Volume 16 Nomor 1 . ISSN (P): 2087-4820 ISSN (E): 2579-8995 DOI: https/doi. org/10. 54180/elbanat. PERAN GURU P ENDIDIKAN AGAMA ISLAM SEBAGAI MURABBI. MURSYID DAN USWATUN HASANAH DALAM MENGEMBANGKAN POTENSI ROHANIAH PESERTA DIDIK S EKOLAH MENENGAH PERTAMA DJAMAAoATUL ICHWAN SURAKARTA Qothrunada Fauz Romadlona. Mayana Ratih Permatasari UIN Raden Mas Said Surakarta. Jawa Tengah. Indonesia ABSTRAK Degradasi moral peserta didik menjadi tantangan penting dalam pendidikan Islam, sehingga peran guru Pendidikan Agama Islam diperlukan tidak hanya sebagai pengajar, tetapi juga sebagai pembimbing spiritual dan teladan akhlak. Keunikan ekosistem religius SMP DjamaAoatul Ichwan mendorong penelitian ini mengkaji peran guru PAI dalam mengembangkan potensi rohaniah peserta Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan jenis fenomenologi. Data diperoleh melalui observasi partisipatif, wawancara semi terstruktur, dan dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan model Miles dan Huberman melalui reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Temuan penelitian menunjukkan bahwa guru PAI berperan sebagai murabbi, mursyid, dan uswatun hasanah melalui pembiasaan ibadah, tasyjiAo, keteladanan, pendampingan personal, serta mediasi konflik. Peran tersebut mengaktualisasikan potensi fitrah. Aoaql, qalb, dan nafs peserta didik dalam bentuk kesadaran ibadah, berpikir reflektif, empati, pengendalian emosi, dan perilaku altruistik. Penelitian ini berargumen bahwa pengembangan potensi rohaniah efektif dilakukan melalui integrasi pembiasaan religius, relasi emosional guru-siswa, dan keteladanan yang konsisten dalam ekosistem sekolah. Kata Kunci: Peran Guru Pendidikan Agama Islam. Potensi Rohaniah. Murabbi. Mursyid. Uswatun Hasanah. ABSTRACT Moral degradation among students has become a significant challenge in Islamic education. therefore, the role of Islamic Religious Education teachers is needed not only as instructors but also as spiritual guides and moral role models. The uniqueness of the religious ecosystem at SMP DjamaAoatul Ichwan encourages this study to examine the role of Islamic Religious Education teachers in developing studentsAo spiritual potential. This study employed a descriptive qualitative approach with a phenomenological design. Data were collected through participatory observation, semistructured interviews, and documentation, and were then analyzed using the Miles and Huberman model through data reduction, data display, and conclusion drawing. The findings show that Islamic Religious Education teachers serve as murabbi, mursyid, and uswatun hasanah through religious habituation, tasyjiAo, exemplary conduct, personal guidance, and conflict mediation. These roles actualize studentsAo spiritual potential, namely fitrah. Aoaql, qalb, and nafs, as reflected in religious awareness, reflective thinking, empathy, emotional self-control, and altruistic behavior. This study argues that the development of spiritual potential can be effectively carried out through the integration of religious habituation, emotional teacher-student relationships, and consistent exemplary conduct within the school ecosystem. Keywords: Islamic Religious Education Teacher Roles. Spiritual Potential. Murabbi. Mursyid. Uswatun Hasanah. Pendahuluan Eksistensi guru dalam diskursus pendidikan kontemporer dipandang sebagai determinan utama yang menentukan kualitas serta arah luaran pembelajaran karena sifatnya yang multidimensional dan strategis. Guru secara profesional memiliki tugas fauzqothrunada2@gmail. Jl. Pandawa Pucangan. Kartasura. Sukoharjo. Jawa Tengah No. Telp . 781516 Fax: . Peran Guru Pendidikan Agama Islam Sebagai Murabbi. Mursyid dan Uswatun Hasanah sebagaimana tercantum dalam Undang-Undang nomor 14 tahun 2005 berupa mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta 1 Dalam konteks Pendidikan Islam guru memiliki tanggung jawab moral dan spiritual untuk menanamkan nilai keimanan, ketakwaan, dan akhlak mulia sesuai tujuan pendidikan nasional dan ajaran Islam. Guru Pendidikan Agama Islam (PAI) memikul mandat esensial sebagai pendidik yang memiliki tujuan utama berupa pembentukan kepribadian peserta didik berlandaskan nilai-nilai ketuhanan. 3 Tujuan tersebut menuntut profesionalisme guru PAI dalam pembentukan akhlak mulia di mana pemahaman agama tidak sekadar menjadi hafalan kognitif melainkan termanifestasi dalam perilaku terpuji sehari-hari. 4 Untuk mencapai tujuan tersebut guru harus berfokus pada fondasi dasarnya yaitu membangkitkan dan mengembangkan potensi rohaniah yang dimiliki peserta didik. Internalisasi nilai-nilai spiritual serta penciptaan lingkungan edukatif yang mendorong praktik etika dan religiusitas dilakukan melalui penguatan iman, memahami nilai-nilai luhur dan berinteraksi secara harmonis dengan diri sendiri, sesama dan Tuhannya. Urgensi penguatan peran guru PAI ini semakin mendesak mengingat fenomena degradasi moral yang melanda dunia pendidikan dewasa ini. Berdasarkan data Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), tercatat 1. 052 kasus pelanggaran hak anak sepanjang tahun 2025 dengan 16 persen di antaranya terjadi di lingkungan sekolah yang seharusnya menjadi ruang aman bagi peserta didik. 6 Badan Pembinaan Hukum Nasional (BPHN) melaporkan bahwa pada tahun 2024 kasus kekerasan anak lebih dari 100% dibanding tahun-tahun sebelumnya, diantaranya 31% merupakan kasus bullying terjadi 1 Ahmad Sopian. AuTugas. Peran. Dan Fungsi Guru Dalam Pendidikan,Ay Raudhah Proud To Be Professionals: Jurnal Tarbiyah Islamiyah 1, no. : 88Ae97. Muhamad Anwar. Menjadi Guru Profesional (Prenada Media, 2. 2 Ismi Khairani et al. AuPeran Guru Sebagai Model Sosial Dalam Pembentukan Karakter Peserta Didik,Ay Counselia. Jurnal Bimbingan Konseling Pendidikan Islam 6, no. : 205Ae15. Andi Hapidah. AuPerspektif Pendidikan Islam Tentang Peran Guru Sebagai Pengajar Dan Pembimbing Dalam Membentuk Karakter Peserta Didik,Ay JURNAL MAPPESONA 8, no. : 144Ae56. Nuramila Nuramila. Dewi Pusfita, and Argariawan Tamsil. AuPeran Guru Dalam Membentuk Karakter Dan Kompetensi Peserta Didik,Ay Maximal Journal: Jurnal Ilmiah Bidang Sosial. Ekonomi. Budaya Dan Pendidikan 3, 3 . : 229Ae37. Rusydi Ananda. Amiruddin Amiruddin, and Ed Muhammad RifaAoi. AuInovasi Pendidikan: Meleijitkan Potensi Teknologi Dan Inovasi Pendidikan,Ay 2017. 4 Umi Hanik Rofiqoh and Moh Ghoizi Eriyanto. AuPERAN GURU PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DALAM MEMBENTUK KEPRIBADIAN SPIRITUAL SISWA DI SEKOLAH,Ay MISBAH: Jurnal Pendidikan Dan Pemikiran Islam 1, no. Bachtiar Hariadi and Moch Sodig. AuProfesionalitas Guru Pendidikan Agama Islam Dalam Meningkatkan Kualitas Pembelajaran Siswa Di Madrasah Tsanawiyah BiAorul Ulum Sidoarjo,Ay EL-BANAT: Jurnal Pemikiran Dan Pendidikan Islam 12, no. : 138Ae58. 5 Rizki Ramadhani. Duski Ibrahim, and Munir Munir. AuINTERNALISASI NILAI-NILAI SPIRITUAL RELIGIUS: Studi Kasus Di Ribat Tazkiyat Al-Nafs Tarekat Qadiriyah Wa Naqsyabandiyah Bengkulu Selatan,Ay Conciencia 19, no. 32Ae39. Oktio Frenki Biantoro and Asep Rahmatullah. AuInternalisasi Nilai-Nilai Pendidikan Agama Islam Dalam Pembinaan Moral Siswa Di Sekolah,Ay Pelita: Jurnal Studi Islam Mahasiswa UII Dalwa 2, no. : 225Ae41. 6 KPAI KPAI. AuKasus Kekerasan Di Sekolah Meningkat. KPAI Desak Reformasi Menyeluruh Sistem Pendidikan Aman Anak,Ay Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), 2025. El Banat Vol. 16 No. Qothrunada Fauz Romadlona dan Mayana Ratih Permatasari di satuan pendidikan yang mayoritas korban adalah remaja sekolah yang mengalami depresi berat akibat menjadi korban bullying. Peran sentral guru terutama guru PAI menjadi semakin krusial dalam merespons kondisi darurat moral tersebut dengan mengaktualisasikan tanggung jawab spiritual sebagai murabbi, mursyid, dan uswatun khasanah. 8 Sebagai murabbi guru berperan sebagai pendidik yang tidak hanya melakukan transfer ilmu namun juga melakukan proses pengasuhan dan penyucian jiwa dengan penuh kasih sayang serta keikhlasan untuk menumbuhkan potensi fitrah peserta didik menuju kesempurnaan. Kedudukan ini diperkuat dengan peran sebagai mursyid di mana guru bertindak sebagai penunjuk jalan dan pembimbing spiritual yang memiliki kepekaan terhadap kondisi psikologis siswa dan mampu memberikan arahan persuasif untuk menuntun mereka pada kebenaran serta kedekatan kepada Allah SWT. 9 Akhirnya efektivitas bimbingan tersebut berakar pada uswatun khasanah, mengintegrasikan nilai-nilai ilahiah ke dalam perilaku nyata sehingga transformasi moral dapat terjadi melalui proses identifikasi figur yang konsisten. Penelitian terdahulu mengungkapkan bahwa pencegahan perundungan dapat dilakukan melalui penguatan nilai religius yang tidak hanya berfungsi sebagai pendekatan spiritual namun juga sebagai strategi psikososial yang menginternalisasikan nilai ibadah, kedisiplinan, dan toleransi. 11 Upaya guru PAI dapat bersifat preventif melalui pembiasaan dan keteladanan, kuratif melalui sanksi dan konseling, serta kolaboratif dengan melibatkan guru bimbingan konseling, wali kelas, dan orang tua. Namun demikian, meskipun mayoritas penelitian mengkaji peran guru PAI dalam pembentukan karakter dan pencegahan perilaku menyimpang berpusat pada praktik keberagamaan dan pendidikan karakter. Oleh karena itu penelitian ini dilakukan berfokus mengkaji lebih dalam proses pengasuhan elemen-elemen dasar seperti potensi rohaniah yang menjadi fondasi penguatan spiritual dan terbentuknya akhlak mulia. 7 Anisa Qoriatun Khasanah. AuHubungan Antara Perundungan (Bullyin. Dengan Motivasi Belajar Pada Siswa Korban Perundungan Di Mts N 1 PatiAy (Universitas Islam Sultan Agung, 2. 8 Engkizar Engkizar et al. AuThe Concepts of Mudarris. MuAoallim. Murabbi. Mursyid. Muaddib in Islamic Education,Ay Khalifa: Journal of Islamic Education 3, no. : 107Ae25. Rahmatsyah Gayo. AuNazmi. Dan Wahyu Laraswati. ",Ay Peran Guru Dalam Pendidikan Karakter Perspektif Al-Ghazali. " JPG: Jurnal Pendidikan Guru 6 . ): 611Ae19. 9 Septian Kurniasari and Efi Tri Astuti. AuThe Concept of Teachers and Learners in Al-GhazaliAos Perspective and Its Implications for Education in Indonesia,Ay At-Tarbawi: Jurnal Kajian Kependidikan Islam 7, no. : 1Ae14. 10 Muhammad Syafiq Mughni. AuAmplifikasi Profesi Guru Dalam Proses Pendidikan Transformatif Perspektif AlGhazali,Ay Innovative: Journal Of Social Science Research 4, no. : 13668Ae89. 11 kurniawan M Paliyan. AuPenanaman Nilai-Nilai Pendidikan Agama Islam dalam upaya Mencegah Perilaku Bullying di SMP Islam El Syihab Bandar LampungAy (UIN RADEN INTAN LAMPUNG, 2. 12 Maisaroh Maisaroh and Muhammad Romli. AuPenguatan Nilai-Nilai Relegius Dalam Mencegah Perilaku Bullying Di Madrasah Aliyah Bustanul Ulum Dlanggu,Ay Jurnal Intelek Insan Cendikia 2, no. : 13611Ae18. El Banat Vol. 16 No. Peran Guru Pendidikan Agama Islam Sebagai Murabbi. Mursyid dan Uswatun Hasanah Potensi rohaniah dalam perspektif pendidikan Islam merupakan satu kesatuan integral yang mencakup dimensi fitrah, qalb, nafs, dan Aoaql yang menjadi dasar perkembangan spiritual dan moral peserta didik. 13 Keempat elemen laten ini tidak dapat dikembangkan secara terpisah, sehingga harus dibina secara simultan dan terintegrasi melalui stimulasi lingkungan yang tepat. Maka guru PAI yang efektif dalam mengembangkan potensi rohaniah adalah mereka yang mampu mengaktualisasikan peran gandanya sebagai pendidik, pembimbing, dan teladan secara konsisten sehingga seluruh dimensi rohaniah tersebut dapat terasah dan termanifestasi dalam perilaku keseharian yang mencerminkan akhlak mulia. Menariknya ditengah kondisi dekadensi moral yang melanda secara nasional, hasil observasi dan wawancara pra-penelitian di SMP Djama'atul Ichwan Surakarta menunjukkan kondisi yang berbeda. Berdasarkan data awal yang dikumpulkan melalui wawancara dengan kepala sekolah dan guru PAI pada bulan Desember 2025, peserta didik di sekolah ini memperlihatkan perkembangan yang sangat baik pada aspek intelektual, spiritual, emosional, dan pengendalian diri. Kondisi positif ini diduga kuat berkaitan erat dengan efektivitas peran aktif guru PAI dalam proses pembinaan dan pengondisian ekosistem religius di sekolah tersebut. Kondisi positif ini mengindikasikan adanya peran guru PAI yang efektif dan sistematis dalam mengelola proses pengembangan potensi rohaniah peserta didik melalui pengondisian lingkungan. Hal ini mendorong peneliti untuk mengeksplorasi praktik baik di sekolah ini agar dapat dijadikan referensi model bagi lembaga pendidikan lain dalam mengatasi dekadensi moral. Berdasarkan urgensi tersebut, penelitian ini Pendidikan Agama Islam mengembangkan potensi rohaniah peserta didik melalui optimalisasi ekosistem religius di SMP Djama'atul Ichwan Surakarta. Metode Penelitian Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif deskriptif dengan pendekatan fenomenologi transendental Moustakas untuk menyelami dan mengungkap esensi pengalaman sadar guru PAI dalam mengembangkan potensi rohaniah peserta Dedi Sahputra Napitupulu. AuElemen-Elemen Psikologi Dalam Alquran Studi Tentang Nafs,AoAql. Qalb. Ruh. Dan Fitrah,Ay Psikoislamedia: Jurnal Psikologi 4, no. : 57Ae71. Djatnika Rachmat. AuSistem Etika Islam (Akhlak Muli. ,Ay Jakarta: Pustaka Panji Mas, 1992. El Banat Vol. 16 No. Qothrunada Fauz Romadlona dan Mayana Ratih Permatasari 15 Penelitian dilaksanakan di SMP DjamaAoatul Ichwan Surakarta pada bulan Maret sampai Mei 2026. Informan utama pada penelitian ini terdiri satu guru PAI yang terlibat langsung dalam pembinaan keagamaan dan pembentukan akhlak peserta didik, sedangkan informan pendukung meliputi kepala sekolah, guru kesiswaan dan peserta didik yang dipilih secara purposive. Prosedur pengumpulan data dilakukan melalui teknik observasi partisipatif moderat di lokasi penelitian, wawancara semi terstruktur untuk mengeksplorasi perspektif subjek secara mendalam, dan dokumentasi berupa arsip atau foto kegiatan keagamaan yang relevan. Keabsahan data dilakukan melalui triangulasi sumber, triangulasi teknik, member check, dan peningkatan ketekunan pengamatan. Proses pengolahan data mengikuti model Moustakas yang terdiri dari reduksi data melalui tahap epoche dan horizonalisasi untuk menjaga objektivitas, penyajian data dalam bentuk deskripsi tekstural berupa pengalaman informan dan struktural tentang konteks terjadinya pengalaman peran guru PAI mengembangkan potensi rohaniah peserta didik yang terorganisir serta penarikan kesimpulan melalui sintesis kedua deskripsi tersebut untuk menemukan makna fundamental dari fenomena yang diteliti. Hasil dan Pembahasan Gambaran Umum Lingkungan Religius SMP DjamaAoatul Ichwan Surakarta SMP DjamaAoatul Ichwan Surakarta mengukuhkan eksistensinya sebagai lembaga pendidikan Islam yang adaptif terhadap perkembangan zaman dengan mengintegrasikan konsep Merdeka Belajar dan transformasi digital. Sebagai sekolah berbasis Islami, institusi ini mengusung pilar utama berupa pengembangan leadership . , religious . dan altruism . edermawanan/kepedulian sosia. dalam setiap proses pembelajarannya. Berdasarkan wawancara yang dilakukan kepada pak Rozak selaku kepala sekolah, konsep sekolah tersebut dirancang menciptakan kualitas pembelajaran melalui kurikulum terpadu berbasis Islam dengan metode aktif, kreatif dan menyenangkan. 17 Menurut beliau bahwa lingkungan belajar dirancang sedemikian rupa agar interaktif dan menarik melalui pemanfaatan teknologi namun tetap berpijak pada nilai-nilai spiritual yang kuat melalui berbagai 15 Clark Moustakas. Phenomenological Research Methods (Sage publications, 1. Sugiyono. Metode Penelitian Studi Kasus (Pendekatan: Kuantitatif. Kualitatif. Dan Kombinas. , ed. Rina Fadliah, 1st ed. (Bandung: ALFABETA, 2. Muhammad Rozak Darmawan. AuWawancara,Ay (SMP DjamaAoatul Ichwa. March 13, 2026. El Banat Vol. 16 No. Peran Guru Pendidikan Agama Islam Sebagai Murabbi. Mursyid dan Uswatun Hasanah program unggulan mulai dari program keagamaan, kepemimpinan, prestasi, hingga pendampingan intensif bagi setiap peserta didik. Kebiasaan harian sekolah dimulai sejak peserta didik datang ke sekolah. Peserta didik dibiasakan salim dan mengucapkan salam di gerbang pagi hari. Setelah itu, peserta didik mengikuti apel pagi yang diisi dengan penyampaian motivasi oleh Kegiatan ini digunakan untuk melatih kedisiplinan dan memberi penguatan kepada peserta didik sebelum mengikuti pembelajaran. Peserta didik juga dibiasakan berjalan menuju masjid secara bersama-sama, melaksanakan shalat dhuha berjamaah, mengaji, mengikuti tahfidz Al-QurAoan, mengikuti kegiatan belajar mengajar, serta melaksanakan shalat dhuhur berjamaah. Di luar kegiatan akademik dan keagamaan, sekolah juga memiliki kegiatan fun learning seperti cooking fun dan keputrian, serta kegiatan ekstrakurikuler seperti olahraga, tenis, sepak bola, basket, dan pramuka. Hasil observasi juga menemukan adanya pembiasaan akhlak mulia dalam kehidupan sekolah. Pembiasaan tersebut tampak pada sikap saling menghormati kepada yang lebih tua, lebih muda, maupun sesama teman. Peserta didik juga menunjukkan sikap suportif dan tidak memandang perbedaan. Komunikasi antara guru dan peserta didik berlangsung terbuka. Hubungan antarpeserta didik lintas angkatan terlihat akrab, dan rasa kebersamaan cukup kuat. Peneliti juga mencatat bahwa suasana kekeluargaan terasa kuat di lingkungan sekolah. Salah satu kondisi yang menarik peneliti dari hasil observasi adalah tata ruang guru yang berbeda dari sekolah pada umumnya. Pak Rozak menyampaikan: AuGuru tidak memiliki ruang guru khusus, kecuali ruang kepala sekolah. Kelas peserta didik juga menjadi ruang guru dengan meja guru berada di bagian belakang barisan meja peserta didik. Ay. Kondisi ini membuat guru berada dekat dengan aktivitas harian peserta didik. Guru dapat memantau kegiatan peserta didik secara langsung, mengenali kebiasaan mereka, dan lebih cepat mengetahui apabila terjadi persoalan antarsiswa. Implementasi Peran Guru PAI dalam Pengembangan Potensi Rohaniah Dalam ekosistem sekolah ini, pak Andi selaku guru PAI diposisikan sebagai penggerak budaya religius sekolah bertugas mengarahkan peserta didik agar tetap bergerak menjalankan program keagamaan sekolah tersebut. Muhammad Rozak Darmawan. AuWawancara,Ay (SMP DjamaAoatul Ichwan Surakart. March 20, 2026. El Banat Vol. 16 No. Qothrunada Fauz Romadlona dan Mayana Ratih Permatasari Berdasarkan hasil observasi dan wawancara di lapangan,19 guru PAI memaknai dan menjalankan perannya, sebagai pembimbing yang tidak hanya berorientasi pada perkembangan kognitif namun juga perkembangan spiritual dan psikologis dimulai dengan membangun kedekatan dengan peserta didik melalui kebiasaan menyapa dan menanyakan kabar sebelum pembelajaran dimulai. Menurut beliau, kebiasaan sederhana tersebut menjadi cara guru untuk mengenali kondisi emosional peserta didik sekaligus membangun hubungan yang lebih hangat antara guru dan siswa. Guru PAI juga membina peserta didik melalui pembiasaan religius yang dilakukan secara berulang. Kegiatan shalat berjamaah, dzikir, tahfidz, apel pagi, dan berjalan bersama menuju masjid menjadi bagian dari rutinitas sekolah. Guru kesiswaan menyampaikan bahwa rutinitas yang dilakukan disekolah harapannya dapat menjadi kebiasaan yang dapat membentuk karakter peserta didik. 20 Meskipun sebagian peserta didik pada awalnya masih perlu diingatkan, tetapi setelah kegiatan tersebut berlangsung terus-menerus, peserta didik mulai mengikuti kebiasaan Penanaman nilai iman dan takwa juga dilakukan melalui pembelajaran Guru PAI menggunakan pertanyaan pemantik setelah membahas materi seperti takdir atau akhlak, misalnya Aukalau kejadian ini terjadi di hidup kalian bagaimana?Ay atau Auapa hikmah yang bisa diambil?Ay Pertanyaan tersebut digunakan agar peserta didik tidak hanya menerima materi secara mentah, tetapi juga belajar berpikir dan merenung. Kepala sekolah juga menyampaikan bahwa guru didorong agar pembelajaran agama tidak berhenti pada hafalan, melainkan mengajak peserta didik berpikir, bertanya, dan memahami makna materi dengan mengaitkannya pada fenomena kehidupan sehari-hari. Selain itu, guru PAI mendampingi peserta didik yang mengalami masalah pribadi atau konflik sosial melalui mediasi. Guru terlebih dahulu menanyakan persoalan untuk mengetahui akar masalah. Menurut Pak Andi, konflik peserta didik sering bermula dari salah paham atau candaan yang berlebihan. Setelah masalah diketahui, guru mengarahkan peserta didik agar saling memahami dan meminta maaf. Pak Rozak mengonfirmasi bahwa guru tidak langsung memberikan hukuman, tetapi mengajak peserta didik berbicara karena mereka sering kali hanya terbawa emosi sesaat sebelum terjadi masalah yang berlarut. 19 Martandi Eko Prasetyo. AuWawancara,Ay (SMP DjamaAoatul Ichwan Surakart. March 20, 2026. Annisa Palupi. AuWawancara,Ay May 4, 2026. El Banat Vol. 16 No. Peran Guru Pendidikan Agama Islam Sebagai Murabbi. Mursyid dan Uswatun Hasanah Sebagai penggerak budaya religius sekolah. Pak Andi menegaskan bahwa Auketeladanan harus dimulai dari guru. Ay Hal ini diperkuat oleh Pak Rozak yang menyampaikan bahwa guru di SMP DjamaAoatul Ichwan berperan sebagai teman sekaligus orang tua di lingkungan sekolah, serta memberi contoh dengan mengawali wudhu lebih dahulu sebelum mengarahkan peserta didik mengikuti ibadah. Keteladanan juga ditunjukkan melalui kedisiplinan waktu, kerapian berpakaian, tutur kata yang lembut, dan keistiqamahan. Selama observasi, peneliti melihat kedekatan guru dan peserta didik cukup kuat. Guru mengenali karakter setiap peserta didik sehingga lebih mudah memahami alasan di balik perilaku mereka. Alfa menyampaikan bahwa peserta didik menganggap guru sebagai teman, tidak merasa canggung, tetapi tetap menghormati guru. 21 Hal ini selaras dengan pernyataan guru PAI. AuKami membangun kedekatan dengan peserta didik supaya tahu karakteristik masing-masing anak agar mudah dalam membimbing peserta didik. Ay Guru kesiswaan juga menjelaskan bahwa kedekatan tersebut diperkuat melalui pembiasaan kecil, seperti peserta didik yang lebih muda menghormati yang lebih tua dan yang lebih tua mengayomi yang lebih muda, baik dengan guru, warga sekolah, maupun sesama peserta didik. Berdasarkan temuan lapangan tersebut, peran guru PAI dalam pembinaan potensi rohaniah yaitu guru sebagai pendidik yang membina keseluruhan diri peserta Praktik guru yang dilakukan menunjukkan bahwa proses pembinaan rohaniah dilakukan secara berkelanjutan melalui pembiasaan, relasi personal, dan internalisasi nilai Islam. Dalam perspektif Ghazali . ,23 pola tersebut sejalan dengan teori peran guru sebagai: Tabel 1 Implementasi Peran Guru Mengembangkan Potensi Rohaniah Peserta Didik Peran Guru PAI Konsep Peran Guru Murabbi Guru sebagai pendidik membimbing, mengasuh, peserta didik agar tumbuh secara utuh Bentuk Implementasi di Lapangan Menyapa dan menanyakan kabar siswa, penanaman nilai iman dan takwa, serta pembiasaan religius . halat berjamaah, apel pagi, dzikir, dan tahfidz Al-Qur'a. Alfa. AuWawancara,Ay (SMP DjamaAoatul Ichwan Surakart. May 5, 2026. 22 Palupi. AuWawancara. Ay Al Ghazali. IhyaAo Ulumuddin. Terjemahan Jilid 1 (Republika, 1. El Banat Vol. 16 No. Qothrunada Fauz Romadlona dan Mayana Ratih Permatasari Mursyid Uswatun Hasanah Pembimbing spiritual yang mendengarkan, memberi arahan nilai Islam, serta membimbing nafsu dan hati siswa. Mendengarkan persoalan nasihat/tasyjiAo . , dan melakukan mediasi konflik dengan melerai serta mengarahkan siswa untuk saling memaafkan. Menjadi teladan hidup Mengawali ibadah lebih melalui tindakan nyata dahulu . eperti berwudhu dan menjaga konsistensi dulua. , serta kedisiplinan, berpakaian lembut, dan menunjukkan . Murabbi yaitu pendidik tidak hanya fokus dalam pengembangan kognitif tetapi juga membimbing, mengasuh, dan menyucikan jiwa peserta didik agar tumbuh secara utuh. 24 Hal tersebut tampak melalui kebiasaan menyapa dan menanyakan kabar siswa sebelum pembelajaran, penanaman nilai keimanan dan ketakwaan, serta pelaksanaan pembiasaan religius seperti shalat berjamaah, apel pagi, dzikir bersama, membaca dan menghafal Al-QurAoan. Kebiasaan kecil yang dihidupkan dimulai dari mengenali kondisi emosional peserta didik dan membangun kedekatan personal, membimbing mereka agar mampu memaknai ajaran agama sebagai pedoman hidup. Seluruh aktivitas tersebut menunjukkan bahwa pembinaan rohaniah tidak hanya dilakukan melalui kegiatan ritual, tetapi juga melalui pembentukan kedisiplinan, tanggung jawab, kerja sama, dan kepedulian sosial. Tindakan tersebut menunjukkan bahwa guru berperan membina peserta didik secara holistik dengan kasih sayang, kedekatan emosional, dan pembiasaan nilai-nilai Islam nilai yang disampaikan tumbuh dan menjadi kesadaran dan perilaku sehari-hari. Mursyid. Konsep dari peran tersebut bahwa guru membantu siswa melakukan muhasabah agar mampu mengelola emosi dan memperbaiki hubungan sosial. Dalam implementasinya guru hadir sebagai mendengarkan persoalan siswa, memberikan arahan berdasarkan nilai-nilai Islam, 24 Musrifah Musrifah. AuThe Relevance of Al-GhazaliAos Tazkiyatun-Nafs Concept With Islamic Education in The Millennial Era. ,Ay Nadwa: Jurnal Pendidikan Islam 13, no. : 15Ae30. 25 Srikandi Yudistira. Maynur Andriya, and Muslim Afandi. AuPeran Guru Sebagai Murabbi Dalam Perspektif Islam,Ay EDU-RILIGIA: Jurnal Ilmu Pendidikan Islam Dan Keagamaan 9, no. 26 Nurul Safitri Eka. AuOptimalisasi Pendidikan Akhlak Berbasis Tazkiyatun Nafs di MTS Nurul IslamAy (UIN RADEN INTAN LAMPUNG, 2. El Banat Vol. 16 No. Peran Guru Pendidikan Agama Islam Sebagai Murabbi. Mursyid dan Uswatun Hasanah menanamkan muhasabah melalui nasihat atau tasyjiAo, serta membantu siswa menyelesaikan konflik dengan cara melerai, menasihati dan mengarahkan mereka untuk saling memaafkan. Peran ini menunjukkan bahwa guru membimbing nafsu dan hati peserta didik agar mampu mengendalikan emosi, menyadari kesalahan, dan memperbaiki hubungan sosial. Uswatun Hasanah yaitu guru menunjukkan keteladanan melalui tindakan nyata seperti mengawali ibadah terlebih dahulu, menjaga kedisiplinan, berpakaian rapi, bertutur kata lembut, dan berusaha menjaga konsistensi antara ucapan dan Sebagaimana ditegaskan Ghazali bahwa syarat utama seorang pendidik adalah mengamalkan ilmunya . l-'alimu bi 'ilmih. yakni konsistensi antara ucapan dan perbuatan guru menjadi bukti nyata bagi siswa bahwa nilainilai Islam bersifat aplikatif. Aktualisasi Potensi Rohani Peserta Didik Integrasi peran sebagai murabbi, mursyid dan uswatun hasanah yang dilakukan guru PAI di SMP DjamaAoatul Ichwan Surakarta berhasil membangkitkan dan mengaktualisasikan potensi rohaniah peserta didik dalam bentuk perilaku sehari-hari. Berdasarkan wawancara dan observasi yang dilakukan bahwa potensi rohaniah peserta didik SMP DjamaAoatul Ichwan Surakarta telah teraktualisasi melalui beberapa peran guru PAI dalam berbagai bentuk perilaku dan sikap keseharian. Data lapangan menunjukkan bahwa perkembangan rohaniah peserta didik tidak menyentuh empat elemen utama yaitu: Pertama, potensi fitrah (Kecenderungan kebaika. Data observasi dan wawancara menunjukkan adanya indikasi perkembangan perilaku ibadah peserta didik, dari yang semula berbasis kepatuhan terhadap regulasi sekolah ke arah pembentukan rutinitas aktivitas yang lebih konsisten. Meskipun intervensi berupa instruksi guru masih dibutuhkan dalam beberapa kasus, kecenderungan siswa untuk segera menuju masjid pasca pembelajaran mengisyaratkan adanya penguatan pola perilaku kelompok yang kondusif terhadap aktivitas keagamaan. Selain itu, pencapaian spiritual seperti penyelesaian setoran hafalan Al-QurAoan tampak berkorelasi dengan ekspresi kepuasan personal . nner satisfactio. Temuan ini 27 Muh Nurhidayat. Suraya Attamimi, and Dzakiah Dzakiah. AuThe Concept of Education According to Al-Ghazali,Ay in Proceeding of International Conference on Islamic and Interdisciplinary Studies, vol. 2, 2023, 661Ae65. Didi Supardi. Abdul Ghofar, and Mahbub Nuryadien. AuKonsep Pendidikan Moral Imam Al-Ghazali Dan Relevansinya Dengan Pendidikan Agama Islam Di Indonesia,Ay Jurnal Al Tarbawi Al Haditsah 1, no. : 3. El Banat Vol. 16 No. Qothrunada Fauz Romadlona dan Mayana Ratih Permatasari mengarah adanya sensitivitas moral peserta didik merespons secara positif stimulus aktivitas transendental tersebut. Secara sosial bahwa potensi fitrah teraktualisasi melalui perilaku altruistik yang muncul tanpa pamrih. Siswa menunjukkan inisiatif untuk menolong rekan yang kesulitan membawa barang atau sekadar mendampingi teman yang terlihat sedih tanpa harus diminta. 29 Perilaku ini mencerminkan bahwa kecenderungan bawaan menuju kebaikan berkembang dengan baik di lingkungan sekolah. Aktivitas menolong ini tidak lagi dianggap sebagai beban melainkan sebuah respons alami terhadap kondisi sosial di sekitarnya yang membuktikan bahwa fitrah manusia sebagai makhluk yang condong pada kebajikan telah terstimulasi melalui ekosistem sekolah yang Kedua, potensi Aoaql . Potensi ini terlihat ketika siswa berani mempertanyakan konsep teologis yang kompleks,30,31 seperti relasi antara klaim kebenaran tunggal agama Islam di tengah realitas keberagaman agama di Indonesia. Pertanyaan ini menunjukkan bahwa akal siswa bekerja secara aktif untuk menyintesis informasi dan mencari logika iman yang kuat. Selain itu, kesadaran bahwa "kebaikan adalah sesuatu yang disukai" menandakan bahwa daya nalar mereka telah mampu membedakan nilai-nilai universal yang esensial bagi kehidupan bermasyarakat. Fenomena di mana siswa mengurungkan niat untuk memiliki dendam ketika terjadi konflik antar sesama karena munculnya rasa kasihan dan kesadaran akan dampak buruk tindakan tersebut menunjukkan fungsi akal sebagai pertimbangan etis yang matang. 32,33 Meskipun ada dorongan untuk mengikuti perilaku negatif kelompok seperti menyontek atau membolos, munculnya perasaan tidak nyaman dan tidak tenang di dalam pikiran siswa menjadi bukti bahwa potensi AoAql mereka mampu mendeteksi ketidakselarasan antara tindakan dan prinsip kebenaran yang pada akhirnya mendorong mereka untuk mengambil pelajaran hidup demi perbaikan masa Ketiga, potensi qalb . Potensi Qalb di SMP DjamaAoatul Ichwan teraktualisasi melalui sensitivitas emosional yang tinggi terhadap konsep benar dan salah, misalnya merasa bersalah sengaja terlambat shalat34 atau perasaan tidak 29 Diva. AuWawancara,Ay (SMP DjamaAoatul Ichwan Surakart. May 5, 2026. 30 Diva. AuWawancara. Ay 31 Alfa. AuWawancara. Ay Palupi. AuWawancara. Ay 33 Diva. AuWawancara. Ay Avila. AuWawancara,Ay (SMP DjamaAoatul Ichwa. May 5, 2026. El Banat Vol. 16 No. Peran Guru Pendidikan Agama Islam Sebagai Murabbi. Mursyid dan Uswatun Hasanah nyaman jika menyontek meski tetap melakukan. 35 Hati peserta didik berfungsi sebagai detektor moral terilihat ketika mereka melakukan kesalahan, muncul perasaan gelisah dan ketidaktenangan batin yang hanya bisa diredakan melalui permohonan maaf. Perasaan bersalah ini bukan muncul karena takut akan hukuman fisik, melainkan karena adanya disonansi spiritual dalam hati mereka. Inisiatif untuk segera meminta maaf dan berjanji tidak mengulangi kesalahan menunjukkan bahwa fuAoad . ati terdala. siswa telah memiliki komitmen moral yang kuat untuk menjaga integritas diri. Selain itu potensi ini termanifestasi dalam budaya empati yang tumbuh di lingkungan sekolah yang berlandaskan altruisme. Siswa merasa bahwa membantu orang lain adalah sebuah kebiasaan yang terbentuk karena faktor lingkungan . nvironmental influenc. yang kuat. Meskipun memaafkan terkadang dirasakan sebagai hal yang sulit, munculnya kesadaran reflektif bahwa "saya juga ingin dimaafkan jika berbuat salah" menunjukkan adanya kecerdasan emosional yang Hati siswa tidak menjadi keras, melainkan tetap lembut dan terbuka terhadap proses rekonsiliasi yang merupakan ciri utama dari qalbun salim . ati yang Keempat, potensi nafs . Berdasarkan data lapangan, potensi nafs teraktualisasi melalui kemampuan manajemen diri yang disiplin terutama dalam mengelola emosi negatif. Saat menghadapi situasi yang memicu amarah, peserta didik telah memiliki mekanisme koping yang baik seperti memilih untuk diam dan cepat-cepat diingatkan oleh sesama mereka juga guru untuk meminta maaf guna menghindari ucapan kasar. Praktik ini menunjukkan adanya upaya sadar untuk mengendalikan nafs ammarah . afsu yang mendorong keburuka. menuju nafs mutmainnah . iwa yang tenan. Meskipun kecenderungan untuk mengikuti keseruan yang kurang bermanfaat terkadang muncul, siswa tetap memiliki kesadaran untuk kembali pada batasan-batasan moral yang berlaku. Fenomena tersebut didukung oleh desain lingkungan sekolah yang unik di mana tidak ada sekat ruang guru yang eksklusif sehingga interaksi guru dan murid terjadi secara intensif dan terbuka. Letak meja guru yang berada tepat di belakang barisan siswa menciptakan pengawasan yang persuasif sehingga potensi konflik antar siswa dapat segera dideteksi dan dilerai. Kondisi ini memaksa siswa untuk belajar Alfa. AuWawancara. Ay El Banat Vol. 16 No. Qothrunada Fauz Romadlona dan Mayana Ratih Permatasari mengakui kesalahan secara langsung dan menyelesaikan masalah tanpa harus berlarut-larut. Aktualisasi potensi rohaniah yang ditemukan di lapangan merupakan manifestasi dari keberhasilan guru PAI dalam mengintegrasikan peran-peran kependidikan Islam. Ghazali dalam pemikirannya menekankan bahwa pendidikan bukan sekadar transfer informasi . aAoli. , melainkan juga proses tazkiyatun nafs. Guru sebagai murabbi berperan merawat, membimbing dan menjaga fitrah agar tetap condong pada nilai-nilai ketuhanan melalui pengasuhan yang penuh kasih 36 Al-Attas merumuskan konsep taAodib sebagai proses penanaman adab yang mengintegrasikan dimensi spiritual dan intelektual demi melahirkan manusia yang baik secara utuh. 37 Maka upaya stimulasi fitrah oleh murabbi ini beririsan erat dengan konsep kecerdasan spiritual. 38 Kemampuan transendensi dan penyucian diri sebagai komponen utama kecerdasan spiritual yang tidak tumbuh di ruang hampa, melainkan membutuhkan ekosistem pengasuhan yang suportif agar potensi transendental tersebut dapat teraktualisasi menjadi kesadaran eksistensial. Kemudian peran tersebut diperkuat dengan peran sebagai mursyid untuk menajamkan fungsi 'aql dalam membedakan kebenaran serta membimbing transformasi nafs dari kecenderungan impulsif menuju ketenangan jiwa. Pada dimensi moral knowing . emahaman moral lewat 'aq. dan moral feeling . esadaran nurani dalam mengelola emosi/naf. , maka proses muhasabah dan mediasi konflik yang dilakukan guru di lapangan membuktikan bahwa penalaran kognitif siswa dikembangkan secara pararel dengan kematangan emosional mereka. Puncaknya seluruh proses bimbingan tersebut diikat oleh posisi guru sebagai uswatun hasanah yang memberikan keteladanan nyata untuk menyentuh dan mengukir komitmen moral di dalam qalb. 40 Dari perspektif social learning theory, internalisasi nilai terjadi paling efektif melalui pemodelan . 41 Peserta didik 36 S Alkhaira. G Aina Khairunisa, and P Dasar. AuKasih Sayang Pendidik Dalam Pandangan Islam,Ay Jurnal Pendidikan Tambusai 8, no. : 30600Ae601. 37 Komaruddin Sassi. AuTaAodib As A Concept of Islamic Education Purification: Study On The Thoughts of Syed Muhammad Naquib Al-Attas,Ay Journal of Malay Islamic Studies 2, no. : 53Ae64. 38 Robert A Emmons. The Psychology of Ultimate Concerns: Motivation and Spirituality in Personality (Guilford Press, 2. Thomas Lickona. Character Matters (Persoalan Karakte. : Bagaimana Membantu Anak Mengembangkan Penilaian Yang Baik. Integritas. Dan Kebajikan Penting Lainnya (Bumi Aksara, 2. 40 Iwan Sanusi et al. AuKonsep Uswah Hasanah Dalam Pendidikan Islam,Ay Masagi: Jurnal Pendidikan Karakter 1, 1 . : 1Ae20. 41 Debi Irama Irama. Sutarto Sutarto, and Syamsul RISAL. AuImplementasi Teori Belajar Sosial Menurut Albert Bandura Dalam Pembelajaran PAI,Ay Jurnal Literasiologi 12, no. El Banat Vol. 16 No. Peran Guru Pendidikan Agama Islam Sebagai Murabbi. Mursyid dan Uswatun Hasanah cenderung mengidentifikasi dan meniru perilaku konsisten dari figur otoritas yang melekat dalam keseharian mereka Di SMP DjamaAoatul Ichwan, fenomena di mana siswa mampu melakukan regulasi diri moral secara mandiri atau merasa gelisah setelah berbuat salah menunjukkan bahwa guru telah berhasil memposisikan diri melampaui pengajar Mekanisme aktualisasi potensi rohaniah peserta didik SMP DjamaAoatul Ichwan melalui peran guru PAI dijelaskan dalam tabel sebagai berikut: Tabel 2 Integrasi Peran Guru dan Aktualisasi Potensi Rohaniah Potensi Rohaniah Temuan Aktualisasi Potensi Rohaniah Peran Guru Fitrah Kesadaran ibadah spiritual . , altruisme spontan Murabbi AoAql Pertanyaan regulasi diri saat perundungan dan Mursyid Qalb Rasa empati lingkungan untuk memaafkan. Uswatun Hasanah Nafs Pengendalian Mursyid dan Murabbi Mekanisme Integrasi di SMP DjamaAoatul Ichwan Pemberian motivasi . , karakter harian. KBM, seluas-luasnya dan Keteladanan dalam . halat berjamaa. , tutur kata lembut dan disiplin waktu yang oleh siswa Pengawasan intensif . eja guru muri. dan mediasi masalah bersama. Berdasarkan tabel tersebut dapat dipahami bahwa aktualisasi potensi rohaniah peserta didik berlangsung melalui proses yang saling terhubung. Fitrah dibina melalui El Banat Vol. 16 No. Qothrunada Fauz Romadlona dan Mayana Ratih Permatasari pembiasaan ibadah. Aoaql dikembangkan melalui pertanyaan dan refleksi, qalb diasah melalui empati serta rasa bersalah setelah melakukan kesalahan, sedangkan nafs diarahkan melalui pengendalian emosi dan penyelesaian konflik. Guru PAI menjadi pusat dari proses tersebut karena menjalankan tiga peran utama secara terpadu. Sebagai murabbi, guru membentuk kebiasaan dan kepribadian religius. sebagai mursyid, guru membimbing kesadaran moral dan pengendalian diri. sedangkan sebagai uswatun hasanah, guru menghadirkan contoh nyata agar nilai agama tidak berhenti pada ucapan tetapi hidup dalam tindakan. Kesimpulan Pengembangan potensi rohaniah peserta didik di SMP DjamaAoatul Ichwan Surakarta dicapai melalui kristalisasi peran guru Pendidikan Agama Islam (PAI) sebagai murabbi, mursyid, dan uswatun hasanah yang terintegrasi dalam ekosistem sekolah. Aktualisasi potensi fitrah. Aoaql, qalb, dan nafs ini terwujud secara konkret pada berkembangnya kesadaran beribadah, kemampuan reflektif, empati, pengendalian emosi, serta perilaku altruistik peserta didik. Proses tersebut menjadi manifestasi dari penyucian jiwa . azkiyatun naf. yang dilakukan melalui pendampingan personal dan keteladanan yang konsisten. Salah satu temuan menarik penelitian ini adalah bahwa kedekatan fisik dan interaksi intensif antara guru dan peserta didik yang didukung oleh desain ruang sekolah yang inklusif berkontribusi terhadap pembentukan regulasi diri moral peserta didik. Temuan ini mengindikasikan bahwa interaksi intensif dan hubungan yang tidak terlalu berjarak antara guru dan peserta didik berpotensi mendukung berkembangnya kesadaran moral intrinsik. Secara praktis, temuan penelitian ini mengimplikasikan pentingnya penguatan peran guru PAI sebagai pembimbing spiritual melalui program pembiasaan religius, pendampingan personal, dan keteladanan yang terintegrasi dalam budaya sekolah. Meskipun demikian, penelitian ini memiliki keterbatasan karena hanya berfokus pada satu institusi pendidikan dengan karakteristik nilai Islam yang sangat kuat. Oleh karena itu, penelitian selanjutnya disarankan untuk menguji bagaimana desain interaksi guruAe peserta didik dan budaya sekolah memengaruhi pengembangan potensi rohaniah pada konteks yang lebih luas, seperti di sekolah umum, sekolah Islam terpadu, maupun El Banat Vol. 16 No. Peran Guru Pendidikan Agama Islam Sebagai Murabbi. Mursyid dan Uswatun Hasanah Referensi