Proceedings Series on Social Sciences & Humanities, Volume 20 Prosiding Pertemuan Ilmiah Bahasa & Sastra Indonesia (PIBSI XLVI) Universitas Muhammadiyah Purwokerto ISSN: 2808-103X Pembelajaran Bahasa Indonesia dalam Program Independent Learning: Studi Kasus Homeschooling Sigma Phineta Surakarta Alifia Nur Aini1*, Asri Kamila Ramadhani1, Sumarwati1 1 Universitas Sebelas Maret ARTICLE INFO ABSTRACT Article history: Salah satu pendekatan dalam pelaksanaan homeschooling adalah independent learning atau pembelajaran mandiri. Namun, belum banyak homeschooling yang menerapkan pendekatan tersebut. Homeschooling Sigma Phineta di Surakarta telah menerapkan pendekatan tersebut. Sudah tentu, proses dan hasil pelaksanaan pendekatan independent learning penting untuk dikaji agar dapat menjadi model bagi homeschooling lain. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan proses dan kendala penerapan program Independent Learning di Homeschooling Sigma Phineta. Penelitian dilakukan dengan metode kualitatif dan pendekatan studi kasus. Informan dalam penelitian ini adalah kepala sekolah, staf bagian akademik, tutor, dan peserta didik di Homeschooling Sigma Phineta. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, dan analisis dokumen. Hasil penelitian menunjukkan program independent learning di Homeschooling Sigma Phineta dilakukan dengan pemantauan jarak jauh melalui video call yang dilakukan oleh tutor kepada peserta didik. Bahan ajar yang disediakan berupa buku teks dan buku pendukung yang berguna untuk melatih kemampuan belajar peserta didik secara mandiri. Mekanisme evaluasi yang dilakukan, yaitu dengan memberikan latihan soal-soal, baik yang terdapat dalam buku teks maupun kuis-kuis yang dapat meningkatkan wawasan pengetahuan peserta didik. Kendala yang dialami pada pembelajaran Independent Learning, yaitu berupa jaringan internet yang tidak stabil, semangat belajar peserta didik menurun, dan kurangnya pemantauan dari orang tua terhadap perkembangan belajar anak. DOI: 10.30595/pssh.v20i.1313 Submitted: June 20, 2024 Accepted: November 10, 2024 Published: November 30, 2024 Keywords: Homeschooling; Independent Learning; Desain Program; Evaluasi This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4.0 International License. Corresponding Author: Alifia Nur Aini Univeristas Sebelas Maret Jl. Ir. Sutami No.36, Jebres, Surakarta, Jawa Tengah 57126, Indonesia Email: alifianuraini@student.uns.ac.id 1. PENDAHULUAN Pendidikan merupakan bagian dari investasi jangka panjang yang paling menguntungkan bagi suatu bangsa karena pendidikan dapat mencetak sumber daya manusia yang berkualitas, inovatif, kreatif, dan produktif (Abdillah, 2024). Pendidikan memiliki peran yang sangat penting dalam menumbuhkan dan menghasilkan tingkat pembelajaran yang berkualitas. Dengan demikian, pendidikan tidak terlepas dari pembelajaran. Pembelajaran merupakan proses yang melibatkan interaksi antara individu dengan lingkungan, baik secara fisik, sosial, maupun digital. Pembelajaran dapat dikatakan sebagai proses aktif di mana seseorang dapat memperoleh pengetahuan, keterampilan, nilai, sikap, dan wawasan baru. Proses pemerolehan tersebut tidak hanya Proceedings homepage: https://conferenceproceedings.ump.ac.id/pssh/issue/view/36 ISSN: 2808-103X 127 terjadi di dalam ruang kelas saja, tetapi dapat terjadi kapan saja dan di mana saja. Namun, dengan kemajuan teknologi dan digitalisasi yang terus berkembang, pembelajaran pun juga mengalami transformasi. Salah satu bentuk transformasi pendidikan tersebut adalah homeschooling (Akbari & Irawan, 2023). Homeschooling merupakan alternatif pendidikan formal yang saat ini populer di kalangan masyarakat. Pendidikan alternatif dapat berfungsi sebagai substitute, suplemen, dan komplemen tehadap pendidikan sekolah formal (Afiat, 2019). Legalitas penyelenggaraan homeschooling telah diakui oleh pemerintah Indonesia berdasarkan UU No. 20 Tahun 2003 Pasal 27 Ayat (1) yang berbunyi “Kegiatan pendidikan informal yang dilakukan oleh keluarga dan lingkungan berbentuk kegiatan belajar secara mandiri”. Dengan pendekatan pembelajaran yang unik, homeschooling menghadirkan berbagai manfaat dan tantangan yang perlu dipertimbangkan orang tua dengan cermat. Keputusan untuk memilih homeschooling sebagai alternatif pendidikan bukanlah suatu hal yang mudah. Dibutuhkan komitmen yang kuat untuk memastikan bahwa anak dapat menerima pendidikan dan mengikuti pembelajaran dengan baik untuk mencukupi kebutuhan pengetahuannya. Dengan demikian, orangtua dituntut untuk memiliki keterampilan mengasuh yang memadai dan komitmen jangka panjang dalam proses mengajar serta mengasuh anak. Era digitalisasi memberikan banyak kemudahan dan peluang bagi pendidikan, tetapi juga melahirkan beragam tantangan yang kompleks bagi keberlangsungan pendidikan (Alam, 2023). Di tengah-tengah terpaan era digitalisasi saat ini, pendidikan di Indonesia memiliki beragam tantangan kompleks yang perlu diatasi agar kualitas pendidikan dapat meningkat dan sejajar dengan negara-negara maju. Digitalisasi mengubah lanskap pendidikan secara signifikan, termasuk dalam program homeschooling (Maharani, 2024). Dengan demikian, digitalisasi pendidikan sudah seharusnya dijalankan sesuai dengan perkembangan zaman. Dengan menggunakan teknologi, dapat memberikan kemudahan dalam proses pembelajaran sehingga berbagai pihak, khususnya pendidik dan orangtua hendaknya turut mewujudkan pembelajaran berbasis digital. Orang tua yang memilih program homeschooling sering kali dilatarbelakangi oleh keprihatinan terhadap lingkungan sekolah yang dapat mengancam moral anak. Adanya kasus bullying yang saat ini sedang marakmaraknya terjadi di sekolah formal menjadi salah satu alasan. Kekhawatiran orang tua terhadap berbagai kasus negatif tersebut membuat homeschooling menjadi solusi yang tepat agar anak tetap mendapatkan pendidikan dan pembelajaran yang berkualitas di lingkungan yang lebih terkontrol. Di samping itu, orang tua juga menginginkan anaknya untuk dapat mengembangkan minat serta bakat anak secara lebih bebas (Naimah, 2019). Homeschooling menawarkan beragam kebebasan belajar dan fleksibilitas bagi peserta didik karena program homeschooling menyesuaikan kebutuhan dan gaya belajar peserta didik. Salah satu keuntungan homeschooling adalah fleksibilitas dalam hal waktu. Anak tidak terikat dengan jadwal yang kaku sehingga dapat memungkinkan bagi anak untuk mengejar minat bakatnya dan menghabiskan lebih banyak waktu untuk kegiatan ekstrakulikuler atau mengembangkan pengetahuan akademik di luar kelas (Erfiyansyah & Fitri, 2023). Harapannya adalah peserta didik maupun orang tua mendapatkan tambahan pengetahuan, rasa percaya diri, dan nilai moral, serta mendapatkan lingkungan belajar yang menyenangkan. Salah satu layanan pendidikan informal yang memberikan kenyamanan belajar dan mengutamakan kebutuhan peserta didik di daerah Surakarta adalah Homeschooling Sigma Phineta. Homeschooling Sigma Phineta adalah lembaga pendidikan non-formal yang berlokasi di Surakarta, Jawa Tengah. Program pendidikan homeschooling tersebut menawarkan alternatif sistem pendidikan berkarakter, mandiri, dan dapat menjadi pilihan bagi orang tua yang ingin memberikan pendidikan sesuai kebutuhan anak. Kurikulum yang digunakan homeschooling tersebut menyesuaikan kebutuhan peserta didik yang mencakup mata pelajaran umum, seperti Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Matematika, IPA, IPS, dan Pendidikan Agama. Selain itu, Homeschooling Sigma Phineta juga memberikan pendampingan serta bimbingan dalam pengembangan karakter, keterampilan hidup, dan minat khusus peserta didik. Terdapat tiga jenis program pembelajaran unggulan Homeschooling Sigma Phineta, yaitu program Private Class, Classical Class, dan Independent Learning. Peserta didik yang mengambil program Private Class akan memiliki satu guru yang menyesuaikan materi dan metode pembelajaran dengan kebutuhan peserta didik. Jadwal dan materi pada program ini disesuaikan dengan keinginan orang tua dan kemampuan peserta didik sehingga guru dapat memberikan perhatian penuh pada setiap anak agar proses belajar lebih efektif. Program Classical Class di Homeschooling Sigma Phineta hampir sama seperti kelas di sekolah konvesional, yaitu beberapa anak belajar bersama di bawah bimbingan satu guru. Program ini memiliki struktur yang lebih kaku daripada kelas privat karena guru harus menentukan jadwal pelajaran yang tetap dan materi yang harus diikuti oleh semua peserta didik. Program Classical Class ini lebih mengutamakan interaksi sosial agar peserta didik dapat berinteraksi dengan teman sebaya dan mengembangkan kemampuan sosial. Sedangkan pada program Independent Learning proses belajar anak dilakukan secara mandiri dengan bimbingan tutor pribadi maupun orang tua. Keunggulan dalam program ini adalah peserta didik lebih bebas memilih materi dan mengatur waktu belajar. Agar dapat meningkatkan kemampuan dan keterampilannya, anak perlu memiliki akses yang baik untuk mengeksplorasi sumber belajar, seperti buku, internet, dan video pembelajaran. Akan tetapi, program Independent Learning membutuhkan tanggung jawab, disiplin, motivasi, dan komitmen yang tinggi, baik dari diri anak, orang Proceedings homepage: https://conferenceproceedings.ump.ac.id/pssh/issue/view/36 128 ISSN: 2808-103X tua, maupun tutor privat. Berdasarkan program-program yang terdapat di Homeschooling Sigma Phineta tersebut tidak menerapkan jenis kelas terbaik karena ketiga program tersebut merupakan program unggulan yang dimiliki Homeschooling Sigma Phineta. Pemilihan kelas yang tepat tergantung berbagai faktor termasuk usia, kemampuan, gaya belajar anak, dan tujuan pendidikan keluarga. Sebelum penentuan kelas, peserta didik akan melewati tahap trial test dengan mengerjakan soal-soal yang disediakan tutor homeschooling yang meliputi beberapa mata pelajaran umum. Trial test tersebut menjadi langkah penting dalam proses penentuan kelas bagi peserta didik homeschooling. Jenis-jenis trial test yang umum dilakukan, yaitu tes tertulis, tes lisan, dan psikotes. Berdasarkan ketiga program unggulan yang ada di Homeschooling Sigma Phineta tersebut, peneliti hanya akan berfokus pada program Independent Learning. Berbagai fasilitas pendidikan Homeschooling Sigma Phineta cukup memadai dan dapat mendukung proses pembelajaran peserta didik, termasuk pada program Independent Learning. Program pendidikan Homeschooling Sigma Phineta tidak hanya melakukan evaluasi melalui home visit saja, tetapi juga dilakukan pertemuan secara daring antara anak dan tutor dengan menggunakan Video Call, Zoom, maupun Google Meet. Tujuan dari pembelajaran daring tersebut adalah untuk mengetahui kemampuan anak dalam memahami materi pembelajaran apakah sudah sesuai dengan capaian pembelajaran yang dimiliki atau belum. Penelitian ini akan menganalisis penggunaan media digital dalam pembelajaran Bahasa Indonesia pada program Independent Learning di Homeschooling Sigma Phineta, dengan fokus pada pengaruhnya terhadap motivasi belajar anak. Diharapkan hasil penelitian ini dapat memberikan pandangan yang lebih komprehensif tentang kontribusi homeschooling terhadap penggunaan media digital dalam keberlangsungan pembelajaran Bahasa Indonesia di Homeschooling Sigma Phineta. 2. METODE PENELITIAN Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif. Penelitian dilakukan di Homeschooling Sigma Phineta, Surakarta. Pemilihan Homeschooling Sigma Phineta sebagai objek penelitian dengan asumsi pola pembelajaran dalam homeschooling, khususnya program Independent Learning (IL) memenuhi kriteria objek penelitian, yaitu penggunaan teknologi untuk pembelajaran jarak jauh. Pendekatan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan studi kasus. Alasan penggunaan metode ini karena menganalisis penggunaan teknologi dalam program Independent Learning di Homeschooling Sigma Phineta, Surakarta. Informan penelitian ini adalah kepala sekolah, staf bagian akademik, tutor, dan peserta didik program Independent Learning di Homeschooling Sigma Phineta. Dari subjek penelitian tersebut diharapkan dapat memperoleh data yang lengkap dan valid mengenai pembelajaran berbasis teknologi, tepatnya pada program Independent Learning, di Homeschooling Sigma Phineta, Surakarta. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan wawancara, observasi, dan analisis dokumen. Wawancara dilakukan secara mendalam kepada informan dengan berpedoman pada interview guide dan bersifat tidak terstruktur. Wawancara merupakan data primer dalam penelitian. Wawancara dimaksudkan untuk memperoleh data dengan jalan mengajukan pertanyaan-pertanyaan tentang pembelajaran pada program Independent Learning di Homeschooling Sigma Phineta, Surakarta. Observasi dilakukan untuk mendapatkan kondisi objektif di Homeschooling Sigma Phineta, Surakarta. Observasi dilaksanakan secara formal maupun nonformal. Teknik analisis data menggunakan teori Miles dan Huberman, yaitu reduksi data, penyajian data, penarikan simpulan, dan verifikasi data. Setelah seluruh data terkumpul, data-data tersebut dirangkum dan dipilih sesuai dengan yang diperlukan. Hal tersebut akan memudahkan untuk memperoleh data-data selanjutnya. Kemudian, data-data yang telah diperoleh tersebut disajikan dan digabungkan sehingga memungkinkan untuk ditarik kesimpulan dan memverfisikasinya. 3. a. HASIL DAN PEMBAHASAN Desain Program Independent Learning Program Independent Learning merupakan pendekatan pembelajaran di rumah yang memberikan kebebasan kepada peserta didik untuk mengatur ritme dan topik pembelajaran. Independent Learning juga disebut sebagai pembelajaran mandiri di mana strategi pembelajaran dalam pendidikan kesetaraan yang dilakukan secara mandiri di luar pembelajaran tatap muka (Putra et al., 2017). Fleksibilitas jadwal dan materi pembelajaran peserta didik dapat disesuaikan dengan kebutuhan. Program Independent Learning lebih mengutamakan pada proses pembelajaran daripada hasil akhir. Model pembelajaran Independent Learning melatih peserta didik untuk berpikir kritis, memecahkan masalah, serta mencari informasi-informasi pembelajaran secara mandiri. Mengingat bahwa salah satu keterampilan yang harus dimiliki dalam mengahdapi tantangan globalisasi seperti saat ini adalah keterampilan berpikir kritis (A, 2020). Program tersebut memiliki beberapa tujuan jangka pendek maupun jangka panjang. Tujuan jangka pendek program Independent Learning adalah peserta didik dapat menyelesaikan satu bab dalam buku teks maupun buku pendukung pembelajaran. Sedangkan tujuan jangka panjang adalah peserta didik dapat Proceedings homepage: https://conferenceproceedings.ump.ac.id/pssh/issue/view/36 ISSN: 2808-103X 129 menguasai keterampilan tertentu untuk mencapai tingkat kompetensi dalam suatu bidang pembelajaran. Program Independent Learning di Homeschooling Sigma Phineta tidak terpaku pada kurikulum yang sedang berlaku, tetapi lebih bersifat fleksibel dan menyesuaikan kemampuan masing-masing peserta didik sehingga pemilihan materi tersebut juga disesuaikan dengan kebutuhan peserta didik. “Media pembelajaran yang digunakan tiap peserta didik berbeda-beda berdasarkan kesepakatan peserta didik dengan tutor. Biasanya, media yang digunakan adalah Zoom Meetings, Google Meet, Video Call WhatsApp. Para tutor biasanya lebih menyukai menggunakan video call WhatsApp karena lebih mudah diakses oleh peserta didik dan mumpuni.” (Wawancara dengan salah satu tutor, 26 September 2024) Sumber belajar dalam program ini tidak terpaku pada buku teks maupun pendukung pembelajaran yang telah difasilitasi dari homeschooling saja sehingga peserta didik dapat mengeksplor berbagai sumber belajar baik dalam online course, video tutorial, eksperimen, dan lain sebagainya. Homeschooling Sigma Phineta menyarankan bagi peserta didik yang mengikuti program Independent Learning untuk mempunyai tutor belajar mandiri di tempat tinggalnya. Dengan demikian, selain mendapat bimbingan orang tua, peserta didik juga dapat dipantau oleh tutor privat pribadi. Tutor privat merupakan pembimbing belajar yang dapat memberikan bantuan, arahan, petunjuk, atau motivasi agar peserta didik mendapatkan kegiatan pembelajaran yang lebih efektif (Pramessy & Yulianingsi, 2021). Tutor privat berperan untuk menjelaskan materi-materi dari buku acuan yang telah difasilitasi dari homeschooling kepada peserta didik agar dapat memiliki pemahaman yang jelas terkait materi yang sedang dikuasai. Selain itu, tutor juga dapat memberikan referensi atau sumber belajar yang relevan bagi peserta didik selain menggunakan buku teks atau buku pendamping belajar (Saputri & Rahmawati, 2019). Keberadaan tutor juga mendukung proses belajar peserta didik program Independent learning menjadi lebih terarah. Dengan demikian, keberadaan tutor sangat membantu proses pembelajaran sehingga pembelajaran dapat lebih efektif dan peserta didik dapat mencapai potensi belajar yang optimal. b. Evaluasi Pembelajaran Independent Learning Evaluasi belajar atau disebut pengendalian belajar adalah proses penilaian peserta didik untuk mengetahui sejauh mana pemahaman peserta didik dalam memahami materi yang disampaikan oleh tutor (Sparkes dan Werners, 2023). Evaluasi pembelajaran program Independent Learning di Homeschooling Sigma Phineta Surakarta mencakup waktu evaluasi pembelajaran dan tujuan evaluasi pembelajaran. Asesmen di Homeschooling Sigma Phineta mencakup kognitif, sikap, dan psikomotorik selama melaksanakan pembelajaran di Homeschooling Sigma Phineta sehingga homeschooling tidak meluluskan peserta didik yang unggul di bidang kognitif saja, tetapi juga mempertimbangakan aspek keterampilan yang dimiliki oleh peserta didik. Pernyataan tersebut sejalan dengan Ulfah (2021) bahwa hasil belajar adalah perubahan tingkah laku peserta didik yang terjadi setelah mengikuti suatu pembelajaran yang meliputi aspek kognitif (kemampuan hafalan, pemahaman, penerapan, analisis, sintesis, dan evaluasi), afektif (penerimaan, partisipasi, penilaian, organisasi, dan karakterisasi), dan psikomotorik (persepsi, kesiapan, gerakan terbimbing, gerakan terbiasa, gerakan kompleks, dan kreativitas). Waktu evaluasi pembelajaran dilakukan sesuai dengan kalender akademik sekolah formal, yaitu mencakup asesmen tengah semester dan asesmen akhir semester. Evaluasi dalam program Independent Learning dilakukan secara daring. Para tutor mengirimkan soal-soal ujian melalui chat whatsapp. Kemudian, apabila soalsoal tersebut telah selesai dikerjakan, para orang tua peserta didik mengirimkan kembali jawabannya kepada tutor. Evaluasi yang dilaksanakan di Homeschooling Sigma phineta bertujuan untuk mengukur hasil pembelajaran peserta didik, sebagai bahan evaluasi pembelajaran yang dilakukan secara daring dan mandiri, serta memotivasi peserta didik agar tetap semangat mengikuti pembelajaran. Setelah selesai melaksanakan ujian, terdapat kegiatan home visit. “Biasanya kami melakukan home visit ketika sudah tidak ada pembelajaran, seperti setelah ujian. Home visit ini menjadi salah satu kegiata untuk lebih kenal dengan peserta didik dan keluarga. Setidaknya, kami dapat terus memantau kendala-kendala yang dialami peserta didik atau orang tua selama satu semester berlangsung.” (Wawancara dengan salah satu tutor, 26 September 2024) Home visit (kunjungan rumah) adalah salah satu kegiatan pendukung layanan bimbingan yang dilakukan oleh pendidik dalam rangka mengumpulkan dan melengkapi data atau informasi tentang peserta didik dengan cara mengunjungi rumah peserta didik guna menyelesaikan masalah yang dihadapi mereka (Husna, 2016). Home visit dilakukan para tutor dengan berkunjung ke rumah peserta didik untuk melakukan pendekatan kepada peserta didik dan orang tua. Melalui kegiatan home visit tersebut, para tutor dapat mengenal lebih dekat dengan peserta didik Proceedings homepage: https://conferenceproceedings.ump.ac.id/pssh/issue/view/36 ISSN: 2808-103X 130 dan orang tua, sekaligus dapat mengetahui kendala-kendala yang dialami peserta didik selama mengikuti pembelajaran atau melaksanakan ujian. c. Kendala Program Independent Learning Kendala dalam proses pembelajaran adalah segala sesuatu yang menghambar proses belajar seseorang dalam memperoleh tujuan pembelajaran yang diinginkan. Kendala tersebut dapat berasal dari berbagai faktor, baik dari dalam individu (faktor internal) maupun dari luar diri individu (faktor eksternal) (Firmansyah, 2017). Meskipun program Independent Learning Homeschooling Sigma Phineta menawarkan berbagai fleksibilitas dan personalisasi yang tinggi, dalam proses pembelajarannya juga memiliki berbagai macam kendala baik dari peserta didik, orang tua, tutor privat, maupun tutor homeschooling. “Kendala program Independent Learning (IL) salah satunya adalah terdapat beberapa orang tua yang susah diajak komunikasi. Seharusnya, orang tua berperan besar dalam mengontrol dan memantau pembelajaran anaknya di rumah. Biasanya, kalau sudah seperti itu, peserta didik akan lama mengerjakan tugas-tugas atau portofolio dari tutor.” (Wawancara dengan salah satu tutor, 26 September 2024) Peran orang tua sangat dibutuhkan pada bagian ini karena peserta didik melakukan pembelajaran di rumah dan tidak dipantau secara langsung oleh tutor homeschooling. Oleh karena itu, orang tua diharapkan mampu berperan sebagai guru, konselor, dan fasilitator yang baik bagi peserta didik. Akan tetapi, tidak semua orang tua peserta didik dalam program Independent Learning memiliki pengetahuan pedagogis yang cukup untuk mengajar dan membimbing anak-anak secara efektif. Hal tersebut yang menjadi salah satu kendala dalam program Independent Learning. Meskipun demikian, program Independent Learning tetap dapat dijadikan pilihan efektif bagi anak-anak yang membutuhkan pendekatan pembelajaran yang lebih individual dan fleksibel. Di samping itu, juga dibutuhkan perencanaan yang matang dan dukungan yang tepat dari berbagai pihak dalam mengatasi berbagai tantangan pendidikan dalam memilih program pembelajaran Independent Learning. Dengan demikian, homeschooling dapat menjadi fasilitator yang baik untuk memberikan pengalaman belajar yang berharga bagi peserta didik. 4. KESIMPULAN Program Independent Learning adalah salah satu program yang terdapat di Homeschooling Sigma Phineta. Program tersebut menawarkan proses pembelajaran dilakukan secara mandiri dengan jarak jauh atau daring melalui aplikasi Whatsapp, Zoom Meetings, atau Google Meet. Setiap peserta didik yang mengambil program tersebut diharapkan memiliki tutor pribadi di rumah yang dapat membimbing proses pembelajaran. Jika tidak memiliki tutor pribadi, orang tua dapat berperan dalam pelaksanaan proses pembelajaran. Setelah selesai mengikuti pembelajaran, peserta didik mengikuti evaluasi pembelajaran melalui asesmen tengah semester dan asesmen akhir semester. Soal-soal ujian dikirim oleh tutor melalui Whatsapp. Orang tua peserta didik akan mengirimkan kembali hasil jawabannya melalui Whatsapp apabila soal-soal ujian telah selesai dilaksanakan. Penilaian yang dilakukan dalam Homeschooling Sigma Phineta tidak mengedepankan kognitif saja, tetapi juga mempertimbangkan sikap dan keterampilan peserta didik. Setelah ujian selesai dilaksanakan, para tutor akan melakukan home visit ke rumah peserta didik untuk menjalin keakraban dengan peserta didik dan orang tuanya. Melalui program home visit tersebut, para tutor akan bertanya kepada peserta didik dan orang tua mengenai perkembangan pembelajaran peserta didik di rumah serta kendala-kendala yang dialami. Selanjutnya, para tutor akan memberikan saran dan solusi terbaik yang dapat diterapkan. Kendala-kendala yang biasanya dihadapi oleh peserta didik program Independent Learning, yaitu berupa jaringan internet yang tidak stabil, semangat belajar siswa menurun, dan kurangnya pemantauan dari orang tua terhadap perkembangan belajar anak. Meskipun demikian, program Independent Learning Homeschooling tetap dapat dijadikan pilihan efektif bagi anak-anak yang membutuhkan pendekatan pembelajaran yang lebih individual dan fleksibel. Selain itu, program Independent Learning dapat mengatasi kebutuhan dan menjawab permasalahan peserta didik, seperti trauma kasus bullying, adanya riwayat penyakit, dan pembelajaran yang efektif. DAFTAR PUSTAKA A, M. R. P. (2020). Kemampuan Berpikir Kritis dan Kemdirian Belajar Melalui Model Pembelajaran Flipped Classroom dengan Pendekatan STEM. SEMINAR NASIONAL PASCASARJANA 2020, 293. Abdillah, F. (2024). Peran Perguruan Tinggi dalam Meningkatkan Kualitas Sumber Daya Manusia di Indonesia. EDUCAZIONE: Jurnal Multidisiplin, 1(1), 15. https://doi.org/https://doi.org/10.37985/ Afiat, Z. (2019). Homeschooling: Pendidikan Alternatif di Indonesia. Jurnal Visipena V, 10(1), 51. Proceedings homepage: https://conferenceproceedings.ump.ac.id/pssh/issue/view/36 ISSN: 2808-103X 131 Akbari, A. A., & Irawan, C. M. (2023). Keterlibatan Orang Tua dalam Pembelajaran Berbasis Digital di Homeschooling. Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Non Formal, 1, 69. https://ejournal.untirta.ac.id/SNPNF/article/view/83 Alam, D. R. M. (2023). Urgensi Pendidikan Karakter Islami Di Era Disrupsi. Al-Madrasah: Jurnal Ilmiah Pendidikan Madrasah Ibtidaiyah, 7(3), 1131. https://doi.org/10.35931/am.v7i2.2344 Erfiyansyah, I., & Fitri, N. K. (2023). Efektivitas Pembelajaran Daring dalam Pendidikan Homeschooling Al – Achsan Cilegon. Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Non Formal, 275. Firmansyah, M. A. (2017). Analisis Hambatan Belajar Mahasiswa pada Mata Kuliah Statistika. JPPM, 10(2), 120. Maharani, D. (2024). Sisi Terang dan Gelap: Digitalisasi pada Perkembangan Pendidikan Indonesia. Sinar Dunia: Jurnal Riset Sosial Humaniora Dan Ilmu Pendidikan, 3(1), 90. https://doi.org/:https://doi.org/10.58192/sidu.v3i1.1771 Naimah, T. (2019). Konsep dan Aplikasi Homeschooling dalam Pendidikan Keluarga Isla. Islamadina: Jurnal Pemikiran Islam, 20(2), 177. https://doi.org/https://doi.org/10.30595/islamadina.v0i0.4495 Pramessy, N. A., & Yulianingsi, W. (2021). Peran Tutor dalam Menganalisis Kebutuhan Belajar Peserta Didik pada Masa Pandemi Covid-19 di LBB Primanesa Kecamatan Jembangan Kota Surabaya. J+PLUS UNESA Jurnal Mahasiswa Pendidikan Luar Sekolah, 10(1), 210. Putra, R. A., Kamil, M., & Pramudia, J. R. (2017). Penerapan Metode Pembelajaran Mandiri dalam Meningkatkan Hasil Belajar Peserta Didik. Jurnal Pendidikan Luar Sekolah, 1(1), 26. Saputri, O. D., & Rahmawati. (2019). Peran Guru dalam Memberikan Pelajaran Tambahan (Les) Bagi Peserta Didik di Luar Jam Pelajaran Sekolah sebagai Wujud Implementasi Pengabdian Kepada Masyarakat. PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN PROGRAM PASCASARJANA UNIVERSITAS PGRI, 496–497. Ulfah, U., & Arifudin, O. (2021). Pengaruh aspek kognitif, afektif, dan psikomotor terhadap hasil belajar peserta didik. Jurnal Al-Amar: Ekonomi Syariah, Perbankan Syariah, Agama Islam, Manajemen Dan Pendidikan, 2(1), 1-9. Proceedings homepage: https://conferenceproceedings.ump.ac.id/pssh/issue/view/36