Jurnal Kesehatan Ilmiah Indonesia ( Indonesian Health Scientific Journal ) Gambaran Self-Efficacy Pengobatan Pasien Paska Stroke Di RSUD Umar Wirahadikusumah Nur Fitriani1. Sri Hartati Pratiwi2. Hesti Platini3 Universitas Padjadjaran nur21001@mail. ABSTRAK Self-efficacy merupakan faktor dalam diri pasien yang dapat mempengaruhi kepatuhan dalam menjalankan pengobatan. Semakin tinggi self-efficacy, maka pasien cenderung lebih patuh sedangkan self-efficacy rendah dapat memperburuk proses pemulihan pasien. Penelitian ini bertujuan mengetahui self-efficacy pengobatan pasien paska stroke. Metode yang digunakan ialah deskriptif kuantitatif dengan melibatkan 69 pasien paska stroke rawat jalan di poli saraf dan data dikumpulkan menggunakan kuesioner Self-Efficacy for Appropriate Medication use Scale (SEAMS). Hasil pada penelitian ini ialah sebagian besar pasien paska stroke memiliki self-efficacy pengobatan yang tinggi . ,3%). Dari hasil tersebut, dapat disimpulkan bahwa pasien paska stroke merasa yakin bahwa dirinya mampu menjalani Dengan adanya penelitian ini, diharapkan tenaga kesehatan perlu memberikan perhatian pada pasien dengan self-efficacy rendah. Kata kunci: Pengobatan. Self-Efficacy. Stroke ABSTRACT Self-efficacy is a factor within the patient that can affect compliance in undergoing treatment. The higher the self-efficacy, the more compliant the patient tends to be while low self-efficacy can worsen the patient's recovery process. This study aims to determine the self-efficacy of post-stroke patient The method used is quantitative descriptive involving 69 outpatient post-stroke patients in the neurology clinic and data were collected using the Self-Efficacy for Appropriate Medication use Scale (SEAMS) questionnaire. The results of this study were that most post-stroke patients had high treatment self-efficacy . 3%). From these results, it can be concluded that post-stroke patients feel confident that they are able to undergo their treatment. With this study, it is hoped that health workers need to pay attention to patients with low self-efficacy. Keywords: Treatment. Self-Efficacy. Stroke PENDAHULUAN Pada tahun 2021. Indonesia menempati peringkat pertama di Asia Tenggara dengan jumlah kasus stroke terbanyak (Institute for Health Metrics and Evaluation, 2. Survei Kesehatan Indonesia (SKI) tahun 2023 mengemukakan prevalensi penderita stroke 178 orang. Sedangkan Provinsi Jawa Barat menempati peringkat pertama prevalensi terbanyak yaitu 114. 619 orang (Indonesian Ministry Of Health Development Policy Board, 2. Sementara pada tahun 2022, terdapat 3. 380 orang pasien stroke di Kabupaten Sumedang (Direktorat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular Dinas Kesehatan Kabupaten Sumedang, 2. Vol. 10 No. 1 Juni 2025 Stroke ialah suatu kondisi saat seseorang secara tiba-tiba mengalami gangguan fungsi saraf, baik di satu bagian tubuh ataupun di seluruh tubuh serta berlangsung >24 jam (Kemenkes, 2. Sedangkan menurut American Stroke Association . , stroke ialah suatu kondisi terjadinya gangguan saraf secara tiba-tiba akibat kerusakan pembuluh darah menuju otak, sumsum tulang belakang, atau retina mata. Merujuk pada definisi tersebut, dapat disimpulkan bahwa stroke ialah gangguan sistem saraf otak yang muncul secara tiba-tiba akibat aliran darah menuju otak Stroke dapat menimpulkan dampak berupa kelemahan otot ataupun disfagia yang dapat memperburuk kondisi kesehatan pasien Jurnal Kesehatan Ilmiah Indonesia ( Indonesian Health Scientific Journal ) (American Stroke Association, 2. Stroke berisiko terjadi kembali setelah serangan pertama dan peningkatan angka kejadian stroke seringkali berkaitan dengan ketidakpatuhan pasien selama pengobatan. Penelitian Sui & Wan . menyebutkan bahwa sebanyak 59,7% pasien stroke memiliki tingkat kepatuhan pengobatan yang rendah. Selain kondisi fisik, kondisi psikologis pasien stroke tidak boleh diabaikan, mengingat banyak pasien yang mengalami depresi dan hal ini menyebabkan penurunan aktivitas seharihari pasien (Sandrawati, 2. Penelitian Korpershoek et al. menyebutkan kepatuhan pasien stroke terhadap pengobatan juga dipengaruhi oleh self-efficacy di mana selfefficacy berperan penting dalam menaikkan kepatuhan pasien stroke dalam menjalani Menurut Bandura . , self-efficacy didefinisikan sebagai keyakinan seseorang ketika bertindak atau berkegiatan tertentu. Selfefficacy juga berfungsi sebagai media penghubung antara literasi obat dengan kepatuhan pengobatan, di mana peningkatan literasi obat meningkatkan self-efficacy dan kepatuhan pengobatan (Shen et al. , 2. Berdasarkan data rekam medis tahun 2024, terdapat 768 orang pasien paska stroke rawat jalan . ulan Januari hingga Desember 2. dan 142 orang pasien pada bulan Oktober hingga Desember 2024. Penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Nursahidah et al. dan Rohadirja et al. membahas terkait dukungan keluarga dan konsep diri pasien Sementara pelayanan kesehatan hanya berfokus pada pengobatan secara fisik dan jarang diiringi perbaikan/pemulihan secara Berdasarkan uraian tersebut, peneliti tertarik untuk meneliti terkait gambaran selfefficacy pengobatan pasien paska stroke di RSUD Umar Wirahadikusumah. RSUD Umar Wirahadikusumah yang ditentukan berdasarkan teknik Accidental Sampling. Pengumpulan data pada penelitian ini menggunakan kuesioner Self-Efficacy for Appropriate Medication use Scale (SEAMS) yang sebelumnya pernah diuji dan diterjemahkan oleh Pratama et al. self-efficacy pengobatan pada pasien paska stroke. Analisa data yang digunakan pada penelitian ini ialah analisa univariat dan data diolah menggunakan Ms. Excel 2010 serta IBM SPSS 27. METODE PENELITIAN Tabel 2. Distribusi Frekuensi Self-Efficacy Pengobatan Pasien Paska Stroke di Poli Saraf RSUD Umar Wirahadikusumah . Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kuantitatif dengan melibatkan sampel sebanyak 69 orang pasien paska stroke rawat Vol. 10 No. 1 Juni 2025 HASIL Tabel 1. Distribusi Frekuensi Karakteristik Responden di Poli Saraf RSUD Umar Wirahadikusumah . Karakteristik Usia <65 tahun Ou65 tahun Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan Status Pernikahan Menikah Belum Menikah Duda/Janda Pendidikan SMP SMA Perguruan Tinggi Serangan Stroke Pertama Sekuel Distribusi Frekuensi Berdasarkan tabel 1 dapat dilihat bahwa sebagian besar responden berusia <65 tahun . ,3%), berjenis kelamin laki-laki . ,7%), menikah . ,4%), pendidikan SD . ,4%), dan mengalami serangan stroke pertama . ,0%). Jurnal Kesehatan Ilmiah Indonesia ( Indonesian Health Scientific Journal ) Self-Efficacy Rendah Sedang Tinggi Distribusi Frekuensi Berdasarkan tabel 2 dapat dilihat bahwa sebagian besar responden memiliki selfefficacy pengobatan tinggi . ,3%). tinggi yang berarti pasien merasa yakin bahwa dirinya mampu menjalani pengobatannya. Sehingga, bagi pelayanan kesehatan diharapkan memberi perhatian pada pasien dengan temuan self-efficacy rendah. Perhatian yang diberikan dapat berupa pemberian edukasi yang mudah dipahami ataupun adanya pendampingan dari tenaga kesehatan. REFERENSI