JURNAL PERTANIAN BERBASIS KESEIMBANGAN EKOSISTEM http://e-journal. id/index. php/agrimeta Vol . 14 No 1 (APRIL, 2. 32 - 37 e-ISSN : 2721-2556 . p-ISSN : 2088-2531 PENGARUH FAKTOR PRODUKSI TERHADAP PENDAPATAN USAHATANI JERUK BRASTAGI DI DUSUN PAUSAN. KECAMATAN PAYANGAN, KABUPATEN GIANYAR I Made Budiasa*. Nyoman Yudiarini. I Made Tamba. Ni Kadek Milasari Program Studi Agribisnis. Fakultas Pertanian dan Bisnis. Universitas Mahasaraswati Denpasar *Corresponding Author: mdbudiasa@unmas. ABSTRACT Oranges are one of the fruit commodities that have high economic value. The contribution of oranges of Gianyar Regency to the orange production of Bali province is around 29. Orange production in Pausan village has only reached 10 tons per year, with the price of oranges ranging from Rp. 4,000 to Rp. 6,000 per The combination of the use of production factors greatly determines the amount of orange commodity production that will be produced, so that the allocation of production factors more optimally. The purpose of this study is to analyze production factors that affect the income of brastagi orange farmers and analyze the amount of income of brastagi orange farmers in Pausan Village. Payangan District. Gianyar Regency. The location of the study was determined intentionally . urposive samplin. , and carried out from January to March 2024. The sample in this study was determined by census method, where the entire population was made respondents totaling 35 brastagi orange farmers. The data analysis methods used in this study include analysis of Cobb-Douglas production function estimation as well as cost and revenue analysis. Data on independent and dependent variables include brastagi orange production(Y), land area(X. , seeds(X. , organic fertilizer(X. NPK fertilizer(X. , pesticides(X. , and labor(X. The results found that all factors of production together have an effect on income, but individually do not have a significant effect on income. Land area and pesticide factors have a negative influence on farmers income. Brastagi orange farming income in Pausan hamlet reaches Rp. 91,113,517 per This income per hectare comes from revenues of Rp. 115,912,442 minus farming costs of Rp. 24,796,774. Keywords : Brastagi orange. Production factor. Production. Revenue PENDAHULUAN Indonesia merupakan salah satu tempat yang memiliki sumber daya yang eukup potensisial untuk dikembangkan, dimana potensi pertanian merupakan salahsatu sektor yang menjadi prioritas pengembangan dan diharapkan dapat meningkatkan pertumbuhan Hal ini dilatar belakangi karena sebagian besar mata pencaharian penduduk bertumpu pada sektor pertanian (Purwidiantoro ddk, 2. Penyerapan di sektor pertanian lebih tinggi disbanding-kan dengan sektor industri dan perdagangan yang menyerap tenanga kerja masing-masing sebesar 18,81 juta jiwa . ,61%) dan 26,57 juta jiwa . ,23%), sehingga sektor pertanian secara signifikan mampu mengurangi angka pengganguran di indonesia (BPS, 2. Hortikultura merupakan bidang pertanian yang cukup luas yang mencakup buah-buahan, sayursayuran dan bunga. Pada kartal IV tahun 2020. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatatkan produk domestik bruto (PDB) pertanian tumbuh sebesar 2,59 persen secara year on year . Pertumbuhan positif sektor pertanian dipengaruhi oleh beberapa faktor, salah satunya adalah komoditas hortikultura yang mengalami pertumbuhan sebesar 7,85 persen. Ini terjadi karena adanya kenaikan permintaan buah dan sayur. Peningkatan PDB ini tercapai karena terjadinya peningkatan produksi diberbagai sentra dan kawasan, serta peningkatan luas areal produksi dan areal panen,. berpengaruh positif dan meningkatkan PDB. Salah satu komoditi hortikultura yang saat ini diminati petani untuk dikembangkan adalah tanaman Jeruk merupakan salah satu komoditi buahbuahan yang mempunyai nilai ekonomis tinggi. Karena mempunyai nilai ekonomis tinggi, maka pemerintah tidak hanya mengarahkan pengelolaan jeruk bagi petani kecil saja, tetapi juga mengorientasikan kepada polapola pengembangan industri jeruk yang komprehensif. AGRIMETA. VOL. 14 NO. APRIL 2024. p-ISSN : 2088-2531, e-ISSN : 2721-2556 Prospek yang lebih cerah ke arah agribisnis jeruk semakin nyata dengan memperhatikan berbagai potensi yang ada seperti potensi lahan. erapa keunggulan yang dimiliki oleh buah jeruk lokal diantaranya adalah bahwa jeruk lokal memiliki kondisi kesegaran yang jauh lebih baik dibandingkan jeruk impor, selain itu harga dari jeruk lokal juga lebih murah di bandingkan dengan jeruk impor sehingga ini bisa dijadikan cara untuk menarik konsumen dengan mempertahankan, menjaga dan meningkatkan atribut dari buah jeruk Jeruk sangat diminati masyarakat yang dikonsumsi dalam bentuk segar dengan harganya yang relatif terjangkau serta memiliki daya simpan yang cukup Tingkat total konsumsi jeruk di Indonesia pada tahun 2016 menempati urutan ketiga setelah pisang dan rambutan dengan tingkat konsumsi sebanyak 3,60 kg per kapita per tahun. Angka ini menunjukkan peningkatan sebesar 24,16 persen dari tahun sebelumnya dengan tingkat konsumsi jeruk di Indonesia pada tahun 2015 sebesar 2,73 kg per kapita per tahun. Pada tahun 2022 konsumsi jeruk oleh rumah tangga di Indonesia mencapai 1,33 juta ton pada 2022. Jumlahnya naik 15% dibandingkan pada tahun sebelumnya yang sebanyak 1,15 juta ton. Seiring dengan meningkatnya konsumsi masyarakat terhadap jeruk, sehingga produksi jeruk akan mengalami peningkatan (BPS, 2. Jeruk termasuk komoditas buah unggulan diantara komoditas lainnya yaitu pisang, mangga dan Jeruk di Bali umumnya dipasarkan di pasar lokal terlebih dahulu seperti pasar Badung Denpasar, pasar Karangasem, pasar Singaraja. Setelah kebutuhan pasar lokal terpenuhi, sisa produksi jeruk baru dipasarkan di luar pulau, hal ini untuk menghindari kemerosotan harga di pasar lokal akibat dari jumlah jeruk yang melimpah. Di samping itu pemasaran jeruk di luar pulau juga dikarenakan permintaan terhadap jeruk sangat tinggi, tentunya dengan pertimbanganpertimbangan tertentu seperti harga, biaya yang dikeluarkan dan keuntungan yang diperoleh produsen. Jeruk di Propinsi Bali diproduksi di seluruh kabupaten lota yang ada di Bali, seperti Kabupaten Jembrana. Kabupaten Tabanan. Kabupaten Badung. Kabupaten Gianyar. Kabupaten Klungkung. Kabupaten Bangli. Kabupaten Karangasem. Kabupaten Buleleng dan Kota Denpasar. Produksi buah jeruk di Bali selama periode tahun 2022 terbanyak dihasilkan oleh Kabupaten Bangli yang diikuti oleh kabupaten Gianyar. Produksi jeruk di Kabupaten Gianyar mencapai 654 ton per tahunnya. Kontribusi jeruk Kabupaten Gianyar terhadap produksi jeruk propinsi Bali sekitar 29,36%. Jenis jeruk yang berkembang dan dibudidayakan adalah siam kintamani, selayar, madu, valencia dan keprok Brastagi. Sebaran populasi tanaman jeruk yang dibudidayakan di Kabupaten Gianyar berada di Kecamatan Payangan, disusul oleh Tegallalang dan Tampaksiring. Tingginya sebaran populasi dan pengembangan usahatani jeruk di ketiga wilayah kecamatan itu didukung oleh tingginya minat petani setempat untuk berinovasi dan menginisiasi usahatani jeruk mereka. Tingginya minat masyarakat ini juga dimotivasi oleh masyarakat petani jeruk Kintamani yang saat ini telah mendapatkan dan merasakan manfaat ekonomi dari usahatani jeruk mereka selama ini. Dusun Pausan desa Buahan Kaje merupakan salah satu dusun di kabupaten Gianyar yang pada saat ini juga mengembangkan jeruk brastagi seperti halnya jeruk brastagi yang dikembangkan di desa Bayung Gede. Produksi jeruk brastagi di dusun Pausan dari tahun 2018 sampai dengan 2022, berturut turut mencapai 6ton, 7ton, 8ton, 5ton dan 10ton per tahunnya, dengan harga jeruk berkisar antara Rp. sampai Rp. 000 per kilogramnya. Produksi jeruk di dusun Pausan masih perlu dikembangkan sehingga sumbangan produksi jeruk dari kabupaten Gianyar terhadap produksi jeruk Propinsi Bali dapat meningkat dari 29,36%. Mengkaji permasalahan mengenai tingkat produksi sangat erat kaitannya dengan penggunaan faktor-faktor produksi didalamnya. Kombinasi penggunaan faktor-faktor produksi sangat menentukan jumlah produksi komoditi jeruk yang akan dihasilkan agar kegiatan usahatani yang dijalankan senantiasa dapat memberikan keuntungan, sehingga alokasi faktor-faktor produksi bisa lebih optimal. Berdasarkan fakta di atas maka dilakukan penelitian mengenai AuPengaruh Faktor Produksi Terhadap Pendapatan Petani Jeruk Brastagi di Dusun Pausan. Kecamatan Payangan. Kabupaten GianyarAy. Penelitian ini bertujuan untuk . menganalisis pendapatan dari usahatani jeruk brastagi, dan . menganalisis factor produksi yang mempengaruhi pendapatan dari usahatani jeruk brastagi di dusun Pausan, kecamatan Payangan, kabupaten Gianyar. METODOLOGI PENELITIAN Penelitian ini dilaksanakan di dusun Pausan. Kecamatan Payangan Kabupaten Gianyar. Lokasi penelitian ditentukan secara sengaja atau menggunakan metode purposive sampling dengan pertimbangan: . merupakan salah satu dusun di kecamatan Payangan yang petaninya banyak berusahatani jeruk brastagi. Belum pernah dilakukan penelitian serupa di daerah lokasi penelitian. Jumlah sampel sebanyak 35 orang petani jeruk brastagi yang ditentukan dengan metode sensus dari populasi sebanyak 35 orang petani jeruk brastagi yang Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode Observasi. Wawawancara dan Dokumentasi. Metode analisis data yang digunakan adalah metode analisis deskriptif kualitatif, dimana tujuan penelitian pertama dianalisis dengan analisis biaya dan manfaat, serta tujuan ke dua dianalisis dengan analisis fungsi produksi Cobb Douglas melalui penggunaan alat analisis SPSS versi AGRIMETA. VOL. 14 NO. APRIL 2024. p-ISSN : 2088-2531, e-ISSN : 2721-2556 Analisis biaya dan pendapatan Biaya produksi merupakan total biaya merupakan biaya yang dikeluarkan untuk melakukan proses produksi. Total biaya merupakan penjumlahan antara biaya tetap dan biaya variabel. TC = FC VC Keterangan: TC : Total cost (Biaya Tota. FC : Fixed Cost (Biaya Teta. VC : Variabel Cost (Biaya Variabe. Penerimaan merupakan perkalian antara jumlah produksi yang dihasilkan dengan harga jual produk, dimana penerimaan dapat di rumuskan sebagai TR = Pq x Q Keterangan: TR : Total Revenue (Total Penerimaa. Pq : Harga Produk Q : Jumlah Produksi Pendapatan merupakan penerimaan yang diterima dikurangi dengan biaya total yang Pendapatan usahatani dapat diruuskan sebagai berikut: A = TR - TC Keterangan: yuU = Keuntungan usahatani = Total Revenue (Total penerimaa. = Total Cost (Total biay. Analisis fungsi produksi jeruk brastagi Pada kegiatan penelitian ini fungsi produksi yang digunakan untuk mengetahui faktor faktor produksi yang mempengaruhi pendapatan jeruk brastagi ini menggunakan analisis fungsi produksi Cobb Douglas. Hal ini dikarenakan Fungsi produksi ini dapat memberikan angka penaksiran koefisien regresi yang sekaligus menyatakan elastisitas faktor Secara matematik fungsi produksi cobbdouglas dijabarkan sebagai berikut: Y = A0. X1A1. X2A2. X3A3. X4A4. X5A5. X6A6 Selanjutnya persamaan tersebut kemudian diubah dalam bentuk linier berganda dengan cara melogaritmakan persamaan tersebut. Adapun bentuk linier berganda rumus diatas setelah dilogaritmakan Log Y = log 0 1 log X1 2 log X2 3 log X3 4 log X4 5 log X5 6 log X6 Keterangan: Y = Pendapatan Jeruk Brastagi . 0 = intercep/konstanta i = koefisien regresi X1 = Luas lahan . X2 = Jumlah Bibit . X3 = Jumlah pupuk Organik. X4 = Jumlah pupuk NPK . X5 = Pestisida . erek dagang Trisula atau Desthi. X6 = Tenaga kerja (HOK) HASIL DAN PEMBAHASAN Penerimaan usahatani jeruk brastagi Penerimaan petani merupakan balas jasa atas semua pengorbanan yang dikeluarkan dalam usahatani jeruk brastagi. Penerimaan itu sendiri merupakan suatu nilai yang diperoleh dari jumlah jeruk brastagi yang dihasilkan dikalikan dengan harga jeruk brastagi. Penerimaan petani jeruk brastagi per satu kali proses produksi per rata rata luas lahan . mencapai Rp. 571 dengan kuantitas produksi rata rata 18. kg dan harga produksi saat penelitian rata rata Rp. 871 dengan kisaran harga Rp. 000 s. d Rp. Penerimaan usahatani jeruk brastagi di dusun Pausan jika dikonversi ke hektar mencapai Rp. 442, lebih tinggi dibandingkan dengan penerimaan petani jeruk siam di Kecamatan Kuok Kabupaten Kampar yang hanya Rp. 659 per Hal ini dikarenakan produksi jeruk siam di Kecamatan Kuok yang rendah yang hanya mencapai 790 kg per hektarnya, meskipun harga jeruk siamnya cukup tinggi mencapai Rp. 000 per kilogramnya (Eka Rahmina Dewi, dkk. , 2. Pendapatan usahatani jeruk brastagi Pendapatan usahatani merupakan selisih antara penerimaan dengan biaya total yang dikeluarkan petani dalam melakukan kegiatan usahataninya, sementara itu total penerimaan merupakan total hasil yang diterima dari penjualan jeruk brastagi, yaitu produksi dikalikan dengan harga jual selama satu kali musim tanam. Sedangkan total biaya adalah keseluruhan biaya yang dikeluarkan petani . iaya riil yang dikeluarkan dan biaya yang diperhitungka. yang dilimpahkan untuk usahataninya dalam satu kali proses produksi. Rata-rata pendapatan Usahatani jeruk brastagi di dusun Pausan mencapai Rp. 571 per rata rata luas lahan garapan . Jika dikonversi ke hekat mencapai Rp. 517 per hekat per satu kali proses produksi . , sehingga jika di rata-ratakan per bulan pendapatan usahatani jeruk brastagi mencapai Rp. Kondisi ini sudah sangat baik secara AGRIMETA. VOL. 14 NO. APRIL 2024. p-ISSN : 2088-2531, e-ISSN : 2721-2556 ekonomi untuk mencukupi rata-rata jumlah keluarga yang mencpai 5 orang anggota keluarga, namun demikian petani jeruk brastagi di dusun Pausan disamping sebagai petani juga menjadi tenaga atau jasa pertukangan untuk mengisi waktu luang ketika tidak sedang intensif bekerja di usahataninya Pendapatan usahatani jeruk brastagi di dusun Pausan mencapai Rp. 571 per 93 are atau mencapai Rp. 517 per hektar. Pendapatan per hektar ini berasal dari penerimaan sebesar Rp. 442 dikurangi biaya usahatani sebesar Rp. Faktor produksi yang mempengaruhi pendapatan. Produksi jeruk brastagi di dusun Pausan rata rata 866 kg per luas lahan garapan . atau setara 361 kg per hektarnya. Produksi jeruk brastagi masih dapat ditingkatkan dengan pemanfaatan faktor produksi yang lebih efektif dan lebih efisien. Data rata-rata penggunaan faktor-faktor produksi dari 35 petani sampel dalam usahatani jeruk brastagi di dusun Pausan dapat dilihat pada Tabel 1 Tabel 1. Rata-rata penggunaan faktor produksi dan pendapatan pada usahatani jeruk brastagi di dusun Pausan, tahun 2024 Faktor Produksi Penggunaan Penggunaan No. dan pendapatan per Usahatani per Hektar X1: Luas lahan 93,00 100,00 X2: Bibit . 249,00 267,74 X3: Pupuk organik 385,71 565,28 X4: Pupuk NPK . 189,14 203,38 X5: Pestisida . 7,26 7,81 X6: Tenaga Kerja 54,09 58,16 (HOK) Y: Pendapatan . Sumber: Analisis data primer dengan SPSS Versi 25 Hasil analisis sidik ragam dari regresi faktor produksi jeruk brastagi yang tercantum pada Tabel 1. menunjukkan bahwa faktor produksi Luas lahan garapan (X. Bibit (X. Pupuk Organik (X. Pupuk NPK (X. Pestisida (X. , dan Tenaga kerja (X. , secara bersama sama berpengaruh sangat nyata terhadap pendapatan usahatani jeruk brastagi (Y), yang ditunjukkan oleh nilai F sama dengan 13,934 yang sangat signifikan . = 0,00000027. Tabel 2. Analisis sidik ragam regresi fungsi produksi jeruk brastagi di dusun Pausan. Tahun 2024. Sumber Jumlah Derajat Kwadrat Keraga Sig. Kuadrat Bebas Tengah Regresi 0,501 0,084 13,934 2,7554 E-07 Acak 0,168 0,006 Total 0,669 34 R2 = R2 ajusted = 0,749 0,695 Sumber: Analisis data primer dengan SPSS Versi 25 Pada tabel 2 nampak bahwa nilai R-square/ determinasi sebesar 0,749, dan nilai determinasi terkoreksi . -adjuste. scbesar 0,695. Nilai R-square 0,749 menunjukkan bahwa variasi pendapatan usahatani jeruk brastagi di dusun Pausan dapat dijelaskan oleh faktor produksi luas lahan, bibit. Pupuk Organik. Pupuk NPK. Pestisda, dan Tenaga kerja sebesar 74,9%, sedangkan 25,1% lagi dijelaskan olch faktor-faktor lain di luar model fungsi produksi ini. Hasil Uji-t masing masing koefisien regresi faktor produksi usahatani jeruk brastagi di dusun Pausan disajikan pad Tabel 3. Tabel 3. Hasil Uji-t masing masing koefisien regresi faktor produksi usahatani jeruk brastagi di dusun Pausan, tahun 2024 Koefisien Regresi Faktor Sig. Produksi Std. Error Log 5,909 0,874 6,759 0,000 Konstanta Log_X1 -0,432 1. 306 -0,331 0,743 Log_X2 0,626 1. 0,565 0,576 Log_X3 0,155 0,581 0,266 0,792 Log_X4 0,134 0,610 0,220 0,827 Log_X5 -0,365 0,348 -1,019 0,317 Log_X6 0,492 0,562 0,875 0,389 Sumber: Analisis data primer dengan SPSS Versi 25. Adapun estimasi fungsi produksi pada usahatani jeruk brastagi sesuai dengan hasil analisis regresi yang tercantum pada Tabel 3 dapat dijabarkan sebagai Log Pendapatan = log 5,909 Ae 0,432 Log Luas lahan 0,626 Log Bibit 0,155 Log Pupuk Organik 0,134 Log Pupuk NPK Ae 0,365 Log Pestisida 0,492 Log Tenaga Kerja. Atau dalam model fungsi produksi Cobb-Douglas: Y = 810. 961 (X1-0,. (X2-0,. (X30,. (X40,. (X5-0,. (X60,. AGRIMETA. VOL. 14 NO. APRIL 2024. p-ISSN : 2088-2531, e-ISSN : 2721-2556 Hasil penelitian menunjukkan tidak ada faktor produksi yang secara signifikan mempengaruhi pendapatan dari usahatani jeruk brastagi, meskipun dari hasil nampak pendapatan usahatani jeruk brastagi dipengaruhi oleh faktor produksi X1 sampai X5 dengan nilai koefisien elastisits dari yang bernilai positif hingga negatif. Faktor produksi luas lahan berpengruh negatif terhadap pendapatan petani meskipun pengaruhnya tidak signifikan, hal ini dikarenakan biaya sewa lahan di tempat penelitian cukup tinggi, yaitu rata rata mencapai Rp. 375 per are per tahun, sehinnga peningkatan luas lahan akan berkontribusi negatif terhadap pendapatan usahatani jeruk brastagi, khususnya di dusun Pausan. Demikian halnya penggunaan pestisida juga memberikan pengaruh negatif terhadap pendapatan, hal ini disebabkan harga pestisida yang digunakan untuk membasmi hama kutu putih atau kutu kebul dan busuk buah cukup tinggi, yaitu berkisar antara Rp. sampai Rp. 000 per liter. Disamping itu peningkatan penggunaan pestisida kimia akan mempengaruhi pertumbuhan dan produksi jeruk brastagi khususnya di dusun Pausan. Untuk menyiasati biaya penggunaan pestisida, maka petani berusaha untuk membuat pestisida nabati untuk penanggulangan hama tanaman jeruk brastagi. Biaya pestisida pada usahatani jeruk brastagi di dusun Pausan mencapai Rp. 429 per luaas lahan garapan . atau setara dengan Rp. 203 per hektar. Penggunaan pestisida ini masih relatif lebih kecil dibandingkan dengan penggunaan pestisida pada usahatani jeruk siam di Kecamatan Kuok kabupaten Kampar yang mencapai Rp. 389 per hektarnya (Eka Rahmina Dewi, dkk. , 2. Penggunaan pupuk organik masih dapat ditingkatkan karena memberikan pengaruh yang positif terhadap pendapatan usahatani jeruk brastagi khususnya di dusun Pausan. Hal ini dikarenakan penggunaan pupuk organik tidak menyebabkan tanaman keracunan yang akan mempengaruhi produksi. Pupuk organik disamping mamp\u meningkatkan produksi meskipun lebih rendah dibandingkan pupuk kimia, juga bersift ramah lingkungan dan sangat mendukung pola pertanian berkelanjutan. SIMPULAN DAN SARAN Simpulan Berdasarkan hasil penelitian di dusun Pausan. Kecamataan Payangan. Kabupaten Gianyar disimpulkan: . Pendapatan usahatani jeruk brastagi di dusun Pausan mencapai Rp. 571 per 93 are atau mencapai Rp. 517 per hektar. Pendapatan per hektar ini berasal dari penerimaan sebesar Rp. 442 dikurangi biaya usahatani sebesar Rp. 774, dan . Faktor produksi luas lahan, bibit, pupuk organik, pupuk NPK, pestisida dan tenaga kerja secara bersama sama berpengaruh terhadap pendapatan, namun secara individu tidak berpengaruh signifikan terhadap pendapatan. Faktor luas lahan dan pestisida memberikan pengaruh negatif terhadap pendapatan usahatani jeruk brastagi khusunya di dusun Pausan. Saran