Fitri Jurnal Studi Tindakan Edukatif Volume 1. Number 2, 2025 Open Access: https://ojs. id/jste/ Penerapan Kegiatan Cooking Class Berbasis Nilai Islam untuk Menanamkan Sikap Syukur dan Mandiri pada Anak di RA Muslimat NU 02 Kepuhteluk Rif'atul Qodriyah 1. Nurul Fauziyah2 1 RA Muslimat NU 02 Kepuhteluk, 2 MINU 38 Miftahul Huda Correspondence: rifatulqodriyah92@gmail. Article Info Article history: Received 02 Jan 2025 Revised 02 Feb 2025 Accepted 31 Mar 2025 Keyword: Cooking class. Islamic values, gratitude, independence, early Muslimat NU 02 Kepuhteluk, syukur, mandiri. ABSTRACT This study explores the implementation of an Islam-based cooking class activity to instill the values of gratitude and independence in young children at RA Muslimat NU 02 Kepuhteluk. The research involved 20 students and aimed to use cooking as a medium to teach Islamic values, focusing on fostering gratitude . and independence . Through handson cooking activities, students learned to appreciate the blessings of food, understand the importance of being thankful for sustenance, and gain a sense of self-reliance by participating in meal preparation. The study employed a qualitative approach, with observations and interviews conducted to assess the impact of the activities on studentsAo attitudes and Results showed that the cooking class significantly improved studentsAo awareness of gratitude, as they expressed appreciation for the food they prepared and shared. Furthermore, the activities helped enhance their independence, as they took on tasks such as washing ingredients, mixing, and serving. The study concludes that incorporating Islam-based values into practical activities like cooking can be an effective way to nurture important life skills and virtues in early childhood education. A 2025 The Authors. Published by PT SYABAN MANDIRI BERKARYA. This is an open access article under the CC BY NC license . ttps://creativecommons. org/licenses/by/4. INTRODUCTION Pendidikan agama Islam memiliki peran yang sangat penting dalam pembentukan karakter dan moralitas anak-anak di Indonesia, terutama di tingkat pendidikan anak usia dini (PAUD). Salah satu tujuan utama pendidikan agama Islam pada usia dini adalah menanamkan nilai-nilai luhur yang terkandung dalam ajaran Islam, termasuk sikap syukur dan mandiri. Di usia dini, anak-anak mulai belajar tentang kehidupan sehari-hari mereka, termasuk bagaimana mereka berinteraksi dengan lingkungan dan orang lain. Oleh karena itu, pendidikan agama Islam di tingkat PAUD harus dapat menanamkan sikap-sikap positif yang akan membentuk karakter mereka di masa depan. Salah satu metode yang dapat diterapkan untuk menanamkan nilai-nilai tersebut adalah melalui kegiatan praktis yang menyenangkan, seperti kelas memasak berbasis nilai Islam. Kelas memasak berbasis nilai Islam memiliki potensi besar untuk menanamkan sikap syukur dan mandiri pada anak-anak. Aktivitas memasak memberikan kesempatan bagi anak-anak untuk belajar bagaimana menghargai makanan dan merasakan manfaat dari setiap bahan yang digunakan. Dalam ajaran Islam, syukur merupakan nilai penting yang harus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan mengajarkan anak-anak untuk menghargai makanan yang mereka masak dan memahami pentingnya bersyukur atas segala nikmat yang diberikan Allah, mereka dapat membentuk rasa syukur sejak usia dini. Selain itu, melalui kegiatan memasak, anak-anak dapat mengembangkan keterampilan mandiri yang bermanfaat dalam kehidupan mereka. Di RA Muslimat NU 02 Kepuhteluk, kegiatan memasak berbasis nilai Islam diharapkan dapat menjadi media yang efektif dalam menanamkan sikap syukur dan mandiri pada siswa. Sebagai lembaga pendidikan anak usia dini yang berfokus pada pengajaran agama Islam. RA Muslimat NU 02 Kepuhteluk memiliki visi untuk mendidik anak-anak dengan pendekatan yang holistik, yakni mengembangkan aspek fisik, intelektual, sosial, dan spiritual anak. Salah satu pendekatan yang diambil Rif'atul Qodriyah. Nurul Fauziyah . Jurnal Studi Tindakan Edukatif Vol. 1 NO. adalah melalui kegiatan yang melibatkan anak-anak dalam aktivitas yang menyenangkan dan bermanfaat, seperti kelas memasak. Melalui kegiatan ini, siswa diharapkan dapat lebih menghargai apa yang mereka miliki dan menjadi lebih mandiri dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Namun, meskipun kegiatan kelas memasak memiliki banyak potensi untuk menanamkan nilai-nilai positif, implementasinya di lingkungan pendidikan anak usia dini masih terbatas. Banyak lembaga pendidikan yang belum memanfaatkan kegiatan praktis seperti ini untuk mengajarkan nilai-nilai agama Islam, padahal kegiatan ini memiliki banyak manfaat bagi perkembangan anak-anak. Pembelajaran agama Islam yang terlalu teoritis dan kurang aplikatif mungkin tidak dapat menanamkan nilai-nilai tersebut dengan efektif. Oleh karena itu, kegiatan kelas memasak berbasis nilai Islam bisa menjadi solusi yang tepat untuk memberikan pengalaman langsung kepada anak-anak tentang bagaimana syukur dan mandiri dapat diterapkan dalam kehidupan mereka. Pendidikan agama Islam di Indonesia seringkali fokus pada pembelajaran teori dan hafalan doa, tanpa memberikan ruang bagi anak-anak untuk merasakan dan mempraktikkan ajaran agama dalam kehidupan sehari-hari. Padahal, ajaran agama Islam tidak hanya berkaitan dengan ibadah ritual, tetapi juga mencakup sikap dan perilaku dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, penting untuk mengintegrasikan nilai-nilai Islam dalam kegiatan praktis yang dapat membantu anak-anak memahami dan mengamalkan ajaran agama tersebut. Kelas memasak berbasis nilai Islam memberikan kesempatan bagi anak-anak untuk belajar secara langsung mengenai pentingnya bersyukur dan mandiri melalui aktivitas yang mereka lakukan sendiri. Sikap syukur merupakan salah satu aspek yang sangat ditekankan dalam Islam. Syukur tidak hanya berkaitan dengan mengucapkan terima kasih kepada Allah, tetapi juga mencakup pengakuan terhadap segala nikmat yang telah diberikan, baik dalam bentuk materi maupun non-materi. Dalam kehidupan sehari-hari, sikap syukur dapat diterapkan dengan menghargai segala sesuatu yang ada, termasuk makanan yang disiapkan dan dimakan. Dalam konteks kelas memasak, anak-anak dapat belajar untuk menghargai bahan-bahan yang mereka gunakan, serta merasa bersyukur atas nikmat yang diberikan Allah melalui makanan yang mereka masak. Hal ini akan membentuk sikap syukur dalam diri anakanak, yang akan terus terbawa dalam kehidupan mereka. Mandiri juga merupakan nilai yang sangat penting dalam pendidikan Islam. Islam mengajarkan pentingnya menjadi individu yang dapat berdiri sendiri dan tidak bergantung pada orang lain. Dalam konteks anak usia dini, keterampilan mandiri dapat diajarkan melalui berbagai kegiatan praktis, salah satunya adalah memasak. Dengan melibatkan anak-anak dalam kegiatan memasak, mereka dapat belajar bagaimana melakukan tugas-tugas sederhana secara mandiri, seperti mempersiapkan bahan, mengikuti instruksi, dan menyelesaikan pekerjaan. Melalui kegiatan ini, anak-anak akan merasa lebih percaya diri dan mampu menyelesaikan tugas-tugas sehari-hari dengan lebih mandiri. Penerapan kelas memasak berbasis nilai Islam juga dapat membantu anak-anak memahami konsep kebersihan dalam Islam. Salah satu aspek penting dalam ajaran Islam adalah menjaga kebersihan, baik kebersihan diri maupun lingkungan sekitar. Dalam kelas memasak, anak-anak akan belajar untuk menjaga kebersihan saat mempersiapkan makanan, serta memahami bahwa kebersihan merupakan bagian dari iman. Mereka juga akan diajarkan tentang pentingnya berbagi makanan dengan orang lain, yang merupakan bagian dari ajaran Islam yang mengutamakan kepedulian terhadap sesama. Melalui kegiatan ini, anak-anak tidak hanya belajar memasak, tetapi juga mendapatkan pemahaman yang lebih dalam tentang nilai-nilai Islam yang terkait dengan kebersihan dan kepedulian sosial. Namun, tantangan yang dihadapi dalam mengimplementasikan kegiatan ini adalah keterbatasan fasilitas dan sumber daya yang ada di lembaga pendidikan. Untuk melaksanakan kelas memasak yang berbasis nilai Islam, dibutuhkan fasilitas dapur yang memadai dan bahan-bahan yang sesuai dengan ajaran Islam, seperti bahan makanan yang halal. Selain itu, guru atau pendidik juga perlu diberikan pelatihan agar dapat mengajarkan nilai-nilai Islam dengan cara yang tepat dan efektif dalam kegiatan tersebut. Meskipun tantangan ini ada, potensi manfaat yang dapat diperoleh dari kegiatan kelas memasak berbasis nilai Islam sangat besar, baik untuk perkembangan karakter anak maupun pemahaman mereka tentang ajaran agama Islam. Dengan demikian, penelitian ini bertujuan untuk menggali lebih dalam mengenai penerapan kegiatan kelas memasak berbasis nilai Islam di RA Muslimat NU 02 Kepuhteluk sebagai upaya untuk menanamkan sikap syukur dan mandiri pada anak-anak. Diharapkan, dengan adanya penelitian ini, dapat ditemukan solusi yang tepat untuk mengatasi tantangan yang ada, serta memberikan wawasan bagi pengembangan metode pembelajaran agama Islam yang lebih aplikatif dan menyenangkan bagi Rif'atul Qodriyah. Nurul Fauziyah . Jurnal Studi Tindakan Edukatif Vol. 1 NO. anak-anak. Aktivitas kelas memasak berbasis nilai Islam ini diharapkan dapat menjadi model pembelajaran yang dapat diterapkan di lembaga pendidikan anak usia dini lainnya untuk mengajarkan nilai-nilai agama Islam secara lebih efektif dan menyenangkan. RESEARCH METHODS Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain penelitian tindakan kelas (PTK). Penelitian dilakukan di RA Muslimat NU 02 Kepuhteluk dengan melibatkan 20 siswa dalam penerapan kegiatan kelas memasak berbasis nilai Islam untuk menanamkan sikap syukur dan mandiri. Penelitian ini terdiri dari dua siklus, masing-masing dengan tahap perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan Setiap siklus bertujuan untuk mengamati perubahan sikap siswa terkait dengan sikap syukur dan mandiri yang berkembang selama kegiatan kelas memasak. Peneliti berperan sebagai fasilitator dalam kegiatan tersebut, sementara guru turut mendampingi siswa. Data penelitian dikumpulkan melalui observasi langsung terhadap aktivitas siswa selama kelas memasak, wawancara dengan guru dan orang tua siswa, serta dokumentasi berupa catatan hasil kegiatan dan foto. Selain itu, pre-test dan post-test digunakan untuk menilai perkembangan sikap syukur dan mandiri siswa sebelum dan setelah kegiatan kelas memasak. Data yang terkumpul kemudian dianalisis secara deskriptif untuk mengevaluasi apakah penerapan kegiatan berbasis nilai Islam dapat meningkatkan sikap syukur dan mandiri pada siswa di RA Muslimat NU 02 Kepuhteluk. RESULTS AND DISCUSSION Penelitian ini menunjukkan bahwa kegiatan kelas memasak berbasis nilai Islam berhasil menanamkan sikap syukur dan mandiri pada siswa di RA Muslimat NU 02 Kepuhteluk. Pada siklus pertama, meskipun sebagian besar siswa tampak tertarik, ada beberapa yang kesulitan memahami pentingnya rasa syukur dalam aktivitas memasak. Namun, pada siklus kedua, sebagian besar siswa menunjukkan sikap yang lebih aktif dan bersemangat dalam menghargai makanan dan berbagi dengan teman-teman Hal ini menunjukkan bahwa melalui kegiatan praktis seperti memasak, nilai-nilai agama Islam dapat diterapkan dengan lebih efektif dalam kehidupan sehari-hari siswa. Sikap syukur pada siswa mulai terbentuk setelah mereka terlibat dalam proses memasak dan merasakan manfaat dari makanan yang mereka buat. Anak-anak terlihat lebih sadar bahwa makanan yang mereka masak adalah nikmat dari Allah yang harus disyukuri. Dengan melibatkan mereka dalam setiap langkah, mulai dari memilih bahan makanan hingga memasak, mereka menjadi lebih menghargai makanan yang Ini menunjukkan bahwa kegiatan memasak tidak hanya mengajarkan keterampilan praktis, tetapi juga memperkenalkan nilai agama Islam dengan cara yang menyenangkan dan interaktif. Selain sikap syukur, kegiatan memasak juga mendorong perkembangan sikap mandiri siswa. Pada siklus pertama, sebagian siswa membutuhkan banyak bantuan dalam mempersiapkan bahan dan mengikuti instruksi. Namun, pada siklus kedua, terlihat ada peningkatan keterampilan mandiri, di mana siswa mulai mampu melaksanakan tugas mereka sendiri tanpa bergantung pada bantuan orang dewasa. Mereka mulai mengikuti petunjuk dengan lebih percaya diri, mempersiapkan bahan, dan bahkan membersihkan alat masak mereka. Hal ini menunjukkan bahwa kegiatan praktis seperti memasak dapat membantu anak-anak mengembangkan kemandirian dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Keberhasilan penerapan kegiatan memasak berbasis nilai Islam juga terukur dari peningkatan interaksi sosial di antara siswa. Sebelumnya, sebagian besar siswa lebih suka bekerja sendiri dalam kegiatan Namun, dengan kegiatan memasak, mereka mulai bekerja sama, berbagi tugas, dan membantu satu sama lain. Ini memperlihatkan bahwa kegiatan ini tidak hanya membantu mereka dalam memahami nilai syukur dan mandiri, tetapi juga mendorong pengembangan keterampilan sosial, seperti kerjasama, komunikasi, dan empati terhadap teman-temannya. Keterlibatan mereka dalam tim meningkatkan rasa kebersamaan dan tanggung jawab sosial. Salah satu temuan yang menarik adalah peningkatan motivasi siswa dalam mengikuti pembelajaran agama Islam. Sebelumnya, kegiatan pembelajaran agama di kelas terasa monoton bagi sebagian siswa, tetapi melalui kelas memasak berbasis nilai Islam, mereka lebih tertarik untuk belajar dan memahami ajaran Islam. Anak-anak yang semula kurang antusias kini menunjukkan minat yang lebih besar dalam mendalami ajaran agama, karena mereka melihat relevansi langsung dalam kegiatan yang mereka Ini menunjukkan bahwa pembelajaran yang melibatkan aktivitas fisik dan praktis dapat meningkatkan minat anak-anak dalam belajar. Rif'atul Qodriyah. Nurul Fauziyah . Jurnal Studi Tindakan Edukatif Vol. 1 NO. Penerapan nilai syukur dalam kegiatan memasak juga berdampak pada perilaku siswa sehari-hari. Beberapa siswa yang sebelumnya sering kali tidak menghargai makanan, kini menunjukkan perilaku yang lebih peduli terhadap makanan. Mereka belajar untuk tidak menyia-nyiakan makanan dan lebih memperhatikan cara mereka mengonsumsi makanan. Ini menunjukkan bahwa pendidikan agama Islam yang mengajarkan nilai-nilai seperti syukur dapat membentuk perilaku positif dalam kehidupan anakanak, yang akan berguna dalam kehidupan mereka di masa depan. Namun, meskipun ada banyak keuntungan dari kegiatan ini, tantangan dalam implementasinya tetap Salah satu kendala yang dihadapi adalah keterbatasan waktu yang tersedia untuk kegiatan Beberapa aktivitas memasak membutuhkan waktu lebih lama dari yang diperkirakan, yang mempengaruhi waktu yang tersedia untuk pembelajaran lainnya. Meskipun demikian, tantangan ini bisa diatasi dengan merencanakan waktu secara lebih efisien dan membagi kegiatan memasak menjadi beberapa bagian yang dapat diselesaikan dalam waktu yang lebih singkat. Selain itu, keterbatasan fasilitas di sekolah juga menjadi salah satu tantangan. Meskipun dapur dan peralatan yang ada cukup memadai, beberapa alat memasak dan bahan makanan tertentu tidak selalu Untuk mengatasi masalah ini, diperlukan kerja sama dengan pihak luar, seperti orang tua atau komunitas, yang dapat menyediakan bahan makanan dan peralatan tambahan untuk mendukung kelancaran kegiatan. Kendala ini tidak mengurangi efektivitas kegiatan memasak, tetapi mengajarkan siswa tentang pentingnya bersyukur atas apa yang mereka miliki dan berbagi dengan orang lain. Pengaruh positif dari kegiatan memasak berbasis nilai Islam juga terlihat pada tingkat kepercayaan diri Anak-anak yang sebelumnya ragu dalam melakukan tugas-tugas praktis mulai menunjukkan rasa percaya diri yang lebih besar. Mereka merasa bangga dengan hasil karya mereka dan mampu mempresentasikan hasil masakan kepada teman-teman dan guru. Kepercayaan diri ini tidak hanya terbatas pada kegiatan memasak, tetapi juga berdampak pada kepercayaan diri mereka dalam melakukan tugas-tugas lain di luar kelas. Ini menunjukkan bahwa keterampilan praktis dapat meningkatkan aspek psikologis anak-anak, yang berperan penting dalam perkembangan diri mereka. Secara keseluruhan, kegiatan memasak berbasis nilai Islam terbukti efektif dalam menanamkan sikap syukur dan mandiri pada siswa di RA Muslimat NU 02 Kepuhteluk. Tidak hanya membantu anak-anak mengembangkan keterampilan praktis, tetapi juga memperkenalkan nilai-nilai agama Islam dengan cara yang menyenangkan dan aplikatif. Pembelajaran yang melibatkan kegiatan praktis seperti ini dapat menjadi model yang efektif dalam pendidikan agama Islam di tingkat anak usia dini. Dengan mengintegrasikan nilai-nilai Islam dalam kegiatan sehari-hari, anak-anak tidak hanya memperoleh pengetahuan, tetapi juga mempraktikkannya dalam kehidupan mereka. CONCLUSION Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan di RA Muslimat NU 02 Kepuhteluk, kegiatan memasak berbasis nilai Islam berhasil menanamkan sikap syukur dan mandiri pada siswa. Aktivitas ini memberikan kesempatan bagi anak-anak untuk menghargai makanan yang mereka buat serta memahami pentingnya bersyukur atas nikmat yang diberikan Allah. Selain itu, kegiatan memasak membantu siswa untuk mengembangkan keterampilan mandiri, seperti mempersiapkan bahan, mengikuti instruksi, dan membersihkan peralatan masak. Meskipun ada tantangan terkait waktu dan keterbatasan fasilitas, penerapan kegiatan ini terbukti efektif dalam mengajarkan nilai-nilai Islam melalui aktivitas yang menyenangkan dan aplikatif. Melalui kegiatan ini, siswa tidak hanya belajar tentang nilai agama Islam, tetapi juga mengembangkan keterampilan praktis yang bermanfaat dalam kehidupan sehari-hari. Penerapan nilai syukur dan mandiri melalui kegiatan memasak dapat menjadi model pembelajaran yang efektif di tingkat pendidikan anak usia dini. Oleh karena itu, kegiatan memasak berbasis nilai Islam dapat dijadikan metode pembelajaran yang lebih luas diterapkan di lembaga pendidikan lainnya untuk menanamkan karakter dan nilai-nilai agama Islam sejak dini, yang penting bagi perkembangan anakanak di masa depan. REFERENCES