Al-Isnad: Journal of Islamic Civilization History and Humanities Vol. 1 No. 01 December 2020 | 1-16 Darul Islam Di Surakarta: Studi Kasus Pemberontakan DI/TII EksBatalion 426 Dan Pengaruhnya Tahun 1951-1952 Agung Nugroho1 1 Prodi Sejarah Peradaban Islam IAIN Surakarta agungnugrr@gmail. Article history: Submitted: 2 Juni 2020 Accepted: 17 Agust 2020 Published: 3 December 2020 Abstract: This study is a study of local history that reconstructs the DI / TII rebellion in the Surakarta Residency in 1951-1952. This rebellion was related to Darul Islam in Central Java targeted the Diponegoro Division of the former Surakarta Hizbullah, namely Battalion 426. This research uses historical methodology through four main stages of the historical method, namely: heuristics, . source criticism, . , interpretation, and . The results of this study indicate that the 426 Battalion came from former Hizbullah Surakarta fighters during the independence war named Hizbullah Sunan Bonang. The DI / TII infiltration was led by Captain Sofyan who had connections with Darul Islam in Central Java. The rebellion lasted for five months from December 1951 to April 1952 dengan Surakarta as the destination. The rebellion was framed with propaganda defending Islam and anti-communism for support. The rebellion influences security stability, its presence is used by local rioters to increase crime, cause economic losses, disrupt transportation, and result in social tension due to the arrest of Muslim communities and local Islamic leaders. Keywords: Battalion 426. Darul Islam Rebellion. Surakarta. Abstrak: Studi ini merupakan kajian sejarah lokal yang merekonstruksi tentang pemberontakan DI/TII di Karesidenan Surakarta tahun 1951-1952. Pemberontakan ini berkaitan dengan Darul Islam di Jawa Tengah yang mengincar kesatuan Divisi Diponegoro dari bekas Hizbullah Surakarta yakni Batalion 426. Penelitian ini menggunakan metodologi sejarah melalui empat tahapan pokok metode sejarah, yakni: . heuristik, . kritik sumber, . , interpretasi, dan . Hasil penelitian ini menunjukkan Batalion 426 berasal dari bekas pejuang Hizbullah Surakarta di masa perang kemerdekaan yang bernama Hizbullah Sunan Bonang. Infiltrasi DI/TII dipimpin oleh Kapten Sofyan yang memiliki koneksi dengan Darul Islam Jawa Tengah. Pemberontakan berlangsung selama lima bulan sejak Desember 1951 hingga April 1952 dengan Surakarta sebagai wilayah tujuan. Pemberontakan dibingkai dengan propaganda membela Islam dan anti komunis untuk mendapatkan dukungan. Pemberontakan berpengaruh terhadap stabilitas keamanan, kehadirannya dimanfaatkan oleh pengacau lokal untuk meningkatkan kejahatan, menimbulkan kerugian ekonomi, terganggunya transportasi serta berbuah ketegangan sosial akibat penangkapan masyarakat Muslim dan pemimpin Islam lokal. Kata kunci: Batalion 426 Darul Islam,Pemberontakan. Surakarta. PENDAHULUAN Cornelis Van Dijk dalam bukunya Darul Islam Sebuah Pemberontakan telah menerangkan tentang pemberontakan Darul Islam di Indonesia. Gerakan pemberontakan untuk menegakkan citacita negara Islam dimotori oleh Sekar Maridjan Kartosoewirjo pada tahun 1948 di Jawa Barat untuk mendirikan Negara Islam Indonesia atau Darul Islam. Pendirian tersebut dipicu oleh persetujuan Renville yang menyebabkan Jawa Barat jatuh ke tangan Belanda sehingga menimbulkan P-ISSN x-x E-ISSN x-x A 2020 author. Darul Islam Di Surakarta: Studi Kasus Pemberontakan DI/TII Eks-Batalion 426 Dan Pengaruhnya Tahun Agung Nugroho kekecewaan di kubu militer, konsekuensi perundingan itu mengharuskan tentara Republik meninggalkan kantong Belanda menuju wilayah Republik. Barisan laskar Hizbullah yang menolak meninggalkan daerahnya berhasil Kartosoewirjo alihkan menjadi Tentara Islam Indonesia (TII) sebagai kekuatan militer Darul Islam yang ia proklamirkan secara resmi pada 7 Agustus 1949 di Desa Cisampak. Kecamatan Cilugagar. Kabupaten Tasikmalaya Jawa Barat1. Darul Islam dengan cepat menyeberang ke Jawa Tengah. Darul Islam di Jawa Tengah terbagi menjadi tiga kelompok berbeda. Pertama, di perbatasan Jawa Tengah meliputi Pekalongan. Brebes, dan Tegal yang menjadi basis utama Darul Islam Jawa Tengah dipimpin oleh Amir Fattah. Ia memanfaatkan Majelis Islam untuk menyebarkan cita-cita negara Islam yang diproklamasikan Kartosoewirjo. Sejak pertengahan 1949, gerakan DI Jawa Tengah mulai menyerang TNI dan meneror rakyat2. Kedua, oleh pergerakan organisasi Islam yang pernah berperang semasa revolusi kemerdekaan, yakni Angkatan Oemat Islam (AOI) di Kebumen, yang dimotori oleh Kiai Mahfudz Abdurachman. Ketiga, yang muncul dari pembelotan sebagian tentara dari kesatuan Divisi Diponegoro Jawa Tengah. Kemunculan kelompok yang terlibat Darul Islam dari Divisi Diponegoro Jawa Tengah berasal dari Batalion 423 dan Batalion 426. Pada awal Desember 1951, dari kedua batalion tersebut. Batalion 423 yang dipimpin Mayor Basuno kembali ke kesatuannya. Sedangkan Batalion 426 hanya komandannya Mayor Munawar yang menghadap ke divisi, sementara seluruh anak buahnya secara terang menyatakan perang3. Menurut Van Dijk 4,gerakan eks Batalion 426 merupakan bagian dari penegakan cita-cita negara Islam Darul Islam Kartoesoewirjo. Eks Batalion 426 memiliki komposisi anggota yang terdiri dari bekas laskar Hizbullah di Surakarta. Peristiwa Darul Islam di Jawa Barat yang masuk ke Jawa Tengah kemudian Surakarta selalu menampakkan wujud yang berbeda, sebab masyarakat setempat dengan dinamika lokalnya menerjemahkan gerakan dengan dinamika mereka sendiri. 5Pemberontakan Darul Islam eks Batalion 426 relatif singkat yang dimulai bulan Desember 1951 Ae April 1952, tetapi faktor pergolakan yang mendahului dapat ditelusuri tahun-tahun sebelumnya di masa revolusi. Pemberontakan eks Batalion 426 memperlihatkan gerakan sosial yang sedikit mendapatkan dukungan massa. Tulisan ini berfokus pada tiga permasalahan pokok, yakni sejarah terbentuknya Batalion 426 sebagai bagian dari laskar Hizbullah, infiltrasi Darul Islam ke dalam Batalion 426 dan proses berlangsungnya pemberontakan hngga penumpasannya, dan pengaruh pemberontakan tersebut bagi masyarakat di Karesidenan Surakarta. Penelitian ini menerapkan metodologi sejarah dengan mengikuti empat kaidah pokok yakni heuristik, verifikasi, interpretasi, dan historiografi. Kuntowijoyo 6 menyebut metode sejarah adalah petunjuk pelaksanaan dan teknis tentang menelusuri bahan, melakukan interpretasi dan penyajian sejarah atau penulisan sejarah. Solahudin. NII Sampai JI (Jakarta: Komunitas Bambu, 2. Hal 65. Van Dijk dan Cornelis. Darul Islam Sebuah Pemberontakan (Jakarta: Pustaka Utama Grafiti, 1. Hal 128 dan Dinas Sejarah Militer Kodam VII / Diponegoro. Rumpun Diponegoro Dan Pengabdiannya. Borobudur Megah Semarang, 1977. Hal 477. Van Dijk dan Cornelis. Darul Islam Sebuah Pemberontakan. Hal 139. Kuntowijoyo. Pengantar Ilmu Sejarah (Yogyakarta: Bentang Budaya, 2. Hal 184-186. Kuntowijoyo. Metodologi Sejarah (Yogyakarta: Tiara Wacana, 2. Hal xix. Al-Isnad: Journal of Islamic Civilization History and Humanities Vol. 1 No. 01 December 2020 | 1-16 Penelitian ini menggunakan studi kepustakaan berupa dokumen yang berdekatan dengan peristiwa yakni arsip, koran, majalah dan foto sezaman. Sumber sejarah yang diperoleh harus dapat dibuktikan keaslian dan kredibilitasnya. Kritik dilakukan dengan dua cara, yaitu kritik intern dan kritik ekstern. Kritik intern untuk membuktikan keaslian dan kredibilitas sumber meliputi waktu pembuatan dan bahan sumber, sementara kritik ekstern yakni penelitian terhadap informasi yang terkandung apakah relevan dengan objek yang akan diteliti atau tidak. Interpretasi adalah tahap untuk menafsirkan sumber-sumber yang kredibel untuk menerangkan kembali fakta sejarah. Data yang didapatkan akan dibandingkan dan dianalisis secara kritis dan mendalam untuk disimpulkan, ditafsirkan dan diketahui kesesuaian dengan masalah yang Setelah semua tahapan tersebut selesai, sejarawan melakukan historiografi atau penulisan sejarah dari hasil keseluruhan interpretasi. PEMBAHASAN Sejarah dan Riwayat Perjuangan Batalion 426 Hizbullah Surakarta dibentuk tanggal 8 Juli 1945 oleh alumni Hizbullah Cibarusa. Pelatihan pertama dipimpin oleh Mohammad Munawar berlokasi di Asrama Kustati dan di gedung Sie Dan Hoo atau Gedung Lawa7. Usai sebulan menjalani latihan. Soekarno dan Hatta memproklamasikan kemerdekaan Indonesia sehingga tenaga Hizbullah diperlukan untuk merebut Surakarta dari pendudukan Jepang. Muktamar Umat Islam se-Jawa dan Madura tanggal 7-10 November 1945 di Yogyakarta memutuskan untuk memobilisasi kekuatan seluruh umat Islam. Pemimpin dan ulama tergabung dalam Majelis Syuro Muslimin Indonesia (Masyum. , pemuda Islam tergabung dalam Gerakan Pemuda Islam Indonesia (GPII) dan dalam bidang militer secara resmi membentuk Laskar Hizbullah dan Sabilillah. Pada 19 Maret 1946 berlangsung Konferensi Hizbullah di Surakarta guna membahas bentuk dan personalia pasukan Divisi Hizbullah beserta Resimennya yang secara resmi berhasil membentuk Hizbullah Divisi Surakarta dengan Muhammad Munawar sebagai Komandan Divisi IV Resimen I 8. Pada tanggal 15 Juni 1946 Hizbullah Surakarta bertransformasi menjadi Batalion Pembelaan Hizbullah Divisi Surakarta yang bertugas sebagai pasukan penggempur. Hizbullah Surakarta berjuang bersama laskar lainnya dalam Gabungan Laskar Pertahanan Surakarta (GPLS) yang dibentuk di Ngapeman Solo, 16 Mei 1946 9. Secara kolektif mereka menghalau Belanda dan Sekutunya yang berusaha memasuki Karesidenan Surakarta. Tanggal 25 Maret 1947 dilangsungkan Konferensi Hizbullah se-Jawa dan Madura di Markas Tertinggi Malang. Salah satu hasil dari konferensi itu adalah membentuk kesatuan baru bernama Divisi Hizbullah Sunan Bonang pada 18 April 1947, dengan Komandan Mohammad Munawar yang berkedudukan di Surakarta, divisi ini merupakan gabungan dari Hizbullah Semarang dan Hizbullah Surakarta 10. Resimen Hizbullah Surakarta di kabupaten terdapat di Tashadi, dkk. Sejarah Perjuangan Hizbullah Sablilillah Divisi Sunan Bonang (Surakarta: Yayasan Bhakti Utama, 1. Hal 190. Basit Adnan, "Hizbullah Dalam Perjuangan Kemerdekaan," Suara Muhammadiyah No. 24 Tahun Ke-59. Desember II (Yogyakarta. Desember 1. Hal 16. Tashadi. Sejarah Perjuangan Hizbullah Sablilillah Divisi Sunan Bonang. Hal 192-193. Tashadi. Hal 193. Darul Islam Di Surakarta: Studi Kasus Pemberontakan DI/TII Eks-Batalion 426 Dan Pengaruhnya Tahun Agung Nugroho Boyolali. Wonogiri. Sragen. Klaten. Boyolali dan tingkat kecamatan dalam bentuk kompi-kompi Hizbullah. Sedangkan Sabilillah terdiri dari empat kompi dengan nama Kompi Soreng Pati. Kompi Elang Putih. Kompi Condrokirono dan Kompi Lawa-Lawa. Anggota Hizbullah Sabilillah Divisi Sunan Bonang berjumlah sekitar 3000 pemuda Islam berumur 17 tahun hingga 24 tahun. Mereka berasal dari berbagai lapisan masyarakat seperti pelajar, pedagang, petani, ulama dan pengusaha11. Pada tanggal 3 Juni 1947 Presiden Republik Indonesia mengeluarkan Penetapan berdirinya Tentara Nasional Indonesia sebagai usaha mempersatukan tentara RI dan badan kelaskaran. Divisi Hizbullah Surakarta secara resmi masuk Tentara Nasional Indonesia (TNI) pada 16 Agustus 1947 dengan nama Resimen 6 Brigade XXIV yang merupakan penjelmaan dari Hizbullah Divisi Sunan Bonang Surakarta. Pada tanggal 5 November 1947. Resimen 6 Brigade XXIV diresmikan Divisi IV TNI dengan susunan yaitu: - Komandan Resimen 6. Letnan Kolonel Munawar, bermarkas di Surakarta. - Kepala Staf Mayor Arman. - A. Ismail sebagai Komandan Batalion XIX. Resimen VI. Brigade XXIV. Divisi IV, bermarkas di kota Surakarta. - Moh. Alif sebagai Komandan Batalion XX. Resimen VI. Brigade XXIV. Divisi IV, bermarkas di Klaten. - Moh. Muhdi sebagai Komandan Batalion XXI. Resimen VI. Brigade XXIV. Divisi IV, bermarkas di Wirosari. Setelah Hizbullah masuk ke TNI, maka resimen di tiap kabupaten diturunkan setingkat batalion. Letnan Kolonel Munawar berganti pangkat sebagai komandan batalion. Mayor Munawar. Berdasarkan Keputusan Menteri Pertahanan Nomor D/MP/355/51 tanggal 15 September 1951 tentang susunan 7 Tentara dan Territorium di Indonesia. T&T. IV yang berkedudukan di Semarang merupakan Divisi IV/ Diponegoro Jawa Tengah yang memiliki nomor pengenal 4, seperti 401, 402, dan seterusnya. Sejak Desember 1950. Batalion Munawar sudah berganti nama sesuai dengan nomor tersebut, yakni Batalion 426 dengan Komandan Mayor Munawar yang berkedudukan di Kudus dengan kompi-kompinya yakni: - Kompi I di bawah pimpinan Kapten Muhyidin. - Kompi II di bawah pimpinan Kapten Sofyan. - Kompi i di bawah pimpinan Lettu Moh. Yuslam. - Kompi IV di bawah pimpinan Lettu Alif. Batalion 426 memiliki segudang pengalaman berperang mulai dari bertempur dengan Jepang, melawan kedatangan tentara Sekutu di Jawa Tengah hingga melawan Belanda pada Agresi Militer I tahun 1947 dan Agresi Militer II tahun 1948. Pengalaman lain diperoleh ketika mereka turut menumpas pemberontakan PKI tahun 1948, pemberontakan Darul Islam pimpinan Amir Fattah di Brebes, pembelotan Angkatan Oemat Islam di Kebumen serta pengacau bersenjata Merapi Merbabu Complex (MMC). Tashadi. Hal 64-65. Al-Isnad: Journal of Islamic Civilization History and Humanities Vol. 1 No. 01 December 2020 | 1-16 Faktor-Faktor yang Mengawali Pemberontakan Batalion 426 Islam diadaptasi dan memainkan peranan penting sebagai penggerak yang mendorong Batalion 426 dan rakyat mendukung Darul Islam. Cita-cita negara Islam merupakan hal yang dapat mempersatukan mereka untuk melawan musuh kafir, komunis atau mereka yang melalaikan Bagi mereka, orang-orang yang tidak taat menjalankan syariat Islam merupakan sasaran tindakan penghukuman. Sementara itu memasuki tahun 1950 di lingkungan tentara mulai membebaskan diri dari pengaruh sayap kiri dan unsur-unsur Islam terutama dari pemberontak Darul Islam 12 . Informasi dari para tawanan DI di daerah Tegal dan Brebes menyatakan bahwa Darul Islam memperoleh dukungan dari para perwira bawahan Batalion 423 dan 426 Divisi Diponegoro 13. Hal itu diperkuat informasi dari penangkapan Komandan Tentara Islam Indonesia (TII) Jawa Tengah pengganti Amir Fattah, yaitu Mayor Mughny, yang menunjukkan keterlibatan Batalion 426 dengan Darul Islam. Ditemukan dokumen yang berisi perintah kepada Mayor Mughny untuk mengambil alih Batalion 423 yang sedang bertugas di Brebes. Selain itu, terdapat bukti yang menunjukkan perwira Batalion 423 mengadakan hubungan dengan DI, setelah diperiksa lebih lanjut diketahui bahwa beberapa perwira dari Batalion 426 juga terlibat rencana pemberontakan. Hubungan tersebut mengindikasikan terdapat infiltrasi Darul Islam di dalam Divisi Diponegoro 14. Infiltrasi berlangsung saat mereka ditugaskan di Brebes untuk membantu pembersihan gerakan Darul Islam, tetapi pasukan Munawar melanggar perintah dan bertindak sebaliknya yakni membantu gerakan. Hal serupa terjadi saat mereka ditugaskan menumpas gerakan pengacau bersenjata di Merapi Merbabu Complex (MMC), mereka bertindak tidak disiplin dan membantu Keberhasilan infiltrasi Darul Islam juga disebabkan oleh kelalaian dari Divisi Diponegoro dalam mengawasi Batalion 426. Sebelum berada di Kudus, sejak pengakuan kedaulatan RI anggota Batalion pernah tidak ditempatkan di barak militer melainkan di rumahrumah penduduk di Demak selama setahun. Selama satu tahun tersebut mereka menjalin hubungan erat dengan kalangan di luar ketentaraan dan mengumpulkan persediaan senjata ilegal. Hubungan Darul Islam dengan kesatuan Batalion 426 diketahui setelah tertangkapnya pengiriman senjata berupa peluru dan pakaian seragam dari Kapten Sofyan kepada gerombolan Tentara Islam Indonesia. Hubungan itu ternyata sudah terjalin cukup lama karena terdapat beberapa senjata milik TII yang diperbaiki oleh Kapten Sofyan16. Beberapa hari sebelum meletus pemberontakan, dengan alasan cuti atau istirahat, kurang lebih 30 anggota Batalion 426 pergi meninggalkan Asrama Jati Kudus dengan truk menuju ke Kecamatan Cawas Kabupaten Klaten. Di daerah itu mereka melatih para pemuda untuk memegang senjata dan menanamkan doktrin melawan AuTNI kafirAy 17. Van Dijk dan Cornelis. Darul Islam Sebuah Pemberontakan. Hal 368. Van Dijk dan Cornelis. Hal 88. Diponegoro. Rumpun Diponegoro Dan Pengabdiannya. Hal 477. Anonim. AuTindakan Mil Di Kudus Thd Elemen 2 Tentara Jang Tidak Disipliner,Ay Abadi, 10 December , 1951. Anonim, "Pemberontakan,Ay Harian Rakjat, 24 Desember, 1951. Anonim. AuOverste Sarbini Ttg Bat. Munawar: Tindakan Sekarang Ditudjukan Thd Tentara Jang Indiscipinair,Ay Abadi, 19 Desember, 1951. Darul Islam Di Surakarta: Studi Kasus Pemberontakan DI/TII Eks-Batalion 426 Dan Pengaruhnya Tahun Agung Nugroho Pemberontakan Eks Batalion 426: Kudus and Magelang Affairs Sejak tanggal 5 Dsember 1951, suasana kota Kudus begitu mencekam setelah penutupan kantor-kantor penting yang disertai penjagaan aparat militer. Tiga hari sebelumnya tanggal 2 Desember 1951, terjadi peristiwa pembakaran gudang tembakau di Jember. Kudus dan pembakaran gudang pabrik rokok kretek AuSirinAy yang didahului tiga kali penembakan oleh sekelompok orang Markas Besar Divisi Diponegoro menyatakan Mayor Basuno dari Batalion 423 telah menghadap dan menyatakan setia kepada negara. Sementara Komandan Batalion 426 Mayor Munawar menyerahkan diri ke markas, tetapi wakilnya Kapten Sofyan menolak menghadap. Sofyan menolak kembali ke markas dan memilih jalan pemberontakan, ia juga mengakui tiga kompinya di Kudus telah bergabung ke TII. Sofyan dikabarkan mendapatkan tawaran kedudukan sebagai panglima TII untuk Jawa Tengah menggantikan Amir Fattah 18. Desember 1951: Propaganda dan Penyebaran Gerakan Sabtu pagi, 8 Desember 1951 di Kudus pertempuran pertama terjadi antara TNI dengan tentara eks Batalion 426 yang dipimpin oleh Kapten Sofyan. Mereka menggunakan gedung bekas pabrik AuNitisemitroAy sebagai markasnya. Satu kompi terdiri 200 orang pemberontak bergerak menuju kompleks Gunung Muria, sementara dua kompi lainnya meloloskan diri menuju arah tenggara Kudus. Akibat peristiwa ini lalu lintas antara Semarang dan kota Kudus ditutup dan segala aktivitas dalam kota terhenti hingga Senin 10 Desember 19. Pasukan eks Batalion 426 yang dipimpin oleh Sofyan dan Yuslam bergerak ke selatan melalui Gajah dan Dempet. Purwodadi kemudian Kedungjati20. Pada 14 Desember, rombongan melewati Kutuk. Godan. Tawangharjo sampai Sonogedanan Wirosari Grobogan. Sempat singgah di Sermin Purwodadi, pada 16 Desember sampai di Kuwawur Grobogan. Di sepanjang jalan yang dilewati mereka mengganggu lalu lintas, membakar rumah-rumah dan merampas makanan Tujuan akhir rombongan Sofyan tersebut adalah daerah Surakarta yang merupakan basis pengikut dan kader yang ia bentuk (HR 17-12-1951, 19-12-1951. SR 17-12-1. Perlawanan terhadap eks Batalion 426 dilacarkan oleh TNI dibantu oleh rakyat yang sukarela membantu setelah memperoleh keterangan dari Jawatan Penerangan setempat serta pengumuman dari Divisi Diponegoro antara lain dari Batalion 424 yang berbunyi: AuRahasia Bataljon 426 telah terbongkar! Organisasi DI telah berhasil menjelundup di pemerintahan kita dan memakai nama tentara, tentara Bataljon 426. Untuk merobohkan Negara, banjak jang telah mereka rentjanakan dan kerdjakan: penggedoran, pembunuhan, penganiajaan, pentjulikan, pembakaran rumah-rumah dll. tindakan-tindakan jahat. Anonim. AuDesa Ngupit Dikosongkan Oleh Kaum Pemberontak,Ay Abadi, 18 Desember, 1951. Anonim. AuPemberontakan Di Kudus: Bekas Pabrik Nitisemitro Sebagai Markas," Suara Rakjat, 12 December , 1951. Anonim. AuPemberontakan Sofjan Cs Bukan Pemberontakan Militer Sadja,Ay Abadi, 14 Januari, 1952. Al-Isnad: Journal of Islamic Civilization History and Humanities Vol. 1 No. 01 December 2020 | 1-16 Bataljon 426 merupakan sarang pendjahat, sarang pemberontak: gerombolangerombolan pendjahat jang merasa tidak aman didaerahnja sendiri lari ke Bataljon 426 dan diterima baik serta mereka lindungi. Tingkah-lakunja mentjemarkan Negara dan Tentara pada chususnja. Sebagai orang Islam, mereka memperkosa tata tertib Igama dan menodai kita umat Islam semua. Kesabaran ada batasnja. kini pemerintah mengambil tindakan jang tegas guna mengachiri riwajat Bataljon 426. Rakjat supaja tetap tenang dan memberi bantuan kepada instansi-instansi Militer dan Civiel jang akan membebaskan penduduk dari terror Bataljon 426. Sekian!Ay 21. Pemberontakan eks Batalion 426 meletus juga di Magelang oleh dua kompi lain dari eks Batalion 426 yang dipimpin Kapten Alif. Markas Besar Divisi Diponegoro memerintahkan Mayor Munawar untuk membereskan dua kompinya tersebut tetapi ia tidak lagi diakui anak buahnya sebagai komandan22. Pemberontakan akhirnya terjadi di Magelang pada 10 Desember dini hari, tepat dua hari setelah induk Batalion di Kudus. Sehari sebelumnya keluarga mereka lebih dulu secara diam-diam meninggalkan asrama23. Satu kompi dipimpin oleh Muhyidin bergerak ke selatan ke daerah Jogja melewati Turi. Pakem. Kaliurang. Cangkringan, dan bertujuan menuju daerah Surakarta. Sementara satu kompi Alif yang bergerak ke utara membelok ke timur melewati Polukuhan. Selo dan Pentungan di Merapi Merbabu kompleks 24. Wedana Muntilan menerangkan bahwa di hari pertama keluar asrama, dari pagi sampai jam 9 pertempuran berlangsung di Stasiun Muntilan, selanjutnya pemberontak memasuki kantor polisi kemudian membebaskan 11 tahanan garong dan mempersenjatainya25. Di setiap pertempuran mereka selalu menyerukan takbir AuAllahu AkbarAy dan memakai identitas fisik berupa tanda kain merah di lengan bajunya. Kekacauan oleh pendukung Darul Islam tersebut menyebabkan lalu lintas dari kota Magelang ke arah segala jurusan dihentikan total sehingga suasana kota Magelang menjadi benar-benar sunyi. Hari itu juga jam malam mulai diberlakukan. Komandan Batalion 426 Mayor Munawar yang sempat mengunjungi Magelang tertangkap TNI tanggal 10 Desember 1951 dengan kondisi tanpa seragam dinas dan berpakaian mirip preman di Klaten 26 . Komandan operasi dari Batalion 412. Kapten Marsudi menyebut sebagian pemberontak telah membuang seragam tentaranya dan menggunakan pakaian seperti rakyat biasa. Hal itu menyulitkan penduduk untuk menentukan perbedaan pengikut gerakan karena berbaur dengan Oleh sebab itu. Residen Kedu. Muritno dan Pamongpraja memerintahkan kepada kepalakepala desa apabila di desanya kedatangan orang-orang tidak dikenal, maka diharuskan Anonim. AuKaum Pemberontak Dikedjar Terus,Ay Harian Rakjat, 19 Desember, 1951. Anonim. AuPengedjaran Thd Pemberontak Didaerah Jogja Dilandjutkan. Res. Kedu Dan Lt. Abudardak Menindjau Persiapan TNI,Ay Abadi, 15 Desember , 1951. Van Dijk dan Cornelis. Darul Islam Sebuah Pemberontakan. Hal 140. Anonim. AuPertempuran Disekitar Kudus Masih Berlangsung. Munawar Lari Bedodoran," Harian Rakjat, 13 Desember 1951. Ibid. Anonim. AuPembersihan Di Kudus: Pemberontak Dihalaukan Keluar Kota. Sendjata2 Berat Digunakan Dalam Pertempuran,Ao Abadi, 12 Desember, 1951. Darul Islam Di Surakarta: Studi Kasus Pemberontakan DI/TII Eks-Batalion 426 Dan Pengaruhnya Tahun Agung Nugroho melaporkan kepada Camat dan apabila menemui sekelompok tentara yang bertindak tidak wajar segera untuk melaporkan kepada TNI terdekat 27 . Pada 15 Desember 1951 pemberontak sampai Klaten membentuk pertahanan di desa Ngupit Jatinom, serta di Trucuk dan Cawas. Di Ngupit pemberontak menggali parit untuk mempertahankan diri. Selama pertempuran di Ngupit. TNI dibantu oleh AURI yang menggunakan pesawat Capung. Salah seorang Komandan operasi dari Brigade AuPAy Mayor Kusmanto gugur dalam pertempuran ini dan pemakamannya dilangsungkan di Jurug Solo28 Setelah dimasuki pemberontak, penduduk Ngupit merasa tertekan dan suasana di sekitarnya berubah menjadi begitu sunyi. Penduduk khawatir pemberontak masih aktif bersembunyi di desanya, oleh karena itu Ngupit dinyatakan menjadi daerah tertutup. Menurut Bupati Klaten, pada umumnya penduduk tidak mengerti maksud dari pemberontak, tetapi sebagian penduduk secara sengaja membantu gerakan dengan memberi pakaian. Pembersihan kepada penduduk yang diduga membantu gerakan dilakukan TNI dengan menggeledah rumah mereka yang berada di sekitar operasi bekas sarang Berpuluh-puluh penduduk diangkut oleh Corps Polisi Militer (CPM) Klaten untuk Penggeledahan dan pemeriksaan juga dilakukan di Jalan Solo Ae Jogja kepada semua kendaraan yang melintas 29. Pada pertengahan Desember pemberontak mengadakan propagandapropaganda kepada masyarakat dengan cara menyamar. Gerakan propaganda itu berupa provokasi bahwa orang-orang komunis menggunakan tentara untuk melenyapkan agama, membunuh orangorang yang beragama dan mengadakan pemberontakan serta menyatakan bahwa pertempuran yang terjadi adalah kepentingan 30. Sejak meletus pemberontakan, di Klaten dan di dalam kota Solo sering bermunculan siaran-siaran dari eks Batalion 426 yang berisi kebaikan-kebaikan eks Batalion 426 dan menjelekkan nama TNI dan para pemimpinnya. Mereka juga menyebarkan pamfletpamflet stensil yang serupa pengumuman-pengumuman dari pihak tentara dengan mengatasnamakan Divisi Diponegoro, tetapi kerap kali memakai cap stempel AuBatalion 426Ay dan tertanda nama AuKapten AlifAy atau AuCompagnie Bintoro. Ay Siaran-siaran ditempelkan di tempattempat umum bahkan ada yang diselipkan di dalam buku perpustakaan 31. Pada tanggal 16-20 Desember 1951, pertempuran berlangsung di Karanganom dan Delanggu. Pada 16 Desember 1951 pasukan pemberontak yang terdiri dari 100 orang telah menyerbu Delanggu dari beberapa jurusan dan menyerang pos-pos polisi. Untuk menjaga keamanan daerahnya, maka segenap partai dan organisasi di Delanggu membentuk Komite Keamanan Kecamatan Delanggu. Komite ini diketuai oleh Wedana Delanggu dan terdiri dari seksi keamanan oleh PNI, seksi ekonomi oleh BTI, perhubungan oleh Sarbupri, kesehatan oleh Masyumi dan penerangan oleh PKI. Mereka bertugas membantu pemerintah dalam usaha mengatasi kekacauan, merawat korban terluka dan memberikan penerangan kepada rakyat. Keberadaan pemberontak yang semakin aktif berkeliaran di Klaten menyebabkan pasukan yang terdiri dari TNI. Mobrig dan Polisi semakin giat mengadakan Ibid Anonim, "Pengedjaran Thd Pemberontak Didaerah Jogja Dilandjutkan. Res. Kedu Dan Lt. Abudardak Menindjau Persiapan TNI. Ay. Abadi, 15 Desember, 1951. Anonim. AuPasukan Pemberontak Masuk Kehutan-Hutan. Didesa Dawar Telah Terdjadi Pertempuran Selama 8 Djam," Abadi, 17 Desember, 1951. Anonim. AuPertempuran Di Wirosari,Ay Harian Rakjat, 23 Desember, 1951. Anonim. AuGrajak Actief Kembali Didaerah Merapi-Merbabu: Perampokan Dan Penggedoran Mulai Meningkat Lagi,Ay Abadi, 11 December , 1951. Al-Isnad: Journal of Islamic Civilization History and Humanities Vol. 1 No. 01 December 2020 | 1-16 pembersihan di sekitar daerah Klaten. Dari pembersihan di Klaten sampai 25 Januari, lebih dari 100 orang dapat ditangkap dan dokumen-dokumen yang berisi rencana pemberontakan diamankan Berkaitan dengan peristiwa pemberontakan. Komando Militer Kota Surakarta meminta kepada Pemerintah Kota Besar Surakarta untuk memberikan penjelasan kepada penduduk hal-hal yang perlu diketahui agar keadaan kota tetap aman. Untuk itu, pada tanggal 18 Desember 1951. Pemerintah Kota Besar Surakarta memberi tiga pengumuman penting: AuTindakan Angkatan Perang tidak ditudjukan kepada sesuatu golongan atau penganut ideologie jang tertentu. Penduduk jang ketempatan anggauta Batajon 426 atau keluarganja harus melaporkan kepada jang berwajib. Penduduk jang perlu sekali keluar rumah diwaktu djam malam, dapat mempergunakan obor atau lampu minjak. Ay Pengumuman tersebut diberlakukan kepada masyarakat kota Solo agar membantu memberikan informasi. Penduduk di kota Solo pada malam hari terpaksa tidak keluar rumah apabila tidak memiliki kepentingan mendesak seperti melahirkan atau sakit. Mereka yang keluar diharuskan membawa tanda berupa obor dan lampu teplok atau lampu sentir. Pemerintah Kota Besar Surakarta juga menyediakan sebuah bus DAMRI bagi mereka yang mengunjungi Solo dan mengantarkannya pulang, hal itu dilakukan untuk menghindari penumpang terlantar di jalanan kota sementara tingkat kejahatan sedang meningkat, sementara Surakarta adalah kota yang ramai Gerakan eks Batalion 426 lewat pertengahan Desember telah meliputi Karesidenan Semarang. Purwodadi-Grobogan. Salatiga. Karesidenan Kedu. Yogyakarta-Purworejo dan Karesidenan Surakarta. Pasukan pemberontak bahkan ada yang berusaha menyeberang sampai perbatasan Jawa Timur di Ngawi tetapi berhasil dihalau oleh TNI. Dari salah seorang tawanan yang tertangkap di Purwodadi Grobogan mengatakan bahwa Sofyan dan kawan-kawannya memiliki perbekalan berupa emas dan uang tunai yang selalu dibawa. Perbekalan itu merupakan hasil dari perampokan-perampokan dan dukungan dari masyarakat yang mendukungnya 34. Boyolali menjadi kantong Darul Islam setelah pemberontak yang sebelumnya berada di Desa Ngupit Jatinom mulai memasuki Boyolali melalui Desa Dawar Kecamatan Mojosongo 13 Desember 1951. Mereka berjumlah 80 orang yang dipimpin oleh Sonhaji 35. Kawanan lain yang dipimpin Sofyan dari pertengahan hingga akhir Desember bergerak dari Purwodadi Grobogan melewati Jawa Timur menuju ke Lawu kompleks. Mereka singgah di beberapa tempat meliputi Walikukum Ngawi. Sene. Gendol. Jamus dan dikejar TNI menuju Kemuning. Tawangmangu. Karangpandan dan Matesih. Dari Matesih bertahan di Kecamatan Jumapolo, pemberontak bergerak memasuki Wonogiri melintasi Kecamatan Jatipuro. Nguntoronadi, kemudian membelok ke barat melewati Wuryantoro. Manyaran. Watukelir. Guning Mijil dan berupaya memasuki Klaten Anonim. AuKomite Keamanan Kacamatan Delanggu,Ay Kedaulatan Rakjat, 20 Desember , 1951. Anonim. AuPenduduk Diharuskan Memberikan Laporan Djika Dirumahnja Terdapat Tamu Anggota Bat. 426," Abadi, 20 Desember, 1951. Anonim. AuPerbekalan Sofjan Tjukup Utk. 2 Th?," Java Post, 7 Januari, 1952. Darul Islam Di Surakarta: Studi Kasus Pemberontakan DI/TII Eks-Batalion 426 Dan Pengaruhnya Tahun Agung Nugroho bergabung dengan kawanannya. Selama di Wonogiri, pemberontak berhasil mengajak pemuda setempat bergabung dalam gerakan karena menamakan diri sebagai Tentara Pembebas Pajak 36. Januari 1952: Perpecahan Gerakan Pada awal Januari ini kekuatan eks Batalion 426 telah turun hingga kurang dari 50%. Pada awalnya pemberontak berjumlah 1000 orang yang terdiri dari 5 kompi, 3 dari Kudus dan 2 kompi di Magelang. Total kekuatan mereka diperkirakan tersisa 400 orang. Awal tahun tertanggal 1 Januari 1952 mulai diberlakukan Staad van Oorlog en Beleg (SOB) atau kondisi darurat untuk daerah Surakarta. Dalam pertemuan yang dihadiri oleh Jawatan Penerangan Kota Besar Surakarta. Mohammad Suhud bersama dengan Letkol. Moch. Bachrun, walikota, anggota DPD dan DPRD Kota besar Surakarta pada tanggal 10 Januari. Mohammad Suhud kemudian menyerukan agar semua wakil-wakil partai politik dan organisasi-organisasi ikut serta membantu pemerintah menyelesaikan pemberontakan 37. Di segala jurusan Sofyan dan kawanannya terus dikejar oleh TNI sehingga pemberontak tercerai-berai. Persediaan senjata yang semakin menipis memaksa mereka selalu melarikan diri menghindari TNI. Di Klaten pertempuran berlangsung terpisah meliputi Wonosari. Juwiring. Karanganom, dan Jatinom 38. Selama bulan Januari pemberontak di Klaten merusak jalan di Karangjero dan Bledeg di Karanganom, jalan Cokro dan juga memutus jembatan meliputi jembatan-jembatan di sepanjang Sungai Pusur. Penderitaan rakyat Klaten paling parah yakni di Kecamatan Jatinom, tercatat 425 rumah dibakar dan hancur, 47 penduduk tewas dan 37 orang terluka parah39. Dalam pertempuran di Juwiring pada 5 Januari 1952, komandan TNI dari Batalion 417 Mayor Sunaryo gugur. Sementara di pihak eks Batalion 426 pemimpin utama gerakan Kapten Sofyan tewas pada tanggal 2 Januari 1952, disusul Sonhaji yang tewas pada tanggal 5 Januari 1952. Keduanya dikuburkan di desa Sampak, kelurahan Mejiharjo, kecamatan Manganan. Kawedanan Wuryantoro Wonogiri. Praktis pimpinan gerakan digantikan Mayor A. Ismail bersama dengan pimpinan tersisa yakni Yuslam. Muhyidin dan Alif 40. Guna menjamin keamanan masyarakat, tanggal 10 Januari 1952 Panglima Diponegoro mengumumkan pemberlakukan kekuasaan militer. Kekuasaan tersebut memberi kekuasaan terbatas kepada komandan-komandan operasi untuk mengambil tindakan yang sekiranya diperlukan meliputi persoalan menggunaan senjata api, memantau penerbitan dan pemberitaan termasuk menerapkan sensor, pemantauan kegiatan rapat, dan pengaturan lalu lintas. Kalangan militer dengan kekuasaan itu dengan mudah dapat melakukan penangkapan terhadap orang-orang. Anonim. AuKaum Pemberontak Meninggalkan Djawa Timur," Abadi, 29 Desember, 1951. Anonim. AuSofjan Cs. Ingin Bentuk Negara Islam. Punya Hubungan Dgn Darul Islam Seluruh Masjarakat Harus Ikut Menyelesaikan," Java Post, 14 Desember 1952. Anonim,"AoPembrontak Dikedjar Terus," Java Post, 16 January , 1952. Anonim, "Sendjta2 Berat Pemberontak Dapat Di Rampas: Mereka Melakukan Siasat Gerilja," Suara Masjarakat, 14 Januari, 1952. Anonim. AuKehendak PKI: Kabinet Tanpa Masjumi Masjumi Dituduh Sokong Darul Islam," Java Post, 26 Januari. Al-Isnad: Journal of Islamic Civilization History and Humanities Vol. 1 No. 01 December 2020 | 1-16 Mereka juga dengan leluasa dapat memasuki rumah-rumah penduduk untuk memeriksa dan mengerahkan tenaga rakyat apabila diperlukan41. Pertengahan Januari 1952, pemberontak terfokus di tiga wilayah yakni Klaten. Boyolali dan Karesidenan Kedu. Pemberontak di Boyolali telah menguasai Kecamatan Simo dan mengangkat lurah-lurah baru untuk menjamin logistik gerakan. Kawanan lain sejumlah 200 orang di Kedu pada akhir Januari giat berpindah dari satu desa ke desa lain dipimpin oleh Kapten Alif. Letnan Ardani dan Letnan II Abudardak yang memanfaatkan medan pegunungan dan jalan berkelok. Selama di area tersebut mereka aktif melakukan propaganda dan memasang plakat-plakat untuk menghasut Februari 1952: Sisa Gerakan Tercerai Berai Selama bulan Februari 1952 pemberontak banyak bersembunyi di desa-desa di Boyolali karena persediaan makanan yang lebih mudah dirampas dari ladang-ladang rakyat. Sejak dikejar oleh TNI, pasukan yang sebelumnya menguasai Simo tersebar di beberapa tempat meliputi utara Boyolali yakni Kecamatan Musuk. Klego dan Wonosegoro, dan ke selatan Boyolali di Kecamatan Nogosari dan Temon. Pada tanggal 18 Februari pemberontak memaksa penduduk membakar rumah-rumah di lima desa di Nogosari. Hal serupa terjadi di Temon sekitar 75 rumah dibakar oleh ulah pemberontak 43. Pertempuran oleh kawanan lain berlangsung di Klaten yakni di Pedan. Trucuk dan Cawas yang banyak memakan korban penduduk akibat tembakan peluru meriam 44. Aktivitas pembersihan oleh TNI di Klaten berlangsung dengan menangkap pemuda-pemuda Islam setempat. Meskipun disangkal Divisi Diponegoro, seorang Prawoto Mangkusasmito dari Parlemen Masyumi Pusat mengkritik keras upaya militer tersebut setelah mendapat laporan terdapat anggota TNI selama melakukan pembersihan terlibat membakar masjid di Karanganom dan di Tegalsari Nglawijan Solo, juga memasuki masjid dengan bersepatu dan membawa anjing serta menginjak al QurAoan saat aksi pembersihan di desa Kadirejo Karanganom Klaten45. Pertempuran lain berlangsung di Karesidenan Kedu oleh pelarian 80 orang pemberontak dari Klaten yang menyeberangi Kaliurang menuju Magelang. Di Bendungan Wonosobo, sejumlah 100 orang pemberontak yang dikomando Alif telah ditawan TNI termasuk Alif. Gerakan eks Batalion 426 menyisakan A. Ismail. Yuslam dan Muhyidin yang aktif bergerak di Klaten. Boyolali dan Sukoharjo 46. Anonim, "Sendjta2 Berat Pemberontak Dapat Di Rampas: Mereka Melakukan Siasat Gerilja," Suara Masjarakat, 14 Januari, 1952. Anonim. AuSimo Dikuasai TNI: Pemberontak Telah Angkat Lurah2 Baru,"Java Post,28 Januari, 1952. Anonim. AuPemberontak Menjerbu Ladang-Ladang Rakjat Pengejaran Oleh Pihak TNI Terus Dilakukan," Abadi, 6 Februari,1952. Anonim,"AoPembrontak Dikedjar Terus," Java Post, 16 January , 1952. Anonim. AuPernjataan Prawoto Mangkusasmito: Tjara2 Melakukan Pembersihan," Suara Masjarakat, 13 Februari. Anonim. AuKaum Pemberontak Terus Dikedjar Oleh TNI,Ay Abadi, 5 Februari,1952. Darul Islam Di Surakarta: Studi Kasus Pemberontakan DI/TII Eks-Batalion 426 Dan Pengaruhnya Tahun Agung Nugroho Maret dan April 1952: Kehancuran Gerakan pemberontak masih aktif dalam rombongan kecil yang tersisa di daerah Kedu. Klaten. Boyolali. Sukoharjo dan Surakarta. Persediaan logistik mereka hanya tersisa sedikit dan bantuan yang diberikan penduduk semakin susah didapatkan sehingga pemberontak tidak segan untuk melakukan perampokan-perampokan 47. Persebaran eks Batalion 426 banyak tersisa di Sukoharjo meliputi Langkap. Weru. Grogol. Polokarto. Bulurejo. Karangasem. Semin. Mojolaban dan di sekitar pegunungan Teruwongso. Mereka adalah anggota tersisa yang sempat menguasai Simo yang dikomando Ismail sejumlah 100 orang. Dalam aksinya mereka merampas makanan penduduk dan menggunakan masjid-masjid sebagai pertahanan. Kawanan kecil di Klaten masih tersebar di Kecamatan Cawas. Pedan. Wonosari dan Tulung48. Pemberontakan eks Batalion 426 berakhir secara perlahan setelah di bulan April 1952 kekuatannya melemah dan tercerai berai akibat operasi gabungan yang dilancarkan oleh TNI. Polisi dan Pamongpraja serta dibantu oleh rakyat sekitar. Pemberontak yang tersisa 30 persen dari jumlah semula meninggalkan Klaten dan Sukoharjo berupaya menggabungkan diri dengan Darul Islam di Brebes Selatan dan sebagian yang lain berupaya mencapai Darul Islam di Jawa Barat. Sisa-sisa pasukan eks Batalion 426 lainnya turut bersama gerombolan-gerombolan pengacau yang bergerak di utara Klaten di sekitar Merapi Merbabu kompleks 49. Penumpasan DI/TII Eks Batalion 426 Sejak diketahui rencana pemberontakan eks Batalion 426. Panglima Divisi Diponegoro mengeluarkan Keputusan Siasat tanggal 7 Desember 1951 yang memerintahkan Komandan dari tiga Brigade yaitu Brigade Pragola yang bermarkas di Salatiga. Brigade Mangkubumi yang bermarkas di Yogyakarta dan Brigade Panembahan Senopati di Surakarta. Ketiga brigade ditugaskan untuk memberikan penerangan kepada anak buah Batalion 426, melucuti senjata dan menangkap anggotanya. Selain instruksi juga diberikan kepada komando operasi Gerakan Banteng Nasional (GBN) di Brebes dan Pekalongan untuk mengawasi Batalion 423. Sesudah meletus pemberontakan di Kudus dan perkembangan gerakan di daerah Surakarta, maka dikeluarkan instruksi Siasat Panglima Divisi Diponegoro No. 16/D/K. II/D. i/51 tanggal 19 Desember 1951 yang menugaskan Brigade Pragola. Brigade Mangkubumi dan Panembahan Senopati. Gerakan ini kemudian dinamakan Operasi Sapta Marga Merdeka Timur V (OMT V) yang dipimpin oleh Kepala Staf Divisi Diponegoro Letnan Kolonel Moch Bachrun. Batalion yang bertempur tersebut meliputi Yon 421. Yon 422. Yon 424. Yon 425. Yon 408. Yon 417. Yon 413. Yon 414 dan Yon Setelah pemberontakan eks Batalion 426 berhasil dipadamkan, sisa-sisa dari mereka menggabungkan diri ke wilayah GBN sehingga kekuatan pemberontak di daerah GBN kembali Untuk mengatasi kekacauan ini Komandan operasi GBN Letnan Kolonel Achmad Yani Anonim, "Pembersihan Thd Sisa2 Batalion 426," Abadi, 3 Maret, 1952. Anonim. AuPemberontak Mendapat Pukulan Hebat,Ay Suara Rakjat, 8 Maret, 1952. Anonim, "Perbedaan DI-Masjumi Keterangan Moh Natsir," Suara Masjarakat, 4 Maret, 1952. Dinas Sejarah Militer Kodam VII / Diponegoro. Sejarah Rumpun Diponegoro Dan Pengabdiannya (Semarang: C. Borobudur Megah, 1. Hal 477-485. Al-Isnad: Journal of Islamic Civilization History and Humanities Vol. 1 No. 01 December 2020 | 1-16 menyusun pasukan khusus yang diberi nama Banteng Raiders (BR) sebagai pasukan elit anti gerilya untuk membantu operasi. Berdasarkan Panglima Divisi Diponegoro No. 32/B-4/1952 tanggal 21 Maret 1952, pasukan BR ini hanya berjumlah 2 Kompi antara lain Ki I dari Batalion 402/Banteng Loreng pimpinan Kapten Pujadi dan Ki II dari Batalion 402/Rajawali pimpinan Kapten Yasir Hadibroto 51. Pengaruh Pemberontakan DI/TII Eks Batalion 426 bagi Masyarakat di Karesidenan Surakarta Pemberontakan menyebabkan rakyat memgalami kesulitan ekonomi. Para pedagang dan bakul yang biasanya berangkat dari tempat tinggalnya mulai jam 2. 00 dini hari dengan berlakunya jam malam terpaksa berhenti. Sedangkan di daerah yang terasa belum aman lingkungannya, para bakul belum semua berani pergi52. Aksi pembersihan Polisi Militer telah menimbulkan kerugian bagi pelaku usaha, dalam pembersihan di Sukoharjo di Kawedanan Bekonang. Desa Belimbing. Kampung Beton dan lainnya di antaranya banyak umat Islam yang memiliki perusahaan batik terpaksa menutup sementara perusahaan sehingga menimbulkan bertambahnya pengangguran. Mereka yang ditangkap kebanyakan adalah tulang punggung rumah tangga. Meskipun ditahan, keluarganya umumnya tidak mengetahui kesalahan mereka ditahan53. Di Solo berhubung dengan keadaan yang berbahaya maka Pekan Hiburan Rakjat (PHR) yang akan diadakan bersamaan dengan Sekaten di Alun-alun utara tidak jadi dibuka 54. Harga barang juga mengalami kenaikan tidak seperti biasanya. Perubahan harga terutama terjadi pada bahan-bahan pangan dan kebutuhan sehari-hari. Beberapa pemasok sayuran dari Magelang. Ambarawa dan sekitar Merapi Merbabu tidak berani mengirimkan sayurannya karena alasan keamanan berakibat pada langkanya beberapa jenis sayur. Selain sayuran, harga bahan pokok lain yaitu beras juga mengalami kenaikan. Harga beras selama pemberontakan di beberapa tempat mengalami perubahan, di Klaten harga beras tiap liternya semula Rp. 3 melonjak sampai Rp. 3,50 55. Gelombang Pengungsian Situasi yang berbahaya memaksa banyak penduduk mengungsi ke daerah lain untuk mendapatkan perlindungan. Gelombang pengungsi berasal dari beberapa daerah di Boyolali. Sukoharjo. Klaten dan Magelang. Surakarta dan Salatiga menjadi dua yang paling banyak dituju Kota Surakarta menerima ribuan pengungsi-pengungsi dari daerah yang mengalami gangguan pemberontak eks Batalion 426 terutama dari Boyolali dan Sukoharjo. Untuk Daru Waskito. AuSejarah Lahirnya Banteng Raiders T. IV DiponegoroAo,Ay Majalah Senakhata: Media Komunikasi Dan Informasi Kesejarahan No. 22 - (Jakarta, 1. Hal 14. Anonim. AuJogjakarta: Keadaan Ekonomi Agak Terganggu Akibat Pemberontakan Munawar," Kedaulatan Rakjat, 17 Desember , 1951. Anonim,"Pengedjaran Thd Pemberontak Didaerah Jogja Dilandjutkan. Res. Kedu Dan Lt. Abudardak Menindjau Persiapan TNI. Ay Abadi, 15 Desember, 1951. Anonim,"Pengedjaran Thd Pemberontak Didaerah Jogja Dilandjutkan. Res. Kedu Dan Lt. Abudardak Menindjau Persiapan TNI. Ay Abadi, 15 Desember, 1951. Anonim. AuJogjakarta: Keadaan Ekonomi Agak Terganggu Akibat Pemberontakan Munawar. Ay Kedaulatan Rakjat, 17 Desember, 1951. Darul Islam Di Surakarta: Studi Kasus Pemberontakan DI/TII Eks-Batalion 426 Dan Pengaruhnya Tahun Agung Nugroho meringankan penderitaan pengungsi, pemerintah Surakarta dari Jawatan Sosial menyediakan penampungan dan makanan serta mendirikan dapur umum 56. Jumlah pengungsi dari Boyolali yang diurus oleh Jawatan Sosial di kota Solo kurang lebih 2. 500 orang 57. Gelombang pengungsi lain terjadi di Boyolali utara yang mengungsi ke Salatiga akibat peristiwa pembakaran di Simo dan Nogosari. Gelombang pengungsi dengan jumlah besar terjadi di perbatasan Surakarta dan Yogyakarta di Semin Sukoharjo. Total pengungsi di Semin hingga akhir Maret 1952 berjumlah 000 orang. Penduduk mengungsi karena daerahnya menjadi pertahanan 100 orang pemberontak yang dipimpin oleh Ismail dan Muhyidin 58. Pembersihan dan Penangkapan Masyarakat Muslim Sejak peristiwa pertama meletus di Kudus pihak yang berwajib di Surakarta mengadakan penangkapan-penangkapan atas pemuda dan orang-orang Islam yang dicurigai dan diduga berhubungan dengan eks Batalion 426. Sentimen keagamaan juga berpengaruh pada para petani yang tergabung dalam Serikat Tani Islam Indonesia (STII). Petani Muslim di Klaten termasuk kelompok yang banyak ditangkap pihak berwajib dalam pembersihan dan ditahan karena diduga membantu pemberontak. Pemimpin Islam terkemuka di Surakarta yang sempat ditangkap antara lain K. Adnan. Haji Moefti dan beberapa pimpinan Gerakan Pemuda Islam Indonesia (GPII) dan anggota dewan dari Masyumi 59 Partai Masyumi Surakarta mendesak pemerintah daerah dan pusat untuk menghilangkan kegelisahan di kalangan rakyat dan umat Islam, serta mendesak supaya anggota-anggotanya dibebaskan dari tahanan60. Sebuah pernyataan pembelaan juga dikeluarkan dari Ketua Masyumi Wonogori. Muchtar Muhammady yang mengutuk tindakan eks Batalion Tuduhan terhadap Masyumi juga berbuntut tuduhan dari PKI bahwa Masyumi telah membantu pemberontak. Pimpinan PP Masyumi. Mohammad Natsir menyatakan bahwa Masyumi tidak mempunyai hubungan apapun dengan Darul Islam, dan hal itu juga telah dinyatakan oleh pemimpin Darul Islam sendiri yaitu Kartosoewirjo62. Kriminalitas dan Gangguan Keamanan Akibat utama yang ditimbulkan dari pemberontakan adalah perkara kejahatan yang kembali Perkara yang sering dijumpai adalah pencurian, perampokan dan pembunuhan. Sejak pecahnya peristiwa Kudus tingkat kriminalitas di daerah Merapi Merbabu Complex (MMC) telah meningkat kembali. Peningkatan tersebut disebabkan oleh aktivitas gerombolan lokal bernama grayak dan garong yang mengadakan perampokan terhadap penduduk. Sejak aksi eks Batalion 426 meletus, perhatian pihak keamanan sebagian besar ditujukan untuk mengatasi perlawanan mereka Anonim,"AoSolo: Pengungsi Mengalir," Java Post, 12 Februari, 1952. Anonim. AuPenduduk Diharuskan Memberikan Laporan Djika Dirumahnja Terdapat Tamu Anggota Bat. Ay Abadi, 20 Maret, 1952. Anonim, "10. 000 Penduduk Mengungsi," Abadi, 31 Maret,1952. Anonim. AuBeberapa Pemuka Islam Ditangkap,Ay Abadi,26 Januari, 1952. Anonim, "Statement Masjumi Surakarta," Abadi, 25 Januari, 1952. Anonim. AuWelnig Niuws over Bat 426 Acties," De Locomotief, 17 Januari , 1952. Anonim. AuPerbedaan DI-Masjumi Keterangan Moh Natsir. Ay Suara Masjarkat, 4 Februari, 1952. Al-Isnad: Journal of Islamic Civilization History and Humanities Vol. 1 No. 01 December 2020 | 1-16 sehingga aktivitas untuk menghadapi grayak sedikit berkurang. Grayak terdiri dari 3 sampai 10 orang bersenjata dan maksimal 20 orang, sementara jumlah mereka ratusan. Selain pakaian dan perhiasan mereka juga merampas hewan ternak seperti sapi dan kerbau penduduk63. Penggedoran meningkat dari yang sebelumnya di bulan November 1951 di Boyolali hanya terjadi 33 penggedoran, selama bulan Desember 1951 di Merapi Merbabu Complex telah terjadi lebih dari 700 penggedoran 64. Penggedoran di Boyolali banyak terjadi di kecamatan Selo. Cepogo. Sawit dan terutama di kecamatan Ampel. Berikutnya di bulan Januari 1952 penggedoran di Merapi Merbabu kompleks sejumlah 322 kali penggedoran. Di daerah Klaten di bulan Januari 1952 tercatat 20 kali Aksi grayak dapat diketahui dari peristiwa di Dukuh Bendo. Kawedanan Ampel pada 22 Maret 1952. Segerombolan bersenjata datang dan menyuruh semua laki-laki di perdukuhan tersebut keluar rumah, kemudian dikumpulkan di satu tempat dan dilepaskan tembakan kepada mereka, aksi itu lebih serupa pembantaian 66. PENUTUP Pemberontakan eks Batalion 426 disebabkan simpati mereka terhadap gerakan Darul Islam dan ketidakpuasan anggota batalion atas perlakuan pihak Divisi. Penanaman cita-cita Darul Islam ke dalam Batalion 426 dipengaruhi oleh pemimpin terkemuka mereka yakni Kapten Sofyan yang menjadikan batalion 426 sebagai bagian dari Tentara Islam Indonesia. Mereka menggunakan sentimen Islam dan menanamkan semangat berperang melawan TNI yang dianggap kafir. Militansi eks Batalion 426 dapat dilacak dari riwayat anggotanya yang berasal dari bekas pejuang Hizbullah Surakarta sejak perang kemerdekaan. Pemberontakan yang mereka lakukan menimbulkan ketakutan di kalangan masyarakat Muslim yang dipicu oleh kecurigaan dari pihak militer kepada orang-orang yang dituduh berhubungan dengan pemberontak sehingga berbuah pembersihan dan penangkapan kepada masyarakat Muslim. DAFTAR PUSTAKA