Tersedia online http://ejournal. id/index. php/IJND JURNAL GIZI DAN DIETETIK INDONESIA Aktivitas fisik berhubungan obesitas pada anak sekolah dasar 123 DOI : http://dx. org/10. 21927/ijnd. Vol. No. September 2016: 123-128 Aktivitas fisik berhubungan dengan kejadian obesitas pada anak sekolah dasar ChildrenAos physical activity was related with obesity in elementary children Zamzani1. Hamam Hadi1. Dewi Astiti1 ABSTRACT Backgrounds: The increasing prevalence of obesity is caused by imbalance between energy input to energy output. Physical activity in children both at school and at home plays an important role in determining the nutritional status of children, including the risk of obesity. Objectives: To determine the relationship between children physical activity with obesity in Ngebel Elementary School. Tamantirto Kasihan Bantul. Methods: This study was an observational study with cross sectional design. The study population were all children grades 3, 4, and 5 Ngebel Elementary School. Tamantirto Kasihan Bantul. These samples included 96 children who met the inclusion and exclusion criteria obtained with less total sampling Weight of children were measured using digital bathroom, and height was measured using microtoise collected by trained enumerators. Physical activity data were obtained using a physical activity Nutritional status data were calculated using the WHO Software Anthro 2005, univariate analysis using frequency distribution and bivariate analysis using FisherAos Exact Test. Data were analyzed using software of statistic. Results: Physical activity had a significant relationship with the incidence of obesity in children, with p 009 (<0. with OR 5. % CI: 1. 42 to 22. In other words children who did moderate to severe activity O1 hour/day had 5 times higher chance to be obese than children with moderate to severe activity >1 hour/day. Conclusions: Physical activity has a significant association with obesity. KEYWORDS: physical activity, obesity, elementary school children ABSTRAK Latar belakang: Peningkatan prevalensi obesitas disebabkan oleh adanya ketidakseimbangan antara masukan energi dengan keluaran energi. Aktivitas fisik pada anak-anak baik di sekolah maupun di rumah berperan penting dalam penentuan status gizi anak, termasuk risiko terjadinya obesitas. Tujuan: Untuk mengetahui hubungan antara aktivitas fisik dengan kejadian obesitas pada anak Sekolah Dasar Negeri Ngebel. Tamantirto Kasihan Bantul. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian observasional dengan rancangan cross sectional. Populasi penelitian adalah semua anak kelas 3, 4, dan 5 SDN Ngebel. Tamantirto Kasihan Bantul. Sampel penelitian berjumlah 96 anak yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi diperoleh dengan teknik total sampling. Berat anak-anak diukur dengan menggunakan timbangan injak digital, sedangkan tinggi badan diukur menggunakan microtoise dibantu oleh enumerator terlatih. Data aktivitas fisik diperoleh menggunakan kuesioner aktivitas fisik. Data status gizi dihitung dengan menggunakan software WHO Anthro 2005, analisis univariat menggunakan distribusi frekuensi, dan analisis bivariat menggunakan FisherAos Exact Test. Data dianalisis dengan menggunakan perangkat lunak statistik. Hasil: Hasil analisis menunjukkan aktivitas fisik memiliki hubungan yang signifikan dengan kejadian obesitas pada anak dengan nilai p value 0,009 (<0,. dengan nilai OR 5,69 . % CI: 1,42-22,. , dengan Prodi S1 Ilmu Gizi. Fakultas Ilmu-ilmu Kesehatan Universitas Alma Ata Yogyakarta, e-mail: zamzanimoch@gmail. Zamzani. Hamam Hadi. Dewi Astiti kata lain anak yang melakukan aktivitas sedang-berat O1 jam/hari berpeluang 5 kali lebih besar untuk mengalami obesitas daripada anak dengan aktivitas sedang-berat >1 jam/hari. Kesimpulan: Aktivitas fisik memiliki hubungan secara bermakna dengan obesitas. KATA KUNCI: aktivitas fisik, obesitas, anak SD PENDAHULUAN Di negara berkembang seperti Indonesia, masalah obesitas tidak hanya terjadi pada keluarga yang berpenghasilan tinggi tetapi juga terjadi pada keluarga yang berpenghasilan rendah dan menengah. Pada sebagian orang, obesitas pada anak sering dianggap sebagai lambang kemakmuran . Prevalensi obesitas di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menurut data tahun 2007 menunjukkan prevalensi berat badan lebih berdasarkan kategori IMT/U pada anak usia 6-14 tahun yaitu 7,6% pada anak laki-laki dan 4,8% pada anak perempuan . Data tahun 2010 menunjukkan bahwa prevalensi obesitas pada anak usia 6-12 tahun baik laki-laki maupun perempuan adalah 7,8% . Obesitas disebabkan oleh adanya ketidakseimbangan antara masukan energi dengan keluaran energi. Meningkatkan aktivitas fisik di luar rumah seperti bersepeda, kejar-kejaran, sepakbola, mengikuti kegiatan ekstrakurikuler di sekolah, dan mengurangi perilaku sedentary behavior seperti nonton TV, bermain playstation, dapat mengurangi risiko obesitas pada anak . WHO mengeluarkan rekomendasi tentang anjuran aktivitas fisik yang Orang muda direkomendasikan untuk melakukan aktivitas fisik sedang-berat sekurangkurangnya 60 menit sehari dalam seminggu . Penelitian sebelumnya di Manado menyatakan bahwa menonton televisi dan atau bermain video game memiliki kontribusi yang signifikan terhadap kejadian obesitas pada anak jika dilakukan lebih dari 1 jam setiap harinya . Hasil studi pendahuluan yang telah dilakukan di SDN Ngebel. Tamantirto. Kasihan. Bantul terhadap 106 anak didapatkan hasil sebanyak 16% mengalami obesitas, 13,2% mengalami overweight, 53% berstatus gizi normal, dan 17% mengalami Grafik pertumbuhan yang digunakan sebagai acuan adalah grafik Kemenkes RI tahun 2011 dengan standar deviasi >2 (IMT/U z-scor. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara aktivitas fisik dengan kejadian obesitas pada anak Sekolah Dasar Negeri Ngebel. Tamantirto. Kasihan. Bantul. BAHAN DAN METODE Jenis penelitian ini adalah observasional dengan rancangan cross sectional. Penelitian ini dilakukan di SDN Ngebel. Tamantirto. Kasihan. Bantul dan dilaksanakan pada bulan JanuariFebruari 2016. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh anak kelas 3, 4, dan 5 dengan jumlah sampel yang diperoleh menggunakan teknik total sampling sebanyak 96 anak yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah aktivitas fisik sedangkan variabel terikat adalah Data sekunder yang meliputi data gambaran umum sekolah, alamat sekolah, serta jumlah kelas dan jumlah siswa diperoleh dari pihak terkait sekolah. Data primer yang terdiri dari data karakteristik subjek penelitian diperoleh menggunakan kuesioner Data tinggi badan diukur dengan menggunakan microtoise dengan ketelitian 0,1 cm dan berat badan anak diukur dengan timbangan injak digital dengan ketelitian 0,1 kg. Data aktivitas fisik diperoleh dengan menggunakan kuesioner yang telah diadopsi dari penelitian sebelumnya tentang perilaku sedentari sebagai faktor risiko kejadian obesitas pada anak sekolah dasar di Kota Yogyakarta dan Kabupaten Bantul tahun 2013 . Data dikumpulkan dengan menanyakan pertanyaan yang tertera dalam kuesioner kepada responden oleh peneliti dibantu 5 enumerator . ahasiswa S1 Prodi Gizi semester . yang sebelumnya sudah diberi pengarahan dan pelatihan. Setelah semua data terkumpul, data dianalisis secara bivariat menggunakan FisherAos Exact Test dengan menggunakan perangkat lunak statistik. Aktivitas fisik berhubungan dengan kejadian obesitas pada anak sekolah dasar HASIL Karakterisik subjek penelitian Karakteristik subjek penelitian yang meliputi kelompok usia, jenis kelamin, jumlah anggota rumah tangga, pendidikan ibu, pekerjaan ibu, pendidikan ayah, pekerjaan ayah, dan penghasilan per bulan dapat dilihat pada Tabel 1. Berdasarkan Tabel 1 diketahui bahwa distribusi usia, jenis kelamin, jumlah anggota rumah tangga, pendidikan ibu, pekerjaan ibu, pendidikan ayah, pekerjaan ayah, dan penghasilan per bulan pada anak yang obesitas dan tidak obesitas tidak berbeda signifikan . >0,. Tabel 2 menunjukkan bahwa 60,4% anakanak sekolah mempunyai aktivitas sedang-berat Tabel 1. Karakteristik subjek penelitian antara kelompok obesitas dan tidak obesitas Karakteristik Kelompok usia 9-11 tahun 12-14 tahun Jenis kelamin Laki-laki Perempuan Jumlah anggota rumah tangga >4 orang O4 orang Pendidikan ibu Tinggi (OuSMA) Rendah (OSMP) Pekerjaan ibu Buruh/buruh tani Karyawan swasta PNS/TNI/POLRI Wiraswasta IRT/Tidak bekerja Pendidikan ayah Tinggi (OuSMA) Rendah (OSMP) Pekerjaan ayah Petani/peternak/nelayan Buruh/buruh tani Karyawan swasta Wiraswasta Tidak bekerja Penghasilan perbulan OUpah Minimum Regional >Upah Minimum Regional Status gizi Tidak obesitas Obesitas n (%) n (%) Total n (%) 54 . 0,352 45 . 0,757 0,123 0,487 0,641 0,757 0,713 0,076 *Signifikan . <0,. Tabel 2. Hubungan aktivitas fisik dengan kejadian obesitas Aktivitas Sedang-berat >1 jam/hari O1 jam/hari Total Status gizi Tidak obesitas Obesitas n (%) n (%) 55 . *Signifikan . <0,. Analisis menggunakan Uji FisherAos Exact Test Total n (%) 58 . 0,009 . % CI) 5,69 . ,42-22,. Zamzani. Hamam Hadi. Dewi Astiti Tabel 3. Perbedaan rata-rata durasi aktivitas fisik antara kelompok obesitas dan tidak obesitas Variabel enit/har. Aktivitas ringan Aktivitas sedang Aktivitas berat Obesitas . meanASD 57,6A11,8 32,6A29,2 28,7A26,5 Tidak obesitas . meanASD 37,7A11,1 34,7A18,5 34,8A18,8 >1 jam/hari. Hasil analisis menunjukkan bahwa aktivitas fisik dinyatakan berhubungan secara statistik dengan kejadian obesitas pada anak yang dibuktikan dengan diperoleh nilai p-value 0,009 (<0,. dan OR 5,69 . % CI: 1,42-22,. Dengan demikian, hipotesis penelitian diterima bahwa anak dengan aktivitas fisik sedang-berat O1jam/hari meningkatkan risiko terjadinya obesitas. Berdasarkan Tabel 3 diperoleh data rata-rata durasi aktivitas ringan pada siswa obesitas lebih tinggi dibandingkan siswa tidak obesitas, sedangkan rata-rata aktivitas sedang dan berat lebih tinggi pada siswa tidak obesitas. BAHASAN Hubungan aktivitas fisik dengan kejadian Berdasarkan hasil analisis bivariat diketahui bahwa 60,4% anak-anak sekolah melakukan aktivitas fisik sedang-berat >1 jam/hari (Tabel . Hasil uji FisherAos menunjukkan ada hubungan antara aktivitas fisik dengan kejadian obesitas pada anak yang dibuktikan dengan nilai p=0,009 (<0,. dan OR 5,69 . % CI: 1,42-22,. Dengan kata lain, anak yang melakukan aktivitas sedang-berat O1 jam/ hari berpeluang 5 kali lebih besar untuk mengalami obesitas daripada anak dengan aktivitas sedangberat >1 jam/hari. Penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan sebelumnya pada anak SD di Palembang tahun 2011 yang menunjukkan bahwa ada hubungan yang signifikan antara aktivitas fisik dengan obesitas . =0,. dengan nilai OR 2,4. Hal ini berarti kelompok murid yang mempunyai aktivitas fisik ringan atau dan sedang mempunyai risiko untuk menderita obesitas 2,4 kali dibandingkan kelompok murid yang mempunyai aktivitas fisik berat . Hasil penelitian lain juga menemukan bahwa aktivitas fisik yang rendah memiliki hubungan yang signifikan dengan cadangan lemak tubuh yang tinggi . Suatu studi berjudul hubungan aktivitas fisik dengan kejadian obesitas pada anak SD di Kota Manado mendapatkan nilai OR: 3,59 . % CI: 1,565 Ae8,. Hal ini berarti anak dengan aktivitas fisik ringan memiliki risiko sebesar 3 kali menjadi obes dibandingkan anak dengan aktivitas ringan atau Hasil uji statistik menunjukkan nilai p=0,004 yang artinya ada hubungan yang signifikan antara aktivitas fisik dengan kejadian obesitas . Hasil penelitian sebelumnya pada anak SD Swasta di Kota Medan tahun 2008 mendapatkan hasil bahwa aktivitas fisik merupakan salah satu faktor yang signifikan berpengaruh terhadap kejadian obesitas pada anak dari lima faktor lainnya yang signifikan . Durasi aktivitas fisik dengan obesitas Diperoleh data rata-rata durasi aktivitas ringan pada siswa obesitas lebih tinggi dibandingkan siswa tidak obesitas, sedangkan rata-rata aktivitas sedang dan berat lebih tinggi pada siswa tidak obesitas (Tabel . Hal ini sejalan dengan penelitian sebelumnya bahwa ada perbedaan durasi aktivitas fisik antara anak obesitas dan tidak obesitas . Hasil penelitian lain juga menemukan bahwa anak-anak yang obes secara signifikan memiliki akumulasi total perhitungan accelerometer harian untuk aktivitas sedang dan aktivitas berat yang lebih rendah dibandingkan anak-anak yang tidak obes . Hal ini didukung pula dengan sebuah penelitian di Texas yang menunjukkan bahwa siswa yang memiliki durasi latihan fisik kurang dari tiga hari per minggu beresiko untuk mengalami obesitas . Obesitas pada anak SD Negeri Ngebel. Tamantirto. Kasihan. Bantul dapat disebabkan oleh beberapa hal, antara lain: rendahnya aktivitas fisik di sekolah, minimnya ekstrakurikuler sehingga menurunkan kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh anak, berkurangnya rasa tertarik anak untuk bermain di luar rumah setelah pulang sekolah karena mereka lebih memilih untuk menonton televisi atau bermain game yang menyebabkan aktivitas ringan menjadi lebih tinggi dibandingkan aktivitas sedang bahkan Aktivitas fisik berhubungan dengan kejadian obesitas pada anak sekolah dasar tidak terdapat siswa yang melakukan aktivitas Anak-anak yang mempunyai aktivitas fisik di dalam rumah seperti halnya aktivitas berbasis layar dilaporkan mempunyai risiko lebih tinggi untuk mengalami obesitas dibandingkan anak dengan aktivitas berbasis layar rendah. Penelitian sebelumnya di Kota Yogyakarta dan Kabupaten Bantul tahun 2013 pada anak sekolah dasar mendapatkan hasil bahwa anak yang menonton TV Ou 2 jam /hari memiliki peluang 3,28 kali lebih besar untuk menjadi obesitas sebelum dikontrol variabel lain . Pola aktivitas yang kurang menyebabkan jumlah kalori yang dibakar lebih sedikit dibandingkan kalori yang diperoleh dari makanan yang dikonsumsi, sehingga berpotensi menimbulkan penimbunan lemak berlebih di dalam tubuh . Upaya meningkatkan aktivitas fisik sejak anakanak termasuk usia saat pra sekolah, akan dapat menjaga agar anak-anak tetap memiliki aktivitas fisik yang cukup dalam upaya pencegahan obesitas. Penelitian sebelumnya di Ohio mendapatkan hasil bahwa lama bermain di luar rumah merupakan alat ukur langsung terhadap aktivitas fisik anak-anak usia pra sekolah . KESIMPULAN DAN SARAN Sebagian besar responden dalam penelitian ini berusia 9-11 tahun dengan prevalensi murid laki-laki sebesar 65,6% dan murid perempuan 54,2%. Prevalensi anak yang mengalami obesitas sebanyak 12,5%. Tingkat aktivitas fisik pada anak lebih didominasi pada aktivitas sedang-berat >1 jam/hari sebanyak 60,4%. Hasil penelitian ini menunjukkan ada hubungan yang bermakna antara aktivitas fisik dengan kejadian obesitas. Berdasarkan kesimpulan di atas, ada beberapa saran yaitu bagi institusi sekolah memberikan opsi kegiatan ekstrakurikuler yang beragam seperti sepak bola, bulu tangkis, pencak silat, tenis meja dan bola voli agar siswa lebih tetarik untuk mengikuti kegiatan sehingga dapat menurunkan risiko terjadinya obesitas. Bagi keluarga dan masyarakat dapat memberikan dukungan pada anak untuk lebih banyak melakukan aktivitas di luar rumah seperti bersepeda, sepak bola, bulu tangkis, bola kasti serta mengikuti kegiatan ekstrakurikuler di sekolah dan mengurangi aktivitas di dalam rumah seperti nonton TV dan main game untuk mengontrol berat badan anak agar tidak mengalami obesitas. RUJUKAN