, Mia Fitriah. 2018. “Etos Kerja Kesejahteraan Sosial.” An-Nuha 3 (1). Islami Dalam Mewujudkan Fadli, Muhammad Rijal. 2021. “Memahami Desain Metode Penelitian Kualitatif.” Humanika 21 (1): 33–54. https://doi.org/10.21831/hum.v21i1.38075. Farhan, Ali. 2018. “Etos Kerja Islami Dalam Bingkai Romantisme Hamka” 16 (2): 182–92. Islam, Agama, Al Qur, and Jurnal Sosial Humaniorah. 2020. “Etos Kerja Dalam Perspektif Islam Saifullah Definisi Etos Kerja” 3 (1): 54–69. Kinerja, Terhadap, and Karyawan Multifinance. 2019. “Etos Kerja Islam Dan Budaya Organisasi: Pengaruhnya Terhadap Kinerja Karyawan” 7: 259–71. Muhammad Azhari Normadan, Rais Abdullah. 2022. “Analisis Penerapan Etos Kerja Islami Pada Karyawan Panglima Samarinda.” Jurnal Ekonomi Syariah Mulawarman 1 (1): 1–7. Muslim, Pedagang, Pasar Besar, and Kota Madiun. 2020. “Etos Kerja Islami Pada Kinerja Bisnis Pedagang Muslim Pasr Besar Kota Madiun” 2 (4). Nasir, Abdul, Nurjana, Khaf Shah, Rusdy Abdullah Sirodj, and M Win Afgani. 2023. “Pendekatan Fenomenologi Dalam Penelitian Kualitatif 1✉.” INNOVATIVE: Journal Of Social Science Research 3 (5): 4445–51. Prasetyo, Ari, Sharia Bank, and Branch Surabaya. 2019. “Motivasi Kerja Islam Dan Etos Kerja Islam Karyawan Bank Jatim Syariah Cabang Surabaya” 2 (7): 531– 41. Produktifitas, Konsep, and Kerja Dalam. 2019. “Kerja Merupakan Pendorong Utama Aktivitas Perekonomian Baik Secara Mikro Maupun Secara Makro. Tulisan Ini Mengkaji Tentang” 1 (2): 195–211. Siregar, Arief Rahmadsah, Patar Marbun, and Yuni Syaputri. 2020. “Pengaruh Budaya Kerja Islam Dan Jam Kerja Terhadap Kinerja Karyawan Pada Pt. Latexindo Toba Perkasa Binjai.” Jurnal Ilmiah Manajemen Dan Bisnis (JIMBI) 1 (1): 101–10. Sitepu, Novi Indriyani, Dosen Ekonomi, Islam Universitas, Syiah Kuala, and Banda Aceh. 2021. “Etos Kerja Ditinjau Dari Perspektif Alquran Dan Hadis ( Suatu Kajian Ekonomi Dengan Pendekatan Tafsir Tematik )” 1 (September): Bertuah : Journal of Shariah and Islamic Economics | 318 Dhea, Muin, Idris 137–53. Sono, Nanda Hidayan, Lukman Hakim, Lusi Oktaviani, and Universitas Jember. 2017. “Etos Kerja Islam Sebagai Upaya Meningkatkan” 2017: 27–28. Sunardi, Didi. 2019. “Etos Kerja Islami.” Ekonomi Syariah, 82–94. Tabur, L A N, Jurnal Ekonomi Syari, and A H Vol. 2021. “Faustino Cardoso Gomes, Manajemen Sumber Daya Manusia (Yogyakarta: Andi Offset, 2003, h.1. Ibid., h.3. 101” 2 (2): 101–12. Zaini, Ahmad. 2016. “Meneladani Etos Kerja Rasulullah Saw.” BISNIS : Jurnal Bisnis Dan Manajemen Islam 3 (1): 115. https://doi.org/10.21043/bisnis.v3i1.1476. Bertuah : Journal of Shariah and Islamic Economics | 319