Jurnal Akademi Akuntansi Indonesia Padang e-ISSN: 2775-9768 p-ISSN: 2777-0974 Vol. No. Oktober 2024 Pengaruh Kualitas Audit Dan Whistleblowing System Terhadap Pengungkapan Fraud Kadek Rai Mita RositaDewi1*. Ni Putu Budiadnyani2. Gine Das Prena3. Putu Sri Arta Jaya Kusuma4 1,2,3,4 Fakultas Ekonomi dan Bisnis. Universitas Pendidikan Nasional Denpasar. Bali. Indonesia Corresponding Author: raimitarositadewi@gmail. Info Artikel Direvisi, 15/11/2024 Diterima, 10/12/2024 Dipublikasi, 24/12/2024 Kata Kunci: GCG. Kualitas Audit. Whistleblowing System. Pengungkapan Fraud. Perusahaan Sub Sektor Perbankan. Keywords: GCG. Audit Quality. Whistleblowing System. Fraud Disclosure. Banking Sub-Sector Companies. Abstrak Penelitian ini dilatarbelakangi oleh ditemukannya peningkatan yang signifikan pada kasus fraud khususnya pada sub sektor perbankan di Indonesia. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui pengaruh Kualitas Audit dan Whistleblowing System terhadap pengungkapan Fraud . tudi kasus pada perusahaan sub sektor perbankan yang terdaftar di bursa efek indonesi. Terdapat dua variabel bebas dalam penelitian ini yaitu Kualitas Audit (X. dan Whistleblowing System (X. Terdapat pula satu variabel terikat yaitu Pengungkapan Fraud (Y). Sampel pada penelitian ini berjumlah 176 sampel dengan total perusahaan yang memenuhi kriteria sampel sebanyak 44 perusahaan. Lokasi penelitian dan juga objek penelitian dengan data laporan keuangan perusahaan sub sektor perbankan yang tercatat pada Bursa Efek Indonesia (BEI) pada rentan tahun penelitian 2020-2023. Pemilihan sampel dalam penelitian ini menggunakan metode purposive sampling. Jenis data dari penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif dan pendekatan penelitian deskriptif serta metode analisis statistik regresi logistik ordinal. Teknik pengumpulan data dengan menggunakan sampling dan time series. Adapun instrumen alat dari penelitian yang digunakan adalah dokumen laporan keuangan perusahaan sub sektor perbankan selama periode pengamatan . yang diperoleh dari http://w. Penelitian ini menunjukkan bahwa kualitas audit tidak berpengaruh signifikan terhadap pengungkapan fraud pada perusahaan subsektor perbankan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia selama periode 20202023. Sementara itu, implementasi whistleblowing system terbukti berpengaruh positif terhadap pencegahan fraud di perusahaan-perusahaan tersebut. Hal ini mengindikasikan pentingnya peran sistem pelaporan pelanggaran dalam mencegah terjadinya tindak kecurangan di sektor perbankan, meskipun faktorfaktor lain seperti kualitas audit tidak memberikan pengaruh signifikan terhadap pengungkapan fraud dalam periode yang diteliti. Abstract This research is motivated by the discovery of a significant increase in fraud cases, especially in the banking sub-sector in Indonesia. This study was conducted with the aim of knowing the effect of Audit Quality and Whistleblowing System on Fraud disclosure . ase study of banking sub-sector companies listed on the Indonesian stock exchang. There are two independent variables in this study, namely Audit Quality (X. and Whistleblowing System (X. There is also one dependent variable, namely Fraud Disclosure (Y). The sample in this study amounted to 176 samples with a total of 44 companies that met the sample criteria. The research location and also the object of research with data on the financial statements of banking sub-sector companies listed on the Indonesia Stock Exchange (IDX) in the vulnerable research years 2020-2023. The sample selection in this study used purposive sampling method. The type of data from this study uses quantitative research methods and descriptive research approaches and ordinal logistic regression statistical analysis methods. Data collection techniques using sampling DOI: https://doi. org/10. 31933/gyv65s70 This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4. 0 International License Page 296 Vol. No. Oktober 2024 e-ISSN: 2775-9768 | p-ISSN: 2777-0974 and time series. The instrument of the research tool used is the financial report document of the banking sub-sector company during the observation period . obtained from http://w. This study shows that audit quality has no significant effect on fraud disclosure in banking sub-sector companies listed on the Indonesia Stock Exchange during the period 2020-2023. Meanwhile, the implementation of the whistleblowing system is proven to have a positive effect on fraud prevention in these companies. This indicates the important role of the whistleblowing system in preventing fraud in the banking sector, even though other factors such as audit quality did not have a significant effect on fraud disclosure in the period studied. PENDAHULUAN Sistem pelaporan pelanggaran di Indonesia menjadi sangat penting mengingat tingginya tingkat fraud di berbagai sektor. Fraud, menurut Pusat Pendidikan dan Pelatihan Pengawasan (Pusdiklatwa. Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan, adalah tindakan melawan hukum yang dilakukan oleh individu, baik internal maupun eksternal perusahaan, untuk memperoleh keuntungan secara langsung atau tidak langsung (Wulandari, 2. ACFE mencatat dalam survei tahun 2022 bahwa fraud merupakan kejahatan keuangan yang paling signifikan secara global. Sebagai contoh, kasus Enron mendorong pembentukan regulasi seperti Sarbanes-Oxley Act, yang menandai langkah serius dalam menangani masalah fraud secara internasional. Dua faktor utama menjadikan fraud sebagai kejahatan yang sering terjadi dalam organisasi: pertama, karyawan sering diberi akses atau kontrol atas aset perusahaan, seperti pengelolaan transaksi dan inventaris. Kedua, setiap karyawan memiliki peluang untuk memanfaatkan posisi mereka dalam melakukan fraud (ACFE, 2. Di Indonesia, fraud adalah ancaman serius. pada tahun 2022, negara ini menempati peringkat ketiga kasus fraud tertinggi di Asia Pasifik dengan 23 kasus setelah Australia dan China (ACFE, 2. Berbagai laporan di Indonesia menunjukkan bahwa sebagian besar fraud terjadi di sektor perbankan, mengingat tingginya frekuensi transaksi dan nilai kerugian yang mencapai ratusan miliar rupiah. Misalnya, pada tahun 2023, karyawan Bank BNI di Makassar menciptakan 12 bilyet deposito palsu, merugikan perusahaan hingga Rp 115,10 miliar, meskipun Rp 50 miliar telah dikembalikan. Sebelumnya, pada tahun 2022, pegawai Bank Pembangunan Daerah Banten (BEKS) terlibat dalam penggelapan dana Rp 6,1 miliar untuk judi online. Kasus serupa terjadi pada Maybank Indonesia . , dengan kepala cabang yang membobol dana nasabah senilai Rp 22 miliar, dan Bank BRI . , di mana teller bank Sulawesi Selatan menggelapkan Rp 2,3 miliar dari 47 nasabah dengan memalsukan tanda tangan dan slip transaksi. Fakta ini menyoroti perlunya sistem pengawasan dan pelaporan pelanggaran yang efektif untuk menekan kejadian fraud di masa mendatang (Dikumpulkan dari berbagai sumber, 2. Berdasarkan survei ACFE . , sektor perbankan dan jasa keuangan menempati posisi teratas dalam kasus fraud dengan 351 laporan, meliputi 46% korupsi dan 11% penipuan laporan keuangan. Kondisi ini menegaskan pentingnya penelitian untuk mengidentifikasi faktor penyebab tingginya kasus fraud pada sektor tersebut. Fokus pada perusahaan perbankan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) menjadi menarik karena transparansi yang dituntut dari perusahaan publik. Salah satu pendekatan dalam meminimalisasi fraud adalah penerapan GCG. GCG dirancang untuk meningkatkan kinerja perusahaan, melindungi kepentingan pemangku kepentingan, dan memastikan kepatuhan terhadap hukum dan nilainilai etika (Alves et al. , 2. Prinsip-prinsip GCG, seperti transparansi, akuntabilitas. Page 297 Vol. No. Oktober 2024 e-ISSN: 2775-9768 | p-ISSN: 2777-0974 tanggung jawab, independensi, dan keadilan, berperan penting dalam mendukung keberlanjutan usaha dan meningkatkan nilai perusahaan (Maharani et al. , 2023. Deviani et al. Dengan penerapan GCG yang baik, perusahaan mampu mengidentifikasi risiko terkait aktivitas bisnis, termasuk potensi fraud (Chrystabel & Nugrahesthy, 2. Oleh karena itu, penelitian ini akan mengkaji lebih dalam pengaruh kualitas audit sebagai elemen utama dalam GCG pada pengungkapan fraud di perusahaan sub-sektor perbankan. Kualitas audit menjadi elemen kunci dalam mencegah fraud, karena auditor memiliki peran penting dalam mendeteksi dan melaporkan anomali dalam laporan keuangan. Putra et al. mendefinisikan kualitas audit sebagai probabilitas auditor dalam menemukan dan melaporkan kesalahan pada sistem akuntansi klien. Auditor yang mematuhi standar keuangan, kode etik profesi, dan pedoman dari Ikatan Akuntan Indonesia akan lebih mampu membedakan laporan keuangan yang sehat dari yang bermasalah. Oleh sebab itu, penelitian ini difokuskan pada peran sinergis antara elemen kualitas audit dalam meningkatkan pengungkapan fraud. Studi ini bertujuan untuk memberikan wawasan lebih mendalam tentang bagaimana GCG, khususnya pada perusahaan perbankan, dapat berkontribusi dalam menciptakan tata kelola yang bersih dan transparan. Pendeteksian dini menjadi kunci untuk meminimalkan tindakan fraud, yang meskipun tidak dapat dihilangkan sepenuhnya, dapat ditekan melalui audit berkualitas, pengendalian internal yang ketat, dan penerapan sistem whistleblowing (Wawo, 2. Whistleblowing, sebagaimana didefinisikan oleh Nuzulia . , adalah tindakan melaporkan pelanggaran hukum atau etika oleh individu dalam organisasi kepada pihak berwenang. Sistem ini telah terbukti efektif, dengan survei ACFE . menunjukkan bahwa 42% kasus fraud berhasil diungkap melalui laporan whistleblower. Selain itu, organisasi internasional seperti World Bank dan United Nations menekankan pentingnya whistleblowing dalam sektor publik untuk mencegah korupsi (Baljija & Rustemi, 2. Dengan meningkatnya implementasi sistem ini, whistleblowing menjadi bagian integral dari upaya pencegahan fraud dan peningkatan integritas dalam organisasi. METODE PENELITIAN Penelitian ini mengadopsi pendekatan kuantitatif dengan penerapan metode analisis regresi logistik ordinal untuk menginvestigasi dampak dari variabel independen terhadap pengungkapan fraud di perusahaan-perusahaan yang tergabung dalam subsektor perbankan dan terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada periode 2020 hingga 2023. Teknik purposive sampling digunakan dalam pemilihan sampel, dengan memilih perusahaan yang secara konsisten tercatat di BEI dan mempublikasikan laporan tahunan selama periode yang Data yang dianalisis adalah data sekunder yang diperoleh dari laporan keuangan yang dipublikasikan oleh perusahaan-perusahaan tersebut dan dapat diakses melalui situs web BEI. Sebagai bagian dari analisis data, statistik deskriptif diterapkan untuk memberikan gambaran umum mengenai variabel-variabel yang terlibat dalam penelitian ini, sementara uji hipotesis dilakukan untuk mengeksplorasi hubungan antara variabel independen dan dependen. Selain itu, pengujian kelayakan model regresi dan koefisien determinasi (RA) digunakan untuk menilai sejauh mana model tersebut mampu menjelaskan variabel dependen. Dalam upaya untuk memprediksi ketepatan waktu laporan keuangan, matriks klasifikasi diterapkan. Page 298 Vol. No. Oktober 2024 e-ISSN: 2775-9768 | p-ISSN: 2777-0974 sementara uji Wald digunakan untuk menguji signifikansi pengaruh variabel independen terhadap pengungkapan fraud dengan batas signifikansi yang ditetapkan pada 5%. HASIL DAN PEMBAHASAN Uji Signifikan Secara Keseluruhan Tabel 1. Hasil Uji Koefisien Determinasi (Nagelkerke R Squar. Model Summary -2 Log likelihood Cox & Snell R Square Nagelkerke R Square Step Estimation terminated at iteration number 20 because maximum iterations has been Final solution cannot be found. Logistik ditunjukkan oleh Nagelkerke R Square sebesar 0,123, yang mengindikasikan bahwa variabilitas variabel dependen dalam model ini dapat dijelaskan oleh variabel-variabel independen sebesar 12,3%. Artinya, secara bersama-sama, variabel-variabel independen dalam model ini mampu menjelaskan 12,3% dari variasi yang terjadi pada variabel dependen. Sementara itu, sisanya sebesar 87,7% dijelaskan oleh faktor-faktor lain yang tidak termasuk dalam model ini. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun variabel-variabel independen memiliki kontribusi terhadap variabel dependen, masih ada faktor lain yang turut memengaruhi variabel dependen yang tidak teridentifikasi dalam penelitian ini. Hasil Uji Wald Tabel 2. Hasil Uji Wald Variables in the Equation Step 1a Kualitas Audit (X. Whisteblowing System (X. Variabel Control Constant Wald Sig. Variable. entered on step 1: Kualitas Audit (X. Whisteblowing System (X. Variabel Control. Berdasarkan hasil analisis regresi logistik pada tabel 4. 6, persamaan regresi dirumuskan sebagai Y = 0. 319X1 19. 937X2 0. 179X3 27. Hal ini menunjukkan bahwa Kualitas Audit (X. memiliki pengaruh positif dengan koefisien 0. Whistleblowing System (X. berpengaruh signifikan positif dengan koefisien 19. 937, dan Variabel Kontrol berpengaruh positif dengan koefisien 0. 179 terhadap variabel dependen (Y), dengan asumsi variabel lainnya tetap konstan. Konstanta sebesar 27. 520 mengindikasikan bahwa jika semua variabel independen bernilai nol, nilai Y adalah 27. Pembahasan Pertama, hasil dari analisis regresi logistik menunjukkan bahwa kualitas audit (X. 319 dengan nilai signifikansi sebesar 0,751. Karena nilai signifikansi 0,751 lebih besar dari 0,05, maka hipotesis pertama ditolak, bahwa kualitas audit berpengaruh positif dan tidak signifikan terhadap pengungkapan fraud perusahaan sub sektor perbankan di BEI selama periode 2020-2023. Meskipun sering dianggap krusial dalam mendeteksi potensi kecurangan. Page 299 Vol. No. Oktober 2024 e-ISSN: 2775-9768 | p-ISSN: 2777-0974 hubungan antara kualitas audit dan pengungkapan fraud tidak selalu menunjukkan signifikansi Beberapa faktor dapat mempengaruhi hal ini, termasuk kompetensi dan profesionalisme auditor, efektivitas pengendalian internal, serta tekanan eksternal yang dihadapi perusahaan. Peningkatan kompetensi dan profesionalisme auditor dapat berkontribusi pada kemampuan mereka dalam mendeteksi kecurangan, namun tanpa didukung oleh pengendalian internal yang efektif, kelemahan dalam sistem tersebut dapat mempermudah terjadinya kecurangan. Di sisi lain, faktor eksternal dan lingkungan organisasi juga memainkan peran penting dalam menentukan seberapa efektif audit dapat dilakukan. Meskipun kualitas audit yang baik diharapkan dapat memperkuat deteksi kecurangan, tekanan eksternal dapat menghalangi pengungkapan kecurangan tersebut, yang mengurangi dampak positif yang dapat dihasilkan dari audit yang baik. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa kualitas audit saja tidak cukup untuk memastikan pendeteksian dan pengungkapan kecurangan, melainkan diperlukan pendekatan yang lebih menyeluruh, mencakup pengendalian internal yang efektif dan budaya organisasi yang mendukung pelaporan kecurangan. Temuan ini berlawanan dengan hasil beberapa penelitian sebelumnya, seperti yang dilakukan oleh Glenardy et al. dan Wawo . , yang menemukan bahwa kualitas audit berpengaruh signifikan terhadap pengungkapan fraud. Namun, temuan ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Sanusi et al. , yang juga menemukan bahwa kualitas audit tidak berpengaruh signifikan terhadap pengungkapan kecurangan. Penelitian terbaru oleh Saphira Mahyuda et al. bahkan menunjukkan adanya hubungan negatif antara kualitas audit dan pengungkapan kecurangan, yang mengindikasikan bahwa kualitas audit yang baik dapat mengurangi kemungkinan terjadinya kecurangan dalam perusahaan. Berdasarkan hasil analisis regresi logistik, diperoleh temuan bahwa sistem whistleblowing (X. menunjukkan koefisien regresi sebesar 19. 937 dengan nilai signifikansi sebesar 0,048. Karena nilai signifikansi 0,048 lebih kecil dari 0,05, sehingga hipotesis pertama dapat diterima. Whistleblowing merupakan tindakan yang melibatkan pengungkapan pelanggaran hukum dalam suatu organisasi dan berperan penting dalam pencegahan kecurangan (Budiadnyani et al. Kecurangan sendiri merujuk pada tindakan yang dilakukan secara sengaja dengan tujuan memperoleh keuntungan yang tidak adil atau melanggar hukum, dan dapat terjadi dalam berbagai bentuk, seperti penyalahgunaan aset, kecurangan laporan keuangan, korupsi, laporan palsu, atau kecurangan terkait komputer (IAPI. Pencegahan kecurangan lebih diutamakan daripada mengatasi akibatnya, karena jika suatu kecurangan dibiarkan tanpa penanganan dini, hal tersebut berpotensi menyebabkan kerugian yang dapat menguntungkan individu tertentu (Budiadnyani et al. Dengan adanya whistleblowing, organisasi dapat lebih proaktif dalam mengidentifikasi dan menanggulangi potensi kecurangan, yang pada gilirannya melindungi integritas dan keberlanjutan organisasi. Temuan terbaru menunjukkan bahwa sistem whistleblowing memberikan pengaruh positif dan signifikan terhadap pengungkapan fraud pada perusahaan yang tergabung dalam subsektor perbankan di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada periode 20202023. Penerapan prinsip-prinsip Good Corporate Governance (GCG) yang dilaksanakan secara independen sangat penting untuk mencapai pengungkapan fraud yang optimal. Dalam hal ini, sistem whistleblowing yang efektif dan mudah diakses oleh semua pihak terkait memiliki peran krusial. Whistleblower sering kali dapat mengungkapkan temuan yang sulit dideteksi oleh auditor, yang menunjukkan betapa pentingnya sistem ini dalam proses deteksi Teori agensi menjelaskan bahwa perbedaan kepentingan antara prinsipal dan agen dapat memunculkan fraud yang tidak mudah terlihat. Namun, melalui laporan whistleblower, hal tersebut dapat terungkap, sehingga sistem whistleblowing berfungsi sebagai alat yang sangat Page 300 Vol. No. Oktober 2024 e-ISSN: 2775-9768 | p-ISSN: 2777-0974 diperlukan untuk mencegah terjadinya fraud. Sistem ini memberikan kesempatan kepada karyawan atau pihak lain untuk melaporkan tindakan pelanggaran yang dapat merugikan perusahaan, memperkuat upaya pencegahan kecurangan, dan menjaga transparansi serta akuntabilitas organisasi. Whistleblowing adalah tindakan mengungkapkan tindakan yang melanggar hukum dalam suatu organisasi dan dapat menjadi elemen penting dalam pencegahan Lebih lanjut. Pedoman Sistem Pelaporan Pelanggaran yang dikeluarkan oleh Komite Nasional Kebijakan Governance (KNKG) mencakup beberapa aspek yang esensial, antara lain: komitmen untuk melaporkan pelanggaran, perlindungan terhadap pelapor, keberadaan unit independen yang bertanggung jawab mengelola sistem ini, serta sarana pelaporan yang khusus dan mudah diakses. Penelitian yang dilakukan oleh Siregar & Surbakti . menunjukkan bahwa keberadaan sistem whistleblowing terbukti mempengaruhi pencegahan fraud dengan cara mengurangi tingkat kecurangan yang terjadi. Sebagai tambahan. Wahyuni & Nova . menyatakan bahwa kebijakan perlindungan bagi pelapor, mekanisme pelaporan yang jelas, serta evaluasi dan perbaikan sistem whistleblowing yang berkelanjutan dapat secara signifikan mengurangi terjadinya fraud. KESIMPULAN Berdasarkan hasil analisis data yang telah dilakukan dan pembahasan mendalam mengenai pengaruh Kualitas Audit dan Whistleblowing System terhadap pengungkapan fraud pada perusahaan-perusahaan yang tergabung dalam sub-sektor perbankan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia selama periode 2020 hingga 2023, dapat ditarik kesimpulan bahwa kualitas audit, meskipun berpengaruh positif, ternyata tidak menunjukkan pengaruh yang signifikan terhadap pengungkapan fraud. Di sisi lain, sistem whistleblowing memiliki pengaruh positif yang signifikan terhadap pengungkapan fraud. Untuk penelitian-penelitian berikutnya, direkomendasikan agar ruang lingkup penelitian diperluas dengan memasukkan sejumlah variabel lain yang dapat berpotensi mempengaruhi pengungkapan serta pencegahan fraud, seperti budaya organisasi, tingkat kepatuhan terhadap regulasi yang berlaku, serta peran pelatihan bagi karyawan. Metodologi yang lebih beragam, seperti analisis longitudinal, juga diharapkan dapat menghasilkan temuan yang lebih komprehensif. Lebih lanjut, penting untuk mengeksplorasi perbedaan pengaruh faktor-faktor ini di berbagai jenis perusahaan perbankan, seperti perbedaan antara bank besar dan bank kecil. Bagi perusahaan, meskipun kualitas audit tidak menunjukkan pengaruh signifikan terhadap pengungkapan fraud, tetap penting untuk memperkuat sistem pengawasan internal serta meningkatkan transparansi dalam penyusunan laporan keuangan. Pengembangan sistem whistleblowing yang lebih efektif, bersama dengan pelatihan bagi karyawan tentang etika bisnis dan kebijakan anti-fraud, juga akan sangat berperan dalam menciptakan budaya perusahaan yang transparan dan mengurangi peluang terjadinya fraud. Untuk para investor, perhatian khusus perlu diberikan terhadap kualitas pengawasan serta kebijakan anti-fraud yang diterapkan oleh perusahaan, mengingat hal ini dapat berdampak langsung terhadap integritas laporan keuangan yang dipublikasikan. Selain itu, investor disarankan untuk mendorong perusahaan agar lebih terbuka dalam mengungkapkan informasi terkait kebijakan dan tindakan pencegahan fraud, serta melakukan diversifikasi portofolio guna memitigasi risiko yang terkait dengan potensi fraud yang mungkin terjadi. REFERENSI