Development and Implications of Arabic-Indonesian Dictionaries on Arabic Language Learning Rahmawati Fitrianingsih Universitas Islam Negeri Mataram mhs@uinmataram. ABSTRACT This research aims to investigate how the development of Arabic and Indonesian dictionaries influences the learning of Arabic in Indonesia. The research method employed is qualitative with a content or historical research approach, utilizing data collection techniques such as heuristics, documentation, interpretation, and historiography. The history of Arabic lexicography in Indonesia began with three initial dictionaries: Kamus Al Inarah Al Tahzibiyah. Kamus Idris Al Marbawi, and Kamus al Zahabi. Subsequently, newer Arabic-Indonesian dictionaries emerged, including Kamus Indonesia-Arab Al Kalali. Kamus Al Munawwir, and Technology-Based Dictionaries, which are also the focus of this This research aims to explore the development and implications of these dictionaries on the Arabic language learning process in Indonesia, aiming to provide a deeper understanding of their contributions within the context of Arabic language education in Indonesia. Keywords: Arabic-Indonesian lexicography, the learning of Arabic language Copyright A 2024 An Nazhair Journal Available online at https://pascauinmtrm. id/index. php/nazhair/index 11 PENDAHULUAN Sebuah Bahasa, termasuk Bahasa Arab pada awalnya bermula dari Bahasa lisan (Lughah AN-Nuth. yang digunakan para pemakai Bahasa untuk berkomunikasi dengan sesamanya, sebelum pada tahap selanjutnya. Bahasa itu dikodifikasi atau dibukukan dalam bentuk Bahasa tulis . ughah kitaba. yang kemudian banyak orang menyebutnya dengan istilah kamus/muAojam. Seiring dengan perkembangan pemikiran dan peradaban manusia, serta kebutuhan para penutur Bahasa untuk menghimpun kosakata atau Bahasa mereka, maka usaha-usaha mengumpulkan kosakata ke dalam sebuah buku yang khusus membahas makna Bahasa dan terus dikembangkan sehingga Bahasa tulis pun semakin pesat. Indikasinya adalah lahirnya kamus-kamus Bahasa yang bukan hanya bermanfaat dalam menghimpun kosakata dan mempermudah memahami makna kata, akan tetapi lebih dari itu yakni fenomena kodifikasi Bahasa atau penyusunan kamus adalah bagian dari Upaya optimal manusia dalam menjaga eksistensi Bahasa mereka. Bahasa lisan ke Bahasa tulis adalah proses transfer yang menuntut para penutur Bahasa mengembangkan ilmu tentang makna . untuk memahami kosakata lama maupun baru yang ada di dalam Bahasa mereka. Interpretasi dan studi kosakata itu lebih dikenal dengan ilmu kosakata . lmu al-Mufroda. Pada tahap selanjutnya hasil kajian dari ilmu kosakata akan dikodifikasi ke dalam kamus dan melahirkan ilmu Perkamusan Bahasa Arab-Indonesia di Indonesia diawali kamus Arab-Melayu. Kamus sebagai alat bantu mempelajari bahasa Arab belum ditemukan di abad awal perkembangan agama islam di Indonesia. Islam masuk ke Indonesia pada abad pertama hijrah atau abad ke delapan Masehi. Abdul MuAoin mengatakan bahwa Bahasa Arab dikenal di Indonesia sama dengan dikenalnya islam dengan kata lain Bahasa Arab di Indonesia tuanya dengan agama Islam. Namun Sejarah perkamusan Arab-Indonesia berlangsung setelah beberapa abad masuknya Islam dan masih di latarbelakangi oleh kamus Arab-Melayu diantaranya Kamus al-Inarah al-Tahzibiyah. Kamus Idris alMarbawi. Kamus al-Zahabi. Lahirnya beberapa kamus Arab-Indonesia di atas merupakan cikal bakal berkembangnya perkamusan Arab-Indonesia dan mulai memunculkan beberapa kamus lainnya yakni salah satunya kamus Yunus pada sekitar abad ke 20 pada tahun 1972. Kamus Yunus ini disusun sebagai pengganti dari kamus Arab-Melayu, yang Dimana saat itu Masyarakat Indonesia sedang hidup dalam alam kemerdekaan dan telah menetapkan Bahasa Indonesia sebagai Bahasa resmi negara dan Bahasa Nasional. Adapun setelah tersusun kamus Yunus ini, barulah bermunculan kamus-kamus yang lain dengan berbagai ragam dan ukurannya dan bahkan bukan hanya dalam bentuk Copyright A 2024 An Nazhair Journal Available online at https://pascauinmtrm. id/index. php/nazhair/index 12 kamus Arab-Indonesia saja tetapi bentuk Indonesia-Arab juga. Setelah munculnya kamus Bahasa Arab-Melayu, metode perkamusan Arab-Indonesia berkembang sangat pesat hingga sampai pada saat ini. Hal ini tentu akan memperlihatkan sebuah perkembangan dari tahun munculnya kamus Arab-Indonesia dan bahkan memunculkan sebuah persaingan diantara kamus-kamus yang lainnya. Secara umum, kata kamus berasal dari bahasa Arab yaitu A aAyang dipinjam dari bahasa Yunani yang berarti lautan atau samudra. Melalui penyesuaian q menjadi k AukamusAy dapat berarti buku acuan yang memuat daftar kosakata sedemikian banyak yang disusun secara alfabetis berikut keterangan tentang makna, pemakaian dan Sementara menurut Kridalaksana, kamus merupakan alat penunjang yang memuat daftar kata dan gabungan kata dengan keterangan mengenai berbagai segi maknanya dan penggunaannya dalam bahasa dan biasanya disusun dengan abjad. Lebih dari itu Tarigan menyebutkan bahwa kamus merupakan tempat penyimpanan pengalaman-pengalaman manusia yang telah diberi nama. Kamus tak hanya memberi informasi mengenai daftar kata, akan tetapi juga makna kata, pengucapan, serta Penelitian ini terfokus pada aspek implikasi dan perkembangan perkamusan Arab-Indonesia. Oleh karena itu dalam penelitian ini, penulis akan menelusuri Sejarah dan implikasi perkamusan Arab-Indonesia terhadap pembelajaran Bahasa Arab. METODE PENELITIAN Penelitian mengenai AuPerkembangan dan Implikasi Perkamusan Arb-Indonesia terhadap Pembelajaran Bahasa Arab merupakan suatu penelitian konten atau historis karena penelitian ini diarahkan untuk menilite, mengungkapkan dan menjelaskan peristiwa masa lampau sehingga jelas diarahkan kepada metode penyusun dan kriteria perkamusan yang bersifat kualitatif. Tujuan penelitian ini yaitu menemukan dan mendeskripsikan secara analisis serta menafsirkan tentang perkembangan dan implikasi perkamusan Arab-Indonesia terhadap pembelajaran Bahasa Arab. Penelitian yang peneliti lakukan termasuk dalam penelitian Sejarah perkembangan suatu perkamusan bergerak dalam bidang ilmu pengetahuan karena dalam penelitian akan dibahasa terkait dengan latar belakang munculnya perkamusan Arab-Indonesia, fase-fasenya, faktor-faktor penghambatnya, serta implikasi terhadap pembelajaran Bahasa Arab. Copyright A 2024 An Nazhair Journal Available online at https://pascauinmtrm. id/index. php/nazhair/index 13 Dalam menjawab permasalahan penelitian ini penulis menggunakan metode Sejarah yang terdiri dari Langkah-langkah berikut: Heuristik Tahap pertama yang dilakukan peneliti adalah heuristik . engumpulan sumbe. Sumber Sejarah dapat berupa bukti yang ditinggalkan manusia yang menunjukkan segala aktifitasnya dimasa lampau baik berupa peninggalan maupun catatan. Sumber ini dapat ditemukan diperpustakaan daerah, internet serta peneliti dapat memperolehnya dengan melakukan wawancara secara langsung dengan informan . umber lisa. Adapun Langkah-langkah yang dilakukan untuk mendapatkan data-data dan informasi yang dibutuhkan untuk menyusun kajian ini adalah: Dokumentasi Dokumentasi merupakan salah satu cara pengumpulan data yang menghasilkan catatan-catatan penting yang berhubungan dengan masalah yang diteliti, sehingga akan diperoleh data yang lengkap, sah, dan bukan berdasarkan perkiraan. Dokumentasi bisa berbentuk tulisan, gambar, karya dan sebagainya. Dokumentasi yang berbentuk tulisan seperti, catatan harian. Sejarah kehidupan, cerita biografi, dan lain sebagainya. Sedangkan dokumentasi yang berbentuk gambarseperti, foto, sketsa, dan lain-lain. Teknik dokumentasi dalam penelitian ini digunakan untuk mengumpulkan data dari sumber non insani yaitu profil perkamusan, karakteristik, dan isi. Yang terpenting adalah dokumen-dokumen yang berkaitan dengan Sejarah perkamusan Arab-Indonesia. Interpretasi (Analisi. Interpretasi adalah menafsirkan fakta-fakta yang saling berhubungan dari data yang telah terbukti kebenarannya. Tahapan ini penting karena digunakan untuk mengkronologikan suatu peristiwa sejarah, sehingga menghasilkan suatu konstruksi sejarah yang dapat dipertanggungjawabkan. Bukti-bukti, fakta-fakta sejarah, tidak dapat menjelaskan apa pun tanpa adanya interpretasi manusia. Ay Oleh karena itu, interpretasi atau analisis yang digunakan peneliti dalam penelitian ini adalah interpretasi sintetik. Penafsiran ini mencoba menggabungkan seluruh faktor atau kekuatan yang menggerakkan sejarah. Menurut penafsiran ini tidak ada satupun kategori Ausebab akibat tunggal yang cukup untuk menjelaskan seluruh fase dan periode Copyright A 2024 An Nazhair Journal Available online at https://pascauinmtrm. id/index. php/nazhair/index 14 perkembangan sejarah. Alur perkembangan dan perjalanan sejarah didorong oleh berbagai faktor dan kekuatan secara bersama-sama dan manusia tetap menjadi pelaku utama. " Dan juga mengacu pada penafsiran. Dalam skripsi ini peneliti menggunakan teori Perkembangan Kamus Arab-Indonesia untuk menjelaskan data-data yang telah peneliti peroleh di lapangan. Histiriografi Histografi . enulisan sejara. merupakan langkah terakhir yang dilakukan yaitu dengan menghubungkan suatu peristiwa dengan peristiwa lainnya sehingga menjadi suatu rangkaian sejarah. 21 Peneliti mendeskripsikan laporan penelitian dengan cara menyusunnya secara sistematis dan memperhatikan aspek kronologis berdasarkan kerangka penelitian sehingga mudah dipahami oleh pembaca. HASIL DAN PEMBAHASAN Asal Usul dan Perkembangan Perkamusan Arab-Indonesia Ditinjau dari sejarahnya, perkembangan perkamusan Arab-Indonesia kamus dikategorikan ke dalam tiga jenis, yaitu: kamus ekabahasa, kamus dwibahasa, dan kamus aneka bahasa dengan penjelasan sebagai berikut : Kamus Eka bahasa Kamus ekabahasa atau kamus monolingual yaitu kamus yang hanya menggunakan satu bahasa. Kata yang dijelaskan dan penjelasannya menggunakan bahasa yang sama. Contohnya: Qamus al-Munjid fi al-aAolam. Lisan al-AAorab, alRaAoid dan Qamus al-Fiqh. Kamus bahasa Arab Ekabahasa ini merupakan kamus dengan kosakata dan makna yang hanya menggunakan bahasa Arab. Kamus ekabahasa dalam bahasa Arab merupakan kamus cetakan dari negara-nagara berpenutur bahasa Arab, seperti Arab Saudi. Mesir. Kuwait. Libanon, dll. Namun demikian, kamus semacam itu banyak digunakan oleh pembelajar bahasa Arab di Indonesia. Pengguna kamus tersebut pada umumnya oleh mereka yang sudah memiliki kemampuan bahasa Arab yang bagus. Kamus Dwi bahasa Kamus dwibahasa atau kamus bilingual, yaitu kamus yang memuat daftar kosakata bahasa tertentu yang makna dan penjelasannya menggunakan bahasa lain. Maksud utama kamus ini adalah menerjemahkan kata suatu bahasa ke bahasa lain. Contohnya: Qamus Al-Munawwir. Al-Maurid al-Shagir, al-Mughni al-Kabir, dan Copyright A 2024 An Nazhair Journal Available online at https://pascauinmtrm. id/index. php/nazhair/index 15 Kamus Arab-Indonesia karya Mahmud Yunus. Di Indonesia jenis kamus ini yang paling banyak didapatkan, baik dalam bentuk kamus kecil maupun kamus besar. Kamus dwibahasa Arab terdapat dua bentuk yaitu kamus Arab-Indonesia yang digunakan untuk mencari kosakata asing atau menerjemahkan teks Arab, dan kamus Indonesia-Arab yang biasanya dimanfaatkan untuk kepentingan penulisan teks berbahasa Arab dan bercakap. Kamus Aneka Bahasa Kamus ini sekurang-kurangnya menggunakan tiga bahasa dan dikenal dengan kamus multilingual. Kamus ini memuat daftar kosakata dengan keterangan tentang makna dan penggunaannya dalam lebih dari dua bahasa. Misalnya: Kamus Indonesia-Arab-Inggris karya Abdullah bin Nuh dan Omar Bakry, al-MuAojam alFalsafi (Arab. Inggris. Prancis. Jerman, dan Lati. Qamus AoIlm al IjtimaAo (Arab. Inggris. Pranci. Di Indonesia, kamus aneka bahasa yang banyak didapatkan adalah kamus Indonesia-Arab-Inggris. Ketiga bahasa tersebut popular dipelajari dikalangan pelajar muslim khususnya di pesantren. Kamus tersebut banyak digunakan untuk pengayaan dan peningkatan kemampuan berbahasa Arab dan Inggris secara Keberadaan Kamus bahasa Arab di Indonesia dipelopori oleh kamus ArabMelayu. Keberadaan kamus sebagai alat bantu mempelajari bahasa Arab belum ditemukan di awal perkembangan agama Islam di Indonesia. Dengan masuknya agama Islam di Indonesia, masyarakat Indonesia mengetahui adanya bahasa Arab sebagai bahasa Agama. Abdul Muin menyebutkan bahwa bahasa Arab dikenal di Indonesia bersamaan dengan dikenalnya Islam atau dengan kata lain bahwa bahasa Arab di Indonesia sama tuanya dengan agama Islam. Namun, kamus Arab-Melayu sebagai perintis perkamusan Arab di Indonesia baru muncul beberapa abad setelah masuknya Islam. Kamus tersebut di antaranya kamus al-Inarah al-Tahzibiyah. Kamus Idris al-Marbawi, dan kamus al-Zahabi. Adapun beberapa kamus cetak Arab-Indonesia dan Indonesia-Arab yang masyhur di Indonesia yaitu: Kamus Arab-Indonesia disusun oleh Mahmud Yunus pada Tahun 1972. Kamus Arab-Indonesia Al-Munawwir disusun oleh Ahmad Warson Munawwir pada tahun 1984. Kamus Kontemporer Arab-Indonesia disusun oleh Atabik ali Ahmad Zuhdi Muhdlor pada tahun 1996. Kamus Indonesia-Arab dan Arab-Indonesia al-Bisri disusun oleh K. Adib Bisri dan K. Munawwir Af pada Copyright A 2024 An Nazhair Journal Available online at https://pascauinmtrm. id/index. php/nazhair/index 16 tahun 1999. Kamus Arab-Indonesia Mutahar disusun oleh Ali Mutahar pada tahun 2005. Kamus Arab-Indonesia al-Azhar disusun oleh S. Askar pada tahun 2009. Kamus Indonesia AeArab Al-Kalali disusun oleh Asad M. Alkalali pada tahun 1981. Kamus modern Indonesia-Arab Al-Mufid pada tahun 2013, dll. Kamus-kamus yang disebutkan di atas hanyalah sebagian kecil dari banyaknya kamus bahasa Arab yang terdapat di Indonesia. Kamus kecil ArabIndonesia atau Indonesia-Arab dan kamus mini banyak bertebaran di tangan-tangan para santri pondok pesantren dan pelajar di madrasah. Namun, keberadan kamuskamus tersebut sangat membantu mereka dalam mempelajari kosakata bahasa Arab. Faktor Penyusun dan Pengkodifikasian Kamus Setidaknya ada tiga faktor mengapa para ilmuan atau ulama Arab terdahulu berlomba-lomba melakukan penyusunan dan kodifikasi kosakata ke dalam sebuah muAojam atau kamus, yaitu faktor agama, faktor social, dan faktor budaya. Faktor Agama Penyusunan kamus diperlukan untuk menjaga kesucian Al-QurAoan dari kesalahan membaca yang bisa berakibat pada kesalahan makna. Faktor Sosial Seiring dengan berkembangnya Islam pada saat itu, banyak orang-orang kemudian masuk Islam. Mereka kemudian belajar Bahasa Arab untuk dapat mendalami Islam. Kehadiran kamus sangat diperlukan bagi orang-orang pemula yang ingin belajar Bahasa Arab. Faktor Budaya Budaya sebuah bangsa tercermin dari Bahasa yang berkembang pada bangsa tersebut. Begitu juga dengan Bahasa Arab yang ingin terus melestarikan baahsanya dengan menyusun kamus. Komponen dan Fungsi Kamus Arab-Indonesia Secara umum, setiap perkamusan memiliki komponen-komponen yang berbedabeda sesuai jenis kamus yang akan disusun, diantaranya bagian awal, bagian uatama, dan bagian akhir. Berikut komponen-komponen kamus berdasarkan analisis secara . Bagian Awal . Daftar isi Copyright A 2024 An Nazhair Journal Available online at https://pascauinmtrm. id/index. php/nazhair/index 17 . Pengantar penerbit . Pengantar penulis . Metode penyusunan . Petunjuk penggunaan . Indeks . Keterangan singkatan . Symbol dan warna . Keterangan hubungan . Sintaksis . Sumber refrensi . Bagian Utama . Model kolom . Informasi semantic . Informasi sintaksis . Derivasi kata asing . Istilah-istilah . Bagian Akhir . Lempiran . Contoh kontekstual . Nama-nama . Ungkapan kontekstual . Table Fungsi dan Implikasi Kamus Arab-Indonesia dalam Konteks Komunikasi dan Pembelajaran Bahasa Arab Seharusnya kamus dijadikan bahan utama dalam pengajaran bagi tujuan rujukan dan untuk mendapatkan informasi (Nathesan, 1990:. Pendapat ini dikemukakan oleh Kipfer . dengan mengatakan kamus merupakan bahan rujukan yang mengandung perkataan, sebutan, makna dan penggunaan idiom. Jelas di sini fungsi kamus bukan sekadar rujukan bahkan ia merupakan bahan utama untuk mendapatkan informasi. Selain itu, kamus juga berfungsi untuk menambahkan wawasan terhadap pengetahuan pelajar mengenai penggunaan bahasa secara formal atau tidak formal (Tarigan, 1. Jelas di sini, bahwa kegunaan kamus bukan sekedar mencari namun bahkan membantu pelajar dalam segala aspek. Faktor-faktor penghambat dalam penyusunan kamus Arab-Indonesia Copyright A 2024 An Nazhair Journal Available online at https://pascauinmtrm. id/index. php/nazhair/index 18 Adapun faktor-faktor yang menjadi penghambat dalam penyusunan kamus Arab-Indonesia adalah diantaranya: Ketidaksesuaian Struktur Bahasa Bahasa Arab memiliki struktur yang berbeda dengan bahasa Indonesia. Perbedaan ini dapat menyulitkan dalam mencocokkan kata-kata dan frasa antara kedua bahasa, terutama karena perbedaan dalam tata bahasa, sintaksis, dan konvensi leksikal. Kekayaan Leksikal Bahasa Arab Bahasa Arab memiliki jumlah kata yang sangat besar dan kaya makna, terutama karena warisan sastra dan keagamaannya yang kaya. Menyusun kamus yang mencakup semua kosakata yang relevan secara memadai merupakan tantangan, terutama karena banyaknya kata-kata yang berbeda di berbagai dialek Arab. Perbedaan Budaya dan Konteks Makna suatu kata dalam bahasa Arab sering kali sangat dipengaruhi oleh konteks budaya dan sejarahnya. Ini dapat menyulitkan penerjemahan yang akurat ke dalam bahasa Indonesia, terutama untuk istilah-istilah yang tidak memiliki padanan langsung atau tidak dikenal dalam budaya Indonesia. Keterbatasan Sumber dan Referensi Kurangnya sumber dan referensi yang berkualitas tentang perkamusan Arab-Indonesia dapat menjadi hambatan dalam menyusun kamus yang lengkap dan akurat. Terutama jika terjadi keterbatasan akses terhadap sumber-sumber yang berkualitas tinggi atau jika terdapat sedikit penelitian tentang perkamusan Arab-Indonesia. Kesulitan dalam Standardisasi Standardisasi istilah-istilah khusus dan teknis antara bahasa Arab dan Indonesia sering kali sulit dicapai. Hal ini karena terkadang tidak ada padanan langsung antara istilahistilah tersebut di kedua bahasa, sehingga membutuhkan proses penyesuaian dan negosiasi yang rumit. Tantangan Teknologi dan Infrastruktur Proses penyusunan kamus modern sering kali memerlukan dukungan teknologi dan infrastruktur yang memadai. Kurangnya akses terhadap perangkat lunak kamus yang baik, sumber daya manusia yang terlatih, dan infrastruktur teknologi informasi dapat menjadi hambatan dalam menyusun kamus Arab-Indonesia yang mutakhir dan berdaya Copyright A 2024 An Nazhair Journal Available online at https://pascauinmtrm. id/index. php/nazhair/index 19 KESIMPULAN Kesimpulan Berdasarkan paparan makalah diatas dapat disimpulkan bahwa Perkamusan Bahasa Arab-Indonesia di Indonesia diawali kamus Arab-Melayu. Kamus sebagai alat bantu mempelajari bahasa Arab belum ditemukan di abad awal perkembangan agama islam di Indonesia. Islam masuk ke Indonesia pada abad pertama hijrah atau abad ke delapan Masehi. Abdul MuAoin mengatakan bahwa Bahasa Arab dikenal di Indonesia sama dengan dikenalnya islam dengan kata lain Bahasa Arab di Indonesia tuanya dengan agama Islam. Namun Sejarah perkamusan Arab-Indonesia berlangsung setelah beberapa abad masuknya Islam dan masih di latarbelakangi oleh kamus Arab-Melayu diantaranya Kamus al-Inarah al-Tahzibiyah. Kamus Idris al-Marbawi. Kamus alZahabi. Adapun lahirnya beberapa kamus Arab-Indonesia di atas merupakan cikal bakal berkembangnya perkamusan Arab-Indonesia dan mulai memunculkan beberapa kamus lainnya yakni salah satunya kamus Yunus pada sekitar abad ke 20 pada tahun 1972. Berdasarkan penggunaan bahasa, kamus dikategorikan ke dalam tiga jenis, yaitu: kamus ekabahasa, kamus dwibahasa, dan kamus aneka Bahasa dan disertai dengan komponen-komponen penyusunan kamus. Para ilmuan juga menyusun kamus berdasarkan 3 faktor utama yakni, faktor agama, faktor sosial, dan faktor budaya. Dan Adapun implikasi perkamusan Arab-Indonesia terhadap pembelajaran Bahasa Arab ialah sangat berperan pada para pelajar karena dengan adanya perkamusan tersebut dapat memudahkan untuk mengetahui banyak kosakata yang belum diketahui dan menambah wawasan Bahasa para pelajar. DAFTAR PUSTAKA