Orian Lase1. Bezisokhi Laoli2. Asali Lase3. Eka Septianti Laoli4 JURNAL Edueco Universitas Balikpapan PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE THINK PAIR SHARE UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA DI MATA PELAJARAN IPS DI KELAS Vi SMP NEGERI 5 GUNUNGSITOLI Orian Lase1. Bezisokhi Laoli2. Asali Lase3. Eka Septianti Laoli4 Universitas Nias1. Universitas Nias2. Universitas Nias3. Universitas Nias4 pos-el: orianlase041021@gmail. com1, bezisokhilaoli@gmail. com2, asalilase2016@gmail. laoli@gmail. ABSTRAK Kesulitan belajar siswa kerap terlihat dari kurangnya respon terhadap pembelajaran yang dilakukan guru secara tradisional. Penelitian ini bertujuan meningkatkan hasil belajar mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) melalui penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share (TPS) di UPTD SMP Negeri 5 Gunungsitoli. Penelitian menggunakan metode Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang berlangsung dalam dua siklus. Subjek penelitian adalah 30 siswa kelas Vi. Setiap siklus terdiri atas tahap perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Data dikumpulkan melalui observasi, dokumentasi, dan tes hasil belajar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan model TPS mampu meningkatkan keterlibatan siswa dalam proses pembelajaran, memperbaiki keterampilan guru dalam pengelolaan kelas, serta meningkatkan capaian akademik siswa. Pada siklus I, rata-rata nilai siswa adalah 63,76% dengan ketuntasan 44%. Setelah perbaikan pada siklus II, rata-rata nilai naik menjadi 88,83% dengan ketuntasan Dengan demikian, model pembelajaran kooperatif tipe TPS terbukti efektif dalam meningkatkan hasil belajar siswa. Kata Kunci: Think Pair Share. Hasil Belajar. Model Pembelajaran. Pembelajaran Kooperatif. Penelitian Tindakan Kelas. ABSTRACT Students' learning difficulties are often seen from a lack of response to traditional teacher-led This study aims to improve learning outcomes in Social Studies (IPS) through the implementation of the Think Pair Share (TPS) cooperative learning model at the UPTD of SMP Negeri 5 Gunungsitoli. The study used the Classroom Action Research (CAR) method which took place in two cycles. The subjects were 30 eighth-grade students. Each cycle consisted of planning, implementation, observation, and reflection stages. Data were collected through observation, documentation, and learning outcome tests. The results showed that the use of the TPS model was able to increase student engagement in the learning process, improve teacher skills in classroom management, and improve student academic achievement. In cycle I, the average student score 76% with 44% completion. After improvements in cycle II, the average score increased 83% with 93% completion. Thus, the TPS cooperative learning model has proven effective in improving student learning outcomes. Keywords: Think Pair Share. Learning Outcomes. Learning Models. Cooperative Learning. Classroom Action Research. PENDAHULUAN Pendidikan menjadi fondasi utama dalam membangun sumber daya manusia yang berkualitas serta mampu bersaing. Efektivitas model pembelajaran yang dipilih dan digunakan guru turut menentukan keberhasilan proses pendidikan, (Chastanti , 2. Model pembelajaran yang memfasilitasi siswa dalam memahami materi sekaligus mendorong peningkatan hasil Selain itu, penerapan model ini dapat dikembangkan dalam berbagai konteks sehingga siswa memiliki kesempatan untuk berinteraksi secara lebih mandiri. Didalam dunia pendidikan sangat diharapkan kunci utama dalam pembelajaran yang efektif Jurnal Edueco Volume 8 Nomor 2. Desember 2025 Orian Lase1. Bezisokhi Laoli2. Asali Lase3. Eka Septianti Laoli4 JURNAL Edueco Universitas Balikpapan sehingga tercipta nya guna daya saing yang berinovasi adaptif dan memiliki daya juang yang interpral, (Abd Rahman dkk. , 2. Namun kesulitan siswa adanya beberapa dalam memahami materi pelajaran terutama dalam pembelajaran yang bersifat teoritis dan menuntut pemahaman mendalam. Hasil observasi awal di SMP Negeri 5 Gunungsitoli menunjukkan bahwa sebagian besar siswa mengalami hambatan dalam Rendahnya keterlibatan siswa secara aktif dalam kegiatan pembelajaran menjadi salah satu penyebab utama kurang optimalnya pencapaian hasil belajar, khususnya pada mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS). Kondisi ini semakin diperparah dengan masih dominannya penggunaan metode pembelajaran konvensional oleh guru, seperti ceramah, tanya jawab, maupun pemberian tugas yang sifatnya monoton. Dalam hal ini siswa hanya mendengarkan penjelasan satu arah yang diberikan guru dan mencatat yang kurang melibatkan siswa dalam proses aktif berpikir dan berdiskusi dalam pembelajaran IPS seperti kurangnya pendapat dari seorang siswa dan pemahaman untuk melihat guru dalam menjelaskan materi pembelajaran IPS. Metode ceramah yang masih dominan digunakan dalam proses pembelajaran cenderung menempatkan guru sebagai pusat aktivitas, sementara siswa hanya berperan sebagai pendengar pasif. Kondisi ini membuat kesempatan siswa untuk terlibat aktif, baik melalui diskusi dengan guru maupun interaksi bersama teman sebayanya, menjadi sangat terbatas. Akibatnya, siswa kurang termotivasi untuk berpartisipasi sehingga berdampak pada rendahnya capaian Hasil belajar yang rendah juga berkaitan dengan kesulitan siswa dalam memahami konsep-konsep abstrak yang menjadi bagian dari materi IPS, seperti kebudayaan, maupun persoalan ekonomi. Perlu adanya pembenahan pada model pembelajaran agar sistem belajar mengajar dapat lebih optimal. Selaras dengan gagasan tersebut, diperlukan penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share (TPS) dalam proses pembelajaran IPS. Melalui pendekatan ini, siswa didorong untuk lebih aktif, mengembangkan kemampuan berpikir kritis, serta berpartisipasi dalam kelompok diskusi yang terarah. Model TPS sendiri merupakan salah satu strategi meningkatkan kualitas interaksi antar siswa, baik dalam proses bertukar ide maupun dalam membangun pemahaman bersama terhadap materi yang dipelajari, (Hutasoit dkk. , 2. (Susanti & Sholihat, 2. menyatakan bahwa model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share (TPS) merupakan salah satu bentuk strategi pembelajaran kolaboratif yang dikembangkan untuk membangun serta memengaruhi pola interaksi antar siswa di Pendekatan ini dinilai efektif karena mampu menghadirkan variasi suasana belajar, khususnya dalam kegiatan diskusi, sehingga siswa tidak hanya pasif menerima informasi, tetapi juga terlibat secara aktif dalam proses berpikir dan bertukar ide. Tahapan dalam model ini terdiri dari tiga langkah utama, yaitu: Think, di mana siswa diberi kesempatan untuk berpikir secara Pair, yaitu berdiskusi bersama pasangan atau kelompok kecil. serta Share, yakni menyampaikan hasil diskusi kepada kelompok lain atau seluruh kelas agar terjadi pertukaran gagasan yang lebih luas, (Susanti & Sholihat, 2. Menurut (Umam dkk. Implementasi model Think Pair Share (TPS) terbukti mampu meningkatkan partisipasi aktif siswa dalam proses Peningkatan keterlibatan ini memberikan kontribusi positif terhadap capaian hasil belajar yang diperoleh siswa. Jurnal Edueco Volume 8 Nomor 2. Desember 2025 Orian Lase1. Bezisokhi Laoli2. Asali Lase3. Eka Septianti Laoli4 JURNAL Edueco Universitas Balikpapan Oleh karena itu, peneliti merasa penting untuk mengaplikasikan suatu model pembelajaran yang tepat sasaran guna mendorong peningkatan hasil belajar siswa. Salah satu alternatif yang dipilih adalah model pembelajaran kooperatif dengan pendekatan Think Pair Share (TPS), yang dinilai mampu memfasilitasi interaksi siswa sekaligus memperkuat pemahaman terhadap materi. Menurut (Alfiani & Setiawan, 2. hakikat dari pembelajaran kooperatif terletak pada keterlibatan siswa untuk bekerja sama dalam kelompok kecil, di mana setiap anggota memiliki tanggung jawab bukan hanya terhadap pemahamannya sendiri, tetapi juga terhadap kemajuan belajar teman Melalui interaksi yang saling mendukung, siswa dapat saling membantu dalam memahami materi yang diajarkan. Pada tahap awal, keberhasilan strategi ini juga menuntut adanya sinergi antara pendidik dan peserta didik agar proses pembelajaran berlangsung lebih efisien serta mendorong cara berpikir yang lebih terbuka dan Salah satu mata pelajaran yang relevan dengan penerapan pendekatan ini adalah Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) di tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP). Pembelajaran IPS tidak hanya berorientasi pada penguasaan pengetahuan, tetapi juga diarahkan untuk mengenalkan sejarah bangsa serta membentuk sikap sosial yang positif pada diri siswa, (Anggraeni dkk. , 2. Oleh sebab itu metode model pembelajaran merupakan solusi dalam pemecahan masalah utama yang dihadapi siswa didalam kelas dengan demikian siswa dapat berpikir dan pembelajaran TPS tersebut. Dari hal lain konteks TPS seperti tahap Think ini siswa mempunyai waktu untuk berpikir sebelum berdiskusi dengan teman kelompok, kemudian tahap Pair juga dapat saling melengkapi pemahaman yang dicurahkan oleh kelompok terhadap materi yang dibahas, selanjutnya juga tahap Share siswa dapat berspektif secara luas melalui diskusi kelompok sehingga materi dapat dipahami lebih mendalam, (Putri & Zahara, 2. Menurut (Wardani dkk. , 2. hasil belajar merupakan capaian yang diperoleh siswa setelah mengikuti proses pembelajaran, yang biasanya dinyatakan dalam bentuk angka atau skor berdasarkan hasil evaluasi atau tes yang diberikan. Menurut (Sam & Sulastri, 2. Hasil belajar dapat dipahami sebagai perubahan perilaku yang terjadi pada diri siswa setelah mengikuti proses pembelajaran, yang tampak dalam ranah kognitif, afektif, maupun psikomotorik. Hasil belajar pada dasarnya menjadi cerminan dari upaya yang dilakukan siswa selama mengikuti proses pembelajaran, sekaligus menjadi nilai yang menunjukkan sejauh mana usaha tersebut membuahkan pencapaian, (Rizal, 2. Dalam pemahaman akademik juga dapat meningkatkan konsep pemahaman sehingga juga materi pembelajaran yang diberikan dapat lebih menjadi interaktif dan Juga dari hasil ini dapat meningkatkan cara berkomunikasi dan kerja sama sehingga memiliki keterampilan yang kompleks dibandingkan sebelumnya. Berdasarkan penelitian yang dilakukan, peneliti menemukan adanya keterkaitan dengan hasil-hasil penelitian sebelumnya. Hal ini terlihat dari beberapa studi terdahulu yang telah dilaksanakan, salah satunya adalah penelitian yang dilakukan oleh (Adam dkk. AuPengaruh Model Pembelajaran Think. Pair. Share (TPS) terhadap Kemampuan Berpikir Kritis dalam Pembelajaran IPS Peserta Didik Kelas Vi di SMP Negeri 18 Jakarta. Ay Latar belakang permasalahan yang diangkat adalah kebutuhan variasi strategi pembelajaran IPS yang mendorong partisipasi, diskusi, dan Jurnal Edueco Volume 8 Nomor 2. Desember 2025 Orian Lase1. Bezisokhi Laoli2. Asali Lase3. Eka Septianti Laoli4 JURNAL Edueco Universitas Balikpapan pengembangan critical thinking pada siswa SMP. Penelitian ini bertujuan untuk menguji secara eksperimen pengaruh penerapan model Think Pair Share (TPS) dibandingkan dengan model Direct Instruction terhadap kemampuan berpikir kritis siswa kelas Vi dengan jumlah sampel 62 siswa yang terbagi dalam dua kelas. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa penggunaan TPS dalam pembelajaran IPS memberikan pengaruh signifikan terhadap peningkatan kemampuan berpikir kritis siswa. Siswa pada kelas eksperimen menunjukkan keterlibatan yang lebih aktif, rasa percaya diri yang lebih tinggi, serta kemampuan kolaborasi yang lebih baik dibandingkan kelas kontrol. Berdasarkan TPS pembelajaran yang sesuai untuk diterapkan dalam mata pelajaran IPS di tingkat SMP. Penelitian dilakukan oleh (Khasanah dkk. , 2. berjudul AuImplementasi Model Pembelajaran Think Pair Share dalam Meningkatkan Prestasi Belajar Siswa Kelas Vi SMP AlKyai Sitiaji Bojonegoro. Ay Permasalahan utama yang melatarbelakangi penelitian ini adalah kebutuhan akan strategi pembelajaran kooperatif yang terstruktur secara sistematis guna meningkatkan capaian hasil belajar siswa kelas Vi pada mata pelajaran IPS. Untuk menjawab permasalahan tersebut, penelitian ini bertujuan mengoptimalkan prestasi belajar IPS melalui Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang dilaksanakan dalam dua siklus. Setiap siklus terdiri dari tahapan perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi, serta refleksi sebagai upaya berkelanjutan untuk memperbaiki proses pembelajaran, dengan subjek kelas Vi . pada semester genap 2024/2025. Hasil penelitian melaporkan peningkatan prestasi belajar IPS setelah penerapan TPS di tiap siklus, berdasarkan data observasi, tes hasil belajar, dan dokumentasi, sehingga TPS dinilai efektif diterapkan dalam konteks IPS kelas Vi. Penelitian berikutnya dilakukan oleh (Yusmardella dkk. , 2. , berjudul AuPenerapan Model Pembelajaran Think Pair and Share pada Mata Pelajaran IPS Siswa Kelas VII di SMP Negeri 1 Muara Lakitan. Ay Latar belakang permasalahan yang dijadikan fokus adalah rendahnya ketuntasan belajar siswa IPS di kelas VII, yang disinyalir karena minimnya interaksi dan diskusi dalam proses Penelitian ini bertujuan untuk menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share (TPS) sebagai upaya meningkatkan ketuntasan hasil belajar siswa pada mata pelajaran IPS. Desain penelitian yang digunakan adalah One Group PretestPosttest dengan jumlah subjek sebanyak 125 siswa kelas VII. Berdasarkan analisis data, diperoleh temuan bahwa terjadi peningkatan hasil belajar yang signifikan setelah perlakuan diberikan, ditunjukkan oleh nilai rata-rata post-test sebesar 84 dengan tingkat ketuntasan mencapai 86% siswa. Hasil uji statistik juga memperkuat temuan ini, di mana nilai thitung lebih besar daripada t-tabel, sehingga perbedaan yang muncul dapat dinyatakan Dengan demikian, model pembelajaran TPS terbukti efektif dalam meningkatkan pemahaman siswa terhadap materi IPS sekaligus mendorong pencapaian ketuntasan belajar yang lebih optimal. Studi yang dilakukan peneliti menunjukkan adanya keterkaitan dengan tiga penelitian sebelumnya, di mana seluruhnya sama-sama menerapkan model Think Pair Share pada mata pelajaran IPS tingkat SMP dengan fokus utama untuk meningkatkan capaian hasil belajar siswa. Namun, perbedaannya terletak pada aspek fokus hasil . asil belajar, berpikir kritis, ketuntasan, prestas. , metode penelitian (PTK vs eksperime. , serta lokasi/subjek penelitian. Jurnal Edueco Volume 8 Nomor 2. Desember 2025 Orian Lase1. Bezisokhi Laoli2. Asali Lase3. Eka Septianti Laoli4 JURNAL Edueco Universitas Balikpapan METODE PENELITIAN Penelitian pendekatan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) atau Classroom Action Research sebagai metode utamanya. Model penelitian ini dirancang secara partisipatif, di mana peneliti berkolaborasi langsung permasalahan pembelajaran yang muncul di kelas. Melalui desain ini, peneliti tidak hanya berperan sebagai pengamat, tetapi juga terlibat dalam merancang strategi pembelajaran yang sesuai, melaksanakan tindakan perbaikan, serta melakukan evaluasi terhadap perubahan yang terjadi pada hasil belajar siswa. Dengan demikian. PTK memungkinkan adanya proses perbaikan berkelanjutan melalui siklus identifikasi masalah, perencanaan, implementasi tindakan, dan refleksi, sehingga dapat memberikan gambaran nyata mengenai efektivitas model pembelajaran yang diterapkan. Tahapan dalam metode Penelitian Tindakan Kelas (PTK) meliputi proses identifikasi masalah yang muncul di kelas, penyusunan rencana tindakan sebagai solusi, pelaksanaan tindakan beserta observasi jalannya pembelajaran, serta refleksi terhadap hasil yang diperoleh untuk perbaikan pada siklus berikutnya. Penelitian ini memanfaatkan pendekatan deskriptif kualitatif dengan orientasi pengembangan, sehingga fokus utamanya adalah menggali, memahami, serta penerapan model pembelajaran ThinkPair-Share (TPS) meningkatkan capaian belajar siswa. Kegiatan penelitian dilaksanakan di SMP Negeri 5 Gunungsitoli yang beralamat di Jalan Pendidikan No. Ilir. Kota Gunungsitoli. Provinsi Sumatera Utara, dengan tujuan memberikan gambaran nyata mengenai efektivitas penerapan model TPS dalam konteks pembelajaran IPS di sekolah tersebut. Penelitian ini melibatkan guru mata pelajaran IPS beserta siswa kelas Vi sebagai subjek Pemilihan siswa pada jenjang ini didasarkan pada pertimbangan bahwa mereka berada pada fase perkembangan kognitif yang ideal untuk mengikuti proses pembelajaran berbasis diskusi dan Dengan perkembangan tersebut, siswa kelas Vi mengemukakan pendapat, bekerja sama dalam kelompok, serta membangun pemahaman secara kolektif melalui model pembelajaran kooperatif seperti ThinkPair-Share (TPS). Hal ini menjadikan mereka sebagai subjek yang tepat untuk menguji efektivitas penerapan strategi pembelajaran yang menekankan interaksi, komunikasi, dan tanggung jawab bersama dalam proses belajar. Guru IPS dipilih sebagai informan utama karena memiliki peran dalam merancang dan menerapkan model TPS. Populasi penelitian ini mencakup seluruh siswa kelas Vi SMP Negeri 5 Gunungsitoli Tahun Ajaran 2024/2025, yang terbagi ke dalam lima rombongan belajar. Rinciannya meliputi 32 siswa di kelas Vi A, 30 siswa di kelas Vi B, 33 siswa di kelas Vi C, 31 siswa di kelas Vi D, serta 27 siswa di kelas Vi Dari keseluruhan populasi tersebut, peneliti menetapkan kelas Vi B dengan jumlah 30 siswa sebagai fokus penelitian. Dengan demikian, sampel penelitian terdiri atas satu kelas dari lima kelas yang ada, yaitu kelas Vi B beserta guru IPS yang mengajar di kelas tersebut. Penetapan purposive sampling, yaitu pemilihan berdasarkan kriteria tertentu yang relevan Jurnal Edueco Volume 8 Nomor 2. Desember 2025 Orian Lase1. Bezisokhi Laoli2. Asali Lase3. Eka Septianti Laoli4 JURNAL Edueco Universitas Balikpapan dengan tujuan penelitian. Adapun pertimbangan yang digunakan mencakup kondisi bahwa siswa kelas Vi B sebelumnya lebih banyak mendapatkan pembelajaran dengan metode ceramah, pemahaman materi yang bervariasi, dan secara langsung dibimbing oleh guru mata pelajaran IPS. Pertimbangan tersebut menjadikan kelas Vi B representatif untuk menggambarkan populasi sekaligus sesuai dengan kebutuhan penelitian. Dalam penelitian ini terdapat dua variabel utama, yaitu variabel X yang pembelajaran Think-Pair-Share (TPS) dan variabel Y yang merepresentasikan hasil belajar siswa. Untuk mengumpulkan data, digunakan beberapa instrumen penelitian, meliputi lembar observasi, pedoman wawancara, angket atau kuesioner, serta Keberagaman instrumen ini dimaksudkan agar data yang diperoleh lebih komprehensif dan akurat. Proses pengumpulan data dilakukan melalui observasi langsung terhadap kegiatan pembelajaran, wawancara dengan pihak terkait, pengisian angket oleh siswa, serta penelaahan dokumen yang relevan. Data yang terkumpul kemudian dianalisis menggunakan pendekatan deskriptif Analisis ini meliputi tahapan reduksi data, yang mencakup proses seleksi, pengelompokan, pemberian kode. Selanjutnya dilakukan member checking informasi, serta validasi tambahan dengan mengombinasikan teknik triangulasi dan member checking. Dengan langkah tersebut, keabsahan data dapat terjaga sekaligus memberikan gambaran yang objektif terhadap efektivitas model pembelajaran TPS. HASIL DAN PEMBAHASAN Partisipasi aktif siswa dalam kegiatan proses pembelajaran (Thin. Kualitas diskusi dalam pasangan kelompok ( Pair ) Keberanian menyampaikan pendapat saat berbagi (Shar. Kemampuan siswa memahami materi Respon positif yang ditunjukkan siswa berupa rasa antusias dan dorongan motivasi selama terlibat dalam aktivitas belajar di kelas. Terdapat beberapa siswa yang kurang memperhatikan langkah-langkah model pembelajaran yang diterapkan. Hasil Observasi untuk Guru : 61,4%, dikategorikan cukup aktif Hasil Observasi untuk siswa : 69,58%, dikategorikan antara cukup aktif. Pada Pertemuan ke-2 Siklus I. Pelaksanaan pembelajaran IPS melalui penerapan model kooperatif tipe ThinkPair-Share (TPS) pada pertemuan Hasil Penelitian Hasil analisis persentase observasi pada siklus I pertemuan pertama menunjukkan bahwa tingkat keaktifan siswa masih berada pada kategori Aukurang aktifAy. Kondisi ini mengindikasikan bahwa proses pembelajaran pada tahap awal dinamika belajar yang interaktif dan efektif sesuai dengan harapan. Temuan ini sekaligus menjadi bahan evaluasi penting yang memperlihatkan adanya sejumlah aspek dalam penerapan model Think-PairShare (TPS) yang perlu diperbaiki dan Dengan adanya evaluasi tersebut, guru maupun peneliti dapat merancang strategi perbaikan pada siklus berikutnya agar keterlibatan siswa meningkat dan kualitas pembelajaran menjadi lebih optimal. Berdasarkan hasil pengamatan pada siklus I Pertemuan ke-2, berikut adalah temuan utama dari proses pembelajaran : Jurnal Edueco Volume 8 Nomor 2. Desember 2025 Orian Lase1. Bezisokhi Laoli2. Asali Lase3. Eka Septianti Laoli4 JURNAL Edueco Universitas Balikpapan perkembangan yang cukup signifikan bila pertemuan pertama. Peningkatan tersebut terlihat dari keterlibatan siswa yang lebih aktif dalam diskusi, keberanian mereka dalam menyampaikan pendapat, serta kemampuan bekerja sama yang semakin Temuan ini memberikan indikasi TPS berkelanjutan dapat membawa perubahan positif terhadap dinamika kelas dan efektivitas proses pembelajaran IPS. Hasil dari pengamatan guru selama proses pembelajaran dianalisis dengan sempurna dan teliti terlihat adanya peningkatan partisipasi aktif dengan metode baru, hal ini menunjukkan bahwa Model TPS mulai memberikan pengaruh positif terhadap proses belajar siswa. Setelah melaksanakan pembelajaran pada siklus I, diperlukan adanya teknik evaluasi hasil belajar siswa, berikut adalah Rata-rata Ketuntasan Hasil Belajar Siswa . ilai Ou . Berdasarkan hasil tes formatif yang diberikan setelah pelaksanaan siklus I, diperoleh rata-rata capaian belajar siswa sebesar 62,25%. Nilai ini masih berada di bawah kriteria ketuntasan minimal yang ditetapkan, yaitu 65, sehingga dapat disimpulkan bahwa ketuntasan belajar siswa pada siklus pertama belum sepenuhnya tercapai. Data ini sekaligus menggambarkan bahwa penerapan model pembelajaran Think-Pair-Share pada tahap awal masih memerlukan penyesuaian dan perbaikan agar hasil belajar siswa dapat meningkat pada siklus berikutnya. Presentase Belum Tuntas . ilai O . Dari hasil progress belum tuntas sebesar 38% adanya beberapa subjek siswa yang belum mencapai standar pencapaian yang ditetapkan pada evaluasi,beberapa siswa ini kesulitan dan menyesuaikan tata cara belajar dalam menjawab evaluasi tes dan adapun yang kurang aktif/kurang pembelajaran berlangsung. Setelah dilakukan evaluasi terhadap hasil observasi dan capaian belajar siswa pada siklus I, berikut adanya refleksi sebagai acuan yang perlu : Kemampuan Guru Mengimplementasikan Model Pembelajaran Think-Pair-Share (TPS). Hasil evaluasi pada pertemuan pertama hingga pertemuan kedua menunjukkan bahwa rata-rata nilai kemampuan guru dalam menerapkan model TPS 59,9% (Lamp. Persentase tersebut masih berada dalam kategori Aukurang aktifAy, sehingga mengindikasikan bahwa pelaksanaan model pembelajaran pada siklus I Temuan memperlihatkan adanya keterbatasan guru dalam mengelola strategi TPS secara maksimal, baik dari segi interaksi siswa, maupun pengaturan dinamika kelas. Dengan demikian, diperlukan upaya perbaikan pada siklus berikutnya agar implementasi model TPS dapat berjalan lebih efektif dan Observasi terhadap siswa pada siklus I menunjukkan kurangnya keaktifan dalam memberikan ide didepan kelas, sehingga perbaikan ini kepada siswa diterapkan pada siklus II untuk mengatasi kelemahan yang di temui. Hasil tes belajar pada siklus I memperlihatkan capaian siswa masih Hal ini dipengaruhi oleh keterbatasan dalam memahami materi serta kurangnya efektivitas saat siswa mengerjakan tahap Think . secara mandiri, sehingga proses pembelajaran belum berjalan optimal. Jadi pada siklus II dilanjutkan dengan memberikan tes hasil belajar untuk mengatasi kelemahan yang ditemui. Hasil Belajar Siswa Rata-rata hasil belajar siswa pada tes evaluasi siklus I mencapai 63,76% dan Jurnal Edueco Volume 8 Nomor 2. Desember 2025 Orian Lase1. Bezisokhi Laoli2. Asali Lase3. Eka Septianti Laoli4 termasuk kategori cukup aktif. Meskipun ada peningkatan, capaian ini masih belum memenuhi target ketuntasan 65%. Presentase Ketuntasan Pembelajaran Presentase ketuntasan pembelajaran pada siklus I adalah 44,00% (Lamp. Hasil penelitian pada siklus I menunjukkan bahwa refleksi rata-rata masih berada pada tingkat rendah dan perlu perbaikan. Kekurangannya dalam kekurangan dan penguasaan dalam penyampaian materi pembelajaran oleh Selain itu,berdasarkan pengamatan terhadap siswa, sebagian besar mereka tidak aktif. Sehingga untuk mengatasi hal ini peneliti berupaya akan melanjutkan pada siklus II. Refleksi Siklus II dilaksanakan setelah seluruh rangkaian pembelajaran dengan model Think-Pair-Share (TPS) selesai dan dievaluasi. Tujuan refleksi adalah untuk menilai peningkatan kualitas pembelajaran dari aspek guru, siswa, dan TPS Penilaian Kemampuan Guru Pada Siklus II pertemuan 1 dan 2, keterampilan guru dalam menerapkan TPS peningkatan dibandingkan Siklus I. Guru mampu: Menyampaikan materi dengan . Memberikan arahan yang jelas dalam tahap Think. Pair, dan Share. Memonitor diskusi pasangan secara aktif. Memberikan umpan balik yang Dari hasil tersebut menunjukkan peningkatan rata-rata mencapai 87,8% Jurnal Edueco Volume 8 Nomor 2. Desember 2025 JURNAL Edueco Universitas Balikpapan . , yang belum mencapai target yang Hal ini menegaskan bahwa capaian belajar belum sesuai target sehingga diperlukan peningkatan yang lebih optimal dalam pemahaman dan penerapan materi melalui Model Pembelajaran Think Pair Share. Model Pembelajaran Think-Pair-Share. Aktivitas Siswa Aktivitas siswa dalam pembelajaran TPS ditunjukkan dengan: Keaktifan saat berpikir mandiri dan mencatat ide (Thin. Keterlibatan aktif dalam diskusi pasangan (Pai. Kemampuan pendapat di depan kelas (Shar. Munculnya inisiatif bertanya dan Berdasarkan dari tahapan observasi siswa mencapai rata-rata 90,39% sehingga dikategorikan sangat aktif menunjukkan Model Pembelajaran Think-Pair-Share juga mengalami peningkatan yang bermutu dan baik. Hasil Belajar Siswa Evaluasi hasil belajar siswa pada akhir Siklus II menunjukkan rata-rata capaian sebesar 88%, yang termasuk kategori sangat aktif. Pencapaian ini telah melampaui standar KKM 65%, menandakan keberhasilan penerapan model pembelajaran Think Pair Share (TPS). Implementasi strategi ini tidak hanya meningkatkan hasil belajar perkembangan kemampuan guru dalam meningkatkan partisipasi siswa, serta memperkuat pencapaian kompetensi dalam mata pelajaran IPS Terpadu di UPTD SMP Negeri 5 Gunungsitoli. Orian Lase1. Bezisokhi Laoli2. Asali Lase3. Eka Septianti Laoli4 JURNAL Edueco Universitas Balikpapan Tabel 1. Rekap Hasil Penelitian Aspek Penilaian Indikator Observasi Guru Perencanaan. Observasi Aktivitas Siswa Dokumentasi Tes Hasil Belajar Partisipasi, kerja sama, komunikasi, tanggung jawab Foto, video, catatan kegiatan TPS Ketuntasan minimal . ilai Ou Skor Ratarata Siklus I Persentase (%) Siklus I 59,95% Skor Ratarata Siklus II Persentase (%) Siklus II 87,8% 62,25% 90,3% 63,76 ata-rata nilai sisw. Rata-Rata Nilai Siswa KET 88,83 . atarata nilai 62% Belum 89% tuntas Sumber : Olahan Peneliti Berdasarkan tabel yang disajikan, terlihat adanya peningkatan signifikan pada seluruh aspek observasi maupun evaluasi antara Siklus I dan Siklus II. Peningkatan paling menonjol terdapat pada capaian hasil belajar siswa, yang semula hanya 62% dan belum memenuhi ketuntasan, kemudian meningkat menjadi 89% dan dinyatakan tuntas. Selain itu. Pembahasan Permasalahan utama yang dihadapi dalam pembelajaran IPS di kelas Vi SMP adalah rendahnya tingkat keterlibatan siswa serta capaian hasil belajar yang belum optimal. Kondisi ini umumnya muncul karena proses pembelajaran masih didominasi oleh metode ceramah yang bersifat satu arah, sehingga siswa kurang diberi ruang untuk berinteraksi, bertukar kemampuan berpikir kritis. Oleh sebab itu, dibutuhkan strategi pembelajaran yang menempatkan siswa sebagai subjek aktif dalam proses belajar. Salah satu pendekatan yang relevan adalah model pembelajaran kooperatif Think-Pair-Share (TPS). Model TPS menawarkan tiga tahapan utama yang terintegrasi, yakni hasil observasi terhadap guru maupun siswa juga menunjukkan perkembangan Hal ini menegaskan bahwa penerapan model pembelajaran ThinkPair-Share (TPS) mampu memberikan kontribusi nyata dalam meningkatkan mutu proses dan hasil pembelajaran IPS pada siswa kelas Vi. Jurnal Edueco Volume 8 Nomor 2. Desember 2025 Think, di mana siswa diarahkan untuk mengolah dan memahami materi secara Pair, yang memberi kesempatan untuk berdiskusi serta bertukar ide dengan dan Share, yaitu tahap berbagi gagasan kepada kelompok atau seluruh Pola ini tidak hanya meningkatkan keberanian dan kepercayaan diri siswa, tetapi juga memperkuat keterampilan sosial dan akademik melalui kolaborasi. Hasil bahwa penerapan model TPS mampu menciptakan suasana belajar yang lebih dinamis, mendorong partisipasi aktif, serta membantu siswa memahami konsep IPS dengan lebih mendalam. Melalui tahapan berpikir, berdiskusi, dan berbagi, siswa tidak hanya memperoleh pemahaman konseptual, tetapi juga mengasah keterampilan komunikasi dan kerja sama Orian Lase1. Bezisokhi Laoli2. Asali Lase3. Eka Septianti Laoli4 JURNAL Edueco Universitas Balikpapan yang selama ini kurang tersentuh dalam metode tradisional. Dengan demikian. TPS menjadi alternatif solusi yang efektif untuk mengatasi permasalahan rendahnya keterlibatan siswa dan hasil belajar, sekaligus menjadikan proses pembelajaran kemampuan berpikir kritis. Hasil adanya peningkatan yang cukup signifikan pada aktivitas siswa dari Siklus I ke Siklus II. Pada tahap awal (Siklus I), sebagian besar siswa masih tampak kurang percaya diri ketika memasuki fase share, sehingga tingkat aktivitas yang dicapai baru sekitar Namun, pada pertemuan kedua dalam siklus yang sama terjadi perbaikan dengan capaian 69%. Secara keseluruhan, rata-rata aktivitas siswa pada Siklus I tercatat sebesar 62,25%. Memasuki Siklus II, perkembangan terlihat lebih menonjol. Siswa mulai terlibat lebih aktif dalam diskusi kelompok, menunjukkan kepercayaan diri yang lebih tinggi dalam menyampaikan ide, serta berpartisipasi lebih konsisten. Hal ini tercermin dari skor aktivitas yang 89,79% pertemuan pertama dan mencapai 91% pada pertemuan kedua. Rata-rata capaian aktivitas siswa pada siklus ini naik 90,39%, menandakan efektivitas penerapan model pembelajaran Think-Pair-Share (TPS) dalam mendorong partisipasi aktif dan keberanian siswa. Hasil observasi terhadap kinerja guru juga memperlihatkan adanya peningkatan yang signifikan dalam penerapan model Think-Pair-Share (TPS). Pada Siklus I, guru masih berada pada tahap penyesuaian dengan prosedur pembelajaran TPS. Keterbatasan terlihat terutama pada alokasi waktu diskusi yang belum berjalan efektif, sehingga skor observasi pada pertemuan pertama hanya mencapai 58,5% dan meningkat sedikit pada pertemuan kedua menjadi 61,4%. Secara keseluruhan, rata-rata hasil observasi guru pada siklus ini baru mencapai 59,95%. Memasuki Siklus II, kemampuan guru semakin berkembang. Guru menjadi lebih terampil dalam mengarahkan siswa, mengelola diskusi, serta mengatur strategi pembelajaran yang sesuai pada setiap tahap pelaksanaan TPS. Peningkatan ini tercermin dari skor observasi yang melonjak menjadi 82,8% pada pertemuan pertama dan naik lebih tinggi lagi hingga 92,8% pada pertemuan kedua. Rata-rata skor keseluruhan guru pada siklus ini tercatat sebesar 87,8%, yang menunjukkan TPS semakin optimal dan berdampak positif pada efektivitas pembelajaran di kelas. Hasil evaluasi formatif pada setiap akhir siklus menunjukkan adanya peningkatan yang nyata pada capaian belajar siswa. Pada Siklus I, rata-rata nilai yang diperoleh siswa sebesar 63,76%, sedangkan pada Siklus II meningkat menjadi 88,83%. Selisih kenaikan sebesar 25,07% ini menegaskan bahwa penerapan model Think-Pair-Share (TPS) efektif dalam membantu siswa memahami materi IPS. Peningkatan tersebut mencerminkan bahwa melalui interaksi yang lebih terarah membangun pemahaman yang lebih prestasi belajarnya. Berdasarkan hasil analisis dari kedua penerapan model pembelajaran ThinkPair-Share (TPS) membawa pengaruh positif yang nyata, baik terhadap peningkatan keterlibatan siswa dalam proses belajar, keterampilan guru dalam mengelola pembelajaran aktif, maupun pencapaian hasil belajar siswa yang Dengan adanya perubahan tersebut, penelitian ini dinilai berhasil mencapai pelaksanaan dihentikan pada Siklus II karena indikator keberhasilan sudah terpenuhi, baik dari segi metode Jurnal Edueco Volume 8 Nomor 2. Desember 2025 Orian Lase1. Bezisokhi Laoli2. Asali Lase3. Eka Septianti Laoli4 pengajaran guru maupun capaian belajar siswa di kelas. Temuan penelitian mengungkapkan bahwa penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Think-Pair-Share (TPS) memberikan kontribusi positif terhadap peningkatan aktivitas belajar sekaligus hasil belajar siswa pada mata pelajaran IPS di kelas Vi SMP. Hal ini tercermin dari data observasi yang memperlihatkan adanya perkembangan signifikan dalam keaktifan siswa, mulai dari kemampuan berpikir secara mandiri, keterlibatan dalam diskusi bersama teman sebaya, hingga keberanian menyampaikan gagasan secara terbuka di dalam kelompok. Temuan (Ziyad, menyatakan bahwa AuTPS adalah model pembelajaran kooperatif yang memberi siswa waktu untuk berpikir, merespon, dan saling membantu satu sama lain. Ay Dalam peningkatan kemampuan memahami materi setelah melalui tahapan berpikir . , berdiskusi . , dan berbagi . secara sistematis. Hal ini juga diperkuat oleh (Zulela dkk. , 2. yang menyebutkan bahwa Model pembelajaran kooperatif tipe TPS didesain untuk mempengaruhi hubungan interaksi siswa melalui kerja sama koordinasi dan kooperative dalam proses belajar. Secara menunjukkan kemampuan yang lebih baik KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian yang dilaksanakan melalui dua siklus tindakan kelas, dapat disimpulkan bahwa penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Think-Pair-Share (TPS) memberikan pengaruh positif baik terhadap proses maupun hasil pembelajaran IPS di kelas Vi SMP. Dari sisi guru, terlihat adanya merancang serta menerapkan model TPS. Pada siklus pertama, guru masih berada Jurnal Edueco Volume 8 Nomor 2. Desember 2025 JURNAL Edueco Universitas Balikpapan dalam mengelola kelas pada siklus II, terutama dalam memberikan waktu yang cukup di setiap tahapan TPS dan memfasilitasi siswa yang kurang aktif. Temuan ini mendukung pendapat (Ramadanti mengemukakan bahwa AuLima unsur penting dalam pembelajaran kooperatif meliputi tanggung jawab individu, interaksi tatap muka, kerja kelompok, keterampilan sosial, dan evaluasi Ay Kelima unsur tersebut terealisasi dengan baik selama proses pembelajaran berlangsung. Selain itu, penelitian ini juga mendukung temuan sebelumnya oleh (Adam dkk. , 2. yang menyatakan TPS meningkatkan kompetensi kerja sama siswa dalam kelompok yang sederhana serta memicu peningkatan keberanian siswa untuk menyampaikan pendapat. Temuan penelitian saat ini menguatkan hal tersebut, khususnya pada tahapan Pair dan Share, di mana siswa tampak lebih aktif menyampaikan pendapat secara terbuka pada siklus II. Dengan demikian, hasil penelitian ini tidak hanya sesuai, tetapi juga memperjelas dan membuktikan teori serta hasil penelitian sebelumnya mengenai TPS pemahaman konsep, serta hasil belajar siswa secara keseluruhan pada tahap penyesuaian terhadap langkahlangkah pembelajaran dengan nilai ratarata keterampilan mengajar sebesar 59%. Namun, setelah dilakukan refleksi dan perbaikan pada siklus kedua, kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran meningkat secara signifikan hingga mencapai 87%, yang menandakan adanya perkembangan profesional yang nyata. Keaktifan siswa juga menunjukkan peningkatan yang konsisten. Pada siklus I, sebagian besar siswa masih pasif, ragu Orian Lase1. Bezisokhi Laoli2. Asali Lase3. Eka Septianti Laoli4 JURNAL Edueco Universitas Balikpapan untuk terlibat dalam diskusi, dan belum terbiasa menyampaikan pendapat. Ratarata partisipasi siswa pada tahap ini sebesar 62%. Setelah guru menerapkan pendekatan yang lebih intensif, pada siklus II keaktifan siswa melonjak menjadi 90%, ditandai dengan meningkatnya keberanian dan keterlibatan aktif mereka dalam proses Hasil belajar siswa turut mengalami peningkatan signifikan. Pada siklus I, nilai rata-rata hasil belajar hanya mencapai 63,76 dengan tingkat ketuntasan 44%. Namun, setelah perbaikan strategi di siklus II, nilai rata-rata naik menjadi 88,83 dengan ketuntasan belajar mencapai 93%. Fakta ini menunjukkan bahwa penerapan TPS mampu meningkatkan pemahaman siswa terhadap materi IPS, karena strategi ini memberi kesempatan bagi mereka untuk berpikir mandiri, berdiskusi, serta Dari hasil penelitian tersebut, peneliti menyarankan agar penggunaan TPS mengembangkan keaktifan dan capaian belajar siswa, terutama pada pembelajaran IPS yang menekankan pemahaman Selain itu, pihak sekolah diharapkan memberikan dukungan berupa pelatihan atau pendampingan kepada guru dalam penerapan model pembelajaran TPS, pembelajaran di masa mendatang. Bagi peneliti berikutnya, kajian ini dapat diperluas sehingga mampu melahirkan ide-ide baru serta perspektif berbeda untuk menguji efektivitas TPS dalam konteks yang lebih luas. DAFTAR PUSTAKA