Dharma Nusantara: Jurnal Ilmiah Pemberdayaan dan Pengabdian kepada Masyarakat E-ISSN: E-ISSN: 2986-2914 Email: jurnal@stiki. Pelatihan Membuat Aplikasi Tanpa Coding Bagi Siswa SMK Yapensu Sungailiat Bradika Almandin Wisesa 1. Vivin Mahat Putri2*. Indra Irawan3. Syafrizal Zain 4. Putri Armilia Prayesy5 Politeknik Manufaktur Negeri Bangka Belitung. Jurusan Informatika dan Bisnis. Program Studi Rekayasa Perangkat Lunak. Jalan Raya Timah. Indonesia 1,2,3,4,5 *Email Korespondensi: Vivin@polman-babel. Abstrak Kegiatan pengabdian masyarakat berbentuk pelatihan pembuatan aplikasi mobile berbasis no-code sukses digelar untuk siswa SMK Yapensu Sungailiat dengan memanfaatkan Glide AppsAiplatform yang dipilih berkat kemudahan penggunaan dan fitur gratisnya yang cukup untuk aplikasi sederhana tanpa perlu Prosesnya meliputi persiapan administratif, survei pra-pelatihan melalui kuesioner, penyuluhan disertai demonstrasi dan praktik langsung, hingga evaluasi pasca-pelatihan. peserta berhasil mengembangkan Aplikasi Siswa Yapensu menggunakan Glide Tables dengan antarmuka mirip Excel. Evaluasi menunjukkan rata-rata 80 % responden memberikan penilaian Ausangat baikAy dan Ausangat sesuaiAy, menandakan respons positif serta kemampuan peserta menyelesaikan seluruh tahap pengembangan aplikasi secara mandiri. Kata Kunci: Application. Glideapps. No Code. Training. Pendahuluan Informasi Teknologi (TI) mencakup semua bentuk teknologi dipakai untuk menyimpan, mengolah, mengirim, serta menyajikan informasi dalam format suara, gambar, teks, maupun video secara efisien dan cepat (Arya et , 2025. Melda Agnes Manuhutu et al. , 2025. Sofian et al. , 2. Di ranah pendidikan dan pengembangan SDM. TI telah menjadi tulang punggung transformasi proses belajar-mengajar, komunikasi, hingga pengambilan keputusan. Perkembangan teknologi mendorong perubahan besar di berbagai sektor, termasuk pendidikan. Penguasaan teknologi digital menjadi syarat utama mempersiapkan generasi muda menghadapi Revolusi Industri 4. 0 dan era Society 5. Salah satu keterampilan krusial di masa ini adalah kemampuan merancang aplikasi mobile yang kini merambah layanan komunikasi, pembelajaran, perdagangan, hingga interaksi sosial (Darwis et al. Prajogo et al. , 2024. Widyayuningtias Putri Listio & Yoel, 2. Namun, pengembangan aplikasi sering diasosiasikan dengan pemrograman . yang kompleks dan memerlukan keahlian khusus. Untuk mengatasi hambatan tersebut, muncul platform no-code seperti Kodular. Glide, dan MIT App Inventor yang memungkinkan masyarakat umumAitermasuk pelajarAimenciptakan aplikasi secara mandiri melalui antarmuka visual berbasis drag-and-drop tanpa menulis kode (Ayu Kusumasari & Radita, 2024. Pasha et al. , 2024. Primayura & Prasetyo, 2. SMK Yapensu Sungailiat memiliki potensi besar untuk memupuk minat siswa terhadap TI. Observasi awal menunjukkan bahwa sebagian besar siswa belum memiliki pengetahuan atau keterampilan mengembangkan aplikasi mobile, khususnya dengan pendekatan no-code. Pemanfaatan platform no-code dapat menjadi media edukatif sekaligus inovatif untuk mendukung kegiatan belajar, organisasi siswa, serta usaha kecil berbasis digital di lingkungan sekolah (Mahmuda et al. , 2024. Prastyo et al. , 2024. Samsugi et al. , 2. Pelatihan pembuatan aplikasi mobile tanpa coding ini dibuat untuk memberikan pengalaman langsung kepada siswa dalam pemahaman konsep dasar aplikasi, mengubah ide menjadi produk nyata, serta memicu semangat kreatif di bidang teknologi. Kegiatan ini diharapkan membentuk siswa sebagai digital creator, bukan sekadar pengguna teknologi (Asmoro Kanthi et al. , 2024. Lolong et al. , 2025. Munfaqiroh et al. , 2. Pelatihan ini selaras dengan kebijakan pemerintah dalam meningkatkan literasi digital dan keterampilan abad 21 di satuan pendidikan (Kementerian Komunikasi dan Informatika RI, 2022. Kemendikbudristek, 2. (Amien, 2024. Lie et al. , 2. Dengan pendekatan praktis, pelatihan ini menjadi langkah strategis menyiapkan generasi muda yang inovatif, produktif, dan berdaya saing tinggi di era digital. Oleh karena itu, dilaksanakan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) bertajuk AuPelatihan Membuat Aplikasi Mobile Tanpa Coding bagi Siswa/i SMK Yapensu SungailiatAy (Hidayat et al. , 2025a, 2025b. Isyiriyah et al. , 2. Metode Mencakup pengurusan izin administratif, penyusunan kuesioner pra dan pasca, serta penyiapan materi Gambar 1. Tahapan Pelatihan Pada tahap persiapan mencakup pengurusan izin administratif, penyusunan kuesioner pra dan pasca, serta penyiapan materi pelatihan. Survei Pra Pelatihan bertujuan mengetahui tingkat pengetahuan peserta tentang coding, pengalaman membuat aplikasi/program, serta harapan terhadap kegiatan. Pelaksanaan adalah tahap inti saat pelatihan berlangsung. Dilakukan secara kuantitatif dan kualitatif melalui kuesioner pra dan pasca yang diisi 29 siswa. Kuesioner mengukur pengetahuan awal, persepsi, harapan, kepuasan, dan dampak pelatihan (Astuti Amalia et al. , 2025. David Marcus, 2023. Pudyastuti1 et al. , 2. Kuisioner pra Pelatihan bertujuan untuk mengidentifikasi tingkat pengetahuan awal tentang TI . hususnya coding dan pengembangan aplikas. serta ekspektasi peserta. Tabel 1. Pertanyaan Pra Pelatihan Pertanyaan Apakah Anda pernah mendengar istilah coding? Apakah Anda pernah membikin aplikasi atau program Apakah Anda tahu bahwa aplikasi mobile bisa dibuat tanpa Apakah Anda pernah menggunakan platform no-code seperti Glide. MIT App Inventor, atau sejenisnya? Apa yang Anda harapkan dari pelatihan ini? . ontoh: belajar bikin aplikasi, buat proyek sekolah, dl. Seberapa tertarik Anda untuk membuat aplikasi mobile sendiri setelah pelatihan? Skala Likert . ntuk pertanyaan . 1 = Tidak Tertarik Sama Sekali 2 = Kurang Tertarik 3 = Cukup Tertarik 4 = Sangat Tertarik Ya / Tidak Ya / Tidak Tipe Jawaban Ya / Tidak Ya / Tidak Pilihan ganda . ultiple choic. opsi "Lainnya" Skala Likert 1Ae4 . = Tidak Tertarik, 4 = Sangat Tertari. Kuisoner pasca pelatihan bertujuan untuk menilai kualitas pelaksanaan, pemahaman materi, cara penyampaian, manfaat, dan minat lanjutan. Tabel 2. Pertanyaan Pasca pelatihan Pertanyaan Bagaimana penilaian Anda terhadap jalannya pelatihan secara Seberapa baik tim pemateri menyampaikan materi? Apakah materi pelatihan sesuai dengan kebutuhan Anda? Apakah Anda merasa lebih paham cara membuat aplikasi tanpa coding setelah pelatihan? Apakah Anda akan mencoba membuat aplikasi sendiri setelah pelatihan ini? Fitur Glide Apps mana yang paling membantu bagi Anda? . ilih lebih dari sat. Apa saran Anda untuk perbaikan pelatihan berikutnya? Apa kritik Anda terhadap pelaksanaan pelatihan ini? Skala Likert . ntuk pertanyaan 1Ae. 1 = Tidak Baik 2 = Kurang Baik 3 = Baik 4 = Sangat Baik Tipe Jawaban Skala Likert 1Ae4 Skala Likert 1Ae4 Skala Likert 1Ae4 Ya / Tidak / Mungkin Ya / Mungkin / Tidak Pilihan (Data Komponen. Navigasi, dl. Isian terbuka . pen-ende. Isian terbuka . pen-ende. Editor. Prosedur Pengisian Kuesioner adalah sebagai berikut. Pra Pelatihan: Diisi sebelum acara dimulai, menggunakan Google Form . autan dibagikan via WhatsApp kela. Pasca Pelatihan: Diisi segera setelah sesi praktik selesai, masih di lokasi pelatihan, menggunakan perangkat yang sama. Waktu Pengisian: A5Ae7 menit per kuesioner. Respons Rate: 100% . dari 29 peserta mengisi kedua kuesione. Tabel 3. Hasil kuisioner Indikator Pernah dengar coding Pernah buat aplikasi Tahu no-code Penilaian pelatihan Penyampaian materi Akan coba buat aplikasi sendiri Pra Pelatihan 82,8% (Y. 6,9% (Y. 6,9% (Y. Ae Ae Ae Pasca Pelatihan Ae Ae 100% . aham setelah pelatiha. 86,2% Sangat Baik 86,2% Sangat Baik 89,7% (Y. Metode evaluasi menggunakan kuesioner pra-pasca dengan skala Likert 4 poin dan pertanyaan terbuka terbukti efektif untuk mengukur peningkatan pengetahuan . ari 6,9% Ie 100% memahami no-cod. , menilai kepuasan peserta (>86% "Sangat Baik"), mengidentifikasi minat lanjutan . ,7% akan mencoba sendir. , dan mengumpulkan masukan perbaikan untuk pelatihan berikutnya. Hasil dan Pembahasan Kegiatan PKM ini bertujuan memperkenalkan alternatif pembuatan aplikasi mobile melalui pendekatan nocode menggunakan Glide AppsAiplatform gratis yang dapat diakses langsung via web (Gambar . Gambar 2. Home Page glideapps. Pelatihan dimulai pukul 08. 00 WIB dengan pembukaan resmi oleh Bapak Sartono,S. Pd. SE. Beliau menyatakan dukungan penuh karena sekolah telah melahirkan inovasi tingkat nasional dan berharap pelatihan ini memicu inovasi berikutnya (Gambar . Gambar 3. Tim Pengabdi bersama Kepala Sekolah SMK Yapensu Sungailiat Sebelum materi, peserta mengisi kuesioner pra-pelatihan . Hasil (Gambar . Gambar 4. Hasil Pengisian Kuesioner Pra Pelatihan Hasil kuesioner pra-pelatihan (Gambar . mengungkap bahwa 82,8 % peserta sudah pernah mendengar istilah coding, tetapi 93,1 % di antaranya belum pernah membuat aplikasi atau program komputer sama Lebih lanjut, 93,1 % peserta tidak menyadari bahwa aplikasi dapat dibuat tanpa menulis kode. Temuan ini memperkuat diskusi awal antara tim pengabdi dan pihak SMK Yapensu Sungailiat, yang menyatakan bahwa pelatihan semacam ini sangat diperlukan untuk meningkatkan wawasan dan keterampilan siswa dalam teknologi informasiAikhususnya pengembangan aplikasi. Harapannya, ilmu yang diperoleh dari pelatihan ini dapat diterapkan peserta untuk menciptakan inovasi baru, terutama di bidang keahlian vokasi yang menjadi fokus SMK. Pelatihan diawali dengan penjelasan konsep coding, dilanjutkan pengenalan teknologi low-code dan no-code melalui Glide Apps. Antusiasme peserta terlihat jelas, terutama saat sesi praktik pembuatan aplikasi tanpa coding dimulai. Sebelum praktik kelompok, peserta lebih dulu diperkenalkan dengan antarmuka dan fiturfitur utama lingkungan pengembangan Glide Apps. Gambar 5. Suasana Saat Pelatihan Berlangsung Gambar 6. Peserta Mempraktikkan Pembuatan Aplikasi Gambar 7. Pemberian Apresiasi Kepada Peserta Aktif Pelatihan ini mempraktikkan pembuatan aplikasi mobile sederhana bernama Aplikasi Siswa Yapensu, yang berfungsi untuk mencatat data siswa-siswi di SMK Yapensu Sungailiat. Aplikasi terdiri dari tiga halaman C Home: menampilkan ucapan selamat datang. Siswa: memuat daftar siswa-siswi sekolah. Jurusan: menampilkan informasi jurusan yang tersedia. Database dibangun dengan Glide Tables, yang antarmukanya mirip Microsoft Excel sehingga mudah dipahami dan dioperasikan oleh peserta. Mayoritas peserta berhasil mengikuti seluruh tahapan pelatihan dan menghasilkan aplikasi sesuai contoh. Dua tabel utamaAiTabel Siswa dan Tabel JurusanAidibuat melalui Data Editor bawaan Glide Apps, dan tampilannya dapat dilihat pada tangkapan layar Gambar 8 dan Gambar 9. Gambar 8. Data Editor Tabel Siswa Gambar 9. Data Editor Tabel Jurusan Hasil dari pembuatan Aplikasi Siswa Yapensu telah dipublikasikan secara online sehingga langsung dapat dilihat secara online melalui smartphone pada tautan https://aplikasi-siswa-yapensu. io dengan tampilan yang tersaji pada Gambar 10 dan Gambar 11. Gambar 10. Halaman Home dan Siswa dari Aplikasi yang dibuat dalam Pelatihan Gambar 11. Halaman Profil dan Jurusan dari Aplikasi yang dibuat dalam Pelatihan Berdasarkan tampilan aplikasi pada Gambar 10 dan Gambar 11, peserta berhasil memanfaatkan berbagai fitur Glide Apps, antara lain: Fitur navigasi, untuk mengatur menu utama seperti Home. Siswa, dan Jurusan. Fitur komponen, untuk menambahkan elemen seperti daftar, gambar, teks, dan lainnya. Fitur data editor, berbentuk tabel mirip Microsoft Excel, yang berfungsi sebagai penyimpan data Setelah pelatihan selesai, seluruh peserta . diminta mengisi kuesioner pasca-pelatihan untuk mengevaluasi proses kegiatan. Kuesioner ini mencakup penilaian terhadap kelancaran pelaksanaan, kecocokan materi dengan kebutuhan, cara penyampaian tim pengabdi, serta masukan berupa kritik dan Hasil pengisian kuesioner tersebut disajikan pada Gambar 12. Gambar 12. Hasil Pengisian Kuesioner Pasca Pelatihan Hasil kuesioner pasca-pelatihan menunjukkan respons yang sangat positif dari mayoritas peserta. Sebanyak 86,2 % menilai pelaksanaan pelatihan AuSangat BaikAy, dan 13,8 % menyatakan AuBaikAy. Penyampaian materi oleh tim pemateri juga mendapat penilaian serupa: 86,2 % AuSangat BaikAy dan 13,8 % AuBaikAy. Lebih lanjut, 89,7 % peserta menyatakan AuYaAy akan mencoba membuat aplikasi mobile secara mandiri setelah pelatihan, sementara 10,3 % menjawab AuMungkinAy. Secara keseluruhan, data ini mengindikasikan bahwa kegiatan pengabdian berjalan sukses, diterima dengan sangat baik, serta berhasil memicu minat dan motivasi siswa untuk berkreasi dalam pengembangan aplikasi. Kesimpulan Kegiatan pengabdian kepada masyarakat berupa pelatihan pembuatan aplikasi mobile tanpa coding menggunakan Glideapps bagi siswa/i SMK Yapensu Sungailiat telah berhasil dilaksanakan dengan respon yang sangat positif. Berdasarkan survei awal, ditemukan bahwa mayoritas peserta . ,1%) belum pernah membuat aplikasi dan tidak menyadari adanya platform no-code. Melalui pelatihan ini, peserta dibimbing secara langsung untuk membuat "Aplikasi Kegiatan Siswa" dari awal hingga publikasi. Evaluasi pasca pelatihan menunjukkan keberhasilan kegiatan, dimana 86,2% peserta menilai jalannya pelatihan dan penyampaian materi "Sangat Baik", dan 89,7% peserta termotivasi untuk mencoba membuat aplikasi sendiri. Pelatihan ini berhasil meningkatkan literasi digital, menumbuhkan minat, dan membuktikan bahwa siswa mampu menjadi pencipta teknologi, bukan hanya pengguna. Referensi