BALANCE : Economic. Business. Management, and Accounting Journal Vol. XVi No. 2 |Bulan Juli Tahun 2021 P-ISSN 1693-9352 | E-ISSN 2614-820x KEBANGKRUTAN BANK PASCA KRISIS EKONOMI GLOBAL DI ASEAN M Riski Rumalutur1. Suhartono2. Abdul Mongid3 1,2,. STIE Perbanas Surabaya ABSTRACT This study aims to determine the factors that can determine bank bankruptcy after the global economic crisis in ASEAN. The independent variables used in this study are Inflation. Gross Domestic Product (GDP). Equity To Total Assets (ETA), and SIZE. The analytical technique used is logistic regression analysis. The data is processed using STATA, and this study uses a population of ASEAN banks with a sample of 1300 banks. This study indicates that inflation has an insignificant positive effect on bank bankruptcy. GDP has a negligible negative impact on bank bankruptcy. ETA has a significant positive impact on bank bankruptcy, and size has a significant negative effect on bank bankruptcy. Keywords : Bankruptcy. ETA. GDP. Inflation. SIZE Correspondence to : riskirumalutur00@gmail. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang dapat menentukan kebangkrutan bank pasca krisis ekonomi globa di ASEAN. Variabel independen yang digunakan dalam penelitian ini adalah Inflasi. Gross Domestic Product (GDP). Equity To Total Asset (ETA), dan SIZE. Teknik analisis yang digunakan yaitu analisis regresi logistic, data diolah menggunakan STATA, penelitian ini menggunakan populasi bank ASEAN dengan sampel bank sebanyak 1300 bank. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa Inflasi berpengaruh positif tidak signifikan terhadap kebangkrutan bank. GDP berpengaruh negative tidak signifikan terhadap kebangkrutan bank. ETA berpengaruh positif signifikan terhadap kebangrutan bank, dan size berpengaruh negative signifikan terhadap kebangkrutan bank. Kata Kunci : ETA. GDP. Inflasi. Kebangkrutan. SIZE Riwayat Artikel: Received : 23 Maret 2021 Revised : 04 Mei 2021 Accepted : 29 Juni 2021 perbankan di Indonesia sesuai dengan Undang-undang Republik Indonesia No. tahun 1992 mengenai perbankan. Yang mana sudah mengalami amandemen menjadi UU No. 10 Tahun 1998 merupakan menghimpun dana dari penduduk berbentuk simpanan serta menyalurakan pada penduduk dalam bentuk Pabrik perbankan bertumbuh dengan cepat pada tahun 1988-1996, jumlah bank mengeluarkan bermacam macam produk perbankan yang inovatif. Pada faktanya banyak bank yang kurang berwaspada dalam PENDAHULUAN Sektor perbankan adalah sektor perekonomian terpenting dalam suatu negara. Perbankan mempunya peran sebagai institusi intermediasi, jika fungsi perbankan sebagai intermediasi berjalan dengan baik maka akan membentuk stabilitas sistem keuangan yang baik, dengan demikian akan menumbuhkan pereonomian sesuai dengan yang ditargetkan Peranan yang paling utama suatu BALANCE : Economic. Business. Management, and Accounting Journal Vol. XVi No. 2 |Bulan Juli Tahun 2021 P-ISSN 1693-9352 | E-ISSN 2614-820x menyalurkan dalam bentuk kredit, akibatnya menyimpang dari aturan-aturan yang legal dalam perusahaan perbankan. Pada saat Indonesia mengalami krisis mengakibatkan penurunan kondisi perbankan Indonesia. Krisis ini telah menurunkan tingkat kepercayaan masyarakat terhadap bank, sehingga pemerintah terpaksa mengambil menyelamatkan industri perbankan dan mengembalikan kepercayaan masyarakat. Dan krisis perbankan terulang kembali pada tahun 1997-1998 juga pada tahun 2008 adalah suasana ketidak pastiaan karena suku bunga mahal, ketatnya likuiditas, pinjaman macet serta penyusutan angka mata duit rupiah pada kegentingan itu berasal dari subprime mortage atau disebut pula housing bubble yang memiliki kekeliruan paradigma jikaAu Aset perumahaan bakal selalu naik, housing never lose value, safe investmentAy. Selaku sampel institusi yang ikut mempengaruhi krisis di Indonesia yaitu Lehman Brothers dan Washington Mutual (Trader. Imbas langsung kritis finansial ini untuk Indonesia yaitu kesusahan sebagian industri di Indonesia yang mendanakan di institusiinstitusi finansial Amerika Serikat. Perusahaan finansial atau non bank yang membagikan dana pada sumber pemasukan opsi lain, melalui pembelian saham ataupun surat pinjaman pada instrumen finansial asing, semacam Citigroup. UBS. Merril Lynch. Morgan Stanley. Lehman Brothers. Fannie Mae. Freddie Mac. American International Group( AIG) serta yang ada. Sebaliknya imbas tidak langsung dari krisis merupakan turunnya likuiditas, melonjaknya tingkatan suku bunga, turunnya harga barang, melemahnya angka ubah rupiah, serta melemahnya perkembangan sumber dana. Begitu pula, menyusutnya tingkatan keyakinan pelanggan, penanam modal, serta pasar kepada bermacam institusi finansial yang menimbulkan melemahnya pasar modal. Dalam penelitian (Sudarsono 2. menerangkan Krisis finansial pula mengurangi simpanan likuditas bagian finansial sebab bangkrutnya sebagian institusi finansial pemodalan yang mempengaruhi pada gerakan kas perusahaan- perusahaan di Indonesia. Kondisi ini hendak menimbulkan menaiknya tingkatan suku bunga serta turunnya pendanaan ke pasar modal serta perbankan garis besar. Pada tahun 2008 situasi Bank Century jadi terus menjadi memburuk dampak lemahnya pengawasan dalam serta lemahnya penerapan sistem melaksanakan yang bagus akibatnya mengakibatkan terbentuknya fraud yang lumayan besar (Kusmayadi 2. Penguasa mengakhiri membagikan pertolongan likuiditas dengan 2 Pertama, untuk mencegah kebutuhan pelanggan serta penanam modal. Kedua, untuk melindungi keyakinan. Imbas negatif dari krisis internasional yang dialami oleh Indonesia antara lain yaitu meningkatnya nila tukar rupiah, tingginya nilai inflasi serta menyusutnya perkembangan Produk Dalam negeri Bruto( PDB). Saat sebelum Lehman Brothers memublikasikan kebangkrutannya nilai tukar rupiah sedang terletak pada tingkat Rp 9. 000 per dolar AS. Akan tetapi seperti itu Lehman Borthers melaporkan ambruk, rupiah mulai fluktuasi sampai mendobrak nilai Rp 12. 650 per dolar AS pada 24 November 2008. Pelemahan rupiah rentang waktu September ke Desember 2008 berdampak pada bisnis valas perbankan (Humas Bank Indonesia,2. Kegiatan usaha perbankan dapat memicu adanya risiko yang mengakibatkan menurunnya kinerja bank, seperti menurunnya kepercayaan masyarakat serta kesulitankesulitan lainnya. Kesulitan yang dihadapi perbankan tercermin dari indikator kinerja yang dapat menimbulkan kesulitan jangka panjang apabila kesulitan likuiditas jangka pendek tidak segera diatasi. Bank dapat dikatakan gagal saat bank tidak bisa mengalami kerugian selama beberapa tahun. Maka dari itu memerlukan pencegahan dini . arly terjadinya kegagalan. Penelitian ini mempunyai tujuan agar diketahui aspek-aspek untuk menentukan kebangkrutan bank. Faktor yang digunakan dalam kebangkrutan bank antara lain: Inflasi. Gross Domestic Product (GDP). Equity to Total Assets Ratio (ETA), dan SIZE. Dalam penelitian ini kebangrutan bank diukur menggunakan Return On Average Assets (ROAA). (Kasus et al. Model Traffer BALANCE : Economic. Business. Management, and Accounting Journal Vol. XVi No. 2 |Bulan Juli Tahun 2021 P-ISSN 1693-9352 | E-ISSN 2614-820x menetapkan rasio profitabilitas sebagai diskriminan paling penting bagi perusahaan yang sehat dan bangkrut. Menurut (Khadapi 2. Faktor internal maupun eksternal yang menyebabkan kondisi kesulitan keuangan. Faktor internal diantaranya: perusahaan mengalami rugi selama beberapa periode dari kegiatan operasional, besarnya jumlah hutang serta kesulitan arus kas. Faktor eksternal meliputi: suku bunga pinjaman menigkat, mengakibatkan beban bunga yang ditanggung perusahaan juga bertambah naik, lain dari itu ada pula meningkatnya biaya-biaya tenaga kerja yang menyebabkan besarnya biaya operasional suatu perusahaan juga mengalami biasanya tidak bangkrut. Bank yang besar dapat memberikan kepercayaan lebih kepada investor dan nasabah terhadap dana yang telah mereka investasikan di bank tersebut. Penelitian (Hadyu Hasanatina. Mawardi, and Manajemen 2. menyatakan semakin besar maka akan meningkatkan kestabilan bank dalam menghadapi keadaan ekonomi. METODE PENELITIAN Kerangka pemikiran Inflasi adalah kenaikan harga-harga secara umum dan berlangsung secara terusmenerus dalam rentan waktu tertentu . sfia murni, 2016:. Untuk mengukur tingkat inflasi, indikator yang dapat digunakan yaitu indeks harga konsumen (IHK). INFLASI GDP ETA BANKRUPTCY Size Gambar. Kerangka Pemikiran GDP atau PDB merupakan indikator pertumbuhan ekonomi dan indikator penting efisiensi kegiatan ekonomi, yang merupakan akibat langsung dari kegiatan ekonomi penyediaan barang dan jasa, termasuk industri Menurut (Firdaus 2. komponen PDB adalah konsumsi rumah tangga, pengeluaran investasi, pengeluaran publik dan selisih antara ekspor dan impor. PDB memberikan perkiraan terbaik untuk mengukur tingkat produksi. Menurut (MN and Permatasari 2. Semakin tinggi nilai PDB, semakin menguntungkan perekonomian di sektor perbankan, tetapi PDB yang lebih rendah mempengaruhi kesehatan bank. Dimana : = Bankruptcy = Inflasi = Gross Domestic Product (GDP) = Equity to total asset (ETA) = SIZE Hipotesa Penelitian Rancangan pemikiran dan dapat disusun hipotesisa Penelitian sebagai berikut : : INFLASI dapat menjadi penentu kebangkrutan bank. : GDP dapat menjadi penentu kebangkrutan bank. : ETA dapat menjadi penentu kebangkrutan bank. : SIZE dapat menjadi penentu kebangkrutan bank. : Inflation. Gross Domestic Produck (GDP). Equity to Total Assets Ratio (ETA), dan Size secara simultan dapat menjadi penentu kebangkrutan bank. Rasio modal/total aset adalah metrik keuangan yang digunakan untuk mengukur keterikatan atau motivasi pemilik terhadap kelangsungan operasi bank yang bersangkutan. Rasio ini menunjukkan jumlah modal yang digunakan untuk berinvestasi dalam total aset Semakin tinggi prosesnya, semakin baik. Size mengacu pada ukuran bank seperti yang tampak dalam total aset Bank-bank besar memiliki volume transaksi yang banyak, dan semakin tinggi volumenya, semakin tinggi pula keuntungan bank tersebut. Bank dengan total aset tinggi Pengelompokan sampel dan Teknik Analisis Data Populasi dalam Penelitian ini yaitu seluruh bank di asean. Bank yang tertera di bankscope database tahun 2014-2018 adalah purposive sampling adalah metode BALANCE : Economic. Business. Management, and Accounting Journal Vol. XVi No. 2 |Bulan Juli Tahun 2021 P-ISSN 1693-9352 | E-ISSN 2614-820x yang dipakai dalam Penelitian ini. Pada penelitian ini menggunakan teknik analisis deskriptif dan regresi logistik. Data ini akan diolah menggunakan STATA HASIL PENELITIAN Subyek penelitian ini menggunakan perbankan yang terdaftar di bankscope dan terdiri dari 9 negara ASEAN pada periode Jumlah data bank yang dipakai dalam Penelitian ini sebanyak 1300 bank. Analisa Data Deskriptif Metode deskriptif merupakan teknik analisis yang mendeskripsikan ataupun menganalisa sesuatu hasil penelitian namun tidak dipakai agar diketahui hipotesa lebih luas (Sugiyono, 2005: . Pada prosedur di pakai selaku perlengkapan untuk memaparkan faktor-faktor dalam Penelitian ini. Faktorfaktor yang akan dipaparkan dengan tata cara ini yaitu : Inflation. GDP. ETA, dan Size Definisi Operasional Variabel Kebangkrutan Kebangkrutan bank adalah kondisi diamana bank tidak dapat memenuhi kewajiban dan gagal dalam menjalankan oprasional bank. Kebangkrutan bank dapat diprosikan dengan rasio ROAA <=0. Rumus untuk mengukur ROAA sebagai berikut. ycIycCyaya = ycoycaycayca ycayceycycycnEa ycyceycyceycoycaEa ycyycaycycayco ycycaycyca Oe ycycaycyca ycycuycycayco ycaycyceyc Inflasi Inflasi merupakan suatu kondisi harga yang fluktuatif dari waktu kewaktu. Tetapi kenaikan harga tidak selalu dalam presentase yang sama. Kenaikan harga terhadap satu atau dua produk belum dapat dikatakan inflasi. Rumus yang digunakan untuk menghitung inflasi yaitu. TABEL 1. Analisis Deskriptif Mean Min Max Std. Dev yayayaycu Oe yayayaycu Oe 1 ycU 100 yayayaycu Oe 1 Gross Domestic Product (GDP) GDP adalah indikator untuk mengukur perekonomian suatu negara dengan total pendapatan semua orang dalam perekonomian dan total pembelanjaan negara. Rumus yang diginakan untuk menghitung GDP yaitu. In = Mean Min Max Std. Dev yayaycE = ycO yc ycn ycy Equity to Total Asset ( ETA ) Perbandingan antara total modal sendiri dengan total asset sebuah bank. Indikator finansial ini dipakai untuk mengukur motivasi dari pemilik atas usaha yang Rumus yang digunakan untuk ycNycuycycayco yaycoycycnycycayc yaycNya = ycNycuycycayco yaycyceyc Size Size ditunjukan dari besaran total aset yang ada pada bank. Jika bank yang mempunyai ukuran yang besar maka volume usaha bank tersebut juga besar. Rumus yang dipakai untuk mengukur Size yaitu. Inflasi Tidak Bangkrut GDP ETA Size Inflasi Bangkrut GDP ETA Size Inflasi Pada tabel 1 menunjukan average value inflasinya bank yang bangkrut sebesar 5,154, sedangkan pada bank yang tidak mengalami kebangkrutan sebesar 4,638. Ini menunjukan bahwa bank yang mengalami kebangkrutan memiliki average tinggi bila berbanding dengan bank yang tidak mengalami kebangkrutan. Pada tabel 1 dapat diketahui Inflasi tertinggi pada bank yang mengalami kebangkrutan sebesar 26,8 yang di alami oleh bank Myanma Economic Bank . , sedangkan inflasi terendah pada bank yang mengalami kebangkrutan sebesar -0,849 yang di alami oleh bank Mizuho Corporate Bank. Ltd. dan CIMB Thai Bank Public Company Limited . Pada tabel 1 dapat diketahui inflasi tertinggi pada bank yang tidak mengalami ycIycnycyce = yaycu. cNycuycycayco yaycycey. BALANCE : Economic. Business. Management, and Accounting Journal Vol. XVi No. 2 |Bulan Juli Tahun 2021 P-ISSN 1693-9352 | E-ISSN 2614-820x kebangkrutan sebesar 23,116 yang dialami oleh bank Saigon Commercial BankSaigonbank. VID Public Bank, dan VinaSiam Bank . , sedangkan inflasi terendah pada yang tidak mengalami kebangkrutan sebesar 0,849 yang dialami oleh bank Government Housing Bank . Dapat disimpulkan inflasi yang dialamai oleh bank-bank yang dibandingkan dengan bank yang tidak mengalami kebangkrutan. Gross Domestic Product (GDP) Pada tabel 1 dapat diketahui nilai ratarata . Gross domestic product (GDP) pada bank yang mengalami kebangkrutan sebesar 4,89 sedangkan pada bank yang tidak mengalami kebangkrutan sebesar 5,18. Pada situasi tersebut bisa dikatakan jika bank tidak mempunyai mean atau rata-rata dengan bank Ini perekonomian pada bank yang tidak dibandingkan dengan bank yang mengalami Pertumbuhan ekonomi dapat mempengaruhi atau berdampak pada sektor perbankan, meningkatnya GDP menunjukkan bahwa kondisi ekonomi suatu Negara dalam keadaan positif. Tentu saja uasha-usaha dalam negara semakin baik termasuk sektor Pada tabel 1 dapat diketahui Gross demostic Product tertinggi pada bank yang mengalami kebangkrutan sebesar 10,55 yang dialami oleh bank Myanma Economic Bank . , sedangkan GDP terendah pada bank yang mengalami kebangkrutan sebesar -0,708 yang dialami oleh bank CIMB Thai Bank Public Company Limited . Pada tabel 1 menunjukan GDP tertinggi pada bank yang mengalami kondisi kebangkrutan sebesar 14,52 yang dialami oleh bank Maybank Kim Eng Holdings Limited . , sedangkan GDP terendah pada bank yang yang tidak mengalami kondisi kebangkrutan sebesar 2,508 yang dialami oleh bank Bandar Seri Begawan . kebangkrutan sebesar 16,30. Dilihat dari kedua kondisi teresbut dapat diketahui peranan atau motivasi dari pemilik kelangsungan usaha pada bank bersangkutan nilai rata-rata pada bank yang mengalami kebangkrutan lebih besar dibandingkan bank yang tidak mengalami kebangkrutan. Pada tabel 1 nilai menunjukan rasio ETA tertinggi pada bank yang mengalami kebangkrutan sebesar 97,73 yang dialami oleh bank BNP Paribas Trust Services Singapore Limited . , sedangkan rasio tertinggi pada bank yang tidak mengalami kebangkrutan sebesar 99,85 yang dialami oleh bank ING Thai Asian USD Bond Fund . Pada table 1 menunjukan rasio ETA terendah pada bank yang mengalami kebangkrutan sebesar 3,28 yang dialami oleh PT Bank Pundi Indonesia . , sedangkan rasio ETA terendah pada bank yang tidak mengalami kondisi kebangkrutan sebesar -11,77 yang dialami oleh Joint Development Bank Limited (Th. Size Pada tabel 1 menunjukan nilai rata-rata . size pada bank yang mengalami kebangkrutan sebesar 9. 527, sedangakan nilai rata-rata pada bank yang tidak mengalami kebangkrutan sebesar 14. dilihat dari kedua kondisi tersebut asset pada bank yang tidak mengalami kebangkrutan lebih besar dibandingkan pada bank yang mengalami kebangkrutan, asset yang besar dapat meningkatkan kepercayaan investor atau nasabah untuk melakukan investasi atau pembiayaan pada bank. Pada table 1 menunjukan bahwa size tertinggi pada bank yang mengalami kebangkrutan sebesar 314. 000 yang dimiliki oleh Myanma Economic Bank . , sedangkan pada bank yang tidak mengalami kebangkrutan sebesar 334. 000 yang dimiliki oleh DBS Bank Ltd . Pada tabel 1 menunjukan bahwa size terendah pada bank yang mengalami kebangkrutan sebesar 16. yang dimiliki oleh Indochina Bank . , sedangkan pada bank yang tidak mengalami kondisi kebangkrutan sebesar 10,216 yang dimiliki oleh BNP Paribas Trust Services Singapore Limited . Equity To Total Asset (ETA) Pada tabel 1 menunjukan nilai ratarata equity to total asset (ETA) pada bank yang mengalami kebangkrutan sebesar 31,34 sedangkan pada bank yang tidak mengalami BALANCE : Economic. Business. Management, and Accounting Journal Vol. XVi No. 2 |Bulan Juli Tahun 2021 P-ISSN 1693-9352 | E-ISSN 2614-820x Analisa Regresi Logistik Analisa atau pengujian ini dilakukan untuk dapat mengetahui apakah hipotesis Penelitian ini diterima atau di tolak. Jika nilai signifikan kurang dari 0,05 maka Ho diterima dan sebaliknya. Nilai -2 Log Likelihood pada tabel 2 block 0 sebesar 297. 802 sedangkan nilai -2 Log Likelihood pada block 1 sebesar 261. Nilai -2 Log Likelihood pada block 0 mengalami penurunan pada block 1. Dengan ini dapat disimpulkan bawha Ho diterima yaitu model yang dihipotesiskan fit dengan data yang dimana variable independen dapat menentukan kondisi kebangkrutan. TABEL 2. Regresi Logistik Fail Inflasi Coef Std. Err P>. GDP ETA SIZE _CON % Conf. Interva. Uji kelayakan model regresi Uji ini untuk mengukur seberapa besar kemampuan variable dependen dapat dijelaskan oleh variable independen. TABEL 4. Nilai Pseudo R2 Pseudo R2 0,1226 Pada tabel 4 diatas dapat diketahui bahwa nilai Pseudo R2 sebesar 0,1226 yang artinya variable dependen dapat dijelaskan oleh variable independen sebesar 12,26%. Berdasarkan table 2 hasil analisa regresi logistik pada tabel di atas dapat di jelaskan sebagai berikut: Inflasi memiliki tingakat signifikan sebesar 0,546 > 0,05. GDP memiliki nilai signifikan sebesar 0,273 > 0,05 ETA memiliki nilai signifikan sebesar 0,047 < 0,05 Size memiliki nilai signifikan sebesar 0,000 < 0,05 Dengan demikian model Penelitian yang dapat disimpukan dalam persamaan sebagai Hosmer And LemeshowAos Goodness Of Fit Test Untuk mengetahui data empiris sesuai dengan model. TABEL 5. Hosmer And LemeshowAos Goodness Of Fit Test Total Groups Chi-Square 2,67 Sig 0,445 Uji Keseluruhan Model (Overal Model Fi. Hipotesis untuk mengetahui model fit: Pada tabel 5 dapat diketahui bahwa nilai Hosmer And LemeshowAos Goodness Of Fit sebesar 2,67 dan probabilitas signifikan sebesar 0,445 lebih besar dari 0,05. Dapat disimpulkan bahwa H0 diterima, artinya tidak ada perbedaan antara data empiris dengan model regresi dan dapat dikatakan model regresi ini fit. : model yang dihipotesiskan fit dengan : model yang dihipotesiskan tidak fit dengan data Matriks klasifikasi Tabel ini digunakan untuk menghitung estimasi atau prediksi yang benar . dan salah . Ln BB/. -BB) = 3,290 0,017inflasit-1 . GDPt-1 0,012ETAt-1 . SIZEt-1 e TABEL 3. Nilai -2 Log Likelihood -2 Log Likelihood Nilai Block 0 Block 1 BALANCE : Economic. Business. Management, and Accounting Journal Vol. XVi No. 2 |Bulan Juli Tahun 2021 P-ISSN 1693-9352 | E-ISSN 2614-820x TABEL 6. Matriks Klasifikasi Observasi Jumlah Bank Tidak Bangkrut Bangkrut Total Bank Persentase Persentase Keseluruhan disimpulkan bahwa GDP tidak dapat memprediksi kebangkrutan bank. ETA Dapat Memprediksi Kebangkrutan Bank. Pada tabel 4. 3 nilai koefisien ETA 012 ini menunjukan semakin tinggi ETA maka potensi bank mengalami kebangkrutan akan semakin tinggi. Variable ETA memiliki tingkat signifikansi sebesar 0,047 lebih kecil dari tinggkat alpha yaitu 0,05. Ini menunjukan bahwa ETA memiliki pengaruh positif signifikan. karena nilai signifikasi ETA 0,047 < 0,05. Dapat disimpulkan bahwa ETA dapat memprediksi kebangkrutan bank. SIZE Dapat Memprediksi Kebangkrutan Bank. Pada tabel 4. 3 nilai koefisien size sebesar -0,442 ini menunjuka bahwa semakin tinggi size makan potensi bank mengalami kebangkrutan akan semakin kecil. Variable size memiliki tingkat signifikansi sebesar 0,000 lebih kecil dari tinggkat alpha yaitu 0,05. Ini menunjukan bahwa size memiliki pengaruh positif signifikan. karena nilai signifikasi SIZE 0,000 < 0,05. Dapat disimpulkan bahwa SIZE dapat memprediksi kebangkrutan bank. H5 : Inflasi. GDP. ETA. Dan Size Secara Simultan Dapat Memprediksi Kebangkrutan Bank. Variabel inflasi. GDP. ETA, dan size kebangkrutan bank, karena nilai LR chi2 sebsar 73,05 lebih besar dari tinggkat alpha yaitu 0,05. Prediksi Tidak Bangkrut Bangkrut 99,84% 1,27% 93,85% Pada tabel 6 dapat diketahui jumlah bank yang diprediksi tidak mengalami kebangkrutan sebanyak 1219 bank, sedangkan hasil observasi jumlah bank yang tidak mengalami kebangkrutan sebanyak 1221, sehingga presentase ketepatan prediksi sebesar 99,84% yang diperoleh dari . 9/1. x Pada tabel 6 dapat diketahui jumlah bank yang diprediksi bangkrut sebanyak 1 bank, sedangkan hasil observasi pada bank yang mengalami kebangkrutan sebanyak 79 bank, sehingga presentase ketepatan prediksi sebesar 1,27% yang diperoleh dari . x Dapat disimpulkan secara keseluruhan model ini memiliki ketepatan untuk memprediksi sebesar 93,85%. Uji Hipotesis H1 : Inflasi Tidak Dapat Memprediksi Kebangkrutan Bank. Pada tabel 2 nilai koefisien inflasi sebesar 0,017 ini menunjukan semakin tinggi tingkat inflasi maka potensi bank mengalami kebangkrutan akan semakin tinggi. Variable inflasi memiliki tingkat signifikansi sebesar 0,546 lebih besar dari tinggkat alpha yaitu 0,05. Ini membuktikan bahwa inflasi memiliki pengaruh positif tidak signifikan. karena nilai signifikasi inflasi 0,546 > 0,05. Dapat disimpulkan bahwa inflasi tidak dapat memprediksi kebangkrutan bank. GDP Dapat Memprediksi Kebangkrutan Bank. Pada tabel 2 nilai koefisien GDP sebesar -0,055 ini menunjuka bahwa semakin tinggi GDP makan potensi bank mengalami kebangkrutan akan semakin kecil. Variable GDP memiliki tingkat signifikasi sebesar 0,273 lebih besar dari tinggkat alpha yaitu 0,05. Ini menunjukan bahwa GDP secara positif bersignifikasi GDP 0,273 > 0,05. Dapat PEMBAHASAN Berdasarkan hasil pengujian diatas, dapat disimpulkan bahwa variabel independen yaitu Inflasi. GDP. ETA, dan SIZE secara simultan dapat memprediksi kebangkrutan Menurut hasil uji coba terpisah, faktor variabel beba yang dapat memprediksi kebangkrutan bank adalah ETA dan SIZE, sedangkan variabel inflasi dan GDP secara parsial tidak dapat memprediksi kebangkrutan BALANCE : Economic. Business. Management, and Accounting Journal Vol. XVi No. 2 |Bulan Juli Tahun 2021 P-ISSN 1693-9352 | E-ISSN 2614-820x Inflasi Dapat Menjadi Penentu Kebangkrutan Bank Inflasi merupakan kenaikan harga barang dan jasa dalam suatu perekoomian secara terus menerus dari waktu ke waktu. Inflasi ialah goncangan dari harga nominal, yang tampaknya akan bersinggungan dengan tingkat kaum bunga nominal dan bisa menjadi salah satu faktor yang memperkirakan terbentuknya kekalahan makroekonomi serta mempengaruhi pada totalitas perekonomian tercantum sektor perbankan. Ketidakstabilan kondisi ekonomi akan menyebabkan terdepresiasinya mata uang domestic yang secara signifikan menyebabkan tingginya tingkat bunga dan inflasi yang dapat berdampak pada tingkat pendapatan bank. pendapatan bank mengalami kenaikan maka akan berdampak dapa laba bank, laba bank yang mengalami kenaikan maka tingkat kebangkrutan bank akan semakin kecil. Tetapi hasil dari Penelitian ini menyatakan bahwa inflasi tidak dapat menjadi faktor penentu kebangkrutan bank. Naik turunnya inflasi tidak berpengaruh terhadap laba atau modal bank. Hasil dari uji regresi legostik menunjukan inflasi tidak dapat menjadi penentu kebangkrutan bank karena nilai signifikansi inflasi sebesar 0,546 lebih besar daripada tingkat alpha yaitu 0,05. Maka dapat disimpulakn bahwa inflasi tidak dapat menjadi penentu kebangkrutan bank, dan H1 ditolak. Hasil ini sesuai dengan Penelitian (Othman. Abdul-Majid and Abdul-Rahman, 2. yang menyatakan inflasi tidak dapat digunakan untuk memprediiksi kebangkrutan bank, sedangkan hasil ini berbeda dengan Penelitian yang dilakukan oleh (Lin and Yang, 2. dan (Chiaramonte et al. , 2. yang menyatakan bahwa inflasi dapat digunakan untuk memprediksi kebangkrutan bank. Gross Domestic Product (GDP) Dapat Menjadi Penentu Kebangkrutan Bank GDP perkembangan ekonomi yang ialah dimensi bernilai dalam memaparkan kapasitas ekonomi sesuatu Negeri. GDP ialah nialai pasar dari semua benda serta pelayanan yang dibuat oleh sesuatu Negeri. Tinggi rendahnya nilai GDP mencerminkan kondisi ekonomi suatu Negara. Meningkatnya GDP suatu Negara mengindikasikan makroekonomi cenderung baik atau stabil. Semakin tinggi GDP menunjukan kondisi ekonomi suatu Negara dalam keadaan positif. Jika perekonomian suatu Negara dalam keadaan positif berarti usaha-usaha dalam Negara mengalami peningkatan penjualan dan pendapatan. Jika GDP mengalami penurunan maka dapat dikatakan bahwa sektor-sektor usaha Hal ini dapat mempengaruhi perbankan karena jika pendapatan perusahaan memperngaruhi perusahaan dalam membayar pinjaman dan berdampak pada pendapatan Tetapi hasil dari Penelitian ini menunjukan bahwa GDP tidak dapat menjadi faktor penentu kebangkrutan bank. Naik atau turunnya GDP tidak akan mempengaruhi laba dan modal bank. Hasil dari uji regresi legostik menunjukan GDP tidak dapat menjadi penentu kebangkrutan bank karena nilai signifikansi inflasi sebesar 0,273 lebih besar daripada tingkat alpha yaitu 0,05. Maka dapat disimpulakn bahwa GDP tidak dapat menjadi penentu kebangkrutan bank, dan H2 ditolak. Hasil ini sesuai dengan Penelitian (Othman. Abdul-Majid, and Abdul-Rahman 2. yang menyatakan GDP tidak dapat menjadi faktor penentu kebangkrutan bank, sedangkan berlawanan dengan penelitian (Lin and Yang 2. yang menyatakan GDP dapat menjadi faktor. Equity To To Asset (ETA) Dapat Menjadi Penentu Kebangkrutan Bank ETA merupakan penanda keuangan yang dikenakan untuk mengukur semangat maupun kontribusi owner atas kesinambungan upaya dari bank yang berhubungan. Perbandingan ini merupakan perbandingan antara modal sendir dengan seluruhnya asset. Semakin besar perbandingan modal sendiri hingga peranan atau keterikatan pemiliki atas kelangsungan usaha banknya akan semakin tinggi, sehingga campur tangan pemilik dalam mempengaruhi manajemen, meningkatkan kinerja, dan meningkatkan efisiensi banknya secara profesional Hal ini juga menunjukan dengan adanya modal yang tinggi maka dapat menjaga menurunkan tingkat kebangkrutan bank. Bank dapat mengembangkan usahanya dengan salah BALANCE : Economic. Business. Management, and Accounting Journal Vol. XVi No. 2 |Bulan Juli Tahun 2021 P-ISSN 1693-9352 | E-ISSN 2614-820x satu cara yaitu menambahkan asset bank. Asset bank yang dibiayai atau didanai membuktikan jika bank mempunyai jenjang kontrol yang kokoh atas usahanya serta tidak dibawah dampak pihak lain. Jika bank dapat menandai asset menggunakan modal sendiri maka biaya modal yang dikeluarkan akan semakin kecil. Hal ini dapat mempengaruhi tingkat pendapatan bank. Jika tingkat pendapatan bank mengalami kenaikan maka laba bank juga akan mengalami kenaikan dan kemungkinan terjadinya kebangkrutan akan semakin kecil. Semakin tinggi rasio ETA maka kemungkinan terjadinya kebnagkrutan akan semakin kecil, karena dengan equity yang besar dapat menunjukan semakin kecil hutang. Hasil dari uji regresi legostik menunjukan ETA dapat menjadi penentu kebangkrutan bank karena nilai signifikansi inflasi sebesar 0,047 lebih besar daripada tingkat alpha yaitu 0,05. Maka dapat disimpulakn bahwa ETA dapat menjadi penentu kebangkrutan bank, dan H3 diterima. Hasil ini sesuai dengan penelitian (Hsu and Liu 2. yang menyatakan bahwa ETA dapat menjadi faktor penentu keangkrutan bank, sedangkan hasil ini berlawanan dengan penelitian (Momparler. Carmona, and Climent 2. yang menyatakan bahwa ETA tidak dapat digunakan untuk menjadi faktor penentu kebangkrutan bank. Hasil dari uji regresi legostik menunjukan Size dapat menjadi penentu kebangkrutan bank karena nilai signifikansi inflasi sebesar 0,000 lebih besar daripada tingkat alpha yaitu 0,05. Maka dapat disimpulakn bahwa Size dapat menjadi penentu kebangkrutan bank, dan H4 diterima. Hal tersebut senada dengan hasil Penelitian (Purnamandari and Badera 2. yang menyatakan bahwa Size dapat memprediksi kebangkrutan bank. KESIMPULAN Penelitian ini mempunyai tujuan guna mengetahui fakor-faktor penentu kebangkrutan bank pasca krisis ekonomi global di ASEAN. Variabel yang digunakan dalam penelitian ini yaitu. Inflasi. Gross Domestic Product (GDP), equity to total asset (ETA), dan SIZE. Penelitian ini menggunakan beberapa bank ASEAN pada periode 2008-2015. Total sampel yang digunakan sebanyak 1300 bank ASEAN yang didapat dari Bankscope Database. Berdasarkan hasil analisa deskriptif dan logistik dilaksanakan maka kesimpulan yang dapat diambil yaitu: Hasil Penelitian menunjukan inflasi dan GDP tidak dapat digunakan untuk memprediksi kebangkrutan bank. H1 dan H2 ditolak, sedangkan variabel ETA dan Size ebangkrutan bank. H3 dan H4 diterima. Berdasarkan hasil dari Penelitian ini, peneliti menyampaikan rekomendasi untuk penelitian berikutnya dan pihak bank. Menggunakan mendapatkan data bank yang lengkap dan tidak hanya menggunakan bank di ASEAN . Menambahkan variabel-variabel berkaitan dengan kebangkrutan bank, dan menggunakan model analisa yang lain . Hasil penelitain ini menunjukan bahwa besar kecilnya ETA dan SIZE dapat menjadi peringatan dini atau Early Warning System (EWS ) bagi pihak bank dalam langkah untuk mencegah terjadinya kebangkrutan atau kesulitan keuangan. Size Dapat Menjadi Penentu Kebangkrutan Bank Aset bank dapat menunjukan besar kecilnya size suatu bank. Besar kecilnya suatu ukuran bank dapat mempengaruhi minat investor atau nasabah. Semakin besar ukuran bank, maka akan meningkatkan tingkat kepercayaan investor atau nasabar untuk melakukan investasi atau pembiayaan kepada Ukuran bank yang besar, mempunyai pangsa pasar yang besar pula, pangsa pasar yang besar dapat meningkatkan pendapatan Penelitian (Kurnia and Mawardi 2. menyatakan besarnya mempunyai pengaruh positif signifikan terhadap ROA. Artinya semakin besar standar perusahaan, maka prusahaan semakin besar dalam menghasilkan Semakin tinggi laba, maka kemungkinan terjadi kebangkrutan akan semakin kecil. DAFTAR PUSTAKA