Vol 5. No 2. Oktober 2025, p. e-ISSN: 2777-0346 | p-ISSN: 2777-0354 https://doi. org/10. 52364/synergy. SYNERGY Jurnal Bisnis dan Manajemen RESEARCH ARTICLE OPEN ACCESS Pemberdayaan Masyarakat Melalui Pesan Komunikasi Berbasis Sosial. Ekonomi dan Budaya untuk Pengembangan Wisata Pesisir di Kampung Bandar Pekanbaru Zulkarnain1. Asnika Putri Simanjuntak2*. Lamun Bathara3. Ardi Gustri Purbata4. Irsyad Nur5. Habib Irsya6 Program Studi Magister Perencanaan Wilayah dan Perdesaan Universitas Riau Program Studi Sosial Ekonomi Perikanan. Fakultas Perikanan dan Kelautan. Universitas Riau Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan. Fakultas Perikanan dan Kelautan. Universitas Riau 2,3,4 *Correspondent email : asnika. psimanjuntak@lecturer. Diterima: 28 September 2. Disetujui: 30 Oktober 2025 | Disetujui: 31 Oktober 2025 Abstract: This study explores community empowerment through social, economic, and cultural communication in developing community-based tourism in Kampung Bandar. Pekanbaru. Using a qualitative approach supported by quantitative methods, the research aimed to provide a comprehensive understanding of community involvement in tourism management and promotion. Data was gathered from Focus Group Discussions (FGD. with the Tourism Awareness Group and surveys from tourists visiting Kampung Bandar. The results indicate that community empowerment, which includes skill development, knowledge enhancement, and technology use, significantly influences tourism management and promotion. The community in Kampung Bandar acknowledges the importance of preserving local culture as a key tourism attraction, yet they still need further training in using digital technology, especially social media, for tourism promotion. Furthermore, strengthening communication networks among stakeholders such as local communities, tourism operators, and the government can speed up decision-making and foster collaboration in managing tourism destinations. Economic empowerment through micro-enterprises linked to tourism, such as local cuisine and handicrafts, has increased local income and boosted tourism competitiveness. This study suggests a need for capacity building, technology-focused training, and enhanced collaboration between the public and private sectors to maximize Kampung Bandar's tourism potential. Keywords: Community Empowerment. Social And Cultural Communication. Community-Based Tourism. Tourism Management PENDAHULUAN Pengembangan wisata berbasis masyarakat memerlukan pendekatan komunikasi yang mengintegrasikan aspek sosial, ekonomi, dan budaya untuk meningkatkan partisipasi masyarakat dalam pengelolaan dan pelestarian destinasi wisata. Kampung Bandar, yang berada di Pekanbaru. Riau, adalah wilayah yang memiliki potensi besar untuk pengembangan destinasi wisata yang menggabungkan unsur budaya dan alam. Keanekaragaman budaya Melayu yang unik dan pesona alam pesisirnya menjadikan daerah ini sebagai tujuan wisata yang sangat menarik, khususnya dalam pengembangan wisata yang melibatkan komunitas. Potensi tersebut membuka kesempatan besar untuk memberdayakan masyarakat lokal dalam pengelolaan dan pelestarian wisata bersama-sama, yang pada gilirannya dapat meningkatkan taraf hidup mereka. Pemberdayaan masyarakat melalui komunikasi berbasis teknologi dan kearifan lokal menjadi kunci dalam upaya ini (Setiawan et al. , 2022. Zulkarnain et al. , 2. Misalnya. Setiawan et al. menemukan bahwa penerapan teknologi komunikasi, seperti layanan mandiri dan sistem pesan berbasis SMS, dapat meningkatkan kualitas pelayanan dan kepuasan pemustaka, yang relevan untuk sektor pariwisata dengan meningkatkan efisiensi komunikasi di antara pelaku wisata. Selain itu, penelitian oleh Zulkarnain et al. mengenai jaringan komunikasi di sektor perikanan menunjukkan pentingnya keterhubungan antara anggota masyarakat yang memiliki karakter dan kedekatan geografis yang serupa. Hal ini sejalan dengan pengembangan jaringan http://synergy. SYNERGY Jurnal Bisnis dan Manajemen Vol 5. No 2. Oktober 2025, p. e-ISSN: 2777-0346 | p-ISSN: 2777-0354 https://doi. org/10. 52364/synergy. komunikasi antar pelaku wisata di Kampung Bandar, yang perlu memperkuat kerjasama untuk mempromosikan potensi wisata mereka secara kolektif. Jaringan komunikasi yang kuat dapat mempercepat penyebaran informasi dan meningkatkan partisipasi dalam pengembangan wisata berbasis masyarakat. Penerapan teknologi informasi di Kampung Bandar dapat memungkinkan masyarakat untuk lebih mudah mengakses informasi terkait potensi wisata lokal, yang pada gilirannya dapat meningkatkan partisipasi dalam pengembangan pariwisata. Aspek lain yang penting dalam pengembangan wisata berbasis masyarakat adalah penerapan kearifan lokal dalam strategi komunikasi Rahmadi et al. mengungkapkan bahwa penggunaan norma adat dan nilai sosial budaya dalam pengelolaan sumber daya alam dapat meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya pelestarian Dalam konteks Kampung Bandar, pendekatan berbasis budaya ini dapat memperkuat keterlibatan masyarakat dalam menjaga kelestarian alam sekaligus mengembangkan pariwisata berbasis budaya. Di sisi lain, penggunaan media sosial untuk promosi wisata berbasis agama juga terbukti efektif. Zulkarnain et al. menunjukkan bahwa promosi melalui platform seperti Instagram berpengaruh signifikan terhadap minat generasi milenial Muslim untuk mengunjungi destinasi wisata berbasis agama. Hal ini memberikan pelajaran penting bagi Kampung Bandar, di mana media sosial dapat digunakan untuk menarik minat wisatawan dan memperkenalkan keunikan budaya serta keindahan alam setempat. Sementara itu, pemberdayaan masyarakat pesisir melalui pelatihan dan pendampingan juga sangat penting. Zulkarnain et al. menekankan pentingnya pendampingan dalam meningkatkan kapasitas masyarakat pesisir untuk mengelola produk lokal, yang dapat diterapkan pada pengelolaan destinasi wisata di Kampung Bandar. Pembentukan kelompok sadar wisata (POKDARWIS) dan pelatihan dalam mengelola destinasi wisata secara profesional dapat memperkuat kapasitas masyarakat dalam mempromosikan dan mengelola produk wisata Namun, meskipun banyak penelitian yang telah mengkaji komunikasi berbasis sosial, ekonomi, dan budaya dalam pemberdayaan masyarakat, gap penelitian masih ada terkait bagaimana pesan komunikasi berbasis sosial dan budaya dapat diterapkan secara langsung dalam pengembangan wisata pesisir berbasis masyarakat. Penelitian yang ada lebih banyak terfokus pada penerapan teknologi dan jaringan dalam komunikasi antar pelaku industri, namun belum banyak yang mengintegrasikan aspek sosial-ekonomi dan budaya dalam konteks pariwisata berbasis komunitas, khususnya di kawasan pesisir seperti Kampung Bandar. Pekanbaru (Cahyadi et , 2023. Zulkarnain et al. , 2. Penelitian ini bertujuan untuk mengisi gap tersebut dengan mengeksplorasi pemberdayaan masyarakat melalui pesan komunikasi berbasis sosial, ekonomi, dan budaya untuk pengembangan wisata pesisir di Kampung Bandar. Pekanbaru. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif yang didukung oleh pendekatan kuantitatif untuk memberikan pemahaman yang lebih menyeluruh terkait pemberdayaan masyarakat melalui pesan komunikasi berbasis sosial, ekonomi, dan budaya untuk pengembangan wisata pesisir di Kampung Bandar. Pekanbaru. Pendekatan kualitatif digunakan untuk menggali pengalaman, persepsi, dan pandangan mendalam masyarakat, khususnya anggota Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwi. , terkait dengan pengelolaan dan pengembangan destinasi wisata berbasis komunitas. Di sisi lain, pengumpulan data kuantitatif dilakukan untuk memperkuat temuan-temuan kualitatif dengan pengukuran objektif terkait persepsi wisatawan terhadap destinasi wisata ini. Gambar 1. Peta Lokasi Kampung Bandar Pekanbaru http://synergy. SYNERGY Jurnal Bisnis dan Manajemen Vol 5. No 2. Oktober 2025, p. e-ISSN: 2777-0346 | p-ISSN: 2777-0354 https://doi. org/10. 52364/synergy. Metode utama yang digunakan dalam pengumpulan data kualitatif adalah Focus Group Discussion (FGD) dengan kelompok (Pokdarwi. yang berjumlah 20 orang. FGD ini bertujuan untuk menggali informasi mengenai pandangan, tantangan, dan solusi yang dihadapi masyarakat dalam pengelolaan dan pengembangan wisata di Kampung Bandar. FGD memberikan kesempatan bagi peserta untuk berdiskusi secara terbuka, saling berbagi pengalaman, dan memberi umpan balik yang konstruktif terkait upaya pengembangan wisata berbasis budaya dan alam di daerah tersebut. FGD ini juga dimaksudkan untuk mendalami aspek sosial, ekonomi, dan budaya yang dapat memengaruhi pemberdayaan masyarakat dalam konteks pariwisata berbasis komunitas (Morgan. Metode FGD diadaptasi dari Morgan . yang mengemukakan bahwa FGD adalah teknik yang efektif dalam mengumpulkan perspektif kelompok dan memberi ruang bagi eksplorasi mendalam mengenai isu-isu sosial yang relevan. Proses pengumpulan data dilakukan dengan fasilitator yang berpengalaman, yang memandu diskusi dan memastikan setiap peserta dapat menyampaikan pendapat secara bebas. Selain FGD, penelitian ini juga menggunakan metode kuantitatif dengan pengumpulan data melalui survei acak. Survei ini dilakukan terhadap 60 wisatawan yang mengunjungi Kampung Bandar selama periode penelitian. Pengambilan sampel dilakukan secara acak dengan tujuan untuk mendapatkan data yang representatif mengenai persepsi wisatawan terhadap kualitas layanan, daya tarik wisata, dan potensi yang ada di Kampung Bandar. Kuesioner yang digunakan dalam survei ini berisi pertanyaan-pertanyaan terkait dengan pengalaman wisata, kepuasan pengunjung, serta faktor-faktor yang memengaruhi keputusan mereka dalam memilih Kampung Bandar sebagai destinasi wisata. Data yang diperoleh dari survei ini akan dianalisis secara statistik untuk melihat hubungan antara variabel-variabel yang ada (Creswell, 2014. Sekaran & Bougie, 2. Metode ini didasarkan pada prinsip-prinsip yang diuraikan oleh Creswell . , yang menekankan pentingnya integrasi antara data kualitatif dan kuantitatif untuk meningkatkan validitas dan keandalan hasil Data kuantitatif yang dikumpulkan dari wisatawan akan memberikan gambaran yang lebih jelas mengenai tingkat kepuasan dan persepsi pengunjung terhadap pengembangan wisata di Kampung Bandar. Data yang dikumpulkan melalui FGD akan dianalisis menggunakan pendekatan analisis tematik untuk mengidentifikasi pola-pola utama yang muncul dari diskusi kelompok (Braun & Clarke, 2. Sedangkan data kuantitatif akan dianalisis menggunakan statistik deskriptif untuk menggambarkan karakteristik responden dan melihat hubungan antara faktor-faktor yang mempengaruhi keputusan wisatawan dalam mengunjungi Kampung Bandar. Gabungan antara kedua pendekatan ini memungkinkan pemahaman yang lebih menyeluruh tentang dinamika pengembangan wisata berbasis masyarakat di Kampung Bandar. HASIL DAN PEMBAHASAN Pemberdayaan masyarakat melalui pesan komunikasi berbasis sosial dan budaya menjadi aspek penting dalam mendorong perubahan yang berkelanjutan. Pendekatan ini berfokus pada pemanfaatan nilai-nilai budaya lokal yang dapat mempengaruhi cara masyarakat menerima dan berpartisipasi dalam program-program yang ada. Dengan mempertimbangkan konteks sosial dan budaya, pesan yang disampaikan menjadi lebih relevan dan mudah dipahami oleh masyarakat. Pemberdayaan Masyarakat melalui Pesan Komunikasi Berbasis Sosial dan Budaya Pemberdayaan masyarakat di Kampung Bandar memiliki ketergantungan yang kuat pada efektivitas pesan komunikasi berbasis sosial dan budaya. Pesan-pesan yang difokuskan pada pemahaman nilai-nilai budaya lokal, pemanfaatan media sosial, penyebaran informasi tentang wisata, serta peningkatan keterampilan komunikasi interpersonal dapat mendorong keterlibatan aktif masyarakat dalam pengembangan wisata berbasis Pemberdayaan melalui pesan komunikasi yang mengedepankan aspek sosial dan budaya ini menjadi komponen krusial dalam upaya pengelolaan destinasi wisata yang melibatkan partisipasi masyarakat. Kampung Bandar. Pekanbaru, tujuan pemberdayaan ini adalah untuk mengedukasi masyarakat mengenai pentingnya pelestarian budaya lokal, serta memanfaatkan pesan komunikasi untuk meningkatkan kesadaran dan partisipasi mereka dalam pengelolaan dan pengembangan wisata yang berkelanjutan. Penyuluhan budaya lokal yang dilakukan secara terstruktur dapat meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya pelestarian budaya dalam konteks pariwisata, kemudian komunikasi berbasis teknologi dan kearifan lokal menjadi kunci dalam upaya pemberdayaan masyarakat (Nugraha, 2019. Setiawan et al. , 2022. Zulkarnain et al. , 2. Salah satu hal yang menjadi fokus utama dalam pemberdayaan masyarakat adalah peningkatan pemahaman masyarakat terhadap nilai budaya lokal yang menjadi kekuatan utama dalam pengembangan wisata. Berdasarkan hasil wawancara dengan S . anggota (Pokdarwi. , mengatakan: http://synergy. SYNERGY Jurnal Bisnis dan Manajemen Vol 5. No 2. Oktober 2025, p. e-ISSN: 2777-0346 | p-ISSN: 2777-0354 https://doi. org/10. 52364/synergy. "A Kami menyadari pentingnya budaya lokal dalam menarik wisatawan, namun kami merasa masih perlu pendampingan dan pelatihan dalam hal pemanfaatan teknologi untuk promosiA" (Wawancara. September Hal ini menunjukkan bahwa meskipun ada pemahaman tentang pentingnya nilai budaya lokal, masyarakat masih membutuhkan pelatihan dan edukasi lebih lanjut mengenai cara memanfaatkan teknologi dan media sosial untuk memperkenalkan budaya mereka ke dunia luar. Dalam upaya pemberdayaan masyarakat di Kampung Bandar, penting untuk mengidentifikasi aspek-aspek komunikasi yang dapat meningkatkan pemahaman dan keterlibatan masyarakat dalam pengembangan wisata berbasis budaya. Tabel 1 menggambarkan aspek-aspek pesan komunikasi yang telah diidentifikasi sebagai kunci dalam memberdayakan masyarakat untuk melestarikan dan mempromosikan budaya lokal, serta meningkatkan keterlibatan mereka dalam pengelolaan destinasi wisata. Tabel 1. Aspek Pesan Komunikasi untuk Pemberdayaan Masyarakat Aspek Pesan Komunikasi Tujuan dan Implementasi Penyuluhan tentang nilai Menyadarkan masyarakat akan pentingnya melestarikan dan mempromosikan budaya lokal budaya lokal sebagai daya tarik wisata. Penggunaan media sosial Meningkatkan kemampuan masyarakat untuk memanfaatkan media sosial dalam promosi wisata. Penyebaran informasi wisata Menyebarkan informasi tentang potensi wisata lokal dan sejarah budaya kepada masyarakat dan wisatawan. Pelatihan komunikasi Meningkatkan keterampilan komunikasi masyarakat dalam berinteraksi dengan Tabel 1 menunjukkan aspek-aspek utama dalam pesan komunikasi yang dapat memberdayakan masyarakat Kampung Bandar. Penyuluhan tentang nilai budaya lokal sangat penting untuk menyadarkan masyarakat tentang peran mereka dalam melestarikan budaya yang menjadi daya tarik utama bagi wisatawan. Ini juga mencakup promosi budaya lokal sebagai bagian dari produk wisata, yang harus dimanfaatkan secara Penggunaan media sosial menjadi kunci penting dalam promosi wisata, di mana masyarakat dapat lebih mudah menyebarkan informasi tentang tempat wisata, kegiatan budaya, dan kuliner khas daerah kepada audiens yang lebih luas. Penyebaran informasi wisata melalui berbagai saluran komunikasi, termasuk media sosial, berfungsi untuk memperkenalkan keunikan Kampung Bandar sebagai destinasi wisata yang memiliki nilai sejarah dan budaya yang kuat. Pelatihan komunikasi interpersonal juga merupakan bagian penting dalam membekali masyarakat dengan keterampilan yang diperlukan untuk berinteraksi secara efektif dengan Keterampilan ini mencakup cara menyambut, melayani, dan memberikan informasi yang akurat dan menarik tentang wisata dan budaya lokal. Pemberdayaan masyarakat melalui pesan komunikasi berbasis sosial dan budaya ini diharapkan dapat meningkatkan keterlibatan mereka dalam pengelolaan dan pelestarian destinasi wisata di Kampung Bandar, serta meningkatkan kualitas layanan yang diberikan kepada wisatawan. Setelah menggambarkan aspek-aspek pesan komunikasi yang perlu diperhatikan dalam pemberdayaan masyarakat, penting untuk melihat lebih dalam sejauh mana pemahaman dan keterlibatan masyarakat Kampung Bandar dalam aspek-aspek tersebut. Untuk itu, gambar 2 menunjukkan tingkat pemahaman dan keterlibatan masyarakat dalam pesan komunikasi berbasis sosial dan budaya yang berhubungan dengan pengembangan pariwisata di daerah ini. Gambar 2. Tingkat Pemahaman dalam Pesan Komunikasi Berbasis Sosial dan Budaya http://synergy. SYNERGY Jurnal Bisnis dan Manajemen Vol 5. No 2. Oktober 2025, p. e-ISSN: 2777-0346 | p-ISSN: 2777-0354 https://doi. org/10. 52364/synergy. Gambar 2 menunjukan tingkat pemahaman dan keterlibatan masyarakat Kampung Bandar dalam beberapa aspek pemberdayaan yang terkait dengan pesan komunikasi berbasis sosial dan budaya. Berdasarkan hasil data yang terkumpul, terlihat bahwa masyarakat menunjukkan tingkat pemahaman yang cukup baik terhadap pentingnya nilai budaya lokal sebagai bagian dari daya tarik wisata di Kampung Bandar. Proses penyuluhan mengenai budaya lokal telah berhasil meningkatkan pemahaman masyarakat dan mereka merasa memiliki peran dalam pelestarian serta promosi budaya daerah mereka. Namun, meskipun masyarakat telah menyadari potensi media sosial sebagai alat untuk mempromosikan wisata, pemanfaatan media sosial dalam komunitas masih terbatas. Sebagian besar warga belum sepenuhnya memanfaatkan platform digital untuk memperkenalkan wisata dan budaya lokal secara lebih luas. Hal ini mengindikasikan perlunya lebih banyak edukasi dan pelatihan tentang penggunaan media sosial sebagai sarana promosi wisata yang lebih efektif. Selain itu, penyebaran informasi wisata yang ada masih bersifat informal, kebanyakan melalui percakapan sehari-hari atau dari mulut ke mulut. Meskipun ini adalah bentuk promosi yang alami dan masih penting, metode ini belum optimal jika dibandingkan dengan pendekatan promosi yang lebih terstruktur dan luas jangkauannya, seperti kampanye digital atau promosi online. Di sisi lain, pelatihan komunikasi interpersonal juga menjadi area yang perlu diperhatikan lebih lanjut. Sebagian besar masyarakat merasa membutuhkan pelatihan tambahan untuk dapat berkomunikasi dengan wisatawan secara lebih profesional dan ramah. Pelatihan semacam ini akan sangat bermanfaat dalam meningkatkan kualitas pelayanan, sehingga pengunjung merasa lebih dihargai dan nyaman selama berada di Kampung Bandar. Secara keseluruhan, grafik ini menunjukkan bahwa meskipun ada pemahaman yang baik di beberapa area, masih terdapat ruang untuk meningkatkan keterlibatan masyarakat, terutama dalam hal pemanfaatan media sosial dan pengembangan keterampilan komunikasi Dengan peningkatan pada aspek-aspek ini, pemberdayaan masyarakat di Kampung Bandar dapat lebih maksimal dalam mendorong pengembangan wisata berbasis budaya. Peran Komunikasi Berbasis Teknologi dalam Pengelolaan Wisata Pesisir Pemanfaatan teknologi dalam pengelolaan destinasi wisata pesisir merupakan salah satu langkah strategis untuk meningkatkan daya tarik dan efisiensi operasional. Seiring dengan perkembangan teknologi digital, komunikasi berbasis teknologi menawarkan peluang besar untuk mempromosikan, mengelola, dan memelihara destinasi wisata pesisir secara lebih efektif. Teknologi informasi, terutama media sosial, berperan penting dalam pengelolaan pariwisata, dengan meningkatkan promosi destinasi, memperkuat hubungan antara pengelola dan wisatawan, serta membutuhkan pelatihan dan pendampingan untuk meningkatkan literasi digital masyarakat lokal dalam mempromosikan wisata (Ismail, 2020. Kamsar et al. , 2023. Prasetyo, 2. Meskipun teknologi dapat memberikan banyak manfaat, tantangan tetap ada dalam mengadopsinya, terutama terkait dengan literasi digital dan akses terhadap infrastruktur yang memadai. Untuk itu, penting untuk memanfaatkan teknologi secara optimal dalam pengelolaan dan promosi wisata. Tabel 2 menggambarkan beberapa aspek utama teknologi yang dapat mendukung pengelolaan wisata pesisir, termasuk penggunaan media sosial, peningkatan literasi digital, serta pengelolaan sistem informasi wisata yang lebih efektif melalui platform digital. Tabel 2. Aspek Teknologi dalam Pengelolaan Wisata Pesisir Aspek Teknologi Fungsi dalam Pengelolaan Wisata Pemanfaatan Media Sosial Penggunaan platform digital seperti Instagram dan Facebook untuk promosi dan interaksi dengan wisatawan. Peningkatan Literasi Digital Meningkatkan kemampuan masyarakat lokal dalam menggunakan teknologi untuk mempromosikan destinasi wisata. Pengelolaan Sistem Pengembangan aplikasi atau platform online untuk informasi dan pemesanan Informasi Wisata terkait destinasi wisata. Pelatihan Berbasis Penyediaan pelatihan teknologi untuk masyarakat lokal guna mendukung Teknologi pengelolaan dan promosi wisata berbasis digital. Tabel 2 menggambarkan empat aspek utama teknologi yang mendukung pengelolaan wisata pesisir secara efektif. Pemanfaatan media sosial menjadi alat penting dalam mempromosikan destinasi wisata dan membangun hubungan langsung dengan wisatawan, melalui platform seperti Instagram dan Facebook. Peningkatan literasi digital memastikan bahwa masyarakat lokal memiliki kemampuan yang cukup untuk memanfaatkan teknologi dalam mempromosikan destinasi mereka. Selanjutnya, pengelolaan sistem informasi wisata memungkinkan wisatawan mengakses informasi penting dan melakukan pemesanan secara praktis melalui aplikasi atau platform digital. Terakhir, pelatihan berbasis teknologi memberikan keterampilan kepada masyarakat lokal untuk mengelola dan mempromosikan destinasi wisata menggunakan alat-alat digital dengan lebih efisien. Semua aspek ini berperan dalam membentuk sistem yang saling terhubung dan mendukung pengelolaan wisata berbasis teknologi. Proses penerapan teknologi dalam pengelolaan wisata pesisir ini dapat http://synergy. Vol 5. No 2. Oktober 2025, p. e-ISSN: 2777-0346 | p-ISSN: 2777-0354 https://doi. org/10. 52364/synergy. SYNERGY Jurnal Bisnis dan Manajemen digambarkan lebih jelas melalui gambar 3 yaitu proses penggunaan teknologi dalam pengelolaan wisata pesisir, yang menggambarkan tahapan-tahapan dan keterkaitan antar aspeknya. Menunjukan digunakan untuk promosi wisata Pelatihan Teknologi Meningkatkan Literasi Digital Menekankan pentingnya memanfaatkan teknologi Mewakili aplikasi digital pemesanan Proses Sistem Informasi Wisata Penggunaan Media Sosial Gambar 3. Proses Penggunaan Teknologi dalam Pengelolaan Wisata Pesisir Gambar 3 menampilkan proses penggunaan teknologi dalam pengelolaan wisata pesisir menunjukkan alur langkah-langkah yang saling terkait dalam penerapan teknologi untuk meningkatkan efisiensi dan daya tarik destinasi wisata. Dimulai dengan penggunaan media sosial, yang berfungsi sebagai alat promosi utama untuk memperkenalkan dan menjangkau wisatawan, langkah selanjutnya adalah peningkatan literasi digital bagi masyarakat lokal untuk memastikan mereka dapat memanfaatkan platform digital secara efektif. Setelah itu, pengelolaan sistem informasi wisata melalui aplikasi atau platform digital memungkinkan wisatawan untuk mengakses informasi dan melakukan pemesanan destinasi secara praktis. Langkah terakhir adalah pelatihan berbasis teknologi, yang memberi masyarakat lokal keterampilan yang diperlukan untuk mengelola dan mempromosikan destinasi wisata dengan memanfaatkan teknologi digital secara optimal. Proses ini menunjukkan bagaimana setiap tahapan berperan dalam menciptakan sistem yang terintegrasi dan efisien dalam pengelolaan wisata pesisir. Dampak Pemberdayaan Masyarakat terhadap Pengembangan Wisata Pesisir Dalam pengembangan wisata pesisir, pemberdayaan masyarakat memegang peranan penting untuk menciptakan destinasi wisata yang berkelanjutan dan menguntungkan. Pemberdayaan yang melibatkan peningkatan keterampilan dan pengetahuan masyarakat lokal dapat meningkatkan kualitas pengelolaan wisata. Hal ini mencakup pelatihan dalam manajemen destinasi, pelayanan kepada wisatawan, dan peningkatan kapasitas dalam mengelola sumber daya alam yang ada di daerah tersebut. Pemberdayaan masyarakat melalui pelatihan dan pendampingan meningkatkan kapasitas lokal dalam mengelola wisata, sementara pemberdayaan ekonomi lokal, seperti usaha mikro, memperkuat perekonomian masyarakat, pelestarian budaya dan alam mendukung pariwisata berkelanjutan dan keterlibatan masyarakat dalam pengelolaan dan promosi wisata meningkatkan partisipasi dalam pengembangan destinasi (Azizah et al. , 2023. Nurhayati et al. , 2023. Supriatna et al. , 2. Tabel 3 berikut menggambarkan berbagai aspek pemberdayaan masyarakat yang memiliki dampak langsung terhadap pengembangan wisata pesisir. Setiap aspek yang tercantum memiliki peran penting dalam menciptakan destinasi wisata yang lebih terkelola, berkelanjutan, dan menguntungkan secara ekonomi bagi masyarakat lokal. Tabel 3. Aspek Pemberdayaan Masyarakat dan Dampaknya Terhadap Pengembangan Wisata Pesisir Aspek Pemberdayaan Dampak terhadap Pengembangan Wisata Pesisir Masyarakat Peningkatan Keterampilan dan Masyarakat lebih terampil dalam mengelola wisata, meningkatkan kualitas Pengetahuan pelayanan dan daya tarik wisata. Pemberdayaan Ekonomi Lokal Pemberdayaan ekonomi melalui usaha mikro, peningkatan pendapatan masyarakat melalui kegiatan pariwisata. Pelestarian Budaya dan Sumber Masyarakat lebih peduli dan terlibat dalam melestarikan budaya lokal dan Daya Alam sumber daya alam, mendukung wisata berkelanjutan. Keterlibatan dalam Peningkatan partisipasi masyarakat dalam perencanaan, pengelolaan, dan Pengelolaan dan Promosi promosi wisata, memperkuat destinasi wisata. Penguatan Jaringan Antar Mempererat kerjasama antara masyarakat, pelaku wisata, dan pihak terkait Pelaku Wisata untuk pengelolaan dan promosi destinasi wisata. Tabel 3 menggambarkan berbagai aspek pemberdayaan masyarakat yang berperan besar dalam pengembangan wisata pesisir. Setiap aspek memiliki kontribusi yang saling mendukung untuk menciptakan destinasi wisata yang lebih terkelola dan berkelanjutan. Peningkatan keterampilan dan pengetahuan merupakan aspek pertama yang perlu ditekankan, karena masyarakat yang memiliki keterampilan dan pengetahuan yang baik akan lebih mampu mengelola destinasi wisata secara profesional. Hal ini dapat meningkatkan kualitas http://synergy. SYNERGY Jurnal Bisnis dan Manajemen Vol 5. No 2. Oktober 2025, p. e-ISSN: 2777-0346 | p-ISSN: 2777-0354 https://doi. org/10. 52364/synergy. pelayanan yang ditawarkan kepada wisatawan, serta memperkuat daya tarik wisata. Pemberdayaan ekonomi lokal menjadi aspek berikutnya yang penting, di mana usaha mikro yang dikelola oleh masyarakat lokal dapat meningkatkan pendapatan mereka. Sebagai contoh, usaha kuliner, kerajinan tangan, dan homestay berpotensi besar dalam mendukung perekonomian lokal. Selain itu, pelestarian budaya dan sumber daya alam harus menjadi bagian integral dari pengelolaan wisata pesisir. Masyarakat yang peduli dan terlibat langsung dalam pelestarian budaya dan alam akan mendukung terciptanya wisata yang berkelanjutan. Aspek lainnya adalah keterlibatan masyarakat dalam pengelolaan dan promosi, di mana semakin banyak masyarakat yang terlibat, semakin kuat pengelolaan dan promosi wisata lokal. Terakhir, penguatan jaringan antar pelaku wisata akan mempermudah kerjasama antara masyarakat, pelaku wisata, dan pihak terkait lainnya dalam memajukan destinasi wisata. M . anggota (Pokdarwi. di Kampung Bandar mengungkapkan, "A Kami sadar bahwa untuk membuat wisata ini berkembang, kami perlu lebih aktif dalam mempromosikan dan mengelola destinasi ini. Namun, kami masih kekurangan pengetahuan dan keterampilan untuk memanfaatkan media sosial dan teknologi lainnya dalam promosi. Pelatihan dan pendampingan sangat membantu kami untuk berkembang. " (Wawancara. September 2. Pentingnya pelatihan dan pendampingan dalam memberdayakan masyarakat lokal untuk lebih terlibat dalam pengelolaan dan promosi destinasi wisata. Masyarakat Kampung Bandar menyadari bahwa pengembangan wisata membutuhkan keterampilan dan pengetahuan yang memadai, terutama dalam hal penggunaan media sosial dan teknologi untuk memperkenalkan potensi wisata. Namun, mereka mengungkapkan bahwa meskipun memiliki kesadaran yang tinggi, mereka merasa kurang dalam pemahaman dan kemampuan praktis untuk mengoptimalkan teknologi dalam mempromosikan wisata. Oleh karena itu, pelatihan yang disesuaikan dengan kebutuhan lokal sangat diperlukan untuk meningkatkan kapasitas mereka dalam mengelola dan mempromosikan wisata secara lebih efektif. Penguatan Jaringan Komunikasi Antar Pelaku Wisata di Kampung Bandar Dalam pengelolaan destinasi wisata, komunikasi yang baik antar pelaku wisata sangat penting untuk menciptakan sebuah ekosistem yang saling mendukung. Di Kampung Bandar, penguatan jaringan komunikasi antar pelaku wisata tidak hanya meningkatkan efisiensi pengelolaan, tetapi juga memperkuat kerja sama dalam promosi destinasi. Hal ini dapat tercapai melalui kolaborasi yang lebih erat antara kelompok masyarakat, kelompok sadar wisata (Pokdarwi. , pelaku usaha pariwisata lokal, dan pemerintah. Jaringan yang solid memungkinkan berbagai pihak untuk saling berbagi informasi, mengidentifikasi peluang, serta mengatasi tantangan yang dihadapi dalam pengembangan pariwisata. Pentingnya komunikasi antar pelaku wisata juga dapat mempercepat pengambilan keputusan terkait dengan kebijakan destinasi wisata, serta memastikan keselarasan dalam tujuan pengelolaan dan promosi. Selain itu, jaringan yang kuat membantu dalam mengoordinasikan berbagai kegiatan wisata, dari pengelolaan fasilitas hingga penyusunan paket wisata yang menarik bagi pengunjung. Peningkatan kapasitas Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwi. melalui pelatihan dapat memperkuat pengelolaan dan promosi pariwisata dan menekankan pentingnya komunikasi berbasis komunitas yang melibatkan peran aktif masyarakat, pemerintah, dan sektor swasta untuk menciptakan destinasi yang berkelanjutan (Salam et al. , 2024. Sidiq et al. , 2023. Zulkarnain et al. , 2. Pemberdayaan melalui penguatan jaringan komunikasi antar pelaku wisata menjadi kunci dalam meningkatkan kualitas dan daya tarik destinasi Tabel 4 berikut akan menjelaskan lebih lanjut dampak penguatan jaringan komunikasi antar pelaku wisata di Kampung Bandar. Tabel 4. Dampak Penguatan Jaringan Komunikasi Antar Pelaku Wisata di Kampung Bandar Aspek Penguatan Jaringan Dampak terhadap Pengembangan Wisata Pesisir Kolaborasi Antar Pelaku Mempercepat pengambilan keputusan, meningkatkan efektivitas promosi, dan Wisata memperkuat hubungan antar pelaku wisata. Komunikasi Rutin Antar Memastikan keselarasan visi dan tujuan antara masyarakat lokal, pengelola Kelompok wisata, dan pemerintah. Penggunaan Teknologi untuk Mempermudah koordinasi dalam penyusunan jadwal, promosi, dan pengelolaan Koordinasi destinasi wisata secara efektif. Tabel 4 menggambarkan berbagai aspek penguatan jaringan komunikasi antar pelaku wisata yang berdampak pada pengembangan destinasi wisata di Kampung Bandar. Kolaborasi yang baik antar pelaku wisata, yang melibatkan pihak-pihak terkait seperti pemerintah, pelaku usaha pariwisata lokal, dan kelompok masyarakat, akan mempercepat pengambilan keputusan dalam pengelolaan destinasi wisata. Selain itu, komunikasi rutin antar kelompok, baik secara tatap muka maupun menggunakan teknologi, akan memastikan http://synergy. Vol 5. No 2. Oktober 2025, p. e-ISSN: 2777-0346 | p-ISSN: 2777-0354 https://doi. org/10. 52364/synergy. SYNERGY Jurnal Bisnis dan Manajemen bahwa semua pihak bekerja dalam tujuan yang sama. Penggunaan teknologi juga memungkinkan koordinasi yang lebih baik dan efisiensi dalam promosi dan pengelolaan wisata. Untuk meningkatkan kualitas pengelolaan dan promosi destinasi wisata, diperlukan kolaborasi yang lebih erat antara masyarakat lokal, pemerintah, dan sektor swasta. Gambar 4 memperlihatkan proses-proses yang terlibat dalam penguatan jaringan komunikasi ini, mulai dari pelatihan, penguatan kapasitas, hingga evaluasi kolaborasi yang melibatkan semua pihak terkait. Pelatihan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwi. Kolaborasi Masyarakat Lokal. Pemerintah, dan Sektor Swasta Peningkatan Kesadaran dan Partisipasi Masyarakat Monitoring dan Evaluasi Kolaborasi Penyusunan dan Implementasi Strategi Komunikasi Gambar 4. Proses Penguatan Jaringan Komunikasi Antar Pelaku Wisata Pelatihan yang diberikan kepada Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwi. menjadi fondasi yang kuat untuk meningkatkan kemampuan manajerial dan komunikasi mereka dalam mengelola destinasi wisata. Selain itu, kolaborasi antara masyarakat lokal, pemerintah, dan sektor swasta memberikan sinergi yang dapat mempercepat pengembangan dan promosi destinasi wisata berbasis komunitas. Penyusunan dan implementasi strategi komunikasi yang efektif menjadi kunci untuk menyampaikan potensi wisata kepada lebih banyak wisatawan, sementara peningkatan kesadaran dan partisipasi masyarakat memastikan keberlanjutan pengelolaan destinasi. Proses ini harus disertai dengan monitoring dan evaluasi kolaborasi secara rutin agar setiap aspek dari pengelolaan wisata dapat terus diperbaiki dan disesuaikan dengan kebutuhan yang ada. Pemberdayaan ekonomi lokal dalam sektor pariwisata dapat meningkatkan kualitas hidup masyarakat dan memperkuat daya saing destinasi wisata (Cahyadi et al. , 2023. Setiawan et al. , 2022. Wibowo & Nasvian, 2. SIMPULAN Pemberdayaan masyarakat melalui pesan komunikasi berbasis sosial, ekonomi, dan budaya memainkan peran kunci dalam pengembangan wisata berbasis komunitas di Kampung Bandar. Pekanbaru. Pemberdayaan masyarakat yang melibatkan pelatihan keterampilan dan peningkatan pengetahuan terbukti efektif dalam meningkatkan kemampuan masyarakat dalam mengelola dan mempromosikan destinasi wisata. Masyarakat Kampung Bandar menyadari pentingnya budaya lokal sebagai daya tarik wisata, namun masih membutuhkan pendampingan dan pelatihan untuk memanfaatkan teknologi, seperti media sosial, secara optimal. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun masyarakat telah memahami pentingnya budaya lokal, mereka masih menghadapi tantangan dalam menggunakan media sosial dan teknologi lainnya untuk mempromosikan wisata secara efektif. Penguatan jaringan komunikasi antar pelaku wisata, termasuk kelompok masyarakat, pelaku usaha pariwisata, dan pemerintah, juga terbukti meningkatkan efisiensi pengelolaan dan promosi wisata. Pengembangan wisata berbasis komunitas di Kampung Bandar memiliki dampak positif terhadap ekonomi lokal dan kualitas kehidupan masyarakat, tetapi masih terdapat ruang untuk meningkatkan pemanfaatan teknologi dan memperluas partisipasi masyarakat dalam pengelolaan dan promosi wisata. Pemberdayaan masyarakat melalui pelatihan, pendampingan, dan peningkatan kapasitas melalui komunikasi berbasis sosial, ekonomi, dan budaya sangat diperlukan untuk memaksimalkan potensi wisata di kawasan ini. Keberhasilan pengelolaan destinasi wisata berbasis komunitas juga bergantung pada kolaborasi yang kuat antar pelaku wisata, masyarakat, pemerintah, dan sektor swasta. http://synergy. Vol 5. No 2. Oktober 2025, p. e-ISSN: 2777-0346 | p-ISSN: 2777-0354 https://doi. org/10. 52364/synergy. SYNERGY Jurnal Bisnis dan Manajemen DAFTAR PUSTAKA