Jurnal Kajian Pendidikan FKIP Universitas Dwijendra Vol 16 No 2. Oktober 2025 P ISSN: 2085-0018 E-ISSN: 2722-8339 Available Online at http://ejournal. id/index. php/widyaaccarya/index Meningkatkan Kemampuan Menulis Cerita Fantasi dengan Model Pembelajaran Project Based Learning pada Siswa Kelas VII B SMP Dwijendra Denpasar Tahun Pelajaran 2024/2025 I Ketut Suar Adnyana Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Dwijendra suara6382@gmail. I Gusti Ayu Putu Istri Aryasuari Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Dwijendra istriaryasuari15@gmail. Ni Nyoman Ayu Riptayani Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Dwijendra Abstrak-Salah satu keterampilan yang harus dimiliki oleh siswa SMP kelas VII adalah memiliki keterampilan dalam membuat cerita fantasi. Tujuan dari pembelajaran ini adalah untuk mengembangkan daya imaji siswa. Daya imajinasi yang diharapkan adalah daya imajinasi yang terstruktur. Siswa diharapkan menuangkan kemampuan imajinasinya ke dalam bentuk struktur cerita fantasi yang terdiri dari orientasi, konflikasi, resolusi, dan koda. Berdasarkan kajian awal yang dilakukan di kelas VII B SMP Dwijendra Denpasar, keterampilan siswa dalam menulis cerita fantasi masih rendah. Dari 31 siswa, hanya hanya 17 orang . %) siswa yang mencapai kriteria ketuntasan minimal . Hal ini mengindikasikan bahwa siswa mengalami kendala dalam proses pembelajaran. Salah satu cara untuk meningkatkan keterampilan siswa kelas VII B SMP Dwijendra Denpasar dalam menulis cerita fantasi dengan menerapkan model pembelajaran Proyek based Learning (PjBL). Implementasi PjBL memungkinkan siswa untuk merancang dan mengembangkan tulisan melalui berbagai tahapan, seperti perencanaan, penulisan, revisi, dan penyajian karya. Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (PTK). Penelitian jenis ini dalam pelaksanaannya memungkinkan memberikan pemahaman yang lebih mendalam kepada siswa dalam menulis cerita fantasi. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif dan kualitatif dengan jenis penelitian tindakan kelas (PTK) yang dilaksanakan dalam dua siklus untuk meningkatkan keterampilan menulis cerita fantasi siswa kelas VII B SMP Dwijendra Denpasar melalui model Project Based Learning (PjBL). Subjek penelitian adalah siswa kelas VII B, sedangkan objek penelitian keterampilan menulis teks cerita fantasi. Setiap siklus terdiri atas tahap perencanaan, pelaksanaan, observasi/evaluasi, dan refleksi. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Analisis data dilakukan secara kuantitatif . tatistik deskripti. dan kualitatif . eduksi, penyajian, dan penarikan simpula. untuk menggambarkan perkembangan kemampuan siswa dalam menulis cerita fantasi. Pelaksanaan pembelajaran dilaksanakan dalam dua siklus. Berdasarkan hasil kajian pada siklus I, hanya 15 . ,3%) siswa yang tuntas. Ada 16 . ,61 %) siswa yang belum Persentase jumlah ketuntasan masih tergolong kecil. Kendala yang dialami siswa dalam menulis cerita fantasi setelah diterapkannya model pembelajaran PjBL adalah sebagian besar siswa belum memahami struktur cerita fantasi dengan baik. Hal ini menyebabkan struktur cerita fantasi yang dibuat siswa tidak sistematis. Sebagian besar siswa belum memaparkan komflikasi dengan baik. Komflikasi yang dibuat siswa terkesan terburuburu dan siswa secara cepat ingin mencari resolusi terhadap komplikasi tersebut. Setelah dilakukan refleksi terhadap pelaksanaan pembelajaran pada siklus I dan dilakukan pembelajaran pada siklus II, keterampilan siswa dalam menulis teks cerita fantasi mengalami peningkatan yang signifikan. Dari 31 siswa, sebanyak 30 . ,7%) dinyatakan tuntas dalam siklus II. Hanya 1 . ,22%) orang siswa yang mendapatkan skor di bawah KKM. Hal ini WIDYA ACCARYA 2025 P a g e 216 Jurnal Kajian Pendidikan FKIP Universitas Dwijendra Vol 16 No 2. Oktober 2025 P ISSN: 2085-0018 E-ISSN: 2722-8339 Available Online at http://ejournal. id/index. php/widyaaccarya/index menandakan bahwa PjBL efektif untuk meningkatkan keterampilan siswa kelas VII B SMP Dwijendra tahun pelajaran 2024/2025 dalam menulis cerita fantasi. Kata kunci : cerita fantasi, proyek based learning, penelitian tindakan kelas, struktur cerita fantasi LATAR BELAKANG Menulis merupakan salah satu dari empat keterampilan berbahasa yang harus dikuasai oleh siswa. Keterampilan ini tidak mudah dilakukan karena membutuhkan proses belajar yang cukup lama untuk mengasah kemampuan dan bakat menulis yang telah dimiliki siswa(Saputra, 2. Dalam konteks pendidikan, menulis memiliki peran yang sangat penting, tidak hanya sekadar kemampuan teknis dalam merangkai kata, tetapi juga dalam mengembangkan kreativitas, imajinasi, dan keterampilan berpikir kritis. Sebagai suatu kegiatan berbahasa, menulis memiliki berbagai fungsi dan tujuan. Menurut Gereda . , fungsi menulis . mengekspresikan pikiran, sikap, atau perasaan . fungsi instrumental, yaitu untuk mempengaruhi sikap dan pandangan orang lain. fungsi interaksional, yaitu untuk menjalin hubungan sosial. fungsi informatif, yaitu menyampaikan informasi termasuk ilmu dan . fungsi estetis, yaitu untuk menyalurkan rasa keindahan. Melihat pentingnya keterampilan menulis, pembelajaran menulis perlu diberikan secara sistematis di sekolah. Pembelajaran yang dirancang dengan baik akan membantu siswa dalam meningkatkan keterampilan menulis sekaligus pemahaman mereka dalam berbagai mata pelajaran. Hal ini disebabkan karena menulis melibatkan proses berpikir yang kompleks, seperti mengorganisasi ide, menganalisis, dan mensintesis informasi. Oleh karena itu, kegiatan menulis tidak hanya membantu siswa dalam menuangkan pikiran secara tertulis, tetapi juga memperkuat menyeluruh (Pratiwi. Sumiyadi, & Nugroho. Tujuan umum dari pembelajaran menulis di sekolah adalah agar siswa mampu menyampaikan informasi atau gagasan secara jelas dan terstruktur. Salah satu pembelajaran menulis di Sekolah Menengah Pertama adalah WIDYA ACCARYA 2025 Tujuan pembelajaran ini adalah mengembangkan daya imaji siswa melalui menulis. Dengan pembelajaran ini, siswa diharapkan dapat menuangkan daya imajinasinya secara Secara umum, kelemahan siswa dalam menulis cerita fantasi adalah kurangnya kemampuan siswa dalam memaparkan cerita fantasi secara sistematis. Hal ini juga dialami oleh siswa kelas VII B SMP Dwijendra. Siswa mengalami kesulitan dalam mengembangkan cerita fantasi karena pengetahuan siswa tentang struktur cerita fantasi belum maksimal. Hal ini ketuntasan siswa dalam menulis cerita fantasi hanya 55% siswa yang mencapai kriteria ketuntasan minimal ( skor ketuntasan minimal Untuk tersebut, diperlukan metode pembelajaran yang inovatif dan mampu menarik perhatian siswa agar termotivasi dalam belajar serta meningkatkan keterampilan siswa dalam menulis cerita fantasi. Salah satu pendekatan yang dapat diterapkan adalah model pembelajaran Project Based Learning (PjBL). Model ini berfokus pada keterlibatan aktif siswa dalam proyek nyata yang relevan dengan kehidupan mereka, sehingga mendorong siswa untuk belajar secara mandiri dan bermakna. Dalam konteks pembelajaran menulis. PjBL memungkinkan siswa untuk merancang dan mengembangkan tulisan melalui berbagai tahapan, seperti perencanaan, penulisan, revisi, dan penyajian karya akhir. Dengan pendekatan ini, siswa tidak hanya dilatih menulis, tetapi juga diajak untuk berpikir kritis, berkolaborasi, serta mampu menyelesaikan masalah secara Penerapan PjBL dalam pembelajaran dapat dilakukan dengan tahapan dengan memberikan pertanyaan terkait proyek yang akan dibuat. Larmer and Mergendoller . Larmer dan Mergendoller . Krajcik dan Shin . Parker dkk. , dan Thomas . semuanya P a g e 217 Jurnal Kajian Pendidikan FKIP Universitas Dwijendra Vol 16 No 2. Oktober 2025 P ISSN: 2085-0018 E-ISSN: 2722-8339 Available Online at http://ejournal. id/index. php/widyaaccarya/index menekankan bahwa PjBL diawali dengan pertanyaan pemantik Pertanyaan ini prinsip-prinsip pembelajaran berbasis proyek (Krajcik dan Shin, 2. Tujuan pembelajaran harus jelas. Hal ini penting untuk memberikan kejelasan apa isi pembelajaran (Darling-Hammond et al. Krajcik and Shin, 2014. Larmer and Mergendoller, 2015a. Parker et al. , 2013. Thomas, 2000. Larmer dan Mergendoller . menyatakan bahwa PjBL yang dirancang dengan baik akan memberikan mendalam tentang konten pembelajaran kepada siswa. Hal ini merupakan dasar bagi pemahaman konten pelajaran sehingga siswa mempunyai keterampilan berpikir kritis, pengaturan diri, dan kolaborasi. PjBL digunakan untuk meningkatkan Yang membedakan PjBL dari pendekatan pengajaran lainnya adalah bahwa proyek bukanlah puncak pembelajaran . eperti yang sering terjadi di kelas standa. , melainkan proses terjadinya pembelajaran. Parker dan rekan-rekannya . berpendapat bahwa proyek harus menjadi inti dari pembelajaran. PjBL berakar pada teori pembelajaran konstruktivis (Pellegrino dan Hilton, 2012. Ravitz, 2. Oleh karena itu, tidak mengherankan jika rangkaian prinsip desain ini membahas konsep unit PBL yang melibatkan siswa dalam konstruksi pengetahuan, inkuiri mendalam, dan/atau penggunaan keterampilan pemecahan masalah dan berpikir kritis. Lebih lanjut. Syarifah. Holisin, dan Shoffa . menyatakan bahwa model PjBL memberikan tugas proyek kepada siswa untuk melakukan eksplorasi, penilaian, interpretasi, dan sintesis informasi guna menghasilkan berbagai bentuk hasil belajar. Melalui model ini, diharapkan kemampuan menulis siswa, khususnya dalam menulis cerita fantasi, dapat meningkat secara signifikan. Berdasarkan latar belakang tersebut, penelitian ini bertujuan untuk mengkaji penerapan model pembelajaran berbasis proyek Gambar 1 Siklus Penelitian WIDYA ACCARYA 2025 dalam meningkatkan keterampilan menulis siswa kelas VII B SMP Dwijendra. Meskipun model PjBL sudah pernah diterapkan di sekolah, namun masih banyak siswa yang belum memahami konsep dan penerapannya secara optimal. Oleh karena itu, penerapan PjBL dalam penelitian ini diharapkan dapat menjadi solusi inovatif untuk meningkatkan keterampilan berpikir kritis, kolaborasi, dan pemecahan masalah siswa, serta memberikan kontribusi dalam pengembangan metode pembelajaran menulis yang lebih efektif dan II. METODE PENELITIAN Penelitian pendekatan deskripstif kuantitatif dan kualitatif dengan tujuan untuk menggambarkan secara mendalam penerapan model pembelajaran PjBL dalam meningkatkan keterampilan menulis cerita fantasi pada siswa kelas VII B SMP Dwijendra Denpasar. Pendekatan ini dipilih karena tujuan dari penelitian ini adalah mengukur kemampuan siswa dalam menulis cerita fantasi dengan menerapkan model pembelajaran PjBL. Jenis penelitian ini adalah jenis penelitian tindakan kelas (PTK). Jenis penelitian ini digunakan untuk meningkatkan keterampilan siswa dalam menulis cerita fantasi karena PTK merupakan penelitian yang sistematik yang dapat mengidentifikasi kekuatan proses pembelajaran dan dapat melaksanakan pembelajaran (Burns & Rochsantiningsih, 2006. Yuan & Burns, 2. Dengan PTK siswa yang mengalami kesulitan dalam pembelajaran akan terbantu secara maksimal karena PTK dalam pelaksanaannya dilalukan dengan beberapa siklus. Subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas VII B SMP Dwijendra Denpasar, sedangkan objek penelitiannya adalah keterampilan menulis teks cerita fantasi dengan menerapkan model PjBL. Penelitian dilakukan dengan dua siklus. P a g e 218 Jurnal Kajian Pendidikan FKIP Universitas Dwijendra Vol 16 No 2. Oktober 2025 P ISSN: 2085-0018 E-ISSN: 2722-8339 Available Online at http://ejournal. id/index. php/widyaaccarya/index Masing-masing penelitian ini terdiri atas lima tahapan, yaitu. rencana tindakan, . pelaksanaan tindakan, . observasi/evaluasi, dan . Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah: Observasi, untuk mengamati aktivitas siswa dan guru selama proses pembelajaran berlangsung (Sanjaya . Creswell. Arikunto . Miles. Huberman & Saldaya . Sugiyono . Moleong . Wawancara, dilakukan terhadap guru pengajar mata pelajaran bahasa Indonesia di kelas VII B SMP Dwijendra Denpasar dan beberapa siswa untuk memperoleh data tentang kesulitan siswa yang dialami siswa dan guru dalam pembelajaran menulis cerita fantasi. Dokumentasi, berupa cerita fantasi yang dibuat oelh siswa serta catatan Dalam penelitian ini, analisis data dilakukan secara kuantitatif dan kualitatif dengan menggunakan tiga tahapan utama sebagaimana dikemukakan oleh Miles dan WIDYA ACCARYA 2025 Huberman, yaitu reduksi data, penyajian data, dan penarikan simpulan. Reduksi data adalah proses pemilihan, pengabstrakan, dan transformasi data mentah yang muncul dari catatan lapangan, wawancara, dokumentasi, serta observasi. Pada tahap ini, peneliti mengelompokkan data yang relevan dengan fokus penelitian, yaitu penerapan model pembelajaran PjBL dalam meningkatkan keterampilan menulis cerita fantasi. Hasil yang dikaji adalah berupa kemampuan siswa dalam menulis cerita fantasi. Data yang diluar fokus kajian direduksi karena tidak sesuai dengan fokus kajian penelitian. Setelah data direduksi, langkah selanjutnya adalah penyajian data. Data menginformasikan keterampilan siswa dalam menulis teks cerita fantasi prasiklus, siklus pertama, dan siklus kedua. Data hasil wawancara disajikan dalam bentuk deskriptif. Data yang telah disajikan selanjutnya dianalisis. Data berupa keterampilan siswa dalam membuat teks cerita fantasi baik pra siklus maupun siklus I dan II dianalisis dengan menggunakan statistik deskriptif. Sedangkan data berupa hasil wawancara dianalisis dengan menggunakan metode deskriptif kualitatif. HASIL DAN PEMBAHASAN P a g e 219 Jurnal Kajian Pendidikan FKIP Universitas Dwijendra Vol 16 No 2. Oktober 2025 P ISSN: 2085-0018 E-ISSN: 2722-8339 Available Online at http://ejournal. id/index. php/widyaaccarya/index Sebelum dilakukan tindakan berupa pembelajaran dengan dua siklus, berikut disajikan data prasiklus keterampilan siswa Kelas VII B SMP Dwijendra Denpasar. Tabel 1. Keterampilan Siswa Kelas VII B dalam Menulis Cerita Fantasi Prasiklus Aspek yang dinilai Nama A Ngurah Bagus Wirandika. Gede Bhaskara Dharmawigun Gede Bisma Raditya. Glovis Mustika. I Gede Raditya Darmasena A I Kadek Agus Satya Wibawa. I Kadek Bayu Arimbawa Yasa. I Kadek Indra Putra Yasa Nyoman Arteta Marta Widastra. Putu Danendra Jaya I Putu Eka Andhika Darma. I Putu Nico Saputra. Ida Bagus Made Candra Wijaya. WIDYA ACCARYA 2025 Kom Nilai Ketun Krt Belum Tuntas Belum Tuntas Belum Tuntas Belum Tuntas Belum Tuntas Belum Tuntas Belum Tuntas Belum Tuntas Belum Tuntas Belum Tuntas Belum Tuntas Belum Tuntas Belum Tuntas P a g e 220 Jurnal Kajian Pendidikan FKIP Universitas Dwijendra Vol 16 No 2. Oktober 2025 P ISSN: 2085-0018 E-ISSN: 2722-8339 Available Online at http://ejournal. id/index. php/widyaaccarya/index Kadek Regina Paramita Putri. Komang Ayu Kania Paramitha Komang Candra Artha Wijaya. Laita Ayu Ayu Okti Tamarisya. Made Chagi Mahatma Bhareswara. Mochamad Adimas Nurprasetyo. Nadia Farhana Sahira. Kadek Kaylla Arya Putri. Made Nilawati. Ni Putu Athalia Wahyuning Dewi. Putu Cantika Bintang Pinajeng. Ni Putu Leona Agustina Putri Wayan Avira Hana Manahcika. Patrisius Triputra Akoit. Putu Adelio Richi Clearesta. WIDYA ACCARYA 2025 Belum Tuntas Belum Tuntas Belum Tuntas Belum Tuntas Tuntas Belum Tuntas Belum Tuntas Belum Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Belu Tunta Belu Tunta Belum Tuntas Belum Tuntas P a g e 221 Jurnal Kajian Pendidikan FKIP Universitas Dwijendra Vol 16 No 2. Oktober 2025 P ISSN: 2085-0018 E-ISSN: 2722-8339 Available Online at http://ejournal. id/index. php/widyaaccarya/index Putu Adria Pradnyandari. Putu Saputra Violena Deanova Haryanto. Riki Jumlah Rata - rata Ketuntasan Presentase Belu Tunta Belu Tunta Tunta 2,105 16,1% Keterangan : : Orientasi : Resolusi : Kreativitas dan Imajinasi Kom : Komplikasi Koda : Koda Krt : Kerapian tulisan Keterampilan siswa dalam menulis cerita fantasi pada prasiklus sangat kurang. Hal ini dapat dicermati dari 31 siswa, hanya 5 . ,1%) orang siswa yang tuntas sedangkan 26 . ,9%) belum tuntas. Kriteria ketuntasan minimal yang dipakai acuan adalah 80. Berdasarkan pada hasil kajian pra siklus siswa masih kesulitan dalam membuat cerita fantasi. Adapun kesulitan-kesulitan tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut: Kurangnya Pemahaman terhadap Konsep Cerita Fantasi Sebagian memahami secara utuh karakteristik cerita fantasi yang meliputi unsur tokoh rekaan, latar imajinatif, serta peristiwa yang tidak terjadi dalam dunia nyata. Hal ini terlihat dari hasil tulisan siswa yang cenderung menyerupai cerita pengalaman pribadi atau narasi realistis bukan cerita fantasi. Siswa belum bisa membedakan secara esensial perbedaan antara cerita fantasi dengan cerita non fantasi. Kecenderungan siswa menganggap cerita narasi realistis yang berupa pengalaman pribadi siswa dianggap sebagai cerita fantasi. Cerita fantasi merupakan WIDYA ACCARYA 2025 teks yang menceritakan kisah yang penuh fantasi (Sumiyati et al. , 2. Kesulitan dalam Mengembangkan Imajinasi Cerita fantasi menuntut siswa untuk menciptakan dunia dan tokoh yang tidak biasa. Namun, siswa mengalami kesulitan dalam mengembangkan daya imajinasinya. Tokoh yang diciptakan bersifat biasa . anusia biasa tanpa kekuatan khusu. , latar tempat yang dipilih pun masih bersifat realistis seperti AusekolahAy. AurumahAy, atau AupasarAy, tanpa disertai elemen magis atau fantastik. Tidak Mampu Menyusun Alur Cerita secara Logis dan Runut Sebagian besar siswa mengalami kesulitan dalam menyusun struktur cerita yang Mereka menulis cerita tanpa tahapan alur yang jelas seperti orientasi . engenalan tokoh dan lata. , komplikasi . , dan resolusi . dan koda. Beberapa siswa bahkan hanya menulis bagian awal cerita tanpa pengembangan konflik dan penyelesaian. Struktur cerita yang dibuat belum lengkap terutama dalam menggambarkan klimak dari cerita yang dibuat. Klimak yang dibuat belum P a g e 222 Jurnal Kajian Pendidikan FKIP Universitas Dwijendra Vol 16 No 2. Oktober 2025 P ISSN: 2085-0018 E-ISSN: 2722-8339 Available Online at http://ejournal. id/index. php/widyaaccarya/index menggambarkan komplikasi antar tokoh. Hal ini juga berpengaruh terhadap penggambaran resolusi terhadap komplikasi tersebut. Resolusi merupakan penyelesaian masalah atau jalan keluar dari permasalahan (Laila & Ibrahim. Jalan keluar yang diambil secara tibatiba. Komplik dipaparkan dan secara tiba-tiba ada penyelesaiannya. Seharusnya dari klimaks ada penuruan klimaks secara bertahap dan akhirnya menemukan resolusi terhadap konflik Cerita fantasi menuntut penggunaan bahasa yang deskriptif dan penuh daya khayal. Akan tetapi, sebagian besar siswa masih menggunakan kosakata sederhana, sehingga cerita terasa membosankan dan tidak mampu membangun suasana ajaib yang menjadi ciri khas genre cerita fantasi. Keterbatasan penguasaan kosa-kata membuat siswa mengalami kesulitan dalam menulis cerita. Cerita yang dibuat tidak tidak menarik dan tidak menggugah rasa ingin tahu untuk mengikuti cerita. Berdasarkan pada hasil analisis pembelajaran prasiklus dilakukan pembelajaran siklus I dengan menerapkan model pembelajaran PjBL Pembelajaran pada siklus pertama dilakukan mengacu pada hasil refleksi Pelaksanaan pembelajaran dilakukan dengan tahapan perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, dan Hasil pembelajaran siklus I dipaparkan pada tabel 2. Lemah dalam Mengembangkan Tokoh Fantastik Penulisan tokoh-tokoh fantasi, seperti makhluk ajaib, penyihir, atau binatang yang bisa berbicara, hampir tidak ditemukan dalam karya siswa. Ini menunjukkan bahwa siswa belum mampu menciptakan tokoh-tokoh imajinatif dan peranannya. Karakterisasi tokoh juga lemah, sehingga tokoh tidak memiliki ciri khas atau perkembangan yang menarik. Terbatasnya Penguasaan Kosakata Fantastik Tabel 2 Keterampilan Siswa Kelas VII B dalam Menulis Cerita Fantasi Siklus I Nama Aspek yang dinilai Ketuntasan Kom Koda Krt Skor Belum Tuntas Belum Tuntas A Ngurah Bagus 10 Wirandika. Gede Bhaskara 10 Dharmawiguna. Gede Bisma Raditya. Belum Tuntas Glovis Mustika. Tuntas Gede Raditya Darmasena A P. I Kadek Agus Satya Wibawa. Kadek Bayu Arimbawa Yasa. I Kadek Indra Putra Yasa I Nyoman Arteta Marta Widastra. Belum Tuntas Tuntas Belum Tuntas Belum Tuntas Belum Tuntas WIDYA ACCARYA 2025 P a g e 223 Jurnal Kajian Pendidikan FKIP Universitas Dwijendra Vol 16 No 2. Oktober 2025 P ISSN: 2085-0018 E-ISSN: 2722-8339 Available Online at http://ejournal. id/index. php/widyaaccarya/index I Putu Danendra Jaya 10 I Putu Eka Andhika 10 Darma. I Putu Nico Saputra. Tuntas Tuntas Belum Tuntas Ida Bagus Made Candra Wijaya. Kadek Regina Paramita Putri. Komang Ayu Kania Paramitha Komang Candra Artha Wijaya. Laita Ayu Ayu Okti Tamarisya. Made Chagi Mahatma Bhareswara. Mochamad Adimas Nurprasetyo. Nadia Farhana Sahira. Ni Kadek Kaylla Arya Putri. Ni Made Nilawati. Tuntas Tuntas Tuntas Belum Tuntas Belum Tuntas Tuntas Belum Tuntas Belum Tuntas Tuntas Belum Tuntas Ni Putu Athalia Wahyuning Dewi. Ni Putu Cantika Bintang Pinajeng. Putu Leona Agustina Putri J. Ni Wayan Avira Hana Manahcika. Patrisius Triputra Akoit. Putu Adelio Richi Clearesta. Putu Adria Pradnyandari. Putu Riki Saputra Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Belum Tuntas Belum Tuntas Tuntas Belum Tuntas Deanova 20 Tuntas Violena Haryanto. WIDYA ACCARYA 2025 P a g e 224 Jurnal Kajian Pendidikan FKIP Universitas Dwijendra Vol 16 No 2. Oktober 2025 P ISSN: 2085-0018 E-ISSN: 2722-8339 Available Online at http://ejournal. id/index. php/widyaaccarya/index Jumlah Rata Ae rata Ketuntasan Persentase 48,3% Keterangan : Kom : Orientasi : Komplikasi Re : Resolusi Koda : Koda Berdasarkan hasil kajian pada siklus I, hanya 15 . ,3%) siswa yang tuntas. Ada 16 ( 51,61 %)siswa yang belum tuntas. Persentase jumlah ketuntasan masih tergolong kecil. Kendala yang dialami siswa dalam menulis cerita fantasi setelah diterapkannya model pembelajaran PjBL adalah sebagian besar siswa belum memahami struktur cerita fantasi dengan Hal ini menyebabkan struktur cerita fantasi yang dibuat siswa tidak sistematis. Sebagian besar siswa belum memaparkan komplikasi dengan baik. Komplikasi yang dibuat siswa terkesan terburu-buru dan siswa secara terburu-buru juga mencari resolusi terhadap komplikasi tersebut. Contoh cerita fantasi yang dibuat siswa . iklus Dino dan Naga Pada suatu hari. Dino bangun tidur dan tiba-tiba dia sudah berada di hutan. Terus dia lihat ada naga. Naganya besar sekali. Naga itu bilang, "Ayo ikut saya. " Dino ikut saja karena dia tidak tahu mau ke mana. Lalu mereka ke tempat yang banyak cahaya dan benda-benda Dino lalu makan roti yang bisa membuat dia terbang. Dia pun terbang dan tertawa-tawa. Lalu dia jatuh tapi tidak sakit karena tanahnya empuk. Terus ada monster datang dan mereka berantem. Dino menang karena dia punya kekuatan super. WIDYA ACCARYA 2025 : Kreativitas dan Imajinasi Krt : Kerapian tulisan Cerita tersebut memiliki beberapa Kelemahan tersebut berupa: Struktur cerita tidak sistematis Cerita fantasi tersebut tidak disusun secara sistematis. Pada orientasi tidak dijelaskan siapa Dino dan bagaimana dia bisa hidup di hutan. Dengan tidak adanya penjelasan tentang Dino, pembaca akan bertanya-tanya mengapa Dino tiba-tiba berada di hutan. Hal inilah yang menyebabkan cerita fantasi tersebut orientasinya tidak bagus. Orientasi sangat penting sebagai pengantar awal cerita yang berisi sejumlah informasi penting berkaitan dengan tokoh dan latar cerita (Irma et , 2. Tokoh imajinasi muncul secara tiba-tiba Tokoh imajinasi . yang muncul secara tiba-tiba menimbulkan pertanyaan. Keberadaan naga tersebut juga tidak jelas. Tempat yang digambarkan sebagai tempat yang banyak cahaya dan benda-benda terbang juga belum jelas. Tempat tersebut sebagai tempat Mengapa ada banyak cahaya dan bendabenda yang ada di sekitar tempat tersebut melayang-layang. Konflik yang dibangun tidak Terkesan, konflik pada cerita tersebut tidak dibangun secara bertahap. Dino bisa terbang karena dia memakan roti. Roti tersebut didapat dari mana dan apa fungsi roti tersebut. Hal ini belum dipaparkan dengan jelas sehingga P a g e 225 Jurnal Kajian Pendidikan FKIP Universitas Dwijendra Vol 16 No 2. Oktober 2025 P ISSN: 2085-0018 E-ISSN: 2722-8339 Available Online at http://ejournal. id/index. php/widyaaccarya/index ada pertanyaan yang tidak bisa terjawab dari cerita terebut adalah dari mana roti ajaib itu diperoleh dan kapan roti tersebut dapat Menjelang akhir cerita Dino diceritakan terjatuh di tanah yang empuk. Mengapa tanah strukturnya empuk. Hal ini juga belum ada dijelaskan dalam cerita. Setelah Dino terjatuh tiba-tiba ada monster. Keberadaan monster tersebut juga belum Mengapa tiba-tiba ada moster. Apa permasalahan antara Dino dengan monster tersebut sehingga mereka berkelahi. Resolusi yang dibangun siswa terkesan terburu-buru sehingga siswa ingin menyelesaikan konflik tersebut dengan cepat. Resolusi seharusnya menjadi titik awal ditemukannya penyelesaian masalah (Niranjanii et al. , 2. Alur cerita tidak runut Peristiwa terjadi secara acak tanpa hubungan yang logis. Ini menandakan siswa belum bisa menyusun peristiwa secara runut. Hubungan antar peristiwa tidak memiliki hubungan yang logis. Siswa tidak memberi penjelasan mengapa Dino terbangun bertemu dengan naga. Peristiwa tersebut seharusnya dijelaskan sehingga peristiwa bertemunya dengan naga mempunyai hubungan yang logis. Ketika Dino memakan roti, dia bisa terbang. Penggambaran seperti ini juga menimbulkan Mengapa Dino mendapatkan roti Siapa yang memberi roti tersebut dan kapan roti tersebut dimakan. Dalam cerita tersebut Dino memakan roti karena berada di tempat yang bercahaya dan di sekitarnya ada benda yang terbang. Peristiwa kejadian ini tidak logis karena kejadiannya tidak berhubungan dan peristiwa yang satu dengan yang lain terjadi dengan tiba-tiba. Setelah Dino terbang, kemudian Dino terjatuh di tanah yang empuk tiba-tiba bertemu dengan monster. Perkelahian Dino dengan monster tanpa penjelasan yang logis. Mengapa Dino dan monster berkelahi. Seharusnya dipaparkan mengapa terjadi perkelahian tersebut. Dino dapat mengalahkan perkelahian karena Dino memiliki kekuatan super. Dari mana Dino mendapatkan kekuatan super. Mengapa Dino memiliki kekuatan super dan kapan kekuatan super tersebut dapat dipergunakan oleh Dino. Hal tersebut belum ada dalam cerita. WIDYA ACCARYA 2025 Unsur dikembangkan secara maksimal Siswa belum mengembangkan unsurunsur fantasi secara maksimal dalam karangan yang ditulis. Hal-hal berbau fantasi seperti naga dan roti terbang memang disebutkan, namun hanya sekadar sebagai nama atau benda ajaib tanpa penjelasan lebih lanjut. Imajinasi belum tergali secara mendalam karena tidak dijelaskan mengapa atau bagaimana hal-hal tersebut bisa ada dalam cerita. Misalnya, naga hanya muncul sebagai tokoh tanpa latar belakang atau peran penting dalam alur cerita. Roti terbang juga hanya disebutkan fungsinya tanpa ada penjelasan logis dalam dunia fantasi yang Dalam cerita fantasi yang baik, hal-hal ajaib seperti tokoh makhluk mistis, benda sihir, atau tempat magis seharusnya dikembangkan melalui deskripsi yang hidup, fungsi yang jelas dalam cerita, dan keterkaitan yang kuat dengan alur serta tokoh. Pengembangan unsur-unsur ini akan membantu membentuk dunia fantasi yang utuh, menarik, dan imajinatif. Penggunaan konjungsi dan kalimat Siswa menggunakan konjungsi berupa urutan Siswa lebih banyak menggunakan konjungsi lalu dan konjungsi terus digunakan hanya sekali. Ini menandakan siswa memiliki kemampuan yang masih terbatas dalam menceritakan urutan peristiwa. Penggunaan konjungsi yang monoton menyebabkan cerita terasa datar, kurang dinamis, dan alurnya menjadi seperti daftar kejadian yang hanya disusun secara berurutan tanpa pengembangan hubungan sebab-akibat, pertentangan, atau penguatan detail waktu. Kalimat-kalimat yang digunakan dalam cerita cenderung pendek tanpa variasi struktur maupun pemilihan kata yang menggugah imajinasi pembaca. Kalimat tersebut lebih banyak bersifat informatif dan tidak menggambarkan suasana, latar, atau emosi tokoh secara mendalam. Akibatnya, cerita kurang menarik. Misalnya, alih-alih menuliskan "Dino melihat Ia terbang. Dino takut," siswa dapat belajar mengembangkan narasi menjadi "Dino P a g e 226 Jurnal Kajian Pendidikan FKIP Universitas Dwijendra Vol 16 No 2. Oktober 2025 P ISSN: 2085-0018 E-ISSN: 2722-8339 Available Online at http://ejournal. id/index. php/widyaaccarya/index menatap makhluk raksasa bersisik itu dengan mata terbelalak dan napas memburu. Jantungnya berdegup kencang saat naga itu mengepakkan sayap besarnya dan terbang ke " Dengan pengembangan deskriptif seperti ini, pembaca dapat lebih merasakan ketegangan dan membayangkan suasana secara visual maupun emosional. Tidak adanya koda Dalam bentuknya, pesan moral . perlu dicantumkan dalam cerita sehingga pembaca dapat mengambil hikmah dari cerita tersebut. Walaupun secara struktural unsur koda bersifat opsional, artinya tidak selalu harus ada dalam setiap cerita, namun kehadirannya sangat pembelajaran menulis cerita. Pencantuman koda membantu siswa dan pembaca untuk nilai-nilai terkandung dalam cerita, baik berupa sikap keberanian, kejujuran, ketekunan, tanggung jawab, kepedulian, maupun nilai-nilai moral dan sosial lainnya. Walaupum koda bersifat opsional dalam cerita fantasi, sebaiknya koda dimunculkan dalam cerita. Dengan adanya koda, siswa belajar bahwa cerita bukan hanya sebagai hiburan atau sarana menuangkan imajinasi, tetapi juga sebagai media refleksi dan pembentukan karakter. Koda juga berfungsi memperkuat pesan utama dari cerita dan memberi penekanan terhadap konsekuensi tindakan tokoh, sehingga pembaca dapat mengaitkan cerita dengan kehidupan nyata. Contoh cerita fantasi kedua . iklus I) Niki dan Niko Di suatu pedesaan lahirlah seorang anak kembar bernama Niki dan Niko. Di suatu hari Niki dan Niko sedang berjalan dan dia bertemu siluman ular. Siluman ular tersebut mempunyai tongkat sihir. Siluman ular tersebut Di suatu hari. Niki dan Niko melihat ular itu berjalan ke arah desa. Niki dan Niko Niki dan Niko lari ke arah hutan. Lalu ular itu memakai tongkat sihir membakar rumah-rumah di sana. Niki melihat itu marah. WIDYA ACCARYA 2025 Dia berkata dia akan pergi mengambil tongkat Di malam hari Niki mengatakan dia akan pergi mengambil tongkat sihir. Lalu Niko pun ikut dengan Niki. Lalu Niki melihat siluman ular itu sedang tidur. Lalu Niki dan Niko mengambil tongkat itu. Lalu Niki dan Niko membunuh ular itu. Cerita fantasi yang ditulis sudah memiliki unsur-unsur dasar cerita fantasi Tokoh manusia dan makhluk gaib . iluman ula. Adanya benda sihir . ongkat sihi. , konflik antara tokoh protagonis dan antagonis. Setting desa dan hutan, unsur petualangan . Ada beberapa kelemahan pada cerita tersebut . Tidak ada deskripsi fisik ular Tokoh siluman pada cerita tersebut tidak dideskripsikan bentuk fisiknya. Pembaca tidak mendapat gambaran secara fisik tentang ular tersebut. Biasanya tokoh siluman ular dideskripsikan memiliki tubuh yang besar, bertanduk, matanya merah menyala dan memiliki kekebalan tubuh dan sulit untuk Pada cerita tersebut gambaran tokoh seperti itu tidak ada sehingga pembaca tidak memiliki imajinasi tentang ular siluman itu. Padahal, deskripsi fisik bisa menciptakan suasana seram dan meningkatkan ketegangan. Logika cerita belum kuat Ular tokoh antagonis, identitasnya tidak dijelaskan dalam cerita. Siapa siluman ular tersebut dan dari mana asal siluman ular itu. Dengan tidak adanya informasi tentang ular itu, cerita menjadi sangat Ular secara tiba-tiba membakar desa. Tidak dijelaskan mengapa ular tersebut tibatiba membakar desa. Seharusnya ada alasan mengapa ular tersebut membakar desa. Niki dan Niko sangat mudah merebut tongkat sihir. Tidak ada perjuangan yang dilaukan oleh Niki dan Niko dalam merebut tongkat tersebut. Ular siluman tersebut sangat mudah dibunuh. Biasanya musuh gaib sangat sulit untuk dibunuh. Puncak konflik seharusnya bisa dikembangkan lagi. Niki dan Niko P a g e 227 Jurnal Kajian Pendidikan FKIP Universitas Dwijendra Vol 16 No 2. Oktober 2025 P ISSN: 2085-0018 E-ISSN: 2722-8339 Available Online at http://ejournal. id/index. php/widyaaccarya/index seharusnya mengalami kendala dalam membunuh siluman ular tersebut. Jalan cerita terkesan terburu-buru Alasaan siluman ular membakar desa tidak ada dalam cerita. Biasanya dijelaskan mengapa ular itu membakar desa tersebut. Hal ini yang perlu Misalnya dulu sebelum menjadi siluman ular, siluman ular tersebut adalah penduduk desa tersebut. Masyarakat desa mengusirnya karena dia mengidap penyakit yang aneh. Oleh karena itu, penduduk desa Dia berguru pada siluman ular yang tinggal di gua yang besar di sebuah hutan. Karena ketekunannya dalam memperlajari ilmu, dia bisa berubah mejadi seekor ular besar yang sangat menakutkan. Seandainya alur cerita dibuat seperti ini, pembaca akan mengetahui mengapa siluman ular membakar desa tersebut. Siswa mengalami kesulitan dalam mengembangkan Dalam cerita tersebut. Niko dan Niki terlalu mudah merebut tongkat sihir milik siluman ular. Seharusnya puncak konflik diperpanjang dengan menceritakan bagaimana susahnya Niko dan Niki dalam merebut tongkat sihir itu. Pada momen ini seharusnya dipaparkan perkelahian antara Niko dan Niki dalam merebut tongkat tersebut. Ular bisa diceritakan mengeluarkan api dari mulut dan matanya dan menyerang Niko dan Niki. Resolusi dalam cerita tersebut terlalu singkat. Resolusi merupakan suatu keadaan ketika Pada tahap ini, pengarang berupaya mengungkapkan solusi dari berbagai konflik yang dialami oleh tokoh utama atau para tokoh yang diceritakan Harsiati . alam Novita & Nursaid, 2. Refleksi Pembelajaran Fantasi Siklus I Menulis Cerita Berdasarkan hasil analisis terhadap dua cerita fantasi yang dibuat oleh siswa, ditemukan beberapa aspek yang menjadi kelemahan utama dan perlu menjadi perhatian pada siklus II . Ketidakteraturan Struktur Cerita Berdasarkan kajian yang dilakukan terhadap terhadap cerita fantasi yang dibuat oleh siswa, sebagian besar siswa belum WIDYA ACCARYA 2025 sepenuhnya memahami dan menerapkan struktur cerita fantasi secara utuh, yakni orientasi, komplikasi, resolusi, dan koda (Harsiati,dkk. ,2. Orientasi tidak dijelaskan dengan baik sehingga menimbulkan banyak pertanyaan awal seperti siapa tokoh utama yang ada dalam cerita, bagaimana dia bisa berada di suatau tempat misalnya di hutan, dan apa yang menjadi latar belakang ceritanya. Konflik dibangun sangat cepat tanpa alasan logis dan resolusi terjadi terlalu mudah tanpa ada tantangan yang berarti. Pada siklus berikutnya, perlu diberikan pembelajaran mengenai struktur cerita fantasi. Guru dapat menyediakan kerangka alur . serta contoh-contoh bagian orientasi yang baik, dan meminta siswa menyusun alur secara runut sebelum menulis cerita. Unsur Fantasi Belum Tergarap Maksimal Unsur fantasi seperti makhluk ajaib . aga, siluman ula. dan benda sihir . oti terbang, tongkat sihi. memang muncul dalam cerita siswa. Namun, keberadaan benda tersebut belum dijelaskan secara detail dan tidak memiliki fungsi yang kuat dalam pengembangan cerita. Siswa cenderung hanya menyebut tanpa menjelaskan asal-usul, bentuk, atau kekuatan dari unsur-unsur tersebut, sehingga imajinasi pembaca tidak tergali dengan baik. Pembelajaran difokuskan pada penguatan imajinasi melalui eksplorasi unsur-unsur fantasi. Guru dapat menggunakan media visual . ambar, film pendek fantas. untuk membantu siswa menggambarkan makhluk atau benda ajaib. Kegiatan membuat dunia rekaan juga penting agar dunia fantasi yang dilukiskan siswa dalam cerita terasa hidup dan konsisten. Kelemahan dalam Pengembangan Konflik Konflik dalam cerita belum dibangun secara bertahap dan logis. Misalnya, dalam cerita Dino dan Naga, konflik muncul dan selesai secara tiba-tiba. Pada cerita Niki dan Niko, konflik yang dipaparkan dengan sangat sederhana dan resolusi dibuat tanpa ketegangan atau perjuangan berarti. Tidak ada tantangan atau hambatan yang harus dihadapi oleh tokoh Siswa perlu diajarkan bagaimana membangun P a g e 228 Jurnal Kajian Pendidikan FKIP Universitas Dwijendra Vol 16 No 2. Oktober 2025 P ISSN: 2085-0018 E-ISSN: 2722-8339 Available Online at http://ejournal. id/index. php/widyaaccarya/index konflik secara bertahap. Guru dapat memberikan contoh-contoh cerita dengan konflik yang berkembang perlahan dan menunjukkan pertarungan antara tokoh protagonis dan antagonis dengan lebih Komplikasi yang dibangun belum secara bertahap yaitu tahap awal munculnya konflik, tahap peningkatan konflik, dan tahap klimak (Siska et al. , 2. Siswa perlu diberikan pemahaman bahwa cerita bukan hanya hiburan, tetapi juga media untuk menyampaikan nilai kehidupan. Guru dapat memberikan latihan menulis pesan moral berdasarkan cerita yang dibaca atau Selanjutnya, menyisipkan pesan moral pada akhir cerita Oleh karena itu, pembelajaran pada siklus kedua difokuskan pada: Pemahaman struktur cerita fantasi. Pengembangan unsur fantasi yang kuat sehingga unsur-unsur dalam cerita fantasi berfungsi dengan baik. Penyusunan konflik yang bertahap dan Penggunaan bahasa yang variatif dan Penyisipan pesan moral atau koda. Bahasa kurang variatif dan deskriptif Cerita fantasi yang dibuat siswa cenderung menggunakan bahasa yang monoton, dengan konjungsi terbatas seperti AulaluAy dan AuterusAy. Kalimatnya pendek-pendek dan kurang menggambarkan suasana, emosi tokoh, maupun detail latar. Hal ini membuat cerita terasa datar dan tidak hidup. Tidak ada koda atau pesan moral Cerita fantasi yang dibuat siswa belum menyertakan koda atau pesan moral, padahal koda penting untuk membentuk karakter dan nilai-nilai positif dari cerita. Ketiadaan koda membuat cerita berakhir begitu saja tanpa Setelah dilakukan pembelajaran siklus II keterampilan siswa kelas VII B SMP Dwijendra Denpasar dipaparkan pada tabel 3 di bawah ini. Tabel 3 Keterampilan Siswa Kelas VII B dalam Menulis Cerita Fantasi Siklus II Nama Aspek yang dinilai Ketuntasan Kom Koda Krt Skor Tuntas Tuntas A Ngurah Bagus 20 Wirandika. Gede Bhaskara 10 Dharmawiguna. Gede Bisma Raditya. Tuntas Glovis Mustika. Tuntas Gede Raditya Darmasena A P. I Kadek Agus Satya Wibawa. Kadek Bayu Arimbawa Yasa. I Kadek Indra Putra Yasa Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas WIDYA ACCARYA 2025 P a g e 229 Jurnal Kajian Pendidikan FKIP Universitas Dwijendra Vol 16 No 2. Oktober 2025 P ISSN: 2085-0018 E-ISSN: 2722-8339 Available Online at http://ejournal. id/index. php/widyaaccarya/index I Nyoman Arteta Marta Widastra. I Putu Danendra Jaya I Putu Eka Andhika Darma. I Putu Nico Saputra. Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Ida Bagus Made Candra Wijaya. Kadek Regina Paramita Putri. Komang Ayu Kania Paramitha Komang Candra Artha Wijaya. Laita Ayu Ayu Okti Tamarisya. Made Chagi Mahatma Bhareswara. Mochamad Adimas Nurprasetyo. Nadia Farhana Sahira. Ni Kadek Kaylla Arya Putri. Ni Made Nilawati. Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Ni Putu Athalia Wahyuning Dewi. Ni Putu Cantika Bintang Pinajeng. Putu Leona Agustina Putri J. Ni Wayan Avira Hana Manahcika. Patrisius Triputra Akoit. Putu Adelio Richi Clearesta. Putu Adria Pradnyandari. Putu Riki Saputra Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Belum Tuntas WIDYA ACCARYA 2025 P a g e 230 Jurnal Kajian Pendidikan FKIP Universitas Dwijendra Vol 16 No 2. Oktober 2025 P ISSN: 2085-0018 E-ISSN: 2722-8339 Available Online at http://ejournal. id/index. php/widyaaccarya/index Violena Haryanto. Deanova 20 Jumlah Rata Ae rata Ketuntasan Persentase 96,7% Berdasarkan pada tabel 3, keterampilan siswa dalam menulis teks cerita fantasi mengalami peningkatan yang signifikan. Dari 31 siswa, sebanyak 30 siswa dinyatakan tuntas dan hanya 1 . ,22%) orang siswa yang mendapatkan skor di bawah KKM. Capaian ini tidak hanya menjadi indikator peningkatan keterampilan siswa dalam menulis cerita fantasi, tetapi juga menunjukkan efektivitas pengimplementasian model pembelajaran PjBL Model pembelajaran ini mendorong eksplorasi kreativitas dan imajinasi siswa dalam membuat cerita fantasi. Berikut kajian terhadap keterampilan siswa dalam menulis cerita fantasi pada siklus II . Analisis aspek struktural teks Struktur cerita fantasi yang terdiri atas orientasi, komplikasi, resolusi, dan koda, menjadi aspek utama dalam penilaian. Hasil menunjukkan bahwa: Aspek Orientasi: Hampir semua siswa mampu membuka cerita dengan pengenalan tokoh dan latar yang jelas dan menarik. Siswa menunjukkan pemahaman terhadap pentingnya membangun dunia cerita dari awal agar pembaca dapat memahami konteks fantasi yang mereka ciptakan. Latar tempat dan waktu yang bersifat imajinatif seperti kerajaan bawah laut, dunia paralel, atau planet asing, menjadi pilihan dominan, menunjukkan keluasan imajinasi . Aspek Komplikasi: Siswa berhasil membangun konflik yang logis dalam konteks cerita fantasi. Konflik tidak hanya bersifat tempelan, tetapi dikembangkan secara bertahap WIDYA ACCARYA 2025 Tuntas sehingga mampu memunculkan ketegangan dan mendorong perkembangan karakter. Aspek ini memperoleh nilai tinggi pada sebagian besar . Aspek Resolusi: Meskipun sebagian besar siswa telah mampu menyusun penyelesaian cerita, masih terdapat sekitar 20% siswa yang belum dapat merumuskan resolusi secara Beberapa penyelesaian konflik terasa terlalu cepat atau kurang logis dalam konteks alur yang telah dibangun sebelumnya. Hal ini menjadi perlu mendapatkan perhatian khusus dalam proses pembelajaran selanjutnya. Aspek Koda: Koda atau pesan moral sebagai penutup cerita. Koda kadang disampaikan secara eksplisit tanpa integrasi yang kuat alur cerita. Beberapa menyampaikan koda dengan kalimat seperti AuJadi, kita harus berani melawan kejahatan,Ay meskipun benar secara pesan, namun belum sepenuhnya menyatu dengan narasi cerita. Koda idealnya hadir secara implisit melalui penyelesaian konflik atau perkembangan Analisis aspek kreativitas dan imajinasi Kreativitas dan imajinasi menjadi kekuatan utama dalam penulisan teks cerita Dalam hal ini siswa menunjukkan pencapaian yang sangat baik. Sebagian besar siswa mampu menciptakan tokoh-tokoh unik seperti manusia berkepala burung, robot penyihir, atau anak kecil dengan kekuatan Siswa mengembangkan latar tempat yang fantastis, seperti dunia dalam cermin, hutan berbisik, atau pulau terapung di langit. Disamping itu, siswa P a g e 231 Jurnal Kajian Pendidikan FKIP Universitas Dwijendra Vol 16 No 2. Oktober 2025 P ISSN: 2085-0018 E-ISSN: 2722-8339 Available Online at http://ejournal. id/index. php/widyaaccarya/index sudah mempu merancang peristiwa yang di luar nalar, seperti pertarungan antara waktu dan bayangan, atau petualangan di dimensi mimpi. Kehadiran unsur keajaiban yang menjadi ciri khas cerita fantasi tergambar kuat dalam karya Hal ini mencerminkan bahwa siswa tidak hanya memahami teori cerita fantasi, tetapi juga mengaplikasikannya secara imajinatif. Aspek Kebahasaan dan Kerapian Tulisan Dalam aspek kebahasaan, sebagian besar siswa telah menggunakan ejaan, tanda baca, dan struktur kalimat dengan cukup baik. Kalimatkalimat yang digunakan cenderung variatif dan Hal ini menunjukkan adanya Kesalahan kecil seperti penggunaan huruf kapital yang tidak konsisten atau pemakaian kata sambung yang kurang tepat masih ditemukan, namun tidak dominan. Kerapian tulisan, baik secara fisik . ulisan tanga. maupun struktur paragraf, tergolong baik. Siswa telah memahami pentingnya pembagian paragraf berdasarkan alur cerita, dan beberapa bahkan menyertakan dialog yang memperkaya dinamika cerita. Refleksi terhadap Proses Pembelajaran Capaian yang sangat baik ini tidak terlepas dari proses pembelajaran yang menekankan pada pengenalan unsur-unsur cerita fantasi secara sistematis melalui contoh teks dan analisis Latihan bertahap, mulai dari membuat kerangka cerita, menyusun paragraf pembuka, hingga menyusun cerita utuh ternyata sangat efektif dalam meningkatkan keterampilan siswa dalam menulis cerita fantasi. Fokus pembelajaran hendaknya dilakukan dengan mengembangkan setiap unsur cerita fantasi. Pengembangan setiap unsur cerita fantasi memerlukan waktu yang cukup lama karena menulis merupakan keterampilan yang memerlukan banyak latihan. IV. SIMPULAN Berdasarkan hasil kajian pada siklus I, hanya 15 . ,3%) siswa yang tuntas. Ada 16 ( 51,61 %) siswa yang belum tuntas. Persentase WIDYA ACCARYA 2025 jumlah ketuntasan masih tergolong kecil. Kendala yang dialami siswa dalam menulis cerita fantasi setelah diterapkannya model pembelajaran PjBL adalah sebagian besar siswa belum memahami struktur cerita fantasi dengan Hal ini menyebabkan struktur cerita fantasi yang dibuat siswa tidak sistematis. Berdasarkan kajian yang dilakukan terhadap cerita fantasi yang ditulis oleh siswa, tampak bahwa sebagian besar siswa belum sepenuhnya memahami dan menerapkan struktur cerita fantasi secara utuh. Unsur-unsur penting dalam penyusunan cerita, seperti orientasi, komplikasi, resolusi, dan koda, belum tergarap dengan baik. Pada bagian orientasi, misalnya, banyak siswa belum mampu memperkenalkan tokoh, latar, dan situasi awal secara jelas sehingga pembaca kurang mendapat gambaran mengenai dunia cerita yang dibangun. Demikian pula pada bagian komplikasi, siswa cenderung kesulitan menghadirkan konflik atau permasalahan yang menjadi inti alur cerita, sehingga cerita terasa datar dan kurang menegangkan. Selanjutnya, pada bagian resolusi, penyelesaian konflik sering kali tidak logis atau terlalu singkat sehingga pesan cerita tidak tersampaikan dengan maksimal. Bagian koda, yang seharusnya berfungsi sebagai penutup dengan memberikan amanat, refleksi, atau penegasan kembali terhadap pesan moral, bahkan sering diabaikan oleh siswa. Hal ini menunjukkan bahwa kemampuan siswa dalam mengonstruksi teks cerita fantasi masih terbatas pada penyusunan alur secara sederhana, tanpa memperhatikan kelengkapan struktur yang Kondisi tersebut mengindikasikan perlunya penguatan pemahaman siswa terhadap pembelajaran yang lebih terarah, penggunaan model pembelajaran berbasis contoh, serta latihan menulis yang menekankan pada keterpaduan setiap bagian struktur cerita. Setelah dilakukan refleksi terhadap pelaksanaan pembelajaran pada siklus I dan dilakukan pembelajaran pada siklus II, keterampilan siswa dalam menulis teks cerita Dari 31siswa, sebanyak 30 P a g e 232 Jurnal Kajian Pendidikan FKIP Universitas Dwijendra Vol 16 No 2. Oktober 2025 P ISSN: 2085-0018 E-ISSN: 2722-8339 Available Online at http://ejournal. id/index. php/widyaaccarya/index . ,7%) dinyatakan tuntas dalam siklus II. Hanya 1 . ,22%) orang siswa yang mendapatkan skor di bawah KKM. Hal ini mengindikasikan bahwa PjBL efektif untuk meningkatkan keterampilan siswa kelas VII B SMP Dwijendra tahun pelajaran 2024/2025 dalam menulis cerita fantasi. Hasil analisis menunjukkan hal-hal berikut. Orientasi: Hampir seluruh siswa mampu memulai cerita dengan memperkenalkan tokoh serta latar secara jelas dan menarik. Mereka memahami pentingnya membangun dunia cerita sejak awal agar pembaca dapat masuk ke dalam konteks fantasi yang ditawarkan. Latar yang dipilih umumnya bersifat imajinatif, seperti kerajaan bawah laut, dunia paralel, hingga planet asing. Hal ini memperlihatkan keluasan daya imajinasi siswa dalam menciptakan suasana cerita. Komplikasi: Pada aspek ini, siswa relatif berhasil mengembangkan konflik yang sesuai dengan dunia fantasi yang mereka bangun. Konflik tidak hanya hadir sebagai tambahan, melainkan dirancang bertahap sehingga mampu menimbulkan ketegangan dan mendorong perkembangan karakter. Aspek komplikasi menjadi salah satu kekuatan mayoritas siswa. Resolusi: Meski sebagian besar siswa sudah mampu menghadirkan penyelesaian, sekitar 20% karya masih memperlihatkan kelemahan dalam aspek ini. Beberapa penyelesaian konflik disajikan secara terburu-buru atau kurang sesuai dengan alur yang sebelumnya telah Kondisi ini menunjukkan perlunya pendampingan lebih lanjut agar siswa mampu merumuskan resolusi yang logis dan seimbang dengan jalannya cerita. Koda: Bagian koda atau amanat cerita masih menjadi tantangan bagi banyak siswa. Pesan moral sering kali muncul secara eksplisit dan terkesan terlepas dari alur, misalnya melalui kalimat langsung seperti. AuJadi, kita harus berani melawan kejahatan. Ay Walaupun pesan tersebut benar, penyampaiannya belum sepenuhnya menyatu dengan narasi. Koda yang ideal seharusnya hadir secara implisit melalui penyelesaian konflik maupun perkembangan karakter, sehingga terasa lebih natural dan DAFTAR PUSTAKA