Jurnal Farmasi SYIFA Volume 4. Nomor 1. Halaman 14-18. Februari 2026 Homepage: https://wpcpublisher. com/jurnal/index. php/JFS DOI: 10. 63004/jfs. Analisis Dengan Metode ABC Pada Tahap Pengendalian Obat Antibiotik di Instalasi Farmasi RSUD Ibu Fatmawati Soekarno Surakarta Periode Tahun 2024 ABC Method Analysis in the Control Stage of Antibiotic Drugs at the Pharmacy Installation of Ibu Fatmawati Soekarno Surakarta Hospital for the 2024 Period Hanugrah Ardya Crisdian S1*. Berliana Luthfiananda1. Agnes Prawistya Sari1. Elizabet Davira Chatrine1 Program Studi Farmasi Program Sarjana. Universitas Kusuma Husada Surakarta. Surakarta. Indonesia *Corresponding author:hanugrahardya8@gmail. ABSTRAK Pengendalian obat adalah salah satu tahapan dalam pelayanan kefarmasian yang dilakukan terhadap jenis dan jumlah persediaan dan penggunaan sediaan farmasi. Pengendalian obat dilakukan oleh Instalasi Farmasi bersama dengan Komite Farmasi dan Terapi di Rumah Sakit yang bertujuan untuk memastikan persediaan efektif dan efisien atau tidak terjadi kelebihan, kekurangan, kekosongan ataupun kadaluwarsa. Antibiotik digunakan untuk mencegah dan mengobati penyakit-penyakit infeksi. Antibiotik merupakan salah satu obat dimana pemakaiannya cukup tinggi dan menggunakan alokasi dana yang besar. Tujuan penelitian ini Untuk mengetahui analisis ABC pada pengendalian obat antibiotik di Instalasi Farmasi RSUD Ibu Fatmawati Soekarno Surakarta. Penelitian ini dilakukan dengan metode deskriptif analitik kohort menggunakan pendekatan kuantitatif. Rancangan penelitian menggunakan data Data yang diperoleh selanjutnya dilakukan analisis data menggunakan excel. Dari hasil penelitian, analisis metode ABC pada obat antibiotik kategori A terdapat 6 item obat . ,2%) dengan nilai investasi Rp 2. 816,00 . ,1%), kategori B terdapat 11 item obat . ,6%) dengan nilai investasi Rp 615. 428,00 . ,8%), dan kategori C terdapat 42 item obat . ,2%) dengan nilai investasi Rp 186. 883,00 . ,1%). Kata kunci: Obat Antibiotik. Pengendalian Obat. Metode ABC This is an open access article under the CC BY-NC 4. ABSTRACT Drug control is one of the stages in pharmaceutical services carried out on the type and quantity of supplies and use of pharmaceutical preparations. Drug control is carried out by the Pharmacy Installation together with the Pharmacy and Therapeutics Committee at the Hospital which aims to ensure effective and efficient supplies or no excess, shortage, empty or expired. Antibiotics are used to prevent and treat infectious diseases. Antibiotics are one of the drugs where the use is quite high and uses a large allocation of funds. The purpose of this study was to determine the ABC analysis of antibiotic drug control in the Pharmacy Installation of Ibu Fatmawati Soekarno Surakarta Hospital. This study was conducted using a descriptive analytical cohort method using a quantitative approach. The study design used retrospective data. The data obtained were then analyzed using Excel. From the research results, the ABC method analysis on antibiotic drugs in category A contained 6 drug items . 2%) with an investment value of Rp. 2,860,029,816. 1%), category B contained 11 drug items . 6%) with an investment value of Rp. 615,854,428. 8%), and category C contained 42 drug items . 2%) with an investment value of Rp. 186,236,883. 1%). Keywords:Antibiotics Drug. Drug Control. ABC Method PENDAHULUAN Pengendalian obat adalah salah satu tahapan dalam pelayanan kefarmasian yang dilakukan terhadap jenis dan jumlah persediaan dan penggunaan sediaan farmasi, pengendalian obat dilakukan oleh Instalasi Farmasi bersama dengan Komite Farmasi dan Terapi di Rumah Sakit yang bertujuan untuk memastikan persediaan efektif dan efisien atau tidak terjadi kelebihan, kekurangan, kekosongan ataupun kadaluwarsa (Pratasik dkk. Antibiotik merupakan salah satu jenis obat dengan penggunaan terbanyak pada rawat inap maka perlu dilakukan pengendalian obat agar tidak terjadi kekosongan atau kekurangan obat. Penelitian tahap pengendalian obat menggunakan Jurnal Farmasi SYIFA metode analisis ABC (Always Better Contro. sangat berguna dan sangat penting dalam memfokuskan perhatian manajemen terhadap penentuan jenis barang yang paling penting dan perlu diprioritaskan dalam persediaan dan membantu dalam mengelola persediaan dengan lebih baik (Oviani dkk. , 2. Pada penelitian ini menggunakan metode analisis ABC dikarenakan pada beberapa rumah sakit terdapat obat yang membutuhkan biaya banyak dan juga terdapat obat yang jarang dipakai. Analisis ABC di RSI Siti Aisyah Madiun sudah dilakukan namun belum diterapkan secara Instalasi farmasi RSI Siti Aisyah Madiun telah melaksanakan Analisis ABC untuk tahun 2016 sedangkan tahun 2017 belum Padahal hal ini sangat berguna untuk menunjang kegiatan manajemen farmasi khusus nya untuk perencanaan selanjutnya di tahun 2018 ini Ini terjadi karena Analisis ABC belum ditetapkan di dalam SOP Instalasi Farmasi rumah sakit sehingga pengendalian obat belum dilaksanakan secara efektif. Sedangkan dalam menggunakan metode konsumsiy, penggunaan obat yang keyluar tidak dapat dipastikan, pasti ada perubahan obat-obat yang keluar. Sehingga akan mengalami stok kurang dan stok berlebih. Oleh karena itu. Analisis ABC diperlukan dalam pengendalian obat-obatan di RSI Siti Aisyah, terutama untuk obat-obat yang jumlah pemakaian paling banyak sehingga anggarannya juga dapat dikendalikan (Murni, 2. Dengan demikian, adanya analisis ABC ini diharapkan dapat jenis-jenis membutuhkan biaya terbanyak serta dapat membantu seseorang untuk mengidentifikasi barang-barang yang paling penting, paling sering dipakai atau paling sering terjual sehingga dapat menghemat biaya. Pengendalian dengan aktivitas pengaturan persediaan bahan agar dapat menjamin persediaan dan pelayanannya Volume 4. Nomor 1. Februari 2026 kepada pasien. Analisis ABC ini menekankan pada persediaan yang mempunyai nilai penggunaan yang relatif tinggi atau mahal. Dengan analisis ABC, jenis-jenis perbekalan farmasi ini dapat diidentifikasi untuk kemudian dilakukan evaluasi lebih lanjut. Analisis ini berguna pada setiap sistem suplai untuk menganalisis pola penggunaan dan nilai penggunaan total semua item obat. Hal itu memungkinkan untuk mengklasifikasikan itemitem persediaan menjadi 3 kategori (A,B, dan C) sesuai dengan nilai penggunaannya (Murni, 2. METODE Jenis penelitian ini adalah penelitian dengan metode analitik kohort menggunakan pendekatan Rancangan penelitian ini menggunakan data retrospektif yang berupa jumlah item obat antibiotik, anggaran/harga obat, dan data pemakaian obat selama satu tahun. Pengumpulan data didapatkan melalui telaah dokumen obat di Instalasi Farmasi RSUD Ibu Fatmawati Soekarno. Data sampel penelitian ini meliputi data catatan atau hasil laporan penggunaan/penggunaan obat antibiotik pada periode Januari Ae Desember 2024 di Instalasi Farmasi RSUD Ibu Fatmawati Soekarno. Penelitian ini dilaksanakan di Instalasi Farmasi RSUD Ibu Fatmawati Soekarno Surakarta pada Rabu, 12 Maret 2025, data yang diambil periode Januari-Desember Tahun 2024. Setelah data diproses lalu dikategorikan berdasarkan jenis obat, jumlah obat, dll, selanjutnya dilakukan analisis menggunakan metode ABC. Analisis ABC ini menekankan pada persediaan yang mempunyai nilai penggunaan yang relatif tinggi atau mahal. Pembagian 3 kategori tersebut adalah sebagai Obat yang termasuk dalam kelompok A menyerap dana sekitar 70%-80% Obat kelompok B menyerap dana sekitar 15%-20%. Obat kelompok C menyerap dana sekitar 5%-10%%. Jurnal Farmasi SYIFA Volume 4. Nomor 1. Februari 2026 HASIL Tabel 1. Analisis ABC Nilai Investasi Obat Antibiotik di RSUD Ibu Fatmawati Soekarno Surakarta Jumlah Obat Persentase Jumlah Nilai Investasi Persentase Nilai Investasi (%) (Ite. Obat (%) Rp 2. 816,00 Rp 615. 428,00 Rp 186. 883,00 Jumlah Rp 3. 127,00 PEMBAHASAN Berdasarkan tabel di atas menunjukkan bahwa kategori A terdapat 6 item obat . ,2%) dengan nilai investasi Rp 2. 816,00 ,1%), kategori B terdapat 11 item obat . ,6%) dengan nilai investasi Rp 615. 428,00 . ,8%), dan kategori C terdapat 42 item obat . ,2%) dengan nilai investasi Rp 186. 883,00 . ,1%). Hal ini sesuai dengan teori di mana kategori A memiliki nilai investasi 70%-80%, kemudian kategori B memiliki nilai investasi 15%-20%, dan kategori C memiliki nilai investasi 5%-10%. Analisis ABC Nilai Investasi Obat Antibiotik merupakan metode yang sangat penting dalam manajemen persediaan farmasi, khususnya di rumah sakit atau institusi pelayanan kesehatan. Analisis ini berfokus pada pengelompokan item obat berdasarkan nilai investasi dan tingkat penggunaan, sehingga dapat membantu pihak manajemen dalam menentukan prioritas pengadaan dan pengendalian stok obat. Dalam konteks pengelolaan antibiotik, penerapan analisis ABC sangat berguna untuk memastikan bahwa obatobatan yang bernilai tinggi dan sering digunakan selalu tersedia, sekaligus mengoptimalkan penggunaan anggaran rumah sakit. Pada hasil analisis yang dilakukan, kelompok obat antibiotik dibagi menjadi tiga kategori, yaitu A. B, dan C. Kategori A terdiri dari obat-obat yang memiliki nilai investasi paling besar namun jumlah itemnya relatif sedikit. Kelompok ini biasanya mencakup sekitar 10-20% dari total item, namun menyerap sekitar 70-80% dari total nilai investasi. Dalam analisis kali ini, kategori A terdiri dari 6 item obat . ,2%) dengan nilai investasi mencapai Rp 2. 816,00 atau setara dengan 78,1% dari total nilai investasi Hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar anggaran dialokasikan untuk sejumlah kecil antibiotik yang sangat krusial perannya dalam pelayanan kesehatan. Salah satu contoh nyata dari kategori A adalah Meropenem Injeksi 1 gram, yang termasuk dalam golongan karbapenem. Obat ini menempati posisi tertinggi dalam hal penyerapan anggaran, dengan persentase nilai investasi sebesar 29,954%. Meropenem sangat penting digunakan pada kasuskasus infeksi berat yang disebabkan oleh bakteri resisten, sehingga keberadaannya di instalasi farmasi harus selalu dipastikan. Dengan memperhatikan hasil analisis ABC, pengelola farmasi dapat membuat keputusan strategis untuk selalu menjaga stok Meropenem, mengingat dampak klinis dan ekonomisnya yang sangat besar. Kategori B mencakup item obat dengan nilai investasi menengah. Dalam hasil analisis, kategori B terdiri atas 11 item obat . ,6%) dengan nilai investasi Rp 615. 428,00 atau 16,8% dari total nilai investasi. Obat yang paling banyak menyerap anggaran pada kelompok ini adalah Levofloxacin Infus 500 mg/100 ml dari golongan fluorokuinolon, dengan nilai investasi sebesar 81,251%. Kategori B ini menunjukkan pentingnya perhatian pada obat-obatan yang secara nilai investasi tidak setinggi kategori A, namun jumlah itemnya lebih banyak dan tetap memerlukan pengelolaan yang baik agar tidak terjadi kekurangan atau kelebihan stok yang berpotensi merugikan rumah sakit. Kategori C meliputi item obat yang memiliki nilai investasi paling kecil namun jumlah itemnya paling banyak, yaitu 42 item . ,2%) dengan total nilai investasi hanya Rp 883,00 atau 5,1% dari total investasi Pada kelompok ini. Levofloxacin Tablet 500 mg menjadi obat yang paling besar menyerap anggaran, yakni sebesar 95,326%. Meskipun secara nilai investasi kelompok C ini tergolong kecil, namun pengelolaannya tetap penting agar tidak terjadi pemborosan, terutama dalam hal pengadaan dan penyimpanan, karena jumlah item yang dikelola sangat banyak. Jurnal Farmasi SYIFA Analisis ABC sangat membantu dalam menentukan prioritas pengelolaan persediaan obat, khususnya antibiotik yang penggunaannya harus diawasi secara ketat untuk mencegah terjadinya resistensi bakteri. Dengan mengetahui kategori setiap item, rumah sakit dapat melakukan pengendalian persediaan secara lebih efisien, misalnya dengan melakukan pengawasan lebih ketat pada obat-obatan kategori A, pengadaan rutin pada kategori B, dan pengendalian stok minimum pada kategori C. Selain itu, analisis ini juga membantu dalam proses perencanaan anggaran tahunan, sehingga dana yang tersedia dapat digunakan secara optimal untuk menyediakan obatobatan esensial. Selain dari aspek manajemen stok, analisis ABC juga berkontribusi terhadap peningkatan pelayanan klinis karena ketersediaan antibiotik esensial lebih terjamin. Dalam jangka panjang, penerapan analisis ABC dapat menurunkan risiko habisnya stok obat vital yang dapat berakibat fatal pada pasien. Rumah sakit juga dapat mengidentifikasi pola penggunaan antibiotik, sehingga lebih mudah untuk melakukan evaluasi dan audit penggunaan obat secara berkala. Dengan demikian, analisis ABC bukan hanya membantu dalam pengelolaan logistik, tetapi juga mendukung program penggunaan antibiotik yang rasional dan bertanggung jawab. Dalam implementasinya, data yang digunakan pada analisis ABC biasanya berupa data sekunder, seperti pemakaian tahunan setiap jenis Data ini diolah untuk mendapatkan urutan prioritas, sehingga pengelola farmasi dapat menyusun strategi pengadaan dan distribusi yang paling efektif. Metode ini telah dibuktikan efektif di berbagai rumah sakit di Indonesia, seperti yang ditemukan oleh Manik . dan Gusti Ayu Oviani dkk. , yang menunjukkan bahwa analisis ABC mampu meningkatkan efisiensi dan efektivitas pengelolaan persediaan obat, termasuk Secara keseluruhan, analisis ABC pada nilai investasi obat antibiotik merupakan alat yang sangat ampuh untuk membantu rumah sakit dalam melakukan pengendalian dan perencanaan persediaan obat. Dengan implementasi yang tepat, rumah sakit dapat memastikan ketersediaan antibiotik yang vital, meminimalkan pemborosan. Volume 4. Nomor 1. Februari 2026 serta meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan secara menyeluruh. Selain itu, analisis ini juga dapat dijadikan dasar untuk melakukan evaluasi kebijakan pengadaan dan penggunaan obat, sehingga tercipta sistem manajemen farmasi yang lebih baik dan berkelanjutan. Dari hasil analisis metode ABC maka dapat diambil satu prioritas obat antibiotik yang termasuk dalam kategori A adalah Meropenem Injeksi 1 gram dan persentase nilai . ,954%). Fokus utama dari analisis ABC adalah pengelompokan persediaan berdasarkan jenis persediaan yang bernilai tinggi Analisis ABC dapat dilakukan berdasarkan jumlah kumulatif pemakaian obat dan nilai investasi dariy setiap persediaan yang ada. Parameter yang biasanya digunakan dalam analisis ABC adalah data sekunder berupa pemakaian tahunan setiap item obat (Manik, 2. SIMPULAN Dari hasil penelitian yang dilakukan dapat diambil kesimpulan yaitu pada kategori A terdapat 6 item obat . ,2%) dengan nilai investasi Rp 816,00 . ,1%). Obat yang menyerap anggaran terbanyak yaitu Meropenem Injeksi 1 gr golongan karbapenem dengan nilai investasi . ,954%), kategori B terdapat 11 item obat . ,6%) dengan nilai investasi Rp 615. 428,00 ,8%). Obat yang menyerap anggaran terbanyak yaitu Levofloxacin Infus 500 mg/100 ml golongan fluorokuinolon dengan nilai investasi . ,251%), dan kategori C terdapat 42 item obat . ,2%) dengan nilai investasi Rp 186. 883,00 . ,1%). Obat yang menyerap anggaran terbanyak yaitu Levofloxacin Tablet 500 mg golongan fluorokuinolon dengan nilai investasi . ,326%). UCAPAN TERIMA KASIH Kepada IFRS RSUD Ibu Fatmawati Soekarno Surakarta yang telah memberikan ijin penelitian, kepada Prodi Farmasi Universitas Kusuma Husada Surakarta. REFERENSI